
Ponsel Bulan berdering terus menerus, membuat Bulan yang sedang memakai jaket merasa terganggu. "Pasti Jeno." tebak Bulan dengan malas.
Bulan masih ingat janjinya pada Jeno saat mereka berada di sekolah. Jika malam ini mereka akan keluar dan makan bersama.
Padahal, Bulan bermaksud mengunjungi sahabatnya. Gara. Ada sesuatu yang ingin dia diskusikan atau bicarakan dengan Gara terkait tempat penyekapan istri dan anak dari pak Bimo.
Setelah Timo tertangkap serta mendapatkan hukuman mati, Bulan belum bertemu lagi dengan Pak Bimo. Dan memang itu sengaja Bulan lakukan.
Juga, dalam tugasnya berpura-pura menjadi tenaga pengajar masih beberapa bulan lagi. Dimana Bulan mengambil kesempatan tersebut untuk menyelidiki kasus ilegal yang melibatkan beberapa pejabat.
Padahal Bulan bisa saja menyudahi masa kerjanya tersebut. Tapi dia tidak melakukan hal tersebut. Dan malah mempergunakan waktu beberapa bulan sisa kerja di sekolah tersebut dengan baik.
Kenapa sisa tugas menjadi tenaga pengajar masih ada sekitar dua bulan ke depan? Karena Bulan menyelesaikan misi kasus pembunuhan berantai tidak lebih dari satu bulan.
Jika Bulan menyudahi masa kerja di sekolah, itu berarti dirinya harus berganti seragam kerja. Dimana dia harus bekerja dan masuk ke kantor sebagai seorang abdi negara yang membawa senjata api.
Dan jika hal tersebut terjadi, makan gerak Bulan juga akan terbatas. Dan malah, bisa jadi Bulan tidak lagi di kota ini. Sebab dipindah tugaskan ke tempat lain untuk misi lainnya.
Bulan menatap ponselnya di atas meja yang tak lagi berbunyi. Sayangnya, suara itu kembali lagi hanya dalam hitungan detik.
Bulan menatap ponsel yang terus menyala dan berbunyi. Dimana tertera nama Jeno di layar ponselnya. "Inilah yang gue takutkan, jika gue menjalin hubungan serius dengan lawan jenis." tutur Bulan, yang sebenarnya belum ingin serius menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Tentunya Bulan tak ingin menyeret Jeno atau siapapun yang akan menjalin hubungan dengannya masuk dalam masalah yang sedang dia hadapi.
Bukan tanpa alasan Bulan melakukannya. Sebab taruhannya adalah nyawa. Dan Bulan tidak ingin ada nyawa yang tak bersalah akan menjadi korban, karena mereka dekat dengan Bulan.
Selain itu, pikiran Bulan akan terbagi menjadi dua. Pada pasangannya, dan pada kasus yang sedang dia selidiki.
Karena tak mungkin keduanya akan bisa berjalan beriringan dengan baik. Pasti akan ada yang membuat Bulan merasa terganggu.
Seperti sekarang. Dimana Bulan ingin bertemu Gara dan membicarakan sesuatu, tapi dia harus membatalkannya. Karena terpaksa pergi ke tempat lain.
Bulan menghela nafas panjang. Mengambil ponselnya. Dimana Jeno baru saja mengirimkan pedan tertulis pada dirinya.
APA PERLU AKU JEMPUT KAMU? MAMA SAMA PAPA SUDAH MENUNGGU.
"Apa...?! mama,,, papa,,, mak-maksudnya apa ini? Om David sama tante Rindi akan makan malam bersama gue dan Jeno?!" cicitnya mencoba menelaah pesan tertulis dari Jeno.
Tak berselang lama, Jeno mengirimkan sebuah foto. Tampak dirinya dan kedua orang tuanya berada di restoran menunggu kedatangannya.
"Jeno...!!" geram Bulan, menggenggam erat ponselnya.
Jika saja hanya makan malam bersama dengan Jeno, mungkin Bulan akan membatalkannya. Tapi ini, Tuan David dan Nyonya Rindi berada di sana juga. Tak mungkin Bulan mengatakan tidak.
"Cckk,,,, dasar bocah. Bisa banget membuat gue kesal." decak Bulan merasa kesal.
Tanpa mengganti pakaiannya, Bulan mengambil kunci motor. Dan langsung menunggangi kuda besinya ke tempat dimana Jeno dan kedua orang tuanya menunggu.
Bulan sama sekali tidak berpikir mengenai pakaian yang dia kenakan. Tak ada dress atau gaun bahkan pakaian feminim.
Bulan hanya menggunakan kaos lengan pendek berwarna putih yang dia tutupi dengan jaket kulit. Serta celana jens panjang berwarna hitam. Tak ada riasan di wajahnya.
Tentunya semua karena Jeno. Jika sejak awal Jeno mengatakan akan membawa kedua orang tuanya, tentu Bulan akan menggunakan pakaian yang lebih feminim.
Bulan mengendarai motornya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, layaknya seorang pembalap. Melewati banyak kendaraan lainnya, supaya cepat sampai di tempat tujuan. Dia tak ingin kedua orang tua Jeno menunggunya terlalu lama.
