
Bulan menyalakan salah satu layar di depannya. "Jangan pernah menutup mata kalian." perintah Bulan.
Bulan merekam aksi pembunuhan sang dokter, saat dirinya tiba dan menghentikan tindakan Jevo yang hampir menggagalkan rencananya.
Meski tidak secara keseluruhan, setidaknya Bulan memperoleh rekaman yang bisa dia tunjukkan pada ketiga muridnya.
Tapi tidak dengan Jevo, sebab Jevo sudah pernah melihatnya. Namun Jevo tetap berada di sana untuk kembali melihatnya.
Bulan mengambil sesuatu dari balik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mencolokkan ke lubang di pinggir laptop.
Bulan berdiri di belakang mereka, yang sekarang tengah duduk di kursi. Layaknya sedang menonton sebuah acara di televisi.
Adegan langsung merekam sang dokter yang telah sekarat, dengan sang pelaku duduk di sampingnya dengan terus melakukan aksinya.
Mikel langsung membungkam mulutnya. Sama seperti Jevo, Mikel merasa mual melihat darah yang tergenang. "Psiko." desis Mikel menengadahkan kepalanya.
Arya menggenggam erat pinggiran kursi. Dia menoleh ke samping. Tak sanggup melihat cara sadis yang dilakukan pelaku.
Sekarang mereka tahu, kenapa Jevo tak bisa mengendalikan diri. Dan ingin menghentikan aksi sang pelaku dan menolong sang dokter.
Karena kemungkinan besar, mereka juga akan memikirkan dan melakukan hal yang sama seperti apa yang akan Jevo lakukan. Tanpa memikirkan resiko apa yang akan mereka alami ke belakangnya.
Apalagi terlihat, sang dokter masih menghembuskan nafasnya, meski pelan.
Juga dengan Jevo, meski dirinya pernah melihatnya secara langsung, tapi dia masih merasa jijik bercampur emosi saat melihat kembali melalui layar di depannya.
Berbeda dengan Jeno. Dirinya tetap melihat apa yang tersaji di layar tersebut. "Apa bu Bulan yakin, dia adalah orang yang sedang kita cari?" tanya Jeno memecah keheningan.
"Yakin. Dia orang yang sama." tutur Bulan.
Tiba saat dimana sang pelaku membuka topengnya, tapi dengan posisi membelakangi kamera. Jeno, Arya, dan Mikel terhenyak melihatnya.
"Dia." cicit ketiganya bersamaan.
"Bagaimana bisa. Bukankah tadi,,, yang di dilenyapkan adalah sang dokter. T--ta--tapi,,, dia. Kenapa? Apa yang terjadi?" Arya merasa bingung.
Semua terasa mustahil dalam benak mereka. Namun, mereka melihat sendiri sang dokter telah di mutilasi dan dimasukkan ke dalam kantong kresek berwarna hitam.
Dan sekarang, pelaku yang berdiri membelakangi kamera memiliki wajah seperti sang dokter. Padahal, mereka melihat wajah sang dokter dan sang pelaku berbeda cukup jauh.
Bulan mengulang kembali bagian tersebut. "Perhatian secara baik-baik. Jangan sampai melewatkan sedetikpun." tukas Bulan.
Dengan nafas berderu tak berirama dan detak jantung tak beraturan, ketiganya melihat. Mereka seakan tak mau berkedip sedetikpun, karena takut melewatkan sesuatu yang penting.
"Topeng... Dia memakai topeng." tebak Mikel.
"Benar." sahut Jevo, ketiganya memandang Jevo sekilas dan fokus lagi ke layar.
"Tunggu." seru Mikel, membalikkan badan dan menatap Bulan. "Apa kresek hitam itu berisi,,,, itu...." lanjut Mikel berkata dengan berat dan ragu untuk menyebut sesuatu di mulutnya.
Bulan mengangguk. "Tidak. Wajah mereka tidak sama." cicit Mikel yang memang melihat bagaimana wajah dari orang yang membuang kresek tersebut berbeda dengan sang dokter.
Bukan hanya berbeda dengan wajah sang dokter, tapi juga berbeda dengan wajah pelaku. "Tiga wajah dalam satu orang." cicit Mikel.
"Apa maksud elo?" tanya Arya.
