
Jevo sampai di markas. Dia dan Arya tak segera membicarakan terkait pintu rahasia yang tak sengaja dilihatnya saat menjalankan misi.
Sebab, saat ini rekan mereka, Mikel masih berada di luar menjalankan misi. Ditambah lagi tidak ada Bulan dan Jeno di samping mereka.
Dengan segera Jevo duduk bergabung di samping Arya, melihat layar yang menampilkan mobil Mikel dan juga mobil Rio.
Jevo melihat jari jemari Arya semakin lincah menari di atas keyboard. Meretas kamera di jalan yang dilalui kedua mobil dengan mudah.
Jevo tersenyum samar melihat kelincahan jari Arya yang meningkat drastis hanya beberapa minggu selalu menjalankan misi di bawah bimbingan Bulan.
"Kemana dia pergi. Ini bukan arah pulang." ucap Mikel, yang sedang mengikuti mobil Rio. Dan pastinya di dengar oleh Arya serta Jevo.
"Elo ikuti saja terus. Tapi ingat kata bu Bulan." sahut Arya.
"Tenang saja. Gue akan melakukan tugas gue sebaik mungkin." papar Mikel dengan percaya diri.
Jika tadi Jevo takjub dengan jari jemari Arya yang terlihat lincah di atas keyboard, kini giliran Jevo tercengang dengan cara mengemudi.
Jarak mobil Mikel dengan pelaku terjaga intens. Meski keduanya mengendarai mobil dengan kecepatan yang kumayan tinggi.
Jevo tersenyum. "Mikel. Elo memang keren." batin Jevo, memuji Mikel dalam hati.
Jevo sama sekali tidak merasa iri akan keahlian kedua sahabatnya yang meningkat drastis. Justru Jevo malah semakin senang dan bangga akan perkembangan keduanya.
Arya sama sekali tidak tahu, jika Jevo sedang memuji dirinya dan juga Mikel di dalam hati. Dan itu nampak jelas dari raut wajahnya. Sayangnya, Arya tidak melihatnya. Coba saja jika Arya tahu, pasti dia akan besar kepala.
Arya hanya fokus pada layar didepannya. Seperti kata Bulan. Jika Arya harus fokus bukan hanya pada satu titik. Tapi beberapa titik yang mungkin ada hubungannya dengan apa yang sedang dia harus prioritaskan.
Sebab, bisa jadi, misi akan berantakan hanya karena gangguan kecil yang tidak pernah dia sangka akan muncul di saat yang tidak tepat dari arah atau tempat lain.
"Mikel, ada truk melaju kencang dari arah depan, menuju ke arah elo." ucap Arya memberitahu Mikel.
"Kelihatannya sopir tidak beres. Mungkin dia mabuk." lanjut Arya, menebaknya.
Jevo menoleh ke arah Arya. Dirinya tersenyum kembali. "Oke. Elo terus pantau mobil pelaku. Gue akan mengurangi kecepatan gue." tukas Mikel.
"Laksanakan."
Cittzzz.... Perkiraan Arya tepat. Truk bermuatan berat tersebut oleng saat melaju. Dia mengemudi seolah jalan adalah miliknya sendiri. Berkelok ke kanan, kembali ke kiri tak beraturan. Begitu seterusnya.
Hingga truk tersebut hampir menghantam mobil Rio palsu. Beruntung Rio palsu bisa membanting stir ke arah lain. Sehingga tak terjadi kecelakaan.
Mobil Rio palsu menabrak pembatas jalan. Tapi truk tetap melaju seperti tadi, tak ada tanda-tanda dia akan berhenti.
"Dia berhenti. Keadaan mobilnya rusak, karena menghindari tabrakan dari truk." ucap Arya.
"Oke. Laporan di terima." Mikel mengendarai mobilnya dengan pelan dan santai.
Rio palsu langsung turun dari mobil. Menatap tajam ke arah truk. "Hoeyyy.... Brengsek. Berhenti sialan...!!!" teriaknya, merasa kesal. Nyawanya hampir saja melayang karena sang sopir truk yang ugal-ugalan.
Mikel fokus ke depan. Kembali menurunkan kecepatan, saat melihat sebuah truk dari arah lain. "Gila. Bukan hanya nyawanya yang akan lenyap, nyawa orang bisa lenyap juga jika dia menyetir begitu." lirih Mikel.
Mikel mencoba melihat ke dalam, dimana ada seorang sopir di dalamnya. "Hebat. Benar kata elo Ar. Kemungkinan dia mabok."
"Ckk... Tapi, makasih, gara-gara elo gue bisa merencanakan sesuatu." tukas Mikel, menambah kembali kecepatan mobilnya.
"Apa yang ingin elo lakukan Mike...?!" tanya Arya.
"Jangan sampai rencana kita gagal. Bulan sedang tidak ada di sini." timpal Jeno juga mengingatkan.
"Kalian tenang saja. Gue cuma akan menjadi pahlawan."
"Maksud elo?"
