PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 178


__ADS_3

"Ma,,,, Bulan sudah mempunyai seorang kekasih." tutur Rio, memberitahu sang mama saat sang mama baru saja menginjakkan kakinya di rumah.


Sebab beberapa hari, sang mama berada di luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan Rio tetap berada di negara ini untuk menjalankan perusahaan seperti biasa.


Langkah kaki mama Rio berhenti mendengar apa yang sang putra katakan. "Kita bahas besok saja. Mama ingin istirahat, mama sangat lelah." papar beliau meninggalkan Rio yang masih diam di tempatnya.


Rip hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Salah Rio, mengatakan di saat yang salah. Dimana sang mama baru saja menempuh perjalanan jauh. Serta waktu yang memang sudah larut malam.


Dimana seharusnya mereka beristirahat dengan tenang. Mengistirahatkan tubuh serta pikiran mereka setelah seharian penuh berjibaku dengan berbagai kegiatan.


Mama Rio melepaskan pakaiannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum membaringkannya di atas ranjang. Tak lupa beliau mengunci pintu kamar dari dalam.


Berendam di dalam bak mandi, mama Rio memejamkan kedua matanya sesaat. "Bulan. Ternyata dia sudah dibidik keluarga David untuk menjadi menantu mereka." lirihnya.


Ternyata mama Rio tahu jika Bulan menjalin hubungan dengan Jeno, salah satu putra Tuan David. Meski hubungan keduanya belum diketahui banyak orang. Yang dimana hanya beberapa orang yang mengetahuinya.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini." lirihnya lagi. Benar-benar merasa kecewa. Apalagi beliau memang sangat menyukai Bulan. Bukan hanya parasnya yang cantik, tapi kepribadian Bulan yang tenang seperti air.


"Calon menantu. Masih calon. Siapa tahu Tuhan berkehendak lain. Tapi,,, aku harus memberitahu Rio, jangan sampai menyinggung David. Dia bukan orang yang mudah di sentuh." ujarnya bermonolog.


Masih di dalam rumah mewah, tapi di dalam kamar berbeda. Seorang lelaki berdiri di dekat jendela. Memandang gelapnya malam dari balik jendela dengan tirai masih terbuka lebar


Siapa lagi jika bukan Rio. "Kelihatannya mama sudah tahu, jika Bulan memiliki kekasih. Apa mama juga sudah tahu, siapa kekasih Bulan?" tanya Rio menebak.


Rio bisa menebaknya, saat melihat gelagat serta ekspresi sang mama. Rio tak begitu saja menyetujui apa yang telah direncanakan temannya untuk memiliki Bulan. Dirinya ingin bertanya dulu pada sang mama.


Bukan karena Rio anak manja dan anak mama. Dimana dirinya selalu bertanya dan bergantung dengan apa yang mamanya katakan.


Hanya saja, Rio beranggapan jika pastinya sang mama lebih kenal Bulan dari pada dirinya. Dimana dia tertarik pada Bulan hanya karena kecantikan serta kemolekan tubuh yang Bulan miliki.


Setelah berpikir seorang diri, tanpa adanya teman di sampingnya, Rio malah bisa berpikir lebih jernih dan bijak. Mungkin karena tidak ada setan yang ada di sampingnya.


Rio hanya takut salah langkah atau salah mengambil keputusan. Meski kekasih Bulan adalah lelaki yang masih berusaha belasan tahun, yang kini duduk di kelas tiga SMA, namun tetap saja mereka mempunyai hubungan.


Yang Rio khawatirkan, dirinya akan merusak kebahagiaan orang. Selain itu, dia pasti akan berbenturan dan bersinggungan dengan Tuan David.


Meski dirinya baru beberapa bulan berada di dunia bisnis, namun Rio sangat mengetahui siapa Tuan David di kalangan pebisnis.


Satu hal utama yang membuat Rio berpikir keras untuk membulatkan tekad merebut hati Bulan. Yakni perasaannya sendiri.


Rio takut jika ternyata dirinya tidak benar-benar menyukai Bulan. Dengan kata lain, Rio tidak mencintai Bulan tulus dari dalam hati.


