PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 193


__ADS_3

Pak Cipto merasa ada yang berbeda dari pandangan sang putra, Bintang, saat dia menatap ke arahnya. Setelah keluar bersama sang kakak dan kembali ke rumah, Bintang bergabung bersama para lelaki di depan.


Sementara sang ibu dan perempuan lainnya berada di dapur. Memasak serta menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


Meski Bintang sedang berbincang dengan Jeno dan yang lain, tapi pandangannya lebih sering menatap ke arah sang bapak. Seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada sang bapak.


Pak Cipto yang tidak tahu kenapa Bintang selalu menatapnya dengan tak biasa, hanya mengabaikannya. Meski beliau tahu jika sang putra ingin menyampaikan sesuatu.


Pak Cipto berpikir nanti saja, dirinya akan bertanya saat semua tamu sudah pulang. Yakni esok hari. Tanpa Pak Cipto ketahui, Bintang ingin mengatakan jika Bulan mengetahui lelaki yang dikirim olehnya bekerja di kebun.


Yang artinya sang kakak mengetahui jika keluarganya berbohong. Termasuk sang bapak yang sengaja tidak menceritakan jika beliau sudah mengetahui jika Bulan mengirim seseorang untuk melindungi mereka.


Tapi mau bagaimana lagi, Bintang tak mungkin mengatakannya secara langsung. Atau meminta sang bapak ke belakang sebentar. Dirinya tidak ingin para tamu berpikir lain.


Dan yang Bintang khawatirkan, sang kakak akan mengetahui jika dirinya ingin mengadu pada sang bapak. Bisa-bisa Bintang akan terkena teguran lagi. Padahal dirinya tidak bersalah. Dan hanya mengikuti apa yang pak Cipto katakan.


"Nasib anak bungsu, jadi serba salah." batin Bintang menghela nafas panjang.


"Bintang, ajak gue keluar dong. Mumpung masih sore." pinta Arya yang sudah merasa jenuh, sebab sedari tadi hanya duduk bersama bapak-bapak.


"Baru sebentar. Elo sudah bosan." sahut Mikel tahu apa yang dirasakan Arya.


"Cckk,,, bukan bosan brow. Gue hanya penasaran dengan desa ini. Apalagi, pak Cipto tadi mengatakan jika sedang panen singkong." tukas Arya beralasan.


"Iya juga sih. Pantat gue rasanya panas." keluh Jevo lirih, merasakan jenuh. Apalagi dia harus selalu berbicara dengan bahasa sopan. Sebab ada sang papa dan pak Cipto.


Mikel memandang ke arah Gara. "Elo ikut kita nggak?" tanya Mikel mengajak Gara.


Sebenarnya Gara juga ingin ikut mereka. Tapi dia takut akan menyusahkan. Karena keadaannya. "Tidak. Gue di sini saja." tolak Gara.


"Sudah,,, ikut saja. Yuk.... Ambil kursi rodanya." pinta Jeno, seakan tahu jika Gara sedang berbohong.


"Tidak usah. Gue malah akan menyusahkan kalian." tolak Gara namun diacuhkan oleh yang lainnya.


"Pa,,, pak Cipto, kami mau keluar dengan Bintang." pamit Jeno dengan sopan.


"Silahkan. Bintang, jangan mengajak mereka berjalan jauh. Nanti mereka capek." ujar pak Cipto.


"Iya pak." sahut Bintang.


"Jaga tingkah laku dan lisan kalian. Ini bukan di tempat kita. Ingat, desa berbeda dengan di kota." ujar Tuan David mengingatkan.


"Iya pa." sahut Jeno sembari membantu Gara untuk duduk di kursi roda.


Keenam lelaki muda tersebut pergi meninggalkan rumah Bulan, meninggalkan Tuan David dan pak Cipto serta sang sopir yang masih betah berbincang di ruang tamu.


Saat berjalan dengan santai, mereka beberapa kali berpapasan dengan warga sekitar, dan Bintang tentu saja menyapa mereka dengan ramah. "Mulut elo nggak capek?" tanya Arya lucu.


"Kenapa?" tanya Bintang balik, merasa bingung dengan pertanyaan Arya.


"Sedari tadi elo terus menyapa orang yang lewat. Kalau yang lewat ada seratus orang, elo mau nyapa seratus kali." sahut Arya menjelaskan kenapa dirinya bertanya seperti itu.


"Aaauu...!!" seru Arya mendapat pukulan ringan di punggungnya.


Dan pelakunya adalah Jevo. "Makanya, gunakan telinga elo dengan baik. Tadi papa gue bilang apa. Ini di desa. Bukan di kota." tukas Jevo merasa gemas dengan Arya yang selalu berbicara sesuka hatinya.


"Itulah bedanya tempat kita dan di sini." lanjut Gara.


