PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 66


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya kalian inginkan?" tanya seorang perempuan paruh baya, duduk di kursi dengan tenang.


Sedangkan di sampingnya, duduk seorang remaja berjenis kelamin perempuan. Pandangannya tak kalah tajam menatap dua orang lelaki yang baru saja masuk ke dalam kamar mewah yang mereka tempati beberapa mingu terakhir ini.


Kamar mewah yang menjadi sangkar mewah untuk dirinya dan sang mama. Tanpa mengucapkan apapun, salah satu lelaki menurunkan beberapa makanan serta minuman di atas meja.


Sementara yang rekannya yang satu berjaga di ambang pintu. Menatap dua perempuan berbeda umur tersebut dengan lekat.


Setelah menurunkan makan serta minuman, mereka kembali keluar. Mengunci pintu kamar dari luar. "Ma, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa sampai sekarang papa tidak mencari kita?" tanya sang putri.


Gadis tersebut sama sekali tidak tahu menahu tentang apapun. Yang dia tahu, sang papa bekerja sebagai aparat negara dengan posisi yang diperhitungkan. Beliau adalah atasan dari Bulan. Yang selama ini sudah menganggap Bulan seperti putrinya sendiri.


Sang mama terpaksa berbohong pada putrinya. Dia mengatakan tidak tahu apapun. Tentu saja sang mama tidak ingin sang putri membenci lelaki yang selama ini mencari uang untuk memenuhi kehidupan mereka selama ini, setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Apalagi, sang suami juga sudah mengatakan jika dirinya akan berubah. Dan meninggalkan dunia yang akan membuatnya terjerumus semakin dalam.


Beliau juga yakin jika dirinya dan sang putri di jadikan sandera, sebab sang suami sudah meninggalkan dunia yang penuh tipu muslihat tersebut.


"Lindungi suami hamba Tuhan. Jangan sampai dia kembali ke jalan yang salah. Menghilangkan nyawa orang yang tak berdosa hanya karena ingin menyelamatkan kami." ucapnya dalam hati, berharap sang suami tetap teguh pada pendiriannya untuk meninggalkan pekerjaan yang sangat keji tersebut.


Dipandanginya sang putri yang menampilkan wajah kesal bercampur penasaran. "Maafkan mama. Tapi mama lebih rela kita berdua kehilangan nyawa. Dari pada papa kamu kembali ke jalan sesat itu." batinnya.


Meski dirinya juga akan merasa bersalah. Mengambil keputusan tanpa memberitahu pada sang putri tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Bisa jadi, semua ini dilakukan oleh musuh papa." tebak sang putri.


"Mungkin." sahut sang mama. "Bukan musuh papa kamu sayang. Tapi rekan kerja papa kamu." ucapnya yang hanya berani dikatakan dalam hati.


Beliau sadar, jika apa gang dilakukan sang suami adalah suatu kejahatan dan pekerjaan hina. Oleh karenanya dirinya menyuruh sang suami berhenti.


Tapi, untuk berkata jujur. Berterus terang pada sang putri mengenai kebenaran yang terjadi, dirinya masih tidak mempunyai keberanian.


Beliau takut jika sampai sang putri membenci papanya sendiri. Meski beliau tidak tahu apa hang terjadi, setelah dia menceritakan semua ini pada sang putri.


Tapi beliau memilih untuk bungkam dan merahasiakannya dari sang putri, entah sampai kapan.


Di tempat lain, Bulan mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. Tidak memerlukan persiapan yang ribet. Sebab Bulan tidak membawa apapun saat pulang.


Bahkan, Bulan juga tidak membawa baju. Hanya pakaian yang melekat pada tubuhnya. Tak lupa, Bulan mempersiapkan senjata yang dia sembunyikan di beberapa bagian badannya.


Guna untuk berjaga-jaga. Sebab Bulan tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat dirinya berada di jalan.


Bulan melihat ke arah nakas. Dimana ada sebuah botol kecil berisi obat. Yakni obat yang sejak kemarin dia minum karena luka di tubuhnya masih menyisakan rasa nyeri, meski tidak seberapa.


Bulan mengambilnya, memasukkan ke dalam kantong jaketnya. Yang penting dibawa, meski Bulan tak tahu akan meminumnya atau tidak. Bulan melihat ke arah dinding, dimana ada sebuah jam tertempel di sana. Sudah waktunya untuk keluar dari rumah.


