PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 128


__ADS_3

"Suka?" tanya Jeno dengan lembut. Bulan tersenyum sembari mengangguk. Memandang keindahan malam yang tersaji di depannya.


Jeno dan Bulan duduk di atas kap mobil. Dengan Jeno berada di belakang Bulan. Memeluk tubuh Bulan dari belakang. Menaruh dagunya di pundak Bulan.


Suasana tampak begitu tenang. Hanya terdengar deburan ombak yang tidak terlalu besar. Dengan banyak kerlip lampu yang tampak kecil jika dilihat dari tempatnya sekarang. "Jika kita lompat, apa akan mati?" tanya Bulan aneh.


Sebab, mereka berada di atas laut lepas. Dengan jalan menuju ke tempat yang mereka datangi sekarang sedikit sulit. Sebab berada di dataran tinggi.


"Tidak akan aku biarkan kamu melakukannya." sahut Jeno mengeratkan pelukannya. Seolah tidak mau Bulan meninggalkan dirinya.


Bulan tertawa pelan mendengar tanggapan Jeno atas pertanyaannya. "Lagi pula, siapa yang mau terjun bebas ke bawah. Ada-ada saja." tukas Bulan.


"Iiiihhhhh,,,,," Bulan mengusap pipinya yang baru saja dicubit oleh Jeno dengan gemas.


"Kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Bulan penasaran. Sembari mengubah posisinya. Menyenderkan kepalanya di dada bidang Jeno.


"Jevo."


"Kalian pernah ke sini?"


"Hanya sekali. Pulang dari sini malah kecelakaan. Saat itu kita naik motor, boncengan. Berdua." jelas Jeno.


Bulan terdiam. Dirinya memang pernah mendengar jika Jeno mengalami trauma dengan motor. Dan Bulan menebak, jika hal itu terjadi karena Jeno pernah mengalami kecelakaan, bersama saudara kembarnya.


"Kembar. Tapi sangat berbeda." batin Bulan, menilai sikap dan sifat antara Jeno dan Jevo.


"Tunggu." Bulan mengubah kembali posisi duduknya. Sedikit memutar badan, menatap wajah tampan Jeno.


"Hati-hati, nanti jatuh." Jeno memegang pinggang Bulan supaya tidak terjatuh dari mobil.


"Bukankah saat itu aku pernah membonceng kamu. Masih ingat. Waktu kamu mau ke sekolah." tutur Bulan mengingat pernah melakukan hal tersebut. Dan tak ada penolakan dari Jeno.


Bulan memicingkan sebelah matanya. Meminta penjelasan dari Jeno. "Siapa yang menolak, dibonceng perempuan secantik dan seseksi ibu guru seperti kamu." tukas Jeno menangkup kedua pipi Bulan.


Bulan menyingkirkan telapak tangan Jeno di kedua pipinya. "Hati-hati sayang, jangan bergerak-gerak terus. Nanti kamu jatuh." tegur Jeno dengan lembut, takut jika Bulan merosot dari kap mobil.


Tapi Bulan sama sekali tidak mengindahkan apa yang Jeno katakan. Dia masih fokus dengan rasa penasarannya. "Tapi kamu tidak terlihat ketakutan." tukas Bulan.


Jeno mencubit gemas pipi mulus Bulan. Sehingga Bulan hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Cup,,,,, Jeno malah mencium singkat bibir Bulan yang mengerucut. "Jeno..." seru Bulan menahan senyum senangnya.


Bulan berpura-pura mengusap bibirnya yang baru saja di cium oleh Jeno. Dan cup.... Jeno kembali mengecup bibir Bulan. "Diusap lagi, aku cium lagi." ancam Jeno tersenyum jahil.


"Dasar." Bulan memukul pelan dada Jeno. "Ayo jawab, kenapa kamu waktu itu sama sekali tidak terlihat ketakutan." tanya Bulan mengulanginya lagi.


"Karena yang ada di depan kamu." Jeno menoel hidung mancung Bulan.


"Apa hubungannya?"


"Banyak. Mau aku sebutkan."


