PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 200


__ADS_3

Bulan duduk dengan tenang di sebuah kursi. Ada dua orang di sampingnya. Kedua tangan mereka merias wajah Bulan dengan terampil. "Mbak,,, apa masih lama?" tanya Bulan merasakan pantatnya panas karena sudah lebih dari satu jam lamanya duduk tegang di kursi.


"Tenang saja Nona. Kami akan membuat Nona tampak cantik. Sehingga Tuan Jeno tidak akan pernah memalingkan pandangannya dari Nona." tukas sang perempuan di depan Bulan, sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang Bulan ajukan.


Saat Bulan dan Jeno berbincang santai di dalam kamar hotel setelah keduanya terbangun dari tidurnya, datang dua perempuan sepantaran Bulan yang masuk dengan diantarkan pegawai hotel.


Mereka perempuan yang memang ahli membuat wajah orang lain tampak lebih cantik dengan menggunakan berbagai peralatan make-up.


Bulan sendiri tidak tahu, apa tujuan Jeno memanggil mereka berdua. Yang pastinya Bulan menolak kedua perempuan tersebut.


Tak lantas Jeno menyerah ingin melakukan apa yang dia inginkan. Dia mengatakan dengan santai untuk kedua perempuan tersebut supaya pergi dari kamar, dan mereka tidak dibayar sepeserpun oleh Jeno. Meski hanya upah transportasi sekalipun.


Keduanya tentu saja merengek memohon pada Bulan, untuk melakukan pekerjaan mereka. Apalagi mereka berdua datang dari tempat yang lumayan jauh.


Jeno tampak acuh, sama sekali tidak peduli. Terlihat santai dengan menyantap buah di tangannya. Seakan Jeno bisa menebak jika Bulan pasti akan mau melakukan apa yang dia inginkan.


Alhasil, Bulan memilih menyerah. Melakukan apa yang Jeno inginkan. Merasa kasihan pada kedua perempuan yang terlihat sangat kasihan.


Bulan menatap tajam ke arah Jeno, saat Jeno pergi meninggalkan kamar tanpa rasa bersalah. Beralasan jika dirinya tidak ingin mengganggu pekerjaan kedua perempuan yang memang dia sewa secara khusus untuk membuat sang kekasih semakin cantik.


"Apa kalian tahu, kenapa Jeno memanggil kalian?" tanya Bulan.


"Yang pasti, Tuan Jeno ingin Nona Bulan terlihat lebih cantik." sahut salah satu dari perempuan tersebut.


"Apa aku tidak cantik?" tanya Bulan.


"Bukan seperti itu Nona. Anda sangat cantik. Tapi, kami ingin sedikit merubah penampilan anda agara sedikit lebih menarik." jelas sang perempuan tidak ingin Bulan tersinggung.


Perempuan tersebut sedikit membungkuk, meletakkan bibirnya tepat di samping telinga Bulan. "Dan lebih seksi." bisiknya.


"Pasti permintaan Jeno. Dasar." keluh Bulan menahan senyumnya.


"Bukankah memang seperti itu para lelaki Nona. Ingin pasangannya terlihat selalu menarik di pandangannya." sahut perempuan satunya, yang tengah sibuk menatap rambut palsu di atas benda berbentuk bundar menyerupai kepala.


Supaya mereka lebih mudah untuk memindahkannya ke kepala Bulan. Dan lagi, dengan begitu, Bulan tak terasa pusing karena mereka tidak menatap rambut palsunya langsung di kepala Bulan.


"Benar. Jika perempuan sudah tidak menarik, mereka akan menatap perempuan lain. Dadar egois." timpal rekannya.


Bulan tersenyum mendengar setiap perkataan mereka. "Jadi, kita sebagai perempuan harus bisa menjaga serta merawa diri." ujar Bulan.


"Memang benar. Tapi Nona, untuk perempuan seperti kami, dari pada menggunakan serta menghabiskan uang untuk melakukan merawat diri habis-habisan, lebih baik kita gunakan untuk membantu suami kita." jelas sang perempuan.


Bulan sadar, jika setiap perempuan bahkan setiap makhluk hidup di dunia ini dilahirkan serta ditakdirkan berbeda.


"Apakah masih lama?" tanya Bulan untuk kesekian kali.


"Sabar Nona. Sebentar lagi." tukas sang perempuan tersenyum, tahu jika Bulan bukanlah sosok perempuan manja yang dengan suka rela menghabiskan waktunya dan menghamburkan uang di salon untuk memanjakan diri.


