
Arya membuka pintu mobil. Berjalan ke arah samping rumah, dimana ada Mikel disana. Gara tersenyum melihat pergerakan Arya. "Gue yakin, elo bukan pengecut." cicit Gara.
Dor.... Gara melesatkan sebuah tembakan, saat ada lelaki yang berlari melewati pagar rumah. "Tenang saja, tidak akan gue biarkan ada tikus yang selamat." tukas Gara meniup ujung pistolnya yang masih mengebulkan asap hangat dari dalam.
Mikel melirik ke samping, dimana Arya sedang sibuk mencari sesuatu untuk dapat dijadikan alat tanjakan seperti Mikel.
"Mike... elo dapat kayu itu dari mana?" tanya Arya yang bisa-bisanya bertanya hal yang tak penting pada Mikel.
"Sialan,,,,!! lebih baik elo pergi saja. Berisik...!!" usir Mikel dengan ketus.
Lagi pula Arya memang aneh. Disaat Mikel sedang konsentrasi melumpuhkan musuh satu persatu, dirinya malah bertanya hal yang sama sekali tidak penting. "Sewot banget sih elo." sahut Arya.
Arya melihat sebuah kayu besar dan tinggi. Mirip yang digunakan oleh Mikel untuk tempatnya duduk dengan disenderkan dengan tembok pagar.
Arya bermaksud mengambilnya tapi lagi-lagi tingkah Arya malah membuat Mikel kehilangan konsentrasi dan ingin tersenyum saja.
Arya berkacak pinggang sembari menatap kesal ke arah benda mati tersebut. "Astaga,,, kenapa elo berat sekali. Pasti banyak dosa." gerutunya, mengejek kayu yang tergeletak di tanah.
Arya mengambil nafas panjang, menatap ke arah kayu tersebut. Lalu di seretnya secara perlahan. Dan ditaruh seperti milik Mikel. "Akhirnya,,,, setelah perjuangan gue yang hampir kehabisan nafas, bisa juga berdiri nih kayu." cicit Arya dengan kaki kiri menendang kayu di depannya.
Mikel mendengus sebal. "Arya...!! Jangan berisik bego...!!" geram Mikel. Dimana Arya sangat mengganggu konsentrasinya.
"Maaf, jangan salahkan gue. Salahkan kayu ini." cicit Arya tak mau disalahkan sembari menaiki kayu tersebut, menjadikannya tempat untuk menaruh pantatnya.
"Mikel..."
"Diam. Jangan berisik." ujar Mikel memotong perkataan Arya dengan suara lirih.
Arya menatap ke depan. Tepatnya ke arah bawah, di pekarangan belakang rumah mewah tersebut. Sejenak jantungnya berhenti berdetak melihat banyaknya orang yang bergelimpangan tak bernyawa di bawah. Lebih dari sepuluh orang.
Arya mengalihkan pandangan ke arah Mikel yang nampak serius dengan tetap menembak musuh hang dapat dia lihat dengan kedua matanya.
"Mikel,,,, dia." batin Arya terkejut dengan keahlian menembak Mikel. Pasalnya, yang Arya tahu Mikel adalah sosok pendiam dan tak banyak bicara.
Selama bersahabat dengan Mikel, Arya juga merasa Mikel sama seperti dirinya. Tak mempunyai keahlian seperti ini. Tapi siapa yang menyangka, sekarang Arya melihat sendiri bagaimana keahlian menembak seorang Mikel.
"Siapa elo sebenarnya Mik..." batin Arya, merasa sahabatnya tersebut menyimpan sebuah rahasia yang penuh kemisteriusan.
Tangan Mikel bergerak cepat menyambar tubuh Arya, hingga keduanya terpelanting jatuh ke bawah. Terlambat sedikit saja, nyawa Arya sudah berpisah dari tubuhnya.
Arya tampak syok dan terkejut. "Apa yang elo lakukan. Jika elo belum siap, tetap di dalam mobil. Setidaknya pikirkan nyawa elo. Brengsek." umpat Mikel tak habis pikir dengan Arya.
"Elo pikir ini wahana permainan." geram Mikel.
"Ma-maaf." cicit Arya yang masih dalam keadaan terkejut.
Mikel segera berdiri, membersihkan pakaiannya yang kotor. Tak mungkin Mikel kembali ke tempatnya duduk. Sebab musuh sudah mengetahuinya. Dan semua karena Arya yang duduk santai.
"Tetap di sini. Jangan menyusahkan gue. Di dalam, bu Bulan sedang mempertaruhkan nyawanya." sinis Mikel meninggalkan Arya seorang diri.
Arya menatap kepergian Mikel dengan ekspresi datar. "Bu Bulan." lirihnya.
