PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 159


__ADS_3

"Siang semua....!!" sapa Arya begitu memasuki apartemen Mikel.


Seperti biasa, Arya selalu memperlihatkan kebahagiaannya. Dan tingkahnya yang terkadang membuat orang lain kesal. Tapi juga bisa membuat orang lain tertawa.


"Kapan elo dan Sapna tiba?" tanya Arya, melihat keberadaan Mikel dan Sapna.


"Dari kemarin." sahut Mikel seenaknya.


Arya memberikan kameranya pada Gara. "Cckkk,,, gue serius. Seharunya gue yang lebih dulu." decak Arya duduk di samping Mikel.


"Belum lama." jelas Sapna.


Arya tersenyum dan mengangguk. "Gitu dong kalau ditanya. Jangan kayak Mikel." sindir Arya yang membuat Sapna tersenyum.


"Mau kemana?" tanya Mikel saat Gara ingin mendorong kursi rodanya.


"Ambil laptop." Gara menaruh kamera di tangannya ke atas meja.


"Tunggu saja di sini. Biar gue ambilkan." Mikel beranjak dari tempatnya duduk untuk segera melakukan apa yang baru saja dia katakan.


Kembali, Gara mengambil kameranya. Melihat dengan jeli setiap foto hang ada di kamera tersebut. Tentunya, Gara tak ingin melewatkan hal sekecil apapun.


Sapna menatap intens ke arah Gara. Entah apa yang ada dalam benaknya. "Sapna,,, tadi yang bayar belanjaan elo siapa? Elo sendiri apa Mikel?" tanya Arya kepo.


Pertanyaan Arya membuat fokus Sapna beralih. "Elo jadi orang kepo banget. Usil tahu nggak. Bukan uang elo juga." tukas Jeno.


"Tadi gue mau bayar sendiri. Tapi Mikel melarang." jelas Sapna berkata jujur.


"Kapan-kapan kita jalan-jalan, elo mau?" tanya Arya pada Gara.


"Gue." tanya Gara, menunjuk ke wajahnya sendiri.


"Ya elo lah,, gue mandang elo." tukas Arya.


Bukannya menjawab, Gara malah tersenyum pahit. Senyum dari Gara lantas membuat semuanya penasaran. Kecuali Bulan.


"Kenapa? Gue serius. Pasti elo nggak pernah jalan-jalan. Selalu saja di dalam ruangan. Elo nggak bosan." cecar Arya.


Bukannya Gara yang menjawab ajakan Arya, melainkan Bulan. "Dan kamu akan kehilangan nyawa. Bahkan mungkin seluruh keluarga kamu akan terkena masalah. Serta Gara, dia akan menyusul kamu. Mati." ketus Bulan.


Arya terdiam. Menatap Bulan dengan lamat. "Jangan pernah berani mengajak Gara keluar. Paham...!!" sarkas Bulan.


Arya segera mengangguk. Antara takut dengan Bulan dan penasaran dengan apa yang dikatakan Bulan. "Jadi, dia tidak pernah merasakan kebebasan." batin Sapna menatap ke arah Gara yang terlihat biasa saja.


Mikel datang dari belakang Arya, menepuk pundak Arya. "IQ otak elo berapa? Bukankah Gara pernah menceritakan siapa dia." Mikel memberikan laptopnya pada Gara.


Kedua mata Arya mengerjap lucu. Mencoba mengingat apa yang dikatakan Mikel. "Oh iya,,, sorry. Gue lupa." ujar Arya cengengesan.


Mikel memutar kedua matanya dengan malas, menatap sinis ke arah Arya yang selalu saja lupa akan hal-hal kecil.


"Otaknya masih digadaikan." celetuk Jevo, mendapat tatapan horor dari Arya.


"Bulan." panggil Gara, memberikan kamera Arya yang dia pegang pada Bulan.


Karena tempat duduk Jeno lebih dekat dengan Gara daei pada Bulan, Jeno mengambil kamera tersebut. Dan memberikannya pada Bulan.


Bulan melihat satu persatu foto yang ada di dalam kamera. Sebelah alis Bulan terangkat ke atas. Beruntung kamera milik Arya adalah kamera canggih.


