
Bulan memandang ke dirinya sendiri dari pantulan cermin full body yang ada di depannya. Ekspresi wajahnya datar. Menatap dengan intens dari ujung kaki hingga kepala.
Fokusnya tentu saja pada dress sederhana yang saat ini melekat pada tubuhnya yang seksi. "Rasanya gue nggak pede." lirihnya memindai penampilannya sendiri.
Dress yang dia gunakan memperlihatkan lengannya yang bersih tanpa cacat. Juga memperlihatkan kakinya yang jenjang dan mulus. Sebab dress tersebut berlengan singlet dengan panjang sampai di lutut.
Dengan melekat sempurna di tubuh. Mencetak dengan sempurna setiap bagian tubuh dari Bulan. "Apa nggak kekecilan ya." lirih Bulan.
Berkali-kali Bulan menghembuskan nafas kasar. "Pasti mahal." disentuhnya dengan lembut dress yang dia pakai. Nampak sangat nyaman saat kain tersebut bersentuhan dengan kulit.
Bulan mengambil sisir, merapikan rambutnya yang panjang karena dirinya pernah melakukan sambung rambut. Guna untuk menjalankan misi.
Bulan memutar tubuhnya dengan perlahan. Memastikan penampilannya sempurna. "Eehh,,, kenapa gue jadi grogi. Astaga Bulan....."
Bulan terdiam sejenak. "Ingat, Jeno anak didik elo. Dia murid elo. Yang artinya gue akan bertemu dengan wali atas Jeno. Yakni Tuan David dan Nyonya Rindi. Jadi,,, so calm. Jangan gugup. Elo seorang pengajar." Bulan berkata pada dirinya sendiri. Seolah menyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
"Kayak mau ketemu calon mertua saja." lanjutnya tersenyum malu sendiri.
Bulan melihat ke kanan dan kiri. Bermaksud mencari alas kaki yang bisa dia gunakan. Sebab tak mungkin dirinya memakai kembali sepatu yang dia gunakan semalam.
Sama sekali tidak serasi, dress dengan sepatu yang terkesan cool. "Sudah terlalu lama. Gue nggak mungkin berada di dalam terus. Mereka pasti sudah berada di bawah." gumam Bulan menebak.
Bulan melihat beberapa sendal milik Jeno tertata dengan rapi. Juga ada beberapa pasang sepatu. Bulan mengambil sepasang sendal dan memakainya. "Pas." cicitnya melihat ke arah kakinya.
Sekali lagi, Bulan memastikan penampilannya. Dirinya tentu saja tak ingin malu. "Oke,,, saatnya turun." tuturnya pada diri sendiri.
Sedangkan di bawah, Tuan David dan Nyonya Rindi baru saja mendaratkan pantat mereka di kursi makan. Sementara Jeno datang lebih dulu dari pada mereka berdua. ''Bulan belum turun?" tanya Nyonya Rindi pada sang putra.
Jeno hanya menggeleng sembari menatap beberapa kali ke arah tangga. "Tenang, Bulan pasti akan turun." goda Nyonya Rindi.
"Dasar." sahut Tuan David tersenyum samar melihat tingkah salah saru putra kembarnya.
Namun Jeno sama sekali tidak terganggu dengan ucapan sang papa. "Saudara kamu di mana? Kamu tahu, keberadaannyakan?" tanya Tuan David.
Ketiganya belum memulai melakukan sarapan, tentu saja karena masih menunggu kedatangan Bulan untuk bergabung bersama mereka di meja makan. Jeno hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang papa. Tanpa bersuara.
Tuan David tak melanjutkan pertanyaan yang sudah ada di dalam benaknya, melihat Jeno malah menunduk dan terlihat enggan menjelaskan.
Tapi Tuan David dapat menebak, jika keadaan putranya yang lain dalam keadaan baik-baik saja. Terlihat dari tindakan Jeno yang tidak khawatir pada saudara kembarnya.
"Kamu tidak pergi ke sekolah?" tanya Nyonya Rindi, melihat sang putra memakai pakaian bebas.
Jeno menggeleng. "Jeno sudah izin kok ma." sahut Jeno.
"Kamu ini. Pasti karena ada Bulan, kamu tidak pergi sekolah." tukas Nyonya Rindi.
"Bukan." jawab Jeno singkat, tanpa menjelaskan alasan detailnya.
"Jevo juga?" tanya sang mama memastikan.
__ADS_1
Jeno mengangguk pelan. Pasalnya pasti akan ada pertanyaan selanjutnya dari sang mama yang belum siap dia jawab.
