
Timo merasa ada yang berbeda. Telinganya hanya terdengar suara musik di dalam mobil. "Apa mereka sudah tak sadarkan diri?" gumam Timo, tak mendengar suara teriakan meminta tolong dari kedua gadis yang dia seret dengan mobil.
Timo menghentikan mobilnya. Dia tak lantas segera keluar dari mobil. Tapi mematikan terlebih dahulu musik yang dia putar di dalam mobil. Untuk kemudian mendengarkan dengan jelas suara dua gadis yang dia jadikan mainan.
Hening dan sepi. Hanya terdengar suara hewan malam yang saling bersahutan. Merasa ada yang janggal, Timo keluar dari dalam mobil.
Kedua matanya membulat sempurna, melihat ke belakang mobil. Kosong. Kedua gadis yang dirantainya hilang, tak ada di belakang mobil.
Timo berjalan mendekati bagasi mobil. Dimana hanya tersisa sedikit rantai di sana. "Bagaimana bisa?" cicit Timo memegang rantai yang tinggal sedikit.
Timo melihat dengan jelas bekas rantai yang merenggang. "Aaaa......!!! Sial, siapa yang melakukannya. Brengsek....!!" teriaknya meluapkan emosinya, dengan tangan membuka topeng di wajahnya secara kasar.
Timo ingin memperlihatkan wajah aslinya pada dua gadis tersebut. Serta orang yang telah berani menganggu apa yang akan dia lakukan.
Yang artinya, Timo sudah berniat untuk mengeksekusi keduanya malam ini juga. Dengan cara yang memang hanya Timo sendiri yang tahu.
Timo bertindak seperti orang yang kesurupan. Berlari ke sana ke sini, mencari mainannya yang hilang. "Kalian...!!! Kembali...!!!" teriaknya frustasi.
"Siapa yang berani menganggu kesenangan gue. Siapa...!! Keluar...!!" teriak Timo tidak terima.
Dengan wajah bengis penuh luka bercampur rasa marah karena kedua gadis tersebut hilang, Timo masuk ke dalam tumbuhan ilalang. Mencari keduanya.
Berpikir jika kemungkinan mereka masih bersembunyi di rerimbunan tanaman liar tersebut. "Kalian...!! Keluarlah...!! Aku akan memaafkan kalian...!!" teriak Timo sembari menyibak tanaman liar tersebut.
Langkah kaki serta suara teriakan Timo terhenti, saat dirinya tak sengaja menginjak sesuatu yang keras. Dia berjongkok, mengambil benda yang berada di bawah kakinya.
Timo menggenggam dengan erat rantai yang ada di tangannya. Ekspresi wajahnya benar-benar menakutkan. "Siapa yang berani menganggu kesenangan Timo...!!" teriaknya.
Tanpa dia tahu, jika kedua gadis tersebut sudah berada di rumah sakit. Untuk menjalani perawatan. Sementara Timo terus menggila, berteriak dan berlari.
Berusaha mencari apa yang seharusnya menjadi miliknya. Itulah yang dia pikirkan. "Brengsek.....!!!" seru Timo dengan nafas tersengal kelelahan, sebab dirinya terus berlari ke sana kemari mencari mereka.
Tentu saja Timo merasa marah dan kesal. Ini kedua kalinya bagi Timo kehilangan barang mainannya. "Serra. Dan mereka berdua. Suatu kebetulan yang sangat mustahil." geram Timo.
Kedua mata Timo memandang sekeliling dengan tatapan tajam. Berharap dia menemukan sesuatu dari kedua kegagalan yang dia terima.
"Apa ada orang yang mengintai gue?" tanyanya pada diri sendiri. Menebak apa yang terjadi pada dirinya.
Tiba-tiba ekspresi wajah Timo berubah. Dia memandang ke satu arah dengan rahang hang mengeras. Tanpa kembali ke tempat mobilnya berhenti, Timo berlari menuju ke suatu tempat.
Rumah sang kakek.
Brakk.... Dengan kasar Timo membuka pintu rumah sang kakek yang memang tidak pernah terkunci. Dengan langkah tergesa, Timo berjalan menuju kamar kecil dimana sang kakek biasanya beristirahat.
Timo melihat sang kakek tidur meringkuk. Didekatinya tubuh sang kakek. Timo menunduk, mengendus bau dari pakaian sang kakek.
Timo kembali berdiri dengan normal. Dirinya berpikir sejenak. Tak mungkin kakek bisa menolong dua gadis tersebut.
Sebab, tubuh sang kakek yang sudah tua. Dan juga, pasti sang kakek tidak bisa memutuskan rantai besi yang kokoh.
