PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 130


__ADS_3

"Tetap di dalam mobil. Jangan keluar." perintah Bulan, saat mereka sudah berada di area parkir kantor polisi.


"Iya sayang." sahut Jeno, yang sebenarnya ingin sekali ikut Bulan masuk ke dalam. Tapi apalah daya, dirinya tidak ingin Bulan malah marah jika dia tak menuruti perkataannya.


"Pakai ini." Bulan menyerahkan masker wajah serta topi untuk Jeno.


"Pakai saja." lanjut Bulan, saat Jeno menatapnya penuh tanya.


"Satu lagi. Jika ada yang datang, lalu bertanya pada kamu, jangan di jawab. Cukup mengangguk atau menggeleng. Jangan mengeluarkan suara. Paham." jelas Bulan, saat Jeno memakai masker untuk menutupi wajahnya. Seperti perintah Bulan.


"Kenapa?" tanya Jeno penasaran.


"Jangan banyak tanya Jeno,,,, ikuti saja apa yang aku katakan."


Bulan membelai lembut pipi Jeno yang sudah terhalang kain masker. Jeno langsung mengangguk patuh. "Tapi ada syaratnya." Jeno mengambil tangan Bulan, menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.


Seketika Bulan memasang ekspresi wajah masam. Apa yang Bulan tebak dalam hati ternyata benar. "Setelah dari sini, aku ingin mengajak kamu pergi jalan-jalan. Bagaimana?"


Bulan terdiam sejenak. "Apa masih kurang? Semalam kita sudah bersama." tukas Bulan, berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan Jeno. Sebab Bulan harus segera mencari anggota keluarga pak Bimo.


"Kuranglah. Ya... Mau...?" tanya Jeno menginginkan jawaban yang membuatnya senang.


"Jeno, aku ada pekerjaan setelah ini."


"Mau kemana?" tanya Jeno menyelidik. "Pasti mau menemui Gara." lanjut Jeno menebak, dengan ekspresi tak suka.


Egois. Bulan bisa melihat ada sisi egois pada diri Jeno. Tapi Bulan tak lantas menyalahkan Jeno begitu saja. Apalagi di usianya yang masih belasan tahun.


Meski di beberapa kesempatan Jeno bisa bersikap dengan dewasa. Pasti jiwa kekenak-kanakannya juga masih kental. Rasa ingin diperhatikan dan rasa ingin memiliki pastinya lebih kuat.


Dan sudah menjadi konsekuensi untuk Bulan. Jika dirinya memang ingin menjalin hubungan lebih serius dengan Jeno, maka Bulan harus lebih banyak bersabar dan juga harus bisa menempatkan diri di berbagai kondisi. Terutama menahan emosi.


"Karena sedari dulu, pekerjaanku selalu melibatkan Gara di dalamnya." jelas Bulan.


"Sayang...."


"Sudah Jeno,,, aku mau masuk. Ingat apa yang aku katakan tadi." ujar Bulan memotong perkataan Jeno. Jika perdebatan kecil itu terus berlanjut, tidak mustahil Bulan akan gagal masuk ke dalam untuk menjenguk kakek Timo.


Bulan memberikan kartu pengenalnya pada Jeno. "Untuk apa?" tanya Jeno seraya mengambilnya.


"Tunjukkan ini pada mereka, jika ada yang datang. Tapi ingat, jangan mengeluarkan suara." jelas Bulan lagi.


"Iya sayang." ujar Jeno, melepaskan Bulan untuk masuk ke dalam kantor seorang diri.


"Memang gue bisu." ucap Jeno setelah Bulan tak lagi di sampingnya.

__ADS_1


Jeno menatap benda kecil yang diberikan oleh Bulan, lali menatap ke arah Bulan. Dimana Bulan sedang berbicara dengan dua orang anggota polisi.


Hanya sebentar, lalu Bulan masuk ke dalam dengan mudah. Untuk menunggu Bulan kembali, Jeno mengeluarkan ponselnya dan memainkan game di ponsel miliknya tersebut.


