PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 150


__ADS_3

Jevo mengendarai mobil bagai seorang pembalap. Dengan ugal-ugalan juga dia menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Selama berada di dalam mobil, Moza berpegangan erat pada sabuk pengaman yang melingkar di depan tubuhnya. Tentu saja dirinya takut akan terjadi sesuatu pada mereka berdua.


"Turun....!!" teriak Jevo kehilangan kesabaran pada Moza yang duduk di sebelahnya. Membuat Moza terjingkat kaget.


Wajah Moza bagai kapas putih, pucat karena rasa takutnya. Karena cara Jevo membawa mobil. Bahkan degup jantungnya berdetak di atas orang normal.


"Jevo...." lirih Moza.


Jevo melepaskan sabuk pengaman yang berada di tubuhnya. Menatap tajam ke arah Moza yang juga sedang menatapnya dengan raut wajah sendu.


Jeno menghela nafas panjang, meraup wajah hingga menyugar rambutnya dengan kasar. Melihat ekspresi Moza, Jevo menjadi tak tega untuk memarahi Moza.


"Ckkk,,, kenapa elo sulit sekali diberitahu. Jauhi gue. Kalau elo tetap berada di sebelah gue, elo akan menjadi incaran Claudia." tutur Jevo, sembari menatap ke depan.


Moza masih diam, kedua tangannya berada di sabuk pengaman miliknya. "Claudia itu nekat. Baginya, nyawa tidak berharga. Dia sama iblisnya dengan teman elo. Yang mungkin sekarang dia mengalami cacat seumur hidup." lanjut Jevo, mengingatkan Moza akan apa yang menimpanya dahulu, karena kepolosannya yang membuat otaknya menjadi bodoh.


"Tapi kamu dan Claudia tidak mempunyai hubungan. Aku tahu." timpal Moza dengan nada bergetar.


"Dan itu bukan urusan elo."


"Aku bisa menjaga diri dari Claudia."


"Seperti semalam. Saat elo hampir dilecehkan. Itu yang namanya menjaga diri." sindir Jevo, lagi-lagi mengingatkan kebodohan Moza.


"Maaf, aku hanya terlalu khawatir."


"Khawatir. Elo pikir seorang Jevo bisa diperlakukan seperti itu. Akan mati, hanya dikeroyok para cacing. Yang ada mereka yang akan gue musnahkan." sungut Jevo.


Keadaan hening sejenak. Sebelum Jevo kembali mengeluarkan suara. "Jangan dekati gue. Gue nggak mau jadi orang jahat."


"Jevo... Tapi Moza tidak bisa melakukannya." lirih Moza, menolak apa yang diinginkan Jevo.


Jevo sejenak memejamkan kedua matanya. Menghembuskan nafas kasar. Memakai cara kasar untuk membuat Moza menjauh darinya, tentu tidak akan berhasil.


"Kenapa? Jangan bilang elo jatuh cinta sama gue." cicit Jevo tertawa pelan.


Jevo melirik ke arah Moza yang hanya diam. Memandang ke bawah dengan tangan tetap berada di sabuk pengamannya.


Kediaman Moza membuat Jevo menggelengkan kepala. Karena tebakannya benar. "Gue lelaki bebas. Brengsek. Banyak musuh. Dan elo bukan tipe perempuan yang bisa berada di samping gue." ungkap Jevo blak-blakan.


"Ada,,, satu perempuan yang tepat berada di samping gue. Tapi,,,, gue nggak mungkin mengejar dia. Apalagi, saudara gue sendiri yang bersama dia. Bulan." ujar Jevo yang hanya berani dia katakan dalam hati.


Jevo tersenyum kecut. "Sudahlah. Gue juga harus melupakannya. Kelihatannya Bulan juga menyukai Jeno. Sudah lebih dari cukup buat gue, melihat kedua orang yang gue sayangi bahagia." lanjut Jevo dalam hati.


"Tapi,,,, perasaan ini, aku juga tidak bisa mengendalikannya." tutur Moza, menatap lurus ke depan. Memandang jauh.


"Kemungkinan itu bukan cinta. Mungkin elo merasa memiliki hutang balas budi, karena gue pernah menolong elo." tebak Jevo.


