
Sella terpaksa memesan taksi online. Sebab tak mungkin dia masuk ke rumah Jeno tanpa Jeno di sampingnya. "Jeno sialan,,, lihat saja. Gue pasti akan mendapatkan elo. Bagaimanapun caranya." geram Sella, semakin tertantang dengan penolakan yang Jeno berikan pada dirinya.
Sampai di rumah, tanpa menyapa tiga perempuan yang sedang berada di ruang tengah, Sella terus berjalan. "Sella..." panggil sang mama.
Sella menghentikan langkah kakinya. "Ada apa?!" tanya Sella dengan ketus.
Sang mama menggeleng pelan. Tentu saja beliau merasa tak enak hati dengan Nyonya Irawan dan Sapna yang sekarang tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. "Seharusnya mama yang bertanya. Kamu kenapa?"
Sella menatap sang mama dengan ekspresi rumit. "Sini sayang, ada apa? Katakan pada mama. Siapa tahu mama bisa membantu kamu." tutur sang mama.
Sella langsung mendekat dam memeluk sang mama. "Ma,,, Sella sakit hati. Cinta Sella ditolak. Padahal apa sih yang kurang dari Sella. Cantik, seksi, kaya, pintar. Coba mama pikirkan. Kurang apa Sella." cicit Sella memuji dirinya sendiri setinggi langit.
Mama Sella mengurai pelukan mereka. "Berarti kamu harus berusaha lagi, untuk meluluhkan hati lelaki itu." papar beliau.
"Ma,, bantu Sella untuk mendapatkan dia. Sella yakin, mama pasti mengenal kedua orang tuanya. Dan Sella yakin, mama dan papa akan senang, jika Sella bisa menjadi kekasih dia. Apalagi jika kita sampai menikah." pinta Sella.
Mama Sella membelai lembut pipi sang putri. "Sayang,,, kamu sebentar lagi masih kelas dua. Bahkan saat ini kamu masih melaksanakan ujian kenaikan kelas. Jangan berpikir menikah dulu dong."
Sella memutar kedua matanya dengan jengah. "Mama,,, jika Sella bisa masuk ke dalam keluarganya, Sella tidak perlu bekerja. Dan nama mama akan semakin melambung di dunia bisnis. Sementara papa, Sella yakin. Papa akan langsung naik jabatan." ujar Sella.
Mama Sella melirik ke arah Nyonya Irawan dan Sapna yang duduk tak jauh dari dirinya dan Sella. Tentu saja beliau merasa tak enak hati akan perkataan Sella yang menurutnya sangat tidak pantas diucapkan oleh anak seusianya.
Sapna tersenyum kesal dalam hati. Apalagi mendengar Sella berucap kenaikan jabatan yang akan diterima oleh pak Darto jika Sella menjalin hubungan dengan lelaki ini. "Siapa lelaki yang dikejar Sella." batin Sapna penasaran.
"Ma,,, mama harus tahu siapa dia." ujar Sella, berharap sang mama akan membantunya setelah mengetahui siapa yang sedang Sella kejar.
"Jeno. Dia adalah Jeno. Putra dari Tuan David dan Nyonya Rindi." ungkap Sella tersenyum bangga.
Sedangkan sang mama hanya diam dengan ekspresi datarnya. "Jeno." batin Sapna, merasa tak asing dengan nama tersebut.
Sapna mencoba mengingat siapa nama hang baru saja disebutkan oleh Sella. "Dia lelaki yang bersama dengan Bulan. Dan mengaku sebagai kekasih Bulan." bisik Nyonya Irawan pada sang putri, Sapna.
Sapna menatap sang mama untuk menyakinkan perkataan beliau. Nyonya Irawan mengangguk pelan. "Maaf,,, dia teman sekelas kamu?" tanya Sapna ikut nimbrung obrolan anak dan mama.
Sella memandang Sapna dengan tatapan remeh. Sella memang tidak menyukai kehadiran mereka berdua di rumahnya. Entah apa penyebabnya. "Bukan, dia kakak kelas gue." jawab Sella dengan malas.
