
Suara erangan nikmat beradu di dalam sebuah kamar. Berbagi peluh dan juga saliva. Kedua insan tersebut saling melengkapi dan berbagi rasa nikmat. "Claudia.... kamu memang yang terbaik." cicit Revan.
"Jevo... " gumam Claudia dengan kedua mata terpejam. Menikmati hentakan yang diberikan oleh lawan mainnya.
Revan mengeraskan rahangnya, mendengar nama yang di sebut oleh Claudia. Dirinya yang memberikan rasa nikmat pada perempuan di bawah kungkungannya. Tapi dia malah menyebutkan nama lelaki lain. "Brengsek." ucap Revan dalam hati.
Revan melirik ke arah lain. Dimana dia meletakkan sebuah alat untuk merekam kegiatan panas mereka di sana.
"Gue harus segera menyerahkan video tersebut pada Jevo." batin Revan.
Keduanya berbaring terlentang di atas kasur empuk setelah sama-sama terpuaskan. Claudia memiringkan badannya. Memainkan jari jemarinya di dada Revan.
Suara bel pintu membuat Revan maupun Claudia mengalihkan fokus mereka. Revan bangun. Memakai celananya.
Claudia tersenyum melihat punggung Revan yang menjauh darinya, yang hendak membuka pintu. Sementara dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan badannya dengan cepat.
Claudia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk mandi. Dengan rambut di cepol ke atas. "Claudia..." geram Revan, dengan duduk jongkok, di belakangnya terdapat dua orang lelaki bertubuh gempal.
Claudia memainkan bola matanya. Mengisyaratkan sesuatu pada mereka berdua. "Baik Boss."
Mereka memaksa Revan duduk di kursi, dengan tubuh diikat menjadi satu dengan kursi. Claudia duduk santai di kursi, dengan segelas air berwarna ungu di tangannya.
Bawahan Claudia menuju tempat dimana Revan menyembunyikan benda yang merekam adegan panasnya dengan Claudia.
Revan menatap tak percaya. Bagaimana Claudia bisa mengetahuinya. "Ini boss." diberikannya alat kecil tersebut pada Claudia.
"Kalian sudah menemukan yang lain?" tanya Claudia.
Satu bawahannya memberikan sebuah paper bag berukuran kecil. Claudia menerimanya. Dan mengeluarkan semua isinya, dengan membalikkan paper bag tersebut di atas meja.
"Claudia. Bagaimana mungkin." lirih Revan terkejut.
Kecurigaan Claudia berawal dari beberapa hari yang lalu. Saat keduanya bermalam di sebuah hotel. Claudia yang berada di dalam kamar mandi hendak keluar.
Claudia yang masih membuka sedikit pintunya, melihat gerak Revan gang mencurigakan. Dia berdiam diri, mengintip dari balik pintu hang terbuka sedikit.
Dari sanalah Claudia mengetahui semuanya. Dia segera menyuruh orang untuk menggeledah rumah atau kamar Revan.
Revan memang sangat bodoh. Dia hanya menyembunyikan semuanya di laci kamar. Yang dengan mudah ditemukan oleh orang suruhan Claudia.
Claudia tersenyum simpul. "Revan, ternyata elo sangat mengagumi gue ya, sampai menyimpan semuanya." ujar Claudia disertai kekehan kecil.
Claudia mengambil satu persatu benda tersebut. Merusaknya dengan cara mematahkannya menjadi dua bagian. "Claudia...!!" seru Revan, melihat apa yang dilakukan Claudia.
Claudia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Berdiri, lalu mendekat ke arah Revan. Mencengkeram kedua pipi Revan. "Elo belum tahu siapa gue Revan. Tapi, seharusnya elo tahu, siapa bokap gue."
Dengan kasar, Claudia melepaskan tangannya di pipi Revan. "Gue peringatkan sama elo. Selamanya. Elo hanya akan menjadi budak nafsu seorang Claudia. Tidak lebih." seringai Claudia.
Revan tertawa terbahak-bahak. "Cuih... elo yang akan menjadi budak gue. Elo pikir elo siapa? Berani memerintah seorang Revan...??!" seru Revan meludah ke samping.
Claudia menatap bawahannya. "Nyalakan. Perlihatkan kepada Tuan Muda Revan. Siapa itu Claudia." ujarnya.
Segera bawahan Claudia memasukkan sesuatu ke lubang yang berada di laptop. Menaruh laptop di atas meja, dan memperlihatkan layarnya pada Revan.