Timo berbalik pergi begitu saja meninggalkan sang kakek. Kembali menutup pintu dengan keras. Beruntung, pintu sang kakek tidak rusak. Pasalnya, pintu tersebut juga sudah rusak.
Sang kakek menghela nafas lega. Sebenarnya, dirinya membuka kedua matanya saat Timo masuk. Sebab terganggu dengan suara keras pintu yang terbuka.
Tapi, segera sang kakek bisa menebak siapa yang datang. Sehingga dirinya segera berpura-pura tidur.
"Beruntung, aku sudah berganti pakaian." batin sang kakek, mengetahui sang cucu mengendusnya seperti anjing pelacak.
Sang kakek tersenyum. Sebab dirinya juga sudah menyembunyikan di tempat yang aman, pakaian yang dia pakai tadi.
Sehingga, jika Timo kembali lagi. Dia tidak akan menemukan petunjuk apapun. Dan kakek akan tetap aman.
Sang kakek kembali memejamkan kedua matanya. Tapi tidak dengan pikirannya. Benaknya tetap membayangkan sosok Bulan.
Mencoba menebak bagaimana wajah serta badan dari sang penyelamat yang tidak memperlihatkan wajahnya, serta mengeluarkan suaranya.
"Tuhan, lindungi orang seperti dia. Jagalah selalu dia dimanapun berada." batin sang kakek, mendoakan Bulan.
Sementara di markas , semua sedang panik karena Bulan yang juga belum muncul.
"Ada apa?" tanya Mikel yang datang paling akhir. Melihat semua yang ada di dalam terlihat cemas. Dengan memandang ke arah Jeno yang sedang berusaha menghubungi seseorang.
"Bu Bulan belum datang. Padahal, seharusnya beliau datang sebelum elo dan Jeno." jelas Arya.
"Bagaimana?" tanya Gara.
Jeno menggeleng. "Panggilan terhubung, tapi Bulan tidak mengangkatnya." jelas Jeno terlihat cemas.
"Apa kita perlu mencarinya?" tanya Jevo juga memberikan saran.
"Benar."
__ADS_1
"Jangan."
Jeno dan Gara berucap serempak. Keduanya lantas saling pandang, karena pemikiran mereka yang berbeda. "Kenapa?" tanya Jeno, karena Gara melarang mereka mencari Bulan.
"Elo mau cari Bulan kemana? Dia itu seperti angin. Bisa dimana saja saat dia mau." jelas Gara.
"Tapi setidaknya kita cari bu Bulan. Siapa tahu kita bertemu di jalan." tukas Arya.
"Jika tidak bertemu. Kalian hanya akan membuang waktu. Sudahlah, gue yakin Bulan dalam keadaan baik-baik saja." tutur Gara.
Jevo menatap lekat ke wajah Gara. Lalu dia tersenyum samar. Jevo tahu, jika Gara sama seperti dirinya dan yang lain. Khawatir akan keadaan Bulan.
Tapi, Gara menyembunyikannya. Pastinya, tujuannya agar semuanya tidak panik. "Kita tunggu lima belas menit lagi. Jika bu Bulan belum datang, kita akan mencarinya." saran Jevo.
"Baiklah." ucap Jeno pasrah. Meski hatinya sangat tak tenang. Sang pujaan hati belum juga sampai ke markas. Padahal seharusnya dia datang sebelum dirinya datang.
Untuk mengisi waktu luang agar tidak terlalu cemas, Gara mengajari Arya beberapa sistem yang ada di perangkat lunak.
Sedangkan Mikel, Gara memberikan sebuah flash disk. "Apa ini?" tanya Mikel.
"Di dalamnya, ada beberapa obat-obatan ilegal. Serta beberapa bahan kimia yang berbahaya. Dan asal elo tahu, semua yang ada di sini." Gara mengangkat flash disk tersebut ke depan Mikel.
"Organisasi bawah tanah menggunakannya untuk mencari uang." Gara memberikannya pada Mikel.
Mikel terdiam, mengambil flash disk dari tangan Gara. Sebenarnya, Mikel merasa heran bercampur bingung. Kenapa Gara memberikan pada dirinya.
"Pelajari dengan matang. Ini pasti akan berguna buat elo. Dan juga buat kalian semua. Apalagi, Bulan dengan berani merekrut kalian." jelas Gara.
"Baik." ucap Mikel dengan pasti.
"Dan ini buat elo." Gara juga memberikan sebuah flash disk pada Jevo.
Jevo mengambilnya. Dan memperhatikan barang kecil tersebut. "Di dalamnya ada berbagai bahan peledak. Hingga bagaimana cara merakit senjata. Serta merakit berbagai alat berbahaya lainnya." jelas Gara, tanpa Jevo bertanya.
