PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 112


__ADS_3

Bulan memberikan sebuah kertas pada Jevo setelah dirinya keluar dari kamar bersama kakek Timo. "Kalian berdua keluarlah. Cari dan bawa semua yang saya tulis di kertas." pinta Bulan.


Jevo membaca tulisan yang ada di kertas. Dan tetap saja, dirinya tak tahu benda atau merk apa itu semua. "Cari di toko obat. Tapi jangan di apotik." tukas kakek Timo, mengerti jika Jevo pastilah bingung, sebab semua kata yang ditulis di kertas tampak sangat asing.


Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Toko obat. Bukan apotik. Lah,,, lalu apa?" tanya Arya bingung.


Mikel mengambil kertas yang ada di tangan Jevo. Membacanya dengan seksama. Kedua alisnya terangkat ke atas. Memang apa yang tertulis di lembar kertas tersebut semua menggunakan bahasa latin.


"Biar saya dan Jevo yang mencarinya." tutur Mikel.


Jevo menatap Mikel dengan ekspresi heran. "Elo tahu obat apa yang ditulis itu?" tanya Jevo, yang mengetahui dari perkataan kakek Timo, jika yang ditulis di secarik kertas tersebut adalah obat.


"Tahu." sahut Mikel yakin.


Bulan tersenyum samar. Dirinya seolah bisa menebak dari mana Mikel mengetahuinya. Tapi bukan itu yang membuat kedua sudut bibir Bulan tertarik tipis ke atas.


Yakni daya tangkap dan daya ingat kelompok kecilnya ini yang dirasanya memang di atas rata-rata. Bukan hanya Mikel. Tapi yang lainnya juga.


Jevo mengangguk pelan. "Memang elo tahu tempat yang menjual bahan-bahan itu?" tanya Jevo penasaran, menyipitkan sebelah matanya.


Mikel mengangguk. "Gara....khemmm,,, gara-gara gue banyak,,,, emm,,, membaca di google, gue jadi tahu." tutur Mikel memelesetkan perkataannya.


Padahal, awalnya Mikel ingin menyebutkan nama Gara. Sebab Mikel pernah berbincang dengan Gara di markas. Dan Mikel teringat jika Gara pernah menceritakan toko yang menjual bahan-bahan ilegal.


"Hampir saja." ujar Mikel dalam hati merasa lega. Dan Mikel yakin, jika dirinya bisa menemukannya di tempat-tempat yang pernah mereka bicarakan tersebut.


Rekan-rekannya menghela nafas kasar melihat kecerobohan Mikel yang hampir saja menyebutkan nama Gara.


Bulan menggeleng pelan, sembari melirik ke arah Rio. Dimana Rio sedikit menggerakkan kepalanya, sembari mengubah sedikit ekspresi wajahnya. "Gara. Helaan nafas mereka." batin Rio menebak jika mereka menyembunyikan sesuatu.


Bulan menatap kesal ke arah Mikel. "Ceroboh." batin Bulan, yang pastinya tahu jika Rio menyadari ketidak beresan dalam perkataan Mikel.


Meski begitu, Bulan tak begitu terlalu khawatir. Sebab Gara memang tak pernah keluar dari markas. Dan beruntungnya, keempat anak didiknya tidak memperlihatkan wajah mereka. Keputusan yang tepat di ambil oleh Bulan.


"Jangan ke sana sebagai diri kalian." ingat Bulan.


Jevo dan Mikel mengangguk paham. Bulan hanya takut jika mereka dalam bahaya, jika pergi ke tempat yang seperti itu tanpa menyamar.


Sebab, kebanyakan orang yang datang ke sana adalah para penjahat yang juga sedang mencari sesuatu. Pastinya mereka akan mencurigai siapapun yang datang ke sana. Waspada jika mereka yang datang adalah lawan.


Selain itu, Bulan khawatir jika penjaga toko juga bukan orang sembarangan. Yang membuat Jevo dan Mikel dalam bahaya.


Atau malah bisa jadi, ada abdi negara yang membawa senjata api di sekitar tempat tersebut. Guna mencari target.


