PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 26


__ADS_3

"Lepaskan gue, brengsek..!!" seru seorang perempuan saat dengan tiba-tiba ada seorang lelaki yang memeluknya dari belakang.


"Nggak usah sok suci. Gue tahu dengan pasti, bagaimana perempuan yang menginjakkan kaki di tempat seperti ini." ucap sang lelaki, dengan sedikit berteriak.


Perkataannya meremehkan perempuan yang sedang dia peluk dari belakang. Padahal, keduanya sama sekali tidak saling kenal. Tahu wajahnya saja tidak.


Di tempat yang yang penuh dengan suara musik seperti ini. Jika hanya berbicara pelan, tidak akan pernah bisa di dengar.


"Lepas...!!" teriaknya dengan melepaskan tangan lelaki tersebut di depan perutnya.


"Woooy,,,, ada perempuan yang berpura-pura suci...!!" teriaknya, mampu membuat mereka menjadi pusat perhatian dalam seketika.


Moza merasa kesal pada lelaki yang tak dikenalnya ini. Seenak udelnya memeluk. Dan sekarang malah menjelek-jelekkan dirinya. "Maunya apa sih nih orang. Mabuk kale." ucap Moza, melihat ke arah lelaki tersebut.


Merasa hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Moza memilih untuk mengacuhkannya. Menganggapnya orang yang kurang waras.


Moza lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. "Eiittt,,,, mau kemana?"


Ternyata meninggalkan tempat yang katanya surga dunia bagi kaum remaja tidak semudah masuk ke tempat tersebut.


Moza mendatangi tempat tersebut bukan untuk bersenang-senang atau sekedar nongkrong dan minum-minuman yang mengandung alkohol.


Tapi Moza sedang mencari sahabatnya. "Gue mau pergi. Lepas." Moza menghentakkan cekalan tangan lelaki tersebut dengan kuat, hingga terlepas.


"Galak banget sih cantik." ucapnya.


Moza merasa jika lelaki di depannya sudah terpengaruh dengan minuman beralkohol. Moza memandang sekitar.


Sama sekali mereka tak berniat untuk membantu atau setidaknya mencegah lelaki tersebut membuat Moza dalam kesulitan.


Bukannya menyerah karena tolakan yang diberikan Moza, lelaki tersebut malah hendak mendaratkan bibirnya ke wajah Moza.


Sontak saja Moza berontak dengan menendang lelaki tersebut. "Sial,,,,!! Elo berani sama gue..!" teriaknya tidak terima dengan apa yang dilakukan Moza pada dirinya.


"Demi apapun. Gue nggak akan pernah lagi menginjakkan kaki gue di tempat terkutuk ini." geram Moza merasa menyesal.


Kembali, Moza hendak segera membalikkan badan dan bergegas ingin keluar. Tapi lagi-lagi lelaki tersebut menahan tubuh Moza.


Merengkuh tubuh Moza dengan kuat. Sehingga percuma Moza berontak. Dirinya malah menjadi bahan tertawaan bagi teman lelaki tersebut.


Mereka yang melihat bukan membantu Moza. Tapi malah tertawa lepas. Seolah ada hiburan menarik di hadapan mereka.


"Lepas....!!" seru Moza. "Tolong,,,, siapapun..!!" teriak Moza, berharap ads seseorang berhati baik yang akan menolong dirinya.


Sang lelaki malah tampak bersemangat mendapat penolakan dari Moza. Dia juga tertawa lepas. Dengan melangkahkan kaki ke belakang. Membawa Moza duduk di pangkuannya.


"Sudahlah cantik. Nggak usah munafik. Gue tahu, elo juga butuh. Kita sama-sama membutuhkan." ucapnya sembari memaksa kepala Moza berhenti bergerak.


Namun Moza tetap sebisa mungkin menggerakkan badan serta kepalanya. Dirinya merasa jijik, jika sampai bibir lelaki tersebut menempel di kulitnya.


Dari arah lain, sekelompok pemuda sedang duduk santai. Menikmati pemandangan yang ada di lantai dansa.


Dimana laki-laki dan perempuan bercampur dan berbaur menjadi satu tanpa rasa canggung. Menggerakkan badannya mengikuti suara musik yang memekakkan gendang telinga.


"Bro,,, itu kayaknya gue kenal sama itu cewek." ujar Arya yang melihat Moza.


