
Seorang lelaki dengan posisi berdiri, tersenyum iblis menatap tembok. Dimana ada banyak foto tertempel di sana. Semua foto sudah ditandai dengan tanda silang. Yang artinya orang dalam foto tersebut telah tiada di dunia ini.
Namun ada dua foto yang masih bersih dari goresan tinta hitam di antara sekian banyak foto.
Tangannya terangkat dengan pasti, sebuah pisau dalam genggamannya. Matanya memandang sebuah foto dengan cermat.
Syiiuuuttt..... zlap....
Sebuah pisau menancap tepat di wajah seseorang di foto. "Haaa.... ha...." suara tawa iblis menggema memenuhi ruangan.
"Serra. Nikmatilah kebebasan yang aku berikan padamu. Sebelum malaikat maut menjemput dirimu, sayang." seringainya menakutkan.
Sejak awal, dirinya tidak ingin membunuh Serra. Tapi waktu dan kondisi yang mempertemukan mereka tanpa sengaja. Sehingga targetnya langsung berubah saat itu juga.
Seharusnya malam itu dia membunuh seorang yang masih berseragam putih abu-abu yang diincarnya beberapa minggu yang lalu. Tapi karena pertemuannya dengan Serra yang kebetulan, dirinya berubah pikiran.
Dia memandang kamera pengintai yang diletakkannya di atas meja, kamera dengan ukuran kecil yang telah rusak karena diinjak olehnya.
Diambilnya kamera tersebut. "Siapa yang menolong Serra." tanyanya dalam hati.
Awalnya, dirinya juga tidak tahu jika gadis yang akan dia lenyapkan bernama Serra. Dia mencari tahu identitas Serra dari tas Serra yang ada di mobil miliknya.
Dia juga mencari tahu semua tentang Serra. Keluarganya, sahabatnya, bahkan kekasihnya. Semua, terkait Serra. Semua dengan detail.
"Beruntung gue memakai penutup wajah. Jika tidak, pasti dia akan mengenali gue." ujarnya, tersenyum penuh arti.
Memandang ke arah pojok ruangan. Dimana ada beberapa topeng dengan bahan layaknya kulit manusia. Sehingga sangat mudah diaplikasikan dengan wajah sang pemakai.
Dia mendaratkan pantatnya di kursi goyang. "Aaahhh,,,, kenapa rasanya tanganku gatal sekali." keluhnya, menggaruk tangannya.
"Pasti karena satu bulan ini gue nggak membunuh orang." ucapnya dengan enteng. Seolah apa yang dilakukan adalah hal biasa.
"Apa yang harus gue lakukan." Dia memejamkan mata. Berpikir rencana yang akan selanjutnya di jalankan.
Ya,,, untuk Serra. Dia akan melepaskannya. Bukan untuk selamanya. Untuk beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar. "Serra ditemukan di gedung tua itu. Siapa tahu, di sana ada petunjuk dari orang yang menolong Serra."
Dia berkeinginan untuk mendatangi gedung tua di mama Serra ditemukan. "Tunggu. Gue nggak boleh ceroboh."
Kembali dipandanginya kamera pengintai yang telah rusak tersebut. "Dengan mudah dia bisa menemukan lokasi di mana Serra gue kubur. Itu artinya, dia bukan orang yang bisa dianggap remeh." ucapnya menimbang apa yang akan dilakukannya.
"Bahkan gue sendiri juga tidak tahu, jika Serra telah hilang." lanjutnya, itulah alasan kenapa dirinya kembali ke tempat Serra dikubur.
Dirinya berniat untuk bermain-main dengan Serra, sebelum dia mengeksekusi gadis cantik tersebut beberapa hari ke depan.
Dengan wajah berseri, dilangkahkan kakinya menuju ke tempat Serra berada. Dirinya sungguh terkejut mendapati jebakan yang ditata dengan sangat rapi untuk dirinya.
"Lebih baik gue nggak ke sana. Ya...." ucapnya tersenyum sempurna. Dia berpikir akan terlalu berbahaya jika menampakkan batang hidungnya di sana. Meski dengan wajah yang berbeda sekalipun.
"Aku akan menjalankan rencana selanjutnya." dia menatap foto yang berada di sebelah foto Serra.
"Kamu,,, aku akan mulai mendekati kamu. Hey,,, kamu akan berterimakasih. Karena sebentar lagi, malaikat akan menemui kamu. Haaaa.....ha....." ucapnya disertai tawa yang menggema.
Ponselnya berdering. MAMA. Itulah kata yang tertera di layar ponselnya.
Segera dia menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya. "Iya ma. Ada apa?" tanyanya dengan nada lembut, saat panggilan telepon sudah tersambung.
"Baik, aku akan segera pulang. Lagi pula pekerjaanku juga hampir selesai." ucapnya sebelum menutup panggilan telepon dari sang mama.
