PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 27


__ADS_3

"Ada pergerakan." lapor Gara dari tempatnya pada Bulan.


Segera Bulan bersikap siaga. Dengan teropong di kedua matanya. "Sosok yang berada di atas gedung tadi juga bergerak." lanjut Gara.


Yang artinya dia menuruni anak tangga. Sebab dari sanalah Gara melihat pergerakannya. "Oke. Elo pantau tempat lain. Siapa tahu ada target baru yang belum gue ketahui."


"Siap bu boss. Laksanakan." Bulan tersenyum mendengar apa yang diucapkan Gara.


Bulan fokus pada dua target. Bulan tetap diam di tempatnya. Dengan teropong tak lepas dari tangannya.


"Apa yang ada di dalam. Hingga dia selalu ke sini tanpa rasa takut." gumam Bulan.


Bulan menebak, jika di dalam ada sesuatu yang pastinya sulit untuk dipindahkan. Atau malah tidak bisa dipindahkan dari ruangan tersebut.


Alhasil, mereka setiap malam harus mengirim seseorang untuk mengecek dan melihatnya. "Sesuatu yang tidak bisa dipindahkan. Apa itu?" Bulan mencoba menerka, ada hal apa sebenarnya.


Bulan memicingkan sebelah matanya. Sosok yang dia lihat di atas gedung tadi bergerak perlahan. Mengintai sosok yang berjalan ke arah ruangan yang Bulan curigai menyimpan sesuatu di dalamnya.


"Berarti mereka bukan rekan. Lalu siapa dia?" gumam Bulan, mencoba menebak orang yang sedang mengintai di balik tembok.


"Ckk,,,, dia terlihat masih amatir. Jika begitu caranya, pasti sebentar lagi akan ketahuan." tebak Bulan.


"Aisshhh,,,, orang itu. Malah merusak semua rencana gue." keluh Bulan.


Dengan datangnya pihak lain yang juga mempunyai niat yang dama dengannya. Itu berarti pergerakan Bulan akan semakin sulit.


Jika saja Bulan bisa membaca pikiran orang tersebut. Tujuannya mengintai dan mengawasi ruangan untuk apa, mungkin Bulan bisa melakukan manufer rencana lain.


Pandangan Bulan terhalang sesuatu, sehingga Bulan berpindah tempat. Namun siapa sangka, dia malah melihat sesuatu.


Segera Bulan meletakkan teropong di depan wajahnya. Sebuah mobil box terparkir di samping tembok pembatas sekolah. Tepat di mana Bulan memasuki sekolah dengan memanjat tembok tersebut.


"Dua orang." Bulan melihat ada dua orang di dalam mobil. Tampak bersantai dengan tenang. "Gara, coba elo pantau sisi tembok samping sekolah. Sekarang." perintah Bulan.


Dengan segera Gara melakukan apa yang Bulan katakan. "Dapat. Siapa mereka?" tanya Gara.


"Simpan plat nomor kendaraannya. Siapa tahu berguna buat kita."


"Beres. Sudah gue lakukan. Bahkan dua orang di dalam, gue bisa melihat wajah mereka dengan jelas." papar Gara, seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.


Keberuntungan. Mungkin itulah yang saat ini berpihak pada Bulan dan Gara. Kedua lelaki yang berada di dalam mobil, menyingkap penutup wajahnya ke atas.


Tanpa mereka sadari. Apa yang telah mereka lakukan sangat fatal. Seseorang sekarang mengetahui wajah mereka. Dan pastinya, bahaya akan semakin mendekat.


"Apa yang ada di dalam box tersebut." batin Bulan.


Bulan menoleh ke arah di mana sosok misterius tadi masih berada di balik tiang. Mengawasi seseorang yang berada di dalam ruangan.


Lalu pandangan Bulan beralih ke mobil box yang membuatnya penasaran juga. "Pasti ada sesuatu di dalamnya. Jika tidak, tidak mungkin mereka membawa mobil box."


