PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 104


__ADS_3

Dengan memegang kepalanya, mama Rio perlahan bangun dari tidurnya. "Kenapa rasanya kedua mataku sulit untuk di buka." cicitnya, mengubah posisinya menjadi duduk. Namun masih dengan kedua mata yang terpejam.


Mama Rio mengira jika dirinya berada di dalam kamarnya. Tanpa rasa panik, disandarkan punggungnya di senderan ranjang tempat tidur.


Tangannya bergerak meraba ke samping. Dimana biasanya di samping tempat tidur terdapat meja kecil yang dia gunakan untuk menaruh segelas air mineral yang akan beliau minum setelah bangun saat pagi hari.


Merasa tidak menemukan apa yang dia cari, dibukanya dengan lebar kedua matanya, sembari menguap. ''Loh....' ucapnya terkejut. Mendapati dirinya tidak berada di kamarnya sendiri.


Meski kamar yang dia tempati sedikit lebih kecil dari kamarnya. Juga desain serta warna cat dan perabotan yang sangat berbeda jauh.


Mama Rio terdiam sembari mengingat, bagaimana dirinya bisa terbangun di tempat seperti ini. ''Semalam..." cicitnya tak meneruskan kalimatnya. Sebah dirinya masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam.


"Astaga..!? Rio..!!" serunya dengan membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya.


Tentu saja belia merasa cemas dengan keadaan lelaki yang dia anggap sang putra, yang semalam dia tinggalkan karena paksaan.


"Tunggu." beliau juga ingat jika dirinya diberikan sesuatu yang dibekapkan ke hidung dan mulutnya, sehingga beliau pingsan.


"Berarti saya diculik." kini, tampak jelas raut wajah panik dari mama Rio.


Beliau bergegas beranjak dari ranjang empuk dan besar yang semalam dia jadikan tempat tidur. "Diculik,,,,.Apa iya, saya diculik."


"Lalu kenapa saya di culik. Perasaan saya nggak punya musuh. Atau,,,, saingan bisnis almarhum suami saya yang melakukannya. Tapi siapa?" cicitnya.


Mama Rio menatap keseluruhan ruangan dimana dirinya berada. "Bisa jadi. Bisa jadi memang saya diculik. Dan disekap di tempat ini." tuturnya.


Tanpa membasuh wajahnya, mama Rio berjalan menuju pintu. Dengan perlahan membukanya dari dalam. "Tidak dikunci." batinnya, tidak menyangka jika pintu tak dikunci oleh sang penculik.


Dengan mengendap maka Rio berhasil keluar dari kamar. Beliau melihat dua orang tidur di sofa dengan memakai penutup wajah. Dan mereka berdua adalah Mikel dan Jevo. Sebab Arya tidur di dalam kamar bersama Rio.


"Siapa mereka? Apa maksudnya menculik saya?" mama Rio menatap keduanya dengan lekat.


"Lebih baik saya segera pergi meninggalkan rumah ini. Sebelum mereka terbangun." tutur mama Rio memutuskan untuk kabur dari villa Mikel.


Dengan berjingkat pelan, mama Rio menjauh dari Mikel dan Jevo. Karena terlalu fokus dengan kedua orang yang tidur di atas sofa, beliau tak memperhatikan jika ada sebuah vas bunga berukuran besar di sampingnya. Juga dengan bunga hiasan di dalamnya.


Tar...... Vas tersebut roboh dan pecah berserakan. Mama Rio melotot ketakutan bercampur tekejut. Menatap ke arah vas yang dia senggol. "Pasti mereka bangun." lirihnya.


Sesuai tebakan mama Rio, Mikel dan Jevo terbangun karena terkejut mendengar suara barang pecah yang begitu keras.


"Apa? Ada apa...?!" Mikel langsung bangun dengan kebingungan.


Juga dengan Jevo yang memang nyawa mereka belum terkumpul sepenuhnya karena bangun dengan cara seperti itu. "Suara apa tadi?" tanya Jevo.


Karena rasa takutnya, mama Rio tak mempedulikan pecahan vas yang berserakan di lantai. Beliau tetap melanjutkan langkahnya. "Aaww..." serunya merasakan sakit di bagian telapak kakinya.


Dan dapat dipastikan jika telapak kaki mama Rio terkena pecahan vas tersebut. Pasalnya, beliau tidak memakai alas kaki. Sendal yang beliau gunakan jatuh di dalam mobil milik Jeno, saat Jeno membawanya ke villa Mikel.


