
"Bu, bisa bicara sebentar." pinta Moza dengan sopan, menghentikan langkah Bulan.
Moza juga segera melangkahkan kaki keluar dari kelas, begitu jam pelajaran Bulan telah selesai. Dirinya beralasan akan pergi ke toilet saat ditanya oleh teman sekelasnya.
"Tapi jangan di sini." pinta Moza.
Bulan mengangguk. Membawa Moza ke lorong sekolahan. Suasana masih sangat sepi, sebab semua murid masih ada di dalam kelas untuk belajar.
"Katakan dengan segera. Kamu harus kembali ke kelas." pinta Bulan, tidak ingin Moza terlambat masuk ke kelas, dan mendapatkan teguran dari guru kelas selanjutnya.
Moza mengangguk paham. Dirinya mengerti kenapa Bulan mengatakan hal tersebut. Dia adalah seorang murid. Dan jam pelajaran masih berlangsung. Hanya pergantian mata pelajaran, serta pergantian guru yang mengajar.
"Bu, sebaiknya ibu berhati-hati dengan Claudia dan Revan." lirih Moza, menengok ke kanan dan kiri.
Bulan mengernyitkan kedua alisnya. "Saya bukan bermaksud memfitnah atau menjelekkan nama mereka berdua. Tapi, kemarin saya mendengar sendiri apa yang mereka bicarakan."
Bulan tersenyum. "Terimakasih. Kamu jangan khawatir, saya akan baik-baik saja." ujar Bulan menyakinkan Moza.
"Claudia itu orangnya licik dan nekat bu. Jadi, Moza berharap ibu bisa lebih berhati-hati." ucap Moza lagi.
"Tentu saja. Ada lagi?" tanya Bulan pada Moza, jika Moza masih ingin berbicara hal lain.
Moza menggeleng. "Tidak bu." ucap Moza menjeda kalimatnya. "Kalau begitu saya kembali ke kelas dulu bu. Permisi. Maaf sudah menganggu waktunya." tutur Moza dengan sopan.
Bulan menepuk pelan pundak Moza. "Tidak. Justru saya yang harusnya berterimakasih sama kamu. Karena kamu sudah mengingatkan saya." tukas Bulan.
Moza tersenyum, lalu pergi meninggalkan Bulan yang masih berdiri di tempat tersebut. "Keluar, jangan jadi penguntit." tukas Bulan, melirik ke samping kanan.
"Ehhh...." ucap Bulan, saat tangannya malah di tarik seseorang yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan Bulan dan Moza.
"Jeno.... Jaga sikap kamu. Ini di area sekolah." tegur Bulan.
Bukannya melepaskan kungkungannya pada Bulan, Jeno malah mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan. Bulan yang tak bisa bergerak, karena punggungnya sudah mepet dengan tembok, hanya bisa diam.
Bahkan buku yang berada di tangan Bulan, sampai terlepas dan berserakan di lantai.
Bulan hendak mendorong tubuh Jeno, tapi Jeno dengan cepat mencekalnya, dan menaikkan ke atas kepala Bulan.
Cup... Jeno mencium sekilas bibir Bulan. "Jeno..." geram Bulan, takut ada yang melihatnya.
"Ini hukuman, karena kamu tidak mengangkat panggilan telepon dariku." tukas Jeno, memperlihatkan ekspresi marah.
Bulan tersenyum samar melihat sikap Jeno, tapi terlihat jelas di mata Jeno. "Bukankah sudah aku angkat."
"Jangan tersenyum." ucap Jeno menampilkan ekspresi kesal.
Kedua tangan Bulan masih berada di atas kepalanya, karena cengkeraman tangan Jeno. Bulan memonyongkan bibirnya. "Lepas Jeno, nanti ada yang lihat." ujar Bulan.
"Jeno." geram Bulan.
Jeno malah meletakkan tangannya yang bebas ke pinggang ramping milik Bulan, dan menariknya ke depan. Sehingga tak ada sekat antara tubuhnya dengan tubuh Bulan.
"Gila, padahal dia masih kelas dua SMA. Kenapa malah tinggi dia dari pada gue." batin Bulan, bisa-bisanya malah fokusnya terarah pada tinggi badan Jeno. Meski badan Jeno lebih tinggi sedikit dari pada Bulan.
