PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Kembali Manis


__ADS_3

Aku tersenyum setelah membalas komenan yang terakhir. Kini, tinggal menunggu akan tembus berapa eksemplar bukuku kali ini mengingat animo pembaca yang begitu membludak. Meski terkadang, minat baca mereka di media sosial berbanding terbalik dengan minat baca di buku. Aku paham karena mereka harus menyisihkan uang hanya untuk sekadar membeli buku, yang mungkin saja bagi sebagian orang masih terasa sayang. Kecuali, bagi mereka yang benar-benar penikmat puisi, sajak, ataupun cerpen.


Aku bangkit setelah ponsel berbunyi, meregangkan sedikit otot, lalu berjalan keluar.


"Jalan, kakak, Dil."


"Buru!" ketus Dilara di seberang sana. Aku terkekeh. Lucu! Belum juga dua jam kami pisah, dia sudah rindu.


Jam empat sore, waktunya menjemput bidadariku yang katanya sedang belajar kelompok di rumah temannya. Namun, saat kulirik benda bulat yang menempel di dinding. Anjiiir! Telat, Man! Pantas dia uring-uringan!


Gegas, aku menyalakan motor dan meluncur ke lokasi yang telah dikirim Dilara. Tak ingin ikatan yang mulia tersambung, bermasalah hanya karena aku terlambat.


Kurang dari lima belas menit, setelah berjibaku mengalahkan kepadatan jalanan sore hari. Bertaruh nyawa demi kekasih hati tercinta. Mengeraskan hati agar tak takut menggeber motor matic-ku lebih cepat. Aku sampai di tujuan. Hasilnya? Gadis cantik itu masih manyun saat aku tiba.


"Lama! Ngapain aja, sih? Pasti sibuk ama fans di FB. Iya, 'kan? Ngaku!"


"Enggak!"


"Iya!"


"Enggak, Dil."


"Terus ngapain?"


"Ketiduran," jawabku dengan wajah yang sengaja kupasang sedikit memelas. Ingin agar gadis yang tampak lelah ini tak bertanya lagi.


"Emang aku nggak ngerti FB, Kakak? Pembohong!" sungutnya. Dilara menghentakkan kaki tanda jengkel, kemudian mengaitkan tas ranselnya dengan kasar ke pundak.


Aku memandangnya dalam diam. Terpesona juga gemas dengan wajah cantiknya yang meski dalam keadaan marah, masih terpancar. Tanpa sengaja senyum tipis kuulas. Hal itu disadari oleh Dilara, kembali dia mengomel. Namun, bukan lagi ujaran kejengkelan Dilara yang menyapa telinga, lebih ke alunan musik nan merdu. Ditambah desir hati yang menggelitik memberi isyarat kepada otak bahwa aku semakin mencintanya.


"Kak!" serunya mencoba menyadarkan lamunanku. Mungkin dia melihatku tercenung sejak dia ngomel tadi. Namun, dia kembali ngomel lagi.


"I love you." Meski hanya berupa bisikkan. Namun, malah bisa membuat gadis itu diam dan memercikkan guratan merah di pipi putihnya.


Seolah-olah sedang menikmati momen penting, kami sama-sama bergeming. Saling memandang dengan intens. Aku yakin degup jantung Dilara sama dengan milikku. Tak beraturan juga kencang.


Kami melepas pandangan saat terdengar suara motor kencang melintas. Aku berdeham guna mengurai rasa gugup dan canggung. Dilara mendekat dan menyambar helm yang kuangsurkan. Tak lama, kami pun melintas kembali di jalanan yang padat. Kali ini berbeda, aku berkendara dengan santai. Terlalu santai malah, tidak ingin kedekatan kami berlalu dengan cepat.


Iya, aku bisa memandang bahkan berbicara dengannya karena rumah kami berdekatan. Hanya saja, Galih tak pernah mau memberiku kesenangan. Dia selalu menganggu dengan ikut ngobrol bersama kami. Kutukupret memang itu, anak!


"Pernah lihat matahari terbenam?" tanyaku mencoba menghilangkan keheningan.

__ADS_1


"Tiap hari liat." Suara Dilara masih ketus. Aku pun terkekeh.


"Kalau kakak ajak lihat matahari tenggelam dari atas jembatan, mau? Romantis sepertinya, Dil."


Dilara diam. Bahkan saat kuberi waktu beberapa menit. Dia tetap tak merespon.


"Kalau nggak mau yaudah."


"Siapa bilang nggak mau?"


"Dih! Jangan ngambek mulu, dong. Iya, kakak minta maaf telat jemput."


