PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 68


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Tuan David, papa dari Jevo dan Jeno pada bawahannya yang saat ini berdiri di depannya beserta sang istri.


"Hari ini, saya melihat Tuan Muda Jevo dan Tuan Muda Jeno keluar dari rumah, Tuan,, Nyonya."


"Kemana mereka?" tanya Nyonya Rindi khawatir.


"Maaf Tuan, Nyonya. Saya kehilangan jejak mereka berdua." ucapnya dengan jujur.


"Bagaimana bisa?" tanya Nyonya Rindi merasa heran. Sementara Tuan David hanya diam. Terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Mereka keluar bersama?" tanya Tuan David membuka suara.


"Tidak Tuan. Mereka tidak pernah keluar bersama." jelasnya, yang artinya baik Jevo maupun Jeno selalu mengendarai kendaraan masing-masing.


Tuan David menggerakkan tangannya. Menyuruh bawahannya yang dia berikan perintah untuk memantau kedua putra kembarnya keluar dari ruangan.


"Saya permisi, Tuan, Nyonya." pamitnya, yang diangguki oleh Tuan David dan Nyonya Rindi.


"Kemana mereka perginya pa?" tanya Nyonya Rindi merasa khawatir.


Saat ini, keduanya masih berada di luar negeri untuk melakukan beberapa pertemuan dengan rekan bisnis mereka.


Sebab setelah kedua putranya memasuki sekolah SMP, Nyonya Rindi juga ikut serta dalam pekerjaan Tuan David. Yakni mengembangkan bisnis mereka.


Selain karena background Nyonya Rindi sebagai seorang pengusaha, dirinya juga ingin mengusir rasa penat karena tidak melakukan apapun di rumah.


Jika ditanya tujuan utamanya. Tentu saja Nyonya Rindi ingin selalu berada di samping sang suami. Meski usia Tuan David sudah hampir berkepala lima, tetap saja banyak para perempuan di luar yang mencoba mendekatinya.


Bukannya Nyonya Rindi tidak percaya dan meragukan kesetiaan yang dimiliki sang suami. Hanya saja, Nyonya Rindi tahu betul bagaimana licik dan licinnya para perempuan yang memang sudah mempunyai niat jahat.


"Tidak perlu khawatir. Mereka berdua seorang lelaki, pasti bisa menjaga diri dengan baik."


"Pa, bukan soal menjaga diri. Mama khawatir, mereka akan melakukan hal yang tidak baik. Apalagi Claudia. Mama benar-benar tidak menyukainya." jelas Nyonya Rindi dengan gamblang.


Sejak dulu, Nyonya Rindi sudah mengatakan pada Jevo, jika beliau selamanya tidak akan pernah merestui hubungan keduanya.


Selain karena Nyonya Rindi tidak menyukai kedua orang tua Claudia yang sombong, entah kenapa Nyonya Rindi juga tidak menyukai Claudia.


Yang sebenarnya, Nyonya Rindi takut jika Jevo melakukan hal diluar batas pada Claudia. Yang pada akhirnya membuat keduanya harus menikah.


Meski Jevo mengatakan dirinya hanya bermain-main dengan Claudia. Dan tidak akan pernah serius dengan Claudia. Tetap saja, relung hati Nyonya Rindi merasa khawatir dan tidak rela, jika sampai Jevo dan Claudia menikah.


"Tidak..... Aku tidak berharap punya menantu seperti Claudia." seru Nyonya Rindi tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Entah apa yang dibayangkan oleh Nyonya Rindi, hingga beliau mengatakan hal tersebut.


"Ma... Jangan berpikir terlalu jauh. Jevo tidak akan melakukan hal seperti itu. Papa yakin." tekan Tuan David, mempercayai sang putra dengan sepenuhnya.


Tuan David percaya, jika kedua putranya tidak akan mengingkari apa yang telah mereka katakan padanya. Dan akan tetap menjaga kepercayaan tersebut.


"Baiklah." Nyonya Rindi menghela nafas panjang secara perlahan. "Oke,,,, Jevo, dia memang sedikit liar. Play boy, penakluk perempuan. Mama tahu itu." jeda Nyonya Ranti sejenak.


Lalu melanjutkan perktaannya kembali. "Tapi Jeno, untuk apa dia selalu keluar dengan sembunyi-sembunyi di malam hari. Mau ke mana? bertemu siapa?" tanya Nyonya Rindi dengan benak penuh dengan berbagai tebakan.