Mikel menatap Arya. "Gue yakin, melihat dengan jelas wajah orang yang mengambil beberapa kantong kresek hitam di bagasi. Lalu dibuang di semak-semak. Wajahnya tidak sama dengan wajah pelaku."
Bulan tersenyum. Tebakan Bulan tak salah. Kedua mata Mikel sangat jeli, bahkan dalam keadaan gelap sekalipun.
"Elo yakin?" tanya Arya memastikan. "Atau jangan-jangan, ada orang lain di dalam mobil itu." lanjut Arya.
Mikel menggeleng. "Tidak ada, gue yakin." Mikel menatap ke arah Bulan. Dirinya yakin, jika Bulan mempunyai jawabannya.
"Mikel, jangan sampai elo salah mengenali. Apalagi di sana pasti sangat gelap." ucap Arya dengan yakin.
"Gue yakin. Gue nggak mungkin salah mengenali wajah orang." kekeh Mikel dengan keyakinannya. Dan Bulan percaya dengan Mikel. Sebab, Bulan juga melihatnya sendiri.
Bulan mengganti layar dengan menampilkan wajah ketiga orang yang mereka lihat di video tersebut. "Lihatlah. Itu wajah mereka. Kalian bisa mencari, siapa dia." pinta Bulan.
Tak mau menunggu terlalu lama, jari kemari Arya mengambil alih keyboard di depannya.
Arya mencari identitas orang yang menghabisi sang dokter dengan sadis tanpa merasa ketakutan dan bersalah. "Dia, buronan polisi. Dan sampai sekarang beluk di temukan."
Lalu, Arya melanjutkan pada gambar wajah ke dua. "Seorang pemuda, yang tinggal di sebuah perumahan padat penduduk. Tapi, dia sempat dinyatakan sempat mengalami kecelakaan."
"Dan yang terakhir adalah wajah sang dokter." timpal Mikel.
Jeno yang sedari tadi diam, kini mengeluarkan suaranya. "Dengan kata lain. Kita belum menemukan wajah asli pelaku." tutur Jeno.
"Bisa jadi, orang terakhir yang membuang kresek hitam itu." tebak Arya.
"Tidak mungkin, elo juga lihat. Dia masuk ke rumah dokter menggunakan wajah pertama. Seorang buronan. Keluar menggunakan wajah sang dokter. Tapi, saat membuang kresek hitam, dia berganti lagi. Kemungkinan besar, dia menyembunyikan wajahnya yang asli." jelas Jeno.
"Jika benar seperti itu, semua yang Serra lihat adalah kepalsuan." timpal Jevo.
"Kenapa dia menyembunyikan wajahnya yang asli?" tanya Mikel lirih.
"Wajahnya mungkin nggak setampan kita. Ya,,, dia terlalu jelek." celetuk Arya. "Aaw....!!" seru Arya, saat kepala bagian belakang ada yang menampol.
__ADS_1
"Kita sedang serius, elo malah bercanda." kesal Mikel.
"Ya elo tanyanya aneh. Sudah tahu dia menyembunyikan wajah aslinya, pasti agar semua orang tidak mengenalinya. Masih jiga elo tanyakan." gerutu Arya.
Bulan tersenyum mendengar keempatnya bertukar pikiran, tapi juga saling berdebat. Dirinya teringat saat menjalankan beberapa misi. Yang juga mendapat partner yang sangat perhitungan.
"Hari ini, dia pasti akan keluar dari tempatnya yang terakhir." tebak Bulan.
"Benar. Dia akan mengambil mobilnya yang sempat dia titipkan semalam." timpal Mikel, menatap ke arah Bulan.
"Biar saya yang mengikutinya bu." tawar Mikel terlebih dulu.
"Saya akan menemani Mikel." timpal Jevo.
Bulan terdiam. Sementara keempat lelaki tersebut menatap ke arah Bulan, seolah sedang menunggu keputusan dari Bulan.
Bulan mengangguk. "Baik." Jevo dan Mikel tersenyum lega.
"Tapi ingat hanya mengikuti. Jangan melakukan tindakan apapun." tekan Bulan.
"Baik bu."
"Tunggu." seru Arya, mendapatkan informasi baru. "Wajah yang menitipkan mobilnya. Lihat." Arya menunjuk ke layar di depannya.
