
Awalnya, Moza bermaksud keluar dari kelas untuk menuju ke kantin. Mengisi perutnya, meski dia tidak terasa lapar. Seperti murid-murid lainnya yang pergi ke kantin.
Namun langkah kakinya terhenti di dekat pintu saat mendengar suara Jevo dan kedua sahabatnya sedang berbincang.
Moza hanya diam berdiri di balik pintu. Mencuri dengar percakapan ketiganya. Beruntung keadaan kelas sedang sepi, yang hanya ada Moza seorang. Sehingga Moza dengan leluasa mendengarkan apa yang mereka perbincangkan.
Moza duduk di kursi dengan meletakkan tangannya di atas meja, menaruh telapak tangannya tepat di bawah dagu. "Jadi, Jevo tidak benar-benar menyukai Claudia." batin Moza.
Moza menahan kedua sudut bibirnya yang ingin sekali terangkat ke atas. "Kenapa gue seneng. Aneh." lirihnya merasa bahagia.
Moza meraup wajahnya. Menghentikan kedua telapak tangannya di wajah, dengan kedua mata terpejam. "Moza, seharusnya elo nggak boleh memiliki perasaan itu. Tapi, siapa yang bisa mengatur hati ini." ucapnya pelan.
Moza menghela nafas pelan. Menurunkan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya, lalu membuka kedua matanya. "Aaa,,,, astaga...!!" seru Moza, yang sedikit lagi terjatuh ke belakang, saking terkejutnya.
Beruntung tangan Jevo dengan cepat menarik pundak Moza. Sehingga Moza tidak sampai terjatuh ke belakang bersama kursi yang dia duduki.
Moza meneguk kasar ludahnya. Sangat dekat. Bahkan, Moza merasakan hembusan nafas Jevo menerpa wajahnya.
Moza menipiskan bibirnya, mengedipkan kedua kelopak matanya dengan lucu seraya memandang wajah tampan Jevo.
Jevo melepaskan tangannya dari pundak Moza. Segera Moza menetralkan perasaan yang ada di dalam hatinya.
"Aneh." cicit Jevo, menuju ke mejanya. Mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dan itu adalah ponsel.
Moza membulatkan mulutnya mendengar apa yang Jevo katakan. "Aneh. Dia bilang gue aneh." lirih Moza mendengus dengan jari telunjuk mengarah ke wajahnya sendiri.
Moza segera beranjak dari duduknya. Menghadang Jevo yang hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas. "Elo tadi bilang apa? Gue,,, aneh. Iya..??!" tanya Moza dengan nada naik dua oktaf dan kedua tangan berkacak pinggang.
Moza memasang wajah garang. Menatap kesal penuh amarah pada Jevo. Bukannya takut, Jevo malah tersenyum samar. Merasa tampang Moza sangatlah lucu.
Moza mengangkat tangannya, dengan jari telunjuk diletakkan di dada Jevo. "Heyy,,, elo yang aneh. Paham." seru Moza.
"Ngapain naruh wajah elo, di depan wajah gue. Ngapain...?? Sok kegantengan." tukas Moza dengan garang dan ketus.
"Tapi emang Jevo ganteng maksimal." batin Moza, yang tak sama dengan apa yang dia ucapkan dari mulutnya saat menatap wajah Jevo dari jarak sedekat tadi, sehingga Moza benar-benar melihat detail wajah Jevo dengan teliti.
"Malah diam...!! Jawab. Punya mulutkan...!!" bentak Moza nyalang.
Jevo melangkahkan kakinya ke depan dengan pelan. Semakin mendekati tubuh Moza. "Eh,,, eh,,, mau ngapain?!" tanya Moza merasa gugup bercampur rasa yang tak bisa dia jabarkan.
"Stop...!!" seru Moza, menahan tubuh Jevo dengan meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Jevo.
Jevo menatap ke bawah. Tepatnya pada kedua telapak tangan Moza yang mungil. "Bagaimana rasanya memegang dada kekar milik seorang Jevo. Menyenangkan?" ujar Jevo menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring.
Segera Moza menarik tangannya. "Idiiiihhh... nggak banget." Moza mengusapkan kedua telapak tangannya di rok seragam sekolah yang dia kenakan saat ini.
Jevo menatap Moza dari ujung kaki hingga kepala. "Sayang sekali, elo bukan tipe gue. Terlalu kecil." ejek Jevo, memang tubuh atau postur tubuh Moza yang sedikit mungil.
Tentunya Moza tak terima dengan ucapan Jevo yang terdengar mengejek bentuk tubuhnya. Moza kembali menghentikan Jevo yang hendak keluar kelas dengan menarik seragam Jevo bagian belakang.
Membuat Jevo hampir terjatuh, tapi tangan Jevo segera menahan tubuhnya dengan menekan tembok sebelah Moza.
__ADS_1
"Elo bilang apa tadi." Moza berdiri tepat di depan Jevo tanpa sekat. Menatap Jevo dengan pandangan menantang.