Jevo menoleh ke arah di mana mata Arya memandang. Begitu juga dengan Mikel. "Sepertinya dia dipaksa. Kasihan sekali." timpal Mikel meneguk sedikit minuman dalam gelas yang berada di tangannya.


Sepeninggal Jeno, Jevo juga mengikuti apa yang dilakukan saudara kembarnya tersebut. Jika Jeno pergi untuk mengetahui sosok yang membuatnya penasaran di sekolah.


Berbeda dengan Jevo. Dia mengajak kedua temannya untuk pergi ke club malam. Sekedar melepas penat. Tentu saja tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


"Gimana Jev, bisa hamil tu bocah jika dibiarkan." ucap Mikel. Tentu saja Mikel maupun Arya tak akan berani bertindak tanpa Jevo.


Mereka tidak seberani Jevo. Ditambah lagi, kelurga Jevo pasti akan membela Jevo. Asal Jevo di jalur yang benar.


Berbeda dengan Mikel dan Arya. Yang pastinya malah akan disalahkan oleh kedua orang tuanya karena merasa sok jagoan dan ingin jadi pahlawan. Mencampuri urusan atau masalah orang lain.


Jevo menggoyangkan air minum berwarna biru di dalam gelas yang yang dipegangnya. Membuat perputaran air yang menarik di dalam gelas tersebut.


Pandangan Jevo tajam mengarah ke tempat dimana siswa baru di kelasnya akan dilecehkan. Terlihat gadis tersebut masih tampak melakukan perlawanan. Meski tidak sekuat tadi.


Mungkin tenaganya sudah mulai terkuras. Tapi Jevo melihat, dia tetap berusaha untuk melindungi dirinya dari lelaki yang memenjarakannya di dalam pelukan tubuhnya.


Jevo meneguk minuman di dalam gelasnya dengan sekali teguk. Tak... Diletakkannya dengan kencang gelas kosong di atas meja.


Mikel dan Arya tersenyum. Mereka tahu, jika Jevo tak akan tinggal diam. Melihat mereka melecehkan gadis di depan mata mereka. Terlebih gadis tersebut memberontak tanda dia tidak mau. Bukan secara suka rela melayani lelaki tersebut.


Moza menyesali kedatangannya ke dalam club malam. Saat ini, hanya air mata yang mampu dia keluarkan dari dalam dirinya. Bahkan suaranya juga sudah serak, sebab sejak tadi terus menerus berteriak.


"Tenang sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan." seringai lelaki tersebut. Membaringkan tubuh Moza di atas kursi empuk dan panjang. Dengan tangan Moza di cekal di atas kepalanya.


"Huuhhh....." semua bersorak gembira. Dan malah menyisih, seolah memberikan tempat untuk sang lelaki bejat melakukan aksinya.


Tanpa rasa malu. Dia ingin melakukan hal gila di hadapan banyak orang. Entah apa yang ada dalam benak lelaki tersebut. Dia seperti seekor binatang yang sama sekali tidak mempunyai malu.


Seolah melakukan hal tercela dihadapan banyak orang adalah suatu kebanggaan. "Gila,,,,, cari hotel hoeeeyyy...!!" teriak seorang pengunjung.


Namun tetap tertawa melihat apa yang terjadi. Tanpa berniat membantu gadis yang tak berdaya tersebut.


Moza memejamkan mata. Pasrah. Lagi-lagi, dirinya merutuki kebodohannya.


Brakk..... Seketika musik berhenti, dengan terdengarnya suara seseorang yang terjatuh di atas meja. Membuat meja kaca tersebut pecah.


Moza membuka kedua matanya. Merasakan tangannya terbebas. Dengan tidak ada orang lagi di atas tubuhnya.


Segera Moza bangun, merapikan pakaian yang sudah terkoyak tak karuan. "Mereka." gumam Moza. Melihat ke arah Jevo, Arya, dan Mikel, bergantian.

__ADS_1


Moza masih mengingat jelas. Ketiga lelaki tersebut teman sekelasnya di sekolah barunya. Arya mengisyaratkan dengan sedikit menganggukkan kepalanya, untuk Moza mendekat ke arah mereka.


Segera Moza berdiri di belakang Jevo. Berdiri di antara Arya dan Mikel. Dalam ketakutan.


Lelaki yang sempat melecehkan Moza bangun dengan dibantu beberapa temannya. Semua menatap ke arah Jevo.


"Keluar dari tempat ini. Jika kalian hanya membuat ulah." pinta Jevo dengan nada tegas, sorot mata tajam seakan menguliti mereka.


