PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 152


__ADS_3

"Mereka." lirih Bulan, yang masih berada di dalam taksi. Menatap ke samping. Dimana dia melihat Jeno dan Jevo, beserta Arya dan Mikel sari kaca jendela mobil.


Keempatnya berkumpul sembari menatap ke arahnya. "Maaf Non,, apa saya harus melajukan lagi taksi saya?" tanya sang sopir dengan lembut. Melihat rasa enggan Bulan untuk turun dari taksinya.


Sang sopir bisa menebak, jika salah satu dari lelaki tersebut yang sedang bermasalah dengan penumpangnya. Hingga membuat penumpangnya uring-uringan selama berada di dalam taksi.


Bukannya pak sopir menghalangi Bulan untuk turun dari taksi. Beliau hanya merasa cemas. Jika terjadi sesuatu dengan Bulan.


Lantaran Bulan adalah seorang perempuan. Sendirian. Dan mereka berempat. Dengan semua lelaki. Tanpa pak sopir tahu, meski mereka berempat, dan Bulan yang hanya seorang diri bisa dipastikan menang melawan mereka berempat.


Belum sempat Bulan mengeluarkan suaranya, sang sopir taksi kembali berkata. "Atau saya perlu panggilkan polisi, atau pihak keamanan apartemen?" tanyanya sembari memberi saran.


Bulan sempat ingin tertawa mendengar saran dari sang sopir taksi. Tapi sebisa mungkin ditahannya. Bulan tahu dengan pasti, niat pak sopir yang baik.


"Tidak perlu pak. Mereka berempat teman saya." jelas Bulan, supaya pak sopir tidak salah paham.


Sang sopir menatap keempatnya dengan fokus, sebab tempatnya yang sedikit jauh dari mereka. Beliau kemudian mengangguk pelan. "Mereka semua terlihat baik."


Bulan tersenyum. Mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tas. "Ini pak ongkosnya." ujar Bulan menyodorkan beberapa lembar uang kertas pada pak sopir.


Segera sang sopir mengambilnya. "Sebentar Nona, saya ambilkan kembaliannya." tukas beliau.


"Tidak perlu pak. Untuk bapak saja. Terimakasih." tolak Bulan dengan halus. Lalu keluar dari dalam taksi.


"Terimakasih banyak Non." seru pak sopir, dengan kepala sedikit keluar dari jendela taksi. Karena Bulan yang sudah berada di luar.


Bulan tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah yang tenang dan tak terburu, Bulan menuju ke arah mereka.


"Cepat sekali Jeno sampai di sini." gumam Bulan. Terlihat keempatnya terus menatap ke arahnya. Tapi dirinya belum sampai ke tempat mereka, Jevo dan Arya juga Mikel sudah meninggalkan tempatnya, untuk masuk ke dalam. Meninggalkan Jeno seorang diri.


"Kenapa malah pergi. Pasti ulah Jeno." tebak Bulan, sebab sekarang Jeno menatapnya dengan senyum.


Bulan menghembuskan nafas kasar dan memutar bola matanya dengan malas. "Nggak peka. Tapi,,, kok dia sampai lebih dulu dari pada gue." cicit Bulan.


Langkah Bulan terpaksa terhenti karena seorang lelaki yang baru saja berjalan melewati Jeno bertanya padanya. "Permisi, mbak penghuni baru di sini? Atau sedang mencari apartemen buat tempat tinggal?" tanyanya sok akrab.


Bulan menebak, jika lelaki tersebut salah satu penghuni apartemen. Terlihat bagaimana cara dia bertanya. "Sok baik." batin Bulan.


Bukan berprasangka buruk, atau menilai orang tidak baik. Tapi Bulan bisa melihat dari cara lelaki tersebut menatap ke arah dirinya.


"Mesum." batin Bulan. Ketika lelaki tersebut menatap Bulan seperti dirinya sedang melucuti pakaian yang Bulan kenakan. Memindai seluruh bagian tubuh Bulan.


Bulan masih diam, belum menjawab apa gang lelaki tersebut tanyakan. "Jika kamu ingin cari apartemen, kebetulan apartemen di sebelah saya masih kosong. Dan saya kenal dengan siapa anda harus bertanya, jika ingin membelinya. Bagaimana?" tanyanya dengan niat yang sudah terbaca oleh Bulan.


