
"Maaf tante, saya hanya ingin tante tidur dengan nyaman." tutur Jeno tersenyum, menatap mama dari Rio tertidur di kursi mobil belakang karena obat bius yang dia berikan.
Dengan terlelapnya mama Rio, membuat Jeno dengan mudah membawa beliau ke tempat yang telah mereka sepakati.
Jeno tidak melajukan mobilnya dengan kencang. Dia sesekali menatap ke belakang lewat kaca pantau. Menunggu kemunculan saudara kembarnya. Jevo.
Jujur saja, Jeno merasa khawatir. Dia cemas jika terjadi sesuatu pada saudara kembarnya. Bukannya Jeno tidak percaya dengan keahlian bela diri dari Jevo.
Sebab Jevo memang terkenal biang onar dan suka berkelahi. Karena itulah Jeno tidak terlalu khawatir. Tapi kali ini berbeda.
Orang yang dilawan Jevo adalah seorang psikopat. Yang sudah menghabisi banyak nyawa tanpa rasa belas kasihan, meski hanya sedikit.
"Mana Jevo,,, kenapa lama sekali." ucapnya terasa resah.
Jeno menghentikan mobilnya. Dia dengan resah menatap ke belakang lewat kaca pantau. "Apa gue kembali saja ya." lirih Jeno merasa tak tenang hatinya.
Jeno keluar dari dalam mobil. Pikiran yang tadi ingin cepat segera sampai di villa Mikel lenyap sudah. Berganti dengan perasaan cemas karena saudara kembarnya belum terlihat. "Sebaiknya gue tunggu sebentar lagi."
Jeno menyenderkan badannya ke badan mobil bagian samping. Berkali-kali Jeno menghembuskan nafas panjang.
"Memang benar. Menunggu memang sangat meresahkan. Membuat perasaan tak tenang." tukas Jeno berdiri tegak sembari berkacak pinggang.
"Sebaiknya gue kembali saja." ujar Jeno memutuskan untuk kembali ke tempat dimana Jevo dan Timo berada.
Baru saja Jeno memegang handle mobil, ingin masuk ke dalam mobil. Tampak sebuah motor melaju ke arahnya.
Jeno tersenyum lega. Dia yakin jika itu adalah saudara kembarnya. Jevo. "Kenapa elo berhenti? Ada masalah sama mobil elo?" tanya Jevo, menghentikan motornya di samping mobil Jeno.
"Nggak ada." sahut Jeno. Masuk kembali ke dalam mobil tanpa mengatakan alasan dia menghentikan laju mobilnya.
"Aneh." cicit Jevo.
Jeno mulai menyalakan mesin mobilnya, melajukan kembali mobilnya ke tempat yang sudah disepakati bersama. Dengan Jevo mengekor di belakang mobil Jevo, menaiki motornya sendiri.
Kini, Jeno benar-benar tenang mengemudi. Kembali fokus ke tujuan awalnya. Yakni villa milik Mikel.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Rio. Seluruh pembantu yang mendapatkan tembakan bius dari Bulan mulai tersadar.
Dua pembantu yang bangun lebih dulu segera membangunkan rekannya yang lain. "Siapa sebenarnya tadi?" tanya seorang pembantu setelah semuanya tersadar.
Dimana dirinyalah yang berteriak. Karena melihat dua orang asing turun dari tangga. Dengan keadaan salah satu dari mereka yang sangat mengerikan.
Dia hanya melihat Mikel dengan wajah tertutup masker, sedang membantu Rio menuruni anak tangga. Tanpa melihat keberadaan Bulan. Karena Bulan sudah tak berada di anak tangga, tapi berada di dekat almari.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi?" tanya salah satu dari tiga pembantu yang tertembak bius oleh Bulan. Sebab ketiganya tak melihat sosok Mikel dan Rio.
"Aku melihat ada dua orang yang menuruni anak tangga." jelasnya.
"Siapa?"