Moza spontan menoleh ke samping, menatap fokus pada Jevo. "Tidak mungkin, aku merasakannya. Aku benar-benar menyukai kamu."


"Jangan keras kepala. Yang ada elo akan menyusahkan gue, jika elo terus nempel ke gue." ketus Jevo.


"Jevo... Aku akan berusaha menjadi perempuan kuat. Supaya aku bisa berada di samping kamu. Supaya aku pantas menjadi perempuan milik kamu."


Jevo tersenyum miring. Menatap Moza dengan sebelah mata. "Moza,,, elo bukan tipe gue. Jauh...." tolak Jevo.


Jleb..... Kalimat tolakan dari Jevo untuk yang kesekian kali mempu menembus benteng pertahanan hati Moza. Hingga keluarlah air dari kedua pelupuk mata Moza.


Jevo tahu, jika Moza sedang menangis. Tapi dia membiarkannya. Tidak melakukan apa-apa untuk membuat tangis Moza mereda. "Lebih baik elo menangis sekarang. Dari pada nanti." batin Jevo, yang memang tidak merasakan getaran saat sia bersama dengan Moza.


"Apakah tidak ada kesempatan untuk Moza. Sekali saja. Aku akan membuat kamu menyukai aku." pinta Moza berharap Jevo mau memberi kesempatan padanya.


Jevo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin gue bisa memberikan kesempatan buat elo. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Tapi tetap saja, jawaban gue akan sama. Gue tidak menyukai elo,,,, Moza. Dan itu malah akan membuang waktu kita. Percuma Moza. Percuma, tidak akan ada yang berubah." ujar Jevo panjang lebar.


Jevo bisa saja membodohi Moza. Berpura-pura menyukai Moza, menerima pernyataan cinta Moza. Dan malahan, memperlakukan Moza seperti semua perempuan yang memang pernah dekat dengan dia. Claudia, salah satunya.


Namun Jevo tak setega itu. Sebrengsek-brengseknya Jevo, dia masih mempunyai hati. Sebab Moza tidak seperti mereka. Jevo bisa melihat, Moza belum pernah disentuh oleh lelaki.


Sehingga Jevo memilih menjauh dari Moza. Apalagi, Jevo sangat bertolak belakang dengan Jeno. Dirinya tidak sekuat Jeno dalam menahan hawa nafsu.


Memang, Jevo belum pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Tapi,,,, junior Jevo sudah banyak di puaskan oleh para perempuan dengan cara lain.


Moza mengusap air matanya. "Seperti apa perempuan yang Jevo inginkan?" tanya Moza dengan dada sesak, tapi tetap berusaha tersenyum.

__ADS_1


Jevo tersenyum tulus. Dan ini pertama kalinya Moza melihatnya. "Pastinya dia harus mempunyai tubuh seksi, dan cantik. Tapi, dia juga harus pandai menjaga diri." jelas Jevo, tidak menjelaskan secara terperinci.


Jevo menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan bayangan sosok perempuan yang menurutnya mewakili perkataannya barusan. Sepertinya tak baik bagi Jevo untuk terus memikirkan Bulan.


Moza terdiam, sembari menunduk. Jika wajah, bolehlah. Sebab Moza juga termasuk perempuan yang cantik.


Tapi untuk tubuh,,,, Moza sadar, jika dirinya terbilang mungil untuk ukuran perempuan. Apalagi yang ketiga. Menjaga diri, dia saja hampir celaka karena kecerobohannya.


"Jika suatu saat Moza bisa seperti yang Jevo inginkan, apa Jevo akan menerima Moza?" tanya Moza.


Jevo diam, memandang lekat ke arah Moza. "Apa yang akan dia lakukan?" tanya Jevo dalam hati.


Jevo mencebik seraya mengangkat kedua pundaknya ke atas. "Mana gue tahu. Gue saja nggak tahu apa yang akan terjadi besok." ketus Jevo tak mau berpikir terlalu jauh. Dan tak ingin memberi harapan pada Moza. Sebab Jevo juga bukan tipe lelaki yang mudah jatuh cinta.


Moza mengangguk seraya tersenyum. "Untuk yang terakhir. Bolehkan, Moza meminta sesuatu?"


"Asal jangan yang aneh-aneh." ketus Jevo.