Tuan David berdiri. Berjalan menuju meja, mengambil sesuatu dari dalam laci. Kembali lagi duduk di kursi samping sang istri.


Memberikan apa yang diambil dari dalam laci pada sang istri. "Apa ini pa?" tanya Nyonya Rindi sambil menerima apa yang disodorkan oleh sang suami.


Tenyata beberapa foto yang memperlihatkan salah satu putra mereka, Jeno dengan sang guru, Bulan. Keduanya tampak intens, dengan Jeno memandang Bulan penuh cinta.


"Dari mana papa mendapatkan foto-foto ini pa?" tanya Nyonya Rindi heran, dengan pandangan masih fokus melihat semua foto di tangannya satu persatu..


Tampak jelas raut wajah Nyonya Rindi yang cemas. "Pa, tidak mungkinkan, Jeno mempunyai hubungan dengan gurunya sendiri?" tanya Nyonya Rindi tampak ragu dengan semua foto di tangannya.


Pasalnya, semua tahu jika hubungan keduanya adalah guru dan murid. Dan pastinya, usia mereka juga pasti tidak imbang. Sementara Tuan David masih terdiam. "Pa, apa bu Bulan yang menggoda dan merayu putra kita?" tebak Nyonya Rindi.


"Apa putra kita seperti lelaki yang akan mudah di goda?" tanya balik Tuan David pada sang istri.


Nyonya Rindi menggeleng. Dia cukup hapal dengan kelakuan sang putra. "Juga dengan bu Bulan. Mama pasti bisa menebak karakter dia seperti apa?" lanjut Tuan David.


"Dia perempuan yang sulit ditaklukkan. Pendiriannya juga kuat. Mama yakin, jika dia berasal dari keluarga baik-baik." jelas Nyonya Rindi.


"Astaga, sekali menyukai perempuan. Langsung seperti itu." keluh Nyonya Rindi.


"Seperti itu bagaimana ma? Apa karena usia mereka?" tebak Tuan David.


"Iya pa. Mama takut, Jeno hanya bermain-main. Sementara Bulan serius. Bukankah nanti hubungan keduanya akan berantakan."


Nyonya Rindi memijat pelipisnya, merasa pening setelah mengetahui kebenaran hubungan sang putra dan sang guru. Bagaimana jika Nyonya Rindi mengetahui pekerjaan Bulan yang sesungguhnya.


Apa Nyonya Rindi tidak bertambah pusing jika mengetahui kebenaran terkait pekerjaan sebenarnya yang digeluti dari Bulan.


"Bagaimana jika Jeno serius dengan Bulan?" tanya Tuan David. Seakan beliau tahu sesuatu.


Nyonya Rindi menghela nafas panjang. "Jika mama, tidak masalah. Asal mereka bisa menerima satu sama lain. Dan tidak menyesal di kemudian hari." tukas Nyonya Rindi. Sebab perbedaan keduanya cukup mencolok.


Kedua orang tua Jeno sama sekali tidak pernah mematoki putra-putra mereka untuk mencari pasangan karena harta. Tapi lebih kepada kepribadian mereka. Dan juga mereka harus berasal dari keluarga baik-baik.


Tuan David mengambil sesuatu dari balik jas yang melekat di tubuhnya. "Apa lagi ini pa?" tanya Nyonya Ranti.


"Mama baca saja." pinta sang suami, memberikan selembar kertas pada sang istri.


"Ckkk... papa ini. Tinggal menjelaskan saja. Apa susahnya. Malah menyuruh mama membaca sendiri." omel, dengan tangan mengambil kertas tersebut.


Awalnya, ekspresi Nyonya Rindi tampak biasa. Tapi sedetik kemudian, ekspresi beliau berubah drastis. "Pa... papa jangan bercanda...!!" seru Nyonya Rindi memandang intens kepada sang suami.


"Bulan. Dia... dia... dia bukan guru. Dia, dia, aparat negara. Jadi, Bulan hanya menyamar sebagai guru." lirih Nyonya Rindi syok.


Kertas yang berada di tangan Nyonya Rindi terjatuh bebas ke bawah. "Pa, ini serius?" tanyanya, yang mendapat anggukan dari Tuan David.


"Hebat." senyum terbit di kedua sudut bibir Nyonya Rindi. Ternyata, Nyonya Rindi malah senang dengan pekerjaan Bulan yang sesungguhnya.


"Pa... papa tahukan. Dari dulu mama kepengen menjadi polwan." rengek Nyonya Rindi, keluar dari jalur pembicaraan.

