
Kini, Arya fokus hanya pada Jeno. Sebab, Bulan mematikan layar yang menampilkan Jevo dan Mikel. Sehingga fokusnya tak harus terbagi.
"Bagaimana keadaan Jevo dan Mikel?" tanya Jeno setengah berbisik, sembari kedua matanya mengawasi beberapa pembantu yang bekerja, serta memastikan letak kamera CCTV.
"Gue nggak tahu. Bu Bulan mematikan layarnya." sahut Arya di markas.
"Apa Bu Bulan menyusul mereka berdua?" tanya Jeno, seakan dirinya bisa menebak apa yang terjadi.
"Iya." jawab Arya singkat.
Lalu, Arya kembali melanjutkan ucapannya. "Apa perlu gue menyalakan kembali dua layar yang di matikan oleh Bu Bulan?" tanya Arya.
"Jangan." cegah Jeno. Dia yakin, pasti terjadi sesuatu. Antara Jevo, atau Mikel. Itulah alasan kenapa Bulan mematikan layarnya.
"Lakukan saja sesuai dengan apa yang bu Bulan perintahkan. Ingat, elo harus fokus. Jika tidak, gue yang akan dalam bahaya." jelas Jeno, mengalihkan rasa penasaran Arya atas tindakan Bulan yang mematikan dua layar di hadapannya.
"Pasti. Elo tenang saja." ucap Arya yakin.
"Semoga Jevo dan Mikel dalam keadaan baik. Jangan sampai mereka berdua bertindak di luar perintah bu Bulan." ucap Jeno dalam hati.
Kini, Arya dan Jeno saling berhubungan. Keduanya bagai partner yang serasi. Jeno bertindak sesuai arahan yang diberikan oleh Arya tanpa ragu.
Sementara Arya, kedua matanya dengan teliti memandang beberapa sudut ruangan di rumah Serra yang telah dia sabotase kamera CCTVnya.
Sedangkan di tepi jalan, dimana Mikel berada, dia tak henti mengawasi setiap mobil yang melaju di sampingnya.
"Dari tadi gue nggak lihat mobil atau kendaraan lain masuk ke rumah itu." gumam Mikel sedikit heran.
Padahal dirinya sudah berada di sekitar tempat yang dipastikan pelaku akan muncul selama setengah jam lebih. Namun belum ada tanda-tanda mencurigakan.
Bukan hanya kendaraan yang masuk, Mikel juga belum melihat ada kendaraan yang keluar dari dalam rumah sang dokter. "Apa gue masuk saja." ujar Mikel sembari berpikir.
Mikel menyenderkan badannya ke kursi mobil. "Tapi, jika gue masuk, terus ketahuan. Semua rencana akan gagal."
"Iya, lebih baik gue tunggu di sini saja. Gue yakin, bu Bulan akan memberikan intruksi lagi jika ada perubahan." ucapnya memutuskan untuk tetap mematuhi perintah Bulan.
Dan saat ini, di kediaman sang dokter, Jevo memilih untuk menolong sang dokter, dari pada menuruti perintah Bulan. Dan dapat dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika Jevo menolong sang dokter.
Semua rencana Bulan akan gagal dan berantakan.
Jevo hendak keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi langkahnya terhenti, saat ada yang mengunci pergerakannya serta membungkam mulutnya dari belakang.
Jevo berusaha melawan, melepaskan kuncian yang menyebabkan badannya sulit bergerak. "Diam." desis Bulan.
"Bulan." ucap Jevo dalam hati. Jevo diam, tak lagi berontak. Tapi Bulan tetap mengunci pergerakannya dan juga membungkam mulutnya.
Hanya untuk berjaga-jaga. Bulan tak ingin Jevo melangkahkan kaki, membuat semua rencananya berantakan. Hingga dirinya tak akan mendapatkan hasil.
"Bukankah sudah gue bilang. Lihat saja. Dan jangan bertindak." geram Bulan, berbisik di telinga Jevo.
Sang pelaku, Timo tetap melanjutkan aksinya dengan sadis dan brutal tanpa ampun. Bahkan, di saat sang dokter sedang menghembuskan nafas-nafas terakhirnya, dia dengan santi merusak wajah sang dokter hingga tak bisa dikenali lagi.
Timo, dia tersenyum iblis. Menjilat pisau berlumuran darah, seolah cairan merah yang menempel di pisau adalah selai.
Dengan santai seraya bersenandung kecil, dia menjadikan tubuh sang dokter menjadi beberapa bagian. Mengambil kresek hitam berukuran besar yang telah dia siapkan sebelumnya.