"Makanya punya telinga dipergunakan dengan baik. Itu otak juga. Jangan di taruh di dengkul." imbuh Mikel. Arya hanya menjulurkan lidahnya dengan memasang ekspresi mengejek.


Beberapa warga yang melihat mereka, tentu saja merasa penasaran. Apalagi ada Bintang di antara mereka. Tentu saja, hal ini akan menjadi perbincangan para warga, apalagi yang mereka kunjungi rumah pak Cipto. Sang juragan tanah.


Bintang hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sedangkan Jeno berjalan paling belakang. Sejak keluar dari rumah Bulan, Jeno langsung sibuk dengan ponselnya.


"Kemana Bulan, malah menghilang. Bukannya menemani gue." gerutu Jeno dalam hati. Ingin selalu berada di dekat Bulan.


"Wiiiihhhh,,, cantik-cantik juga gadis desa." celetuk Arya, saat beberapa kali ada perempuan yang berpapasan dengan mereka dan menyapa mereka dengan ramah.


"Semua warganya juga ramah-ramah." sahut Jevo.


"Bintang, elo dah punya pacar?" tanya Mikel sembari mendorong kursi roda yang diduduki oleh Gara.


"Belum." jawab Bintang singkat.


"Kenapa? Kelihatannya banyak perempuan desa yang suka sama elo." ujar Mikel menebak. Sebab sedari tadi beberapa gadis yang berpapasan dengan mereka menyapa Bintang dengan senyuman manis yang mereka punya.

__ADS_1


Bintang tertawa lucu mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Mikel. "Jangan bilang karena ada beberapa perempuan yang tadi manggil nama aku." tebak Bintang tepat.


"Memang iya. Apalagi mereka pake senyum." jelas Mikel membenarkan.


"Rata-rata di sini memang seperti itu. Menyapa dengan senyum bukan berarti suka. Ada-ada saja kamu." ujar Bintang sembari tertawa.


"Tapi memang gue akui, elo tampan. Tubuh elo oke. Pasti banyak perempuan yang naksir elo. Apalagi bapak elo juragan tanah." tukas Jevo.


"Belum kepikiran untuk ke sana. Bisa-bisa nanti aku malah dinikahkan. Rencana kuliah kedokteran yang sudah aku inginkan akan gagal." ujar Bintang.


"Wihh... Masa langsung main nikah saja." sahut Jevo tertawa heran. Seakan dirinya tidak percaya.


"Memang seperti itu kalau di sini. Jika kita mempunyai hubungan dengan perempuan, maka orang tuan sang perempuan akan langsung mendatangi si lelaki atau keluarganya. Meminta kepastian." jelas Bintang.


"Sangar..... Jika itu Jevo, pasti sekarang istrinya sudah sepuluh lebih." celetuk Arya dibarengi tawa renyah.


"Orang tua mereka bertindak seperti itu juga untuk kebaikan anak mereka. Sebab anak mereka seorang perempuan. Mana ada orang tua yang dengan senang hati putrinya di bawa lelaki kesana kesini hanya untuk pameran. Dan ketakutan mereka, jika putrinya hanya dimanfaatkan. Tapi tidak dinikahi." jelas Bintang.


"Benar juga. Yang ada malah hamil duluan." ujar Mikel.


"Byuh.... Dengar tuh Jev... Jangan main asal tebar benih elo..." ledek Arya, yang disahuti tawa oleh semuanya. Selain Jeno yang memasang wajah datar.


"Sialan. Gue nggak pernah nanem benih ke perempuan. Catat." kesal Jevo, karena Arya selalu mengenainya.


"Memang nggak nanem benih, tapi elo buang-buang benih." ledek Arya langsung menghindar dan berpindah posisi ke samping Bintang.


"Jika bu Bulan, bagaimana?" tanya Mikel melirik ke arah Jeno. Dimana Jeno langsung memandang ke arah Bintang. Seakan dia juga penasaran apa yang akan Bintang katakan.


"Kak Bulan. Kenapa dengan kak Bulan?" tanya Bintang yang kurang paham maksud pertanyaan Mikel.


"Di sini, apa ada lelaki yang menyukai dia?" tanya Mikel. Sebenarnya bukan hanya Mikel yang merasa penasaran. Tapi semuanya. Terutama Jeno. Pasalnya, Bulan adalah perempuan yang mempunyai fisik sempurna. Cantik dan tubuh seksi.


"Banyak. Malah dulu, sewaktu kak Bulan masih SMA, ada beberapa keluarga yang datang untuk melamar kak Bulan." jelas Bintang.


"Terus?"


"Ya,,,, bapak menolaknya dengan halus. Beralasan jika kak Bulan masih bersekolah. Padahal kak Bulan sudah mengatakan sebelumnya pada bapak dan ibu. Jika dia tidak mau menikah dulu. Sebelum apa yang dia inginkan terpenuhi." jelas Bintang.


