PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 164


__ADS_3

"Sungguh suatu kehormatan, seorang perempuan cantik dan seksi datang ke rumahku yang sederhana ini." ujar Narendra dengan senyum sempurna di bibir.


Berharap Bulan akan melambung tinggi mendengar pujian yang baru saja dia lontarkan. Meski pada kenyataannya, Bulan sama sekali tidak tertarik dengan gombalan dari mulut Narendra.


Bulan menampilkan ekspresi wajah datarnya, tak beranjak dari tempat ia duduk. Seakan dirinya sudah nyaman berada di kursi empuk tersebut.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi. Hingga seorang Bulan yang terkenal dengan kehebatannya menyambangi gue yang hanya remahan rengginang ini." ujar Narendra menebak tujuan kedatangan Bulan ke rumahnya.


"Kapan keluar dari rumah sakit?" tanya Bulan dengan santai.


"Kemarin. Ckk,,, kenapa elo mesti bertanya. Seharusnya elo sudah tahukan." decak Narendra, menganggap pertanyaan Bulan hanyalah sebuah basa-basi.


Bulan memainkan bibirnya sembari mengangguk pelan. "Bagaimana kalau kita berbicara di dalam saja. Sorry,, bukan dalam kamar. Yaa,,, di ruang tengah. Atau,,, di ruang keja gue." ajak Narendra.


Bulan menatap Narendra dengan intens. "Di sini saja. Sepertinya saya lebih nyaman berada di tempat seperti ini."


Bulan menyilangkan kakinya. Menempatkan kaki sebelah kanan di atas kaki kirinya, seraya menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, dengan kedua mata menatap ke sudut atas ruangan. Dimana ada sebuah kamera CCTV di sana.


Seorang pembantu yang tadi mempersilahkan masuk serta mempersilahkan Bulan untuk duduk di saat dirinya ingin memanggil sang empunya rumah datang dengan membawa nampan yang berisikan dua cangkir minuman. "Silahkan." ucapnya dengan sopan, sebelum meninggalkan ruang tamu kembali.


Baik Bulan maupun Narendra hanya memandang cangkir berisi kopi tersebut. Tanpa berniat mengambil dan meminumnya. Sebab uap panas tampak masih mengepul di atasnya. Menandakan air masih sangat panas.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Narendra menatap Bulan dengan lamat.


Siapa yang tidak akan betah memandang perempuan seperti Bulan. Kulit mulus dengan wajah cantik dan bentuk tubuh yang seksi.


Bukan sesuatu yang mustahil dan munafik, pastinya semua lelaki normal akan memikirkan fantasi liar jika hanya berdua dengan Bulan. Sangat menggoda iman.


Narendra memejamkan sebentar kedua matanya lalu menggeleng pelan. Mengenyahkan pikiran kotor dalam kepalanya.


Bulan yang melihatnya hanya tersenyum miring. "Dasar lelaki." batin Bulan seakan tahu apa yang ada di dalam benak Narendra.


Narendra menatap Bulan dengan pandangan penasaran. "Gue sungguh ingin tahu. Selama elo menjalankan misi, pasti kebanyakan rekan elo semua lelaki. Apa mereka bisa menahan nafsu mereka." celetuk Narendra membuat Bulan ingin sekali menggampar mulutnya yang lancang.


"Sebelum papa kamu meninggal. Pasti beliau menitipkan sesuatu untuk anda. Dan saya datang untuk mengambil apa yang pernah papa anda titipkan." jelas Bulan langsung ke inti permasalahan, tak ingin menyahuti perkataan Narendra yang tidak penting.


Narendra tersenyum. "Ayolah... Jangan kaku. Gue tebak, elo pasti sangat liar di atas ranjang." kembali Narendra melontarkan kalimat yang menjijikkan untuk di dengar Bulan.


"Saya datang ke sini untuk mengambil apa yang papa kamu titipkan sebelum beliau meninggal." papar Bulan, malas meladeni perkataan Narendra.