"Oo..." Sapna hanya mengangguk pelan.
"Jadi, Jeno usia Jeno menginjak delapan belas tahun. Dan Bulan,,,,," batin Sapna.
"Tapi tidak masalah, meski usia Bulan lebih tua dari Jeno. Kalau gue jadi lelaki,,, pastinya lebih milih Bulan dari pada Sella. Cantikan Bulan kemana-mana. Sella,,,,, dia hanya menang di make up doang." batin Sella.
"Maaa... bantu Sella. Pokoknya Sella mau menjadi kekasih Jeno. Masuk ke dalam keluarga mereka. Bagaimanapun caranya." tukas Sella, lalu pergi meninggalkan mereka. Dan menaiki anak tangga, untuk menuju ke kamarnya.
Sapna tersenyum sinis. "Dan gue nggak akan membiarkan apa yang elo inginkan terjadi. Hanya Bulan yang bisa menjadi menantu Tuan David dan Nyonya Rindi. Bukan perempuan model kayak elo." batin Sapna.
"Maaf jeng,,, maaf Sapna,,, putri saya memang sedikit keras kepala. Maklum, putri satu-satunya. Anak tunggal." tutur mama Sella merasa tidak enak hati. Terlebih beliau juga tahu jika Sella tidak menyukai keduanya berada di rumah ini.
"Anak tunggal. Putri satu-satunya. Lah gue... Apa dikira gue punya saudara kandung lain. Gue juga anak tunggal. Tapi,,,, amit-amit,,, gue nggak kayak Sella." batin Sapna.
"Iya jeng,,, jangan begitu. Jeng tidak perlu meminta maaf. Lagian wajar saja, anak seusia Sella memang seperti itu." sahut Nyonya Irawan.
__ADS_1
Sapna menatap ke arah lain seraya mencebikkan bibirnya. "Seusia Sella,,,, gue juga nggak kayak gitu. Malah gue sudah mandiri. Dan selalu mendapat berbagai penghargaan. Dasar kepribadiannya saja sama kayak bapaknya. Jahat. Turunan iblis." batin Sapna.
"Gue harus memberitahu Bulan. Jangan sampai dia mendapat masalah karena bocah gila itu." batin Sapna, menebak jika karakter Sella adalah tipikal orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang dia inginkan
Di apartemen Jeno, Bulan menggerakkan badannya. Dengan kedua mata masih terpejam, disibakkan selimut yang menutupi sebagian badannya. "Badanku terasa sangat segar." cicitnya sembari meregangkan otot-otot kaku di tubuhnya setelah semalam terlelap dalam dunia mimpi.
Bulan membuka kedua matanya. Mengitari seluruh ruangan yang terasa sepi. "Pasti Jeno sudah berangkat ke sekolah." lirihnya dengan suara serak khas orang bangun tidur, sembari menatap ke ranjang di sampingnya.
Bulan juga tahu, jika hari ini hari pertama Jeno melaksanakan ujian kenaikan kelas. "Semoga kamu berhasil sayang. Jadilah yang terbaik." lirih Bulan. Berharap Jeno akan mendapatkan nilai terbaik.
Dimana di ranjang tersebut tempat keduanya tidur bersama semalam. Hanya berpelukan, tanpa melakukan hal lebih. "Gue acungi empat jempol, dia bisa menahan hasratnya saat bersama dengan gue." tukas Bulan memuji Jeno yang mampu menahan hawa nafsunya sebagai lelaki normal.
Bulan sadar, sulit bagi mereka menahan rasa ingin saling memuaskan dan memiliki saat menghabiskan waktu bersama. Bahkan, jika boleh jujur, Bulan juga merasakan bagaimana sulitnya menahan rasa tersebut.
Tak munafik, Bulan juga perempuan dewasa yang tentunya normal. Dirinya juga ingin merasakan bagaimana kata nikmat saat berhubungan dengan lawan jenis.
Tapi kembali lagi, Bulan tak akan melakukan hal tersebut. Dirinya memang sejak dulu tak suka menjalin kasih, karena takut pasangannya akan meminta hal tersebut.
