
Jeno mengendarai mobilnya dengan waspada. Dirinya tentu saja harus berhati-hati, pasalnya dia ingin pergi ke markas. Dan Jeno harus memastikan tak ada yang mengikutinya.
Dan entah kenapa, Jeno merasa ada yang membuntutinya dari belakang. Berkali-kali Jeno menatap kaca pantau yang tersedia di dalam mobil. Melihat keadaan di belakang mobil dari dalam seraya menyetir.
"Tapi kenapa gue merasa ada yang mengikuti gue, sejak gue melewati pertigaan tadi." batin Jeno, dimana di belakang mobilnya terdapat beberapa kendaraan. Seperti mobil dan motor.
Didepan ada sebuah jalan bercabang. Yang seharusnya Jeno membelokkan mobilnya ke sebelah kiri. Tapi Jeno tak melakukannya. Dia tetap terus mengemudikan mobilnya dengan lurus.
Jeno mengambil ponsel dan segera menghubungi Gara. Tentunya dia mengabari Gara, memberitahu alasannya terlambat sampai ke markas.
Jeno terdiam, mendengarkan apa yang Gara katakan di seberang telepon. "Oke." ujar Jeno sebelum memutuskan sambungan teleponnya dengan Gara.
Dan benar saja. Jeno mengikuti saran Gara. Dengan santai, Jeno mengarahkan mobilnya ke jalanan besar. Yang pastinya akan terdapat kamera CCTV di setiap sudut jalan.
Mudah di tebak, dengan kemampuan Gara yang hebat di perangkat lunak. Kemungkinan besar, Gara akan menyabotase CCTV di sepanjang jalan untuk mengetahui kebenaran. Apakan ada yang membuntuti Jeno atau tidak.
Ponsel Jeno berdering, segera Jeno mengangkatnya. Sebab yang menghubunginya adalah Gara. "Bagaimana?" tanya Jeno.
"Ada empat mobil di belakang elo. Dan elo harus memastikannya satu persatu. Pada belokan di depan, elo belok. Kita lihat, siapa yang akan mengikuti elo." tukas Gara, memantau dari kamera CCTV.
"Sial...!!" umpat Jeno dalam hati. Ingin hati dengan cepat menyelesaikan tugas dari perempuan terkasih, dan kembali ke villa Mikel. Malah bermain kereta api di jalan.
Saat mobil Jeno berbelok arah, dua mobil yang terus berada di belakangnya. Dan dua-duanya tak ada yang menyalip mobil Jeno. Padahal Jeno mengendarai dengan kecepatan rendah.
Lagi, di belokan jalan yang ada di depan, Jeno kembali membelokkan mobilnya. Dan dua mobil tersebut masih berada di belakangnya. Dan itu terjadi hingga beberapa belokan.
"Jangan pergi ke markas dulu." pinta Gara berada di markas. Gara takut jika salah satu dari mereka adalah musuh. Atau malah keduanya.
Dan Gara tak akan membiarkan kejadian yang dulu terulang. Dimana markas sengaja di hancurkan oleh Bulan karena musuh mengetahui keberadaan mereka.
Selain itu, Gara juga takut. Jika kedua mobil tersebut benar-benar musuh mereka. Dan yang ada di markas hanya dirinya dan Jeno. Pastinya keduanya tak akan bisa menghadapi mereka.
"Gara...!! Apa elo nggak bisa menyingkirkan mereka?!" kesal Jeno.
Ingin Jeno melajukan mobilnya dengan kencang fan mengecoh keduanya. Tapi mendengar Gara menyuruhnya untuk tidak ke markas terlebih dahulu, membuat Jeno urung melakukannya.
"Tunggu, gue selidiki identitas pemilik mobil." tukas Gara yang sepertinya sudah mengetahui siap pemilik mobil dua tersebut.
Jeno masih berkendara santai, dengan pandangan beberapa kali mengarah ke belakang lewat kaca pantau di dalam mobil. "Sepertinya gue pernah melihat mobil itu. Tapi dimana?" cicit Jeno merasa tak asing dengan mobil yang tak jauh di belakangnya.
"Sella." ujar Gara.
"Elo tadi bilang apa?" tanya Jeno meminta Gara mengulangi apa yang Gara katakan.
"Sella. Nama pemilik mobil tersebut Sella." jelas Gara.
