PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 88


__ADS_3

Di sebuah jalan, sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa kali, Timo memandang ke belakang lewat kaca pantau.


Timo merasa ada yang membuntuti dirinya. Meski tak ada apapun di belakangnya. Bahkan sepeda motor seklaipun. "Ada apa ini, kenapa perasaan gue tiba-tiba merasa tidak enak." tuturnya lirih.


Segera Timo menambah laju mobilnya. Kediaman Rio adalah tujuannya. Dirinya merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi, dia bingung. Sebab semua berjalan dengan semestinya.


Tanpa dia sadari, apa yang dia rasakan sekarang adalah suatu pertanda. Di mana semua kejahatannya sebentar lagi akan terungkap.


"Rio... Apa dia baik-baik saja." Seketika pikiran Timo tertuju pada Rio, yang dia sekap di ruang rahasia.


Saat ini, Timo bisa bertindak dengan leluasa. Pasalnya, mama dari Rio masih di luar negeri. Beliau batal kembali ke negara ini. Sebab masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, dan tak bisa dia wakilkan.


Sampai di rumah, Timo langsung menuju ruang rahasia, tanpa menyapa terlebih dahulu pembantu yang dia lewati.


Para pembantu sejenak menghentikan langkah kaki mereka, sembari sedikit menundukkan kepala saat majika mereka melewati mereka, tanpa berani menatapnya.


Segera mereka kembali ke belakang, setelah Rio palsu berlalu dari hadapan mereka. Sebab, waktu memang sudah larut, dan mereka sedang beristirahat.


"Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan Tuan Muda Rio." batin seorang pembantu.


Bukan hanya dirinya, semua pembantu merasa asing dengan sosok majikan mereka setelah Rio mengalami kecelakaan.


Tapi, ada satu pembantu yang memang sudah tahu segalanya. Yakni seorang pembantu yang menjadi pemuas nafsu Rio palsu.


"Dia seperti bukan Tuan Muda Rio. Tapi orang asing." batin pembantu lainnya.


Di pintu masuk, Timo berpapasan dengan pembantu yang selama ini menjadi budak pemuas nafsunya. "Apakah semua baik-baik saja?"


"Baik Tuan muda." jelasnya.


"Pergilah." usir Timo, meninggalkannya sendiri di depan pintu. Dengan Timo masuk ke dalam ruangan. Dan langsung menuju ke ruangan di mana Rio asli berada.


Tanpa Timo sadari, semua pergerakannya sedang diawasi oleh dua pasang mata di tempat lain.


"Bedebah itu,,, bagaimana dia bisa tidur dengan tenang." geram Mikel, saat berada di markas, bersama dengan Gara.


Keduanya melihat apa yang dilakukan Timo lewat layar laptopnya. "Bulan memang hebat menaruh kamera pengintai." lirih Gara dengan wajah puas.


Mikel menoleh ke arah Gara. Dimana Gara sedang tersenyum. Pandangan Mikel kembali mengarah ke layar laptopnya.


Mikel baru menyadari, jika apa yang dikatakan Gara memang benar. Dirinya melihat apa yang dilakukan Timo dengan begitu jelas.


"Hanya saja gue khawatir, benda kecil itu dimakan oleh tikus." cicit Gara.


"Benar juga." ucap Mikel terjeda. "Semoga saja aman." lanjut Mikel.


Kekhawatiran Gara memang beralasan. Terlihat jelas banyak tikus dengan badan gemuk berlari dengan leluasa tanpa takut kepada apapun di sekitarnya.


Keduanya masih fokus ke layar laptop. Terlihat Timo semakin mendekati Rio. Timo membuka topeng yang berada di wajahnya. Memperlihatkan dengan jelas wajah aslinya. Dan semua itu terlihat jelas di layar laptop.


"Kebetulan yang sangat tepat sasaran." gumam Gara, memuji kembali posisi Bulan menaruh kamera pengintai.


"Bagaimana kabar elo hari ini?" tanya Timo mengambil kursi di sudut ruangan. Menaruhnya tepat di depan Rio, dan mendudukinya.


"Lepaskan gue, jika elo berani...!" seru Rio menggunakan tenaganya yang tak seberapa untuk berteriak kepada Timo.


"Tenang saja. Jika saatnya tiba, bukan hanya rantai itu yang akan gue lepas. Tapi juga nyawa elo, yang akan gue lepas dari tubuh elo." seringai Timo, yang sayangnya tidak akan pernah bisa dilihat oleh Rio.