Jeno menahan nafasnya, saat Bulan menggerakkan badannya ingin melepaskan diri. "Jangan bergerak. Kamu sangat menyiksa aku sayang." lirih Jeno sambil memejamkan kedua matanya, dengan suara yang terdengar seksi di telinga Bulan.
Bulan langsung berhenti menggerakkan badan. Dirinya tahu kenapa Jeno mengatakan hal tersebut. Kedua buah dadanya menempel sempurna ke dada bidang milik Jeno.
Apalagi, Bulan juga merasakan sesuatu yang berbeda di pahanya. Sesuatu yang keras dengan bentuk panjang.
Bulan menggigit bibir bagian bawahnya. "Makanya, kamu lepaskan aku." pinta Bulan lirih.
Jeno memang melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Bulan, tapi Jeno malah memeluk tubuh Bulan. Meletakkan wajahnya di ceruk leher Bulan, mengendus wangi bau tubuh Bulan.
Bulan menelan ludahnya dengan kasar. Ada rasa yang aneh, menjalar ke seluruh tubuhnya. Bukannya mendorong Jeno, Bulan malah menengadahkan kepalanya. Membuat Jeno dengan bebas mengeksplor leher mulus dan jenjang milik Bulan.
Tangan Bulan mengelus punggung Jeno dengan lembut. Bulan mengangkat sebelah kakinya, menaruh tumitnya di tembok.
Membuat paha Bulan berada di antara ************ milik Jeno. Dimana ada sesuatu yang menonjol dan ingin dipuaskan di bawah sana.
Tangan Bulan naik ke bagian belakang kepala Jeno, Mengelus rambut Jeno, membuat Jeno menaikkan wajahnya.
Menggigit gemas dagu Bulan. Dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Bulan yang sedikit tebal dan seksi. Mengulumnya bagai menikmati sebuah makanan yang sangat enak.
Di bawah, pantat Jeno bergerak maju mundur, tepat di atas paha Bulan.
"Eeeuugghhh..." terdengar suara lenguhan Bulan. Jeno semakin memperdalam ciumannya. Membuat nafas keduanya terengah.
Dengan tiba-tiba, Bulan segera mendorong Jeno ke belakang. Merapikan pakaian serta penampilannya. Dan segera berjongkok. Bulan merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka.
"Iiissshhhh...." ringis Jeno, karena punggungnya terbentur tembok akibat dorongan dari Bulan yang sangat kuat.
"Bulan...." geram Jeno, yang tidak tahu jika ada yang akan datang.
Jeno melangkahkan kakinya hendak mendekatkan diri ke Bulan. Tapi suara seseorang membuat pergerakannya berhenti.
"Jeno,,,, Bu Bulan,,,, kalian kenapa?" tanya salah satu guru. Melihat Jeno berdiri di belakang Bulan, dengan Bulan berjongkok mengambil buku-buku yang berserakan di lantai.
__ADS_1
Jeno sekarang mengerti kenapa Bulan melakukan hal tersebut. Mendorongnya dengan sangat kuat. "Tapi tidak begitu juga. Sakit sekali punggung aku." batin Jeno.
"Tapi,,,, kewaspadaan Bulan memang sangat hebat." batin Jeno.
Jeno mendesis, memegang bahunya. "Kami tidak sengaja bertabrakan pak." ujar Jeno beralasan.
Pak guru memandang tajam ke arah Jeno. "Lagi pula untuk apa kamu keluyuran sampai di sini. Bukankah ini masih jam pelajaran. Kembali ke kelas." tegurnya.
Sedangkan Bulan hanya diam, bersikap acuh. Padahal, dirinya sedang menetralkan degup jantungnya yang masih menggila.
Segera pak guru tersebut berjongkok. Membantu Bulan memunguti buku Bulan yang berserakan di lantai. "Guru sialan. Untung pacar aku memakai celana. Awas saja berani menyentuh milikku." batin Jeno memandang tajam guru tersebut.
"Kenapa masih berdiri di sini. Kembali ke kelas." bentaknya pada Jeno, karena Jeno malah memandang ke arahnya dan Bulan.
"Ini bu." ucapnya, saat keduanya sudah berdiri. Memberikan buku yang dia ambil pada Bulan.