Segera Mikel mencari tempat yang sekiranya aman untuk dia melanjutkan apa yang sebelumnya telah dia lakukan.
Arya mengusap wajahnya kasar. "Bergunalah sedikit Arya. Jangan membuat orang lain dalam bahaya karena elo." cicitnya.
Arya mengeluarkan pistolnya daei balik jaket yang dia kenakan. Menatapnya dengan lamat. Memejamkan kedua matanya dan menghela nafas panjang untuk mengusir rasa resah di dalam hatinya.
"Elo pasti bisa Arya." lirih Arya menyemangati dirinya sendiri melawan keraguan dalam dirinya. Sebab, ini pertama kalinya bagi Arya bermain-main dengan benda berbahaya tersebut.
Arya berlari ke arah yang berlawanan dengan Mikel. Mencari tempat aman seperti Mikel. Dan memulai menggunakan senjata api yang sudah dia persiapkan dari markas.
Gara yang berada si dalam mobil melihat sosok Arya yang berjalan renang menuju ke depan. "Loh,,, mau kemana lagi cecunguk satu itu?" gumam Gara penasaran.
Gara hanya melihat Arya berjalan ke arah mana dan akan berhenti di mana. Tanpa berani menegur atau bertanya. Gara hanya khawatir suaranya akan menarik musuh untuk mendatanginya.
Arya duduk di sebuah tempat seperti pot, namun terbuat dari bata dan semen. Duduk di samping bunga yang tumbuh di dalam pot dengan subur.
__ADS_1
Mengarahkan moncong senjata ke dalam pekarangan rumah melalui celah pagar besi yang berada di pinggir.
"Astaga Arya..." gumam Gara, dikarenakan Arya memilih tempat tersebut. Padahal Gara sudah berada di dalam mobil yang parkir di belakang Arya.
Menunggu musuh yang keluar dari dalam mobil. Lantas kenapa Arya malah memilih tempat tersebut. "Sudahlah, anak satu ini memang beda. Lebih baik gue mengumpulkan stok kesabaran yang banyak." tukas Gara pada dirinya sendiri.
Di sebelah rumah yang lainnya, Jevo memanjat pohon yang tumbuh dengan subur di samping pagar tembok rumah mewah tersebut.
Meski pohonnya terbilang tinggi, tapi bagi Jevo bukan masalah besar. Dengan mudah Jevo naik dan menemukan tempat yang dia rasa aman untuk melakukan aksinya.
Sama seperti Mikel sebelum di ganggu dengan kedatangan Arya, Jevo pun melakukan aksinya dengan cukup baik.
Dan bahkan hingga sekarang Jevo masih nyaman nangkring di atas dahan pohon yang berukuran besar. "Ternyata asik juga." lirih Jevo, menikmati apa yang sedang dia lakukan.
Di sisi lain, ada Jeno yang juga sedang melancarkan aksinya. "Bulan ku memang cerdas." puji Jeno.
Jeno menyadari jika Bulan sengaja memancing para penjaga untuk keluar dari rumah saat mendengar suara tembakan.
Dengan jelas Jeno melihat, beberapa penjaga hendak masuk ke dalam rumah. Tapi mereka terlihat kesulitan. Jeno menebak jika Bulan telah mengunci jalan untuk keluar masuk ke dalam rumah.
Sehingga para penjaga akan tetap di luar rumah. Dan menjadi sasaran empuk bagi Jeno beserta yang lain. Apalagi hanya ada pohon-pohon kecil. Yang pastinya tidak akan bisa digunakan untuk bersembunyi.
Jeno juga mendengar beberapa kali tembakan yang berasal dari dalam rumah. Setelah seorang penjaga berhasil merusak sebuah jendela.
Sembari mencari target yang semakin sulit ditemukan karena jumlah mereka berkurang, tak henti-hentinya Jeno berusaha mencari sosok Bulan.
Jeno berharap melihat wajah sang kekasih yang cantik. Jeno hanya ingin memastikan jika Bulan dalam keadaan baik-baik saja.
Suara tembakan mulai berkurang. Menandakan jumlah musuh hanya tinggal sedikit. Dan hal tersebut malah lebih sulit dihadapi.
Di tempatnya bersembunyi, Bulan mengamati dengan seksama keberadaan kawan maupun lawan. Dengan penampilannya sekarang, tidak tak mungkin jika rekannya mengira jika Bulan adalah musuh mereka.
Bulan bisa menangkap keberadaan rekannya. Bulan melihat dahan pohon yang bergerak hanya di satu tempat saja. Sementara yang lainnya diam tak bergerak, karena memang tak ada angin yang berhembus.
