
Dengan tiba-tiba, Bulan menghentikan motornya di perempatan jalan. Padahal tak ada rambu-rambu di perempatan jalan tersebut. Tampak sepi dan sunyi. Sebab malam semakin larut.
Bulan menatap ketiga jalan di depannya. Lurus, belok kanan, dan belok ke kiri. Semua jalan tersebut terhubung dengan jalan menuju markas. Hanya jarak yang membedakannya.
Seolah Bulan sedang berpikir untuk melalui jalan yang sebelah mana. "Lewat sini saja." tukas Bulan, memutuskan mengambil jalan di sebelah kanannya.
Bulan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa, Bulan memilih untuk melewati jalan yang sepi, dimana di kanan kiri jalan hanya ada tumbuhan ilalang yang lebat. Dan beberapa tumbuhan liar lainnya. Serta beberapa pohon berukuran besar.
Bulan menghentikan kembali motornya. Indera pendengarannya menangkap suara tawa yang sangat keras. Yang membuatnya merasa penasaran.
Di pejamkannya kedua matanya, di rasakan dengan sangat dari mana arah suara tersebut berasal. Bulan menoleh ke samping kanan.
Dimana tidak ada jalan di samping kanannya. Hanya ada tumbuhan ilalang. Tapi Bulan yakin, jika suara tersebut berasal dari sana.
Bulan menyimpan motornya ke dalam tumbuhan ilalang. Hanya untuk berjaga-jaga. Meski sekarang jalan dalam keadaan sepi. Siapa tahu nanti ada orang yang lewat dan melintasi jalan tersebut.
Seperti biasa, Bulan berjalan membelah tumbuhan ilalang dengan pelan. Tak menimbulkan bunyi. "Suaranya semakin dekat." batin Bulan mendengar suara tawa renyah dari seorang laki-laki.
Bulan menghentikan langkahnya, saat dirinya merasa tumbuhan ilalang di depannya telah habis, dan hanya tinggal sedikit.
Bulan berjongkok, perlahan menyingkirkan ilalang yang menghalangi pandangannya dengan cara menyibak secara pelan. Kedua mata Bulan terbelalak melihat apa yang ada di depan matanya.
Seorang lelaki yang pastinya Bulan dangat kenal, sedang tertawa senang. "Rio." gumam Bulan, yang hanya mengetahui jika dia bernama Rio, karena pernah memakai wajah serta nama Rio.
Bulan memicingkan sebelah matanya, melihat mobil di depan Rio yang bergoyang. "Siapa di dalam?" tanya Bulan pada dirinya sendiri, menajamkan penglihatannya.
Bulan tetap tak bisa melihat dengan jelas siapa dan berapa orang yang berada di dalam mobil. Segera Bulan memencet sebuah tombol kecil di jaketnya, merekam semua yang ada di depannya.
Bulan duduk dengan tenang. Masih menyaksikan tanpa ingin berbuat sesuatu. Sebab Bulan sendiri tak tahu apa yang terjadi di depannya saat ini.
Oleh karenanya, Bulan perlu melihat situasi dan keadaannya terlebih dahulu, sebelum dirinya memutuskan sesuatu untuk bertindak.
Tak berselang lama, Rio membuka pintu mobil. Bulan bisa melihat dengan jelas, dua perempuan yang masih muda berusaha keluar dari dalam mobil dengan susah payah.
Tampak kedua perempuan tersebut terlihat lemas tak bertenaga. "Gila..! Apa yang terjadi pada mereka." cicit Bulan, menatap ke arah mobil yang tampak baik-baik saja.
Bulan bisa menebak jika di dalam mobil terdapat sesuatu. Hingga membuat keadaan kedua gadis tersebut sampai seperti itu. "Pasti dia memberikan sesuatu pada kedua perempuan tersebut." tukas Bulan lirih.
Bulan mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah teropong kecil, yang akan dia gunakan untuk melihat keadaan di dalam mobil.
