PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 186


__ADS_3

"Apa yang akan dilakukan Claudia?" seperti itulah pertanyaan beberapa orang di dalam benak mereka melihat Claudia naik ke atas panggung, mengambil mikropon untuk diarahkan pada dirinya sendiri.


"Anak itu. Bukankah dia putri Zain. Untuk apa dia berada di sana?" tanya salah seorang tamu undangan.


"Putri Zain. Pasti otaknya tak jauh dari Zain. Licik dan sombong, meski sudah berada di titik bawah." cicit yang lain memandang rendah Claudia.


Sementara si empunya acara merasa gusar melihat Claudia berada di atas panggung. Dirinya merasakan firasat yang tidak enak. "Pasti dia akan membuat ulah." cicitnya, sembari melihat ke kanan dan kiri. Mencari petugas keamanan yang memang sudah dia persiapkan jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


"Biarkan saja. Kita lihat apa yang akan dia lakukan." pinta Tuan David pada si empunya acara, yang kebetulan mereka sedang berada di satu meja.


Lelaki tersebut menghela nafas kasar. "Baiklah Tuan, semoga dia tidak menyinggung seseorang yang berkuasa di disini. Saya hanya takut, orang itu mengira jika saya berkomplot dengan anak bau kencur itu." jelasnya dalam kekhawatiran.


Tanpa dia tahu, jika orang yang menjadi target Claudia memanglah calon menantu dari keluarga Tuan David.


"Tidak akan. Biarkan saja dia mau berbuat apa." sahut Tuan David, seakan bisa menebak apa yang akan dilakukan Claudia.


"Pa,,,, pasti Claudia mau menyerang Bulan. Apakah baik, jika kita biarkan dia bertindak seenaknya. Bukankah lebih baik dia diseret turun dari sana." saran Nyonya Rindi berbisik di samping telinga sang suami.


Rasa khawatir tentu saja Nyonya Rindi rasakan. Khawatir jika Claudia membuat Bulan berada dalam masalah. Sementara dirinya yang mengajak Bulan untuk datang ke acara ini.


Dan Nyonya Rindi merasa bertanggung jawab atas keamanan dan kenyamanan Bulan selama berada di pesta ini. "Pa..." panggil Nyonya Rindi lirih dengan ekspresi cemas.


Tuan David memegang lengan sang istri dengan lembut. "Jangan khawatir. Percaya sama anak-anak. Lihatlah mereka. Kenapa mama malah yang cemas. Tenang, semua akan baik-baik saja." tutur Tuan David menenangkan sang istri untuk tidak terlalu cemas dengan apa yang belum terjadi.


Nyonya Rini melihat ke arah Jeno dan Bulan yang duduk santai dan tenang di sebuah kursi yang melingkar di meja.


Juga dengan Jevo yang sedang bersama Arya dan Mikel. Ketiganya malah tersenyum menatap ke arah panggung dengan santainya. "Benar. Mereka bisa setenang itu. Kenapa aku harus merasa cemas." batin Nyonya Rindi.


Nyonya Rindi kembali menatap ke arah panggung. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh Claudia. "Lagi pula, hanya anak ingusan seperti Claudia. Mana bisa membuat putra-putraku dan Bulan dalam bahaya." batin Nyonya Rindi menguatkan hatinya.


Dari arah lain, Sella juga menatap Claudia dengan tatapan penasaran. "Tidak mungkinkan, jika lampir itu ke atas untuk melakukan sesuatu pada Bulan?" cicit Sella.


Rio yang masih di belakang Sella mengerutkan keningnya. Lalu menatap ke arah panggung. "Siapa lagi dia? Apa dia juga musuh Bulan?" tanya Rio dalam hati.


Rasa penasaran Rio terjawab saat Sella kembali mengatakan sesuatu. "Tapi, Claudia menyukai Jevo, bukan Jeno. Lalu untuk apa dia menyerang Bulan. Kan nggak ada urusannya dengan dia." cicit Sella merasa aneh jika benar Claudia ingin menyerang Bulan.


"Perempuan dia atas itu bernama Claudia. Dan dia menyukai Jevo. Tapi kemungkinan dia mau mempermalukan Bulan." batin Rio menyimpulkan dari apa yang dia dengar.