Yang pertama Bulan lakukan setelah sampai di restoran tersebut, selain memarkir motornya, Bulan merapikan rambutnya yang sempat acak-acakan karena terpaan angin.
Dirasa sudah rapi, Bulan menurunkan resleting jaketnya sedikit ke bawah. "Jeno,,,!! Semoga kedua orang tua Jeno tidak malu ngajak gue makan di tempat ini." cicit Bulan, memandang penampilannya sendiri yang sangat seadanya.
__ADS_1
Bulan menghela nafas panjang. Melangkahkan kakinya ke dalam dengan tenang. Bulan melirik ke kanan dan kiri, dimana kebanyakan pengunjung restoran memakai pakaian yang rapi.
Dan untuk para perempuan, mereka menggunakan pakaian seperti dress dan gaun sederhana. Meski ada yang berpakaian santai, tapi mereka tak seperti Bulan yang memakai jaket dengan dalaman kaos.
Bulan melihat ada yang melambaikan tangannya. Jeno. Kedua mata Bulan membola, bukan hanya kedua orang tua Jeno. "Gila,,,! perasaan yang ada di foto hanya orang tiga. Kenapa ini banyak sekali." batin Bulan.
Tapi ada beberapa orang lagi di meja mereka yang berukuran besar. Tempatnyapun juga menyendiri, berada di sisi ruangan.
Tidak seperti meja lainnya yang Bulan lihat, yang ditata dengan jarak yang tak terlalu jauh. "Orang kaya. Pasti pesan tempat sendiri sesuai keinginan." batin Bulan melangkahkan kakinya mendekati meja tersebut.
Bulan memasang senyum di bibirnya. Bukan hanya Jeno, Jevo juga ada di meja tersebut. Arya dan Mikel pun juga ikut makan malam. Serta ada dua lelaki dan dua perempuan sepantaran kedua orang tua Jeno. Yang Bulan tebak, mereka adalah kedua orang tua Arya dan Mikel.
Bulan menyapa semuanya dengan berjabat tangan. "Maaf tante, Bulan memakai baju seadanya." cicit Bulan merasa sungkan.
"Duduklah, tidak apa." sahut Nyonya Rindi, melirik ke arah Jeno.
Sepertinya Nyonya Rindi tahu, jika Jeno tidak memberitahu Bulan jika mereka akan makan bersama keluarga Arya dan Mikel. "Kenalkan, beliau Tuan Erlangga dan Nyonya Hesti, orang tua Arya. Dan yang di sana, Tuan Dipta dan Nyonya Amika, orang tua Mikel." tutur Nyonya Rindi memperkenalkan empat orang pada Bulan.
"Salam kenal. Saya Bulan. Maaf, saya terlambat." ujar Bulan yang belum mendaratkan pantatnya di kursi.
"Tidak apa-apa, kami juga baru datang." sahut Nyonya Hesti, mama dari Arya dengan senyum ramahnya.
"Oo,,, anda Bulan. Guru baru di sekolah anak kami?" tanya Nyonya Amika dengan senyum di bibir.
Tapi Bulan bisa melihat dengan jelas, rasa tak suka Nyonya Amika pada dirinya. Bulan duduk di kursi dekat Nyonya Rindi, lalu mengangguk. "Benar Nyonya." jawab Bulan.
"Jarang sekarang perempuan secantik kamu mau jadi guru. Biasanya memilih jadi model, atau artis." timpal Nyonya Hesti.
Bulan hanya tersenyum simpul. Di bawah, tangan Nyonya Rindi mengelus tangan Bulan yang juga berada di bawah meja.
Bulan memandang Nyonya Rindi dan tersenyum. "Hanya menjalankan hobi Nyonya." jawab Bulan.
"Kamu dekat ya, dengan murid kamu. Bahkan dengan David dan Rindi." celetuk Nyonya Amika.
Tapi Nyonya Amika tak menggubris teguran dari sang suami. "Jika dilihat, kamu nggak pantes jadi guru mereka. Lebih pantes jadi kakak mereka." lanjut Nyonya Amika, entah apa maksudnya.
Bulan sendiri juga tidak tahu alasan dirinya diundang dalam makan malam bersama mereka. Bulan juga tak ingin bertanya. Yang terpenting, Bulan datang. Hanya itu saja.
Bulan juga tidak terlalu ambil pusing apa yang mereka katakan atau mereka bicarakan. Apalagi sifat Bulan yang memang tidak terlalu peduli dengan masalah sepele seperti itu.
"Benar tante,,, Arya pasti akan sangat senang jika punya kakak perempuan seperti bu Bulan." tukas Arya tiba-tiba.
"Kamu itu, ada yang bening baru bilang mau." kelakar Tuan Erlangga pada sang putra. Membuat semua tertawa pelan.
Arya sangat tahu bagaimana watak dari mama Mikel tersebut. Dia seperti seorang ratu yang selalu meminta sesuatu yang menurutnya cocok untuknya. Perkataannya juga tak pernah di saring.