Bulan tersenyum manis. "Terimakasih banyak pak, untung ada bapak yang membantu saya." ujar Bulan sengaja membuat Jeno cemburu.
"Bulan,,,, jangan tersenyum." ucap Jeno yang hanya berani dikatakan dalam hati.
"Bu Bulan mau ke ruangan?" tanyanya, yang mendapat anggukan oleh Bulan.
Diambilnya semua buku yang dibawa oleh Bulan. "Kebetulan saya juga mau ke sana. Sekalian, biar saya bawakan. Pasti bu Bulan juga merasa ada yang sakit. Jeno saja yang seorang lelaki bahunya merasa sakit." jelasnya, percaya dengan alasan yang diucapkan Jeno.
"Baik pak. Terimakasih. Mari." ajak Bulan.
"Tunggu bu." ujarnya menghentikan langkah Bulan.
"Ada apa pak?" tanya Bulan.
Sang guru menatap intens ke arah leher Bulan yang terlihat sedikit memerah dan juga bibir Bulan yang dirasa sedikit bengkak.
Bulan segera sadar kemana arah pandangan guru tersebut. "Ini gatal pak, mungkin saya terlalu kencang menggaruknya." Bulan menggaruk lehernya di semua bagian. Tersadar jika Jeno baru saja memainkan bibirnya di tempat tersebut.
"Kalau bibir saya, terbentur bahu Jeno. Rasanya sakit." cicit Bulan sama sekali membuat alasan yang tidak masuk akal, sebelum pak guru bertanya.
Jeno yang masih berada di tempat melongo aneh menatap Bulan. "Mana ada. Bagaimana caranya bibir nyasar ke bahu." batin Jeno.
"Jeno. Lain kali kamu harus berhati-hati. Lihat karena kamu ceroboh. Bu Bulan yang harus menanggung rasa sakitnya." tegur pak guru, yang menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Bulan.
"Cari muka sekali ini guru." batin Jeno.
"Kamu...!! Bukannya saya sudah menyuruh kamu untuk kembali ke kelas. Apa perlu saya memberi hukuman untuk kamu...!" serunya lagi, karena Jeno masih berdiri santai.
Bulan menggelembungkan kedua pipinya, untuk menyamarkan senyumnya. Rasanya Bulan ingin tersenyum, melihat Jeno kena marah oleh guru lain.
"Silahkan bu." ajaknya dengan ramah pada Bulan.
"Maaf pak, bisa minta tolong."
"Bisa bu, katakan saja."
"Saya mau ke toilet. Bisa bapak bawakan buku saya ke ruangan." pinta Bulan.
"Tentu saja. Ibu tenang saja. Buku ini akan saya pastikan akan berada di atas meja bu Bulan. Jika ibu mau ke toilet, silahkan. Tidak perlu khawatir."
"Terimakasih pak. Saya ke toilet dulu."
Bulan berjalan menjauh, menuju ke toilet. "Hahhh,,,, seandainya bu Bulan mengajak saya juga. Pasti saya tidak akan menolak." cicitnya, melangkahkan kaki ke ruang guru.
Bulan langsung menatap ke arah kaca begitu sampai di toilet. Memandangi leher serta bibirnya dari pantulan kaca. "Jeno sialan. Bisa-bisanya dia melakukan itu di dalam sekolah." gumam Bulan, mengambil bedak yang ada di dalam tasnya.
"Bisa nggak ya untuk menutupinya." cicit Bulan, yang memang hanya membawa bedak dan lipstik, serta minyak wangi di dalam tasnya.
Padahal, Bulan sendiri juga menikmati apa yang Jeno lakukan pada dirinya. Tapi dia malah menyalahkan Jeno.
Bulan menyapukan saput bedak ke lehernya. "Lumayanlah. Untung warna merahnya hanya samar." cicitnya.
Bulan membasuh wajahnya menggunakan air. Membersihkan lipstik berwarna merah di bibirnya. "Sepertinya gue harus membeli foundation." gumam Bulan, yang selama ini memang hanya menggunakan bedak dan lipstik saja untuk merias wajah.
Bulan meraba bibirnya yang terlihat agak membesar. Bulan tersenyum memandangi wajahnya, yang seketika memerah mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. "Ternyata Jeno juga sangat berbahaya." batin Bulan, menggigit bibirnya bagian bawah.