Bersih. Bulan tak melihat apapun di dalam mobil. Tampak seperti mobil pada umumnya. "Tidak ada asap. Berarti bau." tebak Bulan, mengembalikan teropongnya ke dalam sakunya.
Bulan menaikkan sebelah alisnya, melihat apa yang diambil Rio dari dalam bagasi mobilnya. "Psikopat." geram Bulan.
Melihat Rio mengambil dua buah rantai berukuran panjang. Memasangkannya pada setiap satu kaki di kedua gadis tersebut.
"Apa yang akan dia lakukan?" gumam Bulan, mengambil senjatanya dari balik jaketnya. Dua buah pisau lipat yang siap Bulan lemparkan pada Rio, seandainya Rio berniat menghabisi keduanya.
Bulan menebak jika Rio tak ingin begitu saja menghabisi nyawa keduanya. Mengingat bagaimana karakter Rio selama ini.
Di mana dia senang bermain dengan para korbannya, sebelum dia menghabisi keduanya. "Sungguh luar biasa biadab." geram Bulan.
Rio duduk jongkok, memegang rantai di setiap tangannya. Menggerakkan dengan kuat, sembari sedikit menariknya. "Bangun...!! Jangan malassss...!!" teriaknya.
Dia perempuan tersebut perlahan mulai sadar kembali. "Apa ini." ujar salah satu dari mereka, menyadari jika ada rantai yang melilit di salah satu kakinya.
"Waaaoowwww..... elo sudah sadar...!!" seru Rio sembari tertawa puas.
"Lepaskan ini...!! Gilaaa...!!!" teriaknya, membuat temannya perlahan juga tersadar.
"Apa yang terjadi?" tanyanya mendengar temannya berteriak.
"Lihat ini." tunjuknya pada pergelangan kakinya.
Keduanya merasa lega karena bisa keluar dari dalam mobil. Tapi ternyata sesuatu yang menantikannya di luar sangatlah mengerikan.
prok,,, prok,,, prok,,, Rio bertepuk tangan sembari tertawa senang. "Bagus,,,, kalian sudah sadar. Saatnya bermain." seru Rio dengan tawa iblisnya.
"Apa salah kami...?! Lepaskan kami...!" seru salah satu perempuan tersebut berontak, berusaha melepaskan rantai di pergelangan tangannya.
"Tenang,,,, gue akan melepaskan kalian." ujar Rio, berjalan menuju mobil bagian belakang.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Bulan, melihat Rio dengan seksama.
__ADS_1
Rio berdiri di belakang mobil, membuka bagasinya. Mengaitkan rantainya di dalam bagasi mobil. "Selesai." ucapnya menepukkan kedua telapak tangannya.
Bulan menggeleng tak percaya. Bulan bisa menebak apa yang akan dilakukan Rio. Menyeret kedua gadis tersebut dengan rantai yang terikat di pergelangan kakinya yang di kaitkan dengan bagian mobil di dalam bagasi.
Rio dengan tenang masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin mobilnya. Kedua gadis tersebut berteriak histeris. Mereka sekarang tahu apa yang akan dilakukan pada mereka.
Menyesal. Tentu saja mereka berdua sangat menyesal. Karena menerima kebaikan orang yang ternyata adalah sebuah jebakan yang mematikan bagi mereka.
Mobil Rio perlahan mulai berjalan. "Biadab..!!" geram Bulan.
Kedua perempuan tersebut terus berteriak meminta tolong sembari berlari. Sebab, mobil juga sudah mulai melaju.
Sementara Rio yang berada di dalam mobil, menyetir mobil sembari menyalakan musik yang ada di dalam mobil dengan volume sangat keras. Ditambah dirinya juga ikut bernyanyi menirukan lagu tersebut.
Kedua perempuan tersebut masih bisa berlari menyeimbangkan tubuh. Meski kaki mereka terikat rantai. Karena laju mobil masih pelan.