Bulan hanya berjaga-jaga, tentunya demi keselamatan mereka. Dan juga demi rencana yang sudah matang ini. Yang tinggal mengeksekusi saja.


Tak ingin membuang waktu, keduanya segera meninggalkan villa dan pergi mencari apa yang Bulan butuhkan. Yakni tulisan yang ada di kertas tersebut.


Dan Bulan segera menghubungi Gara. Memintanya untuk mempersiapkan semuanya. "Pergilah ke markas. Ada yang sudah menunggu di sana." perintah Bulan pada Jeno.


"Baik. Saya pergi dulu." pamit Jeno.


Arya memandang Bulan dengan lamat. "Apa sekarang, waktunya?" tanya Arya. Yang mendapat anggukan dari Bulan.


Jantung Arya berdebar sedikit lebih cepat. Bukan karena dia menyukai Bulan, atau karena dirinya jatuh cinta. Melainkan, ini untuk pertama kalinya bagi Arya melakukan hal seperti ini.


Antara senang bercampur cemas dan khawatir. Itulah yang dirasakan oleh Arya. Dan kemungkinan, bukan Arya saja yang merasa demikian. Juga dengan rekannya yang lain. Tapi tidak dengan Bulan.


Dia merasa senang, karena akhirnya bisa membuka tabir misteri pembunuhan berantai yang selama ini sulit untuk dipecahkan.


Namun, dirinya juga merasa khawatir. Jika rencana mereka yang tinggal selangkah lagi akan menemukan kendala. "Semoga apa yang direncanakan bu Bulan berjalan sesuai keinginan." batin Arya, yang sama juga merupakan keinginannya dan rekan-rekannya.


"Kamu tetap di sini dan jaga mereka. Ada gang harus saya lakukan." pinta Bulan, yang berarti dirinya akan menyusul Jeno dan Jevo, juga Mikel meninggalkan villa ini.


"Bu Bulan mau ke mana?" tanya Arya. Tak apa jika Arya memanggil nama Bulan menggunakan nama aslinya. Pasalnya, Bulan juga sudah membuka penutup wajahnya. Dan memberikan tanda pengenal kepada mama Rio.


"Jika ada apa-apa, segera hubungi saya. Juga saat yang lain kembali." tukas Bulan, bukannya menjawab apa yang ditanyakan oleh Arya.


"Memang kamu mau ke mana?" tanya mama Rio yang ternyata juga penasaran.


Bulan tersenyum manis. "Ada yang harus saya lakukan Nyonya. Tenang saja, rekan saya ada di sini. Jika ada sesuatu, segera hubungi saya." jelas Bulan, tanpa mengatakan dirinya hendak melakukan apa.


"Jika kamu membutuhkan bantuan, saya punya banyak kenalan." tukas mama Rio menawarkan diri untuk ikut menyelesaikan masalah ini agar semua cepat selesai.


"Terimakasih Nyonya. Tapi untuk saat ini, saya belum membutuhkan bantuan Nyonya." tolak Bulan dengan sopan.


"Hanya saya minta, untuk tidak memberitahu siapapun terkait masalah ini. Siapapun. Sebab, jika banyak yang mengetahuinya, saya hanya khawatir, rencana saya malah akan berantakan." lanjut Bulan mengatakan apa yang harus dia katakan.

__ADS_1


Bulan mengatakan hal tersebut, karena di villa Mikel juga tersedia telepon rumah. Meski ponsel milik maka Rio sudah di amankan Jeno, saat dia membawa mama Rio ke villa Mikel.


"Tenang saja. Kami tidak akan melakukan sesuatu tanpa bertanya dulu pada kalian. Atau kamu perintahkan." timpal Rio, yang sangat tahu kenapa Bulan mewanti-wanti sang mama.


"Terimakasih kerjasamanya." sahut Bulan.


Kaki Bulan yang hendak melangkah terhenti saat kakek Timo mengeluarkan suaranya. "Timo anak yang cerdas. Berhati-hatilah saat berhadapan dengannya." ujar kakek Timo mengingatkan.