Kedua mata Revan melotot tak percaya melihat apa yang ada di layar tersebut. "Tidak mungkin." cicitnya, menggelengkan kepalanya.
Dilayar, nampak jelas sang papa sedang berlutut di hadapan Claudia. Memohon pengampunan, serta meminta kesempatan lagi.
"Elo bisa tanya pada bokap elo. Apa yang terjadi." kekeh Claudia dengan puas.
Claudia kembali masuk ke kamar mandi. Menganti kimononya dengan pakaian. Sementara Revan masih di ikat di kursi, dengan dua orang bawahan Claudia menjaganya.
"Gue harap elo nggak akan salah pilih. Jangan mencoba untuk merusak hubungan gue dengan Jevo. Atau gue akan melakukan sesuatu ke elo. Dan elo akan menyesal seumur hidup." Claudia menepuk pelan pipi Revan.
"Bebaskan dia." perintah Claudia, meninggalkan kamar tersebut seolah-olah tidak terjadi apapun.
Di sebuah ruangan, seorang lelaki berkacamata. sedang duduk dengan seorang lelaki berdiri di hadapannya. Hanya terpisah sebuah meja. "Apa yang kamu dapatkan?" tanya
Diberikannya amplop coklat berukuran sedang pada lelaki di depannya. "Ini,, boss."
Diambilnya dengan segera, lalu dibukanya. Terdapat beberapa foto di dalamnya. "Apa kamu sudah menyelidiki, siapa lelaki yang bersama Bulan?" tanyanya.
Sebab, dalam foto sama sekali tidak memperlihatkan wajah dari lelaki yang semobil bersama dengan Bulan. "Sudah Boss."
Lelaki tersebut meletakkan semua foto tersebut. Memandang ke arah bawahannya. "Lelaki tersebut tinggal di salah satu apartemen mewah di kota ini."
Dia meletakkan sebuah foto di atas meja. Di mana, dirinya juga memfoto mobil Jeno yang masuk ke area apartemen.
"Kamu mengikutinya sampai ke dalam?"
__ADS_1
"Tidak boss, penjagaan di sana sangat ketat. Orang asing dilarang masuk."
"Bodoh. Seharusnya kamu bisa mencari alasan." hardiknya.
"Maaf boss." cicitnya. "Alasan apa
"Apalagi yang kamu dapatkan?"
"Dari plat nomor kendaraannya, mobil tersebut dimiliki oleh seorang lelaki asing. Dan dia di sini baru beberapa hari." jelasnya.
Lelaki asing. Tentu saja Jeno sudah mempersiapkan semuanya dengan teliti dan matang. Semakin ke sini, Jeno semakin paham bagaimana harus mengimbangi Bulan.
Meski Jeno harus berusaha lebih keras lagi, supaya bisa mengangkat dagunya saat bersanding dengan Bulan.
"Lelaki asing." cicitnya berusaha menebak sesuatu.
"Sebaiknya aku tanyakan pada atasannya saja. Siapa tahu, dia mengetahui sosok yang sedang dekat dengan Bulan." ucapnya dalam hati.
Lelaki tersebut menggerakkan tangannya. Menyuruh bawahannya untuk meninggalkan ruangan. "Bulan, aku harus memastikan. Jika dia belum menemukan rekamannya." gumamnya.
Sedangkan di sebuah rumah besar dan mewah, seorang lelaki duduk di ruang kerja dengan ekspresi lelah. "Semoga Bulan mengerti setiap ucapan yang aku katakan kemarin." ujarnya.
Dia adalah atasan dari Bulan. Yang selama ini selalu mengontrol Bulan di setiap pekerjaan. Dan selalu memberikan perintah kepada Bulan untuk setiap misinya.
Tangannya merogoh ke bawah meja. Mengambil sebuah senjata api yang dia letakkan tepat di bawah meja. Kembali mengecek bubuk mesiu yang berada di dalam pistolnya.
Beliau bernafas kasar. Memejamkan kedua matanya sesaat. "Maaf, gara-gara papa kalian menderita." tuturnya menyesal.
Dirinya tidak tahu, jika keputusan hang awalnya terlihat begitu mengiurkan dan menguntungkan, kini malah berbalik bagai bom atom yang siap meledakkannya.
"Apa Bulan akan menolongku, membebaskan istri dan putriku." beliau meraup wajahnya dengan kasar.
Dia awalnya mengaku pada pimpinan kelompoknya, jika ingin berpamitan. Ingin berhenti dari pekerjaannya yang selama ini memberikannya uang dengan jumlah yang besar.