Bulan tidak memilih mengambil jalan pintas seperti biasanya. Dimana dirinya akan mengambil secara diam-diam rekaman yang ada di tangan Narendra.


Bulan sengaja melakukannya. Dirinya memilih menemui Narendra secara langsung dan berbicara dengannya. Meminta apa yang Bulan inginkan.


Entahlah, apa tujuan Bulan. Padahal jika dia mencurinya pasti akan lebih gampang dan memudahkan serta mempercepat pekerjaannya.


Narendra terdiam. Keduanya saling bersitatap. Sebelum kemudian Narendra tertawa lepas. Seakan perkataan Bulan adalah sesuatu yang lucu dan pantas mendapatkan tawa.


"Jadi elo datang mau minta gue bagi warisan sama elo." tukas Narendra, tak lagi mengatakan perkataan menjijikkan. Tapi berkata seolah dirinya tak tahu maksud perkataan Bulan.

__ADS_1


Sebelah sudut bibir Bulan terangkat ke atas. "Anda bukan lelaki bodoh. Dan saya tahu itu. Saya rasa, anda tahu apa yang saya maksud." sahut Bulan mampu membuat tawa Narendra lenyap seketika, menyisakan senyum kecut.


Narendra mencebikkan bibirnya. "Sepertinya elo memang bukan perempuan biasa. Elo tahu semua hal. Wah.... Jika elo mau, kita bisa bekerja sama. Menghasilkan dan mengumpulkan pundi-pundi uang. Bagaimana, penawaran yang menarik bukan." tutur Narendra, mulai berputar-putar kembali.


Bulan hanya tersenyum mendengar apa yang Narendra tawarkan padanya. "Oke.... Jika elo menolak. Kita bisa lebih dari sahabat. Emmm.... Begini. Maksudnya, kita bisa berpartner. Di atas ranjang dan juga pekerjaan. Gue berjanji, bagian elo akan jauh lebih besar. Bagaimana?" Narendra memainkan kedua alisnya naik turun.


Bulan tertawa pelan. Menaruh telapak tangannya di bawah dagu sembari mengelus dagu runcingnya. "Berapa yang akan anda berikan? Berapa banyak uang yang akan saya terima?" tukas Bulan, seakan menantang Narendra.


"Terserah. Berapapun yang elo minta." sahut Narendra dengan serius.


"Astaga Tuan.... Saya sudah mempunyai kekasih. Bahkan, dia jauh lebih kaya dan lebih tampan serta lebih jebat dari pada anda." tegas Bulan tersenyum remeh.


Ekspresi Narendra berubah dingin dalam sekejap. Lalu dia kembali tertawa pelan. "Ayolah baby...... Gue tahu, elo sendirian. Nggak punya kekasih. Terlalu sibuk dengan dunia elo. Dan gue dengan senang hati menawarkan diri. Come on baby,,,,,, nggak usah munafik. Gue busa membuat dunai elo lebih berwarna."


"Gila... Seharunya saya tidak datang dengan cara seperti ini." ucap Bulan, terdengar seperti sebuah penyesalan yang mendalam. Dimana Narendra malah tersenyum mendengar ucapan Bulan.


Bulan mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulit yang dia kenakan. Sebuah amplop berwarna coklat berbentuk persegi panjang berukuran sedang.


Bulan menaruh amplop tersebut di atas meja. "Buka dan lihatlah." pinta Bulan dengan tegas, kembali menyenderkan punggungnya di senderan kursi.


Narendra menatap Bulan dengan penuh rasa curiga. Bulan datang meminta apa yang papanya titipkan sebelum meninggal, yakin alat yang selama ini dia gunakan untuk menghasilkan uang.


Dengan cara memeras Tuan Tene dan rekan-rekannya. Menggunakan bukti yang ada di tangannya, Narendra mengancam mereka. Yang akhirnya dirinya mendapatkan pundi-pundi uang yang dia inginkan.


Dan sekarang. Bulan datang membawa sesuatu yang dirinya sendiri tidak tahu apa itu. "Come on baby.... Ambil dan lihatlah." ujar Bulan menirukan sebagian perkataan Narendra padanya.