Sehingga Bulan bisa melihat objek yang sedikit jauh dari Mikel dan Sapna, dimana objek tersebut tak sengaja terjepret kamera Arya.


Bulan menatap Gara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sebarkan sekarang." perintah Bulan terlihat tergesa-gesa.


Entah apa yang Bulan dan Gara lihat dalam kamera tersebut. Tapi yang jelas itu bukanlah hal yang baik. "Elo yakin?" tanya Gara memastikan keputusan Bulan.


"Yakin." sahut Bulan tersenyum miring.


Gara mengambil kembali kamera Arya, mengambil flash disk di dalam kamera untuk dia colokkan ke dalam laptop.


Jari-jamari Gara bermain lincah di atas keyboard. "Hanya tinggal menunggu Jevo." lirih Bulan.


Sapna terkesima melihat apa yang dilakukan Gara. Bahkan, kedua matanya tidak berkedip. Dengan mulut sedikit terbuka.


"Tutup mulut elo. Ntar kemasukan lalat." bisik Mikel.

__ADS_1


Sapna langsung menatap tajam Mikel, memukul pelan paha Mikel. Tingkah Sapna tak luput dari pandangan semua orang.


Termasuk Gara. Bahkan, Gara sampai menghentikan gerak jarinya di atas keyboard beberapa detik. "Fokus Gara." batin Gara pada dirinya sendiri.


"Kalian sepertinya punya chemistry yang kuat. Baru pertama bertemu sudah akrab." seloroh Arya.


"Dua kali." sahut Mikel dan Sapna bersama, mengoreksi jumlah pertemuan mereka.


"Kalian lihatkan. IQ nya memang di bawah rata-rata. Pikun." ujar Jeno. Dimana Bulan hanya tersenyum.


Suara dering ponsel Gara mengalihkan fokus Gara pada layar laptopnya. "Jevo,,, untuk apa dia menghubungi gue." lirih Gara.


Segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan telepon dari Jevo. Sementara yang lainnya langsung terdiam. Memberi ruang supaya Gara bisa berbincang dengan Jevo tanpa ada yang menganggu.


Gara mendengarkan dengan cermat apa yang Jevo katakan. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. "Baik." ujar Gara, dan langsung mematikan sambungan telepon mereka.


Gara menatap Bulan. "Jevo belum sempat mengeluarkan apa yang dia lihat di dalam laptop Tuan Zain. Ada orang yang datang untuk mengambil laptopnya." ujar Gara.


Mikel segera berdiri. "Akan aku ambilkan laptopku yang satunya."


"Lanjutkan pekerjaan kamu." pinta Bulan pada Gara.


Mikel kembali dengan sebuah laptop di tangannya. Untuk dia berikan pada Bulan. "Tanpa kata sandi." tanya Bulan pada Gara.


"Iya." sahut Gara, tanpa menatap pada Bulan.


Bulan memulai aksinya. Berselancar di dunia maya. "Ceroboh." tukas Bulan yang hanya membutuhkan beberapa tak lebih dari dua menit untuk masuk ke dalam akun milik Tuan Zain.


Arya menelan ludahnya dengan kasar. Dirinya baru mengetahui jika ternyata Bulan juga ahli dalam perangkat lunak. Sama seperti Gara.


"Minggir." usir Jeno, pada Sapna yang duduk di sebelah Bulan.


Tak ingin merecoki konsentrasi Bulan dan Gara, tidak seperti tadi, dimana dirinya dengan senang menggoda Jeno, Sapna memilih melakukan apa yang diinginkan Jeno.


Jeno melihat dengan intens layar laptop di depan Bulan. Dimana, Bulan masuk ke dalam sebuah file yang menurutnya sangat unik.


"Mungkin, Jevo tadi melihat ini." tebak Bulan.


Bulan menipiskan bibir dan mengangguk. "Berarti." kata Jeno saling berpandangan dengan Bulan. Lagi-lagi, Bulan mengangguk.


Jeno segera mengambil ponsel dan menghubungi saudara kembarnya, Jevo. Memberitahu, jika kemungkinan besar file rahasia di sembunyikan di dalam laptop milik Claudia.


Sedangkan Bulan mengeluarkan atau mematikan laptop seperti semula. Sehingga Tuan Zain tidak akan curiga.