"Padahal banyak perempuan yang menginginkan hal seperti ini, tapi kenapa Nona malah tidak betah?" tanya sang perias tersenyum, merasa mendapati pelanggan yang lucu.

__ADS_1


"Saya memang tidak suka diperlakukan seperti ini." sahut Bulan sekenanya.


"Baiklah. Selesai. Sekarang, Nona berganti pakaian dulu." pinta sang perempuan.


"Apa gaunnya juga disediakan oleh kalian?" tanya Bulan yang sudah berdiri dari duduknya, meregangkan ototnya yang terasa kaku karena lebih dari satu jam duduk.


Padahal, biasanya saat melakukan misi di lapangan, Bulan selalu berada di posisi yang sama selama berjam-jam. Dan dia sama sekali tidak mengeluh. Dan ini, barus sebentar saja sudah membuat Bulan mengeluh.


Mungkin karena rasa yang diperoleh Bulan berbeda. Ya,,, mungkin bisa seperti itu. Bulan menikmati saat berada di lapangan, memfokuskan senjata selama berjam-jam untuk memperoleh bidikan yang tepat pada lawan.


Sementara Bulan sama sekali tidak menikmati duduk di kursi, dilayani mereka yang ahli dalam merias wajah.


"Tidak Nona. Saat kami masuk, seorang pegawai hotel memberikan kami gaun yang akan dipakai oleh Nona." jelasnya.


"Tapi bukan mereka yang menyediakannya Nona. Saya yakin itu. Pasti Tuan Jeno yang memesannya. Dan pegawai hotel tinggal mengambil. Gaun yang sangat mahal dan berkelas." timpal perempuan satunya lagi, seakan bisa menerka apa yang dipikiran oleh Bulan.


"Hufftt,,, sebenarnya Jeno mau mengajak saya kemana sih." cicit Bulan yang juga tidak tahu mengapa dirinya harus di rias secantik ini.


Bulan berdiri di depan cermin, melepaskan rambut palsu di kepalanya untuk dia letakkan di atas meja. "Coba rambutku sudah tumbuh. Gue nggak perlu benda ini." cicit Bulan.


"Sabar Nona, sebentar lagi pasti akan tumbuh." hiburnya berharap Bulan tidak sedih.


"Mari Nona, kami bantu memakai gaun. Untuk rambutnya, kita pasangkan setelah Nona memakai gaun." ajaknya pada Bulan.


Bulan tidak menolak. Dia berjalan ke ruang ganti yang ada di kamar hotel. Bulan ingin semuanya cepat selesai. Sehingga dia tidak tahu akan diajak kemana dirinya oleh Jeno.


"Astaga.... Apa gaunnya tidak salah?" tanya Bulan melongo melihat bagaimana mewah dan mahalnya gaun yang sudah melekat di badannya.


Potongan atas gaun menyerupai kemben. Yang sepertinya sengaja di buat sedikit tinggi, sehingga mampu mengamankan serta menyembunyikan dua buah benda berbentuk bulat di dada Bulan.


Tepat di pinggang, terdapat sebuah sabuk yang menyatu dengan gaun. Di bentuk sedemikian rupa, sehingga membuat pinggang Bulan terlihat begitu ramping dan seksi.


Untuk gaun bagian bawah, Bulan bisa melihatnya. Dia bagaikan seorang putri. Dengan gaun bagian bawah yang mengembang dengan lebar. Menutupi seluruh kaki Bulan.


"Tinggal memakai ini. Dan finish." tutur sang perias sembari memasangkan rambut palsu di kepala Bulan.


Prok... Prok..... "Perfect." seru kedua perempuan yang merias Bulan secara bersamaan sembari bertepuk tangan.


Salah satu perempuan mengambil high hell yang telah dipersiapkan bersama dengan gaun. "Silahkan Nona." ujar sang perias dengan senyum senang.


"Terimakasih banyak atas bantuannya." cicit Bulan.


Pintu dibuka oleh salah satu perempuan yang merias Bulan. Tampak seorang lelaki dengan setelah jas berwarna hitam, dan dasi kupu-kupu berdiri di luar ruang ganti. Menatap intens ke arah ruang ganti.


Tentu saja, sang kekasih bak bidadari yang bisa dilihat dengan nyata oleh kedua matanya. Jeno merasa bersyukur dipertemukan dengan seorang perempuan seperti Bulan di waktu yang tepat.


Kedua tangan Bulan mengangkat sedikit bagian gaunnya di bagian kanan dan kiri. Guna mempermudahkan dirinya untuk berjalan.