Tangan Narendra terulur mengambil amplop tersebut. Membuka serta mengeluarkan isi dari amplop tersebut.


Narendra menatap Bulan dengan ekspresi terkejut sekaligus ketakutan. Tampak dada Narendra naik turun tak beraturan. "Iiissshh.... Kenapa terkejut? Santai saja baby." seringai Bulan.


Bulan mengambil salah satu foto yang ada di atas meja. Menatapnya dengan iba disertai helaan nafas sedih. "Kasihan sekali dia. Meninggalkan dunia yang indah ini dengan cara yang tragis. Ckk,,, siapapun yang melakukannya, pasti akan mendapatkan balasan." cicit Bulan mengalihkan pandangannya pada Narendra yang masih syok, seraya mengipaskan foto di tangannya layaknya sebuah kipas tangan.


Semua yang ada di dalam amplop coklat adalah foto seorang lelaki yang dibunuh oleh Narendra dengan cara yang kejam.


Dia adalah lelaki muda yang selama ini selalu berada di samping Narendra. Teman Narendra sekaligus putra dari orang kepercayaan almarhum papa Narendra.


Dengan mudah Bulan bisa menebak, kenapa Narendra secara biadab menghabisi orang yang selama ini selalu bersamanya.


Apalagi jika bukan karena perbedaan pola pikir mereka. "Dia berniat baik. Mengingatkan sahabatnya untuk berada di jalan yang benar. Sayangnya, sahabatnya terlalu buta. Seakan dengan uang yang seharusnya tidak dia miliki. Sungguh kasihan nasibnya." oceh Bulan menatap Narendra dengan senyum sedihnya.


Narendra mundur selangkah. Sayangnya, tepat di belakangnya sudah terdapat sebuah kursi. Sehingga membuat tubuh Narendra terjatuh di kursi karena kakinya yang gemetar membuatnya tidak stabil berdiri.


"Narendra. Pasti kamu ingin bertanya. Dari mana saya mendapatkan semua foto ini." lirih Bulan dengan tatapan mengintimidasi.


"Biar saya jelaskan. Seperti yang kamu katakan. Saya bukan perempuan biasa. Jadi... Sekarang kamu lihat. Apa yang bisa dilakukan perempuan yang tidak biasa ini." seringai Bulan.


Bulan berdiri. Menundukkan kepalanya, mengambil satu persatu foto yang berhamburan di atas lantai dan di atas meja untuk dia kumpulkan lagi.


"Jadi,,,, bagaimana kalau kita barter. Aku akan tutup mulut. Menyimpan semua bukti kejahatan kamu. Tapi,,,, kamu berikan benda yang dititipkan papa kamu sebelum beliau meninggal pada saya." ujar Bulan sembari menggerakkan tangannya di depan mulut, seakan dirinya menutup resleting.

__ADS_1


"Ha... Ha..... Ha..... Jangan mimpi...!! Elo kira gue mudah dibodohi...!!" teriak Narendra.


Bulan mencebik. Duduk kembali dengan tenang. Sementara Narendra beranjak dari duduknya, berdiri menatap tajam ke arah Bulan. "Elo hanya mempunyai foto itu. Tidak ada bukti lain...!! Dasar perempuan tolol...!!" teriak Narendra kembali.


"Ckk,,,, ckk,,, ckk,,, perempuan tolol... Huffttt....." Bulan mengeluarkan ponselnya. Memutar sebuah video yang dia perlihatkan pada Narendra.


Bulan berpura-pura menutup kedua matanya. "Tuhan... Saya tidak tega melihatnya..." cicit Bulan dengan suara dibuat setakut mungkin.


Narendra terdiam membeku. Tawa yang sempat menggema hilang lenyap seketika. "Dari mana...?! Dari mana elo mendapatkannya...?! Jawab...??!" bentak Narendra, melihat rekaman kejahatannya saat dia menghabisi nyawa temannya sendiri dengan sadis.


