
Bulan merogoh ke saku celananya, mengeluarkan kertas berukuran kecil. Seperti ID card. Tanda pengenal sebagai anggota abdi negara. "Perkenalkan. Nama saya Bulan." ujar Bulan dengan sopan.
Ketiganya secara bergantian membaca tanda pengenal yang Bulan berikan. Ketiganya mengangguk, mengembalikan benda tersebut pada Bulan. Dengan segera, Bulan kembali menyimpannya di saku celana.
Ketiga lelaki tersebut menatap ke arah Tuan David dengan penuh tanya. Apalagi di meja mereka ada seorang anggota kepolisian.
"Bukan saya yang membutuhkan kalian. Tapi dia. Bulan." jelas Tuan David.
"Apakah tuan-tuan pernah mendengar pembunuhan berantai, dengan korban sebagian besar murid berseragam putih abu-abu?" tanya Bulan memulai apa yang dia inginkan.
"Pastinya. Pembunuhan yang sulit ditemukan pelakunya. Padahal lebih dari setahun dia merajalela." sahut salah satu dari mereka.
Bulan tersenyum. "Dan saya ingin mengungkap misteri pembunuhan berantai yang selama ini tidak bisa di pecahkan oleh kepolisian tersebut." jelas Bulan.
Ketiganya saling pandang, tentunya mereka merasa heran. Lalu ketiganya menatap Tuan David yang tersenyum dan duduk dengan tenang.
"Yang saya inginkan, siaran di beberapa saluran televisi. Tanpa sensor. Dan tanpa jeda. Dan saya sendiri yang menghandlenya." jelas Bulan tanpa banyak embel-embel mengatakan apa keinginannya.
"Apa pihak berwajib sudah mengetahuinya?" tanya salah satu dari mereka.
Sebab, mereka pastinya akan berurusan dengan hukum. Jika mereka menyetujui apa yang Bulan inginkan.
Bulan menggeleng, tersenyum miring. "Tunggu,,, kenapa tidak kamu serahkan saja pada atasan kamu. Bukankah kami juga bagian dari mereka?" tanyanya merasa ada yang Bulan tutupi.
"Pasti. Saya akan menyerahkan semua berkas pada kepolisian. Tapi, karena ada hal yang sangat penting, makanya saya memilih dua jalur." jelas Bulan menjeda kalimatnya.
"Saya akan tetap menyerahkan semua penyelidikan saya pada mereka. Dan saya juga akan memberitakan hal tersebut di media secara langsung." lanjut Bulan.
"Kami tidak ingin terlibat terlalu jauh." tolaknya. Bagi pengusaha murni seperti mereka, menjauhi masalah adalah hal yang mutlak dilakukan.
"Dan saya tidak akan melibatkan kalian dalam perkara hukum." tukas Bulan.
"Maksud kamu?"
Tuan David hanya diam, menyimak percakapan mereka. Beliau yakin, Bulan bisa melakukan apa yang sedang dia inginkan. "Bukankah saya sudah katakan. Saya yang akan mengambil alih. Dan menghandle saluran televisi." ujar Bulan.
"Mengambil ali. Menghandle semuanya." lirihnya, mencoba mencerna perkataan Bulan.
Bulan mengangguk pelan. "Hacker." timpal yang lain.
"Tepat." ujar Bulan.
Suasana hening sejenak. Ketiganya saling memandang, dan juga beralih memandang Tuan David dan Bulan secara bergantian. "Sebenarnya saya bisa melakukan hal tersebut. Membobol keamanan sistem perangkat lunak kalian. Tapi saya tidak melakukannya. Karena saya juga harus memikirkan kalian. Pemilik saluran televisi." ucap Bulan yang sepenuhnya tidak berbohong.
''Maksud kamu?"
Bulan membenarkan posisi duduknya. Menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Mengangkat sebelah kaki kirinya dan menumpangkannya di kaki sebelah kanan. "Jika kita bisa bekerjasama. Kenapa tidak?" ujar Bulan tersenyum miring.
"Apa keuntungan yang kami dapatkan?"
"Peminat. Bukankah semakin banyak orang yang menyaksikan siaran tersebut, akan semakin banyak penghasilan kalian." tukas Bulan.
"Kita akan terkena hukuman. Karena dengan lancang menyiarkan sesuatu yang sangat rahasia. Apalagi itu bukan wewenang kami." timpal yang lain.
Sebab seharusnya pihak berwajib yang berwenang mengambil alih masalah ini. Dan pihak berwajib pula yang mempunyai hak untuk menyiarkan ke publik dengan melakukan konferensi pers.