"Ayo....!!! Lari....!! Kita berolah raga malam....! Agar badan sehat...!!!" teriak Rio dari dalam mobil bersamaan dengan suara musik yang menggelegar.
Apa Rio tidak takut ketahuan orang. Jawabannya adalah tidak. Rio sangat hapal di luar kepala keadaan di sekitar tempat dia akan bersenang-senang melebihi siapapun.
Di sekitar tempat inilah Rio dibesarkan oleh sang kakek. Dan di tempat inilah, Rio selalu menyalahkan takdir yang menurutnya sangat tidak adil untuk kehidupannya.
Bulan masih memikirkan cara menyelamatkan keduanya. "Apa yang harus gue lakukan?" tanya Bulan pada dirinya sendiri, sembari melihat ke arah kedua perempuan yang terus berlari.
Nampak jelas, keduanya mulai terengah. Meski Rio melajukan mobilnya dengan perlahan dengan memutari ilalang. Bahkan, Rio juga menerobos ilalang, membuat tumbuhan liar tersebut tumbang bersamaan dengan roda mobil yang melindasnya.
Bulan harus memikirkan cara menyelamatkan keduanya tanpa Rio tahu. "Apa yang harus gue lakukan? Ayo Bulan.. berpikirlah..." gumam Bulan dengan cemas.
Di saat Bulan sedang berpikir, Bulan merasakan pergerakan di belakangnya. Bulan menajamkan indera penglihatannya. "Ini,,,,, manusia." batin Bulan.
Dengan segera, Bulan bersiap. Segera Bulan membalikkan Bulan dengan tangan sudah berada di leher orang tersebut.
"Tahan,,, saya tidak bermaksud jahat." lirihnya, dengan pandangan menatap ke arah belakang Bulan.
Bulan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sebab, dirinya harus tetap menjaga identitasnya. Tak ada yang boleh mengetahui jenis kelaminnya.
Bulan menekan tangan yang memegang pisau kecil ke leher kakek tua tersebut. "Tenang. Saya orang baik. Saya seperti kamu yang ingin menolong kedua gadis itu."
Tentu saja Bulan tidak serta merta percaya begitu saja. Bulan menekan senjata yang dia pegang di tangan yang satunya ke perut lelaki tersebut.
Bulan menatapnya tajam. "Sumpah. Saya tidak berbohong. Rumah saya tidak jauh dari tempat ini. Dan dia cucu saya. Tapi saya tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Sayangnya, saya tidak berdaya. Saya tidak bisa melakukan apapun." jelasnya panjang lebar.
Bulan melihat dengan jelas, tak ada kebohongan pada kedua mata sang kakek. Bulan berpikir, apakah dia harus mempercayainya, atau malah menyingkirkannya.
"Aaaaaa......!!!" terdengar suara jeritan dari salah satu perempuan tersebut. Kakinya tak lagi mampu berlari, sehingga dirinya terjatuh. Menyebabkan badannya terseret mengikuti arah laju mobil.
Dapat dipastikan, punggungnya pasti terluka karena gesekan dengan aspal serta benda lainnya. Sedangkan perempuan yang satunya masih sanggup berlari.
"Jangan banyak berpikir. Jangan sampai Timo menghentikan mobilnya, dan malah akan memainkan permainan lainnya. Kita harus menolongnya. Meski hanya seorang." tekan sang kakek.
"Timo." bibir Bulan yang berada di dalam kain yang dia gunakan sebagai penutup wajah tersenyum miring.
Bulan menarik kedua senjata tajamnya pada sang kakek. Tanpa mengatakan apapun, Bulan kembali fokus pada perempuan yang terus berteriak kesakitan karena terseret mobil Timo yang terus melaju.
Tanpa mempedulikan sang kakek, Bulan berlari mencari tempat awal, sebagai langkah yang akan dia ambil sebagai rencana penyelamatannya.