"Entahlah. Satu memakai penutup wajah. Satunya lagi...." dia tak meneruskan kalimatnya. Sebab dirinya juga merasa tak bisa mendeskripsikan penampilan Rio.
"Satunya bagaimana?" tanya rekannya dengan penasaran.
Dia tampak sedang berpikir. "Sepertinya dia tidak asing." cicitnya.
Seorang pembantu termuda. Sekaligus perempuan yang selalu menjadi pemuas nafsu Timo hanya diam. Sebab dirinya belum tahu, jika yang dimaksud rekannya adalah Rio yang setiap hari selalu dia kunjungi untuk dia berikan makan.
Pembantu tersebut tahu, dan mengetahui jika Rio yang mengaku sebagai majikan mereka adalah Timo.
Hanya saja, Timo juga menggunakan topeng wajahnya, sehingga sang perempuan mengetahui jika lelaki yang selalu bergumul dengannya di atas ranjang adalah lelaki tampan. Bukan lelaki dengan wajah penuh bekas sayatan.
__ADS_1
Dirinya tak sengaja melihat Timo melepaskan topeng Rio saat berada di kamar. Tapi Timo yang mengetahuinya segera memakai topeng wajahnya sendiri.
Tapi dia memohon dan berjanji pada Timo untuk tutup mulut. Dia bersumpah akan menjadi bawahan Timo yang setia. Dan tetap bekerja di rumah ini.
Awalnya, dia hanya berpura-pura memohon pada Timo untuk tidak dipecat. Dia ingin mengatakan apa yang dia lihat pada Nyonya Besar.
Tapi semua berubah, saat Timo begitu royal padanya. Timo selalu memberikan uang untuknya. Dan tentu saja dia menerimanya dengan senang.
Pasalnya, dia adalah seorang janda. Yang membutuhkan uang banyak untuk keluarganya yang berada di desa.
Karena kebaikan Timo padanya. Niatnya menjadi berubah. Niat awal untuk mengungkap semuanya pada Nyonya Besar lenyap. Berganti dengan kesetiaan yang sesungguhnya.
Apalagi saat Timo merayunya. Membawanya ke atas ranjang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Sebagai seorang perempuan yang lama menjadi janda, dan telah lama disentuh seorang lelaki, tentunya dia tergoda saat ada lelaki tampan yang mendekatinya.
Selain itu, dia mendapat tambahan uang yang lebih besar setelah menjadi pemuas nafsu Timo. Semakin lama dia semakin terbuai dengan uang yang diberikan Timo.
Meski dirinya harus merahasiakan hubungan keduanya dari semua orang yang berada di dalam rumah. Termasuk Nyonya Besar.
Hingga tiba waktunya, Timo membawanya ke sebuah ruangan rahasia. Dimana ada Rio di dalamnya. Dengan keadaan yang mengenaskan.
Pertama kali melihat dia syok dan ketakutan. Tapi lagi-lagi Timo memberikan pundi-pundi uang padanya, jika dia mau memberi makan serta Rio setiap hari.
Tanpa banyak bertanya, dia setuju dengan apa yang diperintahkan oleh Timo. Asal dirinya mendapat uang lebih banyak lagi.
Hanya menutup mulut. Berpura-pura tidak tahu. Menjadi teman olah raga Timo di atas ranjang. Serta memberikan makan dan minum setiap hari pada Rio.
Dia sudah mendapatkan banyak uang. Bahkan uang yang dia dapat melebihi gajinya setiap bulan. Dimana dia bekerja sebagai pembantu di rumah itu juga.
Tak seperti yang Bulan duga, mereka tak segera menghubungi Rio palsu begitu tersadar dari biusnya. Mereka malah berbincang. Menebak siapa dia orang yang menuruni anak tangga yang dilihat oleh salah satu dari mereka.
"Tunggu, ciri-ciri orang yang satunya lagi bagaimana?" tanya pembantu yang menjadi teman ranjang Timo.