"Beruntung semua musuh amatir. Jika saja ada yang profesional, pasti elo akan mudah ditemukan." cicit Bulan mengetahui salah satu keberadaan rekannya. Tanpa dia tahu jika itu adalah Jevo.
Bulan mengarahkan kedua pistol di tangannya sekaligus. Setelah mengunci target, Bulan tanpa enggan menarik pelatuk.
Dorr.... dor.... Tepat sasaran. Keduanya langsung tumbang di atas tanah. Suara tembakan Bulan mengundang rasa penasaran baik lawan maupun kawan.
Apalagi sudah rak terdengar suara tembakan selain dua tembakan yang baru saja Bulan lesatkan. "Ruang CCTV. Gue harus ke sana." cicit Bulan.
Tak mungkin Bulan menyisir rumah sebesar ini untuk memastikan semua lawannya telah habis. Terlebih Bulan menebak jika masih ada yang bersembunyi. Baik di dalam rumah maupun di luar rumah.
Bulan kembali masuk ke dalam salah satu kamar melewati jendela yang rusak. Dengan tetap bersikap waspada, Bulan berjalan menuju ke ruang kendali CCTV.
Kedua tangan Bulan tetap siaga dengan memegang pistol berisi peluru di masing-masing tangan. Indera pendengar juga kedua matanya selalu waspada. Tak ada yang tidak mungkin selama dia masih berada di dalam rumah ini.
Dor.... melesatkan sebuah tembakan mengarah ke atas. Tepatnya ke lantai dua. Segera Bulan berlari mencari tempat persembunyian.
Buk.... seorang lelaki terjatuh dari lantai dua dengan keadaan tidak bernyawa setelah sebuah peluru bersarang tepat di dadanya. Dan pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Bulan.
Saat bersembunyi, Bulan melihat sekelebat bayangan di luar jendela. Sebelum bertindak, Bulan memastikan keadaan sekitarnya aman.
Dengan mengendap, Bulan sedikit menyingkap tirai jendela. Seorang lelaki tampak berdiri di pojokan tembok, pandangannya mengarah ke pagar tembok.
Segera Bulan menyadari, jika ada rekannya di balik tembok tersebut. Terlihat sedikit kepala dari orang tersebut. Bisa jadi dia Jeno, atau yang lain.
Tar..... Bulan memecahkan kaca di depannya dan langsung menembakkan pistolnya ke arah samping. Lelaki tersebut tampak terkejut dan tak siap dengan serangan Bulan. Sehingga peluru Bulan dengan mudah bersarang di dahinya.
Segera Bulan menunduk seraya berjalan mundur dengan cepat. Berlindung di balik meja kecil yang ada di dekatnya. "Ceroboh sekali mereka." dengus Bulan.
Tak ingin membuang waktu, segera Bulan berlari menuju ke ruang dimana semua layar CCTV ada di sana. Hal tersebut Bulan lakukan karena semakin sedikit musuh yang ada. Sehingga mereka akan sulit menemukan.
Ditambah lagi, dua kali Bulan dengan mudah menemukan persembunyian rekannya. Dimana salah satu dari mereka hampir saja tertembak musuh jika Bulan tak bergerak cepat.
Dengan mudah Bulan menemukan ruangan yang dia cari. Sebab sebelum masuk ke dalam rumah dia sempat memastikan beberapa ruangan yang pasti dia akan masuki lewat CCTV yang sudah disabotase oleh Gara.
__ADS_1
Bulan segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Menaruh dua buah pistol di dekat keyboard. Tangannya bergerak dengan lincah di atas keyboard.
Tentu saja Bulan terlebih dahulu menormalkan sistem CCTV yang diacak-acak oleh Gara. Semua layar menyala, menampilkan seluruh ruangan.
Fokus Bulan langsung menuju ke luar rumah. Tepatnya di halaman sekitar rumah. Segera Bulan menghubungi Gara. Menyuruh keempat lelaki berseragam SMA untuk mundur dan meninggalkan tempat mereka.
Bulan melihat beberapa penjaga yang bersembunyi sepertinya mengetahui keberadaan mereka di balik tembok. Tampak mereka menunggu saat yang tepat untuk menarik pelatuk mereka.
Mendengar apa yang Bulan intruksikan, Gara menekan bel mobil berulang-ulang. Sebagai isyarat jika mereka harua mundur tanpa melepas tembakan.
Gara terus membunyikan klakson mobilnya, hingga keempat rekannya kembali. "Dimana mereka. Jangan sampai mereka lupa dengan isyarat yang gue berikan. Atau nyawa mereka akan melayang." geram Gara dengan perasaan takut dan cemas yang bercampur.
Gara tersenyum lega melihat mereka berempat berlari ke arah mobil. "Ada apa?" tanya Jeno langsung.