Rio khawatir, jika dirinya tertarik pada Bulan hanya karena kecantikan serta tubuh Bulan yang seksi. Yang mana hal tersebut pasti akan luntur dimakan waktu.


"Gue harus memastikan perasan gue. Jangan sampai, gue merusak hubungan Bulan dan Jeno. Yang pada akhirnya, gue akan meninggalkan Bulan karema sejujurnya gue nggak mencintai Bulan." lirih Rio berpikir serius.


Tak sama dengan Rio yang sedang mengoreksi diri di kamar sembari termenung, seorang perempuan duduk melamun di pinggir ranjang.


Sesekali dia berdiri. Bejalan ke sana kemari bagai setrika yang mondar mandir di atas pakaian. "Gila...!! Apa benar, selama ini Bulan seorang polisi. Lalu, kenapa dia beberapa bulan ini berada di sekolah gue. Bekerja di sana, seakan dirinya adalah tenaga pengajar." cicit Claudia.


"Tunggu,,,, kepala sekolah dan beberapa petugas keamanan, juga petugas kebersihan ikut terseret dalam kasus yang juga menimpa papa. Apa jangan-jangan, dia memang sengaja di tempatkan di sana oleh instansinya untuk melakukan penyelidikan." papar Claudia menyimpulkan sendiri.


Claudia beranjak dari duduknya. Keluar dari dalam kamar untuk mengambil air minum. "Dimana Revan,,,?! Kenapa selarut ini dia belum juga pulang." geram Claudia, dengan segelas air mineral di tangannya.


Tanpa Claudia tahu, jika Revan malam ini tidak akan pulang. Sebab dia sudah terlelap di kamar hotel setelah melakukan olah raga ranjang bersama seorang perempuan yang dia tahu adalah Sapna.


Mulai malam ini, Claudia memang tinggal bersama dengan Revan. Setelah dirinya angkat kaki dari rumah. Sayangnya, semua barang yang dia bawa dirampok di tengah jalan. Sehingga Claudia harus mengurus beberapa kartu kredit miliknya ke pihak bank.


"Jangan katakan, jika kedua orang tua Jevo tahu. Astaga,,, makanya mereka sangat dekat dengan Bulan." cicit. Claudia, mendaratkan pantatnya di kursi dapur.


Tak.... Claudia meletakkan gelas yang masih tersisa setelah air mineralnya di atas meja. Digigitnya ujung kuku yang berada di jari tangan dengan ekspresi khawatir.


"Semoga rasa khawatirku ini hanya sekedar khawatir biasa saja." lirih Claudia.


Claudia takut jika tebakannya benar. Claudia menebak jika Jevo mempunyai hubungan dengan Bulan. Oleh karenanya kedua orang tua Jevo sangat baik pada Bulan.


Claudia tersenyum sinis. "Jika gue tidak bisa mendapatkan Jevo. Maka tidak ada satu perempuan yang boleh bersanding dengan Jevo. Siapapun itu." tekan Claudia dengan ekspresi sadisnya.


"Jika benar Jevo dan Bulan memiliki hubungan, gue akan lebih mudah membuat mereka berpisah. Ya.... Perbedaan umur mereka. Memang,,,,, lidah lebih tajam dari pada pisau." ujar Claudia sembari tertawa lepas. Dengan sebuah rencana jahat di dalam benaknya.

__ADS_1


Di saat Claudia mengira Bulan dan Jevo mempunyai hubungan, Sella juga merasa aneh dengan kehadiran Bulan di sekolah mereka.


"Mita,,, tadi itu beneran bu Bulan kan?" tanyanya sembari berbaring di atas ranjang, dengan selimut menutupi tubuhnya hingga dada.


"Iya." sahut Mita yang tidur di lantai bawah.


Setelah sang papa dan sang mama berpisah, ditambah masalah yang menimpa sang papa, Sella tidak berani tidur seorang diri.


Dimana Sella meminta Mita untuk menemaninya tidur di kamarnya. Tapi Sella tetap saja Sella. Meski keduanya tidur di kamar yang sama, namun mereka berdua tidak tidur di ranjang yang sama.


Sella tidur di ranjang yang besar dan empuk. Dimana memang di sanalah dirinya selalu menikmati mimpinya.