Jeno tersenyum sinis. "Padahal dia belum cukup umur. Bisa-bisanya sudah mempunyai mobil atas namanya sendiri. Dasar orang kaya." ujar Jeno, yang tanpa sadar sama saja mengatai dirinya dan saudara kembarnya. Jevo.
"Adik kelas elo?" tanya Gara memastikan. Dan sepertinya Gara sudah mengantongi identitasnya.
Jeno mengangguk, padahal Gara tak akan bisa melihat anggukannya. Jeno aneh. "Lalu yang satunya?" tanya Jeno, sebab ada dua mobil di belakangnya.
"Saudaranya." sahut Gara di seberang telepon.
"Menyebalkan. Bagaimana dia bisa berkeliaran di jalan. Padahal seharusnya dia berada di sekolah." tukas Jeno.
Jeno mendengar suara tawa dari ponselnya. Dan suara tersebut adalah suara milik Gara. "Kenapa elo?!" tanya Jeno dengan ketus.
"Elo sendiri juga berkeliaran di jalan. Bukankah seharusnya elo berada di sekolah. Belajar." sindir Gara.
"Brengsek elo..!! Jangan banyak ngomong. Cari cara supaya gue segera bisa sampai di markas." pinta Jeno mulai gelisah karena hanya berputar-putar tak tentu arah. "Menghabiskan bensin saja." gerutunya.
Lagi-lagi, telinga Jeno mendengar gelak tawa Gara yang sangat puas. "Gara...!!" panggil Jeno dengan nada kesal.
Meski Gara sudah mengetahui siapa yang membuntuti mobil Jeno, tapi Gara tak mau gegabah. Memang Sella hanya seorang murid SMA yang masih duduk di bangku kelas satu. Dan di dalam mobil satunya lagi, teman Sella yang juga masih remaja.
Hanya saja, Gara tak mau menyepelekannya. Lebih baik waspada dan berjaga-jaga di depan. Dari pada menyesal di belakang.
"Di depan, ada perempatan. Gue akan menyabotase lampu lalu lintasnya. Elo mengerti?" tanya Gara memastikan jika Jeno tahu apa yang akan dia lakukan.
"Paham." sahut Jeno, mulai melajukan mobilnya dengan kencang.
Dapat dilihat dengan jelas, jika lampu lalu lintas berwarna hijau. Membuat Jeno melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Langsung setelah Jeno melewatinya, lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Yang artinya mobil Sella dan pengendara lain menghentikan mobilnya.
Sontak, kejadian tersebut menjadi perbincangan pada pengendara. Pasalnya, lampu lalu linta dari arah Jeno berkendara menyala dengan warna hijau hanya sekitar tujuh detik.
Padahal biasanya lampu lalu lintas akan menyala di warna merah membutuhkan waktu sekitar enam puluh detik.
Jeno tersenyum senang, dan segera melajukan mobilnya ke markas tanpa rasa cemas lagi. "Sella,,, perempuan jadi-jadian itu. Bagaimana bisa dia mengenali mobil gue." ujar Jeno.
__ADS_1
"Namanya juga cinta." celetuk Gara yang hanya terdengar suaranya dari ponsel Jeno.
"Cckk,,," segera Jeno mematikan sambungan telepon antara dirinya dan Gara.
Pastinya, di markas Gara sedang tertawa lepas karena berhasil membuat lelaki yang mencintai sahabatnya tersebut kesal sedari tadi.
Sedangkan Jeno masih mengendarai mobil dengan perasaan kesalnya. Seharusnya dia sudah sampai di markas sejak tadi. Tapi hanya karena seorang Sella, Jeno membuang banyak waktu.
"Sella." sinis Jeno tersenyum remeh. Dalam benaknya, pasti membandingkan Bulan, bidadari hatinya dengan Sella. Adik kelasnya yang selalu mencoba mendekatinya.
"Padahal gue sudah berdandan culun. Masih daja aura ketampanan gue keluar." ujar Jeno menyombongkan diri.
Beruntung Jeno hanya seorang diri di dalam mobil. Jika saja ada Jevo atau yang lainnya, pasti mereka akan tertawa lepas mendengar keangkuhan Jeno yang memuji dirinya sendiri.
Di tempat lain, Jevo dan Mikel telah sampai di tempat yang Mikel katakan menjual apa yang mereka butuhkan. ''Elo yakin, ini tempatnya?" tanya Jevo tidak sepenuhnya percaya.