Belum sempat Bulan menjawabnya, Jeno datang dan langsung berdiri di samping Bulan. Mengecup singkat sebelah pipi Bulan, dan melingkarkan tangannya di pinggang Bulan.


"Sayang, kenapa malah berhenti. Aku sudah tungguin dari tadi?" tanya Jeno dengan lembut, dan senyum mempesonanya.


Lelaki tersebut menatap Jeno dengan sangat tidak suka. Tentu saja, kedatangan Jeno sangat menganggu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Jeno menatap tajam ke arah lelaki di depan mereka, dan tanpa senyum.


"Tidak ada. Sebaiknya kita segera masuk. Yang lain pasti sudah menunggu." bukan lelaki tersebut yang menjawab, melainkan Bulan.


"Benar, Mikel juga sudah datang. Pasti dia juga menunggu kedatangan kita." ujar Jeno, tersenyum miring menatap lelaki tersebut.


Bulan dan Jeno melangkah pergi, dengan tangan Jeno masih nyaman berada di pinggang ramping milik Bulan.


Lelaki tersebut mengernyitkan dahinya. "Mikel. Mereka teman Mikel. Astaga,,, beruntung gue nggak membuat masalah. Apa dia Jeno,,,, atau Jevo. Atau malah Arya." ujarnya sembari menebak.


Meski Jevo dan Jeno adalah pasangan dari Tuan David dan Nyonya Rindi. Dimana wajah kedua orang tuanya sering sekali berada di berita bisnis, hingga majalah bisnis.


Tapi wajah Jevo maupun Jeno hanya beberapa kali terlihat bersama kedua orang tuanya. Mereka memang tidak terlalu suka wajah mereka dipampang di majalah atau sejenisnya.


Sementara seluruh penghuni apartemen, tidak ada yang tidak mengenal Mikel. Bahkan mereka juga tahu siapa nama ketiga teman Mikel.


"Sayang...." rengek Jeno, saat tangannya di pinggang Bulan di singkirkan oleh pemilik pinggang.


"Risih tahu." ketus Bulan.


Jeno melongo. Langkah kakinya terhenti, membiarkan Bulan berjalan lebih dulu tanpa dirinya. Jeno tersenyum licik, otak kecilnya tiba-tiba mempunyai rencana untuk membuat Bulan kembali menatapnya.


"Bulan....!! Sayang.....!! Cintaku...!!" teriak Jeno, menggema ke seluruh area parkir, bahkan sampai teras apartemen. Mungkin juga terdengar sampai lobi apartemen.


Spontan Bulan langsung menghentikan langkah kakinya. Dan membalikkan badan dengan cepat. "Gila...!!" geramnya, melihat Jeno yang berdiri dengan bibir manyun menatapnya juga.


Jeno menghela nafa panjang, membuka mulutnya, seakan ingin berteriak kembali. "Stop...!! Awas....!!" seru Bulan, menghentikan Jeno.


Jeno menutup rapat mulutnya, dengan tangan berada di depan mulutnya, seolah sedang mengunci pintu. Lalu melambaikan telapak tangan. Memanggil Bulan, untuk mendekat ke tempatnya.

__ADS_1


Bulan menolah ke sekitar tempat mereka berada. "Untung nggak ada orang." ujar Bulan lega.


Terlihat beberapa perempuan dan lelaki keluar dari pintu utama apartemen. Segera Bulan menghampiri Jeno. Takut jika Jeno akan berteriak kembali. "Iiisshhhh,,,,!! Memalukan." desisnya.


Jeno memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih saat Bulan sudah dekat dengannya. Jeno mengulurkan tangannya. "Tidak usah manja. Jalan...!!" hardik Bulan dengan nada rendah.


Jeno kembali menarik tangannya. Segera berjalan di samping Bulan. Tapi bukan Jeno namanya jika dia tidak mempunyai seribu akal licik.


Bulan melotot horor menatap ke arah Jeno, ketika tiba-tiba tangannya di genggam oleh Jeno dengan erat. Jeno mengeratkan genggamannya. Sehingga percuma, Bulan tak akan bisa melepaskannya dengan mudah.


Keduanya berjalan menuju ke apartemen Mikel dengan ekspresi berbeda. Jeno tersenyum dengan hati gembira di setiap langkahnya.


Meskipun Bulan belum memaafkannya dan kembali memperlakukannya seperti semula, tapi setidaknya Jeno akan berusaha membuat Bulan tak lagi merajuk.


