PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 133


__ADS_3

"Serius elo mau pulang?" tanya Gara menatap Jeno yang sedang memakai jaket, bersiap hendak meninggalkan markas setelah dia selesai berlatih.


"Hemmm." sahut Jeno acuh dengan keberadaan Gara.


Gara hanya bisa mendengus sebal dengan sikap yang Jeno tunjukkan. "Aku pergi, kamu hati-hati." tukas Jeno melenggang pergi, padahal matahari masih menampakkan sinarnya.


Gara memasang wajah aneh seraya menatap kepergian Jeno. "Sialan,,, dasar anak kecil." ketus Gara menggelengkan kepala.


Gara tersenyum seorang diri, kala mengingat Jeno dan Bulan. "Apa hubungan mereka bisa berjalan." gumam Gara, dimana terdapat perbedaan yang sangat banyak diantara Jeno dan Bulan.


"Haaahhhh... sudahlah. Sebagai sahabat, gue hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Bulan." ujarnya sembari menghela nafas panjang.


Jeno pergi, tak lama kemudian Bulan datang ke markas. "Jeno dari sini?" tanya Bulan pertama kali memandang Gara.


"Tanya dulu kek, kabar gue gimana." sungut Gara, berpura-pura kesal, karena Bulan lebih perhatian dengan Jeno.


"Ngapain gue tanya kabar elo. Tanpa gue tanya, gue sudah lihat jika elo baik-baik saja." ketus Bulan tak mau kalah dengan Gara.


Gara membuang wajahnya dengan sebal ke arah lain. "Ya,,, baru pulang." ungkap Gara dengan nada jengkel.


"Bagaimana, Jeno bilang elo jenguk Narendra. Lalu, yang kalian lihat di jalan, beneran dia. Bagaimana bisa, dia keluyuran seenak jidatnya. Apalagi, dokter mengatakan dia sedang sakit." cecar Gara dengan berbagai macam kalimat.


"Entahlah. Tapi dia benaran Narendra."


"Apa yang akan elo lakukan dengan dia?"


"Pikiran gue belum sampai ke sana." ucap Bulan terhenti. "Yang jelas, sekarang gue harus menyelamatkan anak dan istri pak Bimo."


"Bagaimana jika semua itu hanya jebakan buat elo?"


"Biarkan saja, gue juga nggak tahu." tukas Bulan, dirinya teringat kertas pemberian kakek Timo.


"Apa itu?" tanya Gara, saat Bulan mengambil kertas tersebut dari kantong celananya.


"Tulisan kakek Timo." jelas Bulan.


Gara sedikit mendorong kursi rodanya untuk semakin dekat dengan kursi yang diduduki Bulan. Tujuannya tak lain dan tak bukan, dirinya juga penasaran dengan tulisan yang ada di kertas tersebut.


"Apaan itu?" cicit Gara.


Sebab kertas tersebut tidak ada tulisan yang jelas. Di kertas tersebut terdapat gambar bercampur dengan beberapa huruf. Jika dilihat tampak seperti tulisan acak yang tidak bermakna.


Bulan merapikan kertas lusuh tersebut dengan menaruhnya di atas meja. Sehingga dirinya akan mudah melihat serta mengerti arti dari coretan di atas kertas tersebut.


"Jika kita salah memaknainya, maka akan menjadi bumerang untuk kita." tukas Gara mengingatkan. Apalagi Gara sama sekali tidak paham arti dari coretan di atas kertas tersebut.

__ADS_1


Sementara Bulan masih menatapnya dengan lamat-lamat tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Nggak heran gue, jika kakek Timo bisa membuat topeng persis seperti wajah manusia asli." cicit Gara.


Sampai sekarang, Gara belum bisa membuat topeng seperti topeng yang dibuat kakek Timo. Gara selalu gagal saat mencobanya. Padahal bahan serta cara pembuatannya dia tiru dari kakek Timo. Tapi tetap saja gagal.


"Bulan... bag...."


"Elo bisa diem nggak sih....!! Berisik. Mengganggu konsentrasi gue, Gara..!!" seru Bulan memotong perkataan Gara.


Gara menjulurkan sedikit lidahnya sembari memainkannya. Melirik sekilas ke samping, dimana Bulan sedang fokus pada kertas lusuh tersebut.


"Padahal gue mau tanya rencananya nanti malam. Kertas sialan. Gue dimaki gara-gara elo." batin Gara kesal.


Tak ingin mengganggu konsentrasi Bulan, perlahan Gara mendorong kursi rodanya untuk meninggalkan Bulan. "Natap kertasnya saja gue malas. Apalagi memecahkan teka-tekinya. Puyeng kepala gue." lirihnya tak mau ambil pusing.


Bukannya membantu Bulan, Gara malah pergi ke kamar. Entah apa yang dia lakukan di dalam kamar.


Bulan mengambil kertas tersebut dengan meremasnya sembari tersenyum penuh makna. "Terimakasih kakek." lirih Bulan yang kelihatannya tahu apa yang ingin disampaikan oleh kakek Timo.


Bulan melihat jam dinding di tembok. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk meregangkan otot leher. "Lebih baik gue istirahat dulu." ujar Bulan.


Saat hendak beranjak dari duduknya, Bulan teringat dengan ruang rawat Narendra. "Gara...!! Elo dimana?! Ada pekerjaan buat elo...?!" seru Bulan.


Krekk,,, "Apa?!" ketus Gara setelah membuka pintu kamarnya dari dalam.


"Kamar Narendra. Pasti dia sudah melakukan pengamanan. Sulit menembusnya." ujar Gara sebelum mencoba.


"Jika elo nggak bisa, berarti elo masih bodoh." ejek Bulan, masuk ke dalam kamar.


