PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 58


__ADS_3

Timo tersenyum bahagia. Seolah dirinya baru saja mendapatkan undian dengan hadiah yang sangat banyak. "Ternyata dia anak orang kaya." cicitnya, mencari tahu mengenai Jevo dari internet.


"Dia juga anak tunggal." lanjutnya tersenyum sempurna.


Tanpa Timo tahu, Bulan sudah mengubah semua informasi terkait Jevo. Hingga informasi tersebut akan membuat Timo tertarik untuk menjadi Jevo.


Timo masuk ke dalam perangkap yang memang disediakan oleh Bulan dengan mudah. Sesuai dengan harapan Bulan. "Jevo. Jadi dia bernama Jevo."


Bulan bisa mengetahui, jika pelaku termasuk orang yang tidak terlalu pandai. Terbukti, dia sama sekali tidak pernah menyentuh CCTV saat beraksi. Bahkan saat beraksi di ruangan sang dokter. Dia hanya membelakangi dimana letak kamera CCTV diletakkan. Atau mencari tempat yang tidak terdapat kamera pengintai.


"Gila. Kekayaan orang tuanya melebihi kekayaan wanita tua itu. Bahkan berkali-kali lipat." ucapnya takjub, dia menggeleng tak percaya.


Timo berdiri. Berjalan ke arah jendela, sedikit membuka gorden yang menutupi jendela tersebut. "Tapi gue nggak mungkin meninggalkan wanita itu begitu saja." ucapnya tersenyum penuh makna.


"Hartanya akan sia-sia, jika gue sebagai putranya tidak bisa menggunakannya dengan baik." seringainya.


Tidak seperti yang Bulan duga. Jika Timo akan meninggalkan wanita yang dia panggil dengan sebutan mama begitu saja. Tanpa menyentuh atau mencelakai wanita itu.


Ternyata, Timo tetaplah Timo. Iblis berwujud manusia yang tidak akan pernah puas akan suatu hal. Termasuk dengan harta.


"Dia sudah lama hidup di dunia. Dan saatnya dia menikmati hari-hari panjang di bawah tanah. Bersama anak dan suaminya." ucapnya disertai tawa yang menakutkan.


Dia berjalan ke arah nakas. Dimana di atasnya terdapat foto keluarga, yang terdiri dari tiga orang, dengan semua bibir tersenyum bahagia.


"Keluarga bahagia. Memang seharusnya kalian hidup selalu bersama. Di dunia, maupun di neraka." cicitnya, tersenyum sinis.


Sudah hampir tiga hari, wanita yang dipanggilnya dengan sebutan mama tersebut berada di luar negeri. Beliau sedang menemui rekan kerjanya yang memang tinggal di sana.


Awalnya, dia ingin mengajak sang putra, Rio. Tapi sudah dapat ditebak, pasti Rio menolak dengan beribu alasan. Sebab, Rio palsu memang sama sekali tidak mengerti dan mengetahui bagaimana cara berbisnis.


Di bawah, seorang pembantu sedang berbincang pelan dengan rekannya. Pandangan matanya selalu mengawasi ke arah tangga. Takut jika yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul.


Mereka merasa jika yang berada di rumah bukanlah anak majikannya yang dulu. Rio. "Aku juga berpikir seperti itu. Lihat saja, pandangan matanya begitu menakutkan."


"Dia juga sangat bodoh. Tidak seperti Tuan Muda Rio yang dahulu."


"Apa-apa Tuan Muda punya kembaran?"


"Mana ada, Tuan Muda tidak punya kembaran."


Tanpa mereka sadari, Rio palsu sudah berdiri di ujung anak tangga. Menatap ke arah mereka dengan tatapan sinis. "Kalian dibayar bukan untuk berbicara yang tidak penting." sarkasnya, dengan nada tinggi.


Semua pembantu mengangguk, dan segera membubarkan diri. Mencari tempat masing-masing untuk bekerja. Tanpa ada yang berani mengangkat kepala memandang langsung ke wajah Rio.


Dengan tampang dingin, Rio kembali meninggalkan rumah mewah tempatnya tinggal tersebut. "Sepertinya gue harus refreshing dulu." cicitnya. Masuk ke dalam kuda besi yang menjadi favoritnya.


Melakukannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan. Entah kemana perginya Rio. Yang jelas dia ingin menangkan otaknya sementara waktu.


Hanya dia yang tahu, bagaimana refreshing ala dia. Sebab, Timo memang berbeda dengan manusia pada umumnya.


Di apartemen Jeno, Bulan sedang memikirkan sesuatu. Sesuai dugaannya, dirinya langsung di telepon oleh atasannya. Dan mengharuskan Bulan untuk menghadap kepadanya.