Dengan Bulan mau digandeng olehnya saja, Jeno merasa senang. Meski Bulan melakukannya karena paksaan darinya.


Berbeda dengan Jeno. Bulan memasang ekspresi datar. Tidak tampak kemarahan dalam raut wajahnya. Tapi juga tidak terlihat senang. Entahlah, hanya Bulan sendiri yang rahu apa yang sedang dia pikirkan.


Dan Gara, langsung menodongkan pertanyaan pada Mikel, begitu mereka bertemu. "Kenapa elo nanyain Bulan?" tanya Gara.


"Setidaknya biarkan gue duduk dulu." sahut Mikel, mendaratkan pantatnya di kursi empuk.


Arya langsung menuju ke dapur. Mengambil minuman untuk mereka. Dan Jevo masuk juga langsung menuju ke belakang, hanya saja dia tidak ke dapur. Melainkan ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Gara menatap Mikel, menunggu perkataan yang akan dikeluarkan oleh mulut Mikel. "Gue disuruh Jeno." tukas Mikel, dengan tangan sibuk mengeluarkan makanan dari dalam paper bag yang baru saja dia beki dengan Arya.


Gara melihat apa gang dilakukan Mikel dengan rasa penasaran. "Semalam,,,, bukankah semalam mereka pergi bersama. Lalu, kenapa Jeno malah tanya keberadaan Bulan di sini?" tanya Gara bingung.


"Sebaiknya elo tutup mulut saja. Biasa, masalah rumah tangga." celetuk Jevo yang baru saja mendaratkan pantatnya di kurai sebelah Mikel.


"Benar. Dari pada nanti kita kena getahnya." timpal Arya dengan membawa minuman kaleng dari belakang yang dia masukkan ke dalam kantong kresek. Mempermudah untuknya membawa.


Gara mengangguk pelan. "Kalian tahu, kenapa mereka bertengkar?" tanya Gara kepo.


Ketiganya kompak mengangkat kedua pundak, tanda mereka tidak tahu apapun. "Elo tanya saja pada mereka." timpal Arya, mengeluarkan minuman kaleng dari kantong kresek. Dan menatanya di atas meja.


Terdengar suara pintu terbuka dari luar. Siapa lagi pelakunya jika bukan Jeno dan Bulan. Kenapa mereka berdua bisa masuk ke dalam dengan mudah?


Karena Mikel sengaja tidak menutup pintunya dengan rapat. Mikel menaruh keset untuk mengganjal pintu, supaya tidak tertutup sempurna. Dirinya hanya malas untuk kembali berdiri dan membukakan pintu untuk mereka berdua yang pastinya akan datang.


Lagi-lagi, Jeno sengaja mendekatkan diri pada Bulan. Didaratkannya pantatnya di kursi kosong sebelah Bulan. Dan langsung menaruh tangannya di pinggang Bulan.


"Jeno..." gertak Bulan, tak peduli ada orang lain di sekitar mereka.


"Sayang...." rengek Jeno dengan wajah memelas.


"Diam. Atau keluar dari sini." ancam Bulan.


Jevo yang tersenyum melihat ekspresi Jeno, hanya bisa menutupi mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, sembari membuang pandangan ke arah lain.


"Bu Bulan mau minum?" tawar Arya, berharap suasana tidak setegang ini. Dengan tangan menyodorkan sekaleng minuman pada Bulan.


"Nanti aku ambil sendiri." tolak Bulan.


Arya tersenyum kaku. Memainkan minuman kaleng tersebut dengan kedua tangannya. "Ternyata benar. Lebih baik gue diam. Perempuan yang sedang marah memang berbahaya." batin Arya mencuri pandang ke arah Bulan.


Gara hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Ini pertama kalinya bagi Gara melihat Bulan ngambek. Apalagi dikarenakan malasah lelaki. "Gue semakin yakin. Bulan memang menyukai Jeno." batin Gara.


"Padahal mereka berdua yang bertengkar. Kenapa kita semua kena imbasnya." keluh Gara yang hanya berani dia ungkapkan dalam hati.


"Khemmm... Bagaimana keadaan Nyonya Irawan dan Sapna?" tanya Gara, mencoba mencari bahan pembicaraan. Supaya situasi tidak terlalu tegang.


"Sedari dulu, yang gue tahu istri pak Darto memang benar-benar baik. Beliau menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Bahkan menjanjikan perlindungan." ungkap Bulan.