Dimana ada berderet-deret tulisan di layar tersebut. "Dia meninggal. Dan telah dikuburkan di kampung halamannya." ungkap Arya.
Bulan menyandarkan punggungnya ke tiang yang berada di belakangnya. "Kemungkinan besar, pemilik wajah yang dia pakai sudah tidak ada semua." tebak Bulan.
"Benar. Saya juga berpikir seperti itu." timpal Jeno.
"Dan sekarang, pekerjaan kita bertambah." Bulan menjeda kalimatnya.
"Dan rencana kita berganti arah." lanjut Bulan.
"Maksud bu Bulan?" tanya Jevo.
"Topeng kulit. Kita harus mencari, siapa yang membuatnya. Itulah pekerjaan tambahan kita."
"Benar juga. Kemungkinan besar, pembuat topeng juga mengetahui kejahatan yang dilakukan oleh dia." timpal Mikel.
"Lalu, bagaimana dengan Serra. Apa kita akan membiarkan dia membunuhnya. Tidak... saya tidak setuju." tegas Jevo.
"Tenang saja. Gue akan berbuat sesuatu, sehingga dokter palsu itu, tidak akan sampai ke tempat Serra." Bulan tersenyum miring.
Semuanya mengangguk. "Baiklah, jika begitu kita berangkat dulu." pamit Mikel, tidak ingin sang pelaku terlebih dahulu keluar dari kandangnya semalam.
Mikel dan Jevo segera bergegas menuju ke tempat yang akan membawa mereka ke rumah tinggal pelaku.
"Gue ada pekerjaan penting. Sudahlah. Secepatnya gue akan kembali ke sini."
Tanpa menunggu Jeno atau Bulan mengeluarkan suara, Arya berlari keluar markas. Sedangkan Bulan, dia menyalakan layar di mana terlihat beberapa ruangan rumah Serra.
Bulan fokus terhadap beberapa pembantu di sana. Juga kepada beberapa pihak berwajib, yang masih berjaga di sekitar rumah Serra.
Bulan seketika teringat sesuatu. "Gue harus pulang terlebih dahulu. Mereka akan curiga, jika gue nggak keluar rumah sama sekali. Apalagi jika sampai mbok Yem sadar, gue nggak ada di kamar." ucap Bulan dalam hati.
Bulan berdiri, bermaksud mengundurkan kursi yang dia duduki. Namun sayang, kakinya sedikit tertekuk, sehingga Bulan tidak seimbang saat berdiri.
Dengan sigap, Jeno yang berada di samping Bulan segera meraih pinggang ramping Bulan. Dan menariknya. Bulan dengan sigap menaruh tangannya di dada Jeno. Sehingga keduanya terlihat seperti sedang berpelukan.
Posisi keduanya yang tanpa jarak, membuat mereka saling bersitatap. Ditambah, tinggi badan Bulan dan Jeno yang memang sama.
Naluri Jeno sebagai lelaki normal muncul. Dengan berani, dia memajukan wajahnya. Berniat mencium Bulan. "Apa yang mau elo lakukan?!" Bulan menoyor kepala Jeno.
Jeno hanya tersenyum samar mendapat perlakuan seperti itu dari Bulan. "Bibir ibu sangat menggoda." lirih Jeno tak mengalihkan pandangannya dari bibir Bulan yang sedikit tebal, namun malah terlihat lebih berisi dan seksi.
"Mesum..!!" seru Bulan tertahan. Dan posisi mereka masih sama. Tangan Jeno masih berada di pinggang ramping milik Bulan.
Jeno menggeleng. "Nggak. Ini pertama kalinya saya mengatakan hal seperti itu pada perempuan. Saya bukan Jevo bu. Yang dengan mudah dekat dengan perempuan." ucap Jeno membela diri.
Bulan mencebik. "Sorry, gue nggak percaya. Sella mau elo taruh di mana?"
"Sella. Kenapa harus Sella. Saya tidak ada hubungan dengan Sella." ucap Jeno.
Bulan menipiskan bibirnya. "Gue beberapa kali lihat, elo duduk berdua dengan Sella." celetuk Bulan.
Jeno tersenyum samar. "Hanya duduk. Dan saya tidak mengundang dia. Dia datang sendiri. Pergi jiga pergi sendiri."