"Menjadi aparat negara." tebak Gara yang mendapat anggukan oleh Bintang.


"Nggak heran sih. Memang cantiknya nggak ketulungan." celetuk Arya.


"Ada apa?" tanya Arya meras aneh.


Arya menoleh ke belakang. Memamerkan deretan giginya yang bersih dan rapi. "Bercanda." tuturnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu kebun bapak." ucap Bintang membuat semua mata mengarah ke tempat yang ditunjukkan oleh Bintang. Menyelamatkan Arya dari amukan Jeno karena tidak terima Arya memuji sang kekasih.


"Gila....!! Buah mangga lebat kale...!! Itu buah apalagi...!! Wih... Tomat....!!" seru Arya seakan melihat harta karun.


"Kampungan. Gitu saja kaget. Diam. Berisik." ejek Jevo.


"Itu siapa?" tanya Gara melihat seorang lelaki yang tengah menarik atau mengeluarkan singkong dari tanah.


"Paklek. Saudara jauh kami. Dia juga tinggal di rumah. Nanti sore dia pulang." jelas Bintang terpaksa meneruskan kebohongannya. Sebab tak mungkin juga Bintang berkata atau bercerita dengan jujur.


"Hati-hati." tukas Jevo mengingatkan Mikel, dan langsung membantu Mikel mendorong kursi roda yang diduduki Gara. Sebab jalannya tidak semulus tadi.


Gara menyipitkan sebelah matanya. "Paklek. Saudara jauh Bulan." batin Gara merasa tak asing dengan wajah lelaki yang masih sibuk dengan pekerjaannya tersebut.


"Kamu kenapa, dari tadi diam terus?" tanya Bintang pada Jeno.


Bintang khawatir jika Jeno merasa tidak nyaman dengan dirinya. "Alaaaahhh... Masa elo nggak tahu. Dia pengen ketemu bu Bulan. Eladalah... Bu Bulannya sedang sibuk dengan yang lain. Ngambek deh jadinya." cerocos Arya tepat sembari tertawa puas.


Bintang tersenyum melihat ekspresi kesal Jeno saat menatap Arya. Ada rasa lega di hatinya. Terlebih dia melihat jika Jeno sangat menyayangi sang kakak.


"Kak Bulan sedang berada di dapur. Bersama yang lain. Mama kamu juga ada di sana. Mereka sedang memasak untuk makan malam nanti." jelas Bintang.


"Bukankah Bulan tidak bisa memasak?" tanya Jeno, seakan bertanya tugas Bulan untuk apa, padahal Bulan tidak bisa memasak.


"Kan hanya bantu-bantu. Bukan berarti yang memasak kak Bulan." sahut Bintang.


"Bisa mengupas, memotong. Atau mencuci bahan yang akan di masak." lanjut Gara menjelaskan.


Semua tertawa lepas melihat ekspresi Jeno yang seakan tidak mempunyai gairah hidup. "Astaga Jeno... Seperti tidak lihat setahun saja." goda Arya. Padahal mereka setiap hari bertemu.

__ADS_1


Suara gaduh mereka membuat lelaki yang dipanggil paklek oleh Bintang menghentikan apa yang dia lakukan.


"Paklek...!!" panggil Bintang, dengan menggerakkan tangan. Menyuruh lelaki tersebut untuk berkumpul bersama mereka di gubuk yang lumayan luas tersebut.


"Enak ya di sini." cicit Arya merasakan hawa sejuk.


"Tangan elo." tegur Jevo memukul tangan Arya yang hendak membuka wadah yang di dalamnya ada makanannya.


"Ambil saja kalau mau. Itu tadi aku yang bawakan untuk paklek." ujar Bintang dengan ramah, dibukanya beberapa wadah yang tertutup.


"Silahkan ambil. Lagi pula ini sudah sore. Sebentar lagi paklek juga pasti akan pulang." lanjut Bintang.


"Dia." batin Gara, menatap wajah lelaki yang sedang berjalan ke arahnya dengan lekat. Dan sepertinya Gara mengenal sosok tersebut.


"Bram." panggil Gara, begitu lelaki tersebut berada di dekatnya.


"Dia." lirih Bram. Membuat dirinya dan Gara saling bersitatap dengan tajam.


"Mau apa elo...?!" tanya Jevo, mengeluarkan senjata apinya yang dia simpan di dalam pakaiannya, dan diarahkan pada Bram. Saat Bram juga menodongkan pistol yang baru saja dia ambil dari balik kaosnya pada Gara.


Keadaan tegang seketika. "Tunggu... Tunggu.... Apa yang kalian lakukan. Simpan senjata berbahaya itu." pinta Bintang dengan nada cemas. Dia tahu betapa berbahayanya senjata tersebut.


