
Revan mendekat ke tempat Claudia. "Bagaimana jika kamu ikut aku saja?" bisik Revan.
Revan melihat semuanya. Juga dengan kejadian pagi tadi. Dari Claudia yang bertengkar dengan Moza, hingga keduanya dihukum bersama dengan Jevo.
Juga sekarang, saat Claudia berdebat dengan Sella. Dengan Jevo berada di samping kedua perempuan tersebut. Dan malah pergi meninggalkan keduanya tanpa melerai terlebih dahulu.
Ada rasa iri di relung hati Revan. Bagaimana tidak. Jevo, menjadi rebutan dan juga idola para perempuan di sekolah ini.
Padahal semua murid tahu, bagaimana brengseknya Jevo. Tapi mereka seakan menutup mata. Dan tetap menjadikan Jevo sebagai idola mereka.
Claudia memandang sinis ke arah Revan. Keadaan hatinya sedang memanas. Dan memang di membutuhkan sesuatu untuk memadamkan api tersebut.
Revan datang menawarkan sesuatu yang sangat dia sukai. Bagaimana Claudia akan menolak. Tentu saja, Claudia akan dengan senang hati menerima ajakan Revan.
"Aku mempunyai tempat baru yang menyenangkan. Kamu pasti suka." bisik Revan.
Claudia merogoh kunci mobilnya daei dalam tas selempang yang dia kenakan. Memberikannya ke Revan. "Aku bawa motor." ujar Revan.
"Dan aku tidak suka naik motor." tolak Claudia. Mana mungkin Claudia mai menaiki motor. Panas, berdebu, dan membuat penampilannya acak-acakan.
__ADS_1
Tidak. Claudia tidak akan pernah mau. "Oke."
Revan mengambil kunci mobil Claudia. "Tidak masalah, yang terpenting gue mendapatkan jatah gratis gue." ucap Revan dalam hati
"Dan video selanjutnya akan dirilis sebentar lagi." lanjut Revan, tersenyum senang
Dari dalam mobil, Tasya melihat Claudia pergi bersama dengan Revan. "Clau,, elo hanya dimanfaatkan Revan." gumam Tasya, teman dari Claudia.
Namun Tasya tidak pernah mau ikut campur dalam masalah pribadi Claudia. Sebab Tasya tahu dengan betul bagaimana watak dari Claudia.
"Gue yakin, sebenarnya Jevo sudah mengetahui hubungan Claudia dengan Revan. Hanya saja dia memilih diam." tebak Tasya.
"Entahlah. Terserah kalian. Hidup kalian. Gue nggak peduli." Tasya mulai melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah, setelah mobil Claudia pergi terlebih dahulu.
Sampai di rumah, Moza langsung masuk ke dalam kamar, tanpa menyapa pembantu yang berpapasan dengannya.
Menaruh tasnya begitu saja di atas meja. Tanpa berganti pakaian, tanpa melepas sepatu, dia melemparkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang.
"Ada apa dengan gue?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Moza mengubah posisi tidurnya, menjadi tengkurap. Mengerjapkan kedua bola matanya dengan lucu. "Tidak, apa gue suka sama Jevo."
Moza segera duduk. Lalu kembali tengkurap. Berguling-guling ke kanan ke kiri. "Tidak boleh. Jevo play boy banget. Masa gue suka sama dia."
Moza sendiri juga merasa tak percaya dengan apa yang dia rasakan. Rasanya, Moza ingin selalu berada di dekat Jevo. Ingin selalu diperhatikan oleh Jevo.
"Pasti karena gue pernah ditolong Jevo. Makanya gue seperti ini." gumam Moza.
"Iya, benar. Mungkin karena hal itu. Benar." Moza mengangguk, seakan menyakinkan dirinya sendiri. Jika dirinya hanya merasa ingin dekat karena Jevo pernah menolongnya. Bukan karena dia menyukai Jevo.
Moza turun dari ranjang empuknya. "Sebaiknya gue mandi saja. Siapa tahu air dingin bisa membuat otak gue jadi lebih jernih."
Moza bergerak cepat, masuk ke dalam kamar mandi. Melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya. Berdiri di bawah guguran air shower.
Moza menggerakkan kedua tangannya, mengusap wajah yang selalu teraliri dengan air. Kedua mata Moza terpejam.
Tiba-tiba Moza membuka kedua matanya. "Gila. Kenapa bayangan wajah Jevo ada di mana-mana." cicit Moza.
Ingin menghilangkan bayang-bayang wajah tampan Jevo dengan air dingin, alih-alih menghilang, tapi wajah Jevo tetap melekat di dalam benak Moza.
__ADS_1
"Mampus." umpat Moza.
Perlahan, Moza memundurkan badannya. Hingga menatap tembok. "Gue benar-benar menyukai Jevo." gumam Moza.