PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 187


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Claudia yang masih berdiri di atas panggung. Bagaimana tidak, niat hati ingin membuat Bulan malu, ternyata malah dirinya yang mendapatkan hadiah tak ternilai dari Bulan.


Dan mungkin tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Sungguh rasanya tak kuat hanya untuk mengangkat kepala, memandangi semua orang yang berada di gedung acara, sebab semua mata sedang mencemoohnya.


Revan menarik Claudia dari panggung, membawa Claudia pergi dari gedung acara. Revan melihat tatapan remeh dan senyum menyebalkan yang Jevo perlihatkan kepadanya saat dirinya berjalan melintasi Jevo dan yang lainnya.


Tapi dirinya tak punya waktu untuk berhenti melangkah. Ada Claudia yang harus segera dia bawa pergi dari tempat ini. Ditambah, dirinyalah yang menjadi lawan main Claudia pada rekaman tersebut.


Di meja lain, Sella tersenyum tak percaya dengan menggelengkan kepalanya. "Astaga,,, apa itu tadi. Benar-benar. Pantas saja, keluarga Tuan David tidak pernah menerima keberadaannya." cicit Sella memandang Claudia yang berjalan di sisi Revan dengan langkah cepat meninggalkan acara.


Sella tersenyum sinis. "Gue berbeda dengan Claudia. Benar. Meski papa dihukum karena kesalahannya, tapi gue nggak ikut melakukan kesalahan itu. Dan seharusnya keluarga Jeno bisa menerima gue. Apalagi, gue masih perawan." tukasnya dengan yakin.


Setelah acara selesai, Bulan pulang dengan diantarkan oleh Jeno. Sedangkan Tuan David dan Nyonya Rindi dijemput oleh sopir mereka. Sebab mobil yang mereka naiki saat berangkat ke pesta di bawa oleh Jeno.


Sebenarnya, Bulan berniat untuk memesan taksi online saja. Tapi dilarang oleh Tuan David. Beliau menyarakan untuk Jeno memakai mobilnya, dan mengantar Bulan. Sehingga membuat Tuan David dan Nyonya Rindi harus menunggu mobil jemputan mereka.


Bisa saja Bulan pulang dengan diantar oleh Jevo menggunakan motornya. Tapi mana mungkin Jeno setuju dan ikhlas. Bisa-bisa motor Jevo dibakar oleh Jeno.


Nyonya Rindi mengajak Bulan untuk menginap di rumah beliau, tapi Bulan menolak dengan sopan. Bulan beralasan harus bersiap, sebab besok mereka akan berkunjung ke rumah kedua orang tua Bulan.


Selain itu, Bulan beralasan jika dirinya belum memberitahu Nyonya Irawan dan Sapna, jika mereka berdua juga akan diajak pergi ke desa.


Di saat Tuan David dan Nyonya Rindi berada di depan menunggu mobil, Sella datang menghampiri mereka berdua. "Malam, om,,, tante...." sapa Sella, bersalaman dengan sopan dengan kedua orang tua Jeno.


"Om dan tante kenapa berdiri di sini?" tanya Sella berbasa-basi. Padahal dirinya sudah tahu apa yang terjadi, sebab sedari tadi dia berada di balik tiang untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.


Sella sengaja menemui Tuan David dan Nyonya Rindi setelah melihat Jeno dan Bulan pergi dengan mobil, serta Jevo yang juga sudah pergi dengan menaiki motornya.


"Kami menunggu mobil kami." sahut Nyonya Rindi menjelaskan dengan ramah.


"Benar dugaan gue. Mereka baik sama gue. Jika tidak, pasti mereka sudah menyuruh gue pergi. Ini kesempatan gue membuat mereka terkesan sama gue." batin Sella.


Tanpa Sella ketahui, keduanya juga bersikap seperti ini dengan Claudia, baik dan ramah saat bertemu dengan Claudia dimanapun. Meski keduanya sama sekali tidak menyukai jika Claudia dan Jevo berhubungan.


