
Sampai di rumah, Jeno tidak bisa tertidur dengan lelap. Kedua matanya seakan tak mau diajak untuk terpejam. Pikirannya tertuju pada Bulan.
Jeno mengambil ponsel, menghubungi Bulan. "Kemana dia." cicit Jeno, panggilannya tak dijawab oleh Bulan.
Bukan hanya sekali. Jeno menghubungi ponsel Bulan berkali-kali. Tapi tetap saja, tak ada jawaban dari sang pemilik ponsel.
Tanpa berganti pakaian, Jeno pergi meninggalkan rumah untuk kembali ke markas. Perasaannya sungguh tidak bisa tenang.
Di tempat lain, hal yang sama Gara rasakan. Sama seperti Jeno, Gara juga merasa khawatir. Berkali-kali dirinya menelpon Bulan, namun sama sekali tidak di angkat.
Dan ini pertama kalinya Bulan melakukan hal tersebut. "Tuhan, selamatkan dan lindungi Bulan dimanapun dia berada." gumam Gara gelisah.
Pandangan mata Gara selalu tertuju ke arah pintu masuk. Dirinya berharap Bulan muncul dari sana. "Ponsel." gumam Gara.
Terlalu khawatir akan keadaan Bulan, membuat Gara lupa jika dirinya bisa mencari keberadaan Bulan lewat ponsel Bulan.
Segera Gara melacak keberadaan ponsel milik Bulan. "Bukankah ini di markas yang Bulan tempati bersama keempat muridnya." lirih Gara, menemukan keberadaan Bulan dari ponselnya.
Bulan mempunyai dua ponsel. Saat sedang beraksi, atau sedang ditempat yang tidak ingin atasannya tahu, Bulan mematikan ponsel yang dimana atasannya tersebut mengetahui nomornya.
Sehingga musuh tidak akan dengan mudah mendapatkan keberadaannya.
Jeno, dia mengemudi mobil dengan laju yang kencang. Tak peduli akan keselamatamnya. Dirinya hanya ingin segera sampai di markas. Melihat, apakah Bulan masih ada di sana atau tidak.
Kedua mata Jeno membulat, melihat tubuh Bulan tergeletak di bawah dengan pakaian compang camping, serta wajah pucat dan tak sadarkan diri.
"Bu Bulan... Bu.... " Jeno mencoba membangunkan Bulan. Tapi hasilnya nihil. Kedua mata Bulan tetap terpejam.
"Kenapa bisa seperti ini." lirih Jeno, melihat ke arah pintu di mana para serigala dapat masuk dari sana. Jeno yakin, jika keadaan Bulan seperti sekarang karena melawan para serigala itu.
"Apa yang harus gue lakukan." Jeno mendadak gugup dan kebingungan.
"Rumah sakit. Gue harus membawa Bu Bulan ke sana." ucap Jeno tanpa berpikir panjang. Yang ada di benak Jeno hanyalah cara menyelamatkan Bulan.
Saat Jeno ingin mengangkat tubuh Bulan, ponsel yang berada di samping Bulan menyala. "Gara. Siapa dia."
Jeno segera mengangkatnya, tanpa berpikir panjang. "Halo."
"Bulan. Dimana Bulan?!" tanya Gara di seberang telepon dengan spontan. Seolah tahu jika Bulan sedang dalam bahaya.
Sebab, Bulan sama sekali tidak pernah memberikan ponselnya pada orang lain. Atau meninggalkannya. Bulan selalu membawanya kemanapun dia pergi. "Bu Bulan, Bu Bulan di cakar serigala." cicit Jeno dengan gugup.
Di tempatnya, kedua mata Gara membulat tak percaya. "Bawa ke sini. Secepatnya!!!" teriak Gara.
"Gue akan membawa bu Bulan ke rumah sakit." ujar Jeno.
"Bodoh....!! Dan identitas Bulan akan terbongkar!!" seru Gara mengingatkan.
"Lalu, apa yang harus gue lakukan?"
"Bawa ke sini secepatnya. Cepat, atau nyawa Bulan tidak akan selamat. Dan elo akan menyesal seumur hidup...!!" seru Gara dengan nada tinggi.
Jeno tidak punya pilihan lain. Dia berharap keputusan yang dia ambil adalah keputusan terbaik. Jeno memutuskan untuk membawa Bulan ke tempat Gara. Sesuai perintah lelaki yang bernama Gara.
