PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 184


__ADS_3

Bulan terkejut mendengar Tuan David memperkenalkan dirinya sebagai calon menantunya pada beberapa tamu undangan. Meski begitu, Bulan tampak dengan tenang mengontrol emosinya. Sehingga raut wajahnya tetap terlihat anggun.


Selain itu, Bulan seakan menangkap maksud tertentu dari Tuan David, ketika Bulan menyadari sosok yang sangat dia kenal berada di sana.


Bulan menyadari jika ada beberapa sosok yang sengaja mendekat ke tempatnya. Hanya saja, Bulan merasa jika mereka pasti penasaran dan ingin mencari tahu. Makanya Bulan memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Membiarkan mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Toh keluarga Tuan David juga sudah menerima dirinya. Sehingga Bulan merasa jika dia wajib melindungi diri dari mereka yang akan melihat Bulan dengan pandangan sebelah mata.


"Bukankah itu Bulan?" tanya seorang perempuan paruh baya pada lelaki di sampingnya, yakni sang suami.


Lelaki tersebut segera mengalihkan pandangannya, menuju kemana sang istri sedang memandang. "Benar."


Keduanya memutuskan untuk menghampiri Bulan. "Bulan..." panggilnya, membuat Bulan memandang lurus ke depan, dimana ada sepasang suami istri di sana.


Semua yang duduk mengelilingi meja tersebut juga menoleh ke sumber suara. Mereka kenal dan sangat tahu, siapa sosok yang memanggil Bulan. Beliau adalah petinggi atau pejabat penting di kepolisian. D


Segera Bulan beranjak dari duduknya. Saat Bulan hendak mengangkat tangan untuk memberi hormat, beliau langsung mencegahnya dengan menarik tangan Bulan untuk berjabat tangan.


"Jangan terlalu resmi. Kita sedang tidak bekerja. Kita berada di pesta. Jadi santai saja." tukasnya dengan telapak tangan masih berjabat tangan dengan Bulan.


Bulan mengangguk seraya tersenyum. "Nyonya." sapa Bulan. Segera mengulurkan tangannya pada beliau selesai.bersabat tangan dengan atasannya.


Dengan senyum di wajah, istri dari atasan Bulan menyambut tangan Bulan. "Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya beliau terheran.


Nyonya Rindi dengan santai menjawab pertanyaan beliau, sebelum Bulan sempat menjawabnya. "Bulan datang bersama dengan kami." jelas Nyonya Rindi.


Semua terkejut melihat keakraban Bulan dengan orang nomor satu di kepolisian tersebut. Tapi tidak dengan lelaki tua yang pertama kali berjabat tangan dengan Bulan.


Pandangan mereka mulai menyelidiki. Jika tadi mereka semua menatap remeh Bulan karena pekerjaan dan asal usul Bulan, tidak untuk sekarang.


Ditambah, sosok yang baru datang juga bukan sosok sembarangan. Meskipun beliau ramah terhadap semua orang, hanya saja beliau sangat sulit untuk didekati. Atau dengan kata lain beliau sangat menjaga privasi.

__ADS_1


Nyonya Rindi dan Tuan David juga menyusul Bulan untuk berjabat tangan dengan sepasang suami istri tersebut. Juga dengan Jevo dan Jeno. Dan yang lainnya.


"Silahkan bergabung dengan kita." ajak salah satu dari mereka. Dengan senyum ramahnya berusaha menarik perhatian sepasang suami istri yang baru saja datang tersebut.


"Terimakasih." sahut atasan Bulan, tapi tetap berdiri di tempatnya.


"Penjilat." batin Jevo memutar kedua matanya dengan malas.


"Nyonya mengatakan jika Bulan datang bersama kalian, maksudnya?" tanya istri atasan Bulan, merasa penasaran. Pasalnya, setahu dia Bulan hanya seorang diri tinggal di kota. Dengan semua keluarga Bulan berada di desa.


"Iya, Bulan calon menantu kami. Dia kekasih dari salah satu putra kami. Jeno." jelas Nyonya Rindi dengan bangga.


Jeno mengangguk seraya tersenyum membenarkan apa yang dijelaskan sang mama. Bukan hanya itu, dia langsung kembali melingkarkan tangannya di pinggang ramping Bulan.


"Begitu....?? Astaga, kami terlambat. Iyakan pa...?" canda istri atasan Bulan, tapi juga terdengar serius.


"Padahal kami ingin mengenalkan Bulan dengan putra kami yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan di luar. Ternyata kami sudah terlambat." tutur beliau tersenyum ramah menatap Bulan.


Bulan menatap sejenak ke arah Jeno dengan senyum manisnya. Apa yang dikatakan Jeno memang terdengar seperti gurauan belaka. Tapi entah kenapa Bulan merasa sangat bahagia.


"Baiklah, kalian teruskan perbincangan kalian. Saya dan istri saya harus menyapa beberapa orang terlebih dahulu." pamit atasan Bulan dengan sopan.