Gara hanya bisa melongo mendengar ucapan pedas yang terlontar dari mulut Bulan. "Bodoh,,, bodoh,,, sialan...!" umpat Gara.


Gara mengambil dengan kasar ponsel Bulan yang dia taruh di atas meja. Lalu membukanya dan melihat apa saja yang ada di dalamnya. "Bukankah ini nomor Bulan di ponsel ini. Ngapain Bulan memanggil nomornya sendiri. Astaga,,, banyak sekali." cicit Gara.


"Eh,,,,," Gara mengerutkan kening. "Ini....." Gara melihat ada nomor masuk di ponsel Bulan. Sebuah pesan tertulis. Dan hanya satu huruf. B.


"Apa sih, cuma satu huruf. B. B,,,, Bulan, Bintang. Lah... Pasti nomor Narendra." tukas Gara.


Tanpa membuang waktu, Gara segera meretas nomor ponsel yang baru saja mengirimkan pesan tertulis pada Bulan. "Semoga ini nomor Narendra." cicit Gara dengan jari jemari bergerak lincah di atas keyboard.


Membutuhkan beberapa detik untuk memperoleh hasil yang Gara inginkan. Dan sembari menunggu hasilnya, Gara meretas kamera CCTV yang berada si dalam kamar rawat Narendra.


Seperti tebakannya, kamera tersebut dilengkapi keamanan yang sulit untuk di bobol. Tapi tidak untuk Gara. "Bulan,,, elo lihat, gue nggak bodoh. Gue terlalu jenius." puji Gara pada dirinya sendiri sembari tersenyum angkuh.


Jari jemari Gara dengan lincah bermain di atas keyboard, masuk ke dalam sistem perangkat lunak kamera CCTV yang ada di ruang rawat Narendra.


"Selesai." tukas Gara melihat layar di depannya sudah menyala sesuai dengan keinginan Bulan.

__ADS_1


Pandangan Gara beralih ke layar sebelahnya, dimana dilayar tersebut sedang menginput pemilik ponsel yang menghubungi nomor Bulan.


Tit... Terdengar bunyi dari layar, menandakan proses telah selesai. Gara menggeser kursi rodanya ke samping. Beralih ke layar satunya.


Dengan jelas, layar laptop di depan Gara menampilkan banyak tulisan yang rapi. Dimana, tertera dengan jelas pada siapa saja pemilik ponsel berhubungan.


"Bulan harus melihatnya." tukas Gara.


Tok,,, tok,,, "Bulan...!!" panggil Gara sembari mengetuk pintu kamar Bulan dari luar.


Hening, tak terdengar suara sahutan dari dalam. "Apa Bulan istirahat ya." tebak Gara.


Gara hendak meninggalkan tempatnya, tapi terdengar pintu terbuka dari dalam. "Kenapa?" tanya Bulan dengan suara serak, serta rambut acak-acakan dan wajah bantalnya.


Serrrr,,,, aliran darah Gara mengalir sedikit lebih cepat dari biasanya. Segera Gara menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran tentang Bulan.


"Kenapa?!" tanya Bulan lagi, menaikkan nada suaranya.


"Khemm,,, elo lihat dulu. Gue menemukan sesuatu." jelas Gara.


Tanpa mengatakan apapun, Bulan berjalan ke depan. Melewati Gara yang masih diam di tempatnya. "Gara,,,, sadar, sadar. Jangan berharap lebih. Elo hanya akan menjadi beban bagi Bulan. Lagi pula, Bulan pasti lebih memilih Jeno. Ingat Gara, jangan rusak hubungan baik kalian." batin Gara pada dirinya sendiri.


Bulan duduk di kursi. Mengamati setiap kata di layar laptop dengan seksama. "Ternyata dia mata duitan juga." cicit Bulan.


"Tapi baguslah. Dengan begitu, gue akan mudah mengadu domba mereka." lanjut Bulan, dengan mudah otak kecilnya mempunyai rencana untuk Narendra.


Ternyata, Narendra menggunakan barang bukti yang ada di tangannya untuk mendapatkan uang. Tentunya dari mereka yang berada di dalam video tersebut.


"Narendra. Elo sama sekali tidak pantas menjadi putra almarhum." lirih Bulan dengan tatapan tajam. Dimana yang Bulan tahu, papa dari Narendra adalah orang yang sangat jujur, dan berhati tulus. Bahkan beliau tak pernah memakan uang yang diperoleh dari pekerjaan haram.


"Sayang sekali, elo tidak mempunyai sifat seperti almarhum papa elo." lanjut Bulan, merasa kasihan pada almarhum.


"Apa yang akan elo lakukan?" tanya Gara.


"Gue tak memerlukan ponsel tersebut. Cukup amati layar satunya." pinta Bulan, melihat ke layar satunya. Dimana layar tersebut menampilkan ruang rawat dari Narendra.


Dan sekarang, Narendra sedang duduk santai sembari bermain ponsel. "Dia pasti merekayasa semua ini. Musibah yang menimpa dirinya. Dengan begitu, dia bisa berlindung dari kejaran mereka. Sebab, berada di rumah sakit akan sangat aman bagi dirinya. Bagi keselamatan nyawanya." tebak Bulan, mulai mengerti permainan Narendra.


Awalnya, Bulan mengira jika Narendra bisa diajak kerja sama. Ternyata Bulan salah, Narendra sama saja dengan mereka.


Tapi, hal tersebut malah semakin baik. Apalagi, setiap orang menginginkan keuntungan masing-masing. Menginginkan keselamatan dirinya sendiri. Dan hal tersebutlah yang sangat menguntungkan untuk Bulan.


"Elo amati saja. Siapa saja yang menemuinya." pinta Bulan.


"Oke." sahut Gara.

__ADS_1


__ADS_2