
Bulan merasa ada yang aneh pada dirinya. Tercium bau wangi yang menenangkan masuk ke dalam hidungnya. Sungguh dirinya ingin berlama-lama menghirupnya.
Perlahan Bulan membuka matanya. Deru nafasnya bertambah, saat dia menyadari sesuatu. "Ini bukan mimpi." ucapnya dalam hati.
Menyadari jika dirinya berada di dalam pelukan seseorang. Dan itu adalah seorang lelaki. Teringat benar di dalam benaknya, semalam dirinya bersama Gara dan Jeno.
"Jeno." Bulan menoleh ke samping. Memastikan jika yang ada di dalam benaknya adalah benar. Bulan memejamkan kedua matanya dengan ekspresi kesal. Melihat siapa sosok yang memeluknya.
Apalagi Bulan merasakan sentuhan kulit Jeno terhadap kulitnya. Dan Bulan bisa menebak apa yang ada di dalam selimut ini.
Bulan diam tak bergerak. Menatap ke atas. Dirinya sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan, apa yang akan dia katakan setelah ini.
Marah, atau malah berterimakasih dengan apa yang dilakukan Jeno pada dirinya. "Eeeeuugghh...." Jeno melenguh pelan. Menggerakkan badannya, semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Bulan.
"Hahha.... Entahlah, yang terpenting sekarang gue harus bangun." ucap Bulan memutuskan.
Bulan mendorong tubuh Jeno supaya menjauh darinya. Lalu dia duduk, dengan tangan memegang selimut sampai ke dada.
Jeno memeluk perut Bulan, menaruh kepalanya tepat di belakang punggung Bulan bagian bawah. "Mau kemana?" tanya Jeno dengan suara serak.
"Bangun. Minggir." pinta Bulan, merasakan hembusan nafas pada tubuhnya di bagian belakang.
Dengan malas, Jeno mengubah posisinya menjadi duduk. Bulan mengalihkan pandangan ke arah lain, menyadari Jeno tidak memakai baju.
Jeno tersenyum, memeluk Bulan dari samping. "Jeno,,, jaga batasan kamu..!!" tekan Bulan, seolah mengingatkan jika mereka adalah seorang guru dan murid.
"Batasan yang mana?" tanya Jeno, dengan menaruh wajahnya di pundak Bulan, sehingga Bulan dapat merasakan hembusan nafas hangat dari hidung Jeno menerpa lehernya.
"Semalam saja kita tidur tidak ada batasan." lanjut Jeno.
"Jeno...!! jaga ucapan kamu..!!"
"Apa bu Bulan tahu, semalam bu Bulan bahkan sangat menikmatinya." goda Jeno.
Bulan memejamkan kedua matanya sesaat. "Minggir, saya mau ke kamar mandi." pinta Bulan.
"Perlu di gendong. Seperti semalam." goda Jeno.
Bulan menatap tajam ke arah Jeno. "Kamu...!!" Bulan mengangkat kedua tangannya, mengepalkan tepat di depan wajah Jeno.
Hingga Bulan lupa, jika dirinya tadi memegang selimut untuk menutupi tubuhnya bagian depan. Yang membaut selimut tersebut jatuh tak terkendali.
Jeno memandang pemandangan yang indah di pagi hari. Seolah matahari terbit dari sela kedua gunung kembar milik sang guru yang begitu berisi dengan bentuk sempurna.
Tahu kemana arah pandangan Jeno bermuara, Bulan segera ingin menyilangkan tangannya ke dada. Tapi Jeno lebih cepat mencekalnya, menaruh tangan Bulan dia atas kepalanya.
Bulan yang kehilangan keseimbangan terjatuh, dengan Jeno berada di atasnya. Beberapa detik, suasana hening. Hingga Bulan kembali tersadar.
"Jeno,,,, minggir." seru Bulan.
"Maaf." segera Jeno menyingkir dari atas tubuh Bulan.
Bulan mendesis, merasakan perih di bagian tubuhnya. "Mana yang sakit bu?" tanya Jeno spontan.
"Kamu sih." bentak Bulan, mengelus perutnya. Tepat di samping luka yang terlihat mengerikan. Segera Jeno meniup perut Bulan yang terluka karena cakaran serigala.