Tapi ternyata, Jeno salah mengira. Sang mama maupun sang papa tidak bertanya lagi. "Tumben mereka tidak kepo." batin Jeno.
Tanpa Jeno tahu, di bawah meja tangan sang papa mengelus paha sang mama. Menyuruh sang istri untuk tidak meneruskan pertanyaannya.
Tuan David yakin, jika Bulan akan menjelaskannya. Meski dirinya maupun sang istri tidak bertanya sekalipun.
Jeno menatap sang mama dan sang papa yang memandang ke arah tangga seraya tersenyum. "Apa yang mereka lihat?" batin Jeno penasaran.
Jeno juga mengikuti ke mana arah pandangan kedua orang tuanya. Dan.... "Bulan." batin Jeno.
Segera Jeno berdiri, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna ke atas. Jeno menatap Bulan sampai tak berkedip. "Sungguh indah ciptaan Mu, Tuhan." lirih Jeno terpesona dengan kecantikan perempuan yang dia suka.
"Maaf semua, saya terlambat. Maaf." cicit Bulan dengan sopan. Merasa sungkan, pasalnya semua sudah berada di kursi makan.
"Tidak sayang. Kita juga baru duduk. Iyakan pa." tutur Nyonya Rindi, yang mendapat anggukan dari sang suami.
"Tapi entah Jeno. Dia sudah berada di sini, saat kami baru tiba." jelas Nyonya Rindi menggoda Jeno.
Sayangnya, Jeno sama sekali tidak menggubris perkataan sang mama. Dirinya masih fokus pada Bulan tanpa bisa diganggu oleh apapun dan siapapun.
"Kamu cantik sekali. Lihat, Jeno saja sampai melongo." puji Nyonya Rindi, dengan ekspresi wajah yang berbinar sekaligus menggoda sang putra.
Bulan tersenyum canggung. "Iya tante. Dress milik tante memang membuat Bulan cantik." sahut Bulan merendah seraya melirik Jeno yang masih menatapnya dengan senyum menawan di bibirnya.
"Khemmm,,, Jeno." panggil Tuan David, sebab Jeno tetap berdiri diam seperti patung dan tersenyum memandang Bulan tanpa berkedip.
"Oh iya,,,," Jeno tersenyum lucu. Segera menggeser kursi di dampingnya ke belakang sedikit. Mempermudah Bulan untuk duduk. "Silahkan duduk." tutur Jeno, memperlakukan Bulan seperti seorang putri.
"Terimakasih." Bulan menatap ke bawah. "Oh iya Jeno, saya memakai sendal kamu. Maaf, baru minta izin sekarang." ucap Bulan merasa tak enak hati. Apalagi ada Tuan David dan Nyonya Rindi.
Bulan takut jika kedua orang tua Jeno menganggapnya lancang. Karena memakai barang milik sang putra tanpa izin.
Terlebih ini baru pertama kalinya Bulan datang ke kediaman Tuan David. Tentu saja Bulan tak ingin meninggalkan kesan buruk di mata mereka.
"Silahkan. Ambil yang kamu suka. Kamu ambil semua yang ada di kamar aku, juga boleh." tutur Jeno membuat Bulan tersenyum kaku sembari memandang ke arah kedua orang tua Jeno.
"Jeno brengsek. Ngapain masih pake aku kamu sih. Pake goda gue segala." umpat Bulan dalam hati.
"Gila, ternyata Bulan bisa bersikap selembut ini. Tuhan,,, gimana gue nggak semakin suka. Sumpah,,, dia cantik banget. Nggak ada tanding." batin Jeno tetap memandang Bulan yang duduk di sampingnya.
Tanpa melihat, Bulan tahu jika Jeno menatapnya dengan intens. Bulan menendang kaki Jeno pelan. "Kenapa? Mau aku ambilkan makan?" tanya Jeno yang semakin membuat Bulan frustasi.
Padahal yang Bulan inginkan supaya Jeno tak lagi menatapnya seperti itu. Bulan merasa risih, dan juga merasa tidak enak pada kedua orang tua Jeno
Tapi Jeno malah mengira Bulan memintanya untuk mengambilkan nasi untuknya, atau melayaninya. Membuat Bulan semakin frustasi karena tindakan Jeno. Namun Bulan terpaksa tersenyum dan memasang wajah senangnya.
"Sumpah, bego banget sih Jeno. Mana mungkin gue berani meminta dia untuk melayani gue, mengambilkan makanan buat gue. Apalagi di depan kedua orang tuanya." geram Bulan dalam hati, mengolok Jeno.