__ADS_1
"Jevo,,, Arya,,, pikirkan dengan baik. Jika gue nggak menolongnya. Misi kita akan gagal. Bukannya elo bilang mobilnya rusak." jelas Mikel sembari menyetir.
"Benar juga." gumam Arya.
"Baiklah. Lakukan senatural mungkin. Jangan sampai dia mencurigai elo. Satu lagi, elo harus berhati-hati. Tahu sendiri, dia itu siapa?" ujar Jevo mengingatkan.
"Tenang saja, jika dia macam-macam, mana mungkin gue akan diam. Ada sesuatu dalam saku gue dan juga di dalam mobil. Yang bisa gue jadikan senjata." tukas Mikel, tak ingin kedua sahabat sekaligus rekan kerjanya khawatir.
Jika Mikel tidak menolongnya, pasti Rio palsu akan berada di jalan ini sampai waktu yang tidak bisa ditebak. Bisa sebentar, bisa lama. Tergantung kendaraan yang melewati jalan ini dan menolongnya.
Jikapun dia menelpon bengkel untuk datang, pasti juga membutuhkan waktu yang lama. Pertanyaannya, adakah bengkel yang mau bekerja larut malam seperti ini. Mengambil mobilnya di tempat yang sepi.
"Berhati-hatilah." ujar Arya.
Arya dan Jevo saling pandang, meski sejenak. Tentu saja mereka tetap merasa cemas dengan keselamatan Mikel.
Bagaimana tidak. Mikel akan duduk berdua dengan sosok yang mereka sudah tahu bagaimana kelakuannya. Dalam satu mobil. Tentu saja mereka berdua cemas, jika dia akan mempunyai pikiran untuk mencelakai Mikel.
Mikel tidak mematikan alat komunikasinya dengan Arya dan Jevo. "Ingat, kalian berdua jangan berisik." ujar Mikel mengingatkan.
"Oke." sahut Arya dan Jevo bersamaan.
"Mulai." seringai Mikel tak kalah terlihat sadis dengan Rio palsu.
Tiiittt..... Mikel mengklakson mobilnya, seraya memperlambat laju mobilnya. "Kenapa?" tanya Mikel menghentikan mobilnya di samping mobil Rio palsu.
Sebab, Rio berdiri di samping mobilnya seraya berkacak pinggang. Raut wajahnya yang kesal, langsung berubah ramah.
"Gila. Memang benar-benar seribu wajah." batin Mikel yang melihat perubahan ekspresi Rio palsu.
"Ada sopir ugal-ugalan yang mengendarai truknya. Dan seperti inilah hasilnya." jelasnya, memperlihatkan keadaan mobilnya pada Mikel.
"Oh,,,, benar. Saya juga berpapasan dengan truk tadi." pungkas Mikel.
"Ada yang bisa saya bantu?" Mikel langsung saja menawarkan bantuan. Dirinya tidak ingin terlalu lama membuang-buang waktu hanya untuk berbasa-basi. Sebab, malam sudah mulai larut.
"Serius. Tapi jika saya bisa." tukas Mikel.
"Bisakah saya ikut mobil anda."
"Bisa. Tapi maaf, jika kita searah." jelas Mikel secara logis. Padahal dirinya akan kemanapun akan mengantarkan Rio palsu. Tapi Mikel bersikap senatural mungkin, agar Rio palsu tidak curiga terhadapnya.
Rio palsu mengatakan tempat tujuannya. "Oh,,, baiklah. Anda bisa masuk. Kebetulan saya melewati jalan itu." tukas Mikel.
Rio juga sama seperti Mikel, tidak ingin membuang waktu. Segera dia masuk ke dalam. Duduk di kursi samping Mikel yang mengemudikan mobilnya.
Mikel mulai melajukan mobilnya, dan keduanya berbincang di dalam mobil. "Anda tinggal di daerah mana?" tanya Rio.
"Saya ke sini karena ingin bertemu dengan teman. Kebetulan sedang melakukan perjalanan bisnis." jelas Mikel.
Rio palsu hanya mengangguk. Seolah dirinya mengerti. Sementara di markas, Arya dan Jevo menahan tawa mereka, mendengar apa yang dikatakan oleh Mikel.
Beberapa kali Rio palsu mencuri pandang ke arah Mikel. Dan Mikel mengetahuinya. Tapi Mikel tetap bersikap santai.
Hingga Rio palsu meminta Mikel untuk menghentikan mobilnya di tepi jalan. "Di sini?" tanya Mikel memastikan. Pasalnya kanan kiri jalan hanya di tumbuhi ilalang.
"Iya, saya sudah menghubungi teman saya. Dia akan menjemput saya ke sini." ujar Rio palsu.
"Baiklah." Mikel menepuk pundak Rio palsu.
"Terimakasih." ucap Rio palsu.
Mikel hanya tersenyum, melajukan mobilnya dengan kencang menuju markas. "Gue sudah menempelkan alat yang diberikan bu Bulan di pundak Rio palsu." ujar Mikel sambil menyetir.