"Jalangkung kali." seloroh Bulan, yang masih nyaman berada di pelukan Jeno.
"Serius. Ini pertama kalinya, saya memperlakukan perempuan seperti ini." ucap Jeno dengan jujur.
Bulan tertawa garing. "Okelah, gue percaya."
"Jangan pakai gue elo. Kamukan guru." tegur Jeno.
"Guru jadi-jadian."
"Tapikan tetap. Kamu seorang guru. Meski hanya pura-pura."
__ADS_1
"Terserah gue."
"Sudah dibilangin, jangan pakai gue elo." tegur Jeno lagi.
Bulan menatap tajam ke arah Jeno. "Terserah gu...."
Cup..... belum selesai Bulan berucap, bibir Jeno mendarat ke bibir Bulan. Meski hanya sekilas. Bulan langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Bulan mendorong tubuh Jeno. "Gila. Gue guru elo."
Tapi Jeno abai dengan apa yang dikatakan Bulan. "Sekali kamu berucap gue elo, aku akan melakukannya lagi." ancam Jeno.
Bulan menggeleng. "Elo gila." Bulan berjalan keluar markas. Meninggalkan Jeno sendirian di dalam.
"Bu... mau ke mana??!" teriak Jeno tersenyum puas.
Jeno duduk di kursi dengan menyenderkan badannya. Tersenyum seorang diri, dengan jari jemari meraba bibir miliknya sendiri. "Seperti ini rasanya."
Jeno menghentakkan kakinya berulang kali ke bawah layaknya akan kecil yang sedang kegirangan. "Gila. Gue benar-benar gila. Gue bisa seberani itu. Astaga....."
Jeno seolah merasa dirinya berubah saat berhadapan dengan Bulan. Ada perasaan yang dirinya sendiri juga ragu. "Apa ini cinta."
Jeno menaruh telapak tangannya di depan dada. Di mana jantungnya berdetak dengan sangat kencang. "Tapi tunggu. Gue bukan Jevo. Nggak. Gue bukan Jevo. Tapi, gue merasa senang, saat bersama bu Bulan." cicit Jeno. Tak bisa menjabarkan perasaannya.
Jeno terdiam. Kembali teringat sesuatu. Lalu dia menggeleng berkali-kali. "Jangan gila. Elo muridnya. Dan dia guru elo. Meski hanya guru pura-pura. Tapi semua mengenal dia sebagai seorang guru."
Jeno terdiam sesaat. "Umur kita berbeda. Gue masih SMA kelas dua. Dan usia dia di atas gue." cicitnya.
Jeno memainkan jari jemarinya di atas keyboard. Mencari tahu pasangan yang mempunyai perbedaan umur. Dengan sang perempuan lebih tua dari yang lelaki. "Banyak."
Jeno melihat ada banyak pasangan berbeda usia. Bahkan, ada yang sang perempuan tiga kali lebih tua dari usia sang lelaki.
"Usia bu Bulan sekarang berapa ya." Jeno merasa penasaran. Segera dia mencari biodata Bulan. Sebab, bukan hal sulit untuk Jeno mencari tahu tetang hal tersebut.
"Dua puluh tiga." gumam Jeno. Kembali berpikir. "Gue tujuh belas. Bu Bulan dua puluh tiga. Hanya berjarak lima tahun. Bisalah."
Jeno tersenyum senang. Tapi, seketika senyumnya lenyap saat teringat akan sang mama dan sang papa. "Tapi, mereka merestui tidak ya." pikirnya.
Jeno memukul sendiri kepalanya dengan pelan. "Ngapain elo berpikir sampai sana. Bu Bulan saja belum tentu mai sama elo."
Tiba-tiba Jeno teringat bagaimana lincahnya Bulan saat beraksi. Bagaimana otak Bulan yang pandai menganalisa setiap tindakan.
Jeno berdiri. "Semangat Jeno. Elo harus berusaha."
Jeno melihat ke lantai atas. Berlari ke lantai atas. Seperti semalam. Dia kembali melakukan latihan fisik. Dirinya ingin dipandang oleh Bulan sebagai seorang lelaki yang busa melindunginya.
