
''Auuu... Shhh...'' seru Sapna dengan suara ditahan. Sebuah pisau kecil yang tajam tanpa sengaja mengenai jarinya saat dia hendak membersihkan ranting bunga.
"Sapna,,, Astaga... Apa yang kamu lakukan?" seru rekan kerja Sapna, meliihat jari Sapna berdarah.
Beberapa rekan kerja Sapna yang berada di samping Sapna segera mengambil tisu, ada juga yang mengambil kain untuk menghentikan darah yang keluar dari jari Sapna.
"Kenapa bisa begini? Harusnya kamu berhati-hati. Kita bekerja setiap jari dengan benda tajam. Kenapa kamu begitu ceroboh." omel rekan kerja Sapna, merasa khawatir.
Meski dia mengomel, tapi Sapna sadar jika rekan kerjanya merasa khawatir dengan dirinya. Sehingga Sapna sama sekali tidak merasa marah. "Tidak apa-apa. Kalian jangan khawatir. Ini tidak seperti yang kalian kira." ujar Sapna tidak ingin rekan kerjanya khawatir padanya.
"Tidak parah bagaimana. Astaga Sapna,,,, ini lumayan dalam." cicit salah satu rekan kerja Sapna, melihat goresan pisau di salah satu jari Sapna yang memang lumayan dalam.
"Sebaiknya kita bawa ke dokter saja." saran rekan kerja yang lain. Takut jika luka Sapna akan parah atau malah terjadi hal lain.
"Jangan...!! Sebentar lagi juga pasti akan baik-baik saja." tolak Sapna.
Dia tidak ingin dibawa ke dokter, lantaran dirinya hanya membawa uang pas. Lagi pula, Sapna merasa lukanya tidak serius. Sehingga dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk memeriksakannya.
Selain itu, Sapna tidak ingin merepotkan orang lain. Dimana salah satu dari mereka pasti akan meninggalkan pekerjaannya untuk mengantarkan dia berobat. "Kamu yakin?" tanya rekan kerjanya.
Sapna mengangguk. "Baiklah. Kalian kembalilah bekerja. Biar aku bawa Sapna ke belakang, untuk mengobati lukanya." saran salah satu rekan kerja Sapna.
"Biar aku sendiri saja kak. Lagian cuma tergores, tidak begitu parah. Kakak tidak perlu ke belakang. Kasihan yang lain." pinta Sapna tidak enak hati.
Dirinya juga tidak ingin terlihat manja. Apalagi dia pegawai baru dan juga harus menjaga sikap. "Serius?" tanya rekan kerjanya bertanya untuk menyakinkan keputusan Sapna.
"Iya kak. Lagi pula darahnya juga sudah berhenti. Tinggal membersihkan dan memberikan obat, lalu dibalut. Selesai." ujar Sapna menyakinkan jika dirinya sendiri bisa melakukannya tanpa dibantu orang lain.
"Baiklah. Tapi jika kamu kesulitan, panggil saja salah satu dari kami. Nanti akan kami bantu."
"Iya kak."
"Ya sudah. Kamu segera obati dulu jari kamu." pinta rekan kerja Sapna.
"Baik kak. Sapna ke belakang dulu."
Teman kerja yang dipanggil kakak oleh Sapna, menepuk pundak Sapna dengan pelan. "Tidak perlu terburu."
"Terimakasih kak." tutur Sapna.
Sapna segera pergi ke belakang, mencuci jari jemarinya di wastafel, sembari menangis menahan rasa perih di jarinya. "Tuhan,,, perasaan apa ini." batin Sapna.
Sapna menghembuskan nafas kasar. Selesai membersihkan bekas darah di jari jemarinya, Sapna membasuh wajahnya supaya lebih segara.
Sapna mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya yang basah. "Perasaan gue. Kenapa ini?" cicit Sapna, merasakan kegelisahan yang tidak beralasan.
Kembali, Sapna menghembuskan nafas kasar sembari saat mengobati jarinya yang terluka. "Gue baru saja selesai menstruasi. Tapi kenapa gue merasakan perasaan yang aneh." lirih Sapna.
Biasanya, saat hendak datang bulan, Sapna memang selalu sensitif. Marah serta emosian dengan alasan yang tidak jelas.
Tapi kali ini, Sapna tidak merasakan hal seperti itu. Tapi lebih kepada rasa cemas dan khawatir akan suatu hal yang dia sendiri tidak tahu apa alasannya.