Gara dan Jeno berhubungan melewati ponsel milik Bulan yang ada di tangan Jeno. Dengan Gara memandu Jeno, untuk menuju ke tempatnya.
Gara menunggu mereka di pinggir pintu masuk, membuka pintu dengan lebar. "Masuk." teriak Gara saat Jeno datang bersama dengan Bulan.
Gara kembali menutup pintunya dengan beberapa pengamanan setelah mobil yang membawa Bulan masuk ke dalam.
"Ikuti gue..!!" seru Gara dengan duduk di atas kursi roda, sementara Jeno menggendong Bulan di belakangnya.
"Letakkan di sana." tunjuk Gara setelah sampai di sebuah ruangan yang sangat dingin.
"Apa yang akan elo lakukan?!" Jeno menghentikan gerakan Gara, saat dia ingin menyuntikkan sesuatu pada tubuh Bulan.
"Elo mau, Bulan mati. Lepas..!!" bentak Gara, merasa Jeno malah menghambat usahanya menyelamatkan Bulan.
Setelah memasukkan sedikit cairan ke dalam tubuh Bulan lewat suntikan, Gara segera memasang infus. "Bulan, bertahanlah." ucapnya.
Jeno hanya berdiri diam. Melihat apa yang dilakukan oleh Gara, lelaki yang duduk di kursi roda. "Apa dia seorang dokter." batin Jeno.
Apalagi di dalam ruangan terdapat berbagai jenis alat medis. Serta berbagai macam obat. Layaknya sebuah klinik kecil.
__ADS_1
"Apa yang akan elo lakukan?!" seru Jeno, saat Gara hendak membuka pakaian Bulan.
"Mengobati tolol. Sebaiknya elo minggir bocah, jangan menganggu gue." sarkas Gara, merasa keberadaan Jeno sangatlah menganggu dirinya untuk menyelamatkan Bulan.
Begitu baju Bulan dilepas, mereka berdua bisa melihat luka cakaran serta gigitan di beberapa bagian tubuh Bulan. "Astaga." gumam keduanya.
"Lepas celana Bulan." pinta Gara, sebab tidak bisa melakukannya seorang diri.
Di bagian paha, juga terdapat bekas cakaran yang lumayan dalam. "Ini, bantu gue mengoleskan ini ke luka yang ada di tubuh Bulan." Gara menyerahkan sebuah benda kecil dengan isi seperti gel kepada Jeno.
Tak ada perasaan apapun, saat Gara maupun Jeno melihat Bulan hanya memakai pakaian dalam. Perasaan khawatir mereka, mampu menenggelamkan hasrat mereka sebagai seorang lelaki normal yang melihat tubuh seksi Bulan.
"Apakah bu Bulan akan selamat?" tanya Jeno di sela-sela mengoleskan salepnya ke bagian tubuh Bulan yang terluka.
"Dia akan selamat. Musuh Bulan masih banyak. Dia harus membalaskan dendam rekan-rekannya." Gara menatap lamat-lamat pada Bulan.
Selesai mengolesi gel di luka-luka yang ada di seluruh tubuh Bulan, Jeno menarik selimut. Menutupi tubuh Bulan hingga lehernya.
Satu jam berlalu. Dan Bulan belum sadar. Gara kembali memasukkan sedikit cairan ke tubuh Bulan melalui suntik.
"Apa yang kamu masukkan ke tubuh bu Bulan?" tanya Jeno dengan tenang. Tidak seperti saat awal.
"Obat infeksi. Cakar serigala mengandung banyak kuman. Aku hanya takut, Bulan terinfeksi oleh kuman yang dibawa mereka." jelas Gara.
"Siapa nama elo?" tanya Gara.
"Jeno."
"Gue Gara."
Keduanya duduk di kursi yang tak jauh dari tempat Bulan berbaring. "Bagaimana elo bisa menemukan Bulan?"
"Perasaan saya merasa tidak enak dan tidak tenang." ucap Jeno terjeda. Gara menoleh, menatap Jeno sebentar. Lalu kembali menatap Bulan.
"Saya memutuskan untuk kembali ke markas, setelah bu Bulan tidak mengangkat panggilan telepon dari saya."
Gara menunduk. Melihat ke arah kedua kakinya yang tidak normal. Tersenyum kecut. "Terimakasih."
Ada perasaan sedih dalam diri Gara. Merasa dirinya sama sekali tidak berguna sebagai seorang sahabat, karena keterbatasan yang ada pada dirinya.
"Bagaimana bisa, keadaannya separah ini." cicit Gara menatap sendu ke arah Bulan yang tergolek lemah.