Beberapa yang mengenal Jevo, serta kebringasan seorang Jevo. Memilih pergi dari tempat tersebut. Melihat apa yang terjadi dari jarak jauh.


Sungguh, bukan pilihan yang tepat untuk ikut campur dalam masalah ini. Tentu saja mereka tak ingin terkena imbas dari pertengkaran mereka.


Apalagi mereka tahu. Jevo, bukan seseorang yang bisa dianggap remeh. Meski dia masih seorang pelajar SMA. Nama keluarganya cukup berpengaruh di kota ini. Dan juga keberaniannya.


"Lebih baik kita pergi." lirih Moza.


"Lebih baik elo diam. Dan jangan keluar dari tempat ini jika tanpa Jevo. Paham..!" tekan Mikel.


Moza segera mengangguk patuh. Moza sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi perkataan Mikel sepertinya sangat sungguh-sungguh. Membuat Moza cemas.


Salah satu teman dari lelaki kurang ajar tersebut adalah pengunjung tetap club malam ini. Jadi dia tahu, siapa sosok yang berdiri dengan angkuh di depan mereka. "Sebaiknya kita pergi." ajaknya pada yang lain.


"Pergi. Pengecut...!!" teriak lelaki yang sempat melecehkan Moza tadi, tatkala temannya mengajaknya pergi.


"Lihat...!!! Dia hanya anak kecil. Apa yang kamu takutkan...!!" ucapnya sombong.


"Ckkk,,, terserah. Gue nggak mau ikut campur. Yang terpenting gue sudah mengingatkan. Kalian baru beberapa kali datang ke tempat ini. Ingat." ucapnya.


Memilih pergi meninggalkan beberapa temannya di sana. Sebab dia tentu saja lebih sayang pada dirinya. Dia juga tidak ingin berurusan dengan Jevo.


"Elo tetap di sini. Ingat kata-kata gue tadi." ujar Mikel. Moza dengan cepat menganggukkan kepalanya.


Moza sedikit minggir. Dia tahu, jika akan terjadi perkelahian antar lelaki di depannya.


Moza juga merasa aneh. Suara musik yang keras langsung terhenti, saat Jevo menghampiri dirinya. Bahkan, Moza melihat tak ada lagi kerumunan manusia di sekitarnya. Yang tadi sempat menertawakan dirinya.


"Siapa dia? Jevo." batin Moza.


Beberapa lelaki dengan tubuh tegap dengan pakaian serba hitam datang. Mereka semua menghadap ke arah para pengunjung lain yang melihat ke arah Jevo. Seolah mereka memastikan sesuatu.


"Kenapa mereka malah membelakangi kita. Bukannya membantu." gumam Moza terasa aneh.


Jevo, Arya, dan Mikel berdiri dengan tatapan sinis serta pandangan mencemooh lawan mereka. "Kalian. Anak kecil liar..!!" seru salah satu di antara mereka.


Dengan sombongnya berjalan ke depan. Ingin melayangkan pukulan ke arah Jevo. Tapi dengan mudah Mikel menghentikannya.


Dan malah memelintir tangan orang tersebut. Membawanya mendekat ke arah meja. Dan... brakk.....


Dengan kekuatan penuh, Mikel memukulkan kepalanya ke meja tersebut. Hingga meja yang terbuat dari kaca hancur berkeping-keping.


Darah mengucur dari kepalanya. Dengan suara jeritan kesakitan. Mikel berjalan dengan senyum mengerikan ke tempat Jevo.


Dengan segera, Arya mengambilkan botol kosong di sampingnya. Pyar.... botol tersebut dipukulkan ke lutut Jevo sendiri hingga terbelah dua.


Jevo menyeringai melihat botol di tangannya. "Pasti sangat tajam." Jevo tersenyum miring menatap mereka yang masih berdiri di depannya.


"Gue sudah mengatakan untuk kalian meninggalkan tempat ini. Tapi kalian sendiri terlalu bodoh." sarkas Jevo.


"Kalian,,,, anak kecil. Jangan salahkan kami orang dewasa. Kalian sungguh tidak bisa di beritahu dengan benar." cicitnya.


Sama seperti Jevo, dia juga mengambil botol kosong. Bukan hanya satu. Tapi dua botol. Jika Jevo memecahkannya dibenturkan dengan lutut.


Lelaki tersebut memecahkannya dengan memukulkan botol kosong tersebut ke meja.


Kini, Jevo memegang satu botol di tangannya. Sementara lelaki tersebut memegang dua botol di tangan kanan dan kirinya.