Sementara sang kakek yang sudah terbiasa hidup di sekitar tempat ini, tidak mempunyai kendala untuk mengikuti kemana arah kaki Bulan melangkah. Meski dirinya tertinggal jauh dari Bulan.
"Di sini." gumam Bulan.
Bulan berdiam diri. Mengeluarkan sebuah alat yang akan dia gunakan untuk meregangkan atau memutus rantai besi, sehingga bisa membebaskan kedua gadis tersebut.
Bulan menggelindingkan tubuhnya di belakang mobil, saat mobil melaju. Memastikan jika tubuhnya tidak terlihat oleh Timo dari kaca pantau.
Bulan menaruh jati telunjuknya di bibir saat kedua perempuan tersebut hendak berteriak. Sedangkan salah satu tangan Bulan bergelayut di bagian belakang mobil.
Kedua perempuan tersebut sepertinya paham akan yang diinginkan Bulan. Keduanya tetap berteriak meminta tolong, dengan pandangan menatap Bulan, yang hendak masuk ke dalam bagasi secara pelan, agar Timo tidak merasakan pergerakannya. Sebab, bagasi mobil terbuka lebar.
Sedangkan sang kakek berlari di dalam ilalang. Dirinya bermaksud membantu Bulan. Menyembunyikan perempuan yang sudah terlepas dari rantai.
Bulan dengan segera melepas rantainya menggunakan alat yang ada di tangannya. Mudah dan cepat. Bulan melakukannya hanya dalam hitungan detik.
Satu perempuan terbebas. Dengan segera, sang kakek menarik tubuh gadis tersebut ke dalam ilalang. "Jangan berteriak, kami orang baik." ucap sang kakek.
__ADS_1
"Diam di sini. Saya akan menolong teman kamu. Ingat,,,!! Jangan membuat gerakan yang akan membuat lelaki jahat tersebut curiga." jelas sang kakek mengingatkan.
Perempuan muda tersebut mengangguk. "Satu lagi. Jaga rantai ini, jangan sampai berbunyi." tunjuk sang kakek pada rantai yang berada di sampingnya.
"Baik pak."
Segera sang kakek berlari mencari keberadaan Bulan. Dirinya tentu ingin membantu Bulan kembali. Sang kakek melihat sang gadis sudah tergeletak di tengah jalan dengan rantai terputus.
Segera dia menariknya masuk ke dalam ilalang. Bulan segera meninggalkan bagasi mobil, menghampiri sang kakek yang terlihat kesulitan.
Bulan datang tepat waktu, hampir saja Timo melihat mereka berdua dari kaca pantau. Beruntung Bulan langsung berlari menubruk tubuh keduanya hingga mereka terjatuh ke dalam tumbuhan ilalang.
Tak mau membuang waktu, Bulan menggendong perempuan tersebut untuk menghampiri temannya dipandu oleh sang kakek.
Setelah sampai di tempat sang kakek menyembunyikan teman perempuan tersebut, mereka segera meninggalkan tempat terkutuk itu sebelum Timo menyadarinya.
Sang kakek merangkul salah satu gadis yang masih terlihat kuat, keduanya berjalan perlahan. Sementara Bulan, menggendong salah satu perempuan yang mang sangat lemah di atas punggungnya.
Mereka berhenti, saat berada di tempat di mana Bulan menghentikan motornya. Bulan mengeluarkan kertas kecil beserta pena.
SEBAIKNYA KAKEK SEGERA KEMBALI
JANGAN SAMPAI TIMO CURIGA
DAN KAKEK MALAH AKAN CELAKA
Bulan memberikan tulisan tersebut pada sang kakek. "Bagaimana dengan kalian?" tanya kakek dengan raut wajah khawatir.
TENANG SAJA. KAMI JUGA AKAN SEGERA PERGI MENINGGALKAN TEMPAT INI
Bulan kembali memberikan kertas yang sudah ada coretan tinta pada sang kakek.