Di menoleh ke samping. Di mana ada sebuah kamar tanpa ada pintu. Terdapat sebuah batu nisan di dalamnya. "Aku pulang dulu. Mama menyuruhku pulang." jedanya sebentar, dengan tatapan sedih.
Seolah tal rela meninggalkan tempat tersebut. "Tenang saja. Besok aku akan kembali lagi ke sini. Menemani kamu." ucapnya dengan pasti, seperti tengah berbicara dengan seorang manusia.
Dirapikannya meja yang berserakan dengan beberapa buku dan laptop. Di masukkannya kedalam sebuah tas.
Diambilnya sebuah topeng kulit, dan dimasukkan juga ke dalam tas. Tak lupa, dia juga memakai topeng, dimana topeng tersebut selalu dia pakai saat mendatangi rumah ini.
Dirasa semua sudah cukup, lalu dia pergi dari tempat tersebut.
Di luar rumah, dia menampakkan senyum ramahnya, juga sopan santunnya. Sehingga beberapa tetangga yang selalu berpapasan dengannya tidak akan pernah mengira. Jika dia adalah seorang algojo kejam, yang dicari oleh banyak pihak.
"Berangkat kerja mas?" tanya seorang perempuan seumuran dengannya.
Dia mengangguk sopan. "Iya mbak, mari." sahutnya.
Beberapa kali dia berpapasan dengan orang di jalan, di mana mereka juga bertempat tinggal di sekitar sana. Dia selalu menyapa dengan sopan dan tersenyum ramah.
Bisik-bisik dapat dia dengar. Dari pujian karena ketampanannya dan juga dia dianggap pekerja keras. Hingga ucapan karena dirinya yang sudah berumur tapi tidak segera menikah.
__ADS_1
Dilihat dari wajahnya, tidak ada yang menyangka jika dirinya telah berumur. Sebab, dia memakai topeng. Sehingga wajahnya terlihat baby face, membuatnya terlihat awet muda. Layaknya pemuda yang masih berstatus pelajar SMA.
Senyum yang terpatri sedari tadi lenyap begitu saja. Saat dia menaiki bus di pemberhentian. Berganti dengan ekspresi wajah dingin tak tersentuh.
......................
Di tempat, lain Bulan dengan pakaian tertutupnya, bersiap untuk menunggu malam semakin larut. "Oh iya,,, elo sudah cari tahu pemilik mata itu." pinta Bulan pada Gara.
"Sudah, tapi sulit. Kelihatannya kita harus bersabar." cicit Gara fokus dengan layar di depannya.
Gara tidak bekerja sendirian. Dia juga masuk ke dalam forum khusus hacker. Pastinya dengan nama dan identitas samaran.
Biasanya Gara akan meminta bantuan dari salah satu anggota tersebut. Pastinya dengan imbalan juga. Yakni saling bertukar informasi. Sesuai apa yang diinginkan oleh orang tersebut.
"Bagaimana dengan pembantu gue?"
Jari Gara berhenti bergerak. Memutar kursinya, menghadap ke arah Bulan. Gara menggeleng. "Ada yang tidak beres. Gue nggak bisa terlalu dalam mengakses mereka secara detail."
Bulan tahu arti dari ucapan Gara. Jika ada seseorang yang melindungi dan menyembunyikan privasi mereka.
"Oke. Gue akan cari sesuatu. Mungkin dapat elo buat buka jalan, untuk pencarian kita."
"Elo harus hati-hati. Gue merasa sedikit khawatir." pungkas Gara.
Bulan layaknya bekerja sendiri. Dia menyelidiki semuanya sendiri. Dan yang lebih mengkhawatirkan, orang yang dianggap Bulan bersih dari kejahatan, bisa jadi dia juga terlibat.
"Elo sudah melapor hasil penyelidikan elo ke atasan?"
"Lewat email. Gue nggak bertemu secara langsung."
"Bulan, apa elo juga berpikir atasan elo terlibat? Bukan dalam pembunuhan berantai. Tapi dalam kasus lain yang tak kalah besar." tanya Gara.
Semenjak Bulan datang ke kota ini. Mengemban misi menyelidiki pembunuhan berantai yang menewaskan banyak murid SMA.
Dengan tak sengaja Bulan malah menemukan beberapa kejahatan besar tersembunyi dengan rapat. "Gue kenal beliau. Mungkin beliau tidak terlibat secara langsung. Tapi terpaksa terlibat." jelas Bulan mengutarakan pemikirannya.
"Ra, elo masih ingat Diki?" tanya Bulan selanjutnya.
Gara berpikir dan mengingat sejenak. "Diki. Bukankah dia yang waktu itu yang ikut melakukan penyerangan ke tempat gue. Saat gue masih berada dalam kelompok mafia bawah tanah."