__ADS_1
"Aahh,,, tidak. Bukan seperti itu. Biar saya ambil sendiri." tolak Bulan tetap memasang senyum memandang Jeno. Padahal hatinya sangatlah dongkol.
Nyonya Rindi dan Tuan David hanya tersenyum melihat putranya yang sedang kasmaran. "Mereka berdua memang cocok. Tapi kelihatannya cinta Jeno masih belum imbang." tebak Tuan David dalam hati.
Dari sikap Jeno maupun Bulan, Tuan David bisa menyimpulkan jika sang putra sudah cinta mati pada Bulan. Sementara ada keraguan pada Bulan terhadap Jeno.
"Jika kamu lelaki sejati. Taklukkan perempuan yang kamu inginkan." batin Tuan David, tentu saja mendukung sang putra.
Ditambah, Tuan David sudah menyelidiki latar belakang atau keluarga Bulan. Hingga kedua orang tua Bulan.
Sedangkan Nyonya Rindi juga merasakan kebahagiaan melihat Jeno duduk bersanding dengan Bulan. "Kalian serasi. Semoga kalian berjodoh. Dan semoga Jevo mendapatkan perempuan yang baik." batin Nyonya Rindi, berharap kedua putranya mendapatkan pasangan dan hidup bahagia.
"Ayo Bulan, silahkan ambil." ujar Nyonya Rindi, seraya mengambilkan makanan yang beliau taruh di atas piring sang suami.
"Iya tante." sahut Bulan.
Bulan ingin mengambil nasi, tapi keduluan Jeno. "Jeno, saya bisa sendiri." tolak Bulan, merasa sungkan pada kedua orang tua Jeno.
Bulan juga merasa tidak enak hati. Terkesan dirinya ingin di layani Jeno. Padahal dirinya sama sekali tidak menginginkannya.
Tuan David dan Nyonya Rindi tahu jika Bulan tidak nyaman saat makanannya di ambilkan oleh Jeno. Terlihat jelas senyum canggung di bibir Bulan, dan beberapa kali mencuri pandang ke arah Tuan David serta Nyonya Rindi.
"Tidak apa-apa Bulan. Kamukan tamu. Biar diambilkan Jeno. Nanti, jika kita makan di rumah kamu, baru kamu layani Jeno." papar Nyonya Rindi.
"Hah,,, apa maksudnya?" batin Bulan saat merasa perkataan Nyonya Rindi memiliki makna lain. Bukan hanya sekedar ucapan klise semata.
"Betul..." sahut Jeno selesai mengisi piring Bulan dengan berbagai makanan. Membuat Bulan hanya tersenyum kaku karena perkataan Jeno dan Nyonya Rindi.
"Astaga Jeno, banyak sekali." Bulan mengerutkan dahinya melihat banyaknya makanan di piringnya.
"Tenang saja, jika tidak habis, biar aku yang makan." tutur Jeno, mulai mengisi piringnya dengan makanan.
"Mana berani gue berikan elo makanan sisa gue. Anak sultan makan sisa anak petani. Nggak ada ceritanya." batin Bulan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Semua makan makanan yang ada di piring masing-masing dengan tenang tanpa ada gang bersuara. Mereka benar-benar diam saat makan.
"Yes. Mama dan papa sudah menyetujuinya. Yesss...!!" batin Jeno bersorak senang. Jeno yakin, dari interaksi sang mama, juga sang papa bersama Bulan menandakan jika mereka berdua merestui dan menyetujui jika Jeno dan Bulan menjalin hubungan.
Beberapa kali Jeno mencuri pandang ke arah Bulan yang makan dengan anggun. Bahkan bukan hanya Jeno, Nyonya Rindipun juga sama halnya dengan Jeno yang mencuri pandang pada Bulan yang sedang makan.
Tapi tidak dengan Tuan David yang fokus pada makanannya yang ada di piring di hadapannya. Dan memang seperti itulah Tuan David.
"Cantiknya calon istriku." batin Jeno yang sedari tadi tak henti-henti memuji semua yang ada pada Bulan.
"Pasti mereka semua akan iri, jika aku mengenalkan Bulan sebagai calon menantuku. Cantik, pintar, polwan lagi." batin Nyonya Rindi.
"Tapi,,,, apa Bulan mempunyai rasa yang sama pada Jeno. Jangan sampai cinta putraku bertepuk sebelah tangan." ujar Nyonya Rindi berharap jika Jeno dan Bulan saling menyukai.
Tanpa Bulan tahu, jika semua keluarga Jeno menerimanya dengan tangan terbuka. Meski perbedaan umur antara dirinya dan Jeno.
__ADS_1