"Dari tadi, kek."


Aku tertawa. Bodoh memang. Terlalu tinggi menahan ego. Aku pikir kesalahan kecil yang tak terlalu parah bisa dimaklumi. Hanya telat menjemput beberapa menit, tak jadi soal asal bisa pulang ke rumah tanpa jalan kaki. Namun, ternyata hal sekecil ini bisa membuat Dilara marah hingga berpuluh-puluh menit.


Kami berdiri di atas jembatan yang tak terlalu ramai dilalui kendaraan. Sengaja aku mencari lokasi yang jauh dari keramaian. Agak ke pinggir kota. Agar tak terlalu bising.


Dari atas jembatan itu kami bisa melihat dengan jelas hamparan sawah yang membentang di kanan-kiri sungai. Musim kemarau ternyata sudah menguapkan air yang biasanya melimpah itu. Di bagian pematang sawah yang dekat dengan aliran sungai, terdapat pohon pisang berjajar. Tak terlalu jelas buahnya dari jarak pandang kami.


Kulirik Dilara yang tengah sibuk menata rambutnya karena embusan angin. Bibir bersemu merah tanpa pewarna itu sesekali berdecak kesal. Sigap, kuraup rambutnya dalam genggaman, kemudian menggelungnya asal. Namun, lepas. Kuulang dan lepas lagi. Sampai Dilara tertawa melihat sikapku.


"Kakak nggak mau liat kamu kesal. Terlebih saat kita menikmati pemandangan indah ini."


"Aku lupa bawa ikat rambut."


"Kalau gitu, begini aja." Aku kembali mengambil rambut Dilara, lantas meletakkan rambut itu di leher sebelah kiri. Kupeluk tubuh Dilara dari belakang dan menyandarkan dagu di bahu kanannya. "Lumayan bisa menghalangi angin," bisikku yang membuat tubuh kecil itu menengang. Mungkin gugup karena ini pertama kalinya kami berpelukan seperti ini.


"Apaan, sih, Kak!" serunya seraya menggeliat hendak melepaskan rengkuhanku.


"Sengaja biar rambut kamu nggak terbang-terbang."


"Malu, Kak! Banyak orang!"


"Mereka nggak akan peduli, Dil."


Dilara masih berusaha melepaskan diri. Tubuhnya terus menggeliat.


"Lepas nggak!"


"Nggak!"

__ADS_1


"Lepas!"


"Nggak!"


"Auw!" Aku berteriak seraya melepas pelukan, lalu mundur beberapa langkah sambil memegang kakiku yang diinjak Dilara dengan keras.


"Sakit, Dil," rengekku.


"Habis Kakak ngeyel, sih."


"Masa mesraan ama cewek sendiri nggak boleh?"


"Nggak! Belum halal!"


Gagal, deh, romantisan sambil menikmati senja.


Kami terdiam hingga matahari perlahan beranjak turun ke peraduan. Menyisakan warna kuning kemerahan di atas langit. Begitu menawan apalagi awan berwarna abu-abu berada di antaranya. Kami berdiri berdekatan, tanganku merangkul bahunya. Kali ini, Dilara tak keberatan. Aku menatap wajahnya dari samping. Hidung kecil mancung itu terlihat begitu mengemaskan, berdiri kokoh di antara dua pipi mulus. Aku memiringkan kepala, lalu berbisik.


"Dil."


"Iya."


"Kamu ...."


"Iya!" Dilara menatapku lembut. Aku pun tersenyum membalas.


"Kamu bau asem," bisikku di telinganya. Mendengar hal itu Dilara langsung melotot menatapku dan memberikan tatapan tajam, tapi kubalas dengan senyum lembut. Detik berikutnya, bagian pinggang terasa begitu panas dan sakit. Sontak, aku melepas rangkulan dan menghindarinya.


"Kakak juga bau!"


"Tapi, kamu sayang, 'kan?" godaku. Semu merah di pipinya kembali hadir.


"Nggak!" serunya, bertolak belakang dengan gestur tubuhnya yang tampak malu-malu.


Aku tertawa seraya mengacak kepalanya Dilara, gadis itu berusaha menghindar, tapi pinggangnya kuraih. "Kita pulang."


Dalam jarak yang begitu dekat, kutatap mata Dilara yang memiliki iris kecokelatan. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. Senyum termanis yang tak pernah kulihat sebelum.


Aku ingin seperti ini terus. Setiap saat, setiap waktu. Bisakah?


Next

__ADS_1


__ADS_2