"Saya tidak perlu menjelaskan asal muasal semua bukti yang saya pegang. Yang saya inginkan, berikan apa yang saya minta. Dan semua ini akan tetap aman pada tempatnya." tekan Bulan.


Bukannya mengikuti apa yang Bulan katakan, Narendra malah mengeluarkan senjata api, menodongkannya pada Bulan untuk mengancam Bulan.


Namun, Bulan tetap duduk dengan tenang melihat apa yang dilakukan Narendra. "Elo pikir gue bodoh. Menghadapi elo tanpa persiapan." seru Narendra.


Narendra merasa dirinya berada di atas angin dan akan menang. "Elo nggak akan bisa keluar dari sini dengan hidup-hidup. Paham..!!" gertak Narendra.


Bulan menatap Narendra dengan senyum di bibir. Sehingga membuat Narendra mengerutkan kening karena rasa bingungnya melihat sikap Bulan yang terkesan sangat santai.


"Gue nggak main-main...!!" gertak Narendra.


Bulan mengulurkan tangan mengambil secangkir kopi di atas meja. Mendekatkannya ke bibir dan meniupnya secara pelan. "Siapa yang bilang, kalau kamu sedang bermain-main dengan nyawa." tukas Bulan.


Byur..... "Aaa....!!" jerit Narendra, merasakan perih bercampur panas pada wajahnya karena terkena air kopi yang disiramkan Bulan.


Sikap tenang yang ditunjukkan Bulan serta gerakan Bulan yang gesit dan cepat, membuat Narendra bahkan tidak bisa memprediksi apa yang dilakukan Bulan.


Dengan mudah Bulan mengambil alih senjata gang ada di tangan Narendra. "Jika saya menarik pelatuknya, kira-kira apa yang akan terjadi." tukas Bulan memainkan senjata api di tangannya.


Dengan menahan rasa sakit di wajahnya, Narendra memundurkan langkahnya. "Sial....!! Ternyata benar kata mereka. Gerakannya bagaikan siluman." batin Narendra yang bahkan kalah cepat dengan langkah yang Bulan ambil.


Dor... Bulan menembak kamera CCTV yang terpasang di sudur ruangan. Membuat beberapa penghuni rumah terkejut. Juga dengan Narendra. "Tinggal pilih. Nyawa elo melayang. Atau berikan benda itu." ancam Bulan.


Narendra merogoh sakunya. Mengambil flash disk yang dia simpan di dalam saku jaketnya. Bulan sudah menduga. Jika Narendra pasti akan terus membawa barang berarti tersebut. Itulah alasan utama Bulan melakukan rencana seperti ini.


"Good boy." Bulan mengambil flash disk dari tangan Narendra.


Narendra tahu, jika Bulan tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Bisa jadi, nyawanya akan melayang jika dira tidak menuruti apa yang Bulan inginkan.


"Saya percaya. Jika anda memberikan barang hang saya maksud. Tanggung sendiri konsekuensinya, jika ternyata benda ini tidak berguna." ancam Bulan tanpa melihat isi dari flash disk yang Narendra berikan padanya.


Bulan mengeluarkan semua amunisi di dalam senjata api milik Narendra. Meletakkannya di atas meja. "Simpan saja. Siapa tahu anda membutuhkannya untuk bunuh diri." seringai Bulan.


Narendra hanya bisa mengeraskan kedua rahangnya melihat kepergian Bulan. Dirinya tak bisa melakukan apapun. Narendra sadar, dirinya bukan tandingan Bulan.


"Jangan sampai mereka tahu. Jika rekaman itu sudah berada di tangan Bulan." lirih Narendra yang ternyata memberikan rekaman asli pada Bulan.


Mana mungkin Narendra berani bermain-main dengan membohongi Bulan. Yang ada semua bukti kejahatannya yang ada di tangan Bulan akan tersebar sekarang juga.

__ADS_1


Tanpa Narendra tahu. Jika sebentar lagi dirinya juga akan terseret masalah besar karena memberikan rekaman tersebut pada Bulan.


__ADS_2