Mikel dan Arya menoleh ke sumber suara. "Bukankah itu mama Rio." tukas Mikel, melihat mama Rio meringis kesakitan.


"Cegah...!! Tangkap..!! Jangan sampai beliau kabur." seru Jevo yang sudah sadar sepenuhnya.


"Benar juga." timpal Mikel.


Mikel dan Jevo segera beranjak dari sofa untuk menghentikan maka Rio yang hendak pergi meninggalkan villa.


"Kalian jangan mendekat...!!" teriak mama Rio, menahan rasa sakit di telapak kakinya.


Jevo ikut meringis. Dirinya tak tega melihat mama Rio yang kesakitan. Ditambah ada darah yang keluar dari telapak kaki beliau.


"Tenang tante,,, tenang. Kita tidak bermaksud jahat." ujar Mikel berusaha menenangkan mama Rio.


"Benar tante. Tante jangan lari. Lihat, kaki tante berdarah." timpal Jevo.


Keduanya tak segera mendekat dan menangkap mama Rio karena khawatir jika beliau berjalan lagi. Dapat dipastikan jika pecahan vas tersebut akan bertambah di telapak kakinya. Yang akan membuat mama Rio terluka semakin banyak.


Mama Rio tersenyum sinis. "Tidak jahat. Kalian menculik saya. Bagaimana bisa kalian mengatakan jika kalian orang baik." sungutnya.


Sesungguhnya, mama Rio juga sedikit takut untuk berjalan lagi. Apalagi beliau melihat ada banyak pecahan vas yang bertebaran di sekitarnya.


"Tante, kami kenal Rio. Putra tante. Dan tante harus percaya pada kami." pinta Mikel mencoba merayu mama Rio.

__ADS_1


"Heh... putra saya memang terkenal. Karena dia tampan dan pandai. Oo,,,, atau jangan-jangan kalian sebenarnya musuh putra saya. Tidak bisa mengalahkan Rio, makanya kalian menargetkan saya. Dasar pengecut." hina maka Rio.


"Tante,,, yang selama ini bersama tante buka Rio. Dia bukan putra tante. Rio yang asli ada di dalam kamar. Dia ada di sana." jelas Mikel menunjuk ke arah pintu tanpa menatap pintu tersebut, dimana Rio dan Arya berada di dalamnya.


"Lihat,,, kalian mulai mengarang ceritakan. Kalian pikir saya bodoh. Kalian mau menyuruh saya kembali ke kamar. Mengurung saya di kamar lagi. Iyakan...?!" tuduh mama Rio.


"Astaga..." keluh Mikel.


"Elo tunggu di sini, biar gue memanggil Rio." tukas Jevo bermaksud membangunkan Rio dan Arya.


Namun langkah kaki Jevo terhenti, manakala pintu di belakang mama Rio terbuka dari dalam. Yang artinya kakek Timolah yang membukanya. Sebab hanya beliau yang berada di dalam kamar tersebut.


Kakek Timo mendengar ada suara berisik yang mengganggunya. Membuatnya dengan terpaksa membuka kedua matanya.


Berbeda dengan mama Rio yang memegang kepalanya saat baru terbangun, kakek Timo memegang lehernya yang terasa sakit bercampur perih.


"Sakit. Aku masih merasakan sakit. Apa artinya aku masih hidup. Apa artinya, ada yang menolongku. Tapi kenapa? Siapa?" tuturnya mencoba mengingat kejadian semalam.


Sayangnya, kakek Timo tidak teringat jika Bulan datang menggagalkan percobaan bunuh dirinya. Beliau hanya mengingat jika semuanya berjalan lancar. Rencana bunuh dirinya berjalan tanpa adanya hambatan.


"Dimana ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, melihat kamar yang begitu mewah dan besar. Yang setelah anak serta menantunya meninggal, dirinya tak lagi bisa menempati kamar seperti ini.


Lamunannya buyar saat mendengar suara gaduh dari luar. "Suara siapa itu?" tanyanya.


Berharap, suara beberapa orang di luar bisa menjawab rasa penasarannya mengenai keberadaannya.


Kakek Timo tak menunda lagi, beliau meninggalkan kasur empuk dan besarnya. Membuka pintu dengan mudah dari dalam. Sebab memang pintu tidak dikunci.


Keempatnya saling pandang dan terdiam seketika saat kakek Timo membuka pintu. Pandangan kakek Timo beralih ke lantai. Dimana banyak pecahan vas yang berserakan di lantai tersebut.


"Siapa kalian?" tanya kakek Timo dengan ekspresi bingung pada Jevo dan Mikel. Sebab keduanya memakai penutup wajah.