Beberapa menit kemudian, jendela pintu mobil Jeno diketuk dari luar. Membuat fokus Jeno pada layar ponselnya beralih. "Sejak kapan mereka berduri di situ." lirih Jeno meletakkan ponselnya di kursi sebelahnya yang kosong.


Di samping mobil Jeno, ada dua anggota polisi. Dan mereka berdua adalah anggota yang sempat berbicara dengan Bulan sebelum Bulan masuk ke dalam.


Jeno membuka kaca pintu mobil, tanpa membuka pintu mobilnya. "Untuk apa mereka mendatangi gue." batin Jeno.


Tanpa menunggu mereka mengeluarkan suara, Jeno langsung memberikan kartu keanggotaan milik Bulan, yang Bulan berikan padanya.


"Kamu siapanya Bulan?" tanya salah satu dari dua orang tersebut.


Jeno hanya mengangguk saja, tanpa mengucapkan perkataan apapun. "Buka topi kamu." gertak satu anggota lainnya.


Jeno menaikkan sebelah alisnya. Jeno merasa ada sesuatu. Apalagi tak mungkin mereka melakukan hal tersebut, padahal sudah tahu dirinya dibawa oleh Bulan.


Jeno masih diam sembari menunduk. "Apa karena ini, Bulan tak ingin gue bersuara dan menyuruh gue memakai topi. Ya,,, mungkin karena Bulan takut semua orang akan mengetahui siapa gue." batin Jeno.


Tangan Jeno perlahan terangkat untuk membuka topi di kepalanya, padahal dirinya merasa cemas. "Tunggu. Tidak perlu." cegah salah satu dari keduanya.


Plong.... Jeno merasa lega. "Kenapa?!" tanya rekannya, menanyakan alasan rekannya mencegah apa yang akan dilakukan Jeno.


"Elo nggak dengar, dia cacat. Dan wajahnya sangat mengerikan. Melebihi Timo. Bahkan bibirnya sumbing. Makanya dia memakai topi. Dan hanya diam saja." jelas rekannya.


"Cacat. Mengerikan dari pada Timo. Bibir sumbing." gumam Jeno dengan tangan memegang pinggiran kursi dengan erat.


Jeno menghela nafas dan mengeluarkan secara perlahan. "Sabar Jeno,,, sabar." ucap Jeno.


"Pasti Bulan yang mengatakannya. Astaga,,,, wajah sangat tampan. Idola semua perempuan. Bisa-bisanya dikatain cacat. Sialan." umpat Jeno, kembali menutup kaca mobil dan menyenderkan punggungnya di kursi.


Sedangkan sampai di dalam, Bulan memberikan dua bungkus makanan pada dua anggota yang memang khusus menjaga kakek Timo. Dan mereka berdua adalah bawahan dari pak Darto.


"Terimakasih." ucap mereka serempak.


Terlihat ekspresi tak suka dari wajah mereka berdua melihat kedatangan Bulan. Sebab, karena Bulan, mereka kehilangan uang tambahan.


Dimana bisanya mereka mendapatkannya dari atasan mereka. Pak Darto. Sebab Pak Darto selalu memerintahkan mereka untuk melakukan suatu pekerjaan ilegal, dengan bayaran yang lumayan banyak.


Dan sekarang, keduanya hanya bisa duduk di kantor pusat. Munggu kakek Timo. Dan tentunya hal itu sangat menjemukkan dan merugikan bagi mereka.


Kenapa mereka tidak mengajukan syarat. Seperti giliran atau bergantian saat menjaga. Sudah, dan otak Bulan lebih cerdas dari yang mereka pikirkan.


Sehingga, mereka hanya bisa menerima cara dari kepala pusat, mengenai bagaimana caranya menjaga kakek Timo.

__ADS_1


Bahkan, mereka tidak diperkenankan pulang. Dan harus menginap di kantor polisi. Bukankah sesuatu yang membuat mereka akan sangat membenci perempuan yang bernama Bulan.