Dia maju hendak menyerang Jevo terlebih dahulu. Jevo tersenyum, sedikit memiringkan kepalanya, dengan memejamkan matanya sejenak.


Mikel dan Arya segera melangkah ke belakang. Keduanya tidak ingin merecoki apa yang ingin dilakukan Jevo.


Cras...... Dengan pergerakan yang sangat cepat. Bahkan tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Lelaki yang melecehkan Moza sudah terkapar dilantai dengan beberapa bagian tubuh mengeluarkan darah.


Namun dia masih bernafas dengan mata memandang takut ke arah Jevo. Tarrrr..... dengan santai, Jevo membuang botol di tangannya.


Beberapa teman lelaki tersebut berdiri mematung, melihat apa yang terjadi. Mereka curiga ada yang tidak beres, saat semua pengunjung yang sempat tertawa bersama mereka lebih memilih untuk pergi.


Ditambah suara musik yang berhenti. Padahal, tidak mungkin di tempat seperti ini musik berhenti. Jika sedang tidak ada pengeledahan dari pihak berwajib.


"Apa dia pemilik tempat ini?" bisiknya pada temannya yang berdiri di sampingnya. Sang teman hanya menggeleng, pertanda dirinya juga tidak mengetahui apapun.


Jevo menepuk pelan telapak tangannya sendiri. Seolah dirinya sedang membersihkan telapak tangannya dari kotoran yang melekat di sana. Jevo mengangkat tangannya ke atas.


Lampu warna-warni menyala lagi, dan musik yang memecahkan gendang telinga berbunyi kembali. Moza terjingkat kaget. "Huhh,,,, gila. Gue sampai lupa jika masih ada di club malam." gumamnya.


Terlalu fokus dengan apa yang dilakukan oleh Jevo di depannya. Hingga dirinya lupa akan keberadaannya.


Seseorang lelaki mendekat ke arah Jevo. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Lelaki tersebut mengangguk sopan.


Tanpa mengatakan apapun, Jevo pergi meninggalkan tempat tersebut. Dengan ketiga anak adam mengekor di belakangnya.


Moza melirik ke kanan dan kiri. Semua tampak kembali normal. "Terimakasih." cicit Moza saat mereka sudah berada di area parkir.


"Nama elo siapa?" tanya Arya, sembari menyandarkan badannya di mobil.


"Moza." jawabnya.


"Elo bersama siapa datang ke sini? tanya Jevo.

__ADS_1


"Sendiri." ucap Moza terjeda sesaat. "Sebenarnya gue belum pernah datang ke sini. Ini pertama kalinya hue ke tempat seperti ini." lanjutnya, dengan raut wajah menyesal.


"Memang elo mau apa? Mau lihat bagaimana dan seperti apa tempat ini?" cecar Mikel.


Moza menggeleng. "Tadi teman aku mengirim pesan. Katanya dia butuh bantuan. Makanya gue datang ke sini."


Moza mengambil ponsel yang masih tersimpan rapi di dalam saku celananya. Menyalakannya, dan memperlihatkan pesan tertulis yang dikirimkan oleh temannya tersebut.


Setelah membaca pesan tersebut, Jevo lantas mengembalikan ponselnya pada Moza lagi. "Sudah lama temenan sama dia?"


Moza mengangguk. "Dulu, rumah kita bertetangga. Sekolah SD dan SMP di sekolah yang sama." jelas Moza.


Jevo memandanginya. Sama sekali tak ada kebohongan dalam perkataannya. Dan Jevo bisa tahu itu. "Antar dia pulang Ar." pinta Jevo.


"Ehh,,, tidak perlu. Gue nggak mau merepotkan lagi. Lagipula, gue bawa mobil sendiri." tolak Moza dengan sopan.


"Biar gue antar. Dimana mobil elo?" tanya.


"Tapi...." ucap Moza merasa tidak enak hati. Padahal dirinya sudah diselamatkan. Tapi sekarang malah diantar pulang.


"Ayo..." ajak Arya.


Moza menatap Jevo. "Terimakasih." cicit Moza. Jevo mengangguk santai.


"Kelihatannya tuh anak di jebak." papar Mikel, setelah Moza dan Arya masuk ke dalam mobil milik Moza.


"Ya, dan orang yang menjebaknya ada di sekitar kita." Jevo tersenyum miring.


"Hah... benar. Dia di mana?" tanya Mikel penasaran.