Jeno memeluk Bulan dari belakang. Tercium wangi harum sabun. Sebab, Jeno baru saja selesai membersihkan diri. "Ada apa?" tanya Jeno, melihat Bulan diam berdiri di dekat jendela. Menatap ke arah keluar.


Bulan hendak menyingkirkan lengan Jeno yang melingkar di perutnya. Namun Jeno malah semakin mengeratkannya.


Bulan menyerah. Membiarkan Jeno memeluknya dari belakang. "Baru saja atasanku menelpon. Dia ingin aku menghadap."


Jeno melonggarkan pelukannya. "Apa ada masalah?"


Bulan melepaskan pelukan Jeno, berjalan ke kursi lalu duduk di sana. Bulan memijat pelipisnya. "Pasti dia akan bertanya, kemana aku semalam." cicit Bulan.


Jeno mengerutkan dahinya. "Apa kamu selalu diikuti?"


Bulan mengangguk. Kini, Jeno mengerti, kenapa Bulan selalu pergi dengan diam dan menyamar. Serta lebih sering menggunakan motor ketimbang mobil.


"Mau ke mana?" Jeno mencekal pergelangan Bulan.


"Bukankah, sudah aku katakan. Aku harus menghadap pada atasanku."


"Aku ikut." pinta Jeno, seperti anak ayam yang ingin selalu bersama dengan induknya.


Bulan memandang kesal ke arah Jeno. "Untuk apa? Mau mengatakan jika semalam kita bersama?"


Jeno mengangguk polos. "Aaw..." seru Jeno mengelus jidatnya yang disentil oleh Bulan.


"Jangan gila. Seharusnya kamu tahu apa resikonya, jika ada gang tahu tentang kita semalam. Kamu siap, dan aku siapa. Paham."


Jeno menggeleng. "Sumpah bu, aku hanya ingin menolong bu Bulan."


"Maka dari itu. Diam dan jangan banyak bertingkah."


Jeno mengikuti Bulan duduk di sofa. "Hey,,, apa yang kamu lakukan." Bulan mendorong tubuh Jeno yang mendekat padanya.


"Diam. Mungkin ini bisa membantu kamu membuat alasan."


Bulan menahan nafas, saat tiba-tiba Jeno langsung mendaratkan bibirnya di leher putih dan jenjang miliknya.


Bulan memegang lehernya setelah Jeno menarik dirinya. Jeno tersenyum penuh makna, dengan menjilat sendiri bibirnya bagian bawah.


Bulan menatap Jeno dengan tajam. Bisa-bisanya Jeno melakukan itu pada dirinya. "Mahir sekali kamu." sindir Bulan tersenyum remeh.


"Tidak bu, sumpah. Ini pertama kalinya saya melakukan seperti itu." Jeno menatap ke leher Bulan, dimana ada sebuah warna memerah hasil karyanya di sana.

__ADS_1


Bulan menutupi lehernya. "Nggak usah lohat-lihat." ketus Bulan.


Jeno malah tersenyum usil. "Tapi bagus lo. Mau tambah lagi. Rasanya juga enak." goda Jeno.


"Gila." Bulan meninggalkan apartemen Jeno. Tapi terhenti, dan kembali memutarkan badannya menatap Jeno. "Lebih baik kamu sekolah saja. Ngapain bolos."


Jeno hanya melongo melihat punggung Bulan yang menghilang di balik pintu. "Sekolah. Bolos. Gara-gara dia juga, gue bolos." gumam Jeno.


Jeno menatap ke arah jam dinding yang terpasang di sampingnya. "Terlambatlah." cicitnya, sebab pasti kelas sudah dimulai sejak tadi.


Jeno kembali tersenyum. "Ternyata bukan hanya bibirnya saja yang manis. Lehernya juga." ujar Jeno ketularan Jevo yang mesum.


"Gara." tiba-tiba Jeno teringat akan Gara. "Lebih baik gue ke sana. Kasihan juga jika dia harus membersihkan tempat itu sendiri." ujar Jeno memutuskan.


Apalagi Bulan juga sedang ada urusan. Tak mungkin Bulan pergi ke tempat Gara untuk membantunya. "Dari pada nganggur." ucap Jeno tersenyum penuh makna.


Jeno, membantu tanpa pamrih. Kelihatannya tidak mungkin. Apalagi dirinya baru saja mengenal Gara. Pasti Jeno mempunyai maksud, makanya dia mau dan sudi repot-repot membantu Gara.


Apalagi jika bukan Jeno membutuhkan Gara untuk melatih titik-titik sensitifnya. Sehingga dirinya bisa lebih peka terhadap suatu hal.


Bulan pulang ke rumah terlebih dahulu dengan menggunakan taksi. Bulan tidak perlu main kucing-kucingan dengan orang yang mengawadinya.