"Terimakasih." papar Jevo.
Untuk Jeno, Gara tidak memberikan apapun. Sebab, dirinya dan Jeno sudah mempunyai kesepakatan. Jika Gara akan mengajari Jeno, supaya Jeno bisa berdiri dengan dagu terangkat di samping Bulan.
Yang artinya, Jeno harus menguasai semuanya. Dan itu adalah hal yang paling terberat dari tugas anggota yang lainnya.
"Itu pasti bu Bulan." seru Arya, mendengar suara mesin kendaraan.
Segera Gara menyalakan laptop untuk memperlihatkan kamera CCTV bagian dimana Bulan berada.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jeno, ketika Bulan baru saja bergabung bersama mereka.
"Tidak. Hanya sebuah kejadian kecil." sahut Bulan, dengan gerakan tangan melepaskan cadar yang menutupi wajahnya. Serta membuka jaket yang membungkus badannya.
Gara melihat jaket yang Bulan kenakan terdapat sobekan. "Apa yang terjadi?" tanya Gara.
Bukannya menjawab, Bulan memberikan rekaman yang dia dapat saat memasuki ruang rahasia di dalam rumah Rio.
"Kalian lihat dulu, isi dari benda kecil itu." tukas Bulan, setelah memberikannya pada Gara.
Bulan belum ingin mengungkap kenapa dirinya bisa terlambat datang ke markas. Dirinya ingin membahasnya satu persatu.
Sehingga semua akan terencana dan terpecahkan dengan matang dan baik. Tanpa ada yang tumpang tindih. Sebab, apa yang terjadi malam ini. Semuanya adalah hal penting.
Dari apa yang Bulan temukan di dua ruangan rahasia yang ada di rumah Rio. Serta saat Bulan menyelamatkan dua orang gadis dari tangan Timo. Serta kakek dari Timo.
Jadi, Bulan tidak ingin menceritakan semuanya. Bulan sangat tahu jiwa anak-anak seperti mereka pasti akan meledak-ledak jika mendengar Bulan menyelamatkan kembali dua orang gadis dari tangan seorang psikopat seperti Timo.
Jeno segera mengambilkan sebotol minuman dingin, dan memberikannya pada Bulan. "Terimakasih." tutur Bulan, langsung meminumnya.
Sebab, Jeno telah membukakan tutup botol tersebut. Sehingga Bulan bisa langsung meneguknya.
"Bu Bulan, silahkan duduk." tukas Mikel mengambilkan kursi untuk Bulan.
"Oke. Makasih." ujar Bulan, mendaratkan pantatnya ke kursi yang telah diambilkan oleh Mikel.
Segera Mikel duduk di dekat Jevo, dan tidak menatap ke arah Jeno. Sebab, Mikel tahu jika Jeno tengah menatapnya dengan tatapan kesal. "Dasar,,, posesif. Guekan perhatian sebagai anak didik. Gitu saja cemburu." batin Mikel menggerutu.
Jeno masih memandang kesal ke arah Mikel. Seharusnya, yang melakukan itu dirinya. Bukan Mikel. Itulah yang ada di dalam benak Jeno.
"Mikel sialan. Awas saja jika dia punya perasaan sama Bulan. Gue libas." batin Jeno jengkel.
Layar laptop telah menyala. Semuanya terdiam, dengan pandangan fokus ke arah layar laptop. "Ruangan dalam ruangan." gumam Arya.
"Itu...." lirih Mikel, saat layar laptop menampilkan ruangan pertama yang direkam oleh Bulan.
"Hentikan." ujar Bulan, dengan segera Gara menekan sebuah tombol. Sehingga video terjeda.
__ADS_1
"Kalian bisa menebaknya?" tanya Bulan.
Gara mengulang lagi video tersebut. Sehingga semuanya menatapnya dengan seksama. Dan kembali menjeda di bagian yang sama seperti tadi.
"Semua barang korban, dia letakkan di dalam ruangan itu. Semua." cicit Jevo.
"Dan semua itu akan kita jadikan barang bukti." timpal Arya.
"Tapi, sepertinya ada seseorang di dalam. Siapa dia?" tanya Gara, memandang ke arah Bulan.
Ada seseorang yang sedang berbaring di atas ranjang kecil. Sayangnya, dalam video yang Bulan ambil, tidak menampakkan secara jelas siapa orang tersebut.
Bulan memberikan sebuah benda kecil pada Gara. "Pasangkan." pinta Bulan.
Benda tersebut adalah benda yang terhubung dengan alat kecil yang Bulan tempelkan di ruangan rahasia tersebut.