Entah kenapa, Bulan merasakan nervous saat Jeno menatapnya dengan intens. Padahal mereka sering bertemu dan berbincang. Hanya saja, Bulan merasakan ada sesuatu yang berbeda saat ini, ketika Jeno menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Permisi Tuan, Nona, kami pergi dulu." pamit sang perias, keduanya segera meninggalkan kamar hotel. Tak ingin menganggu kebersamaan antara Jeno dan Bulan.


Jeno hanya melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan untuk bisa lebih dekat dengan Bulan. "Kamu sangat cantik sayang." puji Jeno, membelai pipi sang kekasih.


"Sebenarnya kamu mau mengajak aku kemana?" tanya Bulan, sebab dilihat dari penampilannya, dia dan Jeno tampak akan pergi ke sebuah acara pesta.


"Sudahlah. Nanti kamu juga akan tahu." tukas Jeno seakan tidak bosan memandang paras cantik sang kekasih.


"Baiklah." ujar Bulan memilih pasrah, sebab rasa penasarannya tidak bisa dihilangkan.


"Ayo, kita berangkat." ajak Jeno.


Bulan segera melingkarkan tangannya ke dalam lengan Jeno. Keduanya berjalan dengan pelan, keluar dari hotel.


Sontak saja, pasangan bak raja dan ratu ini langsung menjadi perhatian sendiri bagi para karyawan hotel, dan juga beberapa pasang mata yang melihat keduanya.


Bisik-bisik dari mulut ke mulut, Bulan dan Jeno dapat tangkap dengan indera pendengaran mereka. Memuji keduanya sebagai pasangan yang sangat serasi.


"Ketampanan serta kecantikan yang tak ada duanya." cicit seorang pengunjung hotel.


Bahkan, beberapa diantara mereka langsung mengeluarkan ponsel, mengabadikan apa yang mereka lihat dengan merekam video Jeno dan Bulan yang sedang berjalan santai. Sungguh, mereka berdua bagai seorang artis.


Baik Jeno dan Bulan sama sekali tidak memperdulikan mereka semua. Keduanya tetap melangkah denhan derap kaki menawan. Berhenti tepat di teras hotel. Dimana di depan mereka ada sebuah mobil mewah denhan pintu bagian belakang terbuka.


"Gila...!! Mereka bahkan sangat tampan dan cantik. Melebihi artis di negara kita." cicit pengunjung hotel.


Ada beberapa diantara mereka yang bahkan mengabadikan momen tersebut hingga Jeno dan Bulan masuk ke dalam mobil. Dan bahkan, saat mobil sudah berjalan meninggalkan pelataran hotel, mereka masih merekam gambarnya.


Suara riuh karena Jeno dan Bulan masih terdengar di lobi hotel. Sayup-sayup terdengar rasa penasaran daei mereka akan dua sosok manusia yang mempu membuat mereka merasakan takjub.


Tak sampai di sana, mereka yang merekam video kebersamaan Jeno dan Bulan, langsung menguploadnya ke media sosial dengan berbagai tulisan yang melengkapi video tersebut.


BAGAI RATU DAN RAJA


KECANTIKAN DAN KETAMPANAN YANG SEMPURNA


DUA SOSOK MISTERIUS YANG RUPAWAN


KESERASIAN YANG HAKIKI


Dan masih banyak lagi tulisan yang melengkapi video yang diupload ke media sosial. Tanpa mereka tahu, jika keduanya saat ini memang tengah menjadi pembicaraan hangat di kalangan pebisnis, karena Jeno sebagai putra Tuan David menjalin hubungan dengan perempuan yang mempunyai usia diatasnya.


Apakah mereka akan terpengaruh. Sama sekali tidak. Bagi keluarga Jeno, tak ada yang perlu ditutup tutupi. Sementara Jeno, dia juga berpikir hal yang sama. Akan lebih baik semua orang tahu hubungannya dengan Bulan.


Dan Bulan, setelah hubungannya direstui baik oleh keluarga Jeno dna keluarganya sendiri, Bulan merasa tak ada yang perlu dia sembunyikan atau ditutupi.


Terlebih, Bulan tahu siapa keluarga Tuan David. Sehingga dirinya tak terlalu khawatir akan keselamatan mereka.


Dan lagi, Bulan juga sudah menempatkan seseorang di desa untuk menjaga keluarganya. Sehingga Bulan tidak lagi secemas dulu.

__ADS_1


Satu lagi. Jabatan Bulan di tempat kerjanya sekarang memang bisa dia pergunakan dengan baik. Jika ada yang berani menyentuh keluarga Jeno dan keluarganya di desa, maka Bulan akan bertindak tanpa kompromi.


__ADS_2