Moza tersenyum tulus. "Tidak aneh. Moza hanya ingin Jevo mengantar Moza sampai rumah. Hanya itu."


"Baiklah. Tapi elo menjauh dari gue. Jangan sampai elo celaka karena Claudia." tukas Jevo kembali mengingatkan.


Moza mengangguk. "Iya." sahutnya.


"Aku akan menjauh dari Jevo. Tapi, Moza akan kembali mendekati Jevo, kalau Moza sudah bisa menjaga diri. Tak lagi membuat Jevo repot. Meski tubuh Moza tidak seksi." batin Moza.


Mau tak mau Jevo mengantar Moza pulang ke rumah Moza. Dirinya sudah merasa lega karena Moza mau mengikuti keinginannya untuk menjauh darinya.


Di apartemen Mikel, Gara tak lantas duduk diam ongkang-ongkang kaki, atau bersantai di atas ranjang. Dirinya mengambil laptop Mikel, yang tentunya, Gara sudah meminta izin pada sang pemilik, sebelum Mikel berangkat pergi ke sekolah.


Disela kesibukan jari jemarinya yang sedang bergerak di atas keyboard, Gara memandang ke arah jam dinding yang terpasang di dinding yang terletak di atas nakan. "Sebentar lagi pasti mereka akan sampai." gumam Gara.


Menebak jika Arya dan Mikel tak lama lagi akan tiba di apartemen. Sebab keduanya hanya mengikuti ujian kenaikan kelas, sehingga tidak berada di sekolah dalam waktu yang lama seperti biasanya.


Gara masuk ke dalam laptop milik Mikel, dengan menggunakan akun miliknya. Dirinya tak ingin Mikel akan terkena masalah karena kelalaiannya.


Jari jemari Gara terhenti, manakala benaknya terbesit tentang Bulan. "Kemana semalam Jeno mengajak Bulan. Apa mereka berdua bermalam bersama. Ahh,,,, kenapa gue malah memikirkan mereka. Terlebih Bulan. Dia cukup tangguh untuk membela dirinya sendiri." cicit Gara menggelengkan kepala. Mengenyahkan pikiran tentang Bulan.


Gara kembali fokus dengan laptop yang ada di depannya. Tentunya dia tidak sedang bermain-main, atau sekedar memainkan game di laptop.


Dimana dirinya baru mengetahui sesuatu kebenaran. Dia hanya takut, Bulan tidak tahu akan hal tersebut. Dan malah akan menjadi masalah untuk Bulan ke depannya.


Gara mengambil ponsel, mencoba menghubungi Bulan. "Cckkk,,,, kemana Bulan. Lagi pula, pasti Jeno masih di jalan." decak Gara, karena panggilan teleponnya yang tidak hanya sekali diabaikan oleh sang sahabat.


Tanpa Gara tahu, jika saat ini Bulan dan Jeno sedang duduk bersama kedua orang tua Jeno. Tuan David dan Nyonya Rindi.


Sementara Arya dan Mikel memang belum sampai ke apartemen karena mereka mampir terlebih dahulu ke tempat mereka kumpul, sebelum mereka diberikan sebuah markas oleh Bulan, yang saat ini juga menjadi tempat tinggal Gara.


"Gila,,, berapa lama kita tidak ke sini. Lihat,,,!! Banyak sekali sarang laba-laba. Idiiiiihhh,,,, lihat juga, kotor sekali. Jijik banget." cicit Arya memasang ekspresi geli.


Mikel berkacak pinggang dengan kedua mata melihat ke semua sudut. "Ckk,,, kita suruh orang saja membersihkannya. Terlalu banyak debu." ujar Mikel menggerakkan telapak tangannya di depan wajah seperti menggerakkan kipas tangan.


"Oke. Gue setuju." sahut Arya.


Mikel segera mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang untuk membersihkan tempat ini. "Siapa yang elo hubungi?" tanya Arya, sebab gaya Mikel berbicara, seperti seorang atasan menyuruh bawahannya.


"Pembantu di rumah gue." tukas Mikel, membalikkan badan. Meninggalkan rumah tersebut.


Arya memandang punggung Mikel. "Dan elo pikir gue percaya." lirih Arya, mengikuti langkah kaki Mikel.