__ADS_1


"Tapi karena papa mengajak menikah. Mama jadi harus banting stir, jadi ibu rumah tangga." lanjutnya.


Tuan David menahan senyumnya. Beliau yakin, setelah mengetahui kebenaran alan pekerjaan Bulan, sang istri akan begitu antusias.


"Eh,,,, pa. Untuk apa Bulan menyamar?"


"Mengungkap kasus pembunuhan berantai. Dimana korbannya adalah mereka yang rata-rata pelajar SMA semua. Yang hingga kini belum terungkap siapa pelakunya."


"Apa Jeno tahu?"


Tuan David mengangguk. Kembali memberikan sebuah foto pada sang istri. Segera Nyonya Rindi mengambil dan melihatnya. "Ini dimana?" tanya Nyonya Rindi.


Dimana, di foto tersebut nampak Jeno sedang menggendong Bulan. Sementara Bulan memejamkan kedua matanya.


Meski Jeno memakai masker serta topi sebagai penutup wajahnya, tetap saja dia tidak bisa mengelabuhi mata jeli dari kedua orang tuanya.


"Apartemen Jeno."


Sontak, Nyonya Ranti langsung memandang ke arah sang suami. Meminta penjelasan."


"Kelihatannya Bulan sedang sakit. Dan Jeno terpaksa membawanya ke apartemen."


Nyonya Rindi mengangguk pelan. "Dari mana papa tahu semua ini?" tanya Nyonya Rindi, memicingkan sebelah matanya dengan curiga.


"Meski papa tidak bisa memantau secara langsung. Papa punya banyak mata dan telinga untuk kedua putra kita. Mana mungkin, papa membiarkan mereka bertindak tanpa papa pantau." jelas Tuan David.


"Iya juga sih."


Tuan David tersenyum. "Ma, mama todak khawatir, jika Jeno dan Bulan melakukan sesuatu di apartemen. Mereka hanya berdua lo ma." goda Tuan David.


"Tidak masalah. Mama setuju, jika Jeno bersama dengan Bulan. Mama suka dia." ucap Nyonya Ranti tersenyum sempurna.


Jika Tuan David tahu semuanya. Tidak mustahil, jika beliau juga mengetahui bahwa Jevo dan Jeno beserta kedua sahabat Jevo terlihat dalam misi yang sedang Bulan lakukan.


Tapi, kenapa Tuan David diam saja. Dan sama sekali tidak merasa khawatir. Entahlah, hanya Tuan David sendiri hang mengerti semuanya.


Mobil yang dikendarai Bulan, bersama Jeno di dalamnya, sudah berada di depan pekarangan luas milik orang tua Bulan.


Bulan menepuk pelan badan Jeno. "Jeno,,, bangun. Sudah sampai." ucapnya pelan, agar Jeno tidak kaget.


"Jeno..." panggil Bulan lagi. Menepuk pelan pipi Jeno. Kembali membangunkannya.


Jeno mengerjapkan kedua matanya secara perlahan. "Sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak, sembari mengucek kedua matanya.


"Pelan-pelan." tukas Bulan, saat Jeno bangun dan ingin mengubah posisinya menjadi duduk.


Jeno tersenyum simpul. Hanya perhatian kecil dari Bulan. Sudah membuat Jeno merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Jeno menajamkan penglihatannya. Sebab, suasana masih sepi, dan matahari belum menampakkan sinarnya. Meski Jeno sudah mendengar suara sahut menyahut panggilan dari toak, pengeras suara di masjid. Yakni adzan. Yang menandakan waktu sudah memasuki waktu subuh.


"Ini rumah kamu?" tanya Jeno, memandang rumah di samping mobilnya berhenti. Tapi keadaan masih nampak sepi, dan lampu rumah orang tua Bulan belum semua di nyalakan.


"Ayo, kita keluar." ajak Bulan, melepas sabuk pengaman di badannya.


"Siapa bilang. Mereka sudah bangun. Mungkin bapak dan Bintang malahan tidak ada di rumah. Kemungkinan mereka sudah berada di masjid, sholat berjamaah di sana."


"Bintang." gumam Jeno.


"Nama adik aku satu-satunya. Dia kelas satu SMA. Laki-laki." jelas Bulan.


Jeno hanya mengangguk. "Ayo." ajak Bulan lagi.


Segera Jeno melepas sabuk pengamannya. "Ehh,,, kita tidak bawa oleh-oleh?" Jeno baru tersadar.


"Tidak perlu. Ayok."