Semua menatapnya dengan aneh. Kenapa tiba-tiba dia bertanya dan terlihat penasaran, dengan raut wajah sangat khawatir.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari kami?" tanya salah satu dari pembantu.
Sebab mereka sering melihatnya keluar masuk ke ruangan yang hanya Rio sendiri yang boleh masuk dengan bebas. Membawa nampan berisi makan serta minum saat masuk.
Tapi setelah keluar, nampan tersebut hanya berisi wadahnya saja. Tanda ada isinya. "Kenapa kalian...!! Sebaiknya kita segera menghubungi Den Rio. Memberitahu apa yang terjadi." serunya mengalihkan perhatian semua orang.
Tentunya dia juga tak mau semua yang dia lakukan diketahui oleh orang lain. Apalagi mengenai Rio asli yang ternyata selama ini masih hidup. Dan berada di sebuah ruangan. Dimana dia diperlakukan sangat tak layak.
Tak ada satupun dari rekan sesama pembantu yang menyahuti ucapannya. Segera dia pergi. Tentu saja untuk menghubungi Timo.
"Apa jangan-jangan yang dia lihat itu Rio." batinnya menebak.
Jujur, rasa takut seketika menyeruak. Seandainya benar jika ternyata Rio berhasil keluar dari rumah ini. Itu artinya malapetaka sedang mendekat padanya.
"Lihat. Dia memang sangat mencurigakan." tutur pembantu lain, menatap rekannya yang menjadi teman ranjang Timo menjauh dari mereka.
"Benar. Apalagi aku pernah melihat di lehernya ada tanda merah yang,,,, kalian tahu sendirilah artinya apa." sahut yang lain, tak menjelaskan secara terperinci.
"Satu lagi. Hanya dia pekerja di rumah ini yang sama sekali tidak pernah mendapat marah dari Den Rio." timpal pembantu satunya lagi.
"Sudah. Sebaiknya kita segera membersihkan sisa pecahan lampu tadi. Pasti kita akan kena marah, jika den Rio datang." ujar yang lain.
"Apalagi Nyonya Besar juga pulang." tukas yang lain.
Tanpa mereka tahu, jika sang majikan tidak akan pulang ke rumah untuk malam ini. Melainkan pergi ke tempat lain. Untuk bertemu sang putra.
Sesuai apa yang diinginkan Timo. Jika mama dan anak akan bertemu. Tapi dengan cara lain. Bukan cara yang diharapkan Timo. Melainkan cara yang di inginkan oleh Bulan.
__ADS_1
Sedangkan pembantu yang mengetahui rahasia Timo, segera menelpon Timo. Memberitahukan apa yang baru saja terjadi di rumah.
Entah apa yang Timo katakan. Begitu dia menutup panggilan teleponnya,dia segera berlari menaiki anak tangga. Tentu saja tujuannya adalah ruang rahasia. Dimana Rio berada.
Memastikan apakah Rio masih berada di dalam. Atau orang yang keluar dari rumah tadi adalah benar Rio.
"Lihat, dia pasti masuk ke ruangan itu." lirih pembantu lain, yang melihat dia berlari menaiki anak tangga.
"Biarkan saja. Kita selesaikan pekerjaan kita." tukas rekannya yang lain, dimana mereka semua membersihkan sisa pecahan kaca lampu. Supaya lekas bersih. Sehingga mereka bisa segera mengerjakan yang lain.
"Tuhan itu tidak tidur. Jika kita melakukan kebaikan, pasti kita juga akan mendapatkan hal yang baik. Juga sebaliknya. Jadi jangan khawatir." ujar pembantu yang lain.
Sang pembantu yang diminta Timo mengecek keberadaan Rio berjalan di lorong menuju ruangan di mana Rio disekap dengan perasaan takut. "Semoga bukan Den Rio." ucapnya dalam hati.
Kakinya terasa lemas, jantungnya berdegup tak karuan melihat Rio tak lagi ada di tempatnya. "Bagaimana bisa." cicitnya, melihat tembok di sebelahnya hancur.