Sama seperti Sella, Rio juga penasaran dengan tujuan Claudia naik ke atas panggung. Mencuri semua perhatian tamu undangan untuk fokus pada dirinya dan apa yang akan dia lakukan..


Sedangkan Jeno celingukan mencari Jevo, dia belum sepenuhnya paham. Jika keberadaan Claudia di atas panggung bertujuan untuk menyerang sang kekasih.


Tentu saja Jeno mengira jika Claudia berada di sana karena Jevo. Sebab selama ini dirinya serta yang lain tahu bagaimana gilanya Claudia mengejar serta mempertahankan Jevo untuk tetap berada di posisinya.


"Sayang, lihatlah. Jevo malah terlihat acuh dan santai di sana. Padahal aku yakin, Claudia hendak membuat masalah." tutur Jeno membuat Bulan termangu sesaat.


Bulan tersenyum samar. Dirinya tidak menyalahkan Jeno, jika tidak bisa menebak apa yang hendak Claudia lakukan. Pasalnya, Jeno memang sangat polos jika berhubungan dengan perempuan.


"Sudahlah. Kita lihat, apa yang akan dilakukan Claudia." papar Bulan, membuat Jeno mengangguk dan kembali memperhatikan Claudia.


Sesungguhnya, Jeno sedari tadi mengawasi gerak-gerik Sella. Sebab dirinya tahu jika perempuan tersebut selalu berusaha mendekati dirinya. Sehingga Jeno berpikiran jika kemungkinan besar yang akan mencari masalah dengan Bulan hanyalah Sella. Bukan perempuan lain.


Bulan menatap sesaat ke arah Jevo dan Arya serta Mikel yang terlihat tenang menatap ke arah panggung seraya menikmati makanan ringan serta minuman yang ada si meja mereka.


"Sepertinya mereka bertiga bisa menebak rencana busuk Claudia." batin Bulan, menatap sejenak ke arah Jeno yang terlihat polos di matanya.


"Kenapa?" tanya Jeno sadar jika Bulan menatapnya.


Bulan menggeleng. "Tidak ada." Bulan mengelus lengan Jeno seraya tersenyum manis.


"Malam semua. Maaf, menganggu kenyamanan kalian semua para tamu undangan." ujar Claudia di atas panggung, mengeluarkan suaranya untuk kalimat pertamanya.


Claudia memasang wajah sayu, dibuat sesedih mungkin. Lalu menatap ke meja, dimana Bulan dan Jeno duduk di sana. "Dia menatap ke arah kita, sayang." lirih Jeno belum mengerti hingga detik ini.


"Seharusnya kalian semua tahu, siapa saya." Claudia tersenyum kecut. "Tapi bukan itu yang ingin saya katakan di sini." lanjutnya.


"Sebelumnya, saya pernah bersekolah di tempat yang sama dengan kedua putra kembar Tuan David. Jevo dan Jeno. Salah satu sekolah yang memang terkenal sangat unggul." tuturnya lagi.


"Ckk,,, terlalu berbelit-belit." ketus Revan dari tempat duduknya, sudah tidak sabar melihat pertunjukan yang disiapkan Claudia.

__ADS_1


"Ada seorang guru pengganti di sekolah kami. Ya,,, dia sangat cantik dan seksi untuk ukuran seorang guru. Jika otak, kalian bisa menebak sendirilah. Begitu dia masuk, mengajar di sekolah kami, dia langsung menjadi pusat perhatian dan menjadi guru idaman. Terutama para murid dan guru serta staff lelaki." ujar Claudia panjang lebar.


Jeno mulai memasang ekspresi datar, sekarang dirinya terlihat bisa membaca situasi. Sedangkan Bulan hanya tersenyum samar melihat perubahan ekspresi sang kekasih.


"Dia hanya mengajar tak lebih dari tiga bulan lamanya. Lalu keluar. Kalian semua tahu, sekarang dia ada di sini, dengan pekerjaan yang berbeda. Maaf,, maksud saya dengan status yang berbeda." tukas Claudia tersenyum samar menatap Bulan.


Bulan memegang lengan Jeno. Dirinya tak ingin Jeno lepas kendali hanya karena ocehan dari Claudia. "Tahan,,, dengarkan saja dulu apa yang mau dia sampaikan. Jangan membuat diri kamu malu di hadapan banyak orang. Ingat Jeno, ada nama kedua orang tua kamu, yang harus kamu jaga." tutur Bulan mengingatkan.