"Sorry, bukan maksud gue mengungkit hal itu."
"Ckk,, oke Bulan, gue ngerti. Memang ada apa?"
Gara memandang Bulan dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana bisa. Bahkan dia di bawah elo waktu itu."
Gara masih mengingat jelas, jika penyerangan saat itu dipimpin oleh Bulan. Musuh yang akhirnya menjadi sahabatnya sekarang. Bukan hanya sahabat biasa, tapi sudah dianggap keluarga sendiri.
Bulan mengangkat kedua pundaknya. "Bukan itu masalahnya. Kalau soal itu, gue nggak peduli."
"Lalu apa?" tanya Gara semakin penasaran.
"Dia tahu, jika gue menjalankan misi itu." ucap Bulan, menatap serius ke arah Gara.
Gara mengangkat sebelah alisnya. Bahkan Gara masih mengingat dengan jelas. Jika Bulan pernah bercerita jika misinya sangat rahasia. Hanya beberapa orang yang mengetahuinya.
"Elo nggak bercandakan?" Bulan menggeleng.
"Oke, gue akan cari tahu." tutur Gara merasa ada yang janggal dalam misi Bulan kali ini.
"Menurut gue, Diki menjadi tangan kanan seseorang yang mempunyai pengaruh besar." tebak Bulan, karena itulah Diki mengetahui semuanya.
Bulan dan Gara saling bersitatap. "Apa pikiran kita sama?" tanya Gara.
"Mungkin." Bulan tersenyum penuh arti, memainkan alisnya naik turun.
"Benar. Hanya dengan lewat Diki. Kita akan tahu semuanya. Jika tebakan elo benar. Dia tangan kanan orang yang berpengaruh dan pastinya itu berbahaya buat elo." pungkas Gara.
"Tepat." Bulan menjentikkan jempol dengan jari tengahnya, hingga terdengar bunyi ....ctek....
"Apa atasan elo nggak bilang apapun?" tanya Gara lagi.
Bulan terdiam. Lalu mengangguk pelan. "Dia pernah mengirimkan sebuah kode dan beberapa isyarat saat kita bertemu terakhir kali."
"Apa?!" tanya Gara tidak sabar.
"Dia mengatakan jika gue harus selalu berhati-hati. Dengan siapapun." ungkap Bulan, menekankan saat kalimat terakhir.
"Dengan siapapun. Itu artinya dengan dirinya juga." tebak Gara.
__ADS_1
"Bisa jadi."
"Bulan, gue merasa misi ini seperti sebuah jebakan untuk elo." Gara mengeluarkan uneg-unegnya, merasa cemas dengan keselamatan sahabatnya tersebut.
"Gue tahu. Gue yakin, sebenarnya ini bukan hanya sekedar masalah pembunuhan berantai. Melainkan ada hal besar lainnya. Dan itu ada di sekolah tempat gue mengajar saat ini."
Semakin ke sini, Bulan juga merasakan ada banyak kejanggalan dalam misinya kali ini. Para pejabat yang mengetahui akan misi yang dia jalankan.
Seolah mereka menginginkan Bulan memecahkan dua masalah besar sekaligus. Atau bisa jadi, benar tebakan Gara, Bulan dimasukkan untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai ini, untuk menjebak Bulan.
Tapi kenapa? Ada apa? Bahkan Bulan merasa selama ini pekerjaan yang di berikan ke dirinya semuanya lancar dan berhasil tanpa cela. Dan tanpa menumbalkan orang lain.
Mereka juga menanyakan hal yang menurut Bulan sedikit aneh. Mereka bahkan tidak menanyakan terkait masalah yang Bulan emban dan Bulan selidiki.
Melainkan pertanyaan lain yang menurut Bulan sangat jauh dari misinya. "Gara, elo cari tahu semua tentang guru di sekolah itu. Bahkan kalau bisa staf, juga petugas kebersihan. Sampai satpamnya sekalipun."
"Bulan, mana yang harus gue dulukan. Keluarga pembantu elo, mencari pemilik mata yang kita curigai sebagai tersangka. Atau si Diki, yang tiba-tiba menjadi orang penting. Atau guru-guru dan semuanya yang ada di sekolah elo." ucap Gara dengan ekspresi kesal.
Bulan merenges memamerkan deretan giginya yang putih dan bersih. Dengan tangan memainkan penutup wajah di tangannya yang belum dia pakai.
"Yang penting saja dulu."
"Iya, tapi yang mana?!" kesal Gara, sebab Bulan biasanya akan tiba-tiba meminta yang belum dia kerjakan. Bukankah sangat menyebalkan bagi Gara.
"Lalu elo akan lepas tangan pada Serra?" tanya Gara, sedikit kasihan dengan nasib Serra.
