PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 36


__ADS_3

Bulan benar-benar terlelap dalam tidurnya karena pengaruh obat yang sebelumnya di minum. Sementara di luar kamar, mbok Yem sedang menelpon sang anak. Mengatakan jika Bulan sudah kembali ke rumah.


"Apa kamu yakin, akan melakukan ini? Apa tidak akan berbahaya?" tanya mbok Yem dengan menggunakan ponselnya.


"Sudahlah mbok, sekarang buka pintu belakang. Saya sudah berada di sana." tuturnya memerintahkan mbok Yem.


Mbok Yem hanya bisa melakukan apa yang di inginkan oleh sang putra. Dia benar-benar membuka pintu belakang. Sehingga sang putra masuk dengan mudah.


"Ini." mbok Yem menyerahkan sebuah kunci kamar pada sang putra. Menjalankan rencana yang telah mereka diskusikan beberapa jam yang lalu.


"Sekarang mbok lebih baik segera ke kamar. Apapun yang terjadi, dan apapun yang mbok dengar, mbok jangan pernah keluar dari kamar." ucapnya mengingatkan.


Dengan wajah cemas dan batin tak tenang, mbok Yem mengangguk ragu. Membiarkan sang putra melakukan rencana yang diinginkan olehnya.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya mbok Yem kembali dengan nada cemas.


"Ckkk,,, ayolah mbok. Kita tidak punya banyak waktu. Sudah berhari-hari mbok mencarinya. Dan saya sudah datang kedua kalinya. Tapi tidak ada hasilnya." jedanya.


"Hanya ini jalan satu-satunya. Siapa tahu, dia akan mengatakan yang sebenarnya jika sedikit di ancam." kekehnya, ingin melakukan rencana yang sudah dia katakan pada mbok Yem.


"Bagaimana jika boss marah." tanya mbok Yem kembali dengan ragu. Pasalnya rencana ini tidak dibicarakan dulu dengan pimpinan mereka.


Dia terdiam sejenak. "Dia tidak akan tahu, jika kita tidak memberitahu."


"Mereka bilang Non Bulan mempunyai banyak keahlian. Bela diri, menembak, dan masih banyak lainya. Makanya mereka meminta kita menyelidikinya dengan sembunyi-sembunyi." ucap mbok Yem, mengingatkan lagi.

__ADS_1


Jujur, ada rasa ragu bercampur cemas saat sang putra mengajukan rencananya untuk langsung berhadapan dengan Bulan. Bertanya dengan Bulan secara langsung.


"Astaga mbok,,,, Bukankah sudah aku katakan berkali-kali. Dia hanya seorang perempuan. Mana mungkin punya keahlian seperti itu."


"Tapi..."


"Sudahlah mbok, mereka hanya menakut-nakuti kita. Supaya kita bermain dengan aman. Jangan buang lebih banyak waktu. Sekarang, masuk ke dalam kamar. Dan jangan keluar meski apapun yang terjadi." ujarnya memotong kalimat mbok Yem.


Mbok Yem dengan langkah berat berjalan ke belakang. Beberapa kali dia menoleh ke belakang. Seakan dirinya berat untuk melepaskan sang putra.


Batin seorang ibu memang sangat kuat. Sebagai seorang ibu, tentu saja dirinya tidak ingin sang putra terluka.


Tanpa mereka tahu, Gara mendengar seluruh apa gang bicarakan. "Bulan, bangun. Dia akan mendatangi kamu!!" teriak Gara dengan frustasi, melihat dari kamera CCTV, kamar Bulan masih gelap. Menandakan belum ada kehidupan di dalamnya.


"Jika saja gue normal, gue akan segera ke sana." lirih Gara, seperti seorang yang sama sekali tidak berguna.


Gara menundukkan wajahnya. Lagi dan lagi, dia menatap dengan tatapan muak pada kedua kakinya yang cacat.


"Bulan...!!!" teriak Gara.


Kedua tangan Gara terkepal dengan kuat, pandangannya tak lepas dari kamera CCTV di kamar Bulan. Entah apa yang ada di dalam benak Gara saat ini.


Sementara putra dari mbok Yem dengan mudah membuka pintu kamar Bulan. "Dia suka tidur dalam kegelapan." lirihnya.


Berpikir dengan keadaan gelap, akan lebih memudahkannya untuk menangkap Bulan. Terlebih dia dua kali masuk ke dalam kamar Bulan. Menjadikannya tahu dengan pasti di mana posisi ranjang tempat tidur Bulan.

__ADS_1


Dengan langkah mengendap, dia berjalan menuju ranjang. Di tangannya sudah tersedia sapu tangan yang telah dia olesi obat tidur, yang dia sediakan sebelumnya.


Dalam cahaya remang-remang yang berasal dari sorot lampu di luar kamar, dirinya bisa melihat jika ada sosok yang berbaring dengan selimut di atasnya.


Dibukanya selimut dengan sekali sentak, dan dia langsung fokus pada bagian atas. Yang dia tebak adalah wajah dari Bulan.


"Ehh,,,, kok..." cicitnya, merasakan benda yang dia bekap dengan sapu tangan di tangannya sangat empuk. Tidak seperti wajah dari seseorang.


Ceklek... ceklek... Terdengar jelas di telinganya. Suara pintu terkunci dengan dua kali putaran. Segera dia berdiri dengan sikap waspada.


Tekkk..... lampu kamar menyala dengan terang. Memperlihatkan sosok perempuan menyenderkan badannya di tembok dengan santai.


"Hay, selamat datang di kamarku." tutur Bulan dengan senyum menawannya, seolah dirinya sama sekali tidak.


Di tempat lain, Gara bernafas dengan lega setelah melihat jika Bulan ternyata tidak dalam keadaan tertidur. "Bulan,,, elo selalu berhasil membuat gue jantungan." geram Gara.


Sekarang, Gara tidak perlu khawatir lagi. Dirinya tidak meragukan keahlian dari sahabatnya tersebut. "Gue nggak akan mengganggu kesenangan elo malam ini." tukas Gara, seolah Bulan mendengar ucapannya.


Gara memindahkan pandangan matanya ke arah layar yang lain. "Gue masih punya pekerjaan yang tidak kalah penting dari pada hanya melihat permainan kalian."


Berbanding terbalik dengan Gara yang merasa lega karena ternyata Bulan tidak tidur. Putra mbok Yem terkejut bukan main.


Dirinya sama sekali tidak menyangka. Jika Bulan mengetahui kedatangannya. "Pasti dia tahu saat gue membuka pintu tadi." batinnya, memandang ke arah Bulan.


Sementara Bulan, masih tampak santai dan tenang menatap putra dari pembantunya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2