"Tapi,,, jika dia melukai kamu. Meski bukan luka fisik, aku akan tetap akan membuat dia menerima balasannya." tekan Jeno menatap tajam ke arah Claudia.


"Iya,,, tapi tahan. Sabar. Kita dengarkan dulu apa yang dia katakan. Kelihatannya Claudia hanya terbawa emosi, dan tidak memikirkan ke depannya. Dengan begitu, kita akan mudah membalikkan keadaan." papar Bulan.


Jeno memandang ke arah Bulan. "Baik." sahutnya sembari mengangguk. Lalu mengecup pipi Bulan sekilas. Membuat Bulan kedua mata melotot, tapi hatinya terasa ditumbuhi banyak bunga.


Jevo yang melihat tingkah saudara kembarnya menggeleng pelan. "Di saat seperti ini, masih juga mencari kesempatan." cicit Jevo merasa heran.


Mikel dan Arya tersenyum, sebab keduanya juga melihat tingkah Jeno. "Ternyata dia lebih jago dari pada elo." celetuk Arya, mendapat lirikan tajam dari Jevo.


"Lihatlah, bahkan mereka berdua terlihat santai. Claudia memang bukan ancaman untuk Bulan dan Jeno." timpal Mikel.


Kembali ke panggung, Claudia mengeratkan gigi-giginya melihat Jeno memperlakukan Bulan dengan mesra dan penuh sayang. "Silahkan umbar kemesraan kalian, sebentar lagi, elo akan dihujat, Bulan." batin Claudia dengan yakin.


"Hey,,, anak muda. Jangan menggunakan panggung itu untuk curhat urusan pribadi. Turunlah. Memuakkan." seru seorang tamu undangan merasa Claudia hanyalah seorang yang tidak perlu digubris.


"Lagian mana petugas keamanannya. Membiarkan perempuan sinting merusak acara ini." timpal yang lain, juga merasa terganggu dengan tingkah Claudia.


"Tunggu,,,, saya belum selesai bicara. Dan saya harap, dengarkan apa yang saya katakan sampai selesai. Supaya kalian tahu, dibalik wajahnya yang cantik, dia perempuan berhati busuk." seru Claudia, menatap tajam ke arah Bulan.


Sontak semua mata mengarah kemana Claudia mengarahkan pandangannya. Sedangkan Bulan dan Jeno hanya tersenyum. Melihat ke arah panggung. Bahkan, Jeno menaruh salah satu tangannya di pundak Bulan, merangkulnya dengan sayang.


"Bukankah dia putra Tuan David dan Nyonya Rindi." cicit seorang tamu undangan dengan pelan.


"Benar. Dan perempuan itu, tadi saya sempat mendengar, jika dia calon menantu mereka." sahut yang lain.


"Dia perempuan yang saya maksud. Bulan. Dia masuk ke sekolah kami berperan sebagai guru pengganti. Dan itu hanya beberapa bulan saja. Setelah itu dia keluar, lalu muncul di tengah keluarga Tuan David. Sekarang, apa yang kalian pikirkan. Usianya saja di atas Jeno, yang sekarang masih kelas tiga SMA. Pasti dia sedang mengelabuhi keluarga Tuan David." cerocos Claudia.


Semua mata mengarah pada Tuan David dan Nyonya Rindi yang terlihat tenang sembari tersenyum.


Di kursinya, Sella tertawa pelan. Menertawakan kebodohan Claudia. "Sumpah, baru kali ini gue melihat orang setolol dia. Apa yang ada di otaknya. Menyerang Bulan dengan cara seperti ini. Dia pikir dia hebat. Apa Claudia lupa, siapa sebenarnya Bulan." gumam Sella yang tahu pekerjaan Bulan sesungguhnya.


"Saya yakin, Bulan sengaja masuk ke dalam sekolah kami. Mengincar salah satu putra Tuan David. Dan setelah dia mendapatkannya, dia keluar. Entah apa yang telah dia berikan pada Jeno, sehingga lelaki polos seperti Jeno bahkan takluk di bawah kakinya. Juga dengan Tuan David, yang selama ini kita semua tahu. Betapa sulitnya beliau untuk didekati." ujar Claudia panjang lebar, berbicara tidak karuan untuk memfitnah Bulan.