Sementara Mita, dia memang tidur di atas kasur. Hanya saja, dia mengambil kasur kecil yang biasanya dipakai para pembantu, meletakkannya di lantai. Tepat di sebelah ranjang empuk dimana Sella berada.


Setelah mereka berdua berada di dalam kamar, Sella mengunci pintunya dari dalam. Dirinya tidak ingin sang mama tahu. Sebab Sella paham betul bagaimana sifat sang mama.


Pastinya sang mama akan mengoceh dan marah jika mengetahui Mita tidur di bawah. Meskipun ada kasur sebagai tempatnya berbaring.


Di pagi hari, Mita segera bangun terlebih dahulu. Merapikan kasur serta selimut dan bantal yang dia gunakan untuk dikembalikan ke tempatnya. Dan Mita melakukannya saat subuh. Sehingga sang majikan tidak akan tahu.


"Mita.... Elo dengarkan...??!" geram Sella, karena Mita hanya menjawab seenaknya.


Mita memutar kedua matanya dengan malas. "Dengar Sella... Lalu aku harus jawab apa? Memang iya, perempuan yang kita temui tadi adalah bu Bulan." jelas Mita.


Mita tahu, jika Bulan dan Jeno menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih. Tapi seperti janjinya pada Bulan. Dirinya tidak akan membuka mulutnya yang terkunci. Dan akan tetap merahasiakan apa yang dia tahu.


"Menurut elo bagaimana?" tanya Sella.


"Bagaimana apanya Sella? Aku malah bingung dengan pertanyaan kamu. Sudahlah, ini sudah malam. Aku sudah sangat mengantuk. Aku tidur dulu." ujar Mita malas untuk berbincang dengan Sella perihal Bulan.


Mita hanya menggunakan alasan mengantuk untuk menghindari setiap perbincangan dengan Sella. Padahal, kedua matanya masih terbuka lebar. Dan Mita harus segera memejamkan kedua matanya supaya Sella tidak curiga.


Atau lebih tepatnya, Mita takut jika dirinya secara tak sengaja mengatakan apa yang dia tahu. Jika Bulan dan Jeno mempunyai hubungan.


Sella tersenyum penuh makna. Dirinya ingat jika kedua orang tua Jeno terlihat dekat, bahkan akrab dengan Nyonya Rindi, mama dari Jeno.


"Mita,,,,, bagaimana jika gue mendekati bu Bulan. Meminta dia untuk membantu gue. Supaya gue bisa mendekati mamanya Jeno. Apalagi, sekarang gue sudah dikenal sebagai anak penjahat. Pasti akan susah buat gue mendekati mereka." cicit Sella.


Meski kedua matanya Mita tertutup, berpura-pura tidur, tapi kedua telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Sella.


Mita tersenyum dalam hati. "Bu Bulan itu musuh elo. Malah mau elo jadikan kawan. Dasar manusia licik. Mau memanfaatkan orang lain demi tujuan pribadi. Beruntung Jeno tidak terperdaya dengan wajah polos elo. Kasihan sekali jika Jeno sampai menjalin hubungan sama elo." batin Mita.


Merasa apa yang dia katakan tidak mendapat tanggapan dari Mita, Sella memutuskan untuk melihat ke bawah. Dimana Mita berada.


"Mita....!! Sialan,,,!! Dia malah ngorok dulu. Jika saja gue nggak membutuhkan elo, gue tendang elo dari sini." sinis Sella, kembali membaringkan tubuhnya seperti semula.


Mita hanya mencebikkan bibirnya. "Perempuan jahat. Pantas saja Jeno memilih bu Bulan. Gue saja yang perempuan pasti juga akan memilih bu Bulan dari pada elo." batin Mita dengan hati dongkol.


Di Markas Arya berteriak sembari merentangkan kedua tangannya ke samping setelah semuanya berkumpul. "Leganya.....!!" seru Arya setelah misi selesai.


Arya berdiri dari duduknya. "Tenang saja,,, untuk kerja keras kita semua, sebentar lagi kopi susu panas akan segera menghangatkan tenggorokan." cicit Arya sembari berjalan menuju dapur.


Semua tersenyum dan menggeleng pelan melihat tingkah Arya. Tapi memang benar adanya, tanpa adanya Arya, suasana akan terasa biasa. Atau lebih dikatakan dingin. Mengingat semua mempunyai kepribadian yang tenang dan tak suka keramaian.