Bulan tersenyum. "Katakan saja, jika sistem kalian diretas. Mudah bukan." ujar Bulan.
Ketiganya masih mencoba berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Bulan. "Tenang saja. Saya tidak akan pernah membawa nama kalian." tegas Bulan.
"Kami ingin melihat dahulu, apa yang akan kamu tayangkan di saluran televisi nanti." pinta salah satu dari mereka.
"Apakah anda ingin tahu, alasan utama saya meminta persetujuan ini?" tanya Bulan, sebagai penegasan.
"Karena saya tidak hanya akan menayangkan lima menit atau lima belas menit." lanjut Bulan memberi pemahaman.
"Lalu bagaimana kami bisa percaya, jika kamu menayangkan siaran terkait pembunuhan berantai tersebut?" tanyanya terlihat tidak percaya dengan Bulan.
Bulan terkekeh pelan. "Apa kalian juga tidak akan percaya dengan Tuan David?" tanya Bulan, seakan membawa nama papa dari Jeno untuk menyakinkan mereka tanpa melihat terlebih dahulu apa yang akan Bulan tayangkan.
"Kapan kamu akan melakukannya?" tanya salah satu dari mereka, segera mengalihkan pembicaraan. Apalagi nama Tuan David sudah disebut.
"Saat ini, juga. Disaat kalian semua mengatakan.... iya." tegas Bulan.
"Bagaimana?" bisik salah satu dari mereka pada yang lain.
"Entahlah." jawabnya.
"Saya tidak punya banyak waktu. Sebab saya sedang berkejaran dengan pelaku." tukas Bulan.
"Katakan iya, jika kalian bersedia. Dan saya akan melakukannya." lanjut Bulan.
"Jika kami tidak bersedia?" tanya salah satu dari mereka, mulai membuat Bulan geram karena terlalu bertele-tele.
Bulan menyeringai. "Seperti yang saya katakan, saya akan memasuki sistem perangkat lunak kalian." ujar Bulan dengan jujur.
"Dan jangan salahkan saya. Jika terjadi sesuatu." lanjut Bulan, sedikit memberi ancaman.
Ketiganya terdiam. Melirik ke arah Tuan David yang terlihat tenang. Pasti dalam benak mereka sedang bertanya-tanya hubungan Bulan dengan keluarga Tuan David. Bahkan Nyonya Rindi saja juga terlihat akrab dengan Bulan.
"Oke. Saya bersedia. Tapi, jika terjadi sesuatu. Daya ingin kamu bertanggung jawab." ujar salah satu dari mereka.
"Seperti yang saya katakan di awal. Katakan saja jika sistem perangkat lunak kalian di bobol oleh seseorang. Bukankah jawaban yang dangat mudah. Dan biarkan mereka mencari si pembobol." jelas Bulan.
Sebab Bulan yakin dengan kemampuan Gara. Jika pastinya alamat Gara tak akan mudah ditemukan oleh siapapun. Termasuk orang yang ahli di bidang perangkat lunak yang dimiliki pihak berwajib.
__ADS_1
Bulan yakin akan hal tersebut. Karena dirinya tahu siapa yang biasanya mereka andalkan untuk perkara sistem perangkat lunak. Sehingga Bulan tahu betul sampai dimana keahliannya.
"Lakukan." ucap salah satu dari mereka. Dan dua yang lainnya mengangguk setuju.
Tuan David tersenyum. Meski Bulan bukan putri kandungnya, ada rasa bangga pada dirinya saat Bulan dengan tegas dan yakin menyakinkan ketiga lelaki pemilik saluran televisi tersebut tanpa bantuannya.
"Jeno tidak salah mencari pasangan. Semoga saja mereka berjodoh." batin Tuan David.
Pintu diketuk dari luar. "Masuk." seru Tuan David.
Seorang bawahan Tuan David memberikan selembar map. Entah isi dari map tersebut. Tuan David mengambilnya, lalu menggerakkan tangannya, menyuruhnya untuk kembali meninggalkan ruangan.
Tuan David membuka map tersebut. Memperlihatkan selembar kertas. "Hanya untuk berjaga-jaga. Karena saya tidak suka pengkhianat." ujarnya, menyodorkan kertas tersebut. Dengan menaruh pena di atasnya.
Bulan tersenyum samar. Dirinya bahkan tidak berpikir sejauh itu. "Kapan beliau mempersiapkannya?" tanya Bulan dalam hati. Pasalnya beliau sedari tadi bersama dirinya.