Bulan meninggalkan tempat persembunyiannya. "Perubahan rencana. Gue akan melihat isi dari mobil box." ucap Bulan pada Gara.


Gara tahu alasan Bulan melakukannya. Sebab, Bulan tak akan bisa bergerak dan tidak mendapat apapun jika hanya memantau. Sementara ada hal lain yanh mengusik keingintahuannya.


"Oke. Gue akan pantau pergerakan elo." sahut Gara di tempatnya.


Gara memastikan jika jalan yang akan di lalui Bulan dalam keadaan aman. Sehingga Bulan dengan mudah dan cepat akan sampai di tempat tujuannya.


Bulan berhenti bergerak. "Gue nggak mungkin bisa lewat tempat itu lagi." batin Bulan, yang sama artinya Bulan akan menunjukkan batang hidungnya jika kembali meloncat dati tembok.


"Gara, elo matikan kamera CCTV." perintah Bulan.


"Oke. Elo tunggu sebentar."


Sembari menunggu, mata Bulan berkeliling ke sekitar tempatnya berada. Tetap bersikap waspada dan mengamati sekitanya. Suasana tampak sepi.

__ADS_1


"Sepuluh detik."


"Oke." sahut Bulan.


"Di mulai,,,, sekarang..!!" seru Gara, mengomando Bulan untuk segera melangkahkan kakinya.


Dengan langkah seringan kapas dan secepat anak panah melesat. Begitu juga dengan pergerakan Bulan yang bagai angin berhembus.


Bahkan, tak sampai sepuluh detik, Bulan sudah berada di luar area sekolah. Tanpa ada hambatan apapun. "Semua aman. Elo bisa bergerak." jelas Gara.


Bulan hanya perlu main petak umpet dengan dua orang yang sedang duduk di dalam mobil box tersebut.


Bulan tidak berjalan. Tapi merangkak. Dirinya menghindar dari kaca pantau yang ada di sisi mobil. Yang pastinya akan memperlihatkan dirinya saat dia berjalan seperti kebanyakan orang.


Bulan perlahan berdiri. Setelah dia sampai di belakang tepat mobil box tersebut. Mengeluarkan sebuah besi kecil dari kantong celana rempelnya.


Di mana di celana tersebut ada beberapa kantong ajaib. Yang menyimpan banyak perlengkapan untuk dirinya saat beraksi. Seperti saat ini.


Segera Bulan menggunakan besi kecil tersebut untuk membuka pintu belakang mobil box. Sangat mudah bagi Bulan melakukannya.


Pekerjaannya penuh bahaya yang selama ini dia lakukan di luar. Mampu membuat Bulan semakin lebih cekatan dan lebih gesit saat beraksi di lapangan dari hari ke hari.


Bulan membuka pintu dengan perlahan. Jangan sampai menimbulkan suara. Meski sedikit. Dirinya tak ingin rencananya ini sia-sia. Tak mendapatkan hasil.


Setidaknya, Bulan mendapatkan sesuatu. Dari pada hanya berdiam diri, duduk di tempat tadi. Meyaksikan kedua orang tersebut.


Sebab Bulan berpikir, tak mungkin dirinya akan dengan tiba-tiba masuk dan ikut terlibat dengan apa yang dilakukan dua orang di dalam sekolah.


Semua akan hancur dan tak terkendali, jika Bulan melakukannya. Itulah mengapa Bulan merubah rencananya. Memilih melihat isi box, ketimbang menunggu sesuatu yang tak pasti.


Bulan masuk ke dalam box. Kembali menutup pintunya dengan perlahan. Sama seperti saat dirinya membukanya tadi.


Bulan tercengang melihat apa yang ada di dalamnya. "Amazing." gumam Bulan tak percaya dengan apa yang dipandang kedua matanya.