Mikel dan Arya sejenak saling pandang. "Jeno dan bu Bulan. Meski keahlian bela diri Jeno belum bisa disandingkan dengan bu Bulan, tapi setidaknya dia bisa mengimbangi kecerdasan otak bu Bulan." batin Mikel memuji rekannya tersebut.


"Siall,,,!! Gue kalah dengan Jeno." gerutu Arya dalam hati. Jujur ada rasa iri di dalam hati Arya. Tapi bukan iri dalam arti negatif, yang hendak menjatuhkan Jeno.


Melainkan rasa iri yang semakin memicu dirinya untuk lebih melatih diri supaya lebih bisa hebat dari Jeno di bidang perangkat lunak.


Arya aneh. Padahal Jeno sama sekali tidak mengotak-atik laptop. Dia hanya membaca sebuah file di laptop. Dan mengerti apa yang sedang dia baca.


Jeno kembali menyimpan ponselnya, setelah selesai menghubungi Jevo. "So sweet." ujar Sapna menatap Bulan dan Mikel.


Semua menatap aneh ke arah Sapna. Dan lagi, suara Sapna bisa membuat seorang Gara kehilangan fokus untuk yang kedua kali dalam kurun waktu yang berdekatan.


"Sumpah. Kalian berdua sangat serasi. Tampan dan cantik. So,,, smart." puji Sapna, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan kedua mata berbinar.


Gara menggelengkan kepalanya. "Fokus Gara. Dia bukan membicarakan atau berbicara sama elo. Kenapa elo yang malah terganggu." batin Gara menghela nafas. Kembali melanjutkan pekerjaannya.


Bulan ingin mengeluarkan suara, tapi tingkah Jeno membuatnya terdiam. Dengan agresif, Jeno merangkul Bulan.


Cup.... Mencium sekilas pipi sang kekasih. Dimana Bulan hanya bisa menahan nafas. "Jeno..." batin Bulan, menahan rasa kesal yang bercampur dengan rasa malu.


"Kami memang serasi. Bukan begitu sayang." Jeno mengambil tangan Bulan, mencium lembut punggung telapak tangan Bulan.


Lagi-lagi, Bulan di buat salah tingkah oleh kelakuan Jeno. Bukan hanya salah tingkah karena Jeno yang menunjukkan perhatiannya. Tapi juga karena di sekitarnya ada banyak orang.


"Sepertinya cinta elo bertepuk sebelah tangan." celetuk Arya.


"What...!!! Maksud elo apa?!" tanya Jeno tidak terima. Mikel dan Sapna hanya bisa tertawa kecil.


"Kalian,,, jangan berisik sekali. Mengganggu Gara." tukas Bulan.

__ADS_1


"Sayang,,,, Arya yang mulai. Masa dia bilang kamu nggak suka sama aku." rajuk Jeno mengadu pada Bulan.


Bulan menghela nafas kasar, menanggapi Jeno yang malah memperpanjang masalah tak penting ini. "Memang kenyataan. Lihat,,,!! Bu Bulan terlihat santai dan cuek." tukas Arya tak mau kalah.


"Arya...!! Di-am." tekan Bulan mulai jengah dengan perdebatan mereka.


"Kamu cinta akukan?" tanya Jeno, hanya untuk membuat mulut Arya terbungkam.


Bulan mengangguk. "Kalau tidak cinta, pasti aku tampar kamu. Main nyosor saja." jelas Bulan. Yang malah mendapatkan ciuman bertubi-tubi di pipinya.


"Jeno...." seru Bulan.


"Woeeyy.... Ada anak kecil...!!" seru Arya.


Mikel hanya menggeleng dan tertawa. Begitu juga Sapna. Untuk kesekian kalinya, jari Gara berhenti. Menatap ke arah Sapna yang tertawa. "Cantik." batin Gara.


Beberapa menit, keadaan kembali normal. Mereka dengan setia menunggu Gara menyelesaikan pekerjaannya. "Tumben lama." celetuk Mikel.


"Fokusnya terbagi. Jadi lama." sindir Bulan. Entah Bulan tahu sesuatu, atau hanya sekedar bercanda.


