
"Aaw...!! Sakit..!!" seru Jeno dengan suara tertahan, saat Bulan memukul lengannya, begitu pintu dia buka.
Bulan memegang lengan Jeno, menyeretnya masuk ke dalam. "Sakit." cicit Jeno dengan wajah terlihat memelas, sembari mengusap lengannya yang dipukul Bulan barusan sembari mengerucutkan bibirnya. Terlihat menggemaskan. Padahal Bulan hanya memukulnya pelan.
Bulan menghela nafas. Sungguh rasanya sangat menjengkelkan. Jeno kekeh ingin masuk ke dalam rumah. Hanya untuk bertemu dengan dirinya. Padahal, pagi tadi mereka baru saja bertemu.
Demi apa.... Jeno mengatakan jika dirinya masih merindukan kebersamaan dengan Bulan. Benar-benar membuat Bulan emosi seketika.
Bulan sudah menyarankan untuk melakukan video call saja, tapi dasar Jeno. Dia menolak dengan tegas. Beralasan jika hanya melihat dari layar ponsel tak akan mempu membuat rasa kangennya menghilang.
Jeno kekeh akan tetap masuk, bagaimanapun caranya. Bahkan mengancam Bulan. Sungguh, membuat Bulan frustasi dengan keinginan Jeno tersebut.
Alhasil, Bulan menyuruh Jeno masuk melalui jalan di belakang rumah. Melompati pagar tembok di belakang rumah. Beruntung, belakang rumah yang Bulan tempati adalah lahan kosong.
Dimana hanya ditumbuhi tanaman liar serta beberapa pohon pisang, dan pohon ketela yang memang sengaja ditanam oleh pemilik tanah.
Jeno menaiki pagar tembok tersebut untuk dapat masuk ke dalam rumah Bulan. Yang akhirnya masuk lewat pintu belakang. "Puas..!!" bentak Bulan heran dengan sikap Jeno.
Jeno mengangguk layaknya anak kucing. Sangat manis dan menggemaskan. "Apalagi?" tanya Bulan, melihat Jeno menggaruk badan dan lehernya.
"Gatal." cicit Jeno membuka jaketnya.
Kedua mata Bulan membulat sempurna melihat leher Jeno yang memerah. "Astaga. Kamu kenapa. Lihat kulitmu." tukas Bulan langsung khawatir.
"Rasanya gatal sekali." ujar Jeno tetap menggaruk bagian badannya yang terasa gatal.
Bulan memegang lengan Jeno. "Stop,,,!! jangan digaruk."
"Jangan pegang, nanti kamu ketularan." Jeno menyingkirkan lengannya dari tangan Bulan.
"Ckk,,, sebaiknya kamu mandi. Biar aku carikan minyak." ujar Bulan.
Jeno mengangguk. Mengekor di belakang Bulan. Menahan ras gatal di badannya. "Mungkin terkena ulat bulu. Kamu sih, masa suruh aku lewat sana." oceh Jeno.
"Bisa-bisanya nyalahin aku. Lagian salah sendiri. Ngapain kekeh mau masuk. Lihat akibatnya. Ngeyel." sahut Bulan tak terima disalahkan oleh Jeno.
"Bukan sayang,,, aku nggak nyalahin kamu kok. Yang salah mereka berdua. Ngapain terus di depan rumah kamu. Nggak pergi-pergi." ujar Jeno tak ingin Bulan ngambek. Dan malah mengusirnya.
Bulan membuka pintu kamarnya. "Jangan banyak bicara. Mandi sana." ketus Bulan.
"Iya." sahut Jeno layaknya anak kecil yang sedang kena marah orang tuanya.
Bulan terpaksa membiarkan Jeno masuk ke dalam kamarnya. Mandi di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Semua itu karena kamar lainnya belum Bulan bersihkan. Bulan terlalu sibuk beberapa hari ini dengan berbagai urusan.
Sehingga hanya membersihkan tempat atau ruangan yang Bulan pikir memang penting untuk dia bersihkan. Hal tersebut Bulan lakukan untuk menghemat waktu dan juga tenaga.
Dan sampai detik ini, tak ada lagi orang yang dikirim atasan Bulan untuk membersihkan rumah Bulan. Bagi Bulan, tak masalah. Sebab dirinya malah semakin leluasa bertindak. Tanpa harus merasa waspada akan mata orang lain.
Jeno mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Bulan hanya bisa menghela nafas, menahan rasa jengkel karena ulah Jeno.
"Niat istirahat, malah ada pengganggu." ujar Bulan sembari mencari minyak untuk mengurangi gatal di badan Jeno.