Mikel menatap Jeno dengan tatapan tak enak. Tapi Jeno malah tersenyum dan mengangguk kecil, dia tal mempermasalahkannya. Sebab dia juga tahu bagaimana watak mama dari Mikel.
Beberapa menit kemudian, makanan serta minuman datang. Tersaji tapi di atas meja dengan berbagai pilihan. "Oh iya bu Bulan, anda berasal dari mana?" tanya Nyonya Hesti di sela-sela makan.
"Saya dari desa Nyonya, kedua orang tua saya hanya bekerja di sawah. Mereka petani." ungkap Bulan, sembari melirik ke arah Tuan David dan Nyonya Rindi.
Bulan ingin melihat bagaimana tanggapan keduanya, jika mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga biasa. Bukan keluarga kaya seperti mereka.
"Tidak masalah. Yang terpenting mereka mendapatkan uang dengan cara yang baik. Tidak merugikan orang lain." timpal Nyonya Rindi.
Bulan tersenyum lega. Dari ucapan dan ekspresinya, Nyonya Rindi sama sekali tidak mempermasalahkan kekayaan. "Petani,,, atau juragan tanah." celetuk Jeno tersenyum menatap Bulan.
Bulan hanya menatap Jeno tanpa menampilkan ekspresi. Lalu meneruskan makannya. Juga dengan yang lain.
__ADS_1
Sebelum makam selesai, kedua orang tua Arya dan Mikel berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Meninggalkan kedua orang tua Jeno beserta ketiga murid Bulan lainnya.
"Apa Jeno tidak memberitahu kamu, jika ada orang tua Arya dan Mikel?" tanya Nyonya Rindi dengan lembut.
Segera Jeno menyahuti pertanyaan sang mama sebelum Bulan mengeluarkan suara. "Jeno lupa ma." ucapnya dengan enteng.
"Lupa." dengus Bulan pelan, menatap Jeno dengan kesal. "Bahkan, Jeno juga tidak mengatakan jika ada tante dan om." lanjut Bulan mengadu.
"Loh,,, aku kan sudah mengirim foto maka dan papa." ujar Jeno mencari pembelaan.
"Iya, beberapa menit yang lalu. Beruntung aku masih di rumah." tukas Bulan.
"Memang kamu mau kemana? Bukankah tadi di sekolah kita sudah janjian." tutur Jeno penasaran.
"Janjian. Itu ancaman." sahut Bulan.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Jeno dengan kekeh.
Tapi Bulan hanya diam, tak mengatakan apapun. "Bulan..." panggil Jeno karena Bulan tak segera menjawab.
"Gara." lirih Bulan.
Tuan David dan yang lainnya diam, mereka seperti sedang mendengarkan sepasang kekasih yang sedang berdebat.
"Kheeemm.... Bu,,, apa bu Bulan tahu kabar Rio?" Arya mengalihkan pembicaraan.
Sayangnya, niat Arya malah mendapat tanggapan yang kurang baik dari Jeno. Tentu saja Jeno merasa kesal mendengar nama Rio di sebut.
"Kenapa elo tanya Bulan, elo pikir Bulan keluarganya Rio." ketus Jeno, yang sebenarnya merasa cemburu.
Bulan menatap Jeno dengan ekspresi aneh. Sementara Tuan David dan Nyonya Rindi tersenyum melihat sang putra memperlihatkan perasaan cemburunya.
Selesai makan malam, semuanya keluar dari restoran bersamaan. Berhenti sejenak di area parkir untuk berpamitan.
"Bulan, biar kamu diantar Jeno." pinta Nyonya Rindi.
"Tapi tante, Bulan membawa motor." sahut Bulan, menolak dengan sopan.
"Biar saya yang membawa motor kamu." celetuk Jevo.
"Aaaww... sakit ma...!" seru Jevo dengan suara tertahan, saat punggungnya dipukul sang mama.
"Kamu,,, kamu,,, yang sopan. Bulan guru kamu. Panggil yang benar." tegur Nyonya Rindi dengan ekspresi marah.
Jevo memutar kedua matanya dengan malas. "Yaelaaa,,, ma, Jeno saja memanggilnya dengan sebutan, Bulanku." cicit Jevo dengan kata Bulanku di mainkan nadanya.
"Beda bego. Bu Bulan kekasih Jeno. Lah elo..." timpal Arya.
"Dengarkan Arya." sahut Nyonya Rindi.
"Dan gue, saudara kembar Jeno." kesal Jevo.
Alhasil, Bulan diantar Jeno. Menggunakan mobil Jeno. Dan seperti saran Jevo, motor Bulan di bawa oleh Jevo.
"Kita mau kemana?" tanya Bulan, merasa asing dengan jalan yang dia lewati.
"Aku hanya ingin berdua dengan kamu. Bisa memeluk kamu, dan memegang tangan kamu." ujar Jeno dengan tersenyum sembari menyetir.
"Tadi saja, hanya bisa memandang wajah cantik kamu. Padahal aku sangat ingin mencium kamu." lanjut Jeno mengatakan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Jangan macam-macam." ujar Bulan.
"Nggak macam-macam kok. Cukup satu macam." goda Jeno, menatap Bulan sekilas sembari mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi genit.