Bukan murid SMA yang bisanya hanya menggerutu dan butuh perlindungan. "Siapa tahu, bu Bulan akan berubah pikiran. Melihat gue yang semakin hebat."
Jeno melepas kaos yang melekat di badannya. Dirinya hanya membawa satu setel pakaian ganti beserta **********.
"Lebih baik, gue cuci dulu saja pakaian gue yang tadi." kembali Jeno turun ke bawah. Mencuci pakaian kotor yang sempat dia pakai semalam. Dan menjemurnya di lantai atas, di mana ada sinar mataharinya.
Jeno. Sama sekali tidak tertarik dengan kaum hawa. Dia merasa, perempuan adalah makhluk yang lebay dan terlalu banyak drama.
Semua berubah saat bertemu dengan Bulan. Semua yang ada pada Bulan, Jeno menatapnya dengan tatapan istimewa.
Kecantikan. Bentuk tubuh. Pekerjaan Bulan yang berbahaya. Semua keahlian yang Bulan miliki. Mampu meruntuhkan stigma seorang perempuan manja di mata Jeno.
Sedangkan Bulan, dirinya menghentikan motornya di pinggir jalan. "Jeno,,,, sialan...!! Bisa-bisanya dia cium gue." umpat Bulan.
Bulan menggeleng, mengenyahkan pikiran tentang kejadian yang baru saja dia alami, dan segera melajukan motornya untuk menuju ke rumahnya.
Bulan tidak ingin membuang-buang waktu. Sehingga membuat mereka curiga. Seperti biasa, Bulan tidak lewat depan rumah. Namun belakang rumah. Dan langsung masuk ke atap, merangkak di atas plapon dengan hati-hati.
Bulan memang sudah membuat akses pintu masuk dan keluar lewat atap rumahnya. Dan hanya dia sendiri yang tahu.
Bulan turun tepat di dalam kamar. Segera dia masuk ke dalam kamar mandi. Dan membersihkan diri. Saat berdiri di depan cermin, Bulan kembali menatap bibirnya.
Teringat apa yang dilakukan Jeno pada dirinya. Bulan tersenyum samar. Ini pertama kalinya bibir Bulan dicium oleh lawan jenis. Meski banyak rekan Bulan yang berjenis kelamin laki-laki.
Tapi Bulan sama sekali tidak pernah merasakan getaran yang aneh pada tubuhnya saat berdekatan dengan mereka.
Bulan melihat ke arah pinggangnya. Dimana tangan Jeno berada di sana. Bulan memegang dadanya. Dia masih merasakan bagaimana jantung ini berdetak dengan cepat, saat Jeno mendaratkan bibirnya di bibir miliknya. Meski hanya singkat.
"Astaga, apa yang gue pikirkan." Bulan mencoba menepis rasa aneh yang tiba-tiba dia rasakan. Meski Bulan belum pernah merasakan cinta, tapi Bulan tahu. Jika saat ini, dirinya tertarik dengan sosok Jeno.
"Enyahlah. Elo terlalu tua untuk anak SMA seperti Jeno." ucap Bulan, menampar keinginannya sendiri dengan kenyataan yang ada.
"Ingat Bulan, fokus. Fokus dengan pekerjaan. Cinta akan datang, di saat yang tepat. Dan sekarang, bukan saat yang tepat." ucap Bulan bermonolog.
Bulan segera keluar dari dalam kamar. "Mbokkkk.......!!! Mbok...!!!" teriak Bulan mencari sang pembantu.
Sama sekali tak terdengar suara sahutan dari mbok Yem. "Apa di belakang." tebak Bulan, melangkahkan kakinya ke sana.
Dapur tampak bersih. Tak ada tanda-tanda jika ada orang. Segera Bulan menuju ke kamar tidur mbok Yem. Kosong. "Ke mana mbok Yem."
Bulan berjalan ke depan. Ke teras rumah. Menampakkan diri, seakan dia absen. Sehingga orang yang berada di dalam mobil yang selalu mengawasinya mengetahui keberadaannya.
Bulan berjalan ke depan. Berharap ada penjual sayur yang lewat. "Memang gue bisa masak." gumam Bulan. Kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Setidaknya dirinya sudah menunjukkan batang hidungnya pada orang yang selalu mengawasi gerak-geriknya.