"Seharusnya saya yang berterimakasih. Kalian menjaga kakek Timo dengan baik." ujar Bulan menjeda kalimatnya.


"Saya yakin, kalian berdua akan lebih dari mampu dalam menjaga kakek Timo. Karena, saya yakin sekali. Di luar sana, banyak orang yang menginginkan kakek Timo. Keahlian yang dia miliki sangat luar biasa. Pasti, akan menghasilkan banyak uang, jika kakek Timo berada di tangan mereka." sindir Bulan tersenyum miring.


Bulan bisa melihatnya, mereka berdua ingin sekali menyerang Bulan. Itupun jika mereka mampu. "Ckk,,,, makanya saya merekomendasikan kalian berdua yang sangat hebat. Pasti di bawah penjagaan dan pengawasan kalian berdua, kakek Timo akan aman. Dan tetap berada di tempat semestinya." tekan Bulan di akhir kalimat.


Bulan menepuk pundak mereka berdua bergantian. "Oke, terimakasih banyak. Saya masuk dulu."


Salah satu dari mereka hendak menyerang Bulan saat Bulan berjalan menjauh dari mereka untuk masuk ke ruangan di mana kakek Timo berada. "Tahan, bisa-bisa kita yang akan menggantikan kakek sialan itu." cegah rekannya.


"Pagi kek..." sapa Bulan, melihat sang kakek sedang menyirami bunga di belakang penjara.


Kakek Timo segera mematikan krannya, dan menghampiri Bulan. "Bulan." sahutnya.


Bulan bersalaman dengan kakek Timo. Keduanya duduk di kursi yang tersedia di taman kecil tersebut. "Bagaimana?" tanya Bulan, melihat kakek Timo terlihat lebih senang. Bahkan badannya juga sedikit berisi.


"Kenapa tidak dari dulu, saya berada di sini." kelakarnya, membuat Bulan tertawa lepas.


Kakek Timo mengeluarkan sesuatu dari sakunya, lalu menaruhnya di atas meja. Sebuah kertas yang dilipat sangat kecil.


Bulan yang mengetahuinya segera mengambil dan menyimpannya. "Kek,,, ini ada sarapan untuk kakek."


"Banyak sekali." kakek Timo membuka paper bag gang dibawakan oleh Bulan.


"Kenapa mesti repot-repot beli beginian. Menghabiskan uang saja."


"Tenang. Itu bukan uang Bulan. Kakek seharusnya tahukan." Bulan memainkan alisnya naik turun.


"Katakan, terimakasih pada mereka."


Bulan mengangguk. "Maaf, Bulan tak bisa membawa mereka menemui kakek."


"Tidak apa. Nyawa mereka lebih berharga."


Setelah berada di dalam penjara beberapa hari, kakek perlahan mulai mengerti. Tentu saja dia tahu dari dua anggota polisi yang menjaganya.


Dimana keduanya tak pernah menyapa atau mengatakan apapun padanya. Tapi, mereka berdua selalu berbincang. Dan di setiap obrolan mereka, selalu menyebutkan nama Bulan.


Tampak sangat jelas, mereka berdua sama sekali tidak menyukai Bulan. Dan bahkan sangat ingin melenyapkan nyawa Bulan.


Itulah yang membuat kakek Timo berinisiatif menulis di lembar kertas, apa yang dia dengar. Berharap informasi tersebut berguna untuk Bulan.


Dan lagi, kakek Timo dengan baik bisa beradaptasi dengan lingkungannya sekarang. Sehingga dirinya mulai akrab dengan para anggota lainnya.

__ADS_1


Apa uang dilakukan Bulan dengan menempatkan dua orang tangan kanan Darto di samping kakek Timo memang sangatlah tepat.


Selain dia bisa membuat pergerakan Darto sedikit melambat, Bulan juga memperoleh informasi dari kakek Timo. Satu langkah yang membuahkan dua hasil memuaskan.


__ADS_2