Bulan segera menutupi badannya dengan selimut. "Kenapa?" tanya Jeno.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membersihkan diri." ujar Bulan.
Tentu saja Bulan malu, tubuhnya terlihat dengan jelas oleh Jeno. Apalagi, tubuhnya tidak seperti dulu. Mulus.
Di beberapa bagian tubuh Bulan, terdapat cakaran hingga gigitan serigalanya yang membuat kulitnya terluka. Membuat badan Bulan terlihat mengerikan.
Bulan hendak menginjakkan kakinya ke lantai, tapi terhenti dengan pelukan Jeno dari belakang. "Tenang saja, ibu tetap cantik." lirih Jeno, seperti sedang berbisik. Seakan Jeno bisa menebak apa yang sedang ada di dalam kepala Bulan.
"Tidak akan ada yang bisa melihatnya, selain saya. Jangan khawatir." bisik Jeno. Padahal hanya mereka berdua yang ada di apartemen.
"Tapi ini terlihat menjijikkan." sebagai seorang perempuan, tentu saja Bulan merasa khawatir. Apalagi dirinya belum menikah. Bagaimana jika suaminya kelak tidak bisa menerima keadaannya.
"Tidak bagi saya."
"Siapapun pasti akan jijik melihat bekasnya."
"Jika perlu, saya akan menemani ibu buat operasi."
__ADS_1
"Saya tidak suka melakukan operasi."
"Baiklah. Saya akan mencari obat untuk menyamarkan luka di tubuh ibu."
"Kamu saja bahkan jijik. Mengaku saja." ketus Bulan.
Jeno merasa serba salah. Niatnya hanya ingin menghibur sang guru tercinta, Bulan malah salah paham.
Jeno berdiri. Menarik selimut yang menutupi tubuh Bulan. Melemparkannya begitu saja di atas lantai. "Kamu apa-apaan??!" seru Bulan, membuang wajahnya ke arah lain.
Bagaimana tidak. Jeno hanya memakai ****** *****. Dengan badan benar-benar sempurna. Bahkan, Jeno sama sekali tidak terlihat seperti murid kelas dua SMA.
Ditambah lagi, Bulan tak sengaja melihat ada tonjolan besar di dalam ****** ***** Jeno. Dan dengan mudah, Bulan bisa menebak apa isi di dalamnya. "Bulan, elo kenapa jadi mesum." ucapnya dalam hati.
"Ehhh...." Bulan merasakan sentuhan pada lukanya.
Cup... Bulan terperangah. Jeno mengecup bagian tubuhnya yang terluka. "Kata siapa saya jijik." Jeno memandang Bulan dengan tatapan lembut.
Jeno membawa Bulan untuk berdiri. Diciumnya semua luka di tubuh Bulan. Mulai dari kaki, perut, tangan, punggung, hingga leher.
Jeno memeluk Bulan dari belakang, begitu selesai. "Lihat, saya sama sekali tidak jijik. Tubuh kamu begitu seksi dan indah." ucapnya, mencium pipi Bulan dari samping.
Bulan hanya bisa diam. Terbawa suasana yang diciptakan oleh Jeno. Bahkan, Bulan tidak seperti biasanya, Bulan terlihat pasrah.
Jeno membawa kepala Bulan untuk menghadap ke samping. Cup... Jeno mengecup lembut bibir seksi sang guru.
Dan ini untuk kedua kalinya.
Lagi, Jeno mendekatkan bibirnya, menempelkan ke bibir Bulan. Perlahan, Bulan memejamkan kedua matanya. Perempuan mana yang tidak akan terbius dengan ketampanan saudara kembar ini.
Jeno mulai ******* perlahan bibir Bulan. Perlahan, tapi terlihat menggebu. Bulan dan Jeno, keduanya menikmati apa yang mereka lakukan.
Hingga bunyi ponsel membuat keduanya tersadar. Bulan melepaskan Jeno, begitu juga sebaliknya. Segera Bulan masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa menatap Jeno, dan tanpa mempedulikan tubuhnya yang hanya terbalut dalaman saja.
"Sial..!! Ada apa dengan gue..??!" seru Bulan tertahan.