Seperti sedang memasukkan daging sapi ke dalam kresek, itulah yang dilakukan Rio alias Timo pada potongan tubuh sang dokter, yang baru saja dia mutilasi.
"Selesai." ucapnya tersenyum senang. Seolah pekerjaannya telah berhasil. Dirinya melakukan aksinya tanpa ada rasa takut jika ketahuan.
Dia kembali mengambil sesuatu dari balik jaket yang dia pakai. Seperti sebuah cairan, yang dimasukkan ke dalam semprotan.
Lalu disemprotkan di lantai. Dimana ada genangan darah di sana. "Harummmm....." ucapnya sambil menghirup bau anyir bercampur cairan gang baru saja dia semprotkan.
Dia mengambil sebuah lap dari balik jaketnya, mengelap lantai tersebut, hingga benar-benar bersih. Pandangan matanya menyapu lantai, memastikan tidak ada percikan darah yang tersisa.
"Bersih." dia bersorak kecil, seperti layaknya anak kecil. Dimasukkannya ke dalam kantong kresek berwarna hitam semua benda yang terkena darah.
Tampak ruangan bersih dan harum seperti sedia kala. Tidak akan ada yang menyangka. Jika baru saja terjadi sebuah kejahatan sadis di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Maaf, aku harus melakukannya. Sudah lama, tangan ini tidak melakukan seni." kekeh Timo. "Salah sendiri, mau menjadi dokternya Serra." lanjutnya, seakan sang dokter yang bersalah pada dirinya.
Jevo menggelengkan kepalanya tak percaya. Ini pertama kalinya, dia melihat ada seseorang psikopat di depannya, dan sialnya, dia sedang melakukan aksinya.
Ditatapnya beberapa kantong kresek berwarna hitam di depannya. "Setelah ini, gue yang akan menggantikan elo menjadi dokter spesialis. Wah,,, pundi-pundi uangku akan bertambah banyak." cicitnya, dengan merentangkan kedua tangannya seraya berputar. Seolah dia sedang menari dengan begitu anggun.
Jevo mengeratkan rahangnya. Kedua matanya terpejam. Sungguh, dirinya tak sanggup melihat apa yang terjadi di depannya.
Perutnya juga terasa di aduk, dangat mual, hingga ingin muntah. "Buka mata elo. Dan lihat, apa yang terjadi." bisik Bulan, seolah dia tahu jika Jevo memejamkan kedua matanya. Padahal Bulan ada di belakanganya.
Saat beraksi menghabisi nyawa sang dokter, Timo tidak memakai wajah Rio. Tapi memakai wajah seorang lelaki yang menjadi buronan polisi beberapa tahun yang lalu. Karena kasus pemerkosaan. Dan hingga saat ini, pihak berwajib juga belum menemukan pelaku pemerkosaan tersebut.
Timo berdiri membelakangi Bulan dan Jevo. Dia diam dan berdiri tanpa bergerak. Bulan memicingkan sebelah matanya. "Apa yang akan dia lakukan?" tanya Bulan dalam hati, pada diri sendiri.
Bulan tersenyum miring, melihat apa yang dilakukan oleh pelaku yang berada di depannya.
"Jevo buka mata elo...!!" geram Bulan, sebab kedua mata Jevo masih terpejam.
Baru saja Jevo membuka kedua matanya, dia di perlihatkan sesuatu yang menurutnya sangat mustahil.
Tangan kiri sang pelaku memegang sebuah benda, seperti kulit manusia, tapi berbentuk sintetis. Dimasukkannya apa yang dia pegang ke dalam saku celananya.
Dia kembali terdiam dan berdiri. Sialnya, dia membelakangi Bulan dan Jevo. Sehingga keduanya tidak mengetahui apa yang dilakukan olehnya.
Bukan hanya Jevo yang terkejut, tapi juga dengan Bulan. Saat lelaki tersebut berjalan ke arah cermin. Lalu tersenyum. "Dia..." ucap Jevo dalam hati.
Bulan tersenyum sinis. "Seperti dugaan gue." batin Bulan.
Wajahnya berubah. Dan saat ini, lelaki tersebut berwajah sama dengan sang dokter, yang telah dia lenyapkan nyawanya secara sadis. "Bagaimana bisa." ucap Jevo dalam hati memandangnya tanpa berkedip.
Dengan tenang dan santai, dia membuka pintu. Memanggil beberapa pembantu di rumah sang dokter, dan berperan selayaknya dirinya adalah sang dokter. Pemilik rumah ini, majikan mereka.