"Tidak perlu." Bulan kembali mengubah posisi duduknya seperti semula. Membuat Jeno semakin gemas. "Astaga sayang,,, jangan bergerak terus, nanti kamu jatuh." tegur Jeno lagi dan lagi.


"Salah sendiri, kenapa kita duduk di sini." ujar Bulan.


"Mau kemana?" tanya Bulan, melihat Jeno turun dari kap mobil.


"Sebentar. Diam saja di sana." sahut Jeno.


Hanya beberapa detik Jeno pergi, dia kembali dengan membawa tikar berukuran kecil. Bulan hanya diam, melihat apa yang Jeno lakukan.


"Kita ke sana." ajak Jeno, menunjuk ke arah tikar yang sudah dia gelar.


Bulan tahu apa yang diinginkan Jeno, Bulan langsung mengalungkan tangannya ke leher Jeno, dengan sekali angkat, Jeno menggendong tubuh Bulan. Membawanya di atas tikar yang sebelumnya sudah dia gelar.


Sungguh, rasanya sangat tenang dan nyaman. Bulan tidur dengan menggunakan paha Jeno sebagai bantal. "Sangat damai." cicit Bulan, seakan semua masalah yang dia hadapi hilang seketika dari pikirannya.


"Bagaimana kalau malam ini kita tidur di sini? Bukankah besok hari minggu." ajak Jeno menyarankan.


Bulan menatap intens ke wajah Jeno. "Apa yang kamu pikirkan?" Jeno membelai rambut Bulan.


Jeno tertawa melihat Bulan tak segera menyahuti pertanyaannya. Jeno seakan bisa menebak apa yang ada di dalam benak Bulan.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan hal lebih. Meski kamu mengizinkannya. Hanya tidur berdua. Berpelukan. Bukankah kita pernah melakukannya. Apa aku pernah, melakukan hal di luar batas, yang membuat kamu marah." jelas Jeno menyakinkan Bulan.


Bulan menggeleng. "Lagi pula, pasti kamu akan membunuh aku, sebelum aku membuka baju kamu." canda Jeno yang mendapat pukulan pelan dai lengannya oleh Bulan.


"Tapi dingin. Nanti malah masuk angin." tukas Bulan dengan nada manja.


"Kan kita tidur sambil berpelukan." canda Jeno.


"Cckkk,,, tetap saja. Ini di alam terbuka. Mau berpelukanpun, tetap saja akan kedinginan. Yang ada, besok pagi kita malah sakit." papar Bulan.


"Jika di film-film tidak." canda Jeno.


"Jeno,,, itu di film. Memang iya, mereka akan tidur semalam suntuk." sahut Bulan.


"Sebentar. Bukankah kamu pernah mengatakan, jika kamu sering mendapatkan misi di tempat terpencil. Bagaimana kamu akan tidur. Bukankah di alam terbuka juga." tanya Jeno penasaran.


"Itu beda Jeno. Pikiran kita tertuju pada musuh. Bahkan, untuk memejamkan mata saja kita bergantian. Tak lebih dari satu jam." jelas Bulan.


Jeno memandang Bulan dengan intens. "Kenapa?"


Cup,,,, cup,,, cup,,,, Jeno mencium wajah Bulan di beberapa tempat. "Jika kita sudah menikah, aku ingin kamu melepaskan pekerjaan itu. Aku ingin kamu seperti mama. Di rumah, mengurus anak-anak. Biar aku, sebagai suami kamu yang mencari uang untuk kalian." jelas Jeno.


Bulan mencebik. "Mencari uang. Sekarang saja masih kelas dua SMA."


"Tapi sebentar lagi aku akan ujian. Dan naik ke kelas tiga. Lalu lulus SMA."


"Iya. Dan aku akan semakin tua." tukas Bulan.


"Setelah aku lulus SMA, kita menikah."


"Memang kamu nggak kepengen kuliah. Perempuan di universitas pasti cantik-cantik."


"Kita menikah, lalu aku kuliah."


"Dan aku yang bekerja mencari uang." sahut Bulan.