"Bagaimana jika om dan tante ikut mobil Sella saja, saya akan mengantar sampai rumah." tawar Sella, berharap bisa lebih dekat dengan kedua orang tua Jeno.


"Terimakasih. Tapi sepertinya sopir kami hampir sampai. Kasihan dia jika sudah datang, tapi kami tidak ada." tolak Tuan David beralasan.


Sella tersenyum manis. Meski dalam hatinya merasa kesal atas penolakan mereka. "Apakah Jeno sudah pulang lebih dulu dengan bu Bulan?" tanya Sella yang jelas-jelas sudah melihat kepergian mereka.


"Benar." sahut Nyonya Rindi.


"Tega sekali bu Bulan. Malah membiarkan kedua orang tua Jeno menunggu di sini. Sama sekali tidak perhatian." gumam Sella, sengaja membuat Tuan David dan Nyonya Rindi merubah pikiran mereka tentang Bulan.


Namun sayang, kedua orang tua Jeno sama sekali tidak bereaksi. Meski keduanya mendengar apa yang Sella katakan. "Maaf, saya ingin bertanya."


"Silahkan." ujar Nyonya Rindi.


"Apa benar, jika Jeno dan bu Bulan memiliki hubungan? Bukankah usia bu Bulan lebih tua dari Jeno. Apa tidak masalah, jika mereka berdua menjalin hubungan?" tanya Sella dengan sopan, dan terlihat masih menghormati Bulan, dengan memanggilnya menggunakan kata bu.


Sella bermaksud merecoki atau meracuni pikiran Tuan David dan Nyonya Rindi. Dirinya yakin, jika dia akan gagal jika terus mendekati Jeno, makanya dia merubah rencana untuk mendekati kedua orang tua Jeno.


"Pa,,, itu mobil kita." cicit Nyonya Rindi, melihat mobil yang menjemputnya telah datang.


"Sial." batin Sella, padahal pertanyaannya belum mereka jawab.


"Sella,,, kami pergi dulu." pamit Nyonya Rindi.


"Silahkan tante." sahut Sella tersenyum manis. Meski di dalam jati sedang mendumal.


"Oh iya, Sella. Saya ingin memberitahu, Bulan dan Jeno itu serius loh. Mereka berdua bahkan sudah terpikirkan mau menikah setelah Jeno lulus SMA. Minta do'anya ya,,, supaya hubungan mereka baik-baik saja dan langgeng." cicit Nyonya Rindi.


Jleb...


Perkataan Nyonya Rindi terdengar begitu lembut, tapi sama sekali tidak nyaman saat di dengar oleh telinga Sella. Membuat telinga Sella langsung tuli seketika.


"Do'a." geram Sella, melihat mobil yang dinaiki Tuan David dan Nyonya Rindi pergi meninggalkan area parkir tempat acara.


Hanya dengan satu kalimat panjang. Tapi mampu membuat perasan Sella bertambah kesal terhadap Bulan. "Sialan. Apa yang sudah dilakukan Bulan, sehingga dengan mudah bisa masuk ke dalam keluarga Jeno." lirihnya, tak terima jika Bulan bisa mendapatkan hati Jeno serta keluarganya.


Sedangkan Bulan dan Jeno masih berada di dalam mobil yang mengarah ke rumah Bulan. "Ada apa?" tanya Bulan, saat Jeno menatap ke arahnya sebentar, dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Sebab Jeno sedang menyetir.


"Padahal kamu bisa menelpon orang rumah. Mengatakan jika mereka besok akan diajak juga." sahut Jeno, menebak alasan yang dibuat Bulan hanyalah alasan klise.


Bulan menghela nafas panjang. "Kamu lihatkan, bagaimana cara Revan menatap ke arah Jevo. Aku khawatir, dia akan gelap mata. Apalagi, tadi aku memutar video itu dihadapan banyak orang." jelas Bulan dengan jujur.