"Bawa semua kantong kresek ini, masukkan ke dalam bagasi mobil. Sekarang. Jangan sampai ada yang sobek." perintahnya.
"Baik Tuan." tanpa rasa curiga, mereka membawanya dan menaruhnya di bagasi mobil sesuai dengan dengan perintah sang majikan.
Bulan segera melepaskan kunciannya pada tubuh Jevo. Seketika tubuh Jevo merosot ke bawah. "Mustahil, apa yang sebenarnya terjadi." cicit Jevo, merasa jika dirinya seperti berada di dalam mimpi.
"Baik bu."
Bulan segera mengajak Jevo untuk meninggalkan rumah sang dokter. Dengan mudah, Bulan dan Jevo meninggalkan rumah sang dokter lewat pagar depan.
Tapi sebelumnya, Bulan telah mengamankan kamera CCTV, sehingga mereka berdua tak akan pernah terlihat di dalamnya.
Seperti yang diperintahkan Bulan, Mikel membuntuti mobil berwarna putih yang keluar dari dalam rumah sang dokter, namun tetap menjaga jarak.
"Naik, cepat..!!" seru Bulan pada Jevo untuk segera naik ke motor. Bulan melajukan motornya tidak terlalu cepat. Menyusul mobil yang dikendarai oleh Mikel.
Mikel yang melihatnya, segera menghentikan laju mobilnya. Mikel bisa mengenali keduanya dari jaket yang dipakai Bulan dan Jevo.
"Elo, kembali ke markas." Bulan meninggalkan motornya bersama dengan Jevo yang nampak seperti masih syok.
Dengan segera dia ambil alih mobil Mikel. Bulan mengemudi, sementara Mikel duduk di kursi sebelah kemudi.
Bulan fokus ke depan, menatap mobil yang baru saja keluar dari rumah sang dokter. "Bu, ada apa dengan Jevo?" tanya Mikel, menoleh ke belakang, meski Jevo sudah tak terlihat.
"Fokus saja dengan tugas elo. Jangan memikirkan hal lain." tegur Bulan.
Mikel membenarkan posisi duduknya. Dengan pandangan tertuju pada mobil di depannya. "Mau ke mana dia?" tanya Mikel lirih.
Melewati jalan sepi dan gelap, Bulan segera mematikan semua lampu mobilnya. Mikel sempat terkejut, tapi dirinya percaya, Bulan pasti bisa membawa mobil dengan baik.
Bulan menghentikan mobilnya. Saat mobil tersebut juga berhenti. "Apa kita perlu turun dan mengikutinya?" tanya Mikel.
"Tidak perlu." Bulan menyalakan mesin mobil. Melajukan mobilnya dengan mundur, seraya sedikit berbelok. Membuat mobil mereka masuk ke dalam semak-semak dan tanaman liar.
Mikel hanya diam. Dia tidak berani bertanya, sebab memang tidak tahu apa yang terjadi. "Sedang apa dia?" gumam Mikel, melihat seorang lelaki yang turun dari dalam mobil.
Membuka bagasi mobil, dan mengeluarkan beberapa kantong kresek. Mikel menajamkan penglihatannya di tengah kegelapan. Hanya ada sorot lampu dari mobil pelaku.
__ADS_1
"Apa yang dia keluarkan dari dalam bagasi? Apa isi dari kantong-kantong kresek hitam itu?" cicit Mikel penasaran.
Berbeda dengan Bulan, yang memang sudah tahu apa isinya. Bulan tersenyum. Lalu mengangguk pelan melirik ke arah Mikel. "Kedua matanya berfungsi dengan sangat baik di dalam kegelapan." ucap Bulan dalam hati.
Mikel menoleh ke arah Bulan, berharap Bulan memberitahu dirinya akan sesuatu. Tapi Bulan hanya diam, memainkan ponselnya dengan santai.
Sembari menunggu mobil yang mereka buntuti kembali bergerak, Bulan menghubungi Arya.
Meminta Arya untuk memberitahu Jeno, supaya segera keluar dari rumah Serra. "Elo suruh Jeno segera keluar dari sana. Dan jemput Jevo. Dia berada di sekitar rumah dokter." perintah Bulan.
Mikel mengerutkan keningnya. Bagaimana Bulan bisa tahu, jika Jevo masih berada di sana. Dan belum kembali ke markas. "Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?" batin Mikel penasaran.
Bulan seakan tahu, apa yang dipikirkan oleh Mikel. "Elo akan tahu, setelah kita sampai di markas." jelas Bulan, tanpa melihat ke arah Mikel.