Bulan juga tahu, jika mobil yang dia tinggalkan di depan perpustakaan sudah diangkut oleh orang suruhan atasannya untuk di bawa ke rumah atasannya.


"Pasti sebentar lagi lapor. Jika gue sudah pulang. Dasar, tukang ngadu." omel Bulan.


Aneh, kenapa Bulan mesti mengomel. Padahal dia juga tahu. Orang tersebut memang dipekerjakan untuk mengadukan seluruh apa yang dia lakukan pada atasannya.


Bulan mengganti pakaian. Tentunya menggunakan pakaian tertutup. Bahkan Bulan juga menggunakan sarung tangan. Termasuk masker penutup wajah, serta topi.


"Serigala sialan. Untung leher yang bawah." cicit Bulan.


Pandangan Bulan tertuju pada lehernya yang berwarna semu-semu merah karena ulah Jeno. "Benar kata Jeno. Mungkin ini bisa membantu gue. Hanya melihat tanda ini, sepertinya dia sudah paham. Tak perlu lagi gue jelaskan."


Bulan tidak menutup resleting jaketnya sampai atas. Tentunya dia sengaja melakukannya. Supaya atasannya melihat tanda yang sengaja di berikan oleh Jeno.


"Dasar mesum." gumam Bulan, tersenyum mengingat Jeno.


Bulan pergi mengendarai motor yang memang sudah tersedia di bagasi sejak pertama dia datang. Satu mobil dan satu motor. Itulah yang Bulan dapatkan sebagai alat transportasi selama melakukan tugas ini.


Beruntung, luka Bulan tidak terlalu terasa sakit. Meski belum sepenuhnya sembuh. Namun setidaknya Bulan masih bisa beraktifitas seperti biasa.


Bulan menatap ke spion yang terpasang di depan motor. "Tumben, tidak mengintil." gumam Bulan. Sebab orang suruhan atasannya tidak mengikutinya. Mungkin dia tahu, kemana tujuan Bulan. Jadi dia tidak perlu mengikuti Bulan.


Bulan memarkir motornya di halaman rumah sang atasan. Dilihatnya, ada beberapa mobil dan motor yang juga terparkir di halaman tersebut. Juga dengan mobil hang setiap hari dia pakai. "Bapak ada?" tanya Bulan pada petugas pengaman di rumah atasannya.


"Ada. Silahkan masuk." ucapnya dengan tegas.


"Ada. Tapi bapak sudah berpesan, untuk anda langsung masuk jika sudah datang."


Bulan masuk dengan langkah santai tanpa rasa takut. Semuanya menatap ke arah Bulan, saat Bulan berjalan semakin dekat dengan mereka. "Selamat pagi." sapa Bulan sedikit membungkukkan badannya.


Sang atasan menggerakkan tangannya. "Duduklah." pintanya pada Bulan.


Ada beberapa lelaki di ruangan tersebut. Dengan umur rata-rata di atas Bulan sedikit. Dan Bulan hanya mengenal salah satu dari mereka. Diki, dia juga ada di sini. Duduk bersama mereka.


Bulan duduk, di sofa single. Tanpa melepas topi ataupun masker yang menutupi wajah cantiknya. "Buka saja topi kamu. Biarkan kalian saling mengenal." pinta sang atasan.


Bulan tersenyum samar. Permainan apalagi hang sedang dipermainkan oleh mereka. Dulu, mereka menyembunyikan wajah, serta jari diri Bulan dari siapapun.


Dan sekarang, mereka seakan ingin mengenalkan Bulan pada semua anggota keamanan yang terkait. "Baiklah, gue akan ikuti permainan elo." ucap Bulan dalam hati.


Bulan membuka topinya. Menaruhnya di atas meja. Lalu membuka masker yang menutupi wajahnya, menaruhnya di atas topi.


Semua mata menatap kagum ke arah Bulan. Bagaimana tidak. Wajah Bulan terlalu cantik untuk menjadi orang yang berkecimpung di dunia penuh konflik.


"Kemana kamu semalam?" tanya sang atasan langsung pada intinya.


Bulan menurunkan resleting jaketnya. "Hanya membutuhkan hiburan." sahut Bulan dengan tenang, menguncir rambut panjangnya dengan santai. Memperlihatkan dengan jelas tanda merah di lehernya.


Sang atasan menghela nafas. "Jangan ulangi lagi. Selalu beri kabar, dimanapun kamu berada."


"Baik."


"Mereka semua adalah orang-orang yang juga sedang memburu pelaku pembunuhan dari setiap divisi. Kita sengaja berkumpul di sini, untuk membicarakan masalah ini."


Bulan mengangguk pelan. "Dia bernama Bulan. Dia juga seperti kalian. Hanya saja, dia menyamar sebagai seorang tenaga pengajar di SMA." jelas sang atasan memperkenalkan Bulan.