Bulan menyenderkan badannya ke tembok. Meraup wajahnya dengan kasar. Mengusap bibirnya yang masih lembab karena baru saja berciuman dengan Jeno.
Bulan tersenyum samar. Namun sedetik kemudian Bulan kembali dalam mode serius. "Sadar Bulan... sadar. Dia masih bocah SMA. Bisa-bisanya elo menikmatinya. Kayak nggak ada lelaki yang jauh lebih dewasa saja." omel Bulan pada dirinya sendiri.
Tapi Bulan sama sekali tidak ada rasa tertarik. Meski hanya sedikit. Bahkan dengan Jevo, kembaran Jeno yang selalu menggodanya. Padahal keduanya memiliki wajah yang sama, dan juga bentuk tubuh yang sama.
Tapi, dengan Jeno, Bulan merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang Bulan sendiri tidak bisa tolak, saat Jeno mendekatinya. Saat Jeno memperlakukan dirinya dengan begitu lembut.
"Bulan, jangan bilang elo tante-tante penyuka anak di bawah umur." Bulan bergidik sendiri, membayangkannya.
Seketika Bulan baru teringat akan suatu hal. "Semalam gue berada di sini. Itu berarti, gue nggak pulang. Gue nggak masuk sekolah. Astaga..." Bulan membenturkan kepala bagian belakang di tembok dengan pelan berulang kali.
Jika masalah dengan sekolah, Bulan bisa mengatakan badannya belum sehat betul. Tapi bagaimana dengan atasannya yang menyuruh orang untuk selalu mengawasinya.
"Alasan apa yang harus gue katakan." gumam Bulan, sembari berpikir.
Tok,,,, tok,,,, "Bu,,, Bu Bulan... apa sudah selesai?" tanya Jeno disertai ketukan di pintu kamar mandi.
"Mengganggu saja." gumam Bulan.
"Belum!!" seru Bulan, mulai membersihkan diri.
Bulan keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai kimono. "Baju saya mana?" tanya Bulan dengan bibir cemberut.
Jeno berdiri. "Astaga, pakai baju atau apapun untuk menutupi tubuh kamu...!!" seru Bulan.
Bulan segera membuang pandangannya ke arah lain. Sepertinya Jeno sengaja tidak memakai pakaian sedari tadi. Dirinya seolah ingin memamerkan badannya pada sang guru tercinta. "Iya."
Jeno dengan santai dan terlihat pelan memakai pakaiannya. "Jeno,,, bisa lebih cepat....!!" seru Bulan dengan nada kesal.
"Bisa." sahut Jeno dengan santai.
Bulan duduk dengan kasar di atas sofa. "Aww... isssshhh..." desis Bulan, mungkin di paha bagian atas, atau bahkan di pantatnya ada luka. Sehingga Bulan terasa sakit saat duduk dengan kasar.
"Makanya, duduk dengan pelan." omel Jeno.
Jeno menghampiri Bulan. "Coba lihat." pinta Jeno.
"Pakai celana kamu dulu." omel Bulan, pasalnya Jeno hanya memakai kaos. Dan belum memakai celana.
__ADS_1
"Iya." Jeno tersenyum samar, memakai celana di depan Bulan. Pastinya Jeno sengaja melakukannya.
Bulan hanya mendengus sebal dengan apa yang dilakukan oleh Jeno. Bisa-bisanya Jeno memakai celana di depannya dengan santai.
"Mau apa kamu?!" tanya Bulan dengan rasa takut.
"Sudah berdiri saja. Apa aku cium lagi." ancam Jeno.
"Kamu kenapa sih, suka banget mengancam." gerutu Bulan.
"Karena baru diancam dulu, kamu baru mau menurut." tukas Jeno.
"Diam...!" seru Jeno, saat tangan Bulan menepis lengannya.
Kedua pipi Bulan bersemu merah karena malu. Bagaimana tidak, Jeno menyingkap kimononya bagian belakang. Melihat lukanya di bagian belakang.
"Astaga, lihat. Merah lagikan." omel Jeno, melihat luka Bulan.
"Mana bisa aku melihatnya." sahut Bulan mendelik.
Jeno mengambil sebuah salep sebesar jari kelingkingnya. "Lepas kimono kamu." pinta Jeno memaksa Bulan.