"Tapi wajah Revan sudah kamu samarkan. Seharusnya dia tidak punya niat jahat." Jeno berniat membuat Bulan untuk tidak terlalu khawatir.


"Tetap saja. Aku harus berjaga-jaga. Jangan sampai tante Irawan dan Sapna dalam bahaya. Apalagi, besok kita akan berkunjung ke rumah bapak dan ibu."


"Benar juga. Apa aku perlu menginap di rumah kamu?"

__ADS_1


Mendengar jika acara berkunjung akan dilakukan besok, Jeno juga menjadi sedikit cemas. Dirinya tak ingin ada masalah, yang bisa membuat rencana mereka gagal.


"Tidak perlu sampai segitunya. Aku bisa mengatasi sendiri. Hanya berjaga-jaga saja. Makanya aku memilih pulang." papar Bulan.


Jeno menghentikan mobilnya tepat di rumah sederhana milik Bulan. "Oh iya sayang,,, rumah ini rumah kamu sendiri, atau rumah dinas?"


"Rumah dinas. Kenapa?" tanya Bulan.


"Apa perlu, aku belikan kamu rumah. Supaya tante Irawan dan Sapna juga aman. Dan kamu tidak perlu memikirkan serta mengkhawatirkan mereka." ujar Jeno meminta persetujuan Bulan.


"Tidak perlu. Nanti saja, jika aku ingin beli rumah, aku beritahu kamu." tolak Bulan dengan lembut.


Bulan sadar, jika hubungannya dengan Jeno masih sebatas pacaran. Meski kedua orang tua Jeno sudah memberi restu penuh.


Hanya saja, Bulan tak ingin apa yang dikatakan oleh Claudia terbukti benar adanya. Jika dirinya hanya mengincar harta keluarga Jeno.


Untuk membeli sebuah rumah, bukan masalah besar bagi Bulan. Uang yang dia kumpulkan selama ini sudah lebih dari cukup. Bahkan dia bisa membuka usaha sekalian jika dia mau.


Tapi Bulan tidak ingin pikirannya terbagi-bagi. Dirinya belum tahu, apakah mampu atau tidak. Oleh karenanya, Bulan fokus pada pekerjaannya yang sekarang. Dan tidak mengerjakan yang lain.


"Baiklah." ujar Jeno pasrah.


"Oh iya,,, aku punya sesuatu. Hampir saja lupa." lanjut Jeno, merogoh ke saku celananya.


"Apa ini?" tanya Bulan, melihat Jeno menyodorkan sebuah botol berukuran kecil.


"Usapkan sedikit saja di rambut, setelah keramas. Ini bisa membantu rambut kamu untuk cepat panjang." jelas Jeno dengan lembut.


Bulan segera mengambil benda tersebut dari tangan Jeno. "Benarkan?" tanya Bulan dengan raut wajah bahagia, lalu mendapat anggukan dari Jeno.


"Kamu dapat dari mana?"


"Mama."


"Tante Rindi yang membelikannya?"


"Iya,,, tapi aku yang meminta." jelas Jeno.


Bulan langsung memeluk Jeno. "Terimakasih."


"Apapun untuk kamu." Jeno mengelus punggung sang kekasih.


Bulan mengurai pelukannya. Memandangi botol kecil di tangannya. Meski hanya perhatian kecil, tapi Bulan merasa jika Jeno benar-benar menyayanginya dengan tulus. "Tunggu. Jangan keluar. Kamu bukan sopir aku, yang harus membukakan pintu." pinta Bulan.


"Makin cinta. Padahal aku ikhlas melakukannya."


"Tapi aku malah risih. Terkesan gimana gitu." cicit Bulan yang memang selama ini selalu mandiri.


"Iya... Tapi jika sesekali bolehkan?"


Bulan mengangguk. "Aku pulang dulu. Jika sampai rumah, beritahu aku."


"Iya,,, my moon."


Bulan keluar dari mobil. Saat di depan pintu, Bulan kembali membalikkan badan, melambaikan tangannya ke arah Jeno. Dimana Jeno membalas lambaian tangan Bulan.