Tak berselang lama, Arya datang dengan nampan di tangannya. Dimana ada beberapa gelas berisi kopi susu yang masih mengepulkan asap panas di atasnya.


Bulan segera berdiri dari duduknya. Lalu membantu Arya meletakkan beberapa gelas di atas meja. "Terimakasih bu Bulan yang cantik." seloroh Arya karena Bulan membantunya.


Dimana Bulan hanya tersenyum samar. "Pacar gue...!!" seru Jeno tak terima dengan Arya yang memuji sang kekasih.


Arya berdecak sebal. "Iya,,, terimakasih pacar Jeno yang cantik." cicit Arya malah mengulangi perkataannya.


Bulan memegang lengan Jeno yang hendak melemparkan bantal kecil pada Arya. "Letakkan. Ada banyak air panas di sini. Nanti malah tumpah." tegur Bulan dengan nada lembut.


Jeno meletakkan apa yang dia pegang dengan ekspresi kesal memandang Arya. Sedangkan Arya malah menjulurkan lidahnya untuk menggoda Jeno.


"Arya..." tegur Bulan.


Arya merenges, memperlihatkan deretan giginya yang bersih dan rapi. "Oh iya... Saya tadi dengar jika Jeno mengatakan rencana kalian. Memang rencana apa?" tanya Arya teringat.

__ADS_1


"Kita mau pergi berkunjung ke rumah keluarga Bulan." bukan Jeno yang menjelaskan. Tapi Jevo.


Jeno dan Bulan spontan menoleh ke arah Jevo bersamaan. Dengan ekspresi kesal. Dan benar saja, Arya langsung mengeluarkan suaranya dengan lantang.


"Kapan? Gue ikut?" tanyanya serta menawarkan diri dengan antusias.


Belum sempat Bulan dan Jeno, maupun Jevo mengeluarkan suara, Mikel terlebih dahulu bertanya pada Bulan. "Bagaimana dengan Sapna dan tante Irawan?" tanya Mikel.


"Benar. Apalagi masih ada Revan. Pasti Sapna dan tante Irawan masih dalam bahaya." timpal Gara.


"Aku belum berbicara dengan mereka." sahut Bulan.


"Apa mereka akan ikut juga?" tanya Arya, padahal Bulan mengatakan belum berbicara dengan mereka.


"Aaw....!!" seru Arya saat daun telinganya dijewer Mikel. "Sakit Mikel..!! Elo KDRT." imbuh Arya mengusap telinganya.


"Telinga,,, pasang dan gunakan dengan baik. Bu Bulan mengatakan belum memberitahu mereka jika akan pergi. Masih bertanya lagi." kesal Mikel.


"Bicara baik-baik. Gue cuma tanya." kekeh Arya tak mau kalah.


Mikel yang geregetan, mengangkat bantal kecil di sampingnya. "Letakkan. Ada banyak air panas di sini. Nanti malah tumpah." tegur Arya menirukan kalimat Bulan seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Bocah edan." gereget Mikel menunju bantal yang ada di tangannya.


Semua tertawa melihat apa yang Arya lakukan. "Gue tadi hanya memberi saran. Menyuruh bu Bulan mengajak mereka." ucap Arya masih membela diri.


"Kita nggak bodoh Arya. Mana saran, mana pertanyaan. Elo kira kita setolol itu, tidak bisa membedakan." tukas Jevo merasa terpancing dengan tingkah Arya yang absurd.


"Cckkk,,, terserah kalian." ujar Arya dengan santai.


"Saat ini, mereka belum aman jika dibiarkan hanya berdua. Elo tahukan, musuh pak Bimo masih banyak. Pasti mereka akan dengan cepat mendengar jika elo nggak ada di kota. Dan gue hanya takut, mereka akan menggunakan waktu itu dengan baik." tukas Gara khawatir.


"Apa mereka kita ajak saja?" tanya Jevo menyarankan.


Bulan menggaruk rambutnya meski tidak gatal. "Asal kalian tahu. Rumah aku di desa tidak sebesar itu. Hanya ada beberapa kamar. Astaga,,, mana muat." keluh Bulan berbicara jujur.