Seperti biasa, Bulan tidak keluar rumah melewati pintu depan. Melainkan atap rumah. Meski di rumah Bulan sekarang tidak lagi ada pembantu. Tapi Bulan tetap waspada.


Bulan sendiri juga tidak tahu, kenapa atasannya tidak lagi mengirimkan seorang pembantu sebagai mata-mata seperti sebelumnya.


Namun Bulan tetap waspada. Untuk saat ini, Bulan belum bisa menebak permainan apa lagi yang akan dimainkan oleh mereka.


"Setelah gue mengunjungi kedua orang tua. Gue akan segera mencari tahu keberadaan anak dan istri atasan gue."


Bulan yakin, jika mereka disembunyikan di tempat yang sulit untuk ditemukan. Atau malah di sembunyikan di rumah salah satu anggota tersebut. Dan Bulan harus bisa menemukan serta menyelamatkan mereka.


Bulan mengendarai motor dengan laju sedang. Sebab dirinya masih berada di kawasan kompleks perumahan.


Ciittzzz... "Sial, apa dia tidak bisa menyetir." geram Bulan, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Bukan memotong jalan. Tapi memang sengaja berhenti. Guna menghentikan laju motor Bulan.


Beruntung Bulan berhenti tepat waktu. Sehingga dirinya tak sampai menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. "Mobil itu." gumam Bulan, merasa tak asing dengan mobil tersebut.


"Jeno." gumam Bulan, menebak dengan mudah siapa yang berada di dalam mobil mahal tersebut.


Jeno menggunakan mobil yang dia gunakan terakhir kali saat mengantar Bulan pulang ke rumahnya. Dan itu baru beberapa jam yang lalu terjadi.


Bulan hanya berdecak serta menghela nafas melihat tingkah sang murid yang ternyata menyukainya tersebut.


Jeno langsung memegang pergelangan tangan Bulan. "Jeno, lepas." Bulan menghentakkan tangan Jeno.


"Kenapa kamu bisa ada di sini. Seharusnya kamu berada di rumah Rio palsu." tukas Bulan, sebab malam ini dia memerintahkan Jeno untuk melakukan tugas tersebut. Dan itu Bulan lakukan dengan sengaja.


Jeno memakai topi dan juga masker seperti biasa untuk menutupi wajahnya. Juga memakai sepatu yang mempunyai alasan sedikit tinggi, serta jaket tebal untuk mengubah postur tubuhnya. "Kita bicara di dalam." ajak Jeno pada Bulan.


"Tidak." tolak Bulan, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa kamu ingin ada yang melihat kita?" ucap Jeno berusaha membuat Bulan mengikuti keinginannya.


"Minggirkan mobil kamu." tegas Bulan merasa kesal dengan Jeno yang sangat keras kepala.


"Ikut aku masuk ke dalam." kekeh Jeno.


"Jeno." geram Bulan merasa Jeno menghambat jalannya.


"Apa?"

__ADS_1


"Lagian kenapa kamu harus berada di sini?" tanya Bulan, lantaran pertanyaan tersebut belum dijawab Jeno.


"Ada Jevo."


"Apa?! Bukannya aku menyuruh kamu. Kenapa malah Jevo?!" kesal Bulan, Jeno seenaknya sendiri mengalihkan misinya pada saudara kembarnya.


"Dia yang mau. Dia bersedia. Ayolah... semakin kamu sulit, semakin lama kita berada di sini. Kamu mau, rencana kamu pulang kampung gagal."


"Jeno...!!" geram Bulan.


"Makanya, jangan keras kepala." tukas Jeno, merasa Bulan sangat sulit dia kendalikan. Begitu juga dengan Bulan. Dia merasa Jeno sangat keras kepala.


"Oke, kalau aku ikut kamu, bagaimana dengan motor aku?" Bulan sedang mencari alasan untuk Jeno agar tidak ikut dirinya.


Bagaimana Bulan akan menjelaskan pada keluarganya di sana. Tentu saja Bulan bingung sendiri. Pasalnya keluarganya tidak tahu jika dirinya menyamar sebagai tenaga pengajar di sekolah.


Jeno tertawa pelan. "Ayolah Bulan, kamu tentu saja bisa menaruh sepeda motor kamu di tempat yang aman." Jeno yakin, Bulan hapal betul dengan lingkungan yang dia tinggali sendiri.


Bulan melongo tak percaya mendengar Jeno memanggil dirinya tanpa embel-embel ibu seperti biasanya.