Dan Jevo, dia tak bisa memundurkan langkahnya lagi, karena punggungnya sudah menyentuh tembok di belakangnya.
Moza memainkan jari jemarinya di dada bidang milik Jevo, dan tersenyum penuh goda menatap Jevo. "Elo nggak tertarik sama gue." tutur Moza dengan menggerakkan kepalanya, sehingga rambutnya tersibak ke samping.
"Jangan dulu. Mumpung gue berani." batin Moza, merasa jantungnya tak lagi bisa diajak berkompromi. Semakin lama dia berada di dekat Jevo, jantungnya juga semakin berdetak dengan irama yang tak biasa. Sangat kencang.
Jevo menaruh kedua tangannya di pundak Moza. Sedikit mendorong tubuh Moza ke belakang, tanpa melepaskan tangannya. Menjaga Moza agar tak terjatuh.
Jevo menatap tubuh Moza seakan kedua matanya sedang menilai sesuatu. Jevo menundukkan kepalanya, menaruh wajahnya di samping kepala Moza.
"Elo telanjangpun, gue nggak bakal nafsu." bisik Jevo menyeringai. Menepuk pelan pundak Moza. Meninggalkan Moza seorang diri.
Moza masih terdiam sembari mencerna perkataan Jevo. Perlahan, Moza mendaratkan pantatnya di atas kursi. Dirasakan detak jantungnya yang menggila.
"Huffftt.... Tuhan, gue bisa sedekat itu dengan Jevo. Aahhh,,," seru Moza dengan suara tertahan. Memggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang terasa dingin.
"Eehh,,, tadi Jevo mengatakan,,, telanjang." lirih Moza.
Moza langsung melongo dengan kedua mata melotot sempurna. "Tidak tertarik sama gue." cicitnya, dengan kedua mata memindai tubuhnya sendiri yang bagian depan.
Moza memanyunkan bibirnya, menampilkan ekspresi kesal. "Dasar. Pasti hanya mulutnya saja. Jika gue telanjang, gue yakin, Jevo akan meneteskan air liur." sinis Moza.
Tanpa Moza dan Jevo sadari, kejadian barusan dilihat dan direkam oleh seseorang. Dia tersenyum sembari menatap ponselnya bagai menemukan harta karun.
"Gue akan mendapatkan uang dengan video ini." tukasnya, yang pasti otak kecilnya sedang merencanakan hal licik.
Dia langsung pergi meninggalkan tempatnya. Bergegas mencari seseorang yang bisa memberikan dirinya uang. Claudia.
"Itu dia." cicit murid tersebut, melihat Claudia sedang berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.
"Claudia. Bisa kita bicara." ajaknya, sehingga Claudia memutuskan percakapannya dengan seseorang di seberang ponselnya.
Claudia tak menyahut ajakan siswa tersebut. Dia hanya menatapnya dengan kesal. Merasa dia datang di saat yang tak tepat.
"Tenang. Gue memang mengganggu. Tapi elo pasti akan berterimakasih sama gue. Jika elo tahu, apa yang gue punya." jelasnya tersenyum penuh makna, mengangkat ponselnya ke atas.
Claudia bersedekap dada. Siswa tersebut menyalakan ponsel, memperlihatkan rekaman video antara Jevo dan Moza. Tapi dengan ponsel tetap berada di tangannya.
Claudia mengeraskan rahangnya, dengan wajah memerah menahan amarah. "Yap,,, kelihatannya mereka berdua ada sesuatu." ucap siswa tersebut memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Dia merekam dari jarak jauh, sehingga hanya terlihat gambarnya saja. Tanpa terdengar suara dari video tersebut. Dan itulah yang membuat Jevo dan Moza terlihat mesra.
"Tunggu,,, gue mau mengatakan sesuatu." ujarnya, menahan Claudia yang hendak pergi.
"Jika gue sebarkan video ini, pasti semua orang tahu, jika Jevo memiliki hubungan dengan Moza. Astaga,,, bagaimana dengan elo. Padahal, selama ini elo mengaku sebagai kekasih Jevo. Bisa elo banyangkan, apa yang terjadi sama elo." paparnya, setengah mengancam Claudia.
"Katakan brengsek." geram Claudia.
"Gue butuh uang. Dan gue akan menghapus video tadi. Bagaimana? Setuju?" tanyanya meminta syarat.
__ADS_1
"Bego, seharusnya elo minta pada Jevo atau perempuan gatel itu. Kenapa elo minta uang ke gue. Bedebah sialan...!" umpat Claudia.
Siswa di depannya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Gue yakin, mereka berdua akan bilang,,, sebarkan. Paham maksud gue. Apalagi Moza. Dan Jevo, dia nggak akan ambil pusing dengan video ini." jelasnya.
Karena memang, jika video tersebut tersebar, maka dapat dipastikan jika Claudia akan mendapatkan malu. Bagaimana tidak, semua murid mengetahui jika sampai detik ini, dirinya masih menjadi kekasih seorang Jevo.