Semua berawal saat sang istri yang mengetahui dari mana dirinya mendapat uang dengan begitu banyak. Padahal sang istri tahu betul, berapa gajinya setiap bulan.
Sang istri menanyakannya. Dan beliau berbicara dengan jujur. Alhasil, sang istri memintanya untuk keluar dari kelompok tersebut. Tentu saja sang istri tahu konsekuensi apa yang akan diterima sang suami.
Dengan mudah, sang pimpinan meloloskan niatnya dengan lancar. Betapa bahagianya dia. Tapi ternyata, semua tidak seperti yang dia bayangkan.
Istri dan anaknya diculik. Keduanya dijadikan alat untuk menekannya. Sehingga, kini dia tidak bisa berbuat banyak. Selain menuruti setiap perintah dari pimpinan.
Setelah menaiki lift, Jeno berjalan ke arah pintu apartemennya. Masuk dengan santai seperti sebelumnya.
"Astaga...!!!" seru Jeno, melihat seseorang di dalam apartemennya. Yang mampu membuat dirinya terkejut.
"Bagaimana kamu bisa berada di dalam?!" tanya Jeno dengan kesal. Mengunci pintu lalu masuk ke dalam.
Jevo duduk dengan santai. "Masuk, ya masuk saja. Kenapa bingung." sahut Jevo sekenanya.
Jeno melepas masker serta topi yang dia pakai. Menaruhnya di atas meja. Jevo hanya melihatnya dengan tatapan aneh.
Belum selesai, Jeno melepaskan dua jaket yang membungkus badannya. "Astaga, elo baik-baik sajakan?" tanya Jevo heran.
Jeno hanya diam. Duduk di samping Jevo. Melepaskan sepatu di kakinya. "Jennn,,,, ada apa dengan elo?" cicit Jevo, melihat sepatu yang Jeno pakai.
"Ada apa elo ke sini?!" bukannya menjelaskan, Jeno malah balik bertanya pada Jevo.
Jeno berjalan ke dapur. Kerongkongannya terasa kering. Sementara Jevo, mengekor kemana Jeno bergerak. "Apa elo dan Bulan mempunyai hubungan?" tanya Jevo langsung ke intinya.
Jeno tampak tenang. Dia tetap meneruskan meneguk air dingin di dalam botol. "Segarnya." cicitnya, setelah membasahi kerongkongannya dengan air dingin.
Jevo tampak kesal. Jeno malah mengacuhkan pertanyaannya. "Jeno...!!" geramnya.
"Apa?" tanya Jeno, menutup kembali tutup botol airnya.
"Elo sama Bulan. Apa kalian mempunyai hubungan?"
"Ya punyalah. Dia guru kita bukan. Dan kita muridnya." jelas Jeno masih belum bisa jujur.
"Jeno, gue bukan anak kecil. Gue melihat tanda di leher Bulan."
Jeno hanya mencebik. Seakan pernyataan Jevo sama sekali tidak penting. Meski kenyataannya, Jeno terkejut, mengetahui saudara kembarnya mengetahui tanda di leher Bulan.
"Mata elo memang jeli soal hal seperti itu." tukas Jeno.
"Jeno... Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Jevo terlihat khawatir.
Jeno duduk di kursi yang ada di dapur. Menyenderkan punggungnya seraya bersedekap dada. "Apa elo pikir Bulan akan mau melakukan hal seperti itu?" bukannya menjelaskan apa yang ingin diketahui Jevo, Jeno malah bertanya pada saudara kembarnya tersebut.
__ADS_1
"Gue sengaja melakukannya. Hanya untuk membantu Bulan membuat alasan." lanjut Jeno.
"Elo nggak berbohongkan?" tanya Jevo menekankan.
"Ckk,,, untuk apa gue berbohong. Lagian elo tahu sendiri bagaimana Bulan. Yang ada gue di pukul lebih dulu, sebelum melakukannya."
Jeno tidak mengatakan jika dirinya pernah mencium Bulan beberapa kali. Tentu saja, Jeno tidak ingin saudara kembarnya menilai Bulan sebagai perempuan yang gampangan.
Apalagi jika sampai Jevo tahu jika dirinya dan Bulan pernah tidur seranjang dengan hanya memakai pakaian dalam. Behh,,,, pasti Jevo langsung menilai buruk Bulan.
"Bulan nerima elo?"