Jeno berdiri dari duduknya, dengan pandangan tajam menatap Claudia. "Sebaiknya elo turun, atau elo akam merasakan malu yang luar biasa." ancam Jeno.


"Lihatlah kalian semua. Bahkan Jeno berubah. Jeno yang dulu sopan dan kalem, kini berubah seperti itu. Entah apa yang diberikan perempuan ular itu pada Jeno." tukas Claudia semakin menjadi-jadi.


Nyonya Rindi juga tersulut emosinya mendengar apa yang dikatakan Claudia, tapi Tuan David menahannya. "Tetap duduk dengan tenang. Biarkan anak-anak yang membereskannya." pinta Tuan David.


"Pa,,, ingin sekali mama merobek mulutnya." geram Nyonya Rindi meremas sendiri kedua telapak tangannya.


Jeno masih berdiri di tempat, pasalnya Bulan memegang lengannya dengan kuat. Sehingga Jeno tak mungkin bisa menghampiri Claudia.


"Lihatlah, dia hanya diam. Tidak melakukan pembelaan. Berarti benar bukan, apa yang saya katakan. Perempuan itu sengaja mendekati Jeno untuk mendapatkan sesuatu. Harta." tekan Claudia tersenyum remeh ke arah Bulan.


Seketika semua orang menatap ke arah Bulan. Banyak pandangan dengan berbagai penilaian dari mereka. Entah apa yang mereka pikirkan, percaya dengan Claudia, atau sebaliknya.


Hanya saja, Bulan sama sekali tidak merasa tertekan atau merasa terintimidasi oleh semua mata yang menatapnya. Bagi Bulan, hal seperti itu adalah makanannya setiap hari.


"Jika memang seperti itu, lantas kenapa? Toh keluarga Tuan David juga tidak akan keberatan, jika saya membantu mereka menghabiskan uang mereka." sahut Bulan masih duduk dengan santai.


Jeno langsung menatap ke arah sang kekasih. Emosinya yang sempat meluap perlahan surut hanya dengan melihat sikap Bulan yang tenang dan tidka terpancing perkataan Claudia.


"Memangnya, kita hanya bisa hidup dengan cinta. Kita juga butuh uang, Claudia. Jika kamu tidak membutuhkan uang, kenapa kamu repot-repot mengalihkan beberapa persen kekayaan papa kamu atas nama kamu." lanjut Bulan tersenyum manis.


Claudia menatap ke kanan dam kiri. Dirinya tidak mau semua orang malah fokus pada masalah keluarganya, apalagi tujuannya ingin membuat Bulan malu.


"Om,,, tante,,, kalian dengarkan. Dan kamu Jeno,,,, seharusnya kamu mendengarnya, jika perempuan itu hanya mengincar harta keluarga kalian." tukas Claudia langsung kembali ke tujuannya.


"Claudia,,, Claudia,,, saya bahkan rela memberikan semua harta saya. Kenapa kamu yang repot. Itu harta kami, bukan harta kamu." ujar Jeno semakin membuat Claudia berang.

__ADS_1


"Sadarlah Jeno,,, pasti dia tidak tulus sama kamu. Aku yakin itu....!" seru Claudia makin tidak jelas. Sebab keluarga Tuan David sama sekali tidak menggubrisnya.


"Seharusnya semua orang memandang rendah Bulan. Kenapa? Kenapa mereka malah diam? Apa yang salah, padahal gue sudah mengobarkan api." batin Claudia.


Jevo beranjak dari duduknya, berjalan ke depan. Lalu berhenti di tengah-tengah. "Sebaiknya elo turun, jika tidak ingin dipermalukan." tukas Jevo, mengalihkan pandangannya ke arah Revan.


"Sial,,, tatapan itu." batin Revan, merasa pandangan Jevo mengandung makna tersembunyi.


Bulan tersenyum samar. "Tunggu. Ada sesuatu yang ingin saya berikan pada Claudia, karena dia sudah dengan senang hati maju ke depan." ujar Bulan.


"Apa yang kamu butuhkan?"


"Laptop."


Jeno memandang seorang petugas keamanan. "Ambilkan laptop."


"Baik Tuan muda." ujarnya segera mencari apa yang dibutuhkan oleh Bulan.


Claudia tertawa renyah. "Lihatlah, apa dia mau mengajar. Astaga..." cemooh Claudia.