"Tidak, bukankah aku sudah bilang. Kamu di rumah. Biar aku yang kuliah sambil bekerja."


"Tidak, aku ikhlas melakukannya. Apalagi aku akan punya warisan dari papa dan mama. Dari sana, kita akan mengembangkan bisnis. Berdua." ungkap Jeno memerinci semuanya.


"Idih,,, kalau dikasih. Kalau tidak bagaimana?"


"Dikasihlah. Tega sekali mereka pada anak dan mantunya."


"Lagian, semua akan berubah saat kita menikah. Saat kita berumah tangga."


"Memang berubah. Kita akan lebih saling mencintai."


"Jika sebaliknya bagaimana? Apalagi umur aku lebih banyak dari kamu. Pasti aku yang akan menua lebih dulu."


"Aaaa,,, sudahlah. Jangan bahas itu. Nanti yang ada kita malah bertengkar. Nggak jadi deh bermalam di sini." tukas Jeno menyudahi perdebatan kecil mereka.


Jeno menurunkan dengan pelan kepala Bulan dari pahanya. "Sebentar."


Bulan hanya melihat kemana Jeno pergi. "Mau apa lagi dia?" batin Bulan.


"Bantu aku sayang..!!" seru Jeno mengeluarkan sesuatu dari dalam bagasi.


Bulan yang merasa penasaran segera beranjak dari tidurnya. "Astaga, kamu sudah mempersiapkan semua dari rumah." tebak Bulan.


"Betul." sahut Jeno.


Tampak sebuah tenda dan kasur lipat di dalam bagasi. Bahkan bukan hanya itu saja, ada satu bantal berukuran panjang dan sebuah selimut.


Bulan tertawa pelan, membantu Jeno mengeluarkan semuanya dari dalam bagasi. Keduanya mulai memasang tenda. Memasukkan tikar sera kasur lipat ke dalam tenda. Tak lupa bantal juga selimutnya.


"Tralaaaaa.... pasti nanti malam kamu nggak akan kedinginan. Apalagi ada aku yang siap memeluk kamu." gombal Jeno memeluk tubuhnya sendiri.


"Ayo masuk." ajak Jeno menarik lengan Bulan untuk masuk ke dalam tenda.


"Tidur sekarang apa nanti?" tanya Jeno.

__ADS_1


"Sekarang saja. Aku sangat mengantuk." cicit Bulan.


Segera Jeno menarik resleting yang terpasang di tenda. Menyalakan senter kecil yang sengaja dia bawa dari rumah. Sehingga tidak terlalu gelap. Sedikit remang-remang.


"Hangatkan." Jeno memeluk tubuh Bulan di bawah selimut tebal.


"Sayang, kapan kamu akan mengenalkan aku pada kedua orang tua kamu?" tanya Jeno memandang wajah cantik sang pujaan hati.


"Bukankah kamu sudah kenal."


Cup,,,, Jeno mencium pipi Bulan. "Bukan itu. Maksud aku, Jeno sebagai kekasih kamu. Bukan anak dari atasan kamu." jelas Jeno, masih mengingat kebohongannya pada kedua orang tua Bulan.


Bulan terdiam. Tidak segera menyahuti apa yang Jeno tanyakan. "Aku hanya ingin kamu mengenalkan aku sebagai kekasih kamu. Jangan sampai kamu nanti dijodohkan dengan lelaki lain." ungkap Jeno mengeluarkan ketakutannya.


Bulan tersenyum. Mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Membuat keduanya saling bersitatap. "Tidak akan, kedua orang tuaku tak akan melakukan hal itu." sahut Bulan.


Sayangnya, perkataan Bulan sama sekali tidak membuat perasaan Jeno tenang. Rasa takut kehilangan tetap ada di dalam hatinya.


Cup.... Bulan mencium singkat dahi Jeno. "Apa lagi?" tanya Bulan.


"Apa kamu mencintai aku?" tanya Jeno tiba-tiba.


"Memangnya, kamu mencintai aku?" bukannya memberi jawaban, Bulan malah bertanya balik.