Keduanya masuk ke dalam mobil yang sama. "Kita mampir dulu, beli makan siang. Pasti Gara juga belum makan." pinta Arya.


Mikel hanya memutar kedua matanya dengan jengah. Makan siang. Padahal waktu memang belum menunjukkan saatnya makan siang.


"Ada apa?" tanya Arya, merasa Mikel memperlambat laju mobilnya, dan menatap ke arah lain.


Arya segera mengarahkan pandangannya ke tempat Mikel memandang. "Bukankah dia papa dari Sella?" tanya Arya memastikan.


Arya dan Mikel tahu, sebab keduanya juga ikut mengantar Nyonya Irawan dan Sapna. "Benar. Dengan siapa dia berbincang?" ucap Mikel membenarkan pertanyaan Arya, sekaligus bertanya.


Pak Darto tampak berdiri di samping mobilnya dengan seragam kebesarannya. Dan bukan hal itu yang menjadi fokus dari Arya dan Mikel.


Melainkan beberapa lelaki dengan memakai jas. Dari ekspresi wajahnya, mereka terlihat sedang membicarakan hal serius.


"Kenapa bu Bulan menitipkan tante Irawan dan Sapna di sana?" tanya Arya, yang dia sendiri juga tahu bagaimana sepak terjang pak Darto.

__ADS_1


Mikel kembali menambah laju mobilnya. "Entahlah. Kita tidak bisa berpikir sejauh bu Bulan. Dan yang pasti, bu Bulan sudah mempunyai rencana lain." papar Mikel yakin.


"Gue hanya khawatir dengan keselamatan mereka berdua. Elo tahukan, bagaimana Darto itu, sifatnya sama seperti Sella." tukas Arya.


"Mungkin karena istri dari pak Darto juga ada di rumah itu. Makanya bu Bulan berani mengambil resiko." ungkap Mikel.


"Padahal jika mau, kita bisa mencarikan tempat aman untuk mereka." tukas Arya.


Mikel sepertinya bisa menangkap jika masalah ini tidak sesederhana pikirannya. Dimana, saat ini Bulan juga tengah memainkan peran. Buktinya, kasus Timo telah selesai, tapi Bulan masih bertahan di sekolah sebagai tenaga pengajar.


"Hanya Jeno yang tahu semua ini. Dan Gara." batin Mikel menebak. Mengingat hubungan kedua lelaki tersebut lebih dekat dengan Bulan.


"Jevo,,, apa dia juga tahu. Tapi dia memilih untuk bungkam. Dan bersikap biasa." batin Mikel.


Mikel tak ingin masuk terlalu jauh, atau bertanya terlalu jauh mengenai masalah yang berkaitan dengan Nyonya Irawan dan Sapna pada Bulan. Dirinya tahu apa yang harus dia lakukan, dan apa yang tidak akan dia lakukan.


Di apartemen Jeno, Bulan sedang sibuk memakai rambut palsu dengan berdiri di depan kaca. "Biar aku bantu." tukas Jeno menawarkan diri.


Beberapa menit yang lalu, Tuan David dan Nyonya Rindi telah meninggalkan apartemen Jeno. Sehingga kini mereka kembali hanya berdua.


"Tidak perlu." sahut Bulan dengan ketus.


Jeno mengambil kursi, dan duduk di sebelah Bulan berdiri. "Setelah ini kamu mau kemana? Biar aku antar." tanya Jeno, sekaligus menawarkan diri.


"Tidak perlu."


Jeno menghela nafas panjang. Dirinya tahu, jika Bulan sedang marah padanya. Dan tugasnya sekarang membuat Bulan kembali bersikap lembut. "Kamu tidak membawa mobil sayang."


Bulan hanya diam, tidak menyahuti perkataan Jeno. Dan masih sibuk dengan rambut palsunya. "Bagaimana jika kita ke apartemen Mikel. Pasti sekarang semua sedang berkumpul di sana." ajak Jeno.


"Tidak." Bulan menggoyangkan kepalanya dengan perlahan, saat dirinya selesai memasangkan rambut palsu tersebut dengan rapi.


"Lihat,,, pilihanku tepatkan. Kamu terlihat lebih cantik." Jeno mengalihkan pembicaraan, bermaksud membuat Bulan akan bersikap biasa dengannya.