"Saya sendiri juga kurang tahu. Saat tiba, bu Bulan sudah tak sadarkan diri di lantai." jelas Jeno.
"Untuk apa dia masuk ke dalam ruangan itu. Apalagi Bulan cukup paham. Para serigala itu hanya akan menunduk di hadapan satu orang."
Jeno memandang Gara dengan tatapan penasaran. Terlihat mereka sanga akrab bahkan sangat dekat. "Gue sahabat Bulan. Tepatnya, musuh yang akhirnya menjadi sahabat."
Gara sadar, jika Jeno merasa penasaran akan identitasnya. "Musuh yang menjadi sahabat." cicit Jeno.
"Mereka mengkhianati gue. Beruntung gue hanya kehilangan dua kaki. Dan Bulan datang menolong, disaat gue sudah tak ada rasa percaya. Jika nyawa gue masih akan terselamatkan." jelas Gara disertai kekehan kecil.
"Elo tahu, gue dan Bulan adalah musuh. Gue kelompok ilegal bawah tanah." lanjut Gara.
Jeno sedikit paham, dengan apa gang dikatakan oleh Gara. "Dan elo mau balas dendam."
Gara tertawa pelan. "Balas dendam bagaimana. Elo lihat keadaan gue. Bahkan, gue sama sekali tidak pernah keluar dari tempat ini."
"Bagaimana bisa? Kenapa?" tanya Jeno. Terkejut mendengar pengakuan Gara.
Seseorang terkurung di dalam gedung. Sendiri. Bahkan, jika semua fasilitas dan semua keperluan ada di dalam gedung ini, tapi tetap saja, dia memerlukan orang lain.
"Gue pernah keluar dari sini. Sekali, disaat keadaan gue sudah seperti ini. Elo tahu apa yang terjadi?"
Gara tersenyum getir mengingat kejadian tersebut. "Nyawa gue hampir melayang untuk yang kedua kali." jelasnya.
"Beruntung, Bulan datang tepat waktu." lanjut Gara.
"Bagaimana bisa?"
"Dulu, gue ikut kelompok yang sama sekali tidak berguna bagi kehidupan gue. Gue dikhianati, dan seperti ini. Mereka mengira gue sudah mati. Tapi ternyata gue masih hidup. Elo tahu, kenapa mereka tetap mengejar gue, padahal keadaan gue sudah seperti ini?"
"Karena kamu mempunyai informasi penting mengenai mereka." tebak Jeno.
__ADS_1
"Benar, tapi bukan hanya itu. Gue tahu segalanya. Karena gue dulu adalah orang kepercayaan dari pimpinan mereka."
"Bu Bulan." cicit Jeno, melihat kening Bulan mengeluarkan keringat.
Segera Jeno mendekat, memegang dahi Bulan untuk mengusap keringatnya. "Astaga, panas sekali." tukas Jeno khawatir.
Jeno memandang ke arah Gara yang masih diam di tempatnya dengan tenang. "Elo nggak usah khawatir. Berarti obat dan juga cairan yang kita berikan pada Bulan berhasil."
"Kamu yakin?" tanya Jeno ragu. Pasalnya, ini baru pertama kalinya Jeno melihat hal semacam ini.
"Yakin. Bulan sendiri yang mengajari gue." jelas Gara.
Jeno terdiam sesaat. Dirinya tak menyangka, jika Bulan juga bisa melakukan hal tersebut. "Kamu benar-benar perempuan hebat." batin Jeno.
"Pulanglah. Besok elo harus sekolah." ujar Gara mengingatkan.
"Tidak. Sebelum aku melihat keadaan bu Bulan membaik. Dan dia sadar, membuka kedua matanya." ucap Jeno bersikukuh.
Gara hanya menghela nafas. "Baiklah, tapi elo harus beristirahat. Di samping ruangan ini ada kamar. Istirahatlah di sana." saran Gara.
Jeno yang memang terasa lelah mengikuti saran Gara. Melihat Bulan sudah ada yang menjaga dan merawat, membuat Jeno bisa tidur dengan lelap. Apalagi Gara mengatakan jika keadaan Bulan akan membaik.
Tapi tidak seperti yang Jeno inginkan. Dirinya masih belum bisa memejamkan kedua matanya seperti yang dia harapkan.
Sekarang, bukan Bulan yang menganggu pikirannya. Melainkan markas dimana sekarang dirinya berada. "Markas ini, peralatannya lebih canggih dak lebih hebat dari markas sebelumnya."