Meski rasanya sangat jengkel bercampur kesal. Tapi Bulan tetap saja tak tega melihat tubuh Jeno yang penuh bintik atau bentol-bentol merah, dan pastinya terasa gatal.
Bulan menaruh minyak tersebut di atas meja. Lalu dia keluar ke dapur. Mencari obat yang bisa Jeno minum. "Ini dia. Untung masih ada." tukas Bulan menemukan obat gatal yang pernah dia minum, karena dirinya juga pernah mengalami hal yang sama seperti Jeno, saat melewati belakang rumah.
Sebelum kembali masuk ke dalam kamar, Bulan kembali mengintip dari balik tirai jendela. Memastikan keberadaan dua lelaki yang sempat berada di depan rumahnya.
Bulan tersenyum. "Betah sekali mereka di sana." cicit Bulan, yang masih melihat kedua lelaki di depan rumahnya. Masih memantau rumah Bulan.
Bulan merasa sedikit tenang, sebab dia sudah memberitahu Gara. Menyuruh Gara untuk mencaritahu siapa keduanya.
"Semoga Gara bisa mencaritahu." ujar Bulan, yang hanya mengandalkan nomor motor mereka. Dimana Jeno yang memberitahu huruf dan angka di plat motor tersebut dirinya sebelum dia masuk ke dalam rumah Bulan.
Bulan curiga, jika mereka adalah anak buah dari rekan atasan Bulan. "Apa mereka mencari rekaman video tersebut." gumam Bulan.
Dimana Bulan sudah menggenggam dua video di tangannya. Satu video dia dapatkan dari markas miliknya, hingga dia hampir kehilangan nyawa karena harua bertarung dengan serigala.
Dan video kedua dia dapatkan dengan mudah. Sebab atasannya sendiri yang memberikannya pada Bulan.
Lamunan Bulan buyar, saat mendengar suara pintu terbuka. Bulan memastikan pintu depan terkunci, dan segera dia kembali ke dalam kamar. Menebak jika Jeno sudah selesai membersihkan diri.
Glek... Langkah Bulan terhenti di ambang pintu melihat apa yang tersaji di depan kedua matanya. "Bisa-bisanya." geram Bulan membuang pandangan ke arah lain.
__ADS_1
Jeno keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pusar, dan menutupinya sampai paha. Membuat Bulan dengan jelas melihat tubuh Jeno yang sangat ingin dia sentuh.
Jeno tersenyum samar. Otak liciknya memang sudah bekerja semenjak dirinya berada di dalam kamar mandi. "Sayang,,, gatal banget. Kamu nggak punya minyak." rengek Jeno terdengar manja.
Bulan masuk ke dalam kamar. Dengan tetap membiarkan pintu kamar terbuka. "Kenapa nggak pakai baju?!" tanya Bulan dengan ekspresi kesal.
"Nanti aku gatal lagi. Siapa tahu bulu ulatnya masih nempel di pakaian aku. Percuma dong aku mandi." ujar Jeno beralasan.
Bulan mengambil minyak, memberikan pada Jeno. "Mau kemana?" tanya Jeno memegang lengan Bulan.
"Ambil baju buat kamu." tukas Bulan.
Jeno mengerutkan kening. "Baju, buat aku." gumam Jeno.
"Baju laki-laki?" tanya Jeno dengan nada tak suka, menatap Bulan yang tengah mencari pakaian di dalam almari.
"Bukan. Aku nggak punya pakaian lelaki." jelas Bulan masih membelakangi Jeno.
Jeno merasa plong dan tersenyum samar. Dirinya mengira jika Bulan menyimpan pakaian lelaki. Yang artinya, jika Bulan pernah membawa lelaki untuk tinggal di rumah ini. Tapi ternyata tidak. Cukup melegakan untuk Jeno.
"Lalu pakaian siapa?" tanya Jeno, duduk di pinggir ranjang tempat tidur Bulan.
Jeno menatap ranjang yang dia duduki. Tampak berantakan. Dan juga ada sebuah bantal yang basah. Langsung Jeno menatap rambut Bulan, yang ternyata masih sedikit basah.
Bulan meletakkan sepasang pakaian olah raga di samping Jeno. "Milik aku. Kamu muat kok. Itu ukuran besar." cicit Bulan.
"Iiissshhhh.... gatal." keluh Jeno kembali menggaruk badannya.
Bulan menaikkan sebelah alisnya. "Tadi perasaan kamu sudah nggak garuk-garuk. Itu juga, nggak merah kayak tadi." tukas Bulan.
"Tapi gatal banget sayang." rengek Jeno dengan manja. Padahal itu hanya alasan Jeno saja agar mendapatkan perhatian dari Bulan.