Begitu Bulan masuk ke dalam rumah, Jeno juga bergegas melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah.


"Bulan,,,, kamu cantik sekali..." seru Sapna melihat Bulan pertama kalinya memakai gaun yang indah.


"Ma,,, lihat, Bulan cantik sekali." panggil Sapna heboh sendiri melihat penampilan Bulan.


"Sapna." cicit Bulan malu.


"Bulan." panggil Nyonya Irawan melihat Bulan yang sedang tersenyum canggung.


"Kamu cantik sekali." puji Nyonya Irawan.


"Ya iyalah ma,,, kalau tidak cantik, mana mau Jeno sama Bulan." celetuk Sapna menggoda Bulan.


"Apa sih. Tante, Bulan ke kamar dulu. Mau ganti baju. Oh iya, ada yang mau Bulan sampaikan." tukas Bulan.


"Kamu ganti baju dulu saja. Kita tunggu kamu di ruang tengah." saran Nyonya Irawan mendapat anggukan dari Bulan.


Bulan melangkahkan kakinya, tapi dia teringat sesuatu. Yang membuat Bulan membalikkan badannya kembali. "Tante, Sapna,,, jika ada yang datang, jangan bukakan pintu. Siapapun itu." pinta Bulan.


"Iya,, kamu tenang saja."


Bulan tersenyum lega, dan segera masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan Nyonya Irawan dan Sapna mengunci semua pintu serta jendela, sebelum mereka menunggu Bulan di ruang tengah.


Dan benar saja, baru saja Nyonya Irawan mengunci pintu depan, terdengar suara ketukan dari luar.

__ADS_1


"Ma,,, jangan dibuka." ujar Sapna mengingatkan.


"Iya." lirih Nyonya Irawan, sembari membuka sedikit gorden di jendela. Mengintip siapa tamu yang datang malam-malam begini.


"Siapa dia ma?" tanya Sapna, yang berada di belakang Nyonya Irawan.


"Entahlah."


Terlihat seperti seorang lelaki, dengan tubuh tinggi dan besar berdiri di depan pintu. Sementara Nyonya Irawan dan Sapna melihat sebuah mobil di luar gerbang rumah.


Keduanya segera meninggalkan tempatnya dan memilih duduk di ruang tengah. "Beruntung Bulan sudah datang." tukas Sapna tidak merasa khawatir sama sekali.


"Benar." sahut Nyonya Irawan, dimana keduanya tidak memungkiri. Rasa aman mereka dapatkan jika ada Bulan di sekitar mereka.


"Siapa tante?" tanya Bulan setelah keluar dari kamar, mendengar ada ketukan pintu.


"Seorang lelaki." jawab Sapna dengan cepat.


Tapi Bulan melihat tak ada raut wajah ketakutan dari keduanya. Dan itu sudah membuat Bulan cukup tenang. "Sebentar." kata Bulan, memastikan apakah tamu misterius itu masih di depan atau sudah pergi.


Bulan menyibak sedikit gorden di jendela. Sama seperti yang dilakukan Nyonya Irawan dan Sapna. Bulan tak lagi melihat lelaki yang dimaksudkan oleh Sapna.


Hanya saja, Bulan masih melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Bulan mengeluarkan ponsel, mengirimkan pesan tertulis pada Gara, untuk menyelidiki siapa yang bertamu ke rumahnya saat ini.


"Kamu mau berbicara apa, Bulan?" tanya Nyonya Irawan.


"Besok Bulan akan pergi ke desa. Berkunjung ke rumah orang tua Bulan. Jadi, tante dan Sapna juga ikut." jelas Bulan.


"Tidak apa-apa jika kami ikut?" tanya Sapna, takut jika membuat repot Bulan.


"Tidak. Lagi pula semua ikut. Arya, Mikel, dan Gara. Kita tidak menginap, jadi kalian ikut juga." jelas Bulan.