"Jevo,,,," panggil Jeno lirih, menyuruh Jevo menarik kembali senjatanya dan menyimpannya.


"Paklek..." panggil Bintang, karena Bram masih menodongkan senjata apinya. Dan sepertinya enggan untuk menyimpannya.


Sementara Gara malah terlihat tenang. Tak ada ekspresi terkejut atau takut sama sekali di wajahnya.


"Mereka tamu bapak dari kota. Dan mereka adalah keluarga calon suami kak Bulan." lanjut Bintang segera menjelaskan.


"Jevo, simpan kembali senjata elo. Dia bukan orang berbahaya. Dia bawahan Bulan." jelas Gara.


Jevo menurunkan senjata apinya, memandang ke arah Gara. "Elo serius?" tanya Arya, mendengar perkataan Gara.


"Gue kenal dia. Terakhir gue bertemu dia beberapa tahun yang lalu. Saat Bulan menolong gue." jelas Gara.


Bram menurunkan senjatanya, menyimpannya kembali ke balik kaos yang dia pakai. "Bawahan bu Bulan. Lalu kenapa dia ada di sini. Bekerja di kebun pak Cipto. Dan malah menodongkan pistolnya ke elo." cicit Arya.


"Kemungkinan dia tidak tahu, kalau Gara sekarang berada di pihak Bulan." tukas Jeno.


Bram mengerutkan keningnya mendengar apa yang mereka perbincangkan. "Jadi,,, Gara dan paklek saling kenal. Tapi, kenapa tadi paklek langsung bertingkah seakan Gara musuh yang berbahaya." batin Bintang.


"Dan Jevo.... Dia,,, dia mempunyai senjata. Mereka..." batin Bintang tak bisa meneruskan apa yang ada di dalam benaknya. Tapi yang Bintang simpulkan, jika mereka semua bukan orang sembarangan.


"Apa benar, dia datang bersama bu Bulan?" tanya Bram dengan pandangan menyelidik.


"Benar paklek." sahut Bintang.


"Bintang. Tadi elo bilang dia saudara jauh keluarga elo. Tapi, kenapa Gara mengatakan jika dia adalah bawahan Bulan." cicit Arya masih bingung.


"Hah....." sahut Bintang malah bingung sendiri karena kebohongan yang dia buat.


Bintang akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Yang juga sama saja membongkar identitas Bram yang sesungguhnya.


Kedua mata Bram masih dengan lekat memandang Gara. Seakan dirinya masih tidak percaya jika Gara adalah teman Bulan.


"Elo lihat keadaan gue. Dan seharusnya elo tahu, siapa Bulan. Apa menurut elo, Bulan akan membiarkan gue hidup, jika gue berbahaya untuknya. Buktinya, sekarang gue ada di sini. Dan gue kesini karena diajak Bulan." jelas Gara.


"Diajak. Elo yang ngotot pengen ikut." sahut Arya, langsung mendapat pelototan dari semuanya.


Arya membuang muka. "Salah lagi. Padahal apa yang gue katakan adalah kenyataan." lirihnya, tapi masih bisa di dengar oleh semua orang di sekitarnya.


Keadaan yang sempat tegang, kini sedikit mencair. Tapi Bram tetap menatap ke arah Gara dengan waspada. "Apa yang bisa di lakukan orang cacat kayak gue?" Gara tertawa santai melihat Bram masih menaruh curiga terhadapnya.


Gara tidak menyalahkan Bram. Karena wajar saja Bram bertingkah seperti itu. "Meski kaki elo cacat, tapi tangan dan otak elo masih berfungsi dengan baik." sahut Bram.


"Maaf saya menyela. Saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Tapi lebih baik, biar kak Bulan saja yang menjelaskan." ujar Bintang dengan bijak.


"Tidak mungkin di sini. Ada keluarga Bulan dan yang lain." sahut Gara.


"Kita telepon saja bu Bulan. Sekarang." saran Mikel.


"Benar." tukas Arya.


Segera mereka menghubungi Bulan. Dan dari sanalah, Bulan menjelaskan apa yang terjadi pada Bram. Sehingga tidak ada lagi pandangan curiga yang Bram layangkan pada Gara.

__ADS_1


"Rumit sekali." batin Bintang yang sama sekali tidak paham apa yang dijelaskan sang kakak lewat ponselnya.


Tapi meskipun Bintang merasa masih penasaran, dia tidak lantas bertanya pada Bulan atau pada yang lainnya. Bintang sadar, jika setiap orang mempunyai batasan sendiri untuk mengendalikan rasa ingin tahunya. Serta mempunyai privasi. Sehingga Bintang memilih diam. Dan tak banyak bertanya, atau mencari tahu lebih jelas.


__ADS_2