Sekarang, penantian Bulan akan kesabarannya telah membuahkan hasil. Tuhan mengirimkannya seorang lelaki yang seperti keinginannya.
Bulan turun dari ranjang. Dibukanya tirai yang menutupi pintu kaca, penyekat antara kamar dan balkon. Bulan mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum. "Jeno,,, Jeno,,, pasti dia ingin gue tidur terus. Dasar. Apa dia pikir gue nggak lapar." tukas Bulan menggeleng melihat kelakuan Jeno.
Bulan mencari tombol yang digunakan untuk mengangkat benda pipih yang ada di depannya. Begitu menemukannya, Bulan segera menekan tombol tersebut.
Bulan mengangkat tangannya, menghalau sinar matahari yang mengenai wajahnya. "Ternyata sudah tidak pagi lagi." cicitnya sembari berjalan di balkon.
Bulan berdiri di tepi balkon, berpegangan dengan besi pembatas. Menatap ke bawah, melihat kendaraan berlalu lalang.
"Kenapa gue tidak merasakan pergerakan Jeno." batin Bulan, sembari menikmati hangatnya sinar matahari menerpa kulitnya.
Bulan tersenyum simpul. "Apa hati ini benar-benar sudah menetapkan siapa pemiliknya." batinnya.
Setiap bersama dengan Jeno, Bulan mengakui jika dirinya terasa nyaman. Segala kemelut di hatinya seakan menghilang. Dan tak lagi kepikiran mengenai semua masalah yang ada di depannya.
"Jeno." lirih Bulan, menyebut nama lelaki yang sekarang mengisi ruang kosong di dalam hatinya yang selama ini sama sekali tidak pernah diisi oleh siapapun.
Senyum di bibir Bulan menguap. Bulan menengadahkan kepalanya ke atas dengan kedua mata menyipit karena silau. "Kedua orang tua Jeno,,, sepertinya mereka menerima gue. Tapi...." cicit Bulan, memikirkan sesuatu yang selama ini mengganjal hatinya.
Bulan hanya khawatir dengan pandangan masyarakat. Sangat jelas ketara perbedaan antara dirinya dan Jeno.
Selain perbedaan umur mereka, Bulan juha sedikit sanksi dengan perbedaan keluarga mereka. "Seandainya kedua orang tua Jeno mengetahui siapa orang tua gue, apa mereka tetap akan menyambut baik gue di dalam keluarga mereka." tukas Bulan merasa minder.
"Haaahhhh..... Kenapa elo berpikir sejauh itu Bulan. Sudahlah. Jalani saja dulu. Toh Jeno masih akan kelas tiga." tutur Bulan pada dirinya sendiri untuk bisa bersikap tenang.
Bulan terdiam. Menggigit bibir bawahnya dengan raut wajah cemas. "Mampus. Bagaimana jika Jeno bisa memenuhi syarat dari gue." seketika Bulan teringat perjanjian antara dirinya dan Jeno.
Bulan menggigit jari telunjuknya. "Lalu,,, bagaimana,,, aduh,,,, apa ayah dan ibu bisa menerima Jeno."
Bulan meraup wajahnya. "Astaga,,, kenapa masalah cinta malah lebih rumit. Haahhh...." Bulan menghela nafas panjang. Terdengar seperti sebuah kepasrahan.
Bulan membalikkan badan. Kembali masuk ke dalam kamar. "Bodo. Kenapa gue memikirkannya. Lebih baik gue cari makan." tuturnya keluar dari kamar.
__ADS_1
Bulan menuju ke dapur. Cacing di perutnya ingin diberi asupan makanan. Apalagi jam sarapan telah lewat sedari tadi.
Bulan melihat beberapa bungkus roti. "Lumayan, bisa mengganjal perut." ujarnya langsung memasukkan roti ke dalam mulutnya. Tanpa mencuci muka terlebih dahulu. Astaga,,, apa segitu laparnya.
"Ngurung gue di apartemen, tapi nggak ada makanan. Dasar bocah." gerutu Bulan sembari memakan roti.