"Elo diam. Jika elo berisik, gue bisa ketahuan ogeb." bisik Bulan kesal, mampu membuat mulut Gara terkunci.


Bulan mengambil sesuatu dari kantong celananya lagi. Sebuah kamera dengan ukuran sangat kecil. Tangan Bulan bergerak cepat memfoto setiap objek di dalam mobil box tersebut.


"Gila. Untuk apa semua ini. Mereka dapat dari mana?" batin Bulan.


Bulan mulai mengait-ngaitkan semua kejadian sebelumnya. Meski sedikit, Bulan mampu mengurai benang kusut yang tampak di depan mata.


Bulan meneliti setiap barang di dalam mobil box dengan gerak perlahan. Tentu saja Bulan tak ingin pergerakannya membuat mobil juga ikut bergerak.


Yang malah akan membuat kedua lelaki yang sedang merokok sambil mengobrol santai di depan menyadari kehadirannya.


Sebagai aparat kemanan, Bulan tahu betul kelebihan setiap benda di dalam mobil box tersebut. "Untuk apa mereka mengumpulkan banyak senjata api?" batin Bulan menerka sendiri.


"Semua lengkap. Bahkan jumlah bubuk mesiunya tak main-main." Bulan mengambil gambar setiap senjata api dan semua benda di dalam box dengan lengkap. Dan detail.


"Jika di sini seperti ini. Lantas apa yang ada di dalama ruangan tersebut." lanjut Bulan mencoba menebak.


Bulan teringat akan ucapan atasannya. "Dua merpati terbang secara bersama."


Bulan terdiam. Kalimat yang dianggap hanya celetukan oleh Bulan, kini Bulan dapat menyimpulkan. "Ternyata benar. Gue hanya dijadikan alat."


Sekarang Bulan sadar. Jika dirinya sengaja di masukkan ke sekolah ini. Dan ini tujuannya. "Gue yakin, ada pihak dalam yang terlibat." tebak Bulan.


Tidak mungkin semua akan berjalan dengan lancar. Terlebih aksi yang begitu besar. "Pembunuhan berantai dan sekolahan. Pasti ada hubungannya." gumam Bulan.


Bulan kembali ke rencana. Dirinya harus segera meninggalkan tempat ini. "Gue akan keluar. Keadaan aman?" tanya Bulan pada Gara.


"Oke. Aman." sahut Gara, yang berarti Bulan bisa leluasa untuk keluar dari dalam box tersebut.


Baru saja Bulan hendak menjulurkan tangannya untuk membuka pintu box. Terdengar dentuman keras dari dalam sekolah.

__ADS_1


Seketika Bulan terdiam seperti patung. Menajamkan indera pendengarannya. Bulan segera duduk, saat menyadari mobil bergoyang.


Dua orang lelaki yang duduk di depan menggunakan kembali penutup wajah mereka. Keluar dari dalam mobil. Berlari menuju ke sumber suara.


Bulan dapat menebak setiap pergerakan mereka melalui suara yang ditimbulkan. "Segera keluar." pinta Gara.


Tanpa menunggu waktu lagi, Bulan meninggalkan mobil box tersebut. Tak lupa Bulan menguncinya seperti semula. "Apa yang terjadi."


"Gue nggak tahu. Tapi sosok yang elo lihat di atas tadi masuk ke dalam ruangan. Selang beberapa detik, sebuah suara terdengar dari dalam."


Gara seakan bisa menebak apa yang akan dilakukan Bulan. "Elo harus tetap hati-hati. Jangan mengurangi kewaspadaan." ucap Gara mengingatkan.


Segera Gara kembali mematikan kamera CCTV. Dirinya bisa jika Bulan akan melewati tempat tersebut. Gara terus memantau di mana Bulan berada.


Tampak sebuah titik berwarna biru di layar yang berada di hadapan Gara. Yang artinya titik begitu tersebut adalah sosok Bulan.


