
*Pasir kugenggam erat
Sengaja mengikat
Sangat keparat
Ketika rindu membebat
Bukan cinta kudapat
Malah segala umpat
Percuma sayang terpahat
Jika berakhir pekat
Kamu menjadi pusatku
Tempat segala asa dan rindu
Berdetak seirama denyut jantung bertalu
Menggebu, menghentak relung kalbu
Tahukah kau, Nona? Segala tentangmu membuatku serasa menelan racun. Begitu menyakitkan dan perlahan membunuh.
Rizaul Kaffi*
Sepuluh menit tulisan itu kuposting, langsung dibanjiri like dan komentar. Kubaca perlahan komentar demi komentar. Sekadar jadi penghibur.
"Galau niye."
Shit!
"Kenapa, Bang? Patah hati?"
Asem!
'"Eaaaaa klepek-klepek aku bacanya."
Halah!
"Bang, butuh bahu? Sini nyender."
Butuh Dilara!
"Mati aja, lu."
Sadis!
"Makanya, Bang, kalau punya cewek jangan terlalu dikekang."
__ADS_1
Dikira kuda, main kekang.
Bosan, aku mematikan HP dan paket data. Lalu, melempar benda itu ke meja. Badan yang sejak tadi duduk tegak di kursi, kini sedikit melorot hingga kepala menyentuh sandaran kursi. Teringat dengan jelas percakapan dengan Dilara sore tadi.
"Aku nggak mau punya suami kayak Kakak!" teriaknya sambil mengerucutkan bibir.
"Kenapa? Ganteng gini."
"Posesif."
"Ada alasannya."
"Apa?"
"Aku nggak mau diduain ama temen kamu. Apa lagi si bocah tengik itu."
"Rendy?" Dilara memutar bola mata dan aku jengkel melihatnya melakukan itu. Lantas, kualihkan pandangan ke arah jalan raya yang mulai padat merayap. Pantas karena sekarang bertepatan jam pulang kantor. Suara klakson saling bersahutan, seolah mengatakan "gue duluan", "minggir lu" dan banyak makian serta umpatan tak tersalurkan lainnya.
"Kak, mereka semua temen aku." Suaranya lembut, tapi begitu menusuk hati.
Kembali kuarahkan pandangan ke Dilara. "Kakak bisa jadi temen kamu."
Dilara kembali memutar bola matanya. Tuhan! Gemas aku melihatnya.
"Stop! Berhenti memutar bola mata seperti itu di depan kakak," hardikku.
"Kakak nyebelin!"
Cepat gadis itu melesat meninggalkan restoran. Aku pun tak kalah gesit. Jelas Dilara bukan tandinganku jika soal berlari. Aku lebih cepat karena lari memang hobiku. Lari dari kenyataan.
"Kak! Lepas!" Teriakan Dilara menyentakku. Mulai sadar dari sensasi nikmat tadi.
"Pulang sama kakak!" perintahku.
Kuseret gadis itu menuju motor, memasangkan helm, lalu ikut bergelut dengan kendaraan lain di jalan yang padat itu.
Setengah jam berlalu, tiba di rumah, Dilara langsung turun dan berlari masuk. Aku hanya menatap punggung gadis itu. Belum sempat berbalik, terdengar teriakan dari dalam.
"Kamu nggak usah berhubungan dengan pengkhianat itu lagi. Putus, ya, udah putus."
Aku tahu Galih menyindir, tapi tak kutanggapi. Aku berlajan masuk rumah.
"Ham." Panggilan halus dari Ibu membuatku kembali ke saat ini. Kutegakkan badan, lalu menetapnya.
"Iya, Bu."
Ibu masuk dan duduk di tepi ranjang. Kugeser kursi menghadap wanita yang paling kusayang itu.
"Paman kamu tadi telepon. Dia tanya, kapan kamu lulus? Ada banyak kerjaan di sana. Sepertinya dia juga butuh tenaga kamu."
"Paman, kan, karyawannya banyak, Bu. Kenapa malah butuh Irham yang minim pengalaman?"
__ADS_1
"Kok, kamu nggak paham, sih? Itu artinya paman kamu pengen bantu cari kerja."
"Irham mau dapat kerja dari hasil kerja keras sendiri, Bu. Bukan karena belas kasihan."
"Pantaslah paman kamu kasih kerjaan. Dia juga bisa begitu berkat ayahmu."