"Tidak..!! Enak saja." tolak Bulan, mengeratkan kimononya bagian depan.
"Astaga. Saya hanya ingin mengobati luka ibu. Memang ibu bisa mengobatinya sendiri." ucap Jeno serius.
Bulan cemberut. Yang dikatakan Jeno memang benar. Jeno menahan senyumnya, melihat ekspresi Bulan yang menurutnya lucu.
"Tuhan, kenapa bisa dia semenggemaskan itu." batin Jeno.
"Ayo cepat, sini." Jeno berusaha menahan senyumnya.
Dengan enggan, Bulan membuka kimononya dengan menahan rasa malu. Jeno berlutut di depan Bulan. Mengoleskan salepnya dengan pelan serta meniupnya agar tidak perih.
Dengan telaten, Jeno mengoleskan salep pada kulit Bulan. "Katakan jika sakit." pinta Jeno.
Bulan tersenyum samar, melihat Jeno yang fokus mengobati lukanya.
Sedangkan di sekolah, para murid beserta guru dan juga staf lainnya masih membicarakan beberapa ruangan yang meledak. Dengan dua mayat lelaki ditemukan di dalamnya.
Berbagai gosip keluar dari mulut para murid karena ledakan tersebut. Apalagi kedua petugas keamanan ada di dalam sana. Ditemukan tak bernyawa.
Merasa penasaran, Jevo beserta kedua sahabatnya melihat ruangan yang hancur karena ledakan. Sayangnya, mereka tidak bisa mendekat. Karena polisi memasang garis di sepanjang TKP.
Jevo memicingkan sebelah matanya. Ada yang aneh dengan ruangan tersebut. "Dalamnya masih terlihat rapi." ucap Jevo dalam hati.
Seperti yang terlihat, meski ruangan tersebut meledak, tapi lantai di ruangan tersebut masih terlihat bagus. Seolah tidak tersentuh.
"Eh,, bu Bulan tidak terlihat." celetuk Arya melihat ke sekeliling.
"Benar juga." batin Jevo.
Jevo memikirkan sesuatu. Jeno dan Bulan. Keduanya sama-sama tidak masuk sekolah. "Apa keduanya ada hubungannya." batin Jevo, menebak kenapa Jeno dan Bulan bisa bersamaan tidak ada si sekolah.
Ketiganya merasa percuma melihat tempat yang meledak. Mereka memutuskan untuk kembali ke kelas, sebelum bel masuk berbunyi.
"Kak Jevo....." panggil Sella.
Jevo dan kedua sahabatnya menghentikan langkah mereka. "Kak, kak Jeno mana?" tanya Sella menampilkan ekspresi lugu dan seimut mungkin.
Jevo tersenyum miring. "Terlihat seperti bidadari. Nyatanya, setan berkedok manusia." ucap Jevo dalam hati.
Jevo hanya acuh. Melanjutkan lagi langkahnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Sella. Arya dan Mikel tersenyum remeh pada Sella. Keduanya juga tahu bagaimana sifat asli dari Sella.
"Hah... gue diacuhkan. Brengsek." umpat Sella, senyumnya tak mampu membuat Jevo melihat ke arahnya.
Claudia mendekat dan berdiri di samping Sella sambil bersedekap dada. "Jangan jadi perempuan murahan. Maruk." hina Claudia.
Claudia tahu jika Sella mendekati Jeno. Dan sekarang, dia melihat Sella mendekati Jevo. "Astaga,,, tenang saja kakak kelas. Gue nggak berminat sama sekali dengan kekasih anda. Paham...!!" tekan Sella, tidak terima di hina oleh Claudia.
"Baguslah, jika situ sadar diri. Elo memang lebih pantas bersama si cupu. Jeno."
Claudia melangkahkan kaki meninggalkan Sella yang menatapnya dengan kesal. "Brengsek. Jika Jeno sudah jadi kekasih gue. Gue akan rubah penampilannya. Dan elo akan menjilat kembali ludah elo."
Dengan percaya diri, Sella berucap demikian. Seakan dirinya pasti akan mendapatkan Jeno. Dan menjadikan dia sebagai kekasihnya.
__ADS_1