"Tunggu, kamu bilang apa?" tanya Bulan dengan ekspresi terlihat aneh. "Kamu panggil saya apa?!" lanjut Bulan bertanya sebelum Jeno menjawabnya.


"Bulan. Bukankah itu nama kamu." ucap Jeno dengan santai.


"Bulan. Bulan. Astaga... kamu sadar, kamu sia...."


Cup.... Belum sempat Bulan meneruskan kalimatnya, Jeno mencium bibirnya singkat dan cepat.


"Jeno..." geram Bulan, mendelik menatap Jeno seraya mengusap bibirnya.


"Astaga, nanti kita kemalaman low. Ayo..." ajak Jeno.


Jeno tersenyum jahil. "Apa mau aku cium lagi." ancam Jeno menggoda Bulan.


"Oke." seru Bulan dengan cepat.


Entah kenapa, Bulan selalu tak bisa menolak keinginan Jeno, jika Jeno sudah mengancamnya dengan ingin menciumnya. Atau dengan ancaman lain.


Didepan Jeno, Bulan merasa jika dirinya menjadi perempuan sebenarnya. Yang bisa merasakan detak jantungnya berdetak kencang saat Jeno mendekati dirinya. Memperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang, hingga Bulan merasakan sebuah rasa nyaman.


Bulan menuntun motornya ke sebuah rumah kosong, tanpa menyalakan mesinnya dengan mulut mendumal kesal. Jeno tersenyum senang melihatnya. Sebab Bulan akhirnya mau menuruti permintaannya, meski terpaksa.


Bulan menyebutkan alamat rumah yang akan mereka tuju pada Jeno. Dengan segera, Jeno melajukan mobilnya. Dirinya tidak ingin terlalu malam berangkat.


"Apa kamu sudah meminum obat kamu?" tanya Jeno sembari menyetir.


Jeno tersenyum samar. Dia seperti sedang menghadapi pasangan yang sedang merajuk. "Minum obat kamu. Apa kamu tidak ingin segera pulih." cicit Jeno dengan sabar.


"Huh... apa yang harus aku katakan pada keluargaku." keluh Bulan, memijat keningnya. Meluapkan apa yang bercongkol di dalam benaknya.


"Kenapa bingung. Katakan saja jika aku murid kamu." ucap Jeno menjeda kalimatnya sesaat.


"Tenang saja. Aku akan memanggil kamu bu Bulan selama berada di sana. Dan bertingkah sebagai seorang murid yang baik." paparnya.


Jeno tidak mengetahui jika bukan itu yang Bulan sedang pikirkan. Tapi dirinya memikirkan akan memperkenalkan Jeno sebagai apa pada keluarganya.


Pasalnya, wajah Jeno juga masih nampak muda. Sepantaran dengan sang adik. "Jeno, mereka tidak tahu, jika aku sedang melakukan misi ini." lirih Bulan frustasi.


Jeno mengangguk. Paham kenapa Bulan terlihat bingung. Jeno tersenyum. "Kenapa harus bingung. Bukankah itu lebih baik. Kamu katakan saja, jika aku sopir kamu." ujar Jeno dengan enteng, bicara seenaknya.


Bulan memutar kedua matanya dengan jengah. "Mana ada sopir seperti kamu." tukas Bulan dengan nada ketus.


Apalagi Jeno memakai mobil sport mewah yang pastinya berharga selangit. Serta wajah Jeno yang tampan seperti artis. "Nanti akan kita pikirkan lagi. Sekarang kamu minum obat dulu." saran Jeno.


"Aku akan mengantuk, jika meminum obat itu." tutur Bulan dengan nada yang terdengar manja di telinga Jeno.


Jeno lagi-lagi tersenyum mendengar rengekan Bulan. "Kalau mengantuk ya tinggal tidur. Kenapa repot."


Bulan menatap Jeno sekilas dengan tatapan kesal.


"Kamu aneh. Di sini aku yang menyetir. Kamu bisa tidur dengan lelap." tutur Jeno benar.


Bulan menipiskan bibirnya. "Tenang saja. Aku mana mungkin akan mencari kesempatan dalam kesempitan. Buktinya malam itu tidak terjadi apa-apa. Meski kita tidur seranjang tanpa menggunakan pakaian."


Bulan memasang ekspresi kesal bercampur aneh. "Bisa-bisanya Jeno dengan santai membahas mengenai malam itu." batin Bulan membuang wajahnya ke samping.