Selesai mengobati jarinya yang terluka, Sapna pergi ke belakang. Dimana di sana ada sebuah ruangan. Lebih tepatnya seperti dapur.
Untuk makan, pemilik toko bunga memang memberikan jatah makan sekali sehari. Yakni saat siang hari. Sehingga tempat itu biasanya digunakan para pegawai toko untuk bergantian makan siang beserta istirahat.
Sapna mengambil segelas air minum, meminumnya hingga tandas. "Huufffttt.... Ckk,,,, perasaan gue. Dada gue terasa sangat sesak. Bahkan gue mau menangis. Aneh." tukas Sapna menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran negatif dari kepalanya.
Sapna menenangkan dirinya sendiri. Setelah dia merasa perasaannya sedikit membaik, dia segera kembali ke depan. Bekerja dengan yang lain.
Tidak mungkin Sapna tetap di belakang. Dan terus menenangkan diri. Dia juga mempunyai rasa sungkan dan tidak enak hati. Tak mungkin dia meninggalkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya begitu saja.
Dan memilih duduk bersantai di belakang. Apalagi jarinya hanya terluka ringan. Bukan sesuatu yang pantas untuk dibesar-besarkan. "Lagian cari kerja susah. Dan gue harus menjaga diri di sini." batin Sapna berjalan ke depan.
"Sapna,,, Bagaimana?" tanya rekan kerjanya, melihat Sapna sudah kembali berbaur bersama mereka untuk merangkai bunga.
Sapna mengulurkan tangannya. Memperlihatkan salah satu jarinya yang dia perban. "Hanya luka kecil. Tidak berbahaya juga. Jauh dari pernafasan." kelakar Sapna mendapat tawa dari semuanya.
"Dasar...!!" timpal rekan kerjanya.
"Makanya, kalau kerja jangan melamun. Ingat, kita berkerja menggunakan alat yang tajam semua. Bisa-bisa tangan kita hilang jika kita ceroboh." cicit tekan kerja Sapna.
__ADS_1
"Siap Tuan....!!" sahut semuanya serempak dibarengi dengan tawa renyah yang memenuhi ruangan.
Meski bibir Sapna tersenyum, tapi perasaan tidak dapat di bohongi. Tetap saja Sapna merasakan rasa cemas yang dirinya sendiri tidak tahu ada apa dengan dia.
Sapna kembali duduk di kursinya. Menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda karena insiden kecil yang sempat menghebohkan. "Untung bis sedang tidak di tempat." batin Sapna.
Sebenarnya sang pemilik bukan orang yang galak dan tipe otoriter yang tidak berperasaan. Tapi Sapna hanya merasa khawatir saja, jika sang pemilik mengira Sapna bekerja dengan ceroboh.
Sebab Sapna masih baru saja bekerja. Dan dia tidak ingin kehilangan pekerjaan yang dia dapatkan dengan sulit. "Sapna,,, fokus. Jangan melamun. Mungkin kamu sedang lelah. Makanya kamu merasa cemas tak beralasan." batin Sapna menenangkan dirinya sendiri.
Di tempat lain, mobil Gara yang sudah sampai di markasnya yang dulu pernah dia tempati, masuk ke dalam tanpa ada halangan.
Bahkan beberapa orang yang bekerja di sana hanya diam menyaksikan mobil Gara masuk, tidak menghentikannya. Seolah mereka tahu, jika yang berada di dalam mobil adalah tamu spesial untuk bos mereka. Yang ditunggu kedatangannya.
Mereka bahkan membukakan pintu gerbang tinggi yang menjulang ke langit, sebelum Gara membunyikan klaksonnya. Seolah mereka tahu jika dirinya sudah datang.
Gara di bawa masuk ke dalam sebuah ruangan. Dimana sudah ada banyak anggota berdiri di sana. Hanya saja, sebuah kursi kebesaran masih terlihat kosong. Dan Gara tahu siapa orang yang akan menempati kursi tersebut.
Gara tidak terlalu mengenal wajah-wajah yang berdiri di sana. Entah itu wajah baru atau lama. Sebab, dulu Gara memang berada di posisi atas. Sehingga dirinya tidak terlalu memperhatikan satu persatu wajah mereka. Dan memang hal tersebut tidak perlu Gara lakukan.