Aku teringat tentang cerita ibu. Saat Ayah masih ada dan kehidupan keluarga kami masih stabil. Ayah adalah pengusaha kaya, tapi bangkrut karena ditipu oleh keluarganya sendiri. Terlalu memikirkan hal itu, kesehatan Ayah drop dan jatuh sakit. Ketika akhirnya Ayah meninggal, Ibu mengajakku pulang ke tanah kelahirannya. Dengan sisa uang yang ada, kami membeli rumah ini dan bertetanggaan dengan keluarga Galih. Sejak saat itu, dia menjadi teman karibku. Tak lama, lahirlah Dilara. Bayi mungil yang memiliki mata indah. Aku, langsung jatuh cinta padanya.
"Iya, Bu. Nanti Irham pikirkan. Saat ini biarkan Irham konsentrasi sama penelitian dulu."
Ibu mengangguk paham, lalu keluar kamar setelah menepuk bahuku. Aku menatap punggung yang mulai yang tampak lelah itu hilang di balik pintu kamar. Kemudian mendesah pelan. Entah kenapa Ibu yang sudah disakiti menyetujui niat paman mempekerjakan aku. Atau bagi Ibu paman juga bertanggung jawab akan masa depanku, semacam balas budi kepada kami, gitu. Ah! Bodo amat! Tidak diberi pekerjaan oleh paman pun, aku tak apa-apa. Tak akan mengungkit lagi apa yang sudah ayah korbankan untuknya.
Aku menyadari kekhawatiran Ibu terhadap hidup kami. Sangat yakin, jika saat ini uang tabungan Ibu pasti sudah menipis. Aku harus mengesampingkan urusan Dilara yang terkadang membuat konsentrasi pecah.
"Lupakan Dilara, fokus ke penelitian."
Malam itu, berbagai rencana kususun. Menyelesaikan skripsi, sidang, wisuda, mencari kerja, kemudian kembali mengejar Dilara. Saat ini, biarkan gadis itu main sepuasnya. Suatu saat, dia akan sadar mana yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya main-main. Aku akan menunggu sambil mengumpulkan uang untuk melamar dan memberi penghidupan untuknya.
***
Pagi ini, tak seperti biasanya, mendung menggelayut, menutup sinar hangat mentari. Di sana, gadis berambut hitam panjang itu tengah bersiap-siap hendak berangkat sekolah. Di sampingnya, ada Galih yang sibuk memanasi mesin motor. Aku berjalan santai ke sana. Namun, langsung disambut tatapan waspada dari kakak beradik itu.
"Mau ngapain, lu? Pengkhianat!" Serah Galih menghadangku.
"Dil, kakak mau bicara." Aku berkata tanpa menggubris hardikkan Galih.
"Ngobrol aja di sini," sahut Galih.
"Diem dulu napa, sih?" sergahku.
"Nyolot, lu."
Galih semakin mendekat, lalu menabrakkan dada kurusnya ke dada bidangku. Aku bergeming, tak bergerak sedikit pun meski didorong olehnya.
"Kakak terima keputusan kamu untuk putus. Mulai sekarang, kakak nggak akan ganggu kamu. Ke mana pun, dengan siapa pun, mau melakukan apa pun, kakak nggak ngelarang. Semua terserah Dila." Aku lantang mengucapkannya, tapi terasa begitu perih di dalam hati. Kutekan dengan kuat gejolak itu. Sudah kuputuskan, lupakan Dilara.
Dilara menatap tak percaya ke arahku. Entah apa yang dia pikirkan, menyesal atau bersyukur. Aku tak peduli. Setelah mendorong tubuh Galih yang masih menabrakku hingga terjengkang, aku pergi.
"Harus begitu kita, kan, udah putus!" teriak Dilara saat aku sudah berjalan lima langkah.
Kubalikkan badan seraya tersenyum manis yang disambut cemberut oleh Dilara. "Jangan senang dulu. Kamu kakak bebasin sekarang, tapi nanti kalau kakak udah lulus dan punya kerjaan. Jangan harap bisa lepas."
"Ish! Ogah!"
"Beneran ogah?"
"Ham! Lu cepet pergi sana!"
"Jangan galak-galak. Inget, gue calon adik ipar lu."
"Bah! Di sini ngakunya adik ipar, di sana ngakunya pacar orang. Kampret, lu!"
__ADS_1
"Serah, deh, kalo nggak percaya!" Aku kembali melangkah. Tidak masuk rumah, tapi langsung menuju lokasi tempat penelitianku. Sementara, tak menghiraukan Dilara juga sikap kekanakan Galih.
Next