
Ditengah jalan, setelah pulang menjenguk kakek Timo, Bulan tanpa sengaja melihat sosok yang sangat familiar. "Jeno, hentikan mobilnya." pinta Bulan dengan segera.
Membuat Jeno melakukan apa yang Bulan perintahkan. Tanpa bertanya, Jeno mengamati tingkah Bulan. Mengarahkan pandangannya ke tempat dimana kedua mata Bulan bermuara. "Lelaki itu lagi." batin Jeno.
Dimana dirinya pernah melihat Bulan sangat intens memandang lelaki tersebut.nYang juga saat itu mereka juga melihatnya di pinggir jalan. "Siapa dia?" tanya Jeno memberanikan diri, dari pada penasaran.
Bulan memindahkan pandangannya menatap wajah Jeno. "Percayalah padaku sayang. Nyawaku bisa kamu ambil saat itu juga jika aku berkhianat." tukas Jeno menyakinkan Bulan.
Bulan tertawa pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Jeno. "Bukan seperti itu. Hanya saja, terlalu rumit menjelaskan siapa dia. Tapi yang pasti, dia sangat berguna, sekaligus berbahaya." jelas Bulan.
Jeno mengangguk. Hatinya yang sempat merasa cemburu karena Bulan memperhatikan lelaki lain, sekarang melebur sudah.
Ditelaah dari perkataannya, Bulan secara tidak langsung mengatakan jika lelaki tersebut berhubungan dengan misi yang akan dia lakukan selanjutnya.
Jeno kembali melajukan kendaraannya. Membuntuti kemana mobil yang dinaiki lelaki misterius tersebut. "Seharusnya, dia saat ini berada di rumah sakit. Karena yang aku dengar, dia sedang dalam keadaan kritis karena diserang orang yang tak dikenal." jelas Bulan.
"Mungkin dia punya kembaran, atau dia sudah sembuh" sahut Jeno menebak.
Bulan menggeleng. "Tidak. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Baru beberapa hari aku mendengarnya, mada sekarang sudah sembuh. Bisa jalan-jalan." tukas Bulan, merasa Narendra tak seperti orang yang baru saja mendapatkan musibah.
Dan benar, mobil yang dikendarai lelaki tersebut berhenti di sekitar rumah sakit. Dia keluar dari mobil. Berjalan menuju ke arah rumah sakit dengan tergesa. Topinya sedikit di tundukkan untuk menutupi wajahnya.
Sedangkan mobil yang membawanya berjalan terus, meninggalkannya. "Ikuti mobil itu." pinta Bulan.
"Oke sayang." sahut Jeno, yang mengira jika Bulan akan turun dan mengikuti lelaki yang masuk ke dalam area rumah sakit.
Disaat Bulan dan Jeno mengikuti mobil di depannya, ponsel Bulan berdering. Tertera nama Gara di layar ponselnya. "Ada apa?" tanya Bulan setelah menggeser gambar berwarna hijau di layar ponselnya.
Bulan diam, mendengarkan apa yang dikatakan Gara di seberang telepon dengan ekspresi sedikit tegang. "Oke,,, elo lakukan. Gue akan memastikan sesuatu terlebih dahulu." tukas Bulan, mematikan sambungan teleponnya.
"Gara." tebak Jeno.
Bulan mengangguk. Menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. "Cukup sampai di sini, kita berputar balik." pinta Bulan.
Jeno memutar balik mobil mereka. Bulan memandang ke arah belakang lewat kaca pantau yang ada di depannya. "Kenapa kita tidak mengikutinya terus. Memastikan kemana dia pergi." ujar Jeno.
"Kelihatannya ada yang mencurigai kita." ungkap Bulan.
Jeno mengerutkan dahinya. Penasaran dari mana Bulan mengetahui jika ada yang menyadari mereka membuntuti mobil tersebut. "Bisa jadi orang yang ada di dalam mobil." batin Jeno memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut pada Bulan.
"Berhenti." pinta Bulan.
Jeno memandang sekitar. Dimana Bulan memintanya untuk berhenti di tempat yang sepi. "Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Jeno setelah menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Bulan masih diam, memandang lurus ke depan. Tampak Bulan seperti sedang berpikir. "Katakan, jangan dipendam." Jeno mengambil telapak tangan Bulan, menggenggamnya dengan lembut.
"Aku,,, Kamu,,,, Ckk,,, hahh... Jeno aku turun di sini saja. Kamu pulanglah ke apartemen. Dan jangan memakai mobil ini dulu." pinta Bulan dengan wajah cemas.
Jeno terdiam. Baru kali ini dia melihat wajah Bulan seperti itu. Dibawanya Bulan ke dalam pelukannya. Jeno sepertinya bisa menebak dari perkataan Bulan. Menyuruhnya pulang ke apartemen, alih-alih ke rumah. Dan tidak memakai mobil ini terlebih dahulu.