"Ya sudah, olesi minyak di tempat yang gatal." sahut Bulan.
"Oleskan." pinta Jeno. "Ayo." Jeno memberikan minyak tersebut pada Bulan.
"Ckkk..." decak Bulan dengan berat menerima minyak tersebut.
"Duduk yang benar." tegur Bulan, takut jika ada sesuatu yang tidak boleh Bulan lihat, tapi malah Bulan lihat.
Jeno tersenyum samar. Membenarkan posisi handuknya. "Iya." cicit Jeno.
Bulan menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. "Eeeuugghhh..." lenguh Jeno, saat jari Bulan menyentuh bagian dadanya.
Bulan melirik ke arah Jeno yang memejamkan kedua matanya lalu, kembali mengolesi minyak pada tubuh Jeno.
Jeno sedikit membuka kedua matanya. Memandang ke arah Bulan yang sedang mengoleskan minyak pada kulitnya. Glukkk...... Jeno melihat sesuatu pada tubuh Bulan yang seharusnya tak dia lihat, karena Bulan sedikit membungkuk.
Jeno segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sabar Jeno,,, tahan. Sabar, elo cinta sama Bulan. Bedakan. Cinta melindungi. Jangan rusak. Itu hanya nafsu bejat." batin Jeno menceramahi dirinya sendiri dengan sok bijak.
Karena menghindarkan kedua matanya dari pandangan yang menurutnya hanya akan membuat dirinya merasa menginginkan hal lebih, tanpa sadar Jeno juga mengubah posisi duduknya.
Tiiitt..... Tangan Bulan terhenti. Butuh waktu beberapa detik untuk Bulan mengalihkan pandangannya. "Aaaw...." seru Jeno saat tangan Bulan memukul pahanya dengan keras.
"Duduk yang benar...!!" seru Bulan membuang muka. Kedua pipinya bahkan sudah seperti buah tomat yang matang.
"Astaga...!! maaf." Jeno segera menyingkap handuk yang dia pakai.
"Pakai baju sana..!" bentak Bulan tanpa memandang ke arah Jeno.
Jeno tersenyum samar. "Iya sayang, gitu saja marah. Kamu perempuan pertama loh, yang lihat milik aku." bisik Jeno.
"Jeno...!!" seru Bulan.
Jeno segera berdiri, menyambar pakaian yang ada di sampingnya dan masuk ke dalam kamar mandi. "Tuhan,,,, bisa-bisanya gue lihat milik Jeno." cicit Bulan merasa kesal bercampur malu.
Bulan terdiam. Menatap ke pintu kamar mandi hang tertutup. "Besar juga. Padahal lagi off." batin Bulan menggigit bibirnya bagian bawah.
"Hah...." Bulan melongo, menyadari apa yang baru dia ucapkan dalam hati.
Plak,, plak,,, plak,, perlahan Bulan menampar kedua pipinya secara bergantian. "Huuffttt.... sadar Bulan, sadar. Elo harusnya lebih waras. Karena usia elo lebih tua dari Jeno." cicit Bulan.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Jeno malah bertingkah absurd. Dipandanginya alat vitalnya sendiri. "Elo pasti senangkan, karena Bulan melihat elo. Hayo ngaku,,, iyakan."
Segera Jeno memakai pakaian yang diberikan Bulan. "Besar juga." cicitnya merasa nyaman memakai seragam olah raga milik Bulan.
__ADS_1
Saat Jeno keluar dari kamar, Jeno melihat Bulan fokus dengan ponselnya. "Lihat apa?" tanya Jeno duduk di samping Bulan.
"Ini." sahut Bulan tanpa memandang ke arah Jeno.
Jeno memeluk Bulan dari samping. Meletakkan dagunya di pundak Bulan. "Aku sudah pakai baju. Nggak bakal kelihatan." goda Jeno.
"Apa sih." gerutu Bulan menahan senyumnya.
Cup,,, cup,,,, Jeno berkali-kali mengecup pipi mulus Bulan. "Kok rambut kamu masih basah?" tanya Jeno, dengan memegang rambut Bulan.
Bulan mengangguk. "Habis mandi langsung tidur."
Jeno bisa menebak jika Bulan sangat mengantuk, sehingga mengabaikan rambutnya yang basah dan memilih untuk memejamkan kedua matanya ketimbang mengeringkan rambutnya. "Punya pengering rambut?"
"Ada. Di laci meja." sahut Bulan menatap ke arah dimana benda tersebut berada.
Jeno mengambilnya. "Sini." Jeno mengulurkan tangannya. "Ayo sini....." ajak Jeno.