Sebab tempat yang saat ini akan mereka datangi tidak terlihat seperti toko yang menjual sesuatu. Tapi malah lebih nampak seperti gudang, bangunan tua yang tidak dibersihkan.
Mikel tidak menjawab apa yang membuat Jevo penasaran. Dirinya malah melihat ke sekeliling. "Jangan turun dulu." ucap Jevo, membuat Mikel spontan menoleh ke arah Jevo.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pandangan Jevo mengarah ke satu titik. Mikel pun mengikuti kemana arah pandangan Jevo.
Terlihat tiga orang lelaki menyenderkan badannya ke tembok, sembari berbincang. Meski begitu, tatapan mata mereka selalu mengarah ke tempat yang akan Mikel dan Jevo datangi.
"Siapa mereke?" tanya Mikel.
"Mana gue tahu. Kenal saja kagak." sahut Jevo.
Mikel menghembuskan nafas pendek mendengar perkataan Jevo. ''Apa rencana elo?" tanya Mikel, melihat Jevo masih fokus pada tiga lelaki tersebut.
Jevo tersenyum miring. "Kita masuk saja. Toh kita bukan Jevo dan Mikel."
Mikel mengangguk, membenarkan apa yang Jevo ucapkan. "Benar juga."
Keduanya membenahi dandanan serta penampilan mereka. "Oke,,, lets and the gooo....!!" seru Mikel dengan nada rendah serta memperkecil suaranya seperti seorang perempuan.
Kini, giliran Jevo yang tersenyum dan menggeleng melihat tingkah sahabatnya tersebut. ''Semoga kita berhasil.'' batin Jevo, mengikuti Mikel yang terlebih dahulu keluar dari mobil.
Keduanya berjalan dengan tenang, masuk ke dalam tempat yang Mikel perkirakan menjual bahan yang dibutuhkan oleh Bulan.
''Apa mereka melihat kita?" tanya Jevo dengan lirih.
Mikel berpura-pura menatap Jevo dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. "Benar, mereka melihat ke arah kita." lirih Mikel tetap berjalan berdampingan dengan Jevo.
Bukannya menuruti permintaan Jevo, Mikel malah melingkarkan tangannya di lengan Jevo. "Percepat langkah elo." pinta Mikel.
"Cckkk,,, gue geli bego." umpat Jevo, dengan langkah kaki semakin cepat.
"Diam." geram Mikel, saat Jevo hendak menyingkirkan tangan Mikel dari lengannya. Bukannya apa, tapi Jevo pastinya merasa risih. Apalagi dandanan keduanya layaknya perempuan.
Mikel melepaskan tangannya di lengan Jevo. "Pagi." ujar Mikel dengan suara menyerupai perempuan, pada seorang perempuan berbadan gempal yang berdiri di sebelah etalase kosong dan berdebu.
Perempuan tersebut menatap Jevo dan Mikel secara bergantian. Pandangan yang menelisik, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Badan besar banget. Sekali angkat, gue pasti k.o." ujar Jevo dalam hati.
"Saya Maya, dan ini teman saya. Meysa." ujar Mikel memperkenalkan diri dengan ramah.
Jevo mengerutkan keningnya mendengar nama yang dipakai Mikel saat memperkenalkan keduanya. ''Kenapa hampir sama. Maya, Meysa. Elo pikir gue kita kembar.'' sungut Jevo dalam hati.
Sang perempuan masih terdiam, mengamati Jevo dan Mikel. Tak terlihat niat untuk menyahuti setiap ucapan Mikel.
Kini, Jevo kembali menatap sang perempuan dengan tajam. "Kami membutuhkan sesuatu. Bisakah anda membantu kami?" tanya Jevo dengan nada terdengar sinis, tapi bibir tersenyum.
"Lama-lama gue becek elo." kesal Jevo dalam hati. Karena perempuan tersebut seolah mengacuhkan keduanya.
Jevo menyenggol lengan Mikel. "Kami akan membayar dengan harga yang akan kita sepakati." tutur Mikel.
Perempuan tersebut menggerakkan kepalanya. Tanpa berbicara, dia berjalan ke arah lain. Mikel dan Jevo saling pandang. Keduanya sama-sama mengangguk dan mengikuti kemana perempuan tersebut berjalan.