Menjadikan sebuah lubang yang memperlihatkan kamar Rio. Dia melangkahkan kaki mundur, hingga tubuhnya membentur tembok.
Perasaan takut tiba-tiba menyeruak di dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Apalagi selama ini dia yang selalu masuk ke dalam ruangan ini. Dan berbicara dengan Rio asli. Di saat Rio menanyakan kabar sang mama.
"Den Rio tahu, jika aku bersekongkol dengan Timo. Dan sekarang, Den Rio bebas. Pasti sebentar lagi.... Tidak..!!" serunya dengan raut wajah ketakutan.
"Kabur. Ya... Aku harus segera pergi meninggalkan rumah ini secepatnya." tukasnya, memikirkan keselamatannya.
Dia bahkan tidak berpikir, jika orang yang selama ini dia layani di atas ranjang. Dan selalu memberikan dia uang dalam jumlah banyak, lebih mengerikan dari pada berhadapan dengan hukum.
Tanpa berpikir panjang, dia segera keluar dari ruangan tersebut. Bergegas menuju ke kamarnya. "Aku harus segera pergi, sebelum Timo sampai." cicitnya.
Diambilnya barang yang dia rasa penting. Dimasukkannya ke dalam tas kecil yang dia selempangkan ke pundaknya. Tak ada sepotong baju yang dia bawa.
"Oke,,, tenang. Tenang." dia menenangkan diri. Tentunya para rekan sesama pekerja di rumah akan tanya kemana dia pergi. Dan dia membutuhkan alasan atas kepergiannya di malam ini.
"Tunggu. Lewat belakang saja." ujarnya, supaya dia tidak bertemu dengan rekan kerjanya yang sedang berada di ruang tengah.
Dan benar saja. Semua aman. Dia keluar dari rumah melewati pintu belakang dengan lancar. Dan tujuannya sekarang adalah kampung halamannya.
Tapi entahlah apa yang telah menunggunya di kemudian hari. Sebab dia telah masuk dan berurusan dengan lelaki yang bernama Timo.
Di tengah jalan yang sangat sepi, Timo berteriak seperti orang kesurupan. Setelah mendapatkan telepon dari pembantunya di rumah, Timo langsung merasa emosinya meluap sampai di ubun-ubun.
Diteleponnya kembali sang pembantu melalui nomor ponsel sang pembantu. Sayangnya panggilan teleponnya tidak diangkat, meski tersambung.
"Kemana perempuan hina itu perginya...?!" teriaknya, karena panggilan telepon darinya diacuhkan oleh sang pembantu.
"Aaa...!!!" teriaknya, menendang ban mobilnya yang kempes.
"Bagaimana bisa, Rio keluar dari rumah. Siapa yang menolongnya." cicitnya, karena hanya dirinya dan seorang pembantu itu yang mengetahuinya.
Timo mengeraskan rahangnya. "Jika dia berkhianat. Gue akan membuat tubuhnya menjadi tanah liat." Timo meremas sendiri telapak tangannya.
Tanpa Timo tahu, bukan hanya Rio saja yang tidak ada di rumah. Mama Rio bahkan sekarang juga tidak akan kembali ke rumah. Dan itu terjadi di waktu yang bersamaan.
Dan entah apa lagi yang akan Timo terima malam ini. Sebagai kejutan malam untuknya.
"Taksi. Ya benar, gue lebih baik memesan taksi online." ujar Timo yang baru saja tersadar.
Karena sedari tadi, Timo terus marah-marah karena ban mobilnya kempes. Dimana dirinya tak bisa mengejar Jevo yang membuat lebam wajahnya, serta beberepa bagian tubuhnya terasa sakit.
Ditambah telepon dari sang pembantu di rumah. Memberitahu jika ada penyusup yang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sekarang yang berada dalam benak Timo hanya keberadaan Rio. Sebab Timo tak bisa menghubungi sang pembantu.