"Gara....!! Selamat datang kembali....!" seru seorang lelaki tua dengan rambut berwarna putih alami, beserta sebuah tongkat di tangannya, muncul dari arah lain. Dengan beberapa orang berjalan di belakangnya.
Ekspresi Gara tampak biasa. Tak ada raut cemas atau rasa takut, padahal dia berada di markas mantan organisasi. Dimana merekalah yang membuat Gara menjadi seperti sekarang. Lumpuh dan tidak berguna.
Semua mata yang ada di ruangan memandang dengan remeh kepada sosok Gara yang duduk di kursi roda. "Apa yang anda inginkan?" tanya Gara tanpa berbasa-basi.
"Jaga bicaramu....!!" bentak salah satu lelaki yang dulu pernah menjadi rekan Gara.
Lelaki tua yang baru saja datang tersebut tertawa sembari mengangkat tangannya. Menyuruh bawahannya yang membentak Gara untuk diam.
Sang bos menatap Gara dengan lekat. Meski Gara duduk di kursi roda, tapi dia bisa melihat wibawa seorang Gara tampak masih melekat pada diri Gara seolah tidak pudar.
"Kamu bersembunyi dengan sangat baik. Dan aku sungguh tidak menyangka, seorang perempuan bertangan dingin itu yang membuat keberadaan kamu sulit untuk kami lacak." ujar sang boss.
Gara terkesiap saat tahu jika ternyata mereka mengetahui tentang Bulan, tapi ekspresi Gara masih sama. Datar dan terlihat tenang. Sehingga mereka tidak bisa membaca apa yang Gara pikirkan di dalam otak kecilnya.
"Bulan. Dia ternyata juga dalam bahaya." batin Gara. Merasa keputusannya untuk datang ke tempat ini seorang diri. Tanpa melibatkan siapapun adalah hal yang tepat.
Sang boss kembali tertawa lepas. "Gara....!! Gara....!! Kamu memang tidak berubah. Dan aku suka. Inilah anak didik ku." ujar sang boss berucap seolah dia bangga pada Gara.
"Aku sungguh tidak tahu. Bagaimana kamu bisa mengenal mereka. Putra para pebisnis handal. Anak-anak milyader tersebut. Mikel. Arya. Bahkan Jevo dan Jeno. Satu lagi, perempuan cantik dan seksi, tapi mempunyai tangan mematikan. Bulan. Astaga,,,, aku penasaran. Bagaimana kamu bisa berada di antara mereka." cicit sang boss.
Gara mengernyitkan keningnya. Sekarang dia bisa menebak. Jika dia diundang untuk datang ke markas bukan untuk dilenyapkan atau dibunuh.
Melainkan ada tujuan terselubung yang diinginkan oleh sang boss dengan memanggilnya ke sini. "Aku sedang ingin menawarkan sesuatu. Dan kita bekerja sama seperti dulu." ujar sang boss. Duduk dengan angkuh.
"Kamu jelaskan..!!" pinta sang bos pada bawahannya yang berdiri di sampingnya.
"Baik boss." sahutnya.
Dia berjalan beberapa langkah ke depan. Tersenyum sinis menatap ke arah Gara. "Kita tidak akan menghabisi kamu. Dan kita akan menerima kamu kembali ke dalam kelompok kita. Jika kamu mau bekerja sama dengan kita."
Gara tertawa lepas. Tawa yang terdengar menyeramkan di telinga mereka. Membuat bulu kuduk mereka merinding. Padahal dia bukan Gara yang dulu.
Tapi tetap saja, bagaimana sikap dan sifat Gara yang mereka kenal masih jelas mereka ingat dan tertanam di dalam otak mereka. Kejam tanpa ampun. Sehingga mereka masih terbawa hingga sekarang.
"Maaf,,,, saya tidak berminat untuk melakukan kerja sama." sela Gara, di saat lelaki di depannya ingin menjelaskan lebih lanjut apa kesepakatan yang mereka tawarkan.
Lelaki di depan Gara mengeratkan rahangnya dengan keras. Merasa dirinya direndahkan oleh Gara. "Kamu...!!" geramnya.
Dia berjalan maju dengan langkah yang cepat dan langsung menyerang Gara dengan melayangkan tangannya untuk memukul wajah Gara.