Di kertas tersebut tertulis sebuah perjanjian. Dimana mereka tidak akan membocorkan apa yang mereka perbincangkan dan mereka setujui pada pihak lain. Selain mereka berlima.
Selain itu, tidak akan terjadi masalah di belakangnya. Seperti pelaporan terhadap salah satu dari mereka atas keputusan yang diambil bersama ini.
Tentunya mereka menandatangani selembar kertas yang Tuan David sodorkan. Entah dengan keikhlasan, atau karena terpaksa.
Tuan David mengambil kertasnya kembali, lalu menyimpannya. "Terimakasih." tukas Tuan David.
Bulan mengeluarkan ponselnya. "Halo, elo masuk ke dalam tiga saluran televisi yang sudah gue sebutkan tadi. Elo tahukan, apa yang harus elo lakukan?" tanya Bulan pada seseorang diseberang ponsel, menyakinkan dirinya sendiri.
"Oke." ucap seseorang tersebut. Siapa lagi jika bukan Gara.
Setelah memberitahu Gara, Bulan menghubungi Arya. Menanyakan keadaan di villa yang ternyata baik-baik saja.
"Gue akan berkunjung sebentar ke kantor polisi. Elo tanya pada kakek Timo, tentang apa yang gue dan beliau tadi bicarakan. Dia pasti paham."
Bulan terdiam sejenak, mendengarkan apa yang Arya katakan. "Tenang saja, percaya dengan beliau. Lagi pula, gue yakin kalian bisa menghandlenya." ujar Bulan.
Tak ingin membuang-buang waktu, Bulan segera berpamitan pada semuanya. "Hati-hati." tukas Tuan David.
"Baik om. Mari semua." ujar Bulan.
Bulan tak lantas kembali ke villa Mikel. Tapi pergi ke kantor polisi. Menyerahkan semua berkas yang dia dapatkan. Terkait penyelidikan mengenai pembunuhan berantai tersebut.
Tak lupa, Bulan memberi pesan tertulis pada Jeno. Menyuruhnya untuk berhenti di sebuah tempat sebelum kembali ke villa. Sebab Bulan ingin mengambil berkas yang dibawa Jeno tersebut. Dari pada Bulan harus kembali terlebih dahulu ke villa.
Bulan turun dari motornya. Lalu masuk ke dalam mobil Jeno. "Mana?" tanya Bulan langsung meminta berkas serta beberapa file yang Jeno bawa dari markas.
"Kamu baik-baik saja?" bukannya memberikan apa yang Bulan inginkan, Jeno malah menanyakan keadaan Bulan.
"Baik." sahut Bulan.
"Ehhhh.... Jeno..." kesal Bulan, lagi-lagi Jeno memeluknya dengan erat.
"Jeno sesak." cicit Bulan dengan nada yang terdengar manja di telinga Jeno.
Bulan segera memalingkan wajahnya ke depan. Dia tak ingin Jeno melihatnya tersipu malu karena ucapan sederhana darinya. "Nggak usah ngegombal." tukas Bulan menenangkan degup jantungnya yang tak berirama.
Jeno memegang lengan Bulan. Menempelkan kepalanya di lengan tersebut. "Apa yang kamu bicarakan sama mama dan papa?" tanya Jeno, sedikit mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah sang kekasih hati.
Bulan hanya melirik sekilas ke arah Jeno. Dirinya bisa menebak dari mana Jeno mengetahui pertemuannya dengan kedua orang tua Jeno. "Pasti tante Rindi yang memberitahu." batin Bulan.
"Ada. Sebenarnya aku hanya membutuhkan bantuan papa kamu. Tapi nggak enak, jika aku hanya bertemu berdua saja dengan papa kamu." jelas Bulan.
"Kenapa?" tanya Jeno sembari mengendus wangi lengan Bulan.
"Ya nggak apa-apa."
"Benar. Aku setuju." Jeno mencubit pelan pipi Bulan. "Aku nggak suka kamu bertemu dengan lelaki lain. Hanya berdua. Meski dengan papa sekalipun." tutur Jeno dengan nada cemburu.
"Gara."
"Huffttt.... itu pengecualian." tukas Jeno dengan nada kesal.
"Ya sudah, mana berkas dan semua yang Gara berikan pada kamu." pinta Bulan, menyingkirkan Jeno yang menempel padanya seperti lintah.
"Aaahhh,,, nanti saja. Jika banyak orang pasti kamu nggak mau seperti ini saka aku." Jeno kembali mendekatkan dirinya pada Bulan, dan memeluknya dari samping.