"Mungkin Jeno tahu jadwal gue di sekolah." cicitnya, karena Jeno membiarkan dirinya terlelap dalam tidur.
Bulan meminum segelas air putih, membuang bungkus roti ke dalam tempat sampah. Bulan tak lantas kembali ke kamar. Melainkan berkeliling apartemen. Melihat-lihat apartemen Jeno.
Bulan menghentikan langkah kakinya saat dirinya berada di depan cermin. Bulan menaikkan kedua alisnya ke atas, menatap rambutnya dari pantulan kaca di depannya.
Di usapnya kepala dengan rambut pendek yang sangat berantakan. Bulan menghembuskan nafas berat, bibirnya manyun. "Jelek sekali gue." tukasnya.
Bulan masih betah berada di depan kaca, menatap penampilannya yang jauh dari kesan anggun. Entah apa yang ada dalam benaknya. Mengatasi permasalahan rambutnya ini.
"Jangan. Menyambung rambut terlalu memakan waktu lama." tukasnya, saat berpikir hendak kembali melakukan penyambungan pada rambutnya.
Bulan memang bukan perempuan yang dengan senang hati menghabiskan waktunya untuk perawatan di salon. Yang menurut Bulan malah akan menghabiskan waktunya, serta uang.
"Lebih baik gue menggunakan rambut pasangan saja."
Bulan bergegas masuk kembali ke dalam kamar. Membuka seluruh laci untuk mencari gunting. "Ini dia."
Bulan masuk ke dalam kamar mandi. Melepaskan seluruh pakaian uang melekat di tubuhnya, termasuk **********. Berdiri di depan kaca, hendak merapikan potongan rambutnya agar tidak terlalu berantakan.
"Gue juga ogah pergi ke salon. Cuma potong rambut saja. Gue juga bisa." ujar Bulan mulai menggerakkan guntingnya.
Krek... krek... terdengar suara gunting beradu dengan rambut Bulan.
Sedangkan Jeno tak langsung pulang setelah berhasil memberi pelajaran pada Sella. Dia mampir ke restoran serta toko pakaian, membeli makanan untuk dia makan bersama dengan Bulan. Sedangkan Jeno membeli pakaian untuk Bulan pakai. Tak lupa Jeno juga membeli wig untuk Bulan.
Merasa semua yang dibutuhkan telah dia beli, Jeno kembali melajukan mobilnya ke apartemen. Dimana Bulan masih berada di sana.
Klek.... Jeno dengan mudah membuka pintu apartemen. Diletakkannya paper bag berisi makanan di dapur. Setelahnya dia segera masuk ke dalam kamar.
"Sayang..." panggil Jeno nyelonong masuk, sebab pintu tidak tertutup rapat.
"Bulan." lirih Jeno, melihat ranjang yang masih berantakan. Sementara Bulan tak lagi berada di atas ranjang.
Jeno berlari ke balkon. Mengira Bulan ada di sana. Karena pintu balkon yang terbuka. "Bulan,,, sayang...!" seru Jeno takut jika ternyata Bulan sudah meninggalkan apartemennya.
Jeno kembali berlari masuk ke dalam kamar. Indera pendengaran Jeno menangkap suara gemericik air dari kamar mandi.
"Pasti itu Bulan. Syukurlah..." cicitnya merasa lega.
"Tapi gue harus memastikannya." lanjut Jeno.
Tanpa berpikir panjang, Jeno langsung membuka begitu saja pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci oleh Bulan. Tak berpikir bisa saja Bulan sedang mandi. Atau melakukan sesuatu di dalam kamar mandi.
Bulan memang sengaja tidak mengunci pintunya. Semua karena dia berada di apartemen seorang diri. Sehingga Bulan merasa tak masalah membiarkan pintu dalam keadaan tidak terkunci.
__ADS_1
Siapa yang mengira jika Jeno sudah datang, dan tanpa berpikir masuk ke dalam kamar mandi.
"Bulan..." panggil Jeno begitu membuka pintu kamar mandi.