PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 168


__ADS_3

"Bu Bulan." ucap Claudia dan Sella serta Mita. Melihat Bulan berdiri di depan mereka dengan penampilan yang berbeda serta pakaian yang berbeda pula.


Sebab biasanya mereka melihat Bulan memakai pakaian formal sebagai seorang pengajar. Dan ini pertama kalinya melihat Bulan memakai seragam seorang abdi negara sebagai polisi wanita dengan rambut pendeknya.


Tanpa semuanya tahu, jika rambut yang ada di kepala Bulan hanyalah sebuah rambut palsu. "Ada apa ini?" ujar Bulan mengulangi pertanyaannya lagi.


Beberapa orang yang berada di sana sempat merasa penasaran, sebab ketiga perempuan yang baru datang dan salah satu yang membuat gaduh mengenal sosok Bulan.


Namun mereka tak berani bertanya ataupun berspekulasi. "Oh iya,,, bukankah sebelum ini, dia memang pernah menyamar sebagai tenaga pengajar. Mungkin mereka anak didiknya." batin seroang anggota.


Yang entah dari mana dirinya mengetahui kabar tersebut. Padahal baik Bulan maupun sang atasan juga tidak pernah membocorkan misi yang Bulan jalankan.


Berbeda dengan ketiga siswa SMA yang terkejut dengan keberadaan Bulan di tempat yang mereka tak sangka, Bulan bersikap tenang dan terlihat biasa saja.


Baginya bukan masalah besar jika semua orang tahu diapa dirinya sebenarnya. Pekerjaan apa yang Bulan geluti selama ini. Sebab memang Bulan sudah mendapatkan surat kerja dari kantor pusat.


Dimana dirinya tak perlu lagi menyembunyikan wajah dan identitasnya seperti dulu. Sebab sekarang Bulan menggantikan posisi atau jabatan pak Bimo yang terkurung dalam jeruji besi.


"Maaf bu, perempuan ini membuat laporan karena mobil dan beberapa barangnya diambil oleh begal. Tapi dia ingin kami langsung ke TKP sekarang juga. Mencari mobilnya." jelas salah satu bawahan Bulan.


Ketiga siswa SMA tampak memperhatikan dengan seksama cara salah satu anggota polisi tersebut berbicara dengan Bulan. Sangat sopan. Membuat mereka semakin penasaran.


"Apakah anda mempunyai saudara kembar?" tanya Mita spontan, merasa penasaran.


Bulan tersenyum samar, terdiam sesaat sebelum menjawab apa gang ditanyakan Mita. "Anak ini. Memang benar-benar polos." batin Bulan.


"Tidak. Saya Bulan. Beberapa hari yang lalu saya masih mengajar di SMA tempat kalian menuntut ilmu. Tapi sekarang, saya sudah keluar. Dan bekerja di tempat ini." jelas Bulan semaunya dengan ekspresi datar.


Tidal menjelaskan secara detail. Bagi Bulan penjelasan seperti itu sudah cukup. Sebab mereka memang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan apa yang Bulan lakoni.


Semua anggota kepolisian yang mendengar penjelasan Bulan hanya tersenyum samar. Ditambah cara Bulan menjelaskan terdengar seperti dia sedang memberi tahu pada anak kecil.


"Dan kamu, Claudia. Laporan sudah masuk. Bawahan saya akan langsung menindak lanjuti. Jadi, jangan khawatir. Kami akan bekerja sesuai prosedur. Jika sudah ada perkembangan, kami akan langsung menghubungi kamu." jelas Bulan, dimana Claudia masih diam sembari memandang Bulan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jika kalian bertiga masih ingin berada di tempat ini, silahkan. Duduklah dengan tenang di tempat yang sudah kami sediakan. Tapi jangan membuat gaduh, dan menganggu bawahan saya." papar Bulan, dengan kata yang halus mengusir ketiganya.


Semua bawahan Bulan menatap Bulan dengan tatapan memuji. Kalimat sederhana dan terdengar ramah. Tapi memiliki makna yang sebaliknya.


"Ternyata bukan hanya gerakannya saja yang hebat. Bahkan mulutnya juga tajam." batin bawahan Bulan.


Bulan tahu bagaimana watak Claudia dan Sella. Pembuat onar serta selalu mencari perhatian dan semaunya sendiri.


Bulan hanya malas berurusan dengan manusia macam mereka. Terlebih dirinya saat ini sedang berada di kantor untuk bekerja. Bukan untuk bersantai.