Mama Rio kembali melongo mendengar pertanyaan kakek Timo. "Astaga...!! Jadi kalian tidak hanya menculik saya. Tapi kakek tua ini juga..!!" bentaknya.


"Menculik." cicit kakek Timo yang sama sekali tidak merasa dirinya diculik. Apalagi mana ada orang yang menculik orang yang hendak bunuh diri. Ditambah dirinya sudah tua dan juga miskin.


Mikel dan Jevo menghela nafas panjang. "Sulit." keluh Mikel.


Mikel dan Jevo saling pandang. Keduanya menghembuskan nafas panjang.


Kakek Timo tak segera menyahut apa yang ditanyakan mama dari Rio. Dirinya tentu malah bertambah bingung. Apalagi mendengar kata culik.


"Tapi saya bukan orang kaya bu. Bahkan rumah saja hampir roboh." tukas kakek Timo.


"Astaga. Kenapa mereka malah mengira kita sebagai penculik. Apa wajah kita terlihat seperti itu?" tanya Mikel lirih, yang hanya bisa di dengar oleh Jevo.


"Ckk,,, bagaimana mereka bisa melihat wajah kita." sahut Jevo, sebab keduanya memakai penutup wajah.


Mikel spontan meraba wajahnya. Lalu tersenyum. "Iya juga ya, wajah kitakan tertutup." cicitnya merasa lucu.


"Tuhan...!!" teriak mama Rio mampu membuat Mikel dan Jevo serta kakek Timo terkejut karena suaranya.


Mama Rio memandang Mikel dan Jevo bergantian. "Iya benar." ucapnya mengalihkan pandangannya pada kakek Timo.


Lalu kembali menatap ke arah Mikel dan Jevo. "Mereka berdua." ucapnya seraya menunjuk ke arah keduanya yang kebetulan berdiri berdampingan. "Mereka pasti komplotan penjual organ manusia." tuduh mama Rio.


Mikel dan Jevo dibuat melongo oleh perkataan mama Rio. Dituduh menculik. Dan sekarang dituduh sebagai komplotan penjual organ manusia.


"Aaawww..." jerit mama Rio, saat bergerak mendekat ke arah kakek Timo.


"Tenang saja kek. Kita pasti akan keluar dari sini. Kita pasti akan selamat. Tuhan akan menolong kita." cicitnya dengan memegang lengan kakek Timo.


Jevo merasa nyeri sendiri melihat lantai. Dimana ada ceceran darah dari telapak kaki mama Rio. "Tante, kita obati dulu kaki tante." ajak Jevo.


"No.... Tidak akan. Kamu pikir saya akan terbujuk dan mengikuti apa yang kamu katakan. Tidak akan...!!" teriaknya dengan wajah memerah karena emosi.


Berbeda dengan kakek Timo yang nampak tenang. "Bagaimana saya bisa ada di sini?" tanyanya dengan nada terdengar sedih.


"Kami tidak tahu kek. Teman kami yang membawa kakek ke sini." sahut kakek Timo.


"Jadi kalian masih punya rekan lain lagi." tukas mama Rio sembari memandang ke depan. Dan kemungkinan beliau mengira jika di depan di jaga dengan ketat. Karena itulah pintu kamarnya tidak di kunci.

__ADS_1


"Iya tante." sahut Mikel dengan santai. Jevo hanya mendengus mendengar perkataan Mikel yang malah memperkeruh keadaan.


Mikel berpikir, biar saja mama Rio mengira jika mereka berdua penjahat. Toh ada Rio di sini. Dan semuanya akan beres saat Rio keluar.


Malahan, Mikel berpikir bagaimana jika mama Rio tahu semua kebenarannya. Dan tentang keadaan sang putra yang sekarang sedang tidak baik-baik saja.


"Kakek dengarkan. Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Bagaimanapun caranya." bisik mama Rio.


Sayangnya, sang kakek hanya menganggap perkataannya sebagai angin lalu saja. "Kenapa dia menolong saja. Padahal saya ingin mengakhiri hidup. Sepertinya, itu jalan yang terbaik." papar kakek Timo dengan wajah sedih.


Mama Rio sontak melepaskan tangannya di lengan kakek Rio. "Mengakhiri hidup. Bunuh diri." cicitnya, melihat ada yang janggal di leher sang kakek.


Mikel dan Jevo hanya diam. Keduanya tak bisa mengatakan apapun. Seolah mereka tahu, apa yang ada di dalam benak sang kakek. Perasaan bersalah.