"Kemana?"
"Duduk sini. Aku keringkan rambut kamu dulu. Lalu tidur lagi." tukas Jeno.
Bulan beranjak dari duduknya. Berpindah tempat duduk di kursi depan Jeno. "Kamu bisa sakit, jika tidur dengan rambut basah." tutur Jeno sembari mengeringkan rambut Bulan.
Bulan tersenyum samar mendapat perlakuan manis dari Jeno. "Bocah ini, kenapa gue terasa nyaman jika berada di dekatnya." batin Bulan mengungkapkan isi hatinya.
Tak memerlukan waktu lama untuk mengeringkan rambut Bulan, pasalnya rambut Bulan tidak terlalu basah. "Sekarang gantian. Keringkan rambut aku." pinta Jeno.
Bulan mendongakkan kepalanya, menatap Jeno dengan tatapan tak suka. Jeno meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Bulan. Membuat Bulan terus mendongakkan kepala.
Cup,,, cup,,, cup,,,, Bulan mendorong wajah Jeno, saat tiba-tiba Jeno menghujami wajahnya dengan kecupan singkat berkali-kali.
"Jeno,,, geli....!!" seru Bulan sembari tertawa.
Jeno tersenyum. "Rasanya sungguh senang, hanya melihat kamu tersenyum." batin Jeno.
Bukannya berhenti, Jeno malah semakin gencar menciumi seluruh wajah Bulan. Membuat Bulan berteriak, meminta Jeno melepaskannya.
"Sudah..." rengek Bulan.
Deg,,,,, suara rengekan Bulan membuat desiran darah di tubuh Jeno mengalir dengan cepat. "Jeno." ujar Bulan, dimana Jeno memeluknya dari belakang dengan erat.
"Lepas. Duduklah. Biar aku keringkan rambut kamu." pinta Bulan.
Jeno menuruti perkataan Bulan. Duduk dengan tenang. Membiarkan Bulan mengeringkan rambutnya. "Kamu sudah makan?" tanya Bulan disela-sela mengeringkan rambut Jeno.
"Sudah." sahut Jeno. Meski dirinya hanya makan beberapa suap nasi.
"Minumlah obat. Supaya gatalmu segera sembuh." tukas Bulan.
Jeno tidak segera menjawab apa yang dikatakan Bulan. Sebab dirinya sudah tidak merasakan gatal di tubuhnya lagi.
"Sudah." ujar Bulan, mematikan pengering rambutnya.
"Aaaaww..... Jeno...!!" seru Bulan, saat Jeno menggendongnya. Membawanya ke ranjang dan membaringkan tubuh Bulan dengan pelan.
Bulan hanya diam. Mengamati apa yang akan dilakukan Jeno. "Tidurlah." Jeno berbaring di samping Bulan sembari memeluknya.
"Jeno,,, tidak seharusnya ki...." ucap Bulan.
"Hussstttt. Diamlah. Kamu pasti capek. Beristirahatlah." ujar Jeno memotong perkataan Bulan.
Bulan menoleh ke samping. Ditatapnya Jeno yang sudah memejamkan kedua matanya. Entah Jeno sudah tertidur, atau hanya memejamkan kedua matanya. Bulan tak tahu.
Bulan perlahan mengubah posisi tidurnya. Membuat dirinya semakin leluasa menatap wajah Jeno. Dengan lembut, Bulan membelai pipi Jeno.
Cup,,,, membacanya perlahan.
Bulan tersenyum. Merapatkan tubuhnya, masuk ke dalam pelukan Jeno. "Wangi ini. Sungguh menenangkan." batin Bulan, memejamkan kedua matanya.
Jeno kembali membuka kedua matanya. Seandainya bisa dilihat, ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam kamar Bulan.
"Tenang saja sayang. Aku akan menjaga kamu. Karena aku sangat mencintai kamu." batin Jeno. Berjanji pada hatinya untuk tidak melakukan hal lebih pada Bulan, selama hubungan mereka belum resmi dimata hukum dan agama.
Jeno mencium pucuk kepala Bulan. Dan kembali memejamkan kedua matanya. Bulan merasakan apa yang Jeno lakukan. Hanya tersenyum tanpa ingin membuka kedua matanya yang sudah terpejam.
__ADS_1
Dua insan manusia berbeda jenis kelamin tampak tertidur lelap dengan tenang saling berpelukan. Keduanya seolah melupakan semua permasalahan yang mereka hadapi saat ini.
Masuk ke dalam mimpi dengan damai. Mengistirahatkan badan serta pikiran mereka dari hiruk pikuk kebisingan dunia.