__ADS_1
"Oke. Elo berhati-hatilah. Jangan melajukan mobil dengan laju yang cepat." ujar Arya mengingatkan.
"Oke." Arya segera menyalakan layar lainnya. Dimana Rio palsu berada.
"Elo juga harus menyimpannya. Bulan pasti akan menanyakannya." tukas Jevo.
"Pasti." ucap Arya.
Sekitar lima belas menit, Mikel tiba di markas. "Bagaimana, misi elo sukses?" tanya Mikel pada Jevo, begitu dia sampai di markas.
Jevo mengangguk. "Bahkan gue menemukan sesuatu di dalam rumah itu."
"Apa?" tanya Mikel penasaran.
"Pintu rahasia." sahut Arya.
Mikel memandang Arya dan Jevo bergantian. "Kita akan membahas besok saja. Setelah ada bu Bulan." jelas Arya.
"Memang itu lebih baik." ujar Mikel menyetujui saran Arya.
Karena malam sudah larut, ketiganya memutuskan untuk menginap di markas. "Bagaimana, ide gue membuat markas seperti rumah bermanfaat juga kan." ucap Arya dengan sombong.
Pasalnya, memang Arya yang membuat markas seperti sekarang. Mikel dan Jevo acuh, berpura-pura tidak mendengar. Melenggang begitu saja, dan masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Gue memang pintar." puji Arya pada dirinya sendiri, berjalan menuju dapur untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.
Sedangkan menjelang subuh, Jeno sampai di kota tempat keluarga Bulan tinggal. Tampak suasana masih sangat sepi. Jeno terlihat mengantuk. Namun dia tetap menyetir, tapi dengan kecepatan hang rendah.
"Eeeuugghhh..." Bulan melenguh. Meregangkan otot-ototnya. Jeno hanya tersenyum sembari melirik ke arah Bulan. Sebah Jeno harus fokus pada jalan di depan yang dia lalui.
Ini pertama kalinya Bulan merasa tidur dengan sangat nyaman. Padahal dirinya tertidur di dalam mobil. Entah karena efek dari obat yang dia minum. Atau karena ada Jeno di sampingnya.
Bulan perlahan mengerjakan kedua kelopak matanya. Pemandangan pertama yang Bulan lihat adalah Jeno yang sedang menyetir.
"Astaga." gumam Bulan, mulai sadar kembali. Jika dirinya sedang bersama dengan Jeno, dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya.
Segera Bulan mengubah posisinya, dengan menaikkan sandaran kursi yang dia duduki. "Berhenti." pinta Bulan.
Dengan segera, Jeno menghentikan mobilnya. "Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Jeno khawatir.
Bulan tersenyum manis. Dan ini untuk pertama kalinya Jeno melihatnya. Tentu saja hal tersebut membuat jantung Jeno merasa jedag jedug tak karuan.
Rasa kantuk Jeno pun menghilang seketika melihat senyum Bulan. "Ada apa?" tanya Jeno lagi dengan nada lembut.
Bulan melepas sabuk pengamannya. "Keluar." pinta Bulan.
"Hah..." Jeno berkedip lucu seraya mulutnya terbuka. "Kamu mengusir aku." lanjut Jeno dengan ekspresi wajah cemas.
Bulan memutar bola matanya dengan jengah. "Kita gantian menyetir." tukas Bulan.
"Ooo.... Eh,,, nggak, nggak perlu. Lagi pula ini sudah masuk ke kota tempat tinggal keluarga kamu." tolak Jeno.
"Iya benar. Tapi rumah aku termasuk pedalaman. Masih beberapa jam lagi kita akan sampai." jelas Bulan.
Sebab Jeno pasti mengira jika mereka akan segera tiba di rumah kedua orang tua Bulan. "Kita tukar tempat duduk. Sebaiknya kita gantian menyetir. Lagi pula aku sudah tertidur lumayan lama." lanjut Bulan.
Terlihat Jeno masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. "Lihat, kamu pasti mengantuk. Berbahaya untuk kita berdua. Jika kamu menyetir dalam keadaan mengantuk." tukas Bulan.
"Baiklah." Jeno berpikir apa yang dikatakan Bulan memang benar adanya. Bisa-bisa mereka berdua malah celaka gara-gara dirinya yang menyetir.
Jeno keluar dari mobil, berjalan setengah putaran untuk kembali lagi masuk ke dalam mobil. Sedangkan Bulan tetap di dalam tanpa keluar dari mobil. Sebab Bulan langsung duduk di kursi yang tadi di duduki Jeno, setelah Jeno keluar.rr
Jeno kembali mengatur letak sandaran kursinya. Tidur dengan nyaman di tempat yang Bulan juga tidur di kursi tersebut.
__ADS_1
"Harum." gumam Jeno, mencium bantal serta selimut yang baru saja dipakai Bulan dengan kedua mata terpejam.
Bulan yang mendengarnya hanya tersenyum samar, sambil kembali melajukan mobilnya.