"Silahkan." sahut Tuan David.


"Ma,, pa,,, Jevo juga mau berkeliling." ujar Jevo, merasa jenuh dan bosan jika terus duduk diantara orang yang bermuka dua seperti mereka.


"Jeno, ajaklah Bulan berkeliling." pinta Nyonya Rindi. Beliau merasa kasihan jika Bulan berada di sekitar orang yang berpikiran negatif tentangnya.


"Ayo sayang." ajak Jeno sembari menautkan jari jemarinya dengan jari jemari Bulan. Meninggalkan tempat tersebut untuk dibawa ke tempat lain.


Sedangkan Tuan David dan Nyonya Rindi masih duduk di kursi sebelumnya. Mereka masih bersikap santai.

__ADS_1


Senyum di bibir Nyonya Rindi terus terukir di bibirnya. Kedatangan seorang lelaki yang ternyata atasan Bulan, mampu membungkam mulut mereka semua.


"Lihatlah pa, serasi sekali mereka. Semoga Jevo juga segera menemukan perempuan yang bisa membahagiakan dia." cicit Nyonya Rindi memandang kedua putranya serta Bulan.


"Apakah Jevo masih sendiri? Saya mempunyai keponakan. Dia sangat cantik dan juga pandai. Dia juga masih duduk di bangku SMA. Apalagi, keluarganya juga berasal dari kalangan atas. Bagaimana?" tanya seorang perempuan paruh baya dengan antusias.


"Terimakasih. Tapi saya tidak bisa memutuskannya. Sebab Jevo yang akan menjalani. Hanya saja, kami sebagai orang tua akan mempunyai beberapa syarat bagi perempuan yang akan diperkenalkan putra kami sebagai pasangannya. Dan semua itu bukan tentang dari kalangan mana dia berasal." papar Nyonya Rindi, mampu membungkam mulut perempuan tersebut.


Nyonya Rindi bisa menebak perempuan mana yang akan dikenalkannya pada Jevo. Pasti dia salah satu putri saudaranya yang sudah dia kenal. Dimana keluarga tersebut terlalu banyak menyebabkan masalah. Juga dengan putrinya yang pernah terlibat beberapa masalah di sekolahnya.


"Ma,,, papa ingin menemui seseorang. Mama ikut?" tanya Tuan David, yang sebenarnya mengajak sang istri untuk beranjak dari duduknya. Yang mendapat anggukan dari Nyonya Rindi.


Sama seperti kedua putranya, Tuan David juga tidak betah berlama-lama dengan mereka para manusia berwajah seribu.


"Maaf semuanya, saya dan istri saya permisi dulu." pamit Tuan David, Nyonya Rindi hanya mengangguk sopan, lalu melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Melangkahkan kaki mengikuti kemana sang suami akan membawanya.


"Siapa sebenarnya Bulan? Kenapa David dan Rindi dengan bangga membawa dia ke sini? Bahkan mengatakan dengan yakin, jika dia akan menjadi bagian dari keluarganya." tanya salah satu dari mereka. Menebak jika sosok Bulan tidak sesederhana yang dia tebak sebelumny..


Dan pertanyaan tersebut terlontar setelah kedua orang tua Jeno tidak lagi berada di sekitar mereka. "Bulan Maheswari. Dia salah satu anggota polisi yang sangat disegani dan ditakuti. Hanya mendengar namanya saja, musuh akan gemetar dan merasa kalah sebelum berperang." jelas seorang lelaki tua.


Semua memandang ke arah lelaki tua tersebut. "Pa,,, apa papa sedang bercanda. Dia perempuan, dan.... Terlihat masih sangat muda." tukas seorang perempuan tertawa tak percaya dengan apa gang dikatakan lelaki tua tersebut.


"Memang seperti itulah kenyataannya. Dia sekarang menjadi kepala kantor di kota ini. Jangan pernah bermain-main atau mengganggunya. Meski dia terlihat begitu anggun, dia sendiri adalah senjata yang mematikan." jelas beliau kembali.


Semua mata memandang ke arah dimana Bulan sedang berada. "Beruntung sekali putra David menemukan perempuan seperti dia." timpal yang lain dengan tatapan iri.


"Tapi,,, David juga pasti tahu konsekuensinya. Orang seperti Bulan, pasti mempunyai banyak musuh yang selalu mengincar nyawanya." jelas lelaki tua tersebut.


"Jika dia sehebat itu. Bisa dipastikan, jika kedepannya keluarga David akan lebih berkuasa." timpal yang lain dengan tatapan iri.


"Kenapa harus menunggu besok, sekarang saja kamu bahkan tidak bisa menyaingi David dalam segi apapun." tukas yang lain, tersenyum remeh.

__ADS_1


"Sudah. Kenapa kalian malah berdebat sendiri." tegur lelaki tua. Membuat semuanya terdiam dengan berbagai macam ekspresi.


__ADS_2