PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Gadis yang Tersesat


__ADS_3

Mobil terparkir tepat di sebelah motor matic keluaran terbaru. Aku turun setelah melepas sabuk pengaman dan hendak bertabrakkan dengan Ayumi di ujung tangga teras. Gadis itu tampak terburu-buru. Sekilas kulihat dia cemberut dan punggung tangannya sigap mengusap air mata. Beriringan dengan suara keras paman dari dalam. "Mau jadi apa kamu! Tiap hari keluyuran!"


Aku paham situasinya. Sebelum Ayumi mencapai gerbang, kuuikuti dia dan kutarik lengannya. Dia memberontak, tapi cekalanku lebih kuat.


"Mau ke mana?"


"Bukan urusan, Abang!"


"Abang antar."


"Lepas!" Gadis itu masih mencoba melepaskan diri. Namun, tak berhasil. Membuatnya duduk jongkok dan menangis tersedu. Aku diam, menghela napas seraya menoleh ke kanan-kiri. Lalu, memutuskan jongkok menemani si gadis. Ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Kutunggu tangisnya reda. Meski kakiku kesemutan. Buset! Tahan juga dia. Aku bersiul menirukan lagu romantis yang sedang digandrungi anak muda saat ini. Mungkin karena siulanku yang merdu atau karena dia sudah lelah menangis, Ayumi mengusap air matanya.


Semua make up yang dia kenakan luntur membuat wajah manisnya menjadi aneh. Aku tersenyum simpul, lalu menarik kedua tangannya yang masih sibuk dengan air mata. Ayumi diam tangannya luruh ketika kulepas, kedua jempolku kini mengusap pipinya.


"Mau es krim?" tawarku yang diikuti desiran halus di hati. Aku ingat Dilara. Wajah gadisku tiba-tiba lewat.


Ayumi menyahut dengan anggukkan. Kemudian, tangannya kupegang dan kutarik menuju mobil.


Kami pergi ke toko yang buka dua puluh empat jam. Ayumi kubiarkan memilih. Dua buah es krim dalam cone, dua buah es krim rasa cokelat dan satu es krim mewah nan anggun yang iklannya selalu menampilkan wanita seksi. Selepas membayar, aku mengajak Ayumi duduk di taman tak jauh dari toko itu.


Taman yang dipenuhi pohon akasia itu membuat keteduhan di sekitarnya. Kami mengambil tempat duduk tak jauh dari pohon yang menghadap jalan raya. Ayumi duduk dan segera mengambil salah satu es krim. Membukanya setelah menyodoriku satu. Kami menikmati es krim dalam diam hingga tandas.


"Kenapa papamu marah?" tanyaku ketika gadis itu duduk kembali setelah membuang sampah di tong.


Ayumi diam. Kepalanya menunduk melihat kedua kakinya yang terus berputar membentuk pola lingkaran.


"Nggak mau jawab? Atau nggak ingin kesalahanmu terbongkar?" Ini hanya sebuah pancingan. Aku yakin dia melakukan kesalahan entah apa. Paman tak serta merta marah jika tidak ada yang memicu.


"Papa tahu aku bolos dan ...." Kalimat Ayumi menggantung membuatku menoleh menatapnya. Dia menggigit bibir bawah disertai kaca-kaca yang mulai timbul di pelupuk mata. Aku masih diam menunggu. Lima menit gadis termenung, lalu mengangkat kepala hingga menengadah. "Aku kepergok di hotel," lirihnya bersamaan desau angin yang membelai anak rambut gadis itu.


Aku terhenyak. Miris itu yang kurasakan. Namun, segera kututupi rasa kagetku. Tiba-tiba rasa kecewa menyusup. Bahkan semua nasihatku tak digubris sama sekali. Inikah hasil didikan paman dan bibi? Seorang anak yang tanpa ragu dan malu melenggang ke hotel bersama orang yang bukan mahram.


"Kamu tau kalau itu salah?"


"Ke hotel?"


"Iya. Ke mana lagi emang?"


"Gak salah si kalau pacar ingin membuktikan rasa cintanya."

__ADS_1


"Dengan?" tanyaku sedikit was-was. Aku berharap pikiran buruk yang berkelebat di kepala tadi tidak akan keluar dari mulut Ayumi sebagai pengakuan.


"Bobok barenglah, Bang. Masak Abang nggak pernah ngelakuin ama pacar Abang."


Deg! Perasaan campur aduk menguasai hatiku. Aku memejamkan mata, lalu mengusap wajah dengan kasar. Tak sanggup membayangkan apa yang terjadi.


"Tapi, belum sempet." Gadis itu berkata lagi dengan suara sedih. "Papa memergoki saat kami baru tiba di lobi. Ternyata papa ada acara di hotel ini. Gagal, deh," ucapnya penuh kekecewaan.


Aku menghela napas lega. "Terus tadi waktu Papa marah, kamu mau ke mana?"


"Papa ngusir aku. Katanya pergi aja dari rumah daripada malu-maluin."


"Ya jangan. Kalau pergi emang mau ke mana? Punya tujuan gitu?"