Tanpa dirinya sadari jika dia berada di dalam bahaya. Jevo mengambil laptop dari seorang petugas, sebelum dia sampai di meja Bulan. Lalu mengantarkannya sendiri ke meja Bulan.


"Sorry Jevo,,, gue agak sedikit sadis." cicit Bulan.


"Dan gue nggak peduli. Bahkan jika dia mati sekalipun." sahut Jevo, setelah mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Bulan.


Jari jemari Bulan langsung menari dengan lincah di atas keyboard. Bulan hanya membutuhkan beberapa menit untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Mampus Claudia." tukas Arya tersenyum senang. Juga dengan Mikel.


Jevo dan Jeno melihat ke arah layar laptop. Keduanya tahu apa yang akan dilakukan Bulan. "Apa aku terlihat jahat?" tanya Bulan menatap Jeno.


"Sama sekali tidak. Lakukanlah. Kami ada di belakang kamu." ujar Jeno mendukung apa yang akan dilakukan Bulan.


"Sambungkan dengan layar di sana." pinta Jeno pada petugas kemanan, sehingga apa yang diputar di laptop bisa di lihat semua orang lewat sebuah layar yang memang sudah tersedia di belakang Claudia.


Tik.....


Terdengar sebuah bunyi, dan layar di belakang Claudia pun menyala seketika.


Semua mata orang yang berada di ruangan membulat melihat apa yang ada di layar. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Revan, seakan nafasnya tercekat di tenggorokan.


"Suara ini?" tebak Claudia, masih belum melihat apa yang ada di layar belakangnya.emdemhar suara yang familiar.


Claudia segera membalikkan badan. Mulutnya terbuka lebar dengan ekspresi terkejut bercampur malu serta takut. "Ba-ba-bagaimana bisa....?" cicit Claudia tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Di dalam video, tampak Claudia sedang melakukan olah raga ranjang bersama seorang lelaki, dengan wajah lelaki tersebut di blur oleh Bulan, sehingga mereka hanya melihat wajah Claudia.


Bulan juga menyamarkan gambar tubuh Claudia yang telanjang bulat, sehingga tidak terlihat begitu jelas. "Tidak....!! Itu bukan gue....!!" teriak Claudia, menatap ke arah Revan dengan kesal.


Sebab wajah pemain lelaki yang di blur oleh Bulan adalah Revan. "Siapa yang bilang itu kamu, Claudia." seru Bulan tersenyum dengan sangat manis.


Revan segera beranjak dari tempat duduknya. Berlari ke panggung untuk segera membawa pergi Claudia. Dirinya takut jika Claudia sampai kehilangan kontrol, yang malah akan membuka semuanya.


Sepasang mata tua menatap Bulan dengan lekat. "Dari dulu, dia memang sangat berbahaya. Dia bekerja tanpa ampun." batin seorang lelaki tua yang duduk dengan memegang tongkat.


Semua orang berbisik-bisik, berspekulasi sendiri atas apa yang terjadi. Ada yang merasa kasihan pada Claudia. Tapi ada yang mencaci Claudia.


Selain itu, ada juga yang menatap kesal ke arah Bulan. Mereka berpikir Bulan begitu kejam. Apakah Bulan peduli? Tentu saja tidak.


Tak sedikit yang memuji Bulan dengan keahliannya di bidang perangkat lunak, yang baru saja mereka lihat. Padahal itu hanya secuil dari keahlian calon istri Jeno.


"Apa aku membuat nama baik keluarga kalian hancur?" tanya Bulan.


"Sama sekali tidak my moon. Calon istriku memang harus seperti itu. Tangguh, dan tidak boleh ditindas." tekan Jeno, membelai lembut pipi Bulan.


"Terimakasih." sahut Bulan.


Bulan menatap Tuan David dan Nyonya Rindi yang juga sedang menatapnya dengan senyum. Bahkan Nyonya Rindi mengacungkan dua jari jempol tangannya pada Bulan.

__ADS_1


"Lihat,,, mama dan papa saja senang." ujar Jeno.


Jeno memeluk Bulan, memberikan kecupan di dahinya. "Astaga,,, kalian berdua memang tidak tahu tempat." geram Jevo yang duduk di sebelah Bulan, serasa tidak dianggap keberadaannya.


__ADS_2