Jeno mengurai pelukannya. "Kamu tidak perlu khawatir. Apartemen aku dan Jevo, bukan terdaftar atas nama kami. Dan sama sekali tak ada yang mengetahuinya. Selain orang terdekat kita." tukas Jeno.
"Dan mobil ini. Siapapun mereka. Bahkan kamu sekalipun, tidak akan menemukan nama aku tertulis di surat kepemilikannya." lanjut Jeno menginginkan Bulan tak perlu khawatir lagi.
Jeno membelai pipi Bulan dengan lembut. "Apa sebahaya itu?" tanya Jeno dengan lembut.
Bulan mengangguk. "Lebih berbahaya dari kasus Timo. Karena kali ini, aku akan berhadapan dengan beberapa orang berkuasa." ujar Bulan.
__ADS_1
"Katakan, apa itu." pinta Jeno, berharap Bulan mau berbagi dengannya..
Bulan menyenderkan punggungnya ke kursi mobil. Memandang lurus ke depan. "Bisnis ilegal, seperti penyelundupan serta jual beli senjata api dan beberapa senjata lainnya yang berbahaya. Perdagangan organ manusia, serta manusia itu sendiri. Dan juga ada peredaran obat terlarang di dalamnya." jelas Bulan.
"Apa atasan kamu diam saja. Juga rekannya yang lain." sahut Jeno.
"Dia ikut terlibat." ungkap Bulan.
"Gila...!!" seru Jeno tertahan. "Selain dia, pasti ada anggota lainnya yang terlibat." tebak Jeno yang mendapat anggukan dari Bulan.
"Ada dua pengusaha besar yang juga memainkan peran di dalamnya." tukas Bulan.
"Zain dan Tena." tebak Jeno langsung menyebutkan dua nama di kalangan pebisnis.
Seketika Bulan langsung menoleh ke arah Jeno yang duduk di sampingnya. "Apa kamu lupa, bagaimana kita bisa bertemu pertama kali." ujar Jeno tersenyum.
Bulan mengangguk pelan. "Benar juga." cicit Bulan, dimana dirinya dan Jeno bertemu saat malam hari. Dimana keduanya menyelinap masuk ke sekolah secara diam-diam.
"Tuan Zain, dia adalah papa dari Claudia." ujar Jeno tersenyum sinis. Itulah salah satu alasan kenapa kedua orang tuanya tal menyukai Claudia. Selain karema memang kelakuan Claudia yang tidak baik.
"Apa Jevo tahu?"
"Pastilah. Lagian tak mengapa. Jevo hanya bermain-main dengan Claudia. Kamu kira Jevo serius." kekeh Jeno.
"Sudah tahu. Lelaki seperti Jevo pasti hanya suka memainkan perempuan." ujar Bulan.
"Tapi jangan samakan aku dengan Jevo. Mengerti?" tekan Jeno.
"Iya."
"Darto."
"Darto. Dia papa dari Sella. Setahu aku, jabatannya sama dengan pak Bimo." tutur Jeno.
Bulan mengangguk. "Baiklah, apa yang sekarang akan kamu lakukan?" tanya Jeno.
"Mencari keberadaan Nyonya Irawan dan Nona Sapna." jelas Bulan.
"Siapa mereka?"
"Istri dan anak pak Bimo, atasan aku."
Jeno memasang ekspresi wajah bingung. "Gemas tahu nggak, lihat kamu kayak gini." Bulan mencubit pipi Jeno.
"Keberadaan mereka berdua tak ada yang tahu. Mereka sengaja disembunyikan. Tentunya untuk menekan pak Bimo. Semua itu, dikarenakan pak Bimo ingin berhenti dari pekerjaan kotor tersebut." jelas Bulan.
Jeno menggut-manggut. "Tunggu. Jangan sampai ini hanya sebuah jebakan. Dan pak Bimo juga mengetahui keberadaan mereka." ucap Jeno mencoba menebak permainan mereka.
Bulan menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan pak Bimo." papar Bulan, dimana pak Bimo sendiri yang mengatakan, jika sekarang mulai sekarang, Bulan tidak diperbolehkan untuk mempercayai setiap ucapannya.
"Aku akan membantu. Sebisa aku. Katakan saja, apa yang bisa aku lakukan." ujar Jeno.
Bulan melirik sekilas ke arah Jeno. Cup.... "Ayo,,, katakan." ujar Jeno seraya mencium singkat pipi Bulan.
"Gara sudah menemukan titik dimana keduanya berada. Dan malam ini, aku akan berusaha masuk ke dalam." ungkap Bulan.
"Dimana tempatnya?"