Cerdas,,, tak beda jauh dari kata licik untuk orang seperti Timo. "Baik kek." sahut Bulan. Saat Bulan berjalan ke depan, Arya mengantarkan sampai pintu utama.


Bulan memberikan sebuah senjata api pada Arya. "Gunakan jika diperlukan."


Segera Arya mengambilnya, dan menyembunyikan di balik jaketnya. "Hati-hati bu." kata Arya.


Bulan mengangguk. "Kamu juga. Ingat, utamakan keselamatan nyawa kalian." cicit Bulan mengingatkan.


Bulan sendiri tak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di villa saat dirinya tak ada di tempat. Bulan memang menginginkan semua baik-baik saja.


Hanya saja, semua bisa terjadi. Apalagi orang yang mereka hadapi adalah orang seperti Timo. Terlebih, di antara mereka ada kakek Timo.


Yang Bulan sendiri tak tahu apa yang ada di dalam tubuh kakek Timo. Bisa saja, Timo menanam sesuatu di dalam tubuh beliau. Seperti alat pelacak. Sehingga Timo dengan mudah mengetahui keberadaan sang kakek.


Arya seolah memastikan area sekitar depan villa. Tentunya dia tak ingin sampai ada tamu tak diundang yang datang dan membuatnya harus mengeluarkan pistol untuk pertama kalinya.


"Astaga...." Arya menepuk pelan keningnya sendiri.


Dirinya baru tersadar, jika dia belum pernah memakai senjata api. "Apa gue bisa?" tanyanya pada diri sendiri.


"Bodohnya elo." umpat Arya menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bertanya terlebih dahulu pada Bulan.


"Lagian, kenapa bu Bulan nggak bertanya dulu tadi." ujar Arya menghembuskan nafas pendek.


Mungkin, karena Bulan tergesa meninggalkan villa. Sehingga dirinya lupa jika yang di berikan pistol adalah Arya. Remaja yang sama sekali belum pernah memegang senjata api. Apalagi menggunakannya.


Arya menutup pintu, tak lupa dia juga menguncinya. Setelah itu, Arya berkeliling untuk memastikan jika semua pintu dan jendela tertutup serta terkunci dari dalam.


"Kamu dari mana?" tanya Rio, merasakan gerakan di kursi sebelahnya.


"Memastikan semua pintu dan jendela terkunci." jawab Arya dengan jujur sembari menoleh mencari sesuatu.


"Mama sama kakek ke dapur. Membuat makanan." jelas Rio seakan mengerti.


Arya memundurkan posisi duduknya. Menatap Rio dengan tatapan aneh. "Elo nggak buta kan. Elo hanya pura-pura buta?!" tanya Arya setengah menuduh.


Rio tak marah dengan tuduhan Arya, dia malah terkekeh pelan. "Jika saja gue mempunyai kesempatan untuk kembali melihat. Orang pertama yang ingin gue lihat pasti mama. Dan yang kedua,,,, elo." tukas Rio tersenyum.


Tapi terlihat jelas, meski bibir Rio tersenyum sempurna. Raut wajahnya tak bisa membohongi rasa pahit yang dia rasakan.


"Cckk,,, elo lemah sekali. Hah,,, dasar." celetuk Arya disertai helaan nafas.


Tentunya Arya hanya tak ingin suasana berubah menjadi melankolis, karenanya dia meledek Rio. Sebab Arya tahu, dirinya juga akan ikut terbawa suasana jika Rio terus memasang wajah sedih.


"Bukankah elo tadi sudah dengan cerita korban Rio yang lain. Harusnya elo bersyukur. Apa elo mau jadi dokter Vinc. Hihh,,, mengerikan." gidik Arya merinding, mengingat bagaimana Rio mengeksekusi sang dokter dengan kejam.


"Sumpahh,,,, gue langsung nggak nafsu makan setelah melihat kembali video tadi. Huekkk,,,, Timo... Bagaimana dia bisa sekuat itu." Arya kembali menggerakkan bahunya karena merasa ngeri bercampur mual.