"Mana sopan. Bertamu tidak bawa apa-apa." ujar Jeno beralasan. Tentu saja Jeno ingin keluarga Bulan menerimanya dengan baik.


"Terserah." Bulan mulai bosan mengobrol yang tak berujung dengan Jeno.


"Ehh... kok aku ditinggal." segera Jeno turun dan mengekor di belakang Bulan.


Tok,,, tok,,,, "Bu,,, ibu...." panggil Bulan dengan mengetik pintu rumahnya.


"Benarkan. Mereka pasti masih tidur." tukas Jeno.


"Diam. Berisik." ketus Bulan, karena Jeno sok tahu.


Kembali Bulan mengetuk pintu. Berharap ada orang di dalam yang mendengarnya. Jeno memutuskan untuk duduk santai di kursi. "Dibilangin nggak percaya." ujar Jeno.


Bulan memandang kesal pada Jeno. Lalu kembali mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Dan memanggil sang ibu.


Tak berselang lama, pintu terbuka dari dalam. Bulan tersenyum menyambut pintu yang terbuka. "Bulan......" cicit Bu Asri, langsung memeluk sang putri yang dirindukannya dengan erat.


"Anak ibu." ucap Bu Asri masih memeluk Bulan. Sedangkan Jeno, dia langsung bangun dan berdiri di samping Bulan.


Bu Asri memandang Jeno dengan intens. Jeno tersenyum sembari sedikit mengangguk. Bulan merasa jika sang ibu terdiam. Dia segera mengurai pelukannya.


Bulan baru teringat, jika ada Jeno bersama dengannya. Bu Asri mengalihkan pandangannya kepada Bulan. Seolah beliau sedang bertanya pada sang putri, mengenai lelaki muda yang ada di sisinya.


"Mampus. Gue lupa, Jeno..... Bagaimana gue mengenalkan Jeno pada mereka." batin Bulan.


Bulan tersenyum kaku sembari berpikir. "Bulan, siapa dia?" tanya bu Asri, sebab Bulan maupun Jeno tak segera memperkenalkan diri Jeno.


"Anu bu.... emmm... itu. Dia, dia itu,,,," Bulan kebingungan.


"Saya Jeno. Putra dari atasan mbak Bulan." segera Jeno menyela kalimat Bulan yang menggantung.


Bulan tercengang. Tidak menyangka Jeno sudah mempunyai jawaban atas pertanyaan sang ibu. "Jeno, apa dia sudah memikirkannya sedari tadi. Dasar." batin Bulan jengkel.


Kenyataannya, Jeno juga baru saja memikirkan hal tersebut. "Pantas saja. Sangat tampan." puji bu Asri.

__ADS_1


Jeno tersenyum senang. "Terimakasih bu." tukas Jeno.


"Ayo masuk. Ibu sampai lupa." Bu Asri mempersilahkan Jeno untuk masuk. "Ajak dia masuk Bulan, di luar masih dingin." lanjut bu Asri.


"Bapak sama Bintang di mana?" tanya Bulan, mendaratkan pantatnya di kursi ruang tamu.


"Masih di masjid." sahut bu Asri.


"Sebentar ya.... Ibu buatkan minum." ujar bu Asri.


"Bulan ke kamar dulu bu, mau membersihkan badan." pamit Bulan.


"Oh iya, nak...."


"Jeno. Nama saya Jeno bu." sela Jeno, saat ibu dari Bulan ingin memanggilnya.


"Baiklah. Nak Jeno bisa menggunakan kamar Bintang. Bulan, kami tunjukkan kamar Bintang." pinta sang ibu.


Bulan mengangguk. "Ibu tinggal ke belakang dulu."


"Iya bu." ucap Jeno dan Bulan serempak.


"Kami bawa baju?" tanya Bulan.


"Bawa. Ada di mobil."


"Ya sudah. Kamu ambil. Aku ke dapur sebentar. Merebus air untuk kamu mandi." jelas Bulan.


"Ehh,,, jangan. Tidak perlu." tolak Jeno merasa tidak enak dengan keluarga Bulan.


Mandi air hangat. Tidak. Terlihat Jeno seperti lelaki manja. "Jangan menolak. Air di sini sangat dingin saat pagi hari." jelas Bulan.


"Tidak apa." sahut Jeno.


"Yakin. Di sini tidak ada air hangatnya low. Harus merebus dulu." jelas Bulan sekali lagi.


"Iya, aku yakin." tekan Jeno, tak mau terlihat seperti lelaki cemen di mata Bulan, juga keluarga Bulan yang harus mandi menggunakan air panas.


"Baiklah."