Jeno menatap ke atas, dimana di atas hanya ada langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. "Jalan menuju ke sini. Jiga tak biasa." cicit Jeno.
Sungguh, Jeno tidak menyangka, ada sebuah gedung besar yang berdiri tanpa bisa dilihat dari luar. "Markas kita saja masih bisa dilihat. Tapi ini, ada banyak pengaman di sini." cicit Jeno.
Benak Jeno berkelana ke mana-mana. Tanpa dia sadari, kedua matanya terpejam dengan sendirinya. Karena mungkin Jeno juga lelah fisik serta pikiran.
Gara meninggalkan kamar Bulan sebentar. Memastikan Jeno sudah tertidur atau belum. Gara tersenyum melihat lelaki yang duduk di bangku kelas dua SMA tersebut ternyata sudah masuk ke dalam mimpi.
Sementara di sebuah rumah kayu yang sangat sederhana dan di bangun di tengah tumbuhan ilalang dan beberapa tumbuhan liar lainnya. Seseorang melampiaskan amarahnya. "Sial...!!!!" teriak Timo
Timo dengan kasar melepas topeng di wajahnya. "Mereka. Mereka mengganggu kesenangan gue." geramnya dengan nada tak terima.
"Lihat saja, gue akan membuat kalian menyesal. Karena telah merusak rencana gue."
Timo berteriak. Melampiaskan emosi yang sedari tadi dia tahan. "Gue harus mencari tahu siapa mereka." tukasnya.
Dengan membabi buta, Timo menghancurkan sebuah patung manusia yang terbuat dari kayu. Menusuk-nusuknya, seakan benda mati tersebut adalah korbannya yang selanjutnya.
"Asisten brengsek. Dari mana si culun, gigi tongos itu bisa tiba-tiba muncul." geramnya.
Timo menilai penampilan Jeno saat menyamar. Seakan dirinya tak menyadari wajahnya sendiri. Bagaimana menakutkannya wajahnya tanpa topeng yang menutupinya.
"Dan dia. Teman Serra. Gue akan membuat dia membayar mahal, lidahnya terlalu licin. Beraninya ikut campur masalah ini." ujarnya, menargetkan Jevo.
Sepertinya rencana Bulan berjalan sesuai rencana. Hanya saja, dengan keadaan Bulan yang seperti ini, apakah Bulan mampu menjalankan rencana untuk selanjutnya.
Sedangkan, di sebuah hotel. Claudia sedang bermain-main dengan Revan. Tentu saja Claudia merasa ketagihan dengan permainan ranjang yang diberikan oleh Revan.
"Apa Jevo tidak curiga?" tanya Revan.
Memeluk tubuh Claudia yang berada di bawah selimut. Tanpa benang sehelaipun yang melekat di tubuhnya. Sebab, keduanya baru saja menyelesaikan olah raga panas mereka.
"Tenang saja. Dia terlalu cinta sama gue. Dia nggak akan curiga. Dia terlalu polos." ucap Claudia dengan penuh percaya diri.
"Sayang, apa kamu mau meninggalkan Jevo. Dan selalu bersama dengan aku." pinta Revan, mengatakannya pada Claudia. Seolah-olah dirinya benar-benar mencintai Claudia.
"Revan,,,, jangan meminta lebih. Sejak awal hubungan ini terjalin, gue sudah mengatakan, jika kita nggak akan mungkin bisa bersama." tekan Claudia.
Revan tersenyum samar. "Siapa juga yang mau bersama dengan ****** seperti elo. Najis. Cuih..." ucap Revan dalam hati.
Claudia dengan begitu bangga pada dirinya sendiri. Merasa diperebutkan oleh dua lelaki tampan. Dia merasa kecantikan dan juga badan seksinya mampu menaklukkan lelaki manapun.
"Hanya Jevo. Hanya dia yang pantas bersanding dengan gue." tandas Claudia.
"Terserah elo, yang penting gue audah mendapatkan banyak untung dari elo." batin Revan.
Tubuh seksi, yang kapanpun Revan inginkan, dirinya bisa menikmati sepuasnya. Dan juga, Revan mengira apa yang diucapkan Claudia benar adanya.
__ADS_1
Jika Jevo mencintai Claudia. Oleh karenanya, dalam waktu dekat, Revan ingin memberikan rekaman tersebut pada Jevo.
"Gue akan melihat kehancuran elo,, Jevo." seringai Revan, mengelus rambut Claudia, serta mencium wanginya.