"Bulan menghubungi gue. Mereka mengetahui tempat persembunyian kalian." jelas Gara.
Semua bernafas lega. Padahal tadi Jeno sempat ingin abai dengan isyarat hang diberikan Gara. "Lalu bagaimana dengan Bulan?" tanya Jeno.
Gara menggeleng. "Kalian tunggu sebentar. Kelihatannya Bulan ada di ruang CCTV."
"Apa bu Bulan bisa?" tanya Arya dengan polosnya. Seakan ragu dengan kemampuan yang dimiliki Bulan.
Semua menatap kesal ke arah Arya. "Maaf. Hanya salah bicara." ujar Arya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bulan kembali menghubungi." ujar Gara.
"Cepat angkat." pinta Jeno.
KALIAN BERJAGA DI DEPAN. AKU AKAN MEMBUAT MEREKA KELUAR DAN TERLIHAT. INGAT, JANGAN MASUK KE DALAM. CARI TEMPAT YANG AMAN.
Tanpa menunggu suara dari seberang, Bulan mematikan sambungan teleponnya. Jeno hanya bisa menghela nafas, padahal dirinya ingin sekali menanyakan keadaan Bulan.
"Tenang. Bu Bulan pasti baik-baik saja." ujar Mikel menepuk pelan punggung Jeno.
Keempatnya langsung mencari tempat yang aman. Menunggu mereka keluar dari gerbang. "Sayang, kamu memang hebat." puji Jeno untuk kesekian kalinya.
Bulan sudah mengetahui dimana mereka bersembunyi. Entah itu di dalam rumah, atau di luar rumah. Tapi sebelum keluar dari ruang pengendali CCTV, Bulan menyambungkan sistem CCTV di rumah ini dengan ponsel miliknya. Sehingga dia akan mudah melihat pergerakan musuh, atau melihat musuh yang berpindah tempat.
Bulan langsung bergerak dengan menyerang mereka yang bersembunyi di dalam rumah. Hanya ada empat orang. Dan itu bukan masalah besar.
Tentunya Bulan tidak menggunakan pistol. Sebab Bulan tak ingin pergerakannya terdengar oleh musuh. Terlebih Bulan sudah mengetahui tempat mereka. Cukup menggunakan pisau lipat andalannya.
Tidak lebih dari sepuluh menit, Bulan mengeksekusi mereka yang bersembunyi di dalam rumah. Untuk selanjutnya, Bulan mematikan seluruh lampu yang ada di dalam rumah.
Sebab, tadi Bulan hanya mematikan lampu yang ada di lantai dasar. "Benar-benar seperti malam." celetuk Bulan, saat semua lampu mati.
Jangan tanyakan kenapa tak ada yang menghubungi atasan mereka untuk melaporkan penyerangan ini. Sebab sebelum beraksi, Bulan dan Gara mematikan semua sambungan komunikasi di rumah ini.
Dan untuk ponsel, Bulan mengetahui jika tak ada yang membawa ponsel. Entah apa alasannya. Bulan mengetahui dari penyelidikan yang Gara lakukan. Sehingga Bulan menebak, mereka akan melakukan komunikasi melalui telepon rumah.
Tapi semua itu malah membawa keuntungan untuk Bulan. Sebab Bulan bisa bergerak tanpa takut jika ada bala bantuan dari musuh yang datang.
Bulan tersenyum menyeringai. Pastinya dengan matinya semua lampu di rumah, membuat beberapa orang yang bersembunyi di luar merasa terancam.
Dan tebakan Bulan benar. Mereka langsung berlari keluar gerbang. Berusaha menyelamatkan diri. Tak lebih dari tujuh orang yang Bulan lihat.
Sayangnya, langkah mereka harus berakhir tepat di depan gerbang. Bulan kembali tersenyum ketika mendengar suara tembakan beruntun di luar rumah.
"Selesai." kedua mata Bulan menatap layar ponselnya. Memastikan jika sudah tak ada lagi musuh yang tersisa.
Bulan kembali ke kamar. Dimana Nyonya Irawan dan Sapna bersembunyi di sana. "Tante,,, Sapna... Ini Bulan. Keadaan sudah aman...!" teriak Bulan sembari menyalakan lampu ponselnya.
Klek... "Bulan." panggil keduanya.
"Mari." Bulan membawa keduanya untuk keluar dari rumah, menggunakan cahaya dari ponsel. Sebab Bulan malas untuk menyalakan kembali lampu di rumah ini.
Sedangkan di luar gerbang, Jeno dan yang lainnya sudah menunggu kedatangan mereka bertiga. "Bulan." lirih Jeno melihat sang pujaan hati.
__ADS_1