"Baiklah. Tapi apa kita perlu membawa sesuatu?" tanya Nyonya Irawan.


"Baju ganti. Tapi jangan banyak-banyak. Hanya untuk berjaga-jaga." ujar Bulan mendapat anggukan dari Sapna dan Nyonya Irawan.


"Ya sudah, kalian tidurlah. Besok kita harus bangun pagi-pagi." ucap Nyonya Irawan.


"Mama juga." sahut Sapna.


"Iya."


Di apartemen Revan, Claudia mengamuk. Dia berteriak seperti orang kesurupan. "Aaa....!!! Bagaimana bisa terjadi. Mengapa rekaman itu ada pada Bulan...?!" serunya dengan nafas terengah karena amarah.


Revan memandang tajam ke arah Claudia. "Bukankah rekaman itu ada di tangan elo. Kenapa elo bertanya tolol...!!" seru Revan tak kalah kesal.


"Apa elo masih menyimpannya?" Claudia menatap Revan dengan pandangan curiga.


"Cih....!! Untuk apa gue menyimpan barang tak berguna seperti itu." sahut Revan ketus, di tuduh oleh Claudia.


Keadaan hening sejenak. "Kenapa dia bisa menemukan rekaman itu. Padahal gue sudah menghapusnya dari file gue." ujar Claudia.


"Dia bukan perempuan yang mudah disentuh." tukas Revan merasa ada yang berbeda dengan Bulan.


"Aaa....!! Bulan,,, elo harus menerima balasan atas penghinaan yang elo berikan." geram Claudia tak merasa kapok.


"Seharusnya elo berpikir dengan tenang. Jangan merencanakan sesuatu di sat emosi. Inilah jadinya." sinis Revan.


"Sebaiknya bacot elo diam saja. Tidal berguna." hardik Claudia.


"Jangan sampai nama gue elo bawa. Jika terjadi, gue akan membuat perhitungan sama elo. Paham...!!" bentak Revan tak ingin terlibat dengan masalah yang akan di sebabkan oleh Claudia ke depannya.


"Pengecut....!!" ejek Claudia, saat Revan memilih meninggalkannya dan masuk ke dalam kamarnya dan mengacuhkan dirinya.


Revan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Melepas semua pakaian yang melekat di badannya, dan hanya menyisakan ****** ***** saja.


"Jevo." geram Revan, mengingat tatapan yang diberikan musuhnya pada dia.


Revan tersenyum sinis. "Kali ini elo bisa tersenyum, tapi lihatlah. Gue akan membuat bibir elo tidak bisa tersenyum lagi, setelah sahabat terbaik elo mengalami keterpurukan. Sapna."


Revan melihat laptop miliknya tergeletak di atas nakas. Dia mengambilnya. Rasa penasaran akan siapa Bulan lebih mendominasi dalam pikirannya saat ini.


Revan membuka akses perangkat lunak di sekolah SMA dimana dirinya baru saja lulus dari sana. Dimana semua anggota atau siswa dan staff sekolah memang bisa masuk karena mempunyai akses tersebut. Dan kebetulan, akses milik Revan dan para murid lainnya yang baru lulus belum di bekukan oleh pihak sekolah.


"Bulan Maheswari." lirih Revan, membaca nama Bulan di layar laptopnya. Dimana di sana tertera jika Bulan merupakan guru pindahan dari sekolah lain.


"Sudah keluar. Cepat sekali. Benar kata Claudia, jika dia mengajar tidak ada tiga bulan lamanya." tukas Revan, mengotak-atik apapun yang terkait dengan Bulan.


Dan....


"Apa ini?" lirih Revan, saat dia mengklik nama Bulan di layarnya.

__ADS_1


Terlihat jelas gambar Bulan yang menggunakan seragam lengkap sebagai seorang polisi wanita. "Diangkat sebagai kepala kantor." lirih Revan.


Revan tercengang sesaat. "Seorang andi negara. Polisi." gumam Revan tak menyangka akan menemukan hal ini.


__ADS_2