Sang kakek mengangguk. "Baik. Terimakasih banyak. Kalian harus segera pergi. Berhati-hatilah." tukasnya.
Bulan mengangguk. Bulan melepaskan rantai yang melingkar di kaki kedua gadis tersebut. Bulan segera mengambil motornya. Membonceng keduanya di atas motor.
"Biar saya yang berada di belakang." ujar perempuan yang masih terlihat kuat. Berbeda dengan temannya yang terlihat lemas.
Bulan mengangguk. Melajukan motornya dengan segera, meninggalkan tempat tersebut sebelum Timo menyadari jika dia telah kehilangan mainannya.
Bulan menghentikan motornya di dekat rumah sakit. Tapi sebelum meninggalkan keduanya, Bulan kembali menuliskan sesuatu untuk dia berikan pada kedua gadis tersebut.
JANGAN KATAKAN APA YANG TERJADI PADA SIAPAPUN.
DIA LELAKI BERBAHAYA YANG MEMPUNYAI BANYAK WAJAH.
DENGAN MUDAH DIA AKAN MENEMUKAN KALIAN DENGAN WAJAH LAIN, JIKA KALIAN MELAPORKANNYA PADA PIHAK BERWAJIB.
KATAKAN SAJA JIKA KALIAN MENGALAMI KECELAKAAN TUNGGAL.
Salah satu perempuan tersebut segera mengangguk, setelah membaca tulisan dari Bulan. "Baik. Terimakasih banyak telah menolong kami." ucapnya.
Meski sebenarnya perempuan tersebut merasa aneh. Kenapa orang yang menolongnya malah melarangnya untuk melaporkan pelaku kejahatan ke pihak berwajib.
Tapi dia berpikir rasional. Kemungkinan besar, apa yang dikatakannya adalah suatu kebenaran. Buktinya, dia dengan rela menolong keduanya. Hingga membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Bulan mengangguk. Dan meninggalkan mereka berdua. Tapi, Bulan tidak pergi begitu saja. Dia menghentikan motornya di seberang jalan.
Memastikan jika keduanya akan baik-baik saja dan masuk ke dalam rumah sakit. Setelah melihat ada petugas rumah sakit yang membantu mereka berdua, Bulan langsung memacu motornya untuk pergi ke markas.
Bulan mempunyai pemikiran lain, kenapa melarang mereka melaporkan Timo kepada pihak berwajib. Alasan yang pertama adalah keselamatan mereka.
Bulan yakin keduanya akan bernasib seperti Serra. Yang hingga kini, Timo masih selalu memantaunya. Dan dapat dipastikan, Serra masih dalam keadaan bahaya.
Bulan menebak, Timo menargetkan kembali Serra karena dia telah melaporkan dirinya pada pihak berwajib.
Sedangkan sang kakek, senyum sempurna terukir di bibirnya. Ini pertama kalinya dia merasa menjadi orang yang berguna.
"Tuhan, terimakasih banyak. Mengirimkan seseorang di saat yang tepat." gumamnya, membayangkan saat Bulan dengan berani menyelamatkan kedua gadis tersebut.
Sang kakek segera mengganti pakaiannya. Dirinya yakin, jika Timo akan tahu jika dirinya baru saja keluar. Sebab, pakaiannya melekat bau ilalang serta bau-bau lainnya.
Dirinya tidak meletakkan pakaiannya di keranjang pakaian kotor, atau menaruhnya di kamar mandi. Tapi menyembunyikannya di tempat yang dia tebak sang cucu tidak akan bisa menemukannya.
__ADS_1
Setelah memastikan semuanya dengan baik, sang kakek berbaring di atas ranjang yang sudah reyot dan keras. Memejamkan kedua matanya dengan perasaan tenang.
Malam ini, dirinya yakin jika akan tidur dengan nyenyak.