Sayangnya, apa yang Jeno katakan malah membuat Bulan bertambah marah dengannya. Jeno tersenyum, saat Bulan menatapnya dengan lamat.


Bulan tersenyum. "Jadi,,, tanpa rambut pasangan, aku tidak cantik." tekan Bulan, dengan senyum yang menghilang, dan menatap Jeno dengan horor.


"Mampus. Gue salah bicara." batin Jeno memukul pelan mulutnya.


Jeno segera berdiri. Hendak menyentuk tangan Bulan, tapi Bulan menepisnya dengan kasar. "Bukan begitu sayang,,,, kamu tetap cantik. Bahkan tanpa rambut di kepala kamu, kamu tetap terlihat cantik." rayu Jeno.


"Jangan sentuh...!" seru Bulan, saat Jeno hendak mengelus pipinya.


Jeno hanya mengecap pelan. "Kamu ingin aku botak. Iya....!!?" seru Bulan dengan nada tinggi.


Jeno menggerakkan kedua telapak tangannya di depan. "Tidak... Sayang, bukan... Bukan seperti itu."


Bulan meninggalkan Jeno dengan perasaan kesal. "Sayang.... Bulan...!! Tunggu...!!" teriak Jeno segera berlari mengejar Bulan.


"Tuhan,,, kenapa yang aku katakan salah semua." lirih Jeno menutup pintu apartemennya.


"Astaga,, kunci mobil aku masih di dalam." gerutu Jeno, yang harus kembali masuk ke dalam apartemen untuk mengambil kunci mobil.


Sedangkan Bulan menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Seakan memastikan apakah Jeno mengejarnya atau tidak.


Bulan tersenyum miring. "Aku cinta kamu,,, aku mau menikah dengan kamu. Pembohong besar." oceh Bulan menirukan perkataan Jeno, dengan raut wajah kesal tidak melihat Jeno di belakangnya.


Bulan melanjutkan kembali langkah kakinya dengan perasaan campur aduk. Yang pastinya dia marah dengan Jeno.


Jeno berlari dengan cepat. Berharap masih bisa mengejar Bulan. Sayangnya, Bulan sudah meninggalkan apartemen. "Kemana Bulan pergi."


Di area parkir, Jeno mengeluarkan ponsel. Dia bermaksud menghubungi Bulan. "Jangan bodoh Jeno,,, Bulan sedang marah. Mana mungkin dia akan mengangkat panggilan telepon dari kamu." cicit Jeno membatalkan niatnya.


Bulan yang saat ini tengah berada di dalam taksi, menatap tanpa ekspresi ke arah ponsel yang ada di tangannya. "Astaga,,,, gila... Tidak mengejar aku. Sekarang, menghubungi saja tidak." gerutu Bulan merasa kesal.


Dengan perasaan dongkol, Bulan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang Jeno belikan. "Iihh,,, jika tidak terpaksa, gue juga ogah memakai semua barang yang elo belikan." omel Bulan.


Sang sopir taksi yang sedang berada di kursi pengemudi tersenyum samar. Dia melihat semua yang Bulan lakukan, termasuk ekspresi wajah Bulan. "Dasar anak muda. Pasti sedang bertengkar dengan pasangannya." batinnya menebak.


Bulan memejamkan kedua matanya. Lalu tersenyum. "Perasaan seperti ini. Ini baru pertama kali gue rasakan. Ini pertama kali gue merasa marah karena hal sepele." lirih Bulan.


"Jeno,,,, elo benar-benar merubah hidup gue." Bulan menatap ke luar dari jendela samping. Tentu saja dia membayangkan wajah tampan sang kekasih, serta perubahan dalam hidupnya setelah bertemu dengan Jeno.


Senyum Bulan seketika menghilang. "Tapi tetap saja. Gue harus memberi pelajaran buat elo. Seenaknya saja mengatakan ini itu di depan om David dan tante Rindi." omel Bulan, sama sekali tidak menggubris ada pak sopir di kursi depan.

__ADS_1


"Mana gue belum memberitahu ibu dan bapak. Tapi,,,, bagaimana jika mereka kembali bertemu dengan Jeno. Dengan identitas yang berbeda. Tuhan,,,, semoga Engkau permudah semua urusan hamba." batin Bulan.


__ADS_2