__ADS_1
Bulan menyebutkan nama tempat atau alamat yang di sebutkan oleh Gara. "Jeno,,, kamu jangan bantu. Yang ada nanti malah semua berantakan." cicit Bulan dengan sendu.
Jeno hanya bisa menipiskan bibirnya. Menggaruk dagunya yang sama sekali tak terasa gatal. "Benar juga sih. Tapi aku ingin sekali membantu." tukas Jeno.
"Eehh,,,, setelah mereka berdua berhasil kamu selamatkan. Kamu akan menaruhnya dimana?" tanya Jeno penasaran.
Bulan tersenyum penuh makna. Sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jeno. Mendekatkan mulutnya di samping telinga Jeno. "Apa...!! Kamu serius mau menaruh mereka di sana..!!" seru Jeno syok, mendengar tempat yang di katakan Bulan.
Bulan kembali menyandarkan badannya ke kursi mobil. Ekspresi wajahnya benar-benar membuat Jeno merinding disko. "Bulan, kamu memang suka bermain dengan bahaya." ucap Jeno dalam hati.
"Sayang, apa mereka mau, menampung keluarga pak Bimo?" tanya Jeno gelisah, jika Bulan salah mengambil langkah.
"Dan juga, apa aman bagi istri dan anak pak Bimo, jika mereka ditaruh di sana?" lanjut Jeno merasa khawatir, usaha Bulan membebaskan mereka akan sia-sia.
"Kenapa mereka menolak. Bukankah tempat yang paling aman adalah tempat musuh tinggal." tukas Bulan.
Rasa gelisah di hati Jeno tak bisa hilang begitu saja mendengar apa yang dikatakan Bulan. Dia tetap merasa khawatir, jika rencana Bulan malah akan membuat Bulan dalam bahaya.
"Nanti malam,,, tetap di rumah. Belajar yang rajin. Bukankah besok sudah mau ujian kenaikan kelas." ujar Bulan mengingatkan.
Jeno mengangguk lemas. Dengan begitu, dirinya tak bisa membantu rencana Bulan. "Jika kamu mendapatkan nilai terbaik di sekolah. Aku janji, akan membawa kamu pulang ke desa." tukas Bulan.
Kedua mata Jeno langsung terbuka lebar. "Kamu mau mengenalkan aku pada keluarga kamu?" tanya Jeno.
Bulan mengangguk seraya tersenyum manis. "Sebagai kekasih kamu. Sebagai calon suami kamu." papar Jeno.
"Emmm,,, yang pertama. Yang kedua, masih mikir-mikir dulu." sahut Bulan.
Jeno menaikkan sebelah alisnya. "Yang kedua, sebagai calon suami. Kenapa mikir-mikir dulu?"
"Kamu masih kelas tiga SMA, saat aku akan mengenalkan kamu ke mereka. Bisa jadi, saat perjalanan kita di waktu pacaran, kamu berubah pikiran. Siapa yang akan tahu. Kamu masih remaja, dan pastinya akan berubah pikiran jika menemukan perempuan yang lebih dari pada aku." tutur Bulan.
Jeno menghela nafas panjang. "Baik. Kamu bisa mengenalkan aku sebagai kekasih kamu pada keluarga kamu. Tapi, setelah lulus SMA, aku akan kembali datang. Dan melamar kamu." ujar Jeno dengan serius.
"Aku tunggu."
"Pasti. Tunggulah. Aku tidak akan pernah main-main dengan perasaan. Dan akan aku buktikan. Bahwa aku benar-benar menyukai dan mencintai kamu. Tak akan berpindah ke lain hati." jelas Jeno dengan sungguh.
"Sekarang kita kemana?" tanya Jeno, mengecup punggung telapak tangan Bulan dengan lembut.
"Aku ingin ke rumah sakit. Menjenguk rekan yang sedang sakit." tutur Bulan, mengingat waktu masih siang.
"Lali aku?"
"Pulanglah. Pasti maka kamu kangen sama kamu."
"Tidak mungkin."
"Jeno,,, jangan begitu. Aku tidak enak dengan mama kamu. Dari semalam kita sudah bersama." tutur Bulan berharap Jeno memahami apa yang Bulan khawatirkan.
Jeno tersenyum tulus. "Baik, aku akan pulang. Hubungi aku sewaktu-waktu."
Bulan mengangguk. "Dan lagi, angkat telepon aku kapan saja. Jangan mengabaikannya."
Kembali, Bulan mengangguk. Jeno menemani Bulan, hingga taksi online yang Bulan pesan datang. Setelahnya, dia langsung kembali ke apartemen terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Tentunya dia tidak ingin rasa khawatir yang Bulan rasakan menjadi kenyataan. Dan juga, Jeno tak ingin keluarganya mendapat masalah.
__ADS_1