Dirinya tak ingin membuang waktu untuk berurusan dengan Claudia. Meski lada kenyataanya Claudia datang sebagai masyarakat yang sedang meminta bantuan.


Menurut Bulan, Claudia sudah selesai melaporkan apa yang dia alami. Dan bawahannya sudah mencatat. Yang dimana sebentar lagi pasti apa yang menimpa Claudia akan segera diproses dan ditangani.


Jadi kehadiran Claudia di sini juga tidak diperlukan. Yang ada Claudia malah akan menambah masalah dengan sikap bar-bar yang dia miliki.


Bulan menatap ke arah Mita, dan langsung diangguki oleh Mita. Seakan Mita tahu arti dari tatapan Bulan pada dirinya. "Anak pintar." puji Bulan dalam hati untuk Mita.


Mita memegang lengan Sella. "Sell,,, sebaiknya kita segera pergi. Ngapain kita di sini lama-lama. Gue takut, nanti orang suruhan mama kamu melapor. Dikiranya kita menjenguk papa kamu." bisik Mita.


Sebab Sella memang tidak diperbolehkan oleh sang mama menjenguk sang papa. Tapi hanya beberapa minggu saja. Setelah, sang mama membebaskan Sella jika ingin menjenguk sang papa.


Entahlah, Sella sendiri juga tidak bertanya terkait alasan sang mama memberlakukan hal tersebut padanya. Lagi pula, Sella juga tidak berniat untuk menjenguk sang papa.


Sella mengangguk. Tanpa berpamitan dia bergegas meninggalkan kantor polisi. "Terimakasih. Kami permisi dulu." pamit Mita menarik lengan Claudia untuk mengikuti Sella yang sudah berada di luar gedung.


Bulan memandang kepada bawahannya. "Kapan kejadiannya?"


"Baru saja. Di jalan yang biasanya dulu sering terjadi tindak kejahatan. Hanya saja, beberapa bulan terakhir tidak terjadi lagi. Dan kami baru menerima laporan di tempat tersebut hari ini." jelasnya.


Bulan mengangguk. "Suruh beberapa anggota untuk kesana. Jangan memakai pakaian dinas. Berpakaian biasa saja. Tapi ingat, bawa senjata lengkap." perintah Bulan.


"Baik. Perintah dilaksanakan."


Beberapa anggota berbisik setelah Bulan meninggalkan mereka untuk kembali ke ruangannya. "Bukankah mereka putri Pak Darto dan Tuan Zain." lirihnya.

__ADS_1


"Ya,,, papa mereka berteman. Pastinya anaknya juga berteman." sahut yang lain.


"Kelihatannya watak mereka sama dengan papa mereka." celetuk yang lain menebak seenak hati.


"Kalian ini. Cepat kerja. Malah ghibah." timpal yang lain.


Claudia dan Sella serta Mita masuk ke dalam mobil milik Sella. Ketiganya terdiam. Menatap ke arah gedung dimana mereka baru keluar dari tempat itu. Sebab mereka masih berada di area parkir kantor polisi.


"Bulan. Dia seorang polisi." cicit Sella masih tidak percaya.


"Tampar gue." pinta Claudia menghadap ke arah Sella yang duduk di sebelahnya.


Plak.... Dengan senang hati Sella segera menampar pipi Claudia dengan sangat keras. "Gila... Sakit bego...!!" seru Claudia memegang pipinya yang terasa panas.


Sella tersenyum sinis. "Siapa tadi yang nyuruh nampar." tekan Sella tak mau disalahkan.


"Tampar ya tampar. Tapi jangan keras-keras." geram Claudia masih memegang pipinya.


Sella tersenyum senang melihat wajah kesakitan dari Claudia. "Lalu, kenapa selama ini dia berada di sekolah kita?" tanya Claudia seakan memberi tebakan pada Sella.


"Bisa jadi, bu Bulan berada di sekolah kita karena tugasnya sebagai seorang pengaman negara. Seperti apa ya,,,,, emmm... Ya,,, bu Bulan menyamar. Mungkin seperti itu." jelas Mita yang duduk di kursi belakang.


"Bisa jadi. Tapi untuk apa?" tanya Sella masih penasaran, menatap Mita dari kaca pantau yang ada di depannya.


Mita tersenyum kaku. "Bagaimana jika kita meninggalkan tempat ini dulu. Seperti ya mengerikan jika kita terus berada di sini." pinta Mita mengalihkan perhatian kedua perempuan yang duduk di kursi depan.