Sedangkan mama Rio menatap ke arah sang kakek dengan tatapan aneh bercampur penasaran.


"Bukankah dengan mati, saya bisa menebus semua kesalahan yang saya perbuat." tuturnya, dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.


Di dalam kamar, Rio menajamkan pendengarannya. Dirinya mendengar suara yang sangat familiar. "Mama,,, itu mama." cicit Rio tersenyum dengan ekspresi bahagia.


"Hey,,,, elo... Apa elo masih ada di sini...?!" tanya Rio pada Arya, yang dia tahu semalam Arya tidur di kamar ini untuk menjaganya.


Tangan Rio meraba kasur. Mencari pinggirannya. Dirasa dirinya sudah menemukan apa yang dia cari, Rio perlahan menurunkan kedua kakinya di atas lantai.


"Hey.... apa elo, apa masih berada di sini...?!" tanya Rio lagi sembari berteriak.


"Apaaa...." sahut Arya dengan nada pelan tapi panjang.


Rio tersenyum lega. Jika di dengar, lelaki yang telah menolongnya belum membuka kedua matanya. "Gue ingin keluar. Kelihatannya terjadi sesuatu di luar." pinta Rio, berjalan pelan sembari meraba ke depan. Takut jika menabrak sesuatu.


Bukannya bangun, Arya malah semakin menyamankan posisi tidurnya. "Memangnya ada apa di luar?" tanya Arya dengan kedua mata masih terpejam.


Rasanya kedua matanya masih sangat lengket. Dan enggan untuk terbuka. Apalagi dengan suhu di tempat ini yang lumayan dingin. Membuat Arya enggan untuk bangun dari tidurnya.


Rio menajamkan pendengarannya. Rio tersenyum kembali sembari menggeleng. Dirinya bisa menebak jika lelaki yang menolongnya masih di tempat yang sama.


Rio tak lantas marah karena Arya tak segera bangun dari tidurnya. Dirinya mengerti, kemungkinan Arya masih mengantuk. Karena tertidur lewat tengah malam.


"Gue mendengar ada suara berisik." sahut Rio, tetap berjalan pelan, namun tak segera menyentuh tembok atau apapun di tangannya.


"Sudahlah. Tidurlah lagi. Mungkin penjual sayur." jelas Arya dengan enteng.


Rio terkekeh pelan mendengar kalimat yang diucapkan Arya. Sepertinya Arya hapal sekali, jika pagi hari seperti ini ada penjual sayur.


"Bukan. Sepertinya suara mama yang sedang berteriak. Dan juga, gue mendengar ada suara lelaki yang terdengar sudah berumur." jelas Rio.


Pasalnya, kamar Rio memang di sebelah dimana mereka sedang berdebat. Sehingga Rio yang mang mempunyai indera pendengaran yang sangat bagus bisa mendengarkannya dengan jelas.


Arya spontan duduk terbangun dari tidurnya mendengar Rio menyebutkan mama Rio dan seorang lelaki. "Apa mama elo dan kakek Timo sudah bangun ya?" tanya Arya.


"Kakek Timo?" Rio bertanya balik pada Arya.


Arya mengangguk meskipun Rio tidak melihatnya. "Iya,,, kakek Timo. Rekan gue menyelamatkannya. Dan dia juga di bawa ke sini." jelas Arya.


Rio terdiam. Dirinya tidak ingin bertanya lebih lanjut. Karena ingin segera bertemu dengan sang mama. "Elo mau ke mana?" tanya Arya dengan aneh. Melihat Timo berjalan menuju jendela. Bukan pintu.


"Keluar." sahut Rio.


"Ckk,,, di sana jendela. Bukan pintu." sahut Arya yang membuat Rio langsung menghentikan langkahnya.


"Mana gue tahu. Guekan nggak bisa melihat." tukas Rio.


Arya beranjak dari duduknya. "Tunggu sebentar. Gue ke kamar mandi dulu. Mau kencing. Jangan jalan ke mana-mana. Nanti elo malah terjatuh." ujar Arya mengingatkan.


Rio tersenyum samar. "Iya,,, jangan lama." ucap Rio.


"Iya,,, bawel." ketus Arya masuk ke kamar mandi.


Bukannya marah, Rio malah tersenyum. Dia seperti tidak diperlakukan seperti orang yang cacat. Dirinya juga serasa mempunyai teman.


Seperti yang Arya katakan, dirinya hanya sebentar berada di kamar mandi. Setelahnya, dia membantu Rio untuk keluar dari kamar. Dan tentunya menuju ke tempat sang mama.

__ADS_1


__ADS_2