Kedua pipi Bulan memerah seperti tomat matang. Tentu saja Bulan sangat malu, Jeno berkata sefrontal itu. Meski umur Bulan di atas Jeno, tapi Bulan tetap saja perempuan normal.


"Jika aku mau, mungkin sekarang kamu sudah mengandung benih milikku yang super unggul ini." celetuk Jeno dengan percaya diri, malah mengoceh tak karuan.


"Jeno...!!" bentak Bulan.


"Apa?" dengan menahan senyum, Jeno tetap santai mengemudi mobilnya.


Jeno tahu jika Bulan sedang dalam mode malu-malu kucing. "Makanya, minum obat kamu. Kamu mau, kamu sakit saat berada di rumah kedua orang tua kamu. Dan kedua orang tua kamu tahu, jika kamu sedang sakit." ucap Jeno seperti sedang menasehati anak kecil, agar mau meminum obat.

__ADS_1


"Di kursi belakang ada tas kecil. Berisi air minum dan beberapa roti serta camilan." ungkap Jeno.


"Kamu pikir kita mau piknik." ketus Bulan. Melepas sabuk pengamannya. Mengambil air minum di kursi belakang, dengan membalikkan setengah badannya.


Bulan merogoh sesuatu dari balik jaketnya. Yang ternyata sebuah botol kecil berisi obat. Mengambilnya satu, lalu meminumnya.


Seperti yang dikatakan Bulan. Beberapa menit setelah meminum obat tersebut, kedua mata Bulan seperti kena pulut, sangat lengket.


"Tidur saja. Pejamkan kedua mata kamu. Jangan ditahan." papar Jeno, melihat Bulan seperti sedang memaksa kedua matanya untuk tetap terjaga.


Perlahan, Bulan memejamkan kedua matanya. Terlihat hembusan nafas Bulan yang konsisten. Menandakan jika Bulan sudah tertidur lelap.


Jeno menepikan mobilnya. Melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Sedikit menurunkan senderan kursi tempat duduk Bulan, supaya Bulan lebih nyaman berbaring.


Tak lupa, Jeno kembali memakaikan sabuk pengaman di tubuh Bulan. Mengambil beberapa bantal dari kursi belakang, serta selimut yang memang Jeno sediakan dari rumah.


Di pakaikan bantal kecil di kepala Bulan. Sementara dua bantal di letakkan dekat pintu. Sehingga tubuh Bulan tidak akan mengenai badan mobil. Tak lupa Jeno juga memakaikan selimut.


Jeno sedikit mengangkat kepala Bulan untuk mengatur bantal di bawah kepala Bulan. Cup..... "Tidur yang lelap sayang." Jeno mengelus pipi Bulan.


Jeno kembali memakai sabuk pengaman. Melajukan mobilnya ke rumah kedua orang tua Bulan, menggunakan aplikasi di dalam ponsel, setelah mengetikkan alamat rumah Bulan.


Bulan sebenarnya terbangun saat Jeno menepikan mobil dan mematikan mesin, sehingga mobil berhenti. Tapi dia berpura-pura tidak tahu.


Perasaan Bulan menghangat, merasakan apa yang Jeno lakukan pada dirinya. Dan ini pertama kalinya Bulan merasakan hal seperti ini selama hidupnya.


Dan sialnya, Bulan merasakan dari lelaki yang mempunyai umur berada di bawahnya. Gilanya lagi, dia anak didik Bulan.


"Gila, gue kelihatannya benar-benar menyukai Jeno. Apa gue masuk katagori pedofil ya." batin Bulan, mulai kembali masuk ke dalam mimpi.


"Sangat nyaman." batin Bulan, sebelum benar-benar tertidur lelap.


Dan baru kali ini, Bulan merasa percaya sepenuhnya pada seseorang selain Gara. Padahal dirinya dan Jeno belum genap dua bulan bertemu.


Dengan mudah, Jeno mampu membuat Bulan melakukan keinginan darinya. Dirinya yang biasanya selalu bersikap waspada, namun di dekat Jeno, Bulan merasa tidak perlu memasang tembok apapun sebagai sekat pelindung.


Begitu juga dengan Jeno, Bulan dapat membuat Jeno merubah sifat cuek dan dinginnya. Juga karena Bulan, hati Jeno yang selama ini tertutup bagi kaum hawa terbuka lebar. Hanya karena perempuan bernama Bulan.


Awalnya, Bulan memang memasang tembok. Dirinya berusaha membatasi jarak antara dirinya dan Jeno. Tapi, semua tak semudah yang Bulan inginkan.