"Yaa,,, masa bermesraan di hadapan orang banyak. Kayak nggak punya urat malu saja." papar Bulan.
"Kenapa malu. Anak muda jaman sekarang memang seperti itu."
"Tapi saya bukan anak muda lagi Jeno." tegas Bulan.
"Siapa bilang. Umur kamu masih berkepala dua. Lihat, kamu masih cantik dan...." Jeno mendekatkan bibirnya di telinga Bulan. "Seksi." bisik Jeno.
Bulan hanya menghela nafas panjang mendengar ocehan Jeno. "Makasih. Tapi sekarang lepaskan aku Jen... Kuta harus segera menyelesaikan semuanya." pinta Bulan dengan nada lembut.
Jeno melepaskan pelukannya. "Benar juga." sahut Jeno mengangguk pelan.
Jeno memberikan semua yang dibutuhkan Bulan. "Tunggu." ujar Jeno menghentikan Bulan yang sudah ingin membuka pintu.
Jeno memegang lengan Bulan. Menahannya untuk tetap di dalam mobil. "Tapi aku mendapatkan hadiahkan?" tanya Jeno layaknya anak kecil.
Bulan membenarkan posisi duduknya dengan nyaman. Menatap Jeno dengan intens. "Memang kamu ikut lomba apa?" tanya Bulan menahan senyum. Sebab pertanyaaan Jeno sangatlah lucu.
"Ini pertama kalinya aku melakukan hal semacam ini. Dan semuanya berhasil." tukas Jeno dengan serius.
Bulan mencebikkan bibirnya sembari manggut-manggut. "Berarti aku harus memberi hadiah pada yang lain juga." tukas Bulan menggoda Jeno.
__ADS_1
"Ccckkkk,,,,, tidak perlu. Cukup aku saja. Paham..!!" tekan Jeno kesal dengan perkataan Bulan.
"Eeeemmm,,, lalu yang lain bagaimana?"
"Ya,,, jangan ngomong sama yang lain. Cukup kita berdua yang tahu." tukas Jeno.
"Memang bisa begitu?" ledek Bulan.
"Bisaaaa,,,,, oke." rengek Jeno.
Bulan hanya mengangguk. "Sekarang buka pintunya. Kita harus menyelesaikannya dengan cepat." pinta Bulan.
Bulan tak peduli dan tak ingin tahu apa yang diinginkan oleh Jeno. Baginya, mengatakan iya adalah pilihan yang tepat di saat seperti ini.
Klik.... Jeno memencet tombol di depannya. Dan kunci pintu di samping Bulan terbuka. "Oh iya,,, segera kalian merekam saat kakek Timo membuat topeng. Lalu kirimkan ke aku dan juga Gara." pinta Bulan.
Jeno mengangguk. "Apa lagi?" tanya Bulan saat Jeno kembali memegang lengannya.
Jeno memajukan badannya sedikit ke depan.
Dan,,, cup,,, dikecupnya kening Bulan sebentar. "Hati-hati." ujar Jeno terlihat khawatir.
"Iya. Kamu juga." Bulan membelai pipi Jeno, lalu segera keluar dari mobil Jeno.
Jeno tersenyum dari dalam mobil, dengan pandangan menatap intens ke arah sang pujaan hati. Lambat laun, tanpa sadar Bulan menerima keberadaan Jeno di dalam hatinya. Dan Jeno merasakan hal tersebut.
Jeno mengelus pipinya yang dibelai Bulan. Tersenyum melihat Bulan yang mengendarai motor, semakin menjauh darinya. "Jaga dia Tuhan." ucap Jeno lirih.
Sama seperti Bulan, Jeno juga melajukan mobilnya menuju villa Mikel. Sementara di villa, Mikel dan Jevo sudah tiba. Tapi keduanya mampir terlebih dahulu ke apartemen Mikel untuk mengubah penampilan mereka.
Semuanya duduk di ruang tengah. Kecuali mama Rio yang sibuk menyiapkan makanan untuk mereka di meja makan.
"Maaf tante, villa ini jarang saya tempati. Saya juga tidak pernah melihat ke dapur." tukas Mikel, saat mama Rio bergabung bersama mereka di ruang tengah.
Mama Rio tersenyum. "Iya, tidak apa-apa. Yang terpenting ada beras. Sudah cukup." tutur mama Rio.
"Kenapa kita tidak kepikiran makanan sama sekali ya." cicit Jevo.
"Benar. Seharusnya kita mampir ke restoran membeli sesuatu tadi." sesal Mikel.
"Tidak apa. Otak kalian sedang berpikir sangat keras. Tentunya kalian mengabaikan perut." sahut kakek Timo.