Jeno mencebik. "Gue juga nggak tahu. Dia itu penuh teka-teki. Misterius banget."
"Apa jangan-jangan Bulan sudah punya pacar?!" tebak Jevo.
Jeno langsung mengubah posisi duduknya menjadi tegap. "Jangan bercanda. Elo mau jatuhin semangat guekan?" tuduh Jeno.
Sontak saja Jevo langsung tertawa puas melihat ekspresi Jeno. Ini pertama kalinya Jevo melihat Jeno berekspresi seperti itu.
"Oke. Kita berandai-andai." ujar Jevo menjeda kalimatnya sejenak.
Menatap Jeno dengan intens, lalu melanjutkan perkataannya. " Seandainya Bulan juga memiliki perasaan yang sama kayak elo. Tapi papa sama mama tidak bisa menerima Bulan, bagaimana?" tanya Jevo mode serius.
"Ya... alasannya apa?"
"Perbedaan diantar kalian benar-benar terlihat dengan jelas. Dari segi umur, juga pekerjaan Bulan."
"Jika ternyata Bulan juga mencintai gue, gue akan mengajak dia berjuang bersama. Untuk mendapat restu papa sama mama."
"Elo sudah tahu orang tua Bulan? Saudaranya mungkin?" tanya Jevo.
Ekspresi Jeno berubah langsung menjadi bete. Jevo menanyakan keluarga Bulan, membuat Jeno teringat jika malam ini Bulan akan menemui keluarganya. Tanpa dirinya.
"Elo kenapa?" tanya Jevo.
"Malam ini Bulan akan menemui keluarganya." jelas Jeno dengan malas.
"Emmm... lalu?"
"Ckkk... dasar nggak peka." gumam Jeno bertambah kesal.
Jevo hanya menaikkan sebelah alisnya, menggeleng pelan mendengar ucapan dari Jeno yang malah membuatnya bingung.
"Gue mau ikut. Tapi diperbolehkan." ujar Jeno mengadu layaknya anak kecil.
"Memang kenapa?"
Jeno mengangkat tangannya ke atas, meremas sendiri telapak tangannya, seakan dia ingin meremas wajah Jevo. "Masih tanya kenapa..!! Nanti malam gue dapat misi. Paham..!!" ungkap Jeno.
Jeno sebenarnya merasa bersalah dan tidak enak kepada saudara kembarnya. Selama ini, mereka tidak pernah ada rahasia. Selalu berbagi cerita.
Tapi kali ini, Jeno terpaksa merahasiakan beberapa hal terkait Bulan. Dirinya hanya memegang kepercayaan yang Bulan berikan kepadanya. Dan tidak ingin merusak kepercayaan tersebut.
"Yaelaa... gue pikir apa. Gitu saja repot." ejek Jevo tertawa renyah.
Mulut Jeno komat kamit, dengan ekspresi kesalnya. Karena Jevo mengejeknya. "Gue akan menggantikan elo nanti malam." tukas Jevo.
"Enak saja. Elo mau ambil kesempatan berdekatan dengan Bulan?! Nggak bisa." seru Jeno salah paham.
Jeno mengira jika Jevo akan mengantar Bulan menemui keluarganya. "Bego... dipelihara. Sumpah,,, ternyata benar. Orang jatuh cinta itu bego." kesal Jevo.
Jevo menatap jengah bercampur kesal pada Jeno. "Gue akan menggantikan misi elo. Jadi elo bisa pergi sama Bulan. Paham..!!" bentak Jevo naik pitam.
Jeno tersenyum. Berdiri dan langsung memeluk Jevo. "Semoga amal elo diterima di sisi Tuhan." celetuk Jeno.
"Gue masih kepengen hidup bangsat." kesal Jevo, saat Jeno asal omong.
Jeno menepuk keras pundak Jevo. "Iya, iya. Makasih."
cup... cup... Jeno mencium kening Jevo.
Jevo segera mendorong tubuh Jeno. Mengusap keningnya. "Jijik Jeno. Elo apa-apaan sih. Gue normal." geram Jevo.
"Gue juga normal. Gue cuma mengucapkan terimakasih."
"Ya,,, paham. Tapi nggak udah main nyosor. Turun harga diri gue." ketus Jevo merasa sebal.
"Senangnya hatiku." cicit Jeno tersenyum lebar.
__ADS_1
Jevo juga ingin tersenyum melihat saudara kembarnya bahagia. Tapi dia menahannya. Dia ingin terlihat kesal atas kelakuan Jeno pada dirinya.