Di kediaman Tuan David, Nyonya Rindi tengah sibuk mempersiapkan barang yang akan dia bawa ke rumah kedua orang tua Bulan.


"Ma,,,, jangan banyak-banyak. Rumah orang tua Bulan kecil. Tidak sebesar rumah kita. Nanti mau ditaruh dimana." ujar Jeno melarang sang mama.


"Benarkah? Apa mereka kesulitan untuk membeli sesuatu? Atau,,, mungkin kamu ingat, apa yang belum mereka punya." cecar Nyonya Rindi dengan semangat ingin membelikan barang untuk mereka.


Jeno menghela nafas panjang. "Mereka bukan orang yang tidak mampu, ma.... Buktinya Bulan bisa bersekolah dan menjadi seorang abdi negara. Dan yang Jeno dengar, Bintang, adiknya Bulan malah ingin sekolah di kedokteran." jelas Jeno, dimana sekolah kedokteran memang membutuhkan biaya yang sangat besar.


"Lalu, kenapa rumah mereka kecil?" tanya Nyonya Rindi absurd.


Nyonya Rindi mengangguk. "Bagaimana dengan mama Bulan."


"Ibu Bulan,,,, dia perempuan yang baik. Dia sangat pandai memasak. Masakan ibu rasanya sungguh lezat." puji Jeno dengan ekspresi lebay.


"Sayang sekali, mama tidak bisa memasak." ujar Nyonya Rindi murung.


Jeno merangkul pundak sang mama. "Tidak apa-apa ma. Mama dan ibu nanti bisa membicarakan hal lain. Kan masih banyak topik lain, selain memasak." tutur Jeno menghibur sang mama.


"Benar juga. Tapi Bulan,,, apa dia juga bisa memasak?"


Jeno segera menggeleng. "Dia sama seperti mama."


"Baguslah. Semoga Bulan tidak bisa memasak. Biar mama nggak minder." ujar Nyonya Rindi aneh.


"Mama... Ada-ada saja. Kalau Bulan belajar memasak, ya biar saja. Jangan dilarang." tekan Jeno.


Nyonya Rindi hanya mencebik tanpa menjawab apa yang diutarakan sang putra. "Semoga Bulan tidak berminat memasak." lirihnya yang masih bisa di dengar oleh Jeno.


"Seru sekali. Apa ini?" tanya Jevo, bergabung dengan mereka.


Padahal, Jevo sedari tadi mencuri dengar obrolan mereka. Hanya dirinya memberi waktu Jeno dan sang mama berbincang. Tanpa ingin menganggu keduanya.


"Sini sayang." Nyonya Rindi menepuk tempat kosong di sebelahnya untuk Jevo duduk di sana.


"Kami ikut kan. Besok kita akan ke rumah orang tua Bulan." ajak Nyonya Rindi dengan semangat sembari merangkul Jevo dari samping.


"Tidak besok ma. Kita belum menyesuaikan jadwal papa dan Bulan. Mama harus ingat, calon menantu mama sudah mulai bekerja lagi. Jadi tidak bisa seenaknya pergi." tukas Jeno memberitahu.


"Kamu itu. Bulan bisa ambil cuti. Dan papa, diakan pemilik perusahaan. Terserah papa dong." sahut Nyonya Rindi seenaknya.


Jevo dan Jeno saking pandang seraya menggeleng. Keduanya sang bagaimana watak sang mama. Jika beliau sudah menginginkan sesuatu, pasti akan dia lakukan bagaimanapun caranya.


"Sayang,,, semoga kamu juga cepat menyusul Jeno. Menemukan perempuan yang kamu sukai, dan tentunya juga menyayangi kamu." Nyonya Rindi menangkup kedua pipi Jevo dengan lembut.

__ADS_1


Jevo membawa telapak tangan sang mama untuk dia genggam. "Ma,,, Jevo tidak punya cita-cita menikah muda. Jadi please,,, jangan do'akan Jevo seperti itu." pinta Jevo dengan memelas.


"Ckk,,, kamu itu. Padahal kalian kembar. Tapi kenapa berbeda pikiran." tukas sang mama nyleneh.


"Ma... Wajah kita yang sama. Jangan sampai pikiran kita sama. Yang ada Jevo juga akan menyukai Bulan, jika kita mempunyai pikiran yang sama." ketus Jeno seperti tidak terima.


"Betul juga." sahut sang mama.


Jevo hanya tersenyum garing mendengar ucapan Jeno. Kenyataannya, dirinya memang sempat mengangumi sosok Bulan.