Perempuan tersebut berhenti di depan pintu. Membuat Mikel dan Jevo juga menghentikan langkah kaki keduanya. Dia membalikkan badan sembari menengadahkan telapak tangannya. Seakan meminta sesuatu pada Jevo atau Mikel.
Mikel merogoh kantong di tas yang dia bawa. Memberikan secarik kertas. Dengan kasar, perempuan tersebut mengambilnya.
Lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan di depannya. Mikel dak Jevo yang hendak mengikutinya berhenti mendadak di depan pintu, manakala pintu tertutup sebelum keduanya masuk ke dalam.
"Gila,,,,!! Bagaimana jika kita kejeduk." ujar Jevo tercengang.
Karena sedikit lagi, wajah mereka akan terkena pintu yang tertutup tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "Hidung kita yang akan jadi korban." sahut Mikel memegang hidungnya yang mancung seraya menelan ludahnya dengan sulit.
Mikel dan Jevo menghela nafas, memundurkan badan mereka menjauh dari daun pintu. "Apa memang seperti ini pelayanannya?" tanya Jevo berbisik.
__ADS_1
Mikel mengangkat kedua pundaknya ke atas. "Gue baru pertama kali ke sini." bisik Mikel.
Mikel tanpa sengaja melihat setitik cahaya yang samar di balik kayu. "Ada kamera CCTV." bisik Mikel mengingatkan Jevo.
Segera, baik Jevo maupun Mikel berdiri tenang menunggu pintu kembali terbuka tanpa berbicara. Keduanya juga memperlihatkan model berdiri elegan khas perempuan.
Tak hanya itu, Mikel bahkan membenahi rambut panjangnya dengan centil. Juga Jevo, dia memainkan jari-jemarinya seperti perempuan yang sedang memperlihatkan kecantikan kukunya.
"Lama sekali. Sialan!!" umpat Jevo dalam hati yang sudah mulai kepanasan memakai rambut palsu.
Bukan hanya Jevo, Mikel pun juga menggerutu dalam hati. Dia sudah merasakan rasa tak nyaman di badannya. Karena merasa sesak di bagain dada.
Krek... pintu terbuka dari dalam. Spontan Mikel dan Jevo menghembuskan nafas lega dan raut wajah yang plong.
Perempuan tersebut menatap Mikel dan Jevo dengan tatapan curiga. Segera keduanya mengubah ekspresi wajahnya. "Bagaimana? Apa semua lengkap?" tanya Mikel dengan centil, tak ingin berlama-lama di tempat seperti ini.
Perempuan tersebut menyerahkan kantong kresek berwarna hitam yang telah terisi. Serta memberikan kembali kertas yang dia ambil dari Mikel.
Mikel melihat kertas yang diberikan perempuan tersebut. Ternyata ada tambahan tulisan di kertas tersebut. Tepatnya di samping tulisan yang Bulan tulis. Yakni harga setiap barang.
"Lengkap." batin Mikel, melihat setiap barang yang Bulan tulis tertera harga. Panganan Mikel langsung menuju ke angka paling bawah. Dimana angka tersebut adalah biaya yang harus dia bayar untuk membeli semua barang yang dia butuhkan.
Jevo mengambil kertas tersebut. Mengambil uang dari dalam tas, lalu memberikan pada perempuan di depannya.
Sang perempuan menghitung jumlah uangnya. Lalu menggerakkan tangannya ke arah dimana mereka datang. Yang secara tak langsung dia mengusir Mikel dan Jevo untuk segera meninggalkan tempat ini.
"Terimakasih." ucap Mikel dengan centil.
"Lagian siapa yang mau berlama-lama di tempat seperti ini." tukas Jevo dalam hati.
Jalan Mikel dan Jevo untuk meninggalkan tempat tersenut ternyata tak semudah keduanya masuk ke dalam. "Ngapain mereka di sana?" tanya Mikel.
Ketiga lelaki yang sempat mereka lihat saat masuk ke dalam, kini mereka berada di dekat mobil Mikel. Seolah sengaja menunggu kedatangan sang pemilik mobil.
"Ingat, kita perempuan." tutur Jevo mengingatkan, jika mereka harus mengusir keduanya menggunakan cara seorang perempuan.
Apalagi ada kamera CCTV di sekitar tempat tersebut. Sebab, mereka tak noleh meninggalkan jejak yang nantinya akan membuat mereka berada dalam kesulitan.