Bulan kembali membasuh wajahnya berulang kali dengan air yang langsung mengalir dari kran di depannya, manakala teringat apa yang dirasakan di pahanya.
Bulan kembali memandangi wajahnya dari pantulan kaca. Tersenyum geli sendiri. Ini pertama kalinya Bulan mengalami hal tersebut.
"Bulan, elo jangan bego. Dia sudah dewasa. Dia sudah berumur tujuh belas tahun. Wajar jika itunya sudah besar." lirih Bulan malu sendiri, membayangkan hal apa yang terbungkus di dalam celana Jeno.
Bulan menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya karena pikirannya sendiri. "Apa yang elo pikirkan. Mesum banget sih otak kecil elo. Elo sudah tua. Bukan gadis remaja." tukas Bulan pada dirinya sendiri.
Sama dengan Bulan, Jeno pun juga masih berada di toilet. Hanya saja, toilet guru dan murid memang berbeda tempat.
Jeno tersenyum sembari menggelengkan kepala. Tidak seperti Bulan yang menatap wajahnya dari pantulan cermin, Jeno tidak melakukan hal tersebut.
Jeno menyandarkan punggungnya di tembok. Menatap tembok di depannya sembari tersenyum. "Sangat manis dan candu. Jangan-jangan, narkoba itu rasanya seperti ini." gumam Jeno nyleneh, membandingkan rasa bibir Bulan dengan benda terlarang.
Jeno mengulum sendiri bibirnya. "Bahkan rasa manisnya masih terasa." lirih Jeno.
__ADS_1
Pandangan Jeno beralih ke bawah, dengan menatap fokus ke sela pahanya. "Menggesekkan di pahanya saja, rasanya sangat nikmat."
Jeno kembali menyenderkan kepalanya di tembok, dengan sedikit mengangkat kepalanya ke atas. "Bulan, dia harus menjadi milik gue." tukasnya.
Jeno mengacak kasar rambutnya yang klimis. "Astaga, gue bisa gila. Semua pikiran gue hanya ada wajah Bulan." cicitnya tersenyum geli pada dirinya sendiri.
Sama seperti Bulan, ini juga pertama kalinya Jeno merasakan hal seperti ini. Rasa yang tak bisa dijabarkan. "Apa seperti ini, rasanya jatuh cinta." cicit Jeno.
Jeno berjalan ke arah cermin. Merapikan penampilannya, menjadi culun seperti biasanya. Mengambil kaca matanya yang dia simpan dalam saku celana.
Jeno meniup kaca matanya. "Untung nggak pecah." cicitnya menggeleng pelan, sembari menggunakan kaca matanya.
Jeno menatap penampilannya dari pantulan cermin. Dirasa penampilannya sudah seperti sebelumnya, Jeno meninggalkan toilet.
Tapi siapa sangka, dua orang siswa telah menanti Jeno di depan pintu. Saat Jeno membuka pintu dan hendak melangkah keluar, keduanya mendorong tubuh Jeno untuk masuk kembali ke dalam toilet.
Jeno hanya diam dan menatap keduanya. "Culun. Jauhi Sella." pintanya.
Jeno yang merasa sama sekali tidak mendekati Sella hanya bersikap santai. "Baik." sahutnya.
"Brengsek. Gue bicara serius. Jangan elo pikir bercanda." seru salah satu dari mereka, menganggap Jeno mempermainkan mereka.
Jeno menaikkan kedua alisnya. "Kalian menyuruh gue menjauhi Sella kan? Ya sudah, baik. Gue saja nggak pernah mendekati Sella." timpal Jeno santai.
"Sialan...!! Jangan karena ada Jevo di belakang elo, elo kira kira takut." ancam temannya, membawa nama saudara kembar Jeno.
Di sekolah, nama Jevo yang ditakuti oleh para murid. Sedangkan Jeno, mereka selalu meremehkan dan memandang rendah Jeno.
Tapi bagi Jeno, itu bukanlah masalah. Yang paling penting, tidak ada yang mencari masalah dengannya. Maka semua aman.
Jeno menghela nafas panjang. "Oke, gue akan jauhi Sella. Sejauh mungkin. Jadi, kalian menyingkirlah. Gue mau keluar." usir Jeno.