"Di dalam mobil. Tapi sudahlah. Dia perempuan, mau elo apakan?" ucap Jevo, kembali melangkahkan kakinya ke dalam.


"Elo suka sama Moza?" tanya Mikel absurd.


Jevo mencebikkan bibirnya. "Mau gue apakan gadis polos kayak dia. Baru gue cium bibirnya pasti sudah berteriak ketakutan." papar Jevo frontal.


"Iya juga sih. Elo mang cocok sama perempuan kayak Claudia." sindir Mikel.


"Kalau hanya untuk kesenangan,,,, iya. Tapi, untuk yang serius, nggak bakal. Gue pengen perempuan baik-baik." ujar Jevo disertai kekehan.


"****** elo." sungut Mikel yang memang sudah tahu, jika Jevo sama sekali tidak menyukai Claudia. Dan hanya memanfaatkan mulutnya saja.


Moza terasa aneh, berdua di dalam mobil bersama lelaki yang bahkan belum kenal namanya. "Eemm,,, maaf, nama kamu siapa?"


"Gue Arya. Teman gue yang memakai kaos biru tadi Mikel. Sementara yang memakai jaket tadi Jevo." ucap Arya mengenalkan dirinya beserta temannya.


"Elo sebelumnya sekolah di mana?"


"SMA *********..." Moza menyebut salah satu SMA terkenal di kota ini, selain SMA tempat dia menimba ilmu sekarang.


"Wehhh,,,, masih satu kota. Gue kira elo dari luar pulau." celetuk Arya.


Arya tidak bertanya terlalu jauh. Dia merasa ada sesuatu dibalik kepindahannya ke seolah yang sekarang. "Semoga elo betah sekolah di tempat gue."


"Iya, semoga." cicit Moza, berharap seperti yang dikatakan Arya.


"Elo harus hati-hati. Jangan mudah percaya dengan siapapun. Termasuk orang yang sudah elo kenal dengan lama sekalipun."


Moza menatap Arya dengan heran. "Kenapa?" tanyanya dengan polos.


"Elo tadi dijebak. Elo tahu apa enggak?" tanya Arya, memandang ke arah Moza sekilas.


"Dijebak. Dijebak bagaimana? Sama siapa?"


"Kenapa elo mesti tanya. Jawabannya sudah pasti. Teman elo yang mengirim pesan, menyuruh elo untuk datang."


Moza tertawa lepas. "Ngaco. Nggak mungkin."


Arya menggelengkan kepala. "Jika tidak mungkin, kenapa dia tidak ada di sana? Jadi orang jangan munafik. Apa yang terlihat baik di depan mata elo, belum tentu seperti itu adanya."


Moza terdiam. Menatap ke depan dengan tatapan bingung. "Tidak ada alasan untuk dia melakukannya." lirih Moza.


"Otak manusia, siapa yang bisa melihatnya. Jawabannya ada pada elo sendiri."


Suasana hening, tak ada lagi percakapan antara Arya dan Moza. Hingga mereka sampai di depan rumah Moza yang seperti istana.


"Elo bawa saja mobilnya. Biar besok gue ambil saat sekolah." tawar Moza.


"Beneran?" tanya Arya. Moza mengangguk.


"Nanti nggak ditanya dama bokap nyokab elo?"


"Nggak, tenang saja."


"Oke. Gue bawa. Oh iya,,, jangan pernah lagi pergi ke tempat seperti itu." ujar Arya mengingatkan.


"Baik. Katakan terimakasih untuk Jevo."


Arya dapat melihat, raut wajah Moza berbeda saat menyebut nama Jevo. "Elo jangan pernah main hati, atau menyukai Jevo." ucap Arya langsung.


Ekspresi Moza langsung terlihat datar. "Dari pada elo akan patah hati." Arya mengatakan seperti itu, bukan karena dirinya menyukai Moza.


Tapi memang Moza, bukan perempuan yang akan bisa masuk ke hati Jevo. Sebab, saat ini Jevo hanya ingin bermain-main. Bukan menjalin hubungan serius.


"Gue pergi." pamit Arya setelah mengatakan hal yang membuat Moza sedikit tidak enak hati.


Arya yakin, Jevo menyuruh dirinya untuk mengantar Moza, karena dia belum seratus persen aman. Dan Arya bisa menebak. Jika Jevo melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar area parkir.

__ADS_1


"Siapa juga yang menyukai Jevo." cicit Moza, memanyunkan bibirnya ke depan.


__ADS_2