"Kamu tunggu sebentar. Aku ambil baju ganti dulu."


Bulan mengangguk. Sementara Jeno bergegas mengambil sebuah paper bag yang manh sudah dia siapkan dari rumah.


Bulan kemudian menunjukkan letak kamar Bintang. Adik dari Bulan. "Tidak apa-apakan?"


Jeno merasa ragu untuk masuk ke dalam kamar Bintang. Apalagi sampai menumpang mandi. Pasalnya, Jeno sama sekali belum pernah bertemu dengan adik Bulan, Bintang.


"Sudah, tidak apa-apa." ujar Bulan.


"Apa tidak ada kamar tamu?" tanya Jeno lirih.


Bulan menggeleng. "Maaf." tampak Bulan tidak enak pada Jeno. Apalagi di sini, Jeno adalah tamunya.


Jeno mengelus lengan Bulan bagian atas. "Tidak apa. Aku hanya merasa khawatir. Jika Bintang tidak menyukai kamarnya dimasuki orang asing." jelas Jeno, tidak ingin Bulan salah paham.


Bulan mengangguk paham. "Ya sudah, kamu gunakan kamar aku saja. Biar aku mandi di kamar Bintang." saran Bulan.


"Tidak." sahut Jeno segera.


"Lalu?"


Jeno merengut. Bulan mandi di kamar Bintang. Meski Bintang adalah adik kandung Bulan, tetap saja dia seorang lelaki. "Gue nggak rela." batin Jeno.


"Jeno, kamu terlalu lama berpikir. Putuskan. Kamu mandi dikamar aku. Atau di kamar Bintang." tegas Bulan, mulai kesal dengan keinginan Jeno.


Jeno tersenyum aneh. "Bagaimana kalau aku mandi di kamar kamu. Tapi, kamu juga tetap mandi di kamar kamu."


"Aaw..." seru Jeno, saat jari jemari Bulan menyentil keningnya dengan kencang.


Mulut Jeno cemberut dengan tangan mengusap keningnya yang terasa sakit. "Jangan ngaco." tekan Bulan.


Mendengar suara orang berbincang, Bu Asri meninggalkan pekerjaannya di dapur untuk menghampiri mereka. "Loh, kalian belum mandi?"


Jeno tersenyum kaku. "Ini bu, Jeno. Ribet sekali." ketus Bulan.


"Bulan." tegur sang ibu, pasalnya Jeno adalah anak dari atasan Bulan. Bu Asri hanya khawatir Bulan akan mendapat maslaah karema bersikap kasar pada Jeno.


"Saya masuk dulu bu, mau mandi. Badan saya rasanya lengket semua." tukas Jeno, masuk ke dalam kamar Bintang.


"Sudah kamu mandi sana." tutur bu Asri pada Bulan.


Sama seperti Jeno. Bulan juga segera membersihkan badannya. Tapi di kamarnya sendiri.


Sedangkan bu Asri segera kembali ke dapur. Menyelesaikan makanan untuk sarapan mereka.


Jeno memandangi kamar Bintang. "Sangat rapi dan bersih. Wangi lagi." cicit Jeno, menilai kamar Bintang.


"Padahal di sini tidak ada pembantu. Apa dia membersihkan kamarnya sendiri, atau dibersihkan ibunya." terka Jeno.


Jeno bisa menyimpulkan, sebab ibu Bulan sendiri yang membuka pintu. Dan juga, tidak ada orang lain yang mereka bahas selain keluarga inti.


Mata Jeno tak sengaja melihat sebuah foto di dalam pigura yang terletak di atas meja. Terlihat di meja tersebut Bintang belajar. Dimana, diatasnya tertata banyak buku dengan rapi.


Jeno mengambil pigura yang berisikan foto Bulan dengan sang adik, Bintang. "Ternyata dari kecil memang sudah cantik." puji Jeno, melihat foto masa kecil Bulan.


Diletakkannya kembali foto tersebut ke tempat semula. Kedua mata Jeno melihat sebuah foto berukuran besar terpasang di sisi dinding.


"Bin-tang, apa dia yang bernama Bintang." Jeno memandang dengan intens foto adik dari Bulan.


"Memang pantas menjadi adik Bulan. Tampan." puji Jeno. "Semoga gue bisa akrab dengan Bintang." ucap Jeno.

__ADS_1


Segera Jeno mencari kamar mandi. Dan membersihkan dirinya. Jeno yakin pasti sebentar lagi ayah dan adik Bulan akan pulang dari masjid.


__ADS_2