"Mama mau ke belakang. Pasti sebentar lagi papa pulang." ujar Nyonya Rindi, sebab tadi pagi sang suami sudah mengatakan jika akan pulang untuk makan siang di rumah.


"Kamu ikut?" tanya Jeno.


"Jika diperbolehkan. Memang kapan?"


Jeno mengangkat kedua pundaknya. "Belum tanya Bulan." papar Jeno.


"Ada apa?" tanya Jevo melihat ada yang aneh di raut wajah Jeno.


"Syaratnya, nilai ujian kenaikan kelas milik aku harus paling tinggi. Pokoknya terbaik. Baru Bulan mau mengajak aku ke sana." jelas Jeno.


Jevo mengerutkan keningnya. "Mama dan papa." ujar Jevo, mencium bau kebohongan dari saudara kembarnya tersebut.


"Bukannya aku tidak percaya dengan kemampuanku sendiri. Hanya saja, bolehlah,,,, sedikit menggunakan kelicikan." ujar Jeno tersenyum penuh makna.


Jevo menggeleng sembari tersenyum. "Gue pikir elo polos. Ternyata,,, suhu juga." ejek Jevo.


"Aku cabut dulu. Mau nyamperin belahan hati. Bilang sama mama, aku tidak makan siang di rumah."


"Pamit sendiri sana....!!" seru Jevo melihat Jeno segera pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Jevo terdiam dengan pandangan jauh ke depan. Lalu tersenyum samar. "Jeno... Apa dia sudah berpikir berulang kali. Jika ingin menikah di usia muda." batin Jevo yang memang belum mau terikat dengan suatu hubungan.


"Kita kembar. Tapi hanya wajahnya saja." lirihnya tertawa pelan.


Seketika tawa Jevo lenyap. "Bulan." batinnya membayangkan sosok Bulan.


Jevo menghela nafas panjang. "Semoga kalian memang berjodoh. Sungguh, gue memang menyukai elo. Tapi gue lebih menyayangi Jeno. Dari pada elo sama gue, yang brengsek ini. Lebih baik elo sama Jeno. Lelaki baik dan setia." batinnya bermonolog sendiri.


Dan Jeno,,,, dia melajukan mobilnya ke kantor di mana Bulan bekerja. Dengan penampilan kasualnya, Jeno sama sekali tidak terlihat seperti anak sekolah yang masih berseragam putih abu-abu.


Jeno mampir terlebih dahulu untuk membeli makanan untuk Bulan dan dirinya. Tak lupa, Jeno membeli lebih. Sebab dirinya tahu jika pasti di sana akan ada banyak orang.


Jeno menghentikan mobilnya di area parkir kantor tempat Bulan bekerja. Dirinya turun dan menghampiri dua orang yang ada di depan kantor.


"Apa bu Bulan masih ada di dalam?" tanya Jeno yang terlihat tampan dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.


"Maaf, anda siapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Saya calon suaminya." jelas Jeno.


"Maaf, kami tidak tahu. Biar saya beritahu bu Bulan."


"Jangan. Biar saya sendiri yang menghampiri dia. Apa boleh?" tanya Jeno seraya memberikan satu kantong kresek besar untuk mereka.


"Ini untuk kalian. Maaf, cuma sedikit. Tolong di bagi." ujar Jeno.


"Baik. Terimakasih. Silahkan." tutur salah satu dari mereka sembari mengantar Jeno untuk masuk ke ruang kerja Bulan.


Sedangkan anggota yang satu lagi membagikan makanan pada rekan-rekannya yang dibawakan oleh Jeno. "Siapa dia?" tanya rekannya, melihat sosok Jeno.


"Dia mengatakan jika dirinya calon suami bu Bulan." sahutnya dengan nada pelan.


Semua lantas menatap ke arah Jeno yang tengah berjalan menuju ke ruangan Bulan. Tentu saja mereka penasaran lelaki seperti apa yang bisa mendapatkan hati seorang Bulan.


"Masuk....!" seru Bulan terdengar dari dalam ruangan, saat pintunya diketuk dari luar bersamaan dengan suara seseorang memanggil namanya.


Pintu dibuka dari luar. Lalu masuklah dua lelaki yang berbeda cara berpakaian. Bulan hanya bisa terdiam melihat siapa salah satu lelaki yang masuk ke dalamnya. "Astaga... Untuk apa Jeno datang ke sini." batin Bulan mengelus keningnya sejenak.

__ADS_1


__ADS_2