Cuihh..... Rio meludah, dan tepat mengenai wajah Timo. "Haa.... haaa..... meski gue buta, gue masih bisa merasakan keberadaan iblis kayak elo." tukas Rio disertai tawa yang menggema di seluruh ruangan.


Timo mengeraskan rahangnya. Membersihkan air liur Rio menggunakan pakaiannya. Timo melihat dengan tatapan murka ke arah Rio yang masih tertawa lepas.


Timo berdiri dan,,,,, bugh... bugh... bugh...


Memukul wajah Rio berkali-kali. Bahkan, bukan hanya wajahnya, tapi juga anggota tubuh Rio yang lain.


Timo terus memukul Rio tanpa ampun. Melampiaskan amarahnya dengan membabi buta., meski keadaan Rio sudah tak sadarkan diri.


Di markas, Mikel yang melihatnya berteriak dengan kesal melihat apa yang dilakukan Timo. "Jika diteruskan, Rio bisa mati. Biadab. Dasar iblis....!!" seru Mikel dengan amarah yang memuncak.


Berbeda dengan Mikel yang terlihat kesal bercampur rasa khawatir, Gara malah terlihat santai. "Tidak akan. Timo tidak akan membunuh Rio. Dia masih membutuhkan Rio." jelas Gara, yang sejujurnya juga tidak tega melihat keadaan Rio.


Mikel menatap Gara dengan intens. "Izinkan gue ke sana." pintanya.


"Dan semua rencana kita akan hancur."


Mikel berdiri. "Bedebah dengan rencana kita. Elo lihat, dia manusia. Sebelum dia mati, kita bisa menyelamatkannya." seru Mikel.


"Tenang, tahan emosi elo. Jangan mudah melakukan sesuatu tanpa memperhitungkan dulu." sahut Gara.


"Gara,,,!! Ini soal nyawa...!!" bentak Mikel.


"Ya,,, gue tahu. Elo percaya saja dengan semua rencana yang akan Bulan jalankan. Jangan sampai elo merusaknya hanya karena emosi sesaat." tutur Gara.

__ADS_1


Tikk... Mikel mematikan layar laptop, dimana Timo masih melanjutkan aksinya memukuli Rio dengan brutal tanpa ampun.


Sungguh, dirinya tidak bisa melihat adegan tersebut. Hati nuraninya sangat tidak bisa menerimanya. Mikel tersenyum kecut.


"Pantas saja, Jevo saat itu ingin sekali membantu sang dokter." cicit Mikel.


Dirinya saja yang melihat secara tidak langsung. Melihat dari layar laptop saja tidak tega dan ingin membantu Rio.


Lantas, bagaimana dengan Jevo. Dimana dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tepat di depannya, Timo menghabisi nyawa sang dokter dengan cara biadab.


"Timo tidak akan membunuh Rio. Semua hartanya masih atas nama kedua orang tua Rio. Belum beralih atas nama Rio." jelas Gara.


"Jika harta tersebut sudah atas nama Rio, apa mungkin, semua harta akan dilimpahkan kepada Timo?" tanya Mikel sembari menebak.


"Benar. Di saat itulah, Timo tak pagi membutuhkan Rio. Karena semua harta sudah beralih atas nama dia." jelas Gara.


"Bagaimana dengan semua harta pak dokter?" tanya Mikel penasaran.


"Selamanya, Timo akan menjadi dokter Vinz. Karena hanya dengan cara itu, Timo bisa menguasai semuanya." jelas Gara.


"Benar juga. Dirinya pasti juga pandai memalsukan tanda tangan." tukas Mikel sembari berdecih.


"Elo nggak mau menyalakan laptopnya lagi?" tanya Gara, tersenyum samar. Mikel memencet sebuah tombol. Dan layar laptop kembali menyala.


Tampak hanya ada Rio di dalam ruangan. "Dia ada di ruang atas." tukas Gara memberitahu. Pasalnya, layar yang menampilkan ruangan pertama masih dalam keadaan menyala. Sehingga Gara bisa melihatnya, saat Timo menaiki anak tangga yang sangat unik tersebut.


Di tempat lain, Bulan menghentikan motornya di tengah jalan. Padahal, seharusnya dia belok ke sebelah kiri. Karena jalan tersebut tidak lurus. Melainkan sebuah tikungan.


Di depan Bulan hanya ada tumbuhan ilalang. Tanpa turun dadi motor, Bulan menatap tumbuhan liar didepannya tersebut.


Bulan menatapnya dengan seksama. Jika dilihat secara detail dan teliti, maka akan ditemukan sebuah perbedaan yang mencolok antara tumbuhan ilalang lainnya dengan tumbuhan ilalang di depannya.


Bulan menghela nafas panjang. Seolah menanti sesuatu dari balik ilalang tersebut. "Gue yakin, kakek itu tahu, jika gue sedang mengamati rumahnya." batin Bulan.


"Satu, dua, tiga......" Bulan berhitung untuk mengusir rasa jenuh pada dirinya.


Sebenarnya Bulan bisa saja masuk ke dalam tanpa permisi. Tanpa diketahui oleh sang kakek. Tapi, Bulan memutuskan untuk lewat depan. Dan sengaja menampakkan diri agar si kakek tahu kedatangannya.


Sebenarnya, Bulan hanya ingin memastikan. Jika sang kakek adalah orang baik, tentu saja dia akan menerima kedatangan Bulan dengan tangan terbuka dan dengan cara baik.


Bulan berani mengambil resiko tinggi, mengingat beberapa malam sebelumnya, sang kakek membantunya untuk menolong dua gadis yang akan menjadi korban Timo.


Jika seandainya sang kakek sama seperti Timo, yang mempunyai jiwa psikopat, Bulan juga tidak perlu khawatir. Sebab Bulan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.


Seperti yang Bulan tebak, kakek Timo mengetahui jika ada seseorang yang duduk di atas motor, menghadap rumahnya. Memandang intens ke arah rumahnya yang tertutup ilalang.


"Apa dia sama dengan orang waktu itu." gumam kakek Timo, mengintip Bulan dari jendela.


Memang, jika dilihat dari jalam beraspal, rumah kakek Timo tidak akan terlihat. Bahkan atapnya sekalipun. Padahal tumbuhan ilalang tidak seberapa tingginya.


Semua dikarenakan, setelah tumbuhan ilalang tersebut, ketinggian tanah yang berada dibelakangnya tidak sama rata dengan tanah yang di gunakan untuk membangun rumah kakek.


Tanah yang di bangun rumah kakek Timo jauh lebih rendah. Sangat jauh berbeda dari jalan beraspal, dan tanah yang ditumbuhi ilalang.


Dengan jendela rumah tepat di sela ilalang. Sehingga, siapapun yang berada di dalam rumah dapat melihat jika ada orang yang datang.


Hal tersebut terjadi karena, tumbuhan ilalang di depan rumah kakek memang selalu di buat dan sengaja di tata sedemikian rupa. Sehingga pandangan dari dalam bisa melihat kedatangan orang dari sela-sela tumbuhan ilalang yang terlihat rimbun dari jalan beraspal.


"Ckkk,,,, kesabaran gue juga ada batasnya." mulut Bulan merasa lelah, karena sedari tadi berhitung, menunggu seseorang muncul dari balik ilalang.


Bulan turun dari motornya. Belum sempat Bulan melangkahkan kakinya. Tumbuhan ilalang di depannya tersibak dari dalam.


"Sembunyikan motor kamu." pinta sang kakek, memutuskan untuk menerima tamu yang sopan, tapi tak diundang tersebut.


Tanpa mengatakan apapun, Bulan menyembunyikan motornya di balik rerimbunan ilalang yang tidak terdapat jebakannya.


Sang kakek tersenyum samar, beliau menduga jika Bulan sudah tahu mana saja tempat yang terdapat jebakan.


"Silahkan masuk." cicit sang kakek, melihat ke sekitar jalan. Takut jika ada yang melihat keberadaan mereka. Terutama sang cucu.


Bulan tahu, jika sang kakek dengan mengawasi keadaan sekitar mereka. Tapi Bulan hanya diam. Bulan sendiri bukan tipikal orang yang ceroboh. Tentunya dia sudah memastikan jika tidak ada orang yang mengintai mereka.


"Hati-hati." ujar sang kakek memimpin jalan di depan Bulan.


Krekk.... terdengar bunyi pintu yang sudah lapuk terbuka. Bulan memandang setiap sisi ruangan di mana dirinya sekarang berada.


"Jangan duduk di sana. Timo akan mudah mencium bau orang lain di sini." papar kakek.


Bulan mengernyitkan dahinya. Jika apa yang dikatakan kakek adalah benar, apa berarti Timo juga bisa mencium baunya saat dirinya mendatangi ruang rahasia dimana Rio asli di sekap.


Ada rasa khawatir di relung hati Bulan. Dirinya takut terjadi sesuatu dengan Rio. "Semua karena selama ini, hanya kakek yang tinggal di sini." jelas kakek Timo.


Bulan hanya diam. Menyimak setiap perkataan dari kakek Timo. "Timo hapal dengan bau di rumah ini, karena selama ini, semua benda di rumah ini tidak pernah diganti, atau bertambah. Semua sama seperti dulu." jelas kakek Timo.

__ADS_1


Bulan sekarang lega. Jadi, Timo menghapal bau karena semua sama. Bukan karena indera penciumannya yang tajam seperti Bulan.


"Apa kakek tahu, semua yang dilakukan Timo selama ini?" tanya Bulan, yang akhirnya membuka suaranya, namun tidak membuka helm yang menutupi seluruh wajahnya.


Sang kakek memandang Bulan dengan lamat. Dirinya tidak langsung menjawab pertanyaan Bulan. Kemungkinan, beliau syok. Sebab sosok di balik jaket besar dengan helm full face adalah seorang perempuan.


"Kakek diam. Saya menyimpulkan, jika kakek tahu semuanya. Semua kejahatan yang dilakukan Timo." ucap Bulan.


Kakek Timo duduk dengan lesu, raut wajahnya terlihat sedih menatap ke arah Bulan. Beliau tersenyum pahit. "Dan semua karena kakek. Semua berawal dari saya." ujarnya.


Bulan tetap berdiri, dirinya tidak menyentuh perabot di rumah tersebut. Meski hanya sedikit. "Sejak kecil, setelah kecelakaan orang tuanya, Timo berada di bawah pengasuhan saya. Tapi sayangnya, semua harta orang tua Timo hilang. Seseorang yang tidak bertanggung jawab, dengan tega memakan harta anak yatim piatu." jelasnya.


Bulan sebenarnya langsung ingin mengetahui intinya saja. Mengetahui apa yang ingin dia tahu. Tapi, tidak mungkin dirinya tidak mendengarkan apa yang sang kakek ceritakan.


Sebab, Bulan membutuhkan sang kakek untuk bersaksi. Menjadi saksi atas kejahatan Timo. Dan yang Bulan belum tahu, jika sang kakek akan bisa menjadi tersangka. Karena dialah orang yang membuatkan topeng untuk Timo.


"Sejak sekolah, Timo selalu di hina oleh teman sekolahnya. Karena kerusakan wajahnya saat dia kecelakaan." sang kakek menjeda kalimatnya, memandang ke sebuah meja usang, dimana di atas meja tersebut terdapat sebuah foto.


Bulan menebak, foto tersebut adalah foto kedua orang tua Timo, beserta Timo saat masih kecil. "Puncaknya, saat Timo berada di SMA. Beberapa murid nakal, membuli dia. Sehingga cacat di wajahnya semakin bertambah."


Kakek Timo menghela nafas. Dan Bulan tetap berdiri dengan sikap waspada. Salah satu tangannya berada di saku jaket. Dengan satu telapak tangan mengepal.


Bulan tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa saja sang kakek sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya. Sebah, Bulan mengetahui kejahatan sang cucu.


"Timo hanya mengurung diri di dalam rumah. Tak mau keluar. Meski dirinya saat itu sudah lulus sekolah. Saya merasa tidak tega. Dan memutuskan untuk membantunya. Yang malah membuatnya menjadi seperti ini." sang kakek menangis, dirinya merasa menyesal yang tak berujung.


Bulan semakin penasaran. "Membantu." gumam Bulan mencoba menebak apa yang sang kakek lakukan.


Tanpa sengaja, Bulan melihat sebuah ruangan yang terbuka. Dimana ada sebuah benda berbentuk seperti kulit manusia berada di sebuah tali. Seperti sedang dijemur.


Kaki Bulan melangkah mundur selangkah. Bulan mengalihkan kembali pandangannya ke arah sang kakek dengan tatapan tak percaya. "Anda, anda yang membuat semua topeng itu?" tanya Bulan dengan suara bergetar.


Tanpa melihat Bulan, sang kakek mengangguk lemah. "Astaga....!!" geram Bulan, menahan amarah.


Sebenarnya, Bulan sangat penasaran dengan proses pembuatan topeng tersebut. Tapi Bulan tak ada waktu untuk bertanya atau menyelidikinya. Sebab, bukan itu yang sedang Bulan incar.


Dan Bulan tak bisa membuang-buang waktu. Apalagi, dirinya harus segera menyelamatkan Rio asli yang sekarang keadaannya sangat mengenaskan.


Bulan berjongkok. Menatap sang kakek dengan intens. "Kenapa anda tega, membuat serta menciptakan seekor monster. Monster hidup, yang haus akan darah manusia." tekan Bulan.


"Maaf, saya tidak mengira. Kejadiannya akan seperti ini." ujarnya menangis.


Bulan tahu, niat dari sang kakek adalah baik. Dengan membuat topeng tersebut, setidaknya Timo tidak lagi dihina di luar sana. Dan busa hidup dengan normal.


Tapi, Timo sendirilah yang menjadikan dirinya seorang monster. Karena dalam benaknya, dirinya selalu menekankan bahwa dia adalah manusia yang tersakiti, yang harus membalas dendam.


Hingga dendam tersebut, membuatnya menjadi seorang psikopat yang haus darah. Dan bertindak di luar batas wajar.


"Anda tahu, berada banyak orang yang sudah menjadi korban Timo. Apa anda tahu, selalu ada orang tua yang menangis setiap bulan, karena anak mereka meninggal dengan cara yang tak manusiawi." tekan Bulan.


Bulan mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Dan semua itu sudah Bulan persiapkan sebelumnya sebelum dia berangkat ke rumah kakek Timo.


Bulan menyerahkan banyak foto kepada sang kakek. Dan semua foto tersebut adalah foto korban kekejaman Timo, saat sudah ditemukan tak bernyawa.


Sang kakek mengusap air mata di pipi serta kelopak matanya. Dengan tangan gemetar, sang kakek mengambilnya. Kedua matanya membola melihat banyaknya foto mayat remaja yang masih berseragam SMA meninggal dengan cara tragis.


"Ini..." semua foto tersebut jatuh berserakan ke bawah.


"Ya, itu hanya sebagian. Sebagian."


"Tidak, Timo mengatakan hanya melenyapkan beberapa orang saja. Karena mereka telah menyakiti Timo. Cucuku hanya melampiaskannya pada hewan." cicitnya.


"Dan anda percaya." sinis Bulan tersenyum samar.


Kakek Timo menatap Bulan dengan tatapan penuh tanya. "Apa yang anda inginkan saat ini, setelah mengetahui kebenarannya?" tanya Bulan dengan tegas.


Sang kakek terdiam. Tidak menjawab pertanyaan dari Bulan. "Baiklah, saya akan memberitahu sesuatu pada anda."


Bulan kembali mengumpulkan semua foto yang berserakan. Lalu kembali memasukkannya ke dalam saku jaketnya bagian dalam.


"Saya akan mengungkapkan kasus Timo ini ke publik. Di tangan saya, sudah ada bukti yang sangat banyak. Bahkan, saya juga masih menyimpan jasad seorang dokter, yang saat ini Timo gunakan wajahnya. Dimana jasad tersebut tak lagi dalam keadaan utuh. Dan jasad tersebut bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam kantong kresek." jelas Bulan.


Kakek Timo langsung berdiri dengan kaki gemetar, kepalanya menggeleng tak percaya, jika cucunya bisa sesadis itu saat melakukannya.


"Dan saya yakin, kakek juga tahu, wajah mana yang saya maksud."


"Astaga." sang kakek kembali duduk dengan lemas.


"Dua hari lagi, saya akan datang ke sini. Pikirkanlah dengan matang. Sebab besok, saya harus menolong seseorang yang akan menjadi korban Timo selanjutnya. Dia bernama Rio." jelas Bulan.


"Rio... Bukankah dia sudah meninggal dalam kecelakaan?" tanya sang kakek.


Bulan menebak, jika Timo sudah menceritakan siapa Rio, dan kenapa Timo menggunakan wajah Rio pada sang kakek. "Saya tidak bisa menceritakannya sekarang. Dua hari lagi, saya akan datang ke sini."

__ADS_1


Bulan sengaja mengatakan semuanya pada sang kakek. Tentu saja, Bulan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan sang kakek.Bulan tersenyum meninggalkan rumah tua tersebut.


__ADS_2