Rio tersenyum samar, raut wajahnya memperlihatkan sebuah kejahilan. "Memang, bagaimana cara Timo mengeksekusi dokter Vinc?" tanya Rio.


Arya menghela nafas sembari menggelengkan kepala berkali-kali. "Dia.... huek... Rio..!!! Kenapa elo malah bertanya. Lihat...!! Gue jadi ingat lagi. Elo memang brengsek...!" umpat Arya yang disahuti tawa lepas dari Rio.


"Astaga,,, perut gue mual." Arya berlari ke dalam kamar. Tentu saja untuk memuntahkan isi di dalam perutnya. Dan sayangnya, perutnya hanya terisi air. Sebab mereka semua memang belum makan apapun.


Rio masih tertawa mendengar umpatan Arya, dan juga saat mendengar derap kaki Arya yang menjauh "Dasar. Katanya mual, mengerikan. Masih saja mengingatnya." lirih Rio masih menyisakan tawa.


Mungkin inilah yang membuat Bulan menyuruh Arya untuk tetap berada di villa milik Mikel. Karena sifat Arya yang konyol. Selain itu, Bulan juga tahu jika Rio sangat nyaman berada di dekat Arya.


Tanpa Rio tahu, sang mama melihat semua yang Rio dan Arya bicarakan. Serta tingkah keduanya. Awalnya, mama Rio ingin menanyakan sesuatu pada Arya terkait bahan dapur.


Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar sang putra sedang berbincang dengan salah satu lelaki yang menolong mereka.


Keduanya tampak akrab. Seandainya orang lain yang melihat, pasti mereka mengira jika Rio dan Arya sudah lama kenal. Padahal mereka baru bertemu dua hari.


Mama Rio yang awalnya sedih karena keluhan sang putra tentang kedua matanya, perlahan menghilang berganti senyum. Manakala Arya bisa merubah suasana.


"Pantas putra saya percaya sekali dengan kalian." lirihnya. Beliau sekarang benar-benar percaya. Jika mereka adalah orang-orang yang berhati baik.


"Sampai kapanpun, saya tidak akan melupakan kebaikan kalian. Tidak akan pernah." cicit mama Rio.

__ADS_1


Mama Rio mengusap sisa air mata di kedua pipinya. Menghela nafas panjang untuk memulihkan perasaan yang sempat kalut.


"Sayang,,,!! Dimana teman kamu tadi?" tanya sang mama pada Rio.


Rio yang tak bisa melihat hanya bisa menggerakkan sedikit kepalanya. Belum sempat Rio menjawab apa yang ditanyakan oleh sang mama, Arya muncul dari balik pintu.


"Ada apa tante? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arya yang pastinya mendengar jika mama Rio sedang mencari dirinya.


"Itu, apa ada bahan masakan lain, selain di dapur?" tanya mama Rio.


Arya terdiam sejenak. "Emmm,,, saya malah tidak tahu tante. Ini tempat, milik teman saya tante. Saya saja juga baru pertama datang ke sini." jelas Arya dengan jujur.


"Ooo,,, begitu. Mungkin hanya yang tersedia di dapur saja." ujar mama Rio menebak.


"Mungkin." sahut Arya yang memang tidak tahu.


"Ya sudah, saya kembali ke belakang. Membantu kakek. Kalian di sini saja. Jangan kemana-mana." pinta mama Rio sekaligus berpamitan kembali ke dapur.


"Mama elo aneh. Dia kira kita anak kecil." lirih Arya setelah maka Rio tak terlihat. Rio tersenyum mendengar perkataan Arya.


Di tempat lain, Jevo dan Mikel sudah selesai dengan penyamaran mereka. "Serius, kita memakai pakaian seperti ini?" tanya Jevo memandang dirinya dari cermin dengan ekspresi jijik.


"Elo maunya gimana? Gue cuma kepikiran ini. Makanya gue beli pakaian seperti ini, beserta perlengkapannya. Apa elo mau kita bertukar peran?" tanya Mikel yang juga menatap penampilannya dari pantulan cermin. Memastikan jika penyamarannya sempurna.