Sayangnya, meski Gara duduk di kursi roda. Tapi dia tetaplah Gara. Bukan lelaki cacat yang lemah. Gara dengan mudah menghindar, dengan menggerakkan roda kursinya.
Menggunakan roda kursinya untuk menabrak kaki lawan. Di tariknya tangan lawan. Lalu dengan sikunya, dia memukul ulu hati lawan. Membuat lawan membungkuk, merasakan sakit dan sesak di ulu hatinya.
Kesempatan itulah yang dipakai Gara untuk memukul punggung lawan dengan keras tepat di titik lemahnya. Dalam sekejap, lawan terkapar di bawah.
"Aaaaauuuw.....!!" teriak lelaki tersebut, yang sudah berada di bawah.
Semua orang yang berada di ruangan terkejut melihat cara Gara melumpuhkan lawan, padahal dia hanya bisa duduk di atas kursi roda. Bergerak sangat cepat dengan pukulan yang akurat di titik tertentu.
__ADS_1
Sang boss tersenyum, sembari mengangkat tangannya. Saat beberapa bawahannya hendak maju untuk menyerang Gara. Membantu rekannya yang dengan mudah dilumpuhkan oleh Gara.
"Singkirkan lelaki tidak berguna itu." bisiknya pada bawahan yang berdiri di sampingnya.
"Baik boss." sahutnya, paham apa yang harus dia lakukan.
Dia berjalan ke arah Gara. Bukan menyingkirkan Gara, tapi rekan kerjanya yang bodoh tersebut. "Sorry brow, elo sangat bodoh. Tidak bisa mengontrol emosi elo." lirihnya, berjongkok dan memapah rekannya untuk dibawa keluar ruangan.
Tapi dia sempat menatap sekilas ke arah Gara sebelum pergi. Dia yang dulu posisinya berada di bawah Gara, bahkan tidak bisa berada sedekat ini dengan Gara. Sekarang dia bisa melihat Gara dengan jelas.
"Jadi dia Gara. Kaki tangan boss. Apapun yang dia lakukan pasti akan berhasil tanpa cela. Tapi kenapa dia sampai di buru oleh boss." batinnya penasaran.
Sekarang dia tahu kenapa sang boss menginginkan Gara untuk kembali. Dirinya melihat, dengan duduk di atas kursi roda saja, Gara bisa melakukan hal seperti ini. Bagaimana jika dia normal. Pasti dia akan melihat hal yang lebih mengerikan.
Sebab dia tidak tahu dengan pasti bagaimana drama yang Gara alami saat dulu. Karena dia masih menjadi keset para bawahan boss lainnya yang lebih berkuasa. Sehingga dia tidak tahu apapun. Sampai Gara menjadi buronan mereka.
"Tunggu....!" seru Gara, menghentikan lelaki tersebut di bawa keluar oleh rekannya.
Gara tersenyum remeh, menatap mantan rekannya yang tak berdaya hanya dengan beberapa pukulan. "Gue baru saja masuk. Belum genap tiga puluh menit. Dan elo, sudah harus meninggalkan dunia ini." seringai Gara.
"Ternyata dari dulu, elo tetap sama. Lemah. Gue kira ada kemajuan. Ternyata, hanya mulut elo yang mengalami kemajuan. Dan otak elo mengalami kemunduran. Bodoh." ejek Gara.
Lelaki tersebut menatap Gara dengan benci. Dia dihina dihadapan banyak orang. Tapi tak bisa berbuat apapun. Dan lagi, sang boss terlihat santai. Tak ada niat untuk membantunya. Dan malah berniat menyingkirkannya.
"Pergilah. Bawalah parasit ini pergi. Memang seharusnya, orang yang tidak berguna harus disingkirkan....!!" seru Gara dengan lantang, menggema di seluruh ruangan.
Lelaki yang hendak membawanya pergi menatap kembali ke arah sang boss yang mengangguk pelan. Dia kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruangan dengan yakin.
Gara mengalihkan pandangannya ke beberapa orang yang berdiri di sekitar sang boss. Dia masih hapal di luar kepala, siapa saja orang yang sudah memfitnahnya. Dan membuat dia diperlakukan lebih buruk dari hewan. Sampai harus kehilangan kakinya.
Tapi meski begitu, Gara bersyukur. Sebab dengan kejadian tersebut, dirinya bertemu dengan orang-orang yang berhati baik. Yang menganggapnya sebagai keluarga.