Kedua siswa di depan Jeno saling pandang, lalu mengalihkan pandangannya kepada Jeno, dan tersenyum remeh.
Tanpa aba-aba, keduanya melayangkan tangan mereka untuk memukul Jeno. Dengan tenang, Jeno menangkap kedua tangan mereka. Lalu mendorongnya ke belakang.
"Aaa...!!" seru salah satu dari mereka, saat Jeno menendang perutnya, hingga badannya terbentur tembok telat di belakangnya.
Jeno tidak melepaskan tendangannya. Ditahannya, kaki Jeno untuk tetap berada di perut salah satu murid tersebut sembari menekannya.
Sedangkan seorang lagi terjerembab ke bawah, dengan posisi duduk. Saat dia ingin berdiri, Jeno memukul wajahnya. Dengan posisi kaki yang masih sama. Sehingga dia kembali duduk.
Ruangan toilet yang tidak terlalu besar, membuat Jeno dengan mudah menyerang keduanya secara bersamaan.
"Jangan pernah mencari masalah sama gue." ujar Jeno, menurunkan kakinya dari perut siswa di depannya.
Jeno kembali merapikan seragamnya. "Aaa...!!" jerit siswa yang berada di bawah. Karena Jeno menginjak kakinya.
Jeno keluar dari toilet. Tak lupa dia menutup pintunya dari luar. Dan bukan itu saja, Jeno sengaja menguncinya dari luar menggunakan gagang sapu yang terletak di sudut kanan Jeno berada.
Sebelah sudut bibir Jeno terangkat ke atas. "Sella. Siapa juga yang menginginkan perempuan seperti dia. Hanya remahan rengginang. Jauh sekali jika dibandingkan Bulan." batin Jeno, yang memang sama sekali tidak tertarik dengan siswi yang bernama Sella.
Sedangkan di dalam toilet, kedua murid tersebut masih duduk. Memegangi perut serta wajahnya yang terasa sakit.
"Brengsek. Ternyata dia sama saja dengan Jevo." geramnya, menyesal menerima sejumlah uang dari seseorang untuk memberi pelajaran pada Jeno.
"Benar juga. Mana kaki gue sakit banget." keluh temannya.
"Sialan. Jangan sampai dia mengadu pada Jevo. Bisa habis kita." ujarnya.
"Tidak perlu memikirkan Jevo. Dengan si culun saja kita kalah." dengus temannya.
Salah satu dari mereka berdiri. "Loh,,,, kok nggak bisa." tukasnya, saat ingin membuka pintu.
"Kenapa?" tanya temannya, perlahan berdiri dengan menahan sakit di kakinya.
"Tidak bisa dibuka." ujarnya sambil terus menggerakkan gagang pintu.
"Bedebah sialan. Culun mengunci kita dari luar." geramnya.
Keduanya menggedor pintu dari dalam sembari berteriak. Berharap ada yang mendengarnya, dan menolongnya agar bisa keluar dari toilet.
Sayangnya, keadaan masih sepi. Semua siswa masih berada di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.
Dan mereka berdua akan tetap berada di dalam toilet, hingga jam istirahat tiba.
"Kenapa elo lama sekali?" tanya Jevo berbisik, saat Jeno duduk di kursi sebelah Jeno.
"Ada masalah di toilet." lirih Jeno, yang tidak mengatakan jika dirinya lama karena bersama Bulan.
"Toilet?" tanya Jevo bingung.
Jeno tetap menghadap ke depan, memperhatikan guru yang menjelaskan pelajaran di papan tulis. "Mereka gue kurung di toilet." lirih Jeno.
Jevo hanya mengangguk. "Okelah, kita lihat nanti. Jika mereka belum keluar dan masih berada di dalam saat gue ke sana, berarti itu rejeki gue." seringai Jevo.
Jeno mengangkat kedua pundaknya. Tidak perduli apa yang akan dilakukan saudara kembarnya pada mereka berdua.
__ADS_1
Mikel dan Arya saling pandang. Mereka juga merasa ada yang tidak beres. Tapi keduanya tak berani bertanya, karena pasti akan dihukum jika ketahuan berisik dan mengganggu murid lain.