"Lagian elo nggak punya ide." lanjut Mikel, yang memang awalnya Jevo hanya akan ikut apapun rencana yang Mikel punya.


Jevo dan Mikel benar-benar menyamar secara sempurna. Keduanya tidak menyamar sebagai seorang lelaki. Tapi perempuan.


Dengan Mikel menyamar sebagai perempuan paruh baya. Dan Jevo sebagai perempuan muda. Benar-benar tak ada yang mengenali mereka.


Bisa dibayangkan bagaimana tampang keduanya saat menyamar sebagai perempuan. Jika sebagai lelaki saja, ketampanan mereka di atas rata-rata. Bagaimana tampang mereka sekarang. Pasti tak kalah cantik dari perempuan tulen.


Mikel dan Jevo saling memandang. "Bagaimana?" tanya Jevo meminta pendapat sahabatnya tersebut.


Jevo mengangkat kedua tangannya sembari mengacungkan kedua jempol tangannya. "Elo cantik pake banget." puji Jevo.


Mikel mendengus kesal. "Elo juga. Sangat cantik." balas Mikel menaikkan sebelah alisnya.


"Brengsek." sahut Jevo.


Mikel merangkul pundak Jevo. "Oke,, kita beraksi. Let's go...!!" seru Mikel.


Meski keduanya menyamar sebagai perempuan cantik. Tapi mereka tak memakai high heel. Pasalnya, keduanya memilih cara aman. Karena tak bisa menggunakannya.


"Sebentar." ujar Mikel menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam mobil.


Mikel membenarkan letak dua buah benda yang ada di dadanya. ''Astaga, ternyata sangat ribet sekali menjadi perempuan." geleng Mikel.


"Pasti berat." timpal Jevo memandang apa yang sedang Mikel lakukan.


"Benar juga." sahut Mikel memandang ke arah dadanya.


"Ehhhh,,, tunggu." ucap Mikel mencegah Jevo masuk ke delam mobil.


"Apa sih elo?!!" seru Jevo sembari menepis tangan Mikel yang terulur ke arah wajahnya.


"Ya elaaa,,, elo pikir gue suka sama elo. Nggak lah.... Tuh lihat,,, tali BH elo kelihatan." ujar Mikel menatap ke arah pundak Jevo.


"Iiihh,,,, ngomong aja. Nggak usah sentuh." ucap Jevo dengan nada centil. Lalu masuk ke dalam mobil.


Mikel terkekeh pelan. "Gila, baru juga beberapa menit. Elo sangat mendalami peran. Jangan sampai kebablasan saja."


Mikel menyusul Jevo masuk ke dalam mobil. Dengan Jevo berada di kursi kemudi. Sementara Mikel duduk di kursi sebelah Jevo.


"Jangan lupa, kondisikan suara elo." ujar Mikel mengingatkan.


Jevo mengangkat sedikit ke atas tangannya yang sebelah kiri. Lalu menggerakkan seperti seorang perempuan. Terlihat begitu gemulai. "Oke..." ujar Jevo dengan suara kecil.


Mikel kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jevo. "Nanti Je,,, bukan sekarang." ketus Mikel kesal.


"Ya,,,, gue belajar. Biar nggak kagok." sahut Jevo.


Mikel memeriksa tas tangannya yang dia bawa. Dan jangan salah, isi tas tersebut adalah senjata yang mereka persiapkan jika ada musuh yang datang tiba-tiba.


"Jangan buat mainan Mik..." tegur Jevo, saat Mikel mengeluarkan benda seperti bedak. Padahal benda tersebut bukanlah bedak.


Bukan hanya itu. Semua yang ada di dalam tas memang terlihat seperti alat make up. Hanya saja, itu semua jika dilihat dari luar. Yang ada, sebenarnya semua adalah senjata yang mematikan.

__ADS_1


Dari mana mereka mendapatkannya. Tentu saja Mikel membeli dari toko yang diberitahukan oleh Gara.


__ADS_2