Bulan kembali menganggukkan kepalanya. Dengan ekspresi yang masih sama. Datar dan dingin.


Mereka mulai melaporkan semua hasil penyelidikannya pada atasan secara bergantian. Berbagai penyelidikan mereka lebih fokus pada para korban, untuk menangkap pelaku.


Dan yang terakhir, seseorang melaporkan masalah Serra. Dia dengan yakin mengatakan jika Serra pasti akan bisa diajak bekerja sama dengan mereka. Apalagi kesehatan Serra sudah pulih.


Tak lupa, dia juga memuji dan membanggakan bawahannya yang dia selama ini dia tugaskan untuk menjaga kediaman rumah Serra. Sehingga korban dapat aman.


Bulan tersenyum samar. "Murid gue masuk secara diam-diam saja, bawahan elo nggak tahu." ucap Bulan dalam hati.


Bisa-bisanya memuji bawahannya dengan mengatakan mereka kompeten dan bekerja dengan sangat baik.


"Bulan. Apa yang kamu dapatkan?" tanya sang atasan.


Semua menatap ke arah Bulan. Sebab, memang hanya dia yang berjenis kelamin perempuan. "Tidak ada." cicit Bulan.

__ADS_1


Beberapa dari mereka tersenyum remeh. Mendengar apa yang dikatakan oleh Bulan. Tapi beberapa orang yang tampak menampilkan ekspresi biasa.


Namun, ada satu orang yang sedari tadi menatap Bulan dengan intens. Dan Bulan menyadarinya. "Kamu yakin?" tanya atasannya kembali.


Bulan mengangguk. "Untuk apa melaporkan sesuatu yang belum pasti. Kita ditugaskan untuk menangkap pelaku. Bukan menyelidiki identitas para korban." tutur Bulan.


Beberapa dari mereka memandang kesal ke arah Bulan. Mereka menganggap sebagai seorang perempuan, Bulan terlalu sombong dan angkuh.


"Tapi, setidaknya kamu memiliki hasil penyelidikan yang perlu kamu laporkan." tukas Diki denhan nada mengertak.


Seakan menunjukkan pada Bulan, jika dirinya sekarang berada di atas Bulan. Terdengar dari nada bicaranya pada Bulan. Serta caranya memandang Bulan.


Bulan menyenderkan badannya ke kursi. Mengangkat sebelah kakinya, untuk berada di atas kakinya yang satunya. Melirik sekilas ke arah sang atasan yang berada tepat di sampingnya.


"Jangan pernah mengajari saya cara untuk beraksi di lapangan. Jika kamu pernah menjadi bawahan saya." tekan Bulan, mengangkat dagunya ke atas. Menatap intens ke arah Diki. Memperlihatkan sisi angkuhnya.


Secara tak langsung, Bulan mengatakan jika dirinyalah yang seharusnya berkata dengan nada seperti itu pada Diki. Bukan sebaliknya.


Diki menggenggam erat telapak tangannya. Niatnya ingin mempermalukan Bulan, malah berbalik mengenai dirinya sendiri. Apalagi sang atasan terlihat tak ingin membantunya sama sekali.


Semua terdiam. Sudah menjadi rahasia umum. Jika secara tiba-tiba Diki naik jabatan dengan mudah. "Kheemm... baiklah. Saya akan mengumpulkan semua hasil penyelidikan dari kalian. Dan untuk langkah selanjutnya, kita akan menunggu perintah dari pimpinan." jelas sang atasan.


Pertemuan berakhir. Tapi Bulan tidak langsung pergi seperti yang lain. Dia tinggal sebentar karena perintah dari atasan.


"Ingat Bulan, jabatan Diki lebih tinggi dari kamu." ucap sang atasan mengingatkan.


Bulan mengambil sebuah kertas dari dalam jaketnya. Meletakkan di atas meja. "Dan saya bisa mengambil jabatan itu dengan mudah. Jika dia membuat masalah dengan saya." tekan Bulan.


"Bahkan, jika saya mau. Saya bisa membuat Diki dipecat. Dan kehilangan semuanya." Bulan tersenyum penuh makna.


Sang atasan duduk, menghela nafas dengan panjang. "Aku sudah terlanjur masuk. Dan aku tidka bisa keluar dari sana." cicitnya. Dia tahu, jika Bulan pasti sudah mengetahui semuanya.


"Perlahan, pindahkan keluarga anda ke luar negeri. Cari alasan yang benar-benar kuat. Agar mereka tidak curiga."


Sang atasan mengangguk. "Aku mulai melakukannya."


Dengan berkata demikian, beliau secara tidak langsung sudah mengakui keterlibatannya dalam masalah besar yang membuat negara rugi yang tak terhitung jumