PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 93


__ADS_3

"Sorry Jevo,,, Jeno,,,, kita akan beraksi tanpa elo pada." lirih Mikel, menatap ke layar.


"Kalian berdua ikut saya. Biar Gara di sini, sendiri." ujar Bulan.


Ketiganya paham, kenapa Bulan mengambil keputusan tersebut. Yang biasanya Arya akan tetap di tempatkan di markas. Memantau pergerakan musuh dari markas. Tapi tidak kali ini.


Semua dikarenakan ketidakhadiran Jevo dan Jeno dalam misi kali ini. Bulan tidak akan bisa mengeluarkan Rio seorang diri dari rumah tersebut. Mengingat bagaimana kondisi tubuh Rio.


"Baik." ujar keduanya bersamaan.


"Bagaimana?" tanya Bulan pada Gara. Pasalnya, Gara mengikuti ke mana perginya Timo dengan meretas beberapa kamera CCTV yang berada di jalan. Memantau pergerakan Timo dari benda tersebut.


Gara menggeleng. "Dia terlihat santai." Gara menunjuk ke sebuah mobil, yang berhenti di perempatan jalan karena terjebak lampu merah.


"Baiklah. Kalian berdua persiapan semuanya. Segera kita berangkat." ajak Bulan, yang dimana Bulan berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang akan dia kenakan.


Begitu juga Mikel dan Arya. Keduanya juga berganti pakaian. Dan pastinya menutupi seluruh wajah mereka, menyisakan kedua matanya saja untuk mempermudah semuanya.


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Timo mendekatkan ponselnya pada telinga. Tak berselang lama, Timo menyimpan kembali ponselnya di dalam saku celana, dan bergegas pergi.


Mereka menebak jika Timo ditelepon oleh seseorang. Dan membuat Timo harus meninggalkan rumah untuk pergi ke suatu tempat.


"Kalian siap?!" tanya Bulan. Yang mendapat anggukan yakin dari Mikel dan Arya.


"Arya, kamu menunggu di seberang jalan. Tetap di dalam mobil. Dan jangan sampai ada yang melihat kamu. Siapapun itu. Mengerti?!"


"Baik bu."


"Dan Mikel, kamu ikut masuk dengan saya."


"Baik bu."


"Jika kalian membawa ponsel. Jangan lupa untuk mematikan nada deringnya. Jangan sampai semua rencana kita gagal hanya karena hal sepele." ujar Bulan mengingatkan.


Gara tetap fokus ke layar laptop untuk memantau pergerakan Timo, yang belum diketahui arah tujuannya. "Kalian berhati-hatilah. Selalu nyalakan alat komunikasinya." ujar Gara tanpa melihat ke arah ketiganya.


"Kita pergi, segera elo aktifkan pengaman ganda. Jangan sampai semua terulang." tukas Bulan mengingatkan. Supaya kejadian dimana Gara diserang musuh tidak kembali terjadi.


"Oke, jangan khawatir."


Ketiganya segera meninggalkan markas. Tentunya mereka tidak ingin membuang-buang waktu. Dan mereka juga harus menggunakan waktu sebaik mungkin. Sebab, mereka tidak ada yang tahu, berapa lama Timo akan keluar rumah. Dan kapan Timo akan kembali lagi.


Bulan menaiki motornya sendiri. Sedangkan Arya dan Mikel mengendari mobil. Kedua kendaraan tersebut melaju dengan cepat membelah jalanan untuk menuju ke satu tempat. Yakni rumah Rio.


Sementara di tempat lain, kelurga Tuan David sedang saling sapa dan beramah tamah dengan keluarga besar Tuan David.


Sedangkan kedua putra Tuan David merasa mereka hanya membuang-buang waktu berada di tempat ini. Semua tampak tersenyum sembari berbincang. Tapi siapa yang tahu apa yang terpendam dalam hati.


"Ternyata bukan hanya Timo saja yang memakai topeng." batin Jeno.


Jevo maupun Jeno sudah tahu, jika diantara keluarga besar sang papa, banyak yang merasa iri dengan apa yang diraih sang papa.


Hanya saja, mereka terlihat baik saat di depan Tuan David sekeluarga. Sementara di belakangnya, tentu saja mereka menggebu ingin menjatuhkan Tuan David.


Apa Tuan David tidak tahu? Pastinya beliau tahu. Hanya saja, selama mereka tidak berulah, maka Tuan David juga akan santai saat bertemu mereka.


"Lihat orang itu. Bukankah dia yang saat itu menjelekkan papa. Ternyata dia masih saudara papa." lirih Jevo, berbicara dengan Jeno.


"Si botak itu. Penjilat." sahut Jeno tersenyum miring.


"Hay Jevo." sapa seorang gadis dengan penampilan yang memperlihatkan keanggunannya, tiba-tiba mendekat ke arah mereka. Tersenyum manis menyapa Jevo. Menghiraukan Jeno.


Apa Jeno peduli. Tentu saja tidak. Dirinya sama sekali tidak tertarik dengan perempuan manapun. Kecuali Bulan. Dan hanya Bulan yang mampu membuat Jeno kelimpungan tak karuan.


Jevo hanya membalas senyumnya, tanpa ada niat berbincang dengannya. "Tante, om." sapanya, bersalaman dengan kedua orang tua Jevo.


"Ya ampun, padahal hanya setahun kita tidak bertemu. Lihatlah, kamu sudah menjadi gadis cantik." puji Nyonya Rindi pada gadis di depannya.


"Terimakasih tante." sang gadis beberapa kali mencuri pandang ke arah Jevo.


Hanya saja, Jevo malah menatap Jeno yang terlihat gusar, sudah tak terhitung, berapa kali Jeno menatap ke arah pergelangan tangannya. Melihat sebuah jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.


"Jevo, Jeno kalian masih ingatkan dengan si cantik ini?" tanya Nyonya Rindi memastikan.


"Ya." jawab Jevo singkat, sedangkan Jeno hanya mengangguk malas. Keduanya bahkan tak melihat ke arah gadis yang dimaksud sang mama.


Sebenarnya, bukan hanya gadis itu saja yang ingin mendekati Jevo. Hanya saja, nyali mereka tak sebesar niat mereka.


Jeno tersenyum samar. "Penampilan seperti ini ternyata sangatlah berguna juga." batin Jeno. Dirinya sedari tadi merasa jika banyak gadis yang menatap ke arah mereka. Dan Jeno yakin, jika mata mereka fokus kepada saudara kembarnya. Jevo.


Mereka berbicara dengan santai sembari duduk menikmati makanan. Tapi terlihat jelas Jevo dan Jeno terlihat malas. Bagaimana keduanya akan antusias berada di tempat ramai ini, jika pikiran mereka berada di tempat lain.


"Jeng...." sapa seorang perempuan sepantaran dengan Nyonya Rindi datang bersama dengan sang suami beserta anaknya. Mereka lantas segera cipika cipiki dan duduk bersama mereka seraya berbincang.


"Wah,,, si kembar sudah menjadi remaja. Lihat, papanya saja sudah dikalahkan." guraunya, melihat postur tubuh Jevo dan Jeno.


"Lihat putramu. Bukankah sama saja." tukas Nyonya Rindi, menatap lelaki remaja yang terlihat ramah dan selalu tersenyum di depannya.

__ADS_1


"Pa, bisakah kita pulang terlebih dulu?" tanya Jevo, meminta izin pada sang papa.


Keduanya sudah melakukan apa yang diinginkan sang papa. Beramah tamah serta bersapa dengan semua keluarga sang papa.


Keduanya merasa terlalu lama berada di tempat ini. Yang mereka pikir hanya membuang-buang waktu. Yang pastinya, para rekannya saat ini pasti sudah beraksi di lapangan.


"Loh,,, memangnya kalian mau kemana? Kamu temani putra tante dulu dong. Dia baru sampai tadi pagi. Mau ya." pintanya.


Berteman dengan putra dari Tuan David, siapa yang tidak mau. Apalagi nama Jevo dan Jeno juga cukup tenar di kalangan anak muda.


"Maaf tante, ada pekerjaan sekolah yang belum kita kerjakan." ujar Jeno beralasan.


"Emmm,,,, jadi kalian mau pulang." tanyanya.


"Kak Jevo mau pulang?" tanya gadis yang sedari tadi masih berada di antara mereka. Tapi Jevo hanya acuh.


Jevo bukanlah lelaki yang mudah terpesona dengan perempuan cantik. Bagi Jevo, mereka yang menyodorkan diri pada dirinya hanya akan dijadikan mainannya. Tak lebih.


Tapi kali ini, tak ada waktu untuk bermain-main. Dirinya bersama Jeno harus segera meninggalkan tempat ini. Dan segera bergabung bersama yang lain.


"Kebetulan. Ajak putra tante ke rumah kalian. Soalnya, dia akan menetap untuk tinggal di sini. Biar punya kenalan. Meski umur kalian masih di bawah putra tante. Tapi tidak apa kan." bujuk dengan getol.


"Bagaimana sayang?" tanyanya pada sang putra.


"Oke. No problem." sahutnya, menyetujui permintaan sang mama untuk dirinya ikut Jevo dan Jeno pulang ke kediaman Tuan David.


Sebab dia juga tahu seberapa besar nama Tuan David. Sebuah keberuntungan jika dirinya bisa dekat dengan kedua putranya.


"Aku juga boleh ikut. Bosen di sini." celetuk gadis cantik di sebelah Jevo.


Tuan David dan Nyonya Rindi hanya diam tak menyahuti obrolan mereka. Keduanya tahu, jika pulang ke rumah hanyalah alasan yang dibuat putranya untuk bisa meninggalkan tempat ini.


Tuan David mengusap pucuk hidungnya yang mancung, sembari tersenyum samar. Dan semua itu dilihat oleh Jevo.


"Tapi maaf tante, kami tidak pulang ke rumah. Tapi ke rumah teman kami." ujar Jevo, menolaknya dengan sopan.


Perempuan paruh baya tersebut ingin mengeluarkan suara lagi, tapi Jeno terlebih dahulu berucap. "Rasanya tidak enak, jika kami mengajak orang lain. Apalagi, kami ingin mengerjakan tugas sekolah. Bukan untuk bermain." ujar Jeno.


"Baiklah, pa, ma, semuanya. Kami pamit dulu." ujar Jevo tanpa basa-basi.


"Aku ikut kak." timpal gadis cantik di samping Jevo.


"Tidak perlu. Lihatlah, lebih baik elo bersama mereka. Tak pantas, seorang perempuan dan lelaki keluar malam hari." tolak Jevo, menunjuk ke arah sekumpulan gadis yang sedang berbincang.


Kenyataannya, dirinya selalu keluar malam bersama para perempuan. Dan menghabiskan waktu panjang bersama mereka. Salah satunya Claudia.


Segera keduanya bergegas meninggalkan tempat tersebut setelah berpamitan pada kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin ada gangguan lagi, yang menghambat langkah kaki mereka untuk meninggalkan gedung tersebut.


Sang gadis tersenyum manis. Padahal, dalam hatinya sedang mengumpat kesal. Karena Jevo telah menolaknya. "Sialan, padahal gue udah dandan paripurna seperti ini. Masih juga ditolak. Brengsek." umpatnya dalam hati. Merasa semua persiapan yang dilakukannya percuma.


Jevo dan Jeno segera memesan taksi, dan pulang ke rumah. "Sial. Kenapa juga kita tidak membawa mobil sendiri." ketus Jevo di dalam mobil.


Keduanya tidak meminta sopir untuk mengantarkan mobil. Tentu saja mereka tidak ingin sang sopir mengadu pada sang papa. "Kelihatannya mereka sudah beraksi." tukas Jeno, yang sudah tidak bisa menghubungi Arya.


"Semoga kita tidak terlambat." ujar Jevo. "Pak, bisa lebih cepat sedikit. Kita sedang dalam keadaan urgent." lanjut Jevo.


"Baik mas." sahut pak sopir, menambah kecepatan laju taksinya.


Sementara Bulan bersama dengan Mikel dan Arya berada tak jauh dari kediaman Rio. "Apa kita akan berhenti di sini?" tanya Mikel, yang sudah tak berada di dalam mobil. Dan berdiri di dekat Bulan.


"Tidak." tukas Bulan.


"Kalian lihat rumah kecil itu." tunjuk Bulan ke sebuah tempat. Mikel dan Arya mengangguk.


"Kita parkir kendaraan di sana." tukas Bulan.


Mikel dan Arya saling pandang. "Tenang saja, rumah itu kosong." jelas Bulan, membuat keduanya mengerti.


Segera mereka bertiga ke tempat yang Bulan tunjuk. Dengan jarak hanya sekitar seratus meter dari rumah Rio. "Gara, bagaimana dengan Timo?" tanya Bulan melalui alat komunikasi mereka.


"Dia mengarah ke bandara." ujar Gara memberitahu.


Bulan memejamkan kedua matanya sesaat. "Sial, kenapa mesti di saat seperti ini." geram Bulan, sebab mama Rio datang dari luar negeri dengan waktu yang dangat tidak tepat.


Ketakutan Bulan, mama Rio akan di jadikan pelampiasan rasa kesal Timo, jika dia tahu bahwa Rio menghilang dari tempat terkutuk yang dia ciptakan.


Mikel dan Arya bisa menebak apa yang ada dalam benak Bulan. "Apa gang harus kita lakukan sekarang bu?" tanya Arya.


"Membebaskan Rio, atau mengamankan mama Rio. Sehingga beliau tidak bertemu dengan Rio." sahut Mikel.


"Tapi, mama Rio pasti tidak akan percaya. Jika tidak ada bukti." tukas Arya.


"Benar juga." timpal Mikel merasa kebingungan.


"Satu-satunya cara. Kita melakukan keduanya secar bersamaan malam ini." ujar Bulan.


Padahal, Bulan sudah merencanakan akan mengamankan mama Rio setelah mereka berhasil mengeluarkan Rio dari dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Tapi nyatanya, semua tak sesuai dengan apa yang telah direncanakan Bulan. "Bagaimana caranya bu. Kita kekurangan personil." ujar Arya.


Sedangkan Gara hanya diam, mendengar perdebatan kecil mereka. Gara sadar, jika dia tidak bisa membantu. Oleh karenanya, Gara hanya mengikuti rencana yang sudah diatur oleh Bulan.


"Jevo dan Jeno. Kenapa mereka berdua tidak ada bersama kita di saat seperti ini." dengus Mikel merasa keduanya seharusnya memilih bersama mereka ketimbang menghadiri acara tak berguna tersebut.


Bulan terdiam sejenak. Memikirkan apa yang harus dia lakukan. "Gara, berapa lama kira-kira Timo sampai ke bandara?" tanya Bulan.


"Sebentar." sahut Gara di markas. "Sekitar sepuluh menit lagi, Timo akan sampai di bandara." lanjut Gara memperkirakan.


"Sepuluh menit." gumam Bulan.


"Baiklah. Sepuluh menit. Kita punya waktu sekitar sepuluh menit." ucap Bulan.


"Bu Bulan yakin, sepuluh menit, dan kita bisa menyelesaikannya." tanya Arya ragu.


"Yakin. Mikel percaya dengan bu Bulan." ungkap Mikel memandang Bulan dengan tatapan percaya.


Bulan mengangguk. "Kita ganti rencana." Bulan mengambil kertas, dimana di atas kertas tersebut terdapat denah rumah Rio.


Mikel dan Arya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bulan. Ketiganya duduk berjongkok. "Arya, kamu tunggu di samping rumah. Kita akan melewati jalan itu." Bulan menunjuk ke gambar di tangannya.


"Baik." Arya segera berlari.


"Hey,,, mau kemana kamu?!" seru Bulan dengan suara tertahan.


Arya kembali seraya tersenyum lucu, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Maaf, salah arah." celetuknya, lalu berlari ke arah yang benar.


"Bisa-bisanya dia nglawak di saat seperti ini." ujar Mikel menggelengkan kepalanya.


Bulan mengangguk dengan menatap Mikel. Yang juga diangguki oleh Mikel. Keduanya bersamaan melakukan gerakan menutup wajah.


Bulan berjalan terlebih dahulu. Dengan Mikel mengekor di belakangnya. Bulan menajamkan panca inderanya, untuk masuk ke dalam rumah.


Tak lupa, Gara selalu memberikan informasi. Bagaimana keadaan di dalam rumah.


Mata Gara bukan hanya mengawasi satu layar di depannya. Tapi lebih dari empat layar yang semuanya menyala. Dan Gara sudah terbiasa akan hal tersebut.


"Ada yang berjalan ke arah kalian." ucap Gara memberitahu.


Bulan mengepalkan telapak tangannya dan di angkat ke atas. Mikel segera berjongkok mengikuti apa yang dilakukan Bulan.


Kedua mata Bulan memutar, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengalihkan perhatian beberapa pembantu yang bergerombol tak jauh dari tempatnya bersembunyi dengan Mikel.


Sebab Bulan tak punya banyak waktu untuk menunggu. "Itu dia." ucap Bulan dalam hati, menemukan cara untuk mengalihkan perhatian mereka.


Bulan mengambil sebuah senjata berukuran kecil dari dalam lengan jaketnya. "Apa yang akan bu Bulan lakukan?" tanya Mikel dalam hati.


Bulan fokus pada sebuah benda, tersenyum miring penuh makna. Dan tar..... pyar.... Sebuah lampu gantung berukuran besar dan mahal jatuh ke lantai. Membuat para pembantu terkejut. Juga dengan Mikel.


Mikel bukan terkejut karena lampu berukuran besar dan mewah tersebut jatuh. Melainkan keahlian yang Bulan tunjukkan di depannya. "Bagaimana bisa." batin Mikel, karena pastinya lampu tersebut digantungkan menggunakan besi yang pastinya sangat kuat.


Seperti dugaan Bulan, fokus mereka semua langsung tertuju pada lampu gantung tersebut. Tentu saja mereka sibuk membersihkan lampu tersebut.


"Keadaan aman. Lanjut." ujar Gara memberitahu. Bulan segera berlari, dengan Mikel mengekor di belakangnya.


Bulan menarik lengan Mikel dengan segera, saat seorang pembantu hampir saja melihat pergerakan Mikel yang dinilai lambat menurut Bulan.


Tapi Bulan juga tak bisa menyalahkan Mikel. Karena dia sama sekali belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.


"Berhati-hatilah. Langkahkan kakimu dengan cepat, tapi jangan sampai menimbulkan suara." bisik Bulan, yang diangguki Mikel.


Nafas Mikel seakan terhenti di rongga dada. Dirinya berdiri sangat dekat dengan Bulan. Bahkan Mikel bisa merasakan hembusan nafas Bulan menerpa kulitnya, padahal Mikel sudah membalut semuanya dengan kain. "Gue pasti akan dibantai Jeno." batin Mikel, jika Jeno mengetahui posisinya dan Bulan.


Bulan kembali berjalan. Membuka pintu utama ruang rahasia. "Apa di dalam aman?" tanya Bulan pada Gara.


"Aman. Gundik Timo sedang tidur di kamarnya." jelas Gara sudah memastikan terlebih dahulu keberadaannya.


Bulan tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera dia mengajak Mikel untuk masuk ke ruangan di mana Rio berada. Masuk ke dalam, bukanlah hal yang sulit.


Namun, keluar dari tempat tersebut yang membutuhkan waktu dan keadaan yang tepat.


"Siapa di sana?" tanya Rio, meski kedua matanya tak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan jika ada seseorang yang mendekat.


Memang, kedua mata Rio tidak berfungsi. Tapi kedua telinga serta hidung Rio berfungsi dengan sangat baik.


Mikel melangkahkan kakinya dengan tatapan tak percaya. Dia yang hanya melihat dari layar laptop merasa keadaan Rio begitu mengenaskan.


Dan sekarang, saat dirinya melihat langsung, Mikel tak bisa menahan rasa sedih bercampur kesal. Bahkan, air matanya menetes tanpa dia inginkan. "Biadab." geram Mikel melihat keadaan Rio.


Rio menajamkan pendengarannya. "Siapa di sana." Rio merasa jika dirinya pernah mencium wangi ini sebelumnya.


"Saya pernah datang ke sini. Dan mungkin, kamu sudah pernah merasakan kehadiran saya sebelumnya." jelas Bulan mengeluarkan suaranya. Menebak jika Rio sudah pernah tahu, jika dirinya pernah mendatangi ruangannya ini.


"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya lirih, Rio nisa merasakan jika mereka berdua adalah orang baik.


"Mengeluarkan kamu dari sini." jelas Bulan.

__ADS_1


"Tidak. Jangan. Jangan mengeluarkan aku dari sini." pinta Rio, menggeleng tak mau.


Mikel mengernyitkan keningnya. Keduanya ingin mengeluarkan Rio dari rumah ini. Memberi kebebasan pada dirinya. Menjauhkan dirinya dari siksaan Timo. Tapi, kenapa Rio malah menolak. Dan tetap ingin bertahan di tempat terkutuk ini.


__ADS_2