Bulan berlari dengan cepat. Dia percaya, jika Gara sudah mengerjakan pekerjaannya dengan baik. "Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu." ucap Gara memberitahu.


Mereka yang dimaksud Gara adalah dua orang lelaki yang duduk di depan mobil box.


Bulan berlari ke ruangan tersebut. Tapi tidak melewati jalan yang biasanya dia lewati saat menyamar menjadi tenaga pengajar.


Bulan melewati atap gedung. Dia ingin jalan yang lebih cepat dan juga langsung berada di dalam ruangan. Lebih tepatnya, di atas ruangan.


Dari sana, Bulan bisa bertindak dengan leluasa. Dan juga bisa melihat dengan lebih mudah.


Sementara di dalam, dua orang lelaki sedang bertarung. Salah satu dari mereka adalah Jeno, yang sedari tadi mengawasi pergerakan orang yang dia curigai.


Sementara ledakan tersebut berasal dari bahan kimia yang berada di wadah kecil, yang terjatuh ke lantai karena perkelahian antara mereka. Dan sang musuh menjatuhkannya, karena terkena tendangan kaki dari Jeno.


Ledakan yang membuat sebagian besar keramik hancur. Hingga membuat tubuh Jeno serta lawannya terpental menatap tembok.


Keduanya berbaring lemas di atas keramik yang sudah hancur. Keduanya tampak masih bisa bergerak, dengan menahan sakit.


Dua orang yang berada di dalam mobil, langsung membantu temannya yang terluka. "Kenapa bisa terjadi?" tanyanya.


Sang teman hanya menatap ke arah Jeno yang sudah berdiri, dengan tangan kiri memegang lengan kanannya. Beruntung, penutup di wajah Jeno masih terpasang di temaptnya. Tanpa menjawab, pandangan matanya sudah menjelaskan semuanya.


"Siapa dia?" tanya yang satu lagi.


"Gue nggak tahu. Dia tiba-tiba datang dan menyerang gue." jelasnya, dengan tangan kiri memegang dada kanan. Sementara tangan kanan menjulur ke bawah, meneteskan darah.


"Siapapun dia, habisi saja. Kita akan dalam bahaya, jika ada mata yang melihat dan mulut yang berbicara, serta telinga yang mendengar." tukas yang lain.


Di atas, Bulan tersenyum iblis. Mengulurkan sebuah senjata dari kantong ajaib miliknya. Membidikkan ke bawah. Bukan ke orangnya. Tapi ke lantai yang sudah hancur.


Bulan menembakkan senjatanya saat dua lelaki tersebut hendak menyerang Jeno.


Dorr.... Semuanya terjingkat kaget, ada seseorang yang hendak menembak mereka. Semua lantas melihat ke sekeliling. Dan juga ke atas. Seolah mencari tahu dari mana asal tembakan tersebut.


Dorr.... Lagi-lagi Bulan melesatkan tembakannya ke lantai. "Lebih baik kita segera pergi." ajak temannya.


Mereka yang datang tanpa persiapan, tentu saja tidak membawa alat yang bisa mereka gunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh. Sangat ceroboh.


"Lalu bagaimana dengan cairannya?" tanya lelaki yang bertarung dengan Jeno.


Dirinya pasti akan mendapatkan hukuman dari atasannya karena kelalaiannya saat melakukan tugas. Bukan hanya dia, tapi juga kedua temannya.


Meski dirinya yang sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat dari pada kedua temannya tersebut.


Tanpa menunggu persetujuan temannya, keduanya membawa segera rekannya yang terluka untuk keluar dari sekolah.


Jeno hanya diam. Menyimak setiap obrolan mereka. Dari sana, Jeno tahu. Jika mereka datang hanya untuk beberapa tetes cairan.


Tanpa Bulan sangka, Jeno langsung menatap ke atas. Tepat di mana dirinya berada. "Dia." Bulan bisa mengenalinya dari kedua bola mata Jeno.

__ADS_1


__ADS_2