"Kirimkan nomor rekening elo. Dan hapus. Jika elo berulah, elo akan tahu diapa gue." ancam Claudia. Yang hanya bisa menuruti syarat yang diajukan siswa tersebut.
Siswa di depan Claudia berdiri tegap. "Siap. Dengan senang hati, gue akan hapus video tersebut, setelah uang masuk ke rekening. Jangan sampai besok. Gue bukan orang yang sabar." tukasnya, melambaikan tangannya kepada Claudia dan berlalu dari hadapan Claudia.
Claudia menyugar kasar rambutnya ke belakang. "Moza,,, Bulan,,, kalian, benar-benar membuat gue muak." geramnya.
Ternyata, lelaki yang duduk di meja belakang Bulan dan Nyonya Rindi, serta Jeno adalah sopir dari Claudia.
Entah keberuntungan Claudia, atau malah pengapesannya. Sebab, hari ini dirinya datang ke sekolah dengan diantar sopir. Dan pak sopir tidak pulang, melainkan menunggu kepulangan Claudia dengan bersantai berada di pos satpam sekolah.
Claudia menghubunginya, menyuruhnya untuk membuntuti kepergian Nyonya Rindi dan Bulan. Atau dengan kata lain memata-matai keduanya.
Tak pelak, sang sopir melakukan apa yang Claudia perintahkan. Sayangnya, sang sopir tak bisa mendengarkan secara jelas apa yang diperbincangkan mereka.
Dan bukan hal tersebut yang membuat Claudia murka dan kesal. Yakni saat sang sopir mengatakan jika mereka makan bertiga. Dengan seorang lelaki yang memakai seragam seperti dirinya.
Apalagi, sang sopir tidak melihat wajah lelaki tersebut. Sebab Jeno duduk membelakanginya seperti Bulan. Itulah yang membuat Claudia marah.
Claudia menebak, lelaki tersebut diantara Jevo dan Jeno. Karena dari apa uang dikatakan sang sopir, tampak lelaki tersebut memeluk Nyonya Rindi, meski hanya sesaat.
"Jevo sedang berada di kelas, bersama Moza. Apa lelaki yang di rumah makan adalah Jeno." cicit Claudia menebak.
Pandangan mata Claudia menangkap sosok Jeno yang sedang berjalan seorang diri. "Itu Jeno." cicit Claudia.
"Sialan. Gue nggak peduli. Baik Jevo maupun Jeno. Tidak ada yang boleh mendekati keluarga mereka. Hanya gue. Ya,,,, gue yang harus pertama menjadi menantu mereka. Jevo, elo harus menjadi milik gue." gumam Claudia.
"Moza,,, Bulan,,, kalian...! Beraninya...!" geram Claudia.
Entahlah, setelah ini apa yang akan Claudia lakukan pada Moza dan Bulan. Keinginannya untuk menjadi bagian dari keluarga Tuan David sangatlah besar. Hingga membuat Claudia akan melakukan apapun agar masuk ke dalamnya. Tercatat sebagai menantu dari keluarga Tuan David dan Nyonya Rindi.
"Tidak ada yang boleh mengetahui hal tersebut. Jangan sampai, ada gosip jika Bulan dan Moza akrab dengan keluarga Jevo. Jangan sampai."
Selesai makan bersama Nyonya Rindi dan Jeno, Bulan kembali ke ruang guru. Bulan masuk ke area sekolah seorang diri, sebab Jeno memilih jalan aman dengan pergi terlebih dahulu meninggalkan dua perempuan yang sangat dia sayangi tersebut.
Di depan meja Bulan ada sebuah buku yang terbuka. Jika dilihat, Bulan tampak fokus pada buku yang ada di depannya. Kenyataannya benaknya sedang memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Mereka mengetahui jika putranya menyukai gue. Lalu mereka merestui hubungan Jeno dan gue. Tapi pertanyannya, gue dan Jeno.... astaga...." batin Bulan, dengan tangan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Usia gue jauh di atas Jeno. Bahkan umur Jeno dan Bintang hanya selisih setahun. Gue lebih pantas menjadi kakak Jeno, bukan kekasihnya."
"Tuhan,,,, apa mereka nggak malu. Pasti jika gue beneran sama Jeno, akan banyak orang yang menggunjing."
"Dan juga, keluarga kita sangatlah berbeda jauh. Mereka orang kaya. Pengusaha terkenal. Keluarga terpandang. Dan keluarga gue. Hanya keluarga yang tinggal di desa."
Semakin Bulan memikirkan apa yang terjadi dalam kisah cintanya, semakin kepala Bulan terasa berdenyut. "Haaahhhh,,,, lebih baik menghadapi musuh dengan tangan kosong, dari pada menghadapi hal seperti ini."
__ADS_1
Bulan mengangkat buku di depannya. Menutupkan pada wajahnya yang sangat kusut.