Bulan menjeda sejenak perkataannya. Sebelum kembali mengatakan sesuatu. "Berbeda dengan Sella. Dia memperlihatkan ketidak sukaannya dengan jelas." lanjut Bulan, yang memgetahui semuanya dari Sapna.


"Gue hanya takut, semakin lama mereka berada di sana, mereka akan terancam." ujar Mikel mengatakan kegundahan hatinya.


"Bukankah Sella menyukai Jeno. Bagaimana jika Jeno meminta Sella untuk memperlakukan mereka dengan baik." saran Arya yang malah mendapat tatapan menyeramkan dari semuanya.


"Kenapa? Memang gue salah?" cicit Arya, mengetahui dirinya menjadi fokus utama setelah mengatakan sarannya tersebut.


"Dan pasti Sella akan bertanya. Jeno,,, dari mana kamu kenal mereka?" ujar Mikel dengan suara menirukan suara perempuan di kalimat kedua.


"Yang ada Sella akan cemburu. Karena Jeno memperhatikan mereka." timpal Jevo.


"Lalu, Sella malah akan mencelakakan mereka." ucap Gara melanjutkan kalimat Jevo.

__ADS_1


Arya menepuk keningnya dengan pelan. "Benar juga." lirihnya.


"Elo saja gang dekati Sella. Aku,,, no way." ujar Jeno menggerakkan badannya seperti orang yang sedang jijik akan sesuatu.


Bulan mengambil makanan ringan di depannya, untuk dimasukkan ke dalam mulut. "Sebenarnya, aku punya cara, yang bisa membuat mereka aman. Meski mereka keluar dari rumah Darto." tukas Bulan.


"Apa sayang?" tanya Jeno dengan lembut. Bulan hanya melirik sinis ke arah Jeno yang sedang menatapnya dari samping.


"Jika Sapna mempunyai kekasih yang bisa melindunginya." tukas Bulan.


Semua terdiam. Mencoba mencerna perkataan Bulan. "Lelaki tersebut harus berasal dari keluarga berpengaruh. Sehingga mereka yang akan mencelakai Nyonya Irawan dan Sapna akan berpikir seribu kali." lanjut Bulan mengatakan sarannya.


"Apa perlu, kita carikan?" tanya Gara, yang sebenarnya masih bingung dengan rencana Bulan.


"Tidak semudah itu. Mencari kekasih dengan syarat seperti yang dikatakan bu Bulan. Lagi pula, mana bisa mereka langsung menjalin hubungan." tukas Mikel.


"Bisa. Pacaran pura-pura." celetuk Arya.


Ctik.... Bulan menjentikkan jari tengah dan jempolnya. Hingga mengeluarkan bunyi. "Tepat..Pacar bohongan." ujar Bulan membenarkan perkataan Arya.


"Berasal dari keluarga berpengaruh. Dan pastinya terkenal. Tapi siapa?" ujar Gara, memandang mereka semua yang ada di ruangan satu persatu.


"Yang pasti bukan saya saudara-saudara. Karena ada hati yang harus saya jaga." papar Jeno tersenyum menatap ke arah Bulan.


Bulan hanya mencebikkan mulutnya. Nyatanya, kalimat yang baru saja Jeno ucapkan membuat Bulan merasa senang. Namun Bulan tentu saja masih kesal dengan apa yang tadi dilakukan oleh Jeno.


"Benar. Apalagi Sella menyukai Jeno. Yang ada malah menambah masalah. Tunggu, kalian semua berasal dari keluarga terpandang, berkuasa, dan juga terkenal. Kenapa tidak salah satu dari kalian bertiga." sahut Gara, seraya melanjutkan saran yang dikatakan oleh Bulan.


"Jangan gue. Kalian tahu sendiri mama gue. Yang ada gue akan dikawal bodyguard kemanapun gue pergi. Apalagi,,,," Arya melirik ke arah Bulan.


"Usia Sapna di atas gue." lirih Arya, merasa tak enak hati dengan Bulan dan Jeno.


"Yaaa,,, benar. Sebaiknya elo mencari perempuan yang usianya di bawah elo." timpal Jeno tersenyum.


Bulan menatap Jeno dengan ekspresi aneh. Dirinya tahu kenapa Jeno mengatakan hal tersebut. Yang artinya Arya tak akan mungkin menyukai Bulan.