Dengan senyum di bibir, dan berjalan centil, Mikel dan Jevo menuju ke mobil. Yang artinya mereka akan menghadapi ketiga lelaki berotot tersebut.
"Hay bang...? Ada yang bisa eneng bantu?" tanya Mikel langsung, membelai dada lelaki yang menyenderkan tubuhnya di pintu mobil bagian belakang.
Bukan hanya membelai dada, Mikel sedikit menarik baju lelaki tersebut. Menggantikan posisi lelaki tersebut. Sehingga, kini Mikel lah yang menyenderkan badannya di pintu mobil, dan lelaki tersebut berdiri di depan Mikel.
Jevo tak tinggal diam. Membelai lengan besar lelaki yang berdiri di samping mobil. "Astaga,,, waow... mau dong..." goda Jevo dengan ekspresi nakal.
Mikel membuka pintu dengan tetap membelakangi mobil. Melemparkan begitu saja kantong kresek yang baru dia bawa dari dalam, tak peduli jika isinya berserakan di dalam mobil. Yang terpenting keamanan dari barang yang dia bawa.
"Apa yang kalian cari?!" tanya salah satu lelaki tersebut dengan wajah garangnya.
"Iiihh,,, abang, jangan galak-galak dong. Si cantik tatuuuuttt." ujar Mikel dengan nada manja.
Jevo dan Mikel saling pandang. Emosi keduanya pasti akan terpancing jika terus berada di sini. Pintu belakang sudah terbuka. Dan Jevo, juga berada di pintu depan. Tepat di bagian pengemudi.
Mikel mengangguk saat Jevo memandangnya. Dan... "Aaa....!!" seru dua lelaki karena Mikel dan Jevo menendang ************ mereka. Dan salah satu dari mereka terjatuh mengenai rekannya yang berdiri di belakangnya.
Segera Mikel dan Jevo masuk ke dalam mobil. Dan wuzzzz,,,,, tanpa membuang waktu, Jevo melajukan mobilnya.
"Hoeeeyyyy.... Brengsek...!!!" teriak seorang lelaki yang terjatuh. Sementara dua lelaki masih meringis kesakitan dengan kedua tangan memegang benda yang ada di ************ mereka.
"Ban** keparat....!!" teriak salah satu dari mereka.
Jika saja Mikel dan Jevo mendengar apa yang diucapkannya. Pasti keduanya akan murka. "Elo sudah mencatat nomor kendaraannyakan?" tanga salah satu dari mereka.
"Tenang,,, gue sudah memfotonya. Tersimpan aman dalam ponsel gue." sahut yang lain masih merasakan sakit di bagian alat vitalnya.
Tanpa mereka tahu, jika nomor kendaraan yang ada di mobil Mikel pastinya tidak akan bisa mereka temukan. Sebab nomor tersebut adalah nomor yang dibuat oleh Mikel secara acak.
Jevo dan Mikel langsung membuka wig yang ada di kepala mereka. Mikel memunguti barang belanjaannya yang terjatuh di bawah untuk dimasukkan kembali ke dalam kantong kresek.
"Sialan. Berhenti...!!" seru Mikel segera.
Jevo spontan langsung menepikan mobilnya dan menghentikannya. "Ada apa?" tanya Jevo, sebab nada suara Mikel terdengar kesal.
Mikel memberikan benda kecil yang menempel di sebuah kardus kecil bungkus obat. "Alat pelacak." cicit Jevo.
"Kita harus berterimakasih pada ketiga preman tersebut." tambah Jevo yang diangguki oleh Mikel.
Sebab, jika mereka bertiga tidak menghadang Mikel dan Jevo, mustahil Mikel melemparkan narang belanjaannya ke dalam mobil. Yang akhirnya Mikel menemukan benda kecil tersebut.
Mikel mencopot benda kecil tersebut. Melemparkannya keluar dari mobil. Mikel kembali memeriksa satu persatu barang yang dia beli. Memastikan keamanannya. "Jalan." pinta Mikel, setelah dirinya tak menemukan keanehan dalam barang belanjaan mereka.
__ADS_1
Mikel berpindah tempat duduk. Berada di samping Jevo yang sedang mengemudi. Membiarkan kantong kresek berisi barang hang baru saja dia beli tetap di kursi belakang.