"Tidak. Tapi gue sedikit mengerti cara dia bermain. Perkiraan gue, untuk satu atau dua minggu ke depan. Serra masih aman. Tapi, setelahnya. Gue akan melakukan tindakan." jelas Bulan.
"Terserah elo. Gue ikut saja." Gara pasrah dengan apa yang Bulan lakukan.
Tentu saja hanya itu yang bisa Gara lakukan. Lalu apa, keadaan memaksa Gara hanya bisa berada di dalam kediamannya. Tak bisa membantu Bulan beraksi di lapangan.
"Seandainya bisa, gue akan berada di samping elo. Menjadi pedang dan senjata elo. Menjadi mata dan telinga elo." batin Gara.
Namun Gara sadar, jika dirinya masih normal seperti dulu. Tak mungkin dirinya berada di sini saat ini. Gara yakin, dia dan Bulan masih menjadi musuh. Bukan sahabat.
Bulan menepuk pelan bahu Gara. "Gue hanya butuh jari elo. Tetap sehat dan lincah." seakan Bulan tahu apa yang Gara pikirkan.
Bulan memakai penutup kepala. Bersiap keluar dari tempat Gara tinggal selama ini. "Elo hati-hati. Tetap aktifkan ponsel." ujar Gara dengan raut wajah jengkel.
Sebab, dalam beberapa kesempatan, Bulan selalu mematikan alat komunikasinya dengan Gara. Membuat Gara khawatir setengah mati.
"Lihat keadaan sobat. Kalau elo berisik dan mengganggu, terpaksa gue matiin." ucap Bulan dengan tenang, tanpa memikirkan Gara yang cemas dengan keadaannya.
Selesai dengan semua perlengkapannya, Bulan melajukan motornya ke area sekolah. Berhenti dan memarkir motornya tak jauh dari sekolah tempatnya mengajar, ditempat gelap yang dirasa Bulan aman untuk menyembunyikan kendaraannya tersebut.
Di tempatnya, Gara segera meretas masuk ke dalam kamera CCTV di sekolah. Termasuk CCTV yang tersembunyi yang Bulan temukan.
Bulan tak lewat gerbang depan. Atau lewat belakang sekolah. Bulan sudah menghapal seluk beluk sekolah tempat dia mengajar, serta tempat mana saja yang ada kamera CCTV.
Bulan menaiki tembok pembatas dengan sangat mudah. Melompat turun ke tanah, tanpa menimbulkan suara. Seolah badannya seringan kapas.
Bulan sudah merencanakan akan bersembunyi di salah satu tempat, yang dapat dia jadikan tempat untuk melihat dengan leluasa segala penjuru sekolah.
Namun langkah Bulan terhenti, tatkala melihat jika tempat yang dia incar sudah ada penghuninya. Perlahan, Bulan melangkahkan kakinya menjauh.
"Siapa dia?" batin Bulan, mencoba menerka sosok yang duduk di atas bangunan tertinggi di sekolah. Bersembunyi di balik tempat penampungan air yang berukuran besar.
Tak ingin membuang waktu, segera Bulan bergegas mencari tempat lain. Dimana dirinya bisa memantau orang yang sempat dia lihat, dan juga ruangan yang dia curigai.
Bulan mengeluarkan teropong kecilnya untuk memantau keadaan. "Gara, elo lihat ada pergerakan apa tidak?" tanya Bulan.
"Masih sepi. Sama sekali tak ada pergerakan." sahut Gara di tempat lain yang memantau lewat kamera CCTV.
Bulan mengarahkan teropongnya pada sosok yang tak dia kenali tadi. "Ada orang lain selain gue. Dia berada di tempat yang seharusnya gue tempati."
Dan sosok tersebut masih duduk di sana. Sama seperti dirinya, Bulan melihat dia juga memakai teropong untuk melihat jarak jauh.
"Gue nggak bisa melihat sampai sana. Nggak ada CCTV di sana. Gue akan tunggu di tangga saja. Siapa tahu dia akan turun." jelas Gara.
"Oke." sahut Bulan.
Mata Bulan seperti burung elang yang sedang mencari mangsa. Menggunakan teropongnya untuk mencari sesuatu yang mencurigakan.
Juga tetap memantau sosok yang berada di atas gedung. Bulan tak ingin gegabah. Dirinya juga tidak tahu alasan orang tersebut berada di sana.
Tapi yang Bulan yakini, dia juga sama dengan Bulan. Terbukti, Bulan selalu melihatnya menggunakan teropongnya mengarah ke ruangan yang Bulan juga incar.
"Gue harus berhati-hati dengannya juga." batin Bulan.
__ADS_1
Siapa tahu ternyata dia adalah komplotan orang yang sering keluar masuk ruangan tersebut. Dan sedang memantau keadaan.
Dengan kesabaran yang besar. Bulan tak jenuh menunggu kedatangan pihak yang membuat dia penasaran.