"Jangan gue. Elo tahu sendiri bagaimana Claudia. Meski gue dan dia tidak mempunyai hubungan, tapi elo semua pasti tahu bagaimana watak Claudia. Gue cuma nggak mau jika nanti malah akan bertambah masalah, jika gue yang jadi pasangan pura-pura Sapna." jelas Jevo panjang lebar.


Sejujurnya, Jevo hanya berpikir jauh. Pasti dirinya akan banyak masalah jika dia yang menjadi kekasih pura-pura Sapna. Apalagi, yang Jevo lihat, Sapna juga gadis pendiam. Yang pasti akan kalah jika dihadapkan dengan Claudia.


Jevo yakin, jika Claudia masih menargetkan Moza. Bisa Jevo tebak, jika Moza masih dalam bahaya. Dirinya tak ingin bertambah pusing, jika dia setuju menjadi kekasih pura-pura Sapna.


Pasti dirinya juga harus menjaga Sapna dari Claudia. Yang ada masalah perempuan tak akan pernah kelar dalam kehidupannya.


"Gue juga nggak mungkin." lirih Mikel, tidak menyebutkan alasannya.


"Cckk,,,, lalu siapa? Kita tidak mungkin mencari orang lain untuk melakukan tugas ini. Bisa-bisa mereka akan mengetahuinya. Apalagi, kita tidak bisa memasukkan anggota baru. Akan berbahaya untuk kita semua." ujar Gara.


"Benar kata Gara. Sebaiknya salah satu dari kalian bertiga yang melakukannya. Kalian hanya berpura-pura menjadi kekasih Sapna. Untuk keselamatan Sapna dan mamanya, kita lakukan bersama." jelas Jeno.


"Kenapa bukan elo saja." celetuk Arya. "Bukankah hubungan elo dan bu Bulan belum diketahui orang banyak. Lagi pula, ada baiknya juga, jika Sella mengetahui jika elo sudah punya kekasih. Dia nggak akan lagi mengejar-ngejar elo." lanjut Arya.


"Nggak...!! Nggak bisa...!! Gue nggak mau berkhianat. Meski hanya sebuah kepura-puraan." tegas Jeno.


Tentu saja Jeno tidak ingin mengambil resiko. Terlebih dirinya sudah berencana akan pergi ke desa tempat tinggal keluarga Bulan, mengunjugi kedua orang tua Bulan. Mengenalkan diri sebagai kekasih Bulan.


Dirinya tidak ingin acara yang sudah dia susun, bahkan sampai membuat Bulan marah akan gagal. Dan malah akan menambah masalah.


Bisa saja, hubungan pura-pura ini malah akan tersebar luas. Membuat semua orang tahu jika dirinya menjalin kasih dengan putri seorang petinggi yang bekerja di instansi pemerintah.


Bukankah malah akan membuat Jeno susah sendiri. Dan yang akan menjadi konsekuensinya, hubungannya dengan Bulan malah akan renggang. Mana mungkin Jeno berani mengambil resiko sebesar itu.


Membuat Bulan menyukainya saja sangat sulit. Dan sekarang, Jeno tidak ingin mengorbankan perjuangannya tersebut untuk masalah lain. Apapun itu masalahnya.


"Maka dan papa akan murka ke gue. Jika gue yang akan mejadi kekasih pura-pura Sapna." ujar Jeno mencari alasan.


"Memang om dan tante tahu hubungan kalian? Mereka sudah merestuinya?" tanya Arya yang sudah jelas dia sendiri tahu jawabannya.


Karena dia beserta keluarga saja juga pernah makan bersama dengan keluarga Jeno. Dimana ada Bulan di sana. Tidak ada yang menyahuti perkataan Arya, yang menurut mereka tidak berguna.


Setelah memberi saran, Bulan hanya diam. Melihat dan mendengar perdebatan mereka. Bulan tak berani menunjuk ke siapa misi tersebut akan dia bebankan.


Meski hanya sebuah kepura-puraan saja, tapi memang misi ini juga mempunyai resiko. Dan Bulan tak bisa memaksa salah satu di antara mereka untuk melakukannya, tanpa paksaan dan dengan keinginan mereka sendiri.


"Jika saja gue bisa melakukannya. Gue pasti akan melakukannya." ujar Gara, menatap lurus ke depan. Membuat semua terdiam, menatap fokus pada Gara.


.

__ADS_1


__ADS_2