Bukannya semakin kokoh, tembok yang dipasang Bulan sebagai penghalang malah semakin terkikis dengan segala perhatian yang di berikan oleh Jeno pada dirinya.


Bahkan dengan Jeno, Bulan merasa nyaman dan aman. Tak ada rasa khawatir. Bahkan Bulan juga merasa Jeno bukan seperti lelaki muda berusia belasan tahun.


Sementara Jeno melakukan tugasnya menjadi sopir pribadi untuk Bulan dengan suka rela. Jevo melakukan aksinya. Tentu saja menyusup masuk ke rumah Rio palsu. Menggantikan misi yang seharusnya dikerjakan oleh saudara kembarnya.


"Jeno, gue berharap elo bisa mendapatkan hati Bulan. Jangan sia-siakan pengorbanan gue." batin Jevo saat beraksi.


Pengorbanan. Astaga, hanya menggantikan misi Jeno sekali saja, Jevo sudah mengatakan layaknya dia berkorban yang besar. Dasar Jevo.


Dengan sangat mudah, Jevo masuk ke dalam. Dirinya sama sekali tidak menemukan hambatan. Bahkan, dengan santai, dirinya bisa masuk ke ruangan yang satu berpindah ke ruangan yang lain dengan mudah pula.


Jevo memasang beberapa kamera pengintai di beberapa tempat yang memang tidak tersorot kamera CCTV yang sengaja dipasang pemilik rumah.


Di markas, Arya menyalakan beberapa layar. Menatap bagaimana Jevo menjalankan aksinya. Seraya memantau sekitar Jevo, memastikan jika tidak ada apapun yang mengganggu Jevo.


"Jevo, ada yang datang dari arah kanan elo." ucap Arya dari markas, melihat seorang pembantu berjalan ke arah Jevo.


"Sekitar dua puluh langkah lagi, dia akan berada di tempat elo." tukas Arya, sebab Jevo masih berada di temapt.


Segera Jevo menyelesaikan apa yang dia kerjakan. Lalu segera menyembunyikan diri. Mereka melihat apa yang dilakukan sang pembantu. Jevo dari temapt persembunyiannya. Dan Arya dari layar yang berada di markas. Sebab Arya sudah menyabotase kamera CCTV di rumah tersebut.


Terlihat sangat mencurigakan apa yang dilakukan sang pembantu. Arya dan Jevo menajamkan penglihatannya.


"Pintu rahasia." batin Arya dan Jevo bersamaan.


"Jevo, sebaiknya elo segera keluar. Sekarang. Lewat jalan awal." pinta Arya, memastikan jalan yang akan dilewati Jevo bebas tanpa hambatan.


Belajar dari misi-misi sebelumnya. Jevo menurut apa yang dikatakan Arya. Sebab Jevo tahu, jika Arya mengetahui semuanya lewat layar yang dia pantau di markas.


Keluar dari rumah Rio, Jevo melajukan mobilnya ke markas. Rasa penasarannya sama seperti yang dirasakan Arya. "Pintu rahasia. Kita harus memberitahu Bulan." ucap Jevo, berbicara dengan Arya lewat alat komunikasi, sambil menaiki motornya.


"Pasti." tukas Arya.


Arya melihat, Rio palsu berjalan dengan santai menuju temapt dirinya menitipkan mobil di temapt penitipan.


Segera Arya menghubungi Mikel. "Dia keluar. Elo bersiap-siap." pinta Arya.


Di rumahnya, Mikel segera bergegas. Dirinya dengan mudah meninggalkan rumah. Sebab memang dirinya tinggal sendirian di apartemen.


Tak lupa, Mikel memasang alat komunikasinya di teling kanan untuk mempermudah komunikasi dengan Arya. "Dia melajukan mobil ke arah elo. Tunggu saja di sana." tukas Arya, yang melihat letak mobil Mikel dan juga mobil Rio palsu berada di satu jalur.


Segera Mikel memutar balik mobilnya. Memudahkan dia untuk mengikuti Rio palsu. "Sebentar lagi dia akan melaju dengan kecepatan tinggi." ucap Arya memantau dari layar.


Mikel juga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pandangan matanya selalu melihat ke arah kaca pantau. "Dia datang." seru Arya.

__ADS_1


Wuuzzzz..... Mikel juga mempercepat laju mobilnya. "Kemana dia pergi. Ini bukan arah pulang." ucap Mikel. Yang pastinya di dengar oleh Arya.


__ADS_2