"Jika aku tidak mencintai kamu, pasti aku akan memasukkan belalaiku ke dalam gowa hangat milikmu."


Bulan langsung memukul dada Jeno berkali-kali. "Perkataan macam apa itu." dengus Bulan kesal.


Jeno menangkap kedua tangan Bulan. Mencium keduanya bergantian dengan lembut. "Karena aku mencintai kamu, makanya aku tidak melakukannya. Aku akan menjaga kamu. Dan kita akan melakukannya setelah kita halal di mata agama dan hukum." jelas Jeno.


Bulan tersenyum bangga. Bulan mengacungkan kedua jempolnya pada Jeno. Meski masih remaja, Jeno bisa menahan hasratnya saat berduaan dengan dirinya.


"Tapi kamu normalkan?" tanya Bulan dengan tatapan menyelidik.


"Sayang,,,!! pertanyaan macam apa itu." kesal Jeno, tapi dengan nada tinggi, namun terdengar lembut.


"Eehh,,, mau apa?" seru Bulan, melihat gelagat aneh dari Jeno. Saat Jeno setengah berdiri dan menatap ke arah Bulan.


"Mau membuktikan, jika belalaiku bisa berdiri tegak dan berfungsi dengan normal." ujar Jeno seakan hendak membuka resleting celananya.


Bulan segera menyembunyikan dirinya di balik selimut tebal tersebut. "Jeno,,, jangan macam-macam, atau kamu tidak akan pernah mempunyai benda itu lagi...!!" seru Bulan dari balik selimut.


Jeno tersenyum melihat tingkah Bulan. "Ayo buka... Lihat punyaku.... ayo..." Jeno dengan pelan menggoda Bulan, membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Bulan.


Apa yang dilakukan Bulan dan Jeno didalam tenda, membuat tenda bergerak hebat. Seakan keduanya sedang melakukan hal terlarang. Padahal, keduanya sedang bercanda dan saling meledek.


Keduanya terasa lelah karena saling meledek dan bercanda. Sehingga membuat mereka tertidur lelap seraya berpelukan. Malam yang dingin, tak terasa sama sekali. Karena mereka saling menghangatkan, ditambah sebuah selimut tebal membungkus keduanya.


Di kediamannya, Nyonya Rindi tidak bisa tidur. Selalu mengubah posisinya saat berbaring. Membuat tidur Tuan David terganggu.


"Ma, ada apa sih?" tanya Tuan David.


Nyonya Rindi duduk. Pandangannya menyiratkan rasa khawatir. "Pa,,, bangun."


Tuan David membuka kedua matanya dengan paksa, karena tubuhnya digoncang sang istri. "Apa?"


"Mama khawatir dengan Jeno dan Bulan." cicitnya.


"Ma, bukankah Jeno mengatakan tidak akan pulang malam ini." tutur Tuan David dengan kedua mata hendak terpejam kembali saking mengantuknya.


"Pa,,, mama khawatir mereka melakukan sesuatu di luar batas." Nyonya Rindi kembali menggoyang tubuh Tuan David.


Tuan David hanya bisa menghela nafas kasar. "Ma, percaya dengan Jeno. Lagi pula, apa Bulan terlihat seperti perempuan gampangan." tukas Tuan David ingin sang istri tak mengganggu tidurnya lagi.


"Tap...."


Belum selesai Nyonya Rindi mengatakan apa gang ingin dia katakan, Tuan David menarik lengan sang istri untuk kembali berbaring. "Tidurlah, sudah malam."


Tuan David memeluk sang istri dengan erat. "Pa..."


"Ma,,, percaya dengan mereka. Jeno putra kita. Mama seharusnya mengetahui sifat Jeno lebih dari papa. Dan Bulan, dia perempuan terhormat. Lebih baik sekarang kita tidur. Papa sudah mengantuk." tukas Tuan David dengan kedua mata yang terpejam.

__ADS_1


Mau tak mau, Nyonya Rindi memejamkan kedua matanya. Dan tak lagi memikirkan Bulan dan Jeno yang sekarang juga sedang terlelap.


__ADS_2