Mikel hanya menelan ludahnya kasar. "Bu Bulan seperti cenayang saja, bisa membaca pikiran gue." batin Mikel.
"Bu, dia kembali menjalankan mobilnya." tukas Mikel.
Mobil yang mereka buntuti putar balik, dan kembali ke arah dimana dia datang. "Kenapa dia putar balik?" gumam Mikel.
"Elo terlalu banyak bertanya." ketus Bulan. Mikel hanya menipiskan bibirnya, serta menggaruk tengkuknya, saat secara tak langsung Bulan mengatakan jika Mikel cerewet.
Dirasa sudah berada di jarak aman, Bulan menghidupkan mesin dan membuntutinya kembali.
Sedangkan Jeno, sesuai arahan Arya. Dia keluar dari rumah Serra setelah memperhatikan beberapa orang di sana. Serta menaruh kamera CCTV di tempat yang dimana, CCTV di rumah tersebut tidak bisa menjangkau tempat tersebut.
Dengan kata lain, Jeno menambah kamera CCTV di rumah tersebut. Juga dengan di kamar Serra. Dia menaruhnya, dengan melewati atap. Dan mendarat di balkon. Tak lupa, Jeno juga menaruh kamera CCTV di balkon.
"Kenapa bu Bulan menyuruh gue menjemput Jevo. Apa yang terjadi dengan Jevo?" batin Jeno, saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
Tepat seperti yang dikatakan Bulan, Jevo masih duduk di tepi jalan. Dengan motor Bulan masih berdiri di sampingnya. "Itu dia."
Jeno menghentikan mobilnya tepat di sebelah Jevo. Membuka pintu dari dalam. "Masuk..!!" seru Jeno.
"Ayo,, cepat." seru Jeno lagi. Dengan badan sedikit gemetar, Jevo masuk ke dalam mobil. Langsung mengambil sebotol air mineral yang memang selalu tersedia di dalam mobil Jeno. Meneguknya hingga habis.
"Bagaimana dengan motor Bulan?" tanya Jevo.
"Biarkan saja. Tugas gue hanya mengambil elo. Bukan motor bu Bulan." sarkas Jeno. Dia yakin, Jevo melihat sesuatu yang pastinya mengerikan.
Jeno dapat menebak, sebab Jevo hanya akan merasa takut dan bergetar tubuhnya jika melihat sesuatu yang mengerikan menurut dia.
Tanpa bertanya apapun, Jeno mambawa Jevo, dan melajukan mobilnya kembali ke markas. Sedangkan Bulan dan Mikel masih terus membuntuti kemana mobil tersebut akan berhenti.
Mikel menatap jalanan yang mereka lalu. "Mau kemana dia." cicit Mikel, sebab jalan yang mereka lalui menuju ke luar kota.
"Kenapa dia berhenti di perbatasan.?" cicit Mikel. Bulan hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah. Dirinya sudah mengatakan jika Mikel banyak bertanya. Tapi tetap saja, mulut Mikel terus bercicit.
"Penitipan kendaraan dua puluh empat jam." Mikel membaca sebuah plakat.
Seorang lelaki keluar dari dalam tempat penitipan kendaraan. Tapi bukan sang dokter. Tapi Bulan tahu, jika dia sudah berganti wajah kembali saat di dalam mobil. Dia berjalan masuk ke gang kecil.
"Apa perlu kita ikuti?"
Bulan menghela nafas panjang. "Tidak." jawab Bulan singkat, dengan mata mencari sesuatu.
"Bu Bulan mencari kamera CCTV?"
"Sudah tahu, kenapa bertanya." ketus Bulan.
Bulan kembali melajukan mobilnya. Dan tujuannya adalah markas mereka.
Jeno dan Jevo sampai di markas. Jeno terlihat santai dan baik-baik saja. Tapi tidak dengan Jevo. Dia langsung masuk ke kamar mandi, dan muntah-muntah.
"Kenapa Jevo? Masuk angin?" tanya Arya.
Jeno mencebik. "Gue nggak tahu."
Jevo keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Langsung berbaring di kursi empuk yang panjang, di samping Jeno duduk.
__ADS_1
Jeno dan Arya membiarkan Jevo untuk diam dan memejamkan kedua matanya. "Lebih baik kita tunggu bu Bulan." bisik Arya, yang diangguki oleh Jeno.
Sementara Bulan memutuskan untuk kembali ke markas. Setidaknya, dia tahu dimana rumah lelaki yang dia tebak sebagai pelaku pembunuhan berantai tersebut.