Jeno mengangguk pelan. Teringat saat dirinya di sana, dia harus berbagi kamar dengan Bintang. Adiknya Bulan.


"Tunggu,,, Bukankah waktu itu masih ada dua kamar yang belum dibersihkan. Kalau tidak salah, bapak dan ibu mengatakan jika kamar tersebut dipakai sebagai gudang untuk sementara waktu." jelas Jeno.


"Memang elo pernah kesana?" tanya Arya, membuat keadaan seketika hening.


Semua mata menuju ke arah Jeno dan Bulan. "Sudah...!! Sudah... Lebih baik kita tidur. Sudah malam." ujar Bulan mengalihkan perhatian.


Gara mencekal lengan Bulan, saat Bulan ingin beranjak meninggalkan kursi. "Elo mau ke mana. Tuh kopi minum dulu. Kasihan Arya." tukas Gara tersenyum samar.


Jeno segera membuang muka. Dirinya bisa menebak jika saat ini Bulan tengah menatapnya dengan tajam karena kalimat tersebut keluar dari mulutnya dengan lancar.


Bulan mengambil segelas kopi di depannya. Menyeruputnya sedikit. "Gue ikut. Masa Jeno sudah ke sana. Gue belum pernah." tukas Gara tiba-tiba.


Mikel dan Arya hendak berbicara, tapi Bulan terlebih dahulu menginterupsi mereka. "Sudah,,,! Cukup...! Stop...! Jangan bahas lagi. Aku belum berbicara dengan bapak dan ibu. Lagian. Kalau kalian ikut semua, rumah aku nggak cukup." jelas Bulan.


"Gampang. Kitakan bawa mobil. Tidur saja di dalam mobil jika malam." ujar Arya dengan santai.


Bulan memejamkan kedua matanya sejenak. Melirik ke arah Jevo. Sebab semua dari Jevo yang membongkar masalah ini.


Jevo berpura-pura tak tahu jika dirinya mendapat lirikan mematikan dari Bulan. Juga dengan Jeno yang seenaknya mengatakan jika dia pernah pergi ke rumah Bulan.


Kepala Bulan seketika berdenyut saat mengetahui semuanya ingin ikut. Setelah beberapa bulan selalu bersama dan berbaur dengan mereka, Bulan setidaknya tahu bagaimana sifat mereka. Pasti mereka akan tetap kekeh dan ngeyel untuk ikut.


"Jika kalian semua ikut, bagaimana dengan Sapna dan tante Irawan. Siapa yang akan menjaga mereka. Dan lagi,,, apa kalian pikir om David dan tante Rindi mengizinkan kalian untuk ikut?" tanya Bulan berharap mereka membatalkan niat mereka untuk ikut.


"Kalau gue tetap ikut. Gue nggak mungkin menjaga Sapna dan tante Irawan. Lihat saja keadaan gue. Yang ada, jika musuh menyerang, gue akan ikut mati. Dan gue rasa, kedua orang tua Jeno akan berbaik hati mengajak gue." cicit Gara tersenyum tanpa beban.


Jevo dan Jeno hanya diam. Tak berani mengeluarkan suara. Keduanya takut jika akan salah lagi di mata Bulan.


Bulan menatap Gara dengan kesal. Pasti sebentar lagi Mikel maupun Arya juga akan membuat alasan, dimana mereka akan ikut keluarga Jeno dan Bulan untuk pergi berkunjung ke desa, tempat kedua orang tua Bulan berada.


"Kalau gue. Gue juga akan tetap ikut. Kalian tahulah,,,, gue hanya mahir di komputer. Bela diri gue lemah. Keahlian menembak gue sangat diragukan. Mana bisa gue menjaga Sapna dan Nyonya Irawan." tukas Arya, yang juga ingin ikut.

__ADS_1


"Gue nggak mau menjaga mereka seorang diri. Kalau musuh yang datang banyak. Mampuslah gue. Lebih baik kita ajak mereka sekalian untuk pergi ke rumah kedua orang tua bu Bulan. Beres, aman, tidak kepikiran." timpal Mikel.


Bulan beranjak dari duduknya. Masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar dengan kencang hingga menimbulkan suara.


__ADS_2