"Bukankah rekan kita masih di perjalanan. Kita bisa menghubunginya, memintanya untuk membeli makanan." saran Arya.
"Benar." ujar Jevo.
"Jangan." cegah mama Rio.
"Saya sudah membuat nasi goreng. Nanti malah nggak ada yang makan. Mubadzir." lanjut mama Rio.
Tak berselang lama, Jeno datang. Dan segera memberitahu apa yang Bulan perintahkan pada mereka. "Lalu Bulan dimana?" tanya mama Rio.
"Bulan mengurus sesuatu yang penting. Dan kita yang harus merekam video kakek Timo." tukas Jeno, dimana semuanya memandang sang kakek.
"Sebaiknya kita sarapan dulu." ajak maka Rio.
Tak ada yang menyahut. "Kita membuat rekaman video dulu saja." tanya kakek Timo, tahu jika keempat lelaki di depannya ingin menolak ajakan mama Rio tapi tak enak hati.
Kakek Timo juga paham. Jika mereka ingin segera menyelesaikan rencana yang Bulan inginkan. Tanpa menunda-nunda. Sebab mereka berkejaran dengan waktu.
Semua saling membantu menyiapkan apa saja yang di butuhkan kakek Timo untuk membuat topeng. Hanya Rio dan sang mama yang duduk melihat kesibukan keempat murid Bulan beserta kakek Timo.
Rio memegang tangan sang mama. "Semua akan berjalan lancar. Percaya dengan Bulan. Dia perempuan yang hebat." lirih mama Rio.
Astaga,,,, seandainya Jeno mendengar pujian yang terlontar dari mulut maka Rio, pasti dia akan langsung terbakar cemburu.
Selesai. Semua bahan dan alat sudah dipersiapkan dengan lengkap. Arya yang memang ahli dalam bidang tersebut, membawa alat rekam milik Mikel. Meletakkannya di sudut yang menurutnya pas untuk merekam apa yang akan dilakukan kakek Timo.
Mikel mendekat ke arah kakek Timo. Memberikan minuman, segelas air mineral untuk beliau. "Minum dulu kek." ujar Mikel.
Kakek Timo meneguk habis air tersebut. Dan mereka bisa melihat jika sang kakek gugup. Mikel menatap ke arah Jevo dan Jeno.
Jeno segera mendekat. Memegang telapak tangan kakek Timo. "Lakukan seperti biasa kek." pinta Jeno yang ternyata tak bisa menghilangkan rasa gugup sang kakek.
Mereka tak segera memulai apa yang mereka inginkan. Hasilnya pasti akan sangat jelek, jika kakek Timo terlihat gugup.
"Apa yang harus kita lakukan? Bulan dan Gara menunggu videonya." lirih Mikel.
Jevo tersenyum samar. "Ruangan yang ada kamera CCTVnya." celetuk Jevo.
Mikel dan Arya, serta Jeno dengan mudah menangkap apa yang terbesit di dalam benak Jevo. "Mungkin ini ide yang bagus." sahut Arya.
Jevo menghampiri kakek Timo. "Kek,,, bagaimana jika kakek latihan dulu. Membuat topeng seperti biasa di sebuah ruangan yang tidak ada kameranya. Biar kakek tidak gugup." saran Jevo berbohong pada kakek Timo.
"Emm,,, bagaimana jika bahannya nanti malah habis terlebih dahulu." cicit kakek Timo ada benarnya.
Mikel dan Jevo saling pandang. "Tenang saja kek, kami membeli bahannya lebih kok." tukas Mikel berbohong.
Mereka berempat berani mengambil resiko besar dengan menyuruh kakek Timo membuat topeng di ruangan tertutup.
Sebab, jika topeng yang dibuat sang kakek tidak sesuai keinginan mereka, mereka harus mencari kembali semua bahan hang diperlukan. Karena mereka hanya membeli bahan seperlunya saja.
Kakek Timo mengangguk. Percaya dengan kebohongan yang dikatakan mereka.
Semua kembali sibuk, memindahkan bahan dan alat yang akan digunakan sang kakek ke dalam sebuah ruangan.
__ADS_1
Mikel membisikkan sesuatu pada Arya, lalu Arya segera mengangguk dan pergi entah kemana. Meninggalkan mereka semua.
Dan disinilah Arya berada. Disebuah ruangan, dimana ada beberapa layar yang menyala di depannya. Salah satunya layar yang menampilkan kakek Timo yang sedang membuat topeng, seperti saat dia membuatkan topeng untuk sang cucu. Timo.