"Apaan." sahut Gara dengan nada tinggi.


Jeno mengambil makanan ringan. "Aa...." ucap Jeno, menyuapi Bulan.


Dengan patuh, Bulan membuka mulutnya. Semakin lama, Bulan bisa membiasakan diri. Toh, yang ada di sekitarnya hanya orang-orang tertentu. Yang tidak mungkin membuka hubungan mereka pada orang lain.


"Kapan kalian akan go publik?" tanya Sapna.


Jeno menaruh tangannya di pinggang Bulan. Menatap sng kekasih dengan penuh cinta. "Aku sih,,, terserah Bulan. Disembunyikan selamanya juga tak apa. Asal hanya aku yang ada di hatinya." ujar Jeno menggombal.


Bulan tertawa pelan, menoyor pelan dahi Jeno. "Lagak elo...!! Disembunyikan selamanya. Jika bu Bulan. Gue percaya. Elo... Mendengar operasi Rio berjalan lancar saja elo kayak kesetanan." tukas Mikel.


Jeno melotot ke arah Mikel. "Aku hanya khawatir dan kasihan sama Rio. Karena dia pasti kalah bersaing sama seorang Jeno. Iyakan sayang."


"Idiiihh... Nggak mau ngaku. Cemburu bilang sobat...!!" seru Arya tergelak.


Jeno malah memeluk Bulan dengan erat dari samping. "Ya,,, aku sudah dengar. Bahkan mama Rio sempat menghubungi aku."


"Tunggu... Tunggu... Kapan? Kamu kok nggak ngasih tahu aku?" tanya Jeno, antara cemburu dan khawatir yang melebur menjadi satu.


"Sudah beberapa hari lalu. Beliau mengajak untuk bertemu. Tapi aku menolaknya, karena masih terlalu sibuk." jelas Bulan.


Jeno terdiam. Menatap pada sang kekasih dengan raut wajah datar. "Astaga,,, lagi pula aku juga tidal ada niat bertemu dengan mereka." imbuh Bulan.


Jeno mengangguk pelan. Namun ekspresinya masih terlihat datar. "Lebih baik kamu fokus ke ujian kamu. Jangan mikir hal lain." lanjut Bulan, mengalihkan pikiran Jeno.


"Benar juga." Jeno tersenyum. Mengingat dirinya akan mendatangi keluarga Bulan begitu ujian selesai. Tentunya juga mengajak kedua orang tuanya.


Bulan tersenyum samar. "Mudah sekali mengalihkan perhatian Jeno." batin Bulan lega. Jika Jeno tetap dalam mode ngambek, dirinya juga yang akan terkena imbas. Karena pasti Jeno akan bertingkah aneh.


"Jadi,,, kapan kalian akan jalan berdua. Di hadapan banyak orang?" tanya Sapna lagi.


"Astaga,,,, kenapa dia seperti Arya." batin Mikel. Sebab Bulan sudah mengalihkan pembicaraan yang tadi. Tapi Sapna malah bertanya kembali.


"Sekarang tidak mungkin. Karena aku harus menyelesaikan masalah. Lagi pula, sekarang aku dikenal sebagai seorang pengajar di sekolah Jeno. Tidak lucu bukan, seorang guru menjalin kasih dengan muridnya sendiri." jelas Bulan disertai tawa ringan.


"Maaf. Karena kami, kamu jadi repot." cicit Sapna.


"Tidak. Bukan karena kalian. Tapi mereka." tekan Bulan.


"Terimakasih." Sapna hendak beranjak dari duduknya. Namun terhenti karena interupsi dari Jeno


"Stop. Tetap di sana. Tidak perlu ada adegan peluk memeluk." cegah Jeno.


"Gue perempuan, Jeno...!!" sarkas Sapna merasa heran.


"Terserah. Biar aku yang mewakilinya." Jeno langsung memeluk Bulan dengan erat.


"Itu mau elo....!!" seru Sapna dan Arya serta Mikel serentak.


"Astaga...!! Bisa kalian diam....!!" bentak Gara, merasa terganggu dengan celotehan mereka.


Suasana seketika menjadi sunyi, karena semua terdiam. Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Bahkan hanya sekedar makan camilan.

__ADS_1


__ADS_2