"Ke rumah Ardhi, dong. Dia akan dengan suka rela menerimaku."


"Ck! Denger Ayumi. Semua laki-laki itu memberi sesuatu pasti ada maunya. Kamu diterima Ardhi, pasti Ardhi minta sesuatu sama kamu."


"Tidur bersama misalnya? Ah, Bang, temen sekelas aku hampir separuh melakukan itu. Nggak heran lagi."


Aku mengerutkan dahi mendengar hal itu. Sungguh di luar dugaan mendengar pengakuan Ayumi.


"Kamu tau imbas dari melakukannya?"


"Palingan?" Aku bertanya tak percaya saat Ayumi mengatakan hal itu dengan enteng. "Bahaya, lo, itu."


"Nanti, kan, bisa digugurin."


"Kalian yang melakukan dosa, sementara bayi nggak tahu apa-apa itu terkena imbasnya. Di mana hati nurani kalian?" Aku mengalihkan pandangan dan menghela napas kasar. Kepala berdenyut. Bagaimana bisa gadis ini begitu menganggap enteng hal yang berhubungan dengan dosa dan nyawa.


"Putuskan Ardhi! kalau nggak ingin kubuat dia ******!" kataku lirih, tapi penuh penekanan. Bahkan dengan suara bergetar tak mampu lagi menahan rasa nyeri. Aku menatap Ayumi yang tengah memandang tak percaya kepadaku.


"Kita pulang dan minta maaf sama papamu."


"Nggak! Papa udah usir aku dari rumah."


"Kalau kamu bersikeras, mau tidur di mana? Jangan bilang rumah Ardi," hardikku.


Ayumi mengerjap cepat. Mungkin sedikit bingung karena aku bisa keras padanya juga mengancam.


"Ke rumah Abang aja, boleh?" tanyanya kemudian dengan pelan. Aku diam sejenak. Menimbang mana keputusan terbaik. Jika pulang ke rumah bisa jadi paman masih marah padanya. Mungkin sementara waktu hingga amarah paman reda, Ayumi diungsikan dulu.

__ADS_1


"Ikut abang." Ayumi mengikutiku masuk mobil yang kuparkir di toko tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan aku tak henti memberi nasihat. Entah didengar atau tidak, yang jelas setidaknya dia tahu apa yang dilakukan itu salah.


Mobil kuhentikan di depan rumah sederhana, tapi kelihatan asri. Aku mengajak Ayumi turun, memberi isyarat untuk mengikutiku ke pintu. Setelah mengetuk tiga kali, pintu terbuka.


"Yas, bisa numpang nginep keponakan aku semalam aja?"


Ayyas, sekretarisku mengangguk meski awalnya bingung. Dia tak banyak tanya karena memang sudah saling kenal sejak perusahaan dipegang paman.


"Loh, bukan ke rumah Abang?"


"Nggak boleh nginep di rumah bujang," kataku seraya mengambil ponsel milik Ayumi dari genggamannya. Gadis itu protes, tapi aku tetep mengambilnya. "Supaya aman, HP kamu abang ambil." Ayumi cemberut dan berhenti merebut ponselnya dari tanganku.


"Yas, kalo ada apa-apa cepat hubungi saya, ya." Aku mengalihkan pandangan kepada Ayyas lagi.


"Iya, Pak." Ayyas mengangguk dan segera memberi jalan agar Ayumi bisa lewat dan masuk rumah.


"Terima kasih. Saya pulang dulu."


Aku bergegas ke rumah paman untuk memberi tahu Ayumi ada di mana. Selain itu juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika bisa akan memberikan nasihat untuk keduanya. Walaupun aku tak yakin mereka akan mendengar.


***


Ruang keluarga paman tampak hangat. Beberapa lampu dinding yang menempel di sudut-sudut tertentu menyala dengan sinar kekuningan. Lampu kristal besar di pasang tepat di atas meja makan panjang. Sinar lampu keemasan memancar ke seluruh ruangan. Di ujung meja sudah menunggu paman. Sementara di sisi sebelah kiri sudah ada bibi dan Ayumi. Secara otomatis tempat dudukku berada di sisi kanan paman.


"Maaf telat," sapaku ketika masuk ruangan itu. Disambut senyum hangat dari mereka.


Tanpa banyak percakapan, acara makan berlangsung cepat. Setelah paman membawaku ke ruang kerjanya untuk membicarakan sesuatu, aku pergi ke taman belakang dan kudapat Ayumi di sana. Entah di mana Bibi.


Belum juga sampai, gadis itu menoleh dan tersenyum manis. "Kenapa tersenyum gitu?"


"Abang. Makasih, ya."


"Buat?"


"Jagain aku."


"Iya. Jangan ulangi dan pilih-pilih temen."


"Iya. Aku memang terlalu bebas. Asal tak mengganggu kehidupan mereka, aku didiamkan berbuat apa pun."


"Sekarang jangan lagi."

__ADS_1


"Kita baru ketemu, tapi kek udah lama ketemu ya, ya. Apa kita jodoh?" Ayumi mengerling membuatku terhenyak.


Next


__ADS_2