"Tempat sebesar ini, apa setetes air minum saja tidak ada." seru Gara.
"Ambilkan." perintah sang boss dengan lirih.
Seorang lelaki yang berdiri di samping sang boss mengambilkan sebotol air minum mineral. Memberikannya pada Gara. "Lihatlah, dari dulu hingga sekarang. Elo akan tetap berada di bawah perintah gue." ejek Gara tersenyum senang.
Lelaki tersebut hanya bisa menahan rasa kesal di dalam hatinya. Dia tidak ingin dirinya terlempar dari ruangan ini karena tidak bisa menahan emosi. "Buka tutupnya." pinta Gara, menegaskan apa yang baru saja dia katakan.
Bahwa lelaki di depannya akan tetap berada di bawah perintahnya. Meski dia melakukannya dengan terpaksa.
Gara tersenyum mengejek sembari mengambil botol air minum yang sudah terbuka. Membiarkan lelaki tersebut kembali berdiri di tempatnya yang semula. Berjalan menunduk dengan rasa malu bercampur kesal.
"Bagaimana jika di dalam air itu sudah aku berikan racun?" tanya sang boss.
Gara tak lantas menghentikan dirinya yang sedang meneguk air dari dalam botol. Dia terus meminumnya, membasahi tenggorokannya yang kering.
Gara mencebik, melihat ke arah botol yang airnya tinggal tersisa separuh. "Jika aku takut mati. Untuk apa aku datang ke sini. Kamu kira, kalian bisa menyentuh Mikel dan Arya dengan mudah. Bahkan Jevo dan Jeno, mencium parfumnya saja kalian tidak akan mampu. Apalagi bermimpi menyentuh Bulan." tekan Gara dengan berani. Tanpa rasa takut.
Yang sesungguhnya, Gara merasakan kebalikan apa yang dia katakan. Dia takut terjadi sesuatu pada mereka. Dan itulah alasan dia datang ke sini.
Tapi Gara dengan sangat sempurna menutupi ekspresinya tersebut. Sehingga tak ada yang menyadari ketakutan dan rasa khawatir yang dia rasakan.
"Ha... ha.. ha... Ternyata lidah mu masih sangat tajam." ujar sang boss sembari tertawa puas.
"Aku ingin kita bekerja sama. Kamu akan hidup bebas di luar. Dan bisa melakukan apapun. Aku dan anak buahku tidak akan pernah menganggu kehidupan mu. Tapi dengan syarat." jelasnya tersenyum penuh makna.
Gara masih belum bisa menebak apa yang diinginkan lelaki tua yang duduk jauh di depannya. Dan Gara hanya bisa mendengarkan apa yang dia katakan sampai selesai. Sehingga Gara tahu apa tujuan dia disuruh datang ke tempat ini.
"Ajak mereka bergabung dengan bisnis kita. Sehingga kita akan bisa masuk ke dunia bisnis secara perlahan. Aku yakin, mereka adalah jalan yang tepat. Dan inilah saat yang aku tunggu. Dan jika semua berjalan dengan lancar, kita akan menguasai dunia bisnis. Dan semua ada di dalam genggaman tangan kita. Bahkan dunia. Ha......." jelasnya, tertawa dengan puas.
"Jadi ini tujuan dia meminta gue datang. Dasar tua bangka licik. Pasti dia ingin melanjutkan bisnis kotornya yang berhenti di tengah jalan, karena komplotannya di tangkap." batin Gara.
"Bagaimana,,,,? Kamu setuju. Tenang saja. Kamu sendiri yang akan memegang kendali. Kamu yang akan berkuasa. Dan mereka semua ada di bawah kendali kamu. Sama seperti dulu. Kita berdua. Sama-sama memperoleh kesuksesan." tukas sang boss dengan kedua mata bersinar bahagia.
Kalimat yang sungguh menyentuh hati. Seolah mengatakan Gara akan memimpin mereka semua. Dan jika Gara memperoleh apa yang diinginkan. Semua akan di rasakan secara bersama.
Kenyataannya, Gara hanya akan kembali diikat lehernya. Sama seperti dulu. Dijadikan hewan peliharaan yang bisa memperbanyak pundi-pundi uangnya.
Gara masih diam. Menatap lurus ke depan. Tanpa berbicara sepatah katapun.
__ADS_1