Sehingga, mereka bisa melihat siapa yang berada di dalam ruangan tersebut. Itupun, jika orang tersebut turun. Tapi, jika orang tersebut tetap berada di dalam, apa yang Bulan lakukan hanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil.
"Semoga saja dia turun. Sehingga kita bisa melihat wajahnya." ujar Jeno berharap.
"Semoga."
"Satu bukti telah ada di dalam genggaman tangan kita." tukas Mikel.
Dengan adanya bukti rekaman di ruangan pertama, mereka sudah bisa bergerak untuk mencari bukti selanjutnya. Padahal, Bulan juga sudah menemukan sesuatu yang berharga untuk menjebloskan sang pelaku ke dalam penjara.
Tapi Bulan belum melakukannya. Lantaran Bulan ingin sang pelaku akan tetap mati, menyusul para korban. Meski dia sudah berada di dalam penjara.
Dan itu, bukan Bulan yang akan melakukannya. Tapi orang lain. "Arya, kamu sekalian pantau, siapa tahu dia turun ke bawah." pinta Bulan.
"Baik bu." sahut Arya.
"Putar lagi." pinta Bulan pada Gara.
"Gila, ada ruangan lagi." cicit Arya terkesima.
"Dia pasti orang hebat. Bisa berpikir sejauh itu." timpal Gara.
Nafas mereka tercekat, saat melihat apa yang ada di layar laptop. "Dia.... Dia...." ucap Jeno dengan gugup.
"Hentikan." pinta Bulan, Arya segera menekan tombol untuk menjeda videonya. Sebab, Gara masih terlihat syok dengan apa yang dia lihat.
Bulan memberikan benda kecil pada Arya. "Apa ini juga sudah terhubung ke suatu tempat?" tanya Arya.
Bulan mengangguk. Segera Arya melakukan apa yang dikatakan Bulan. Layar yang lainnya menyala. Dan langsung menampilkan seseorang yang berada di sebuah ruangan.
Seseorang lelaki muda dengan kondisi sangat memprihatinkan. Kedua tangan di rantai ke atas. Dan kedua kaki di rantai di bawah. Tanpa sehelai baju yang melekat di tubuhnya.
Bukan hanya itu, tempat yang dia tempati sangatlah tidak bersih. Lebih dari kata jorok. Terlihat bekas makanan serta kotoran manusia menjadi satu.
Tikus-tikus besar berseliweran, hilir mudik memakan makanan yang berserakan di lantai. "Apa dia,,,, Rio." tebak Jevo, menahan sesak di dada.
Arya membesar layar di laptopnya. Lebih fokus terhadap orang tersebut. "Iya. Dia Rio yang asli." jelas Bulan.
"Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mikel benar-benar tidak habis pikir.
"Kalian akan tahu, jika membongkar makam Rio. Melakukan tes DNA atas mayat tersebut." ungkap Bulan berspekulasi, jika semuanya sudah dimanipulasi oleh Timo.
"Tuhan. Dia,,, dia buta." tebak Jevo.
"Dan itu dilakukan dengan sengaja oleh pelaku." timpal Bulan.
Gara menggeleng tak percaya. "Kita harus menolongnya. Jangan sampai dia juga dibunuh oleh Rio palsu. Seperti dia menghabisi yang lainnya." tukas Gara.
"Dia tidak akan dibunuh. Rio palsu membutuhkannya. Dan dia akana terus disiksa. Tapi tak sampai meninggal."
Semua terdiam. Mencerna apa yang dikatakan Bulan. Tidak membunuh Rio asli. Tentu saja, Rio palsu masih membutuhkan sesuatu dari Rio yang asli.
"Tapi kita harus segera menyelamatkan." seru Gara.
"Pasti, dan itu akan terjadi sebentar lagi." ujar Bulan tersenyum miring dengan tatapan penuh makna.
Gara bisa menebak, jika Bulan telah menemukan sesuatu yang besar. Dan sesuatu ini akan mengungkap segalanya. Sehingga petualangan Rio palsu akan terhenti.
"Bu,,, dia turun." seru Arya, melihat tembok bergerak. Lalu beberapa bata keluar dari dalam membentuk sebuah tangga.
"Dia...." semuanya tercengang, melihat siapa yang turun dari tangga tersebut. Semuanya saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Sudah aku duga." ujar Bulan menyeringai.
Dia adalah salah satu pembantu yang bekerja di kediaman Rio. "Dia pasti menjadi pelampiasan nafsu dari Rio palsu." tebak Arya, sebab belum tahu nama asli pelaku tersebut.
__ADS_1
"Dan semua karena uang." timpal Jevo.
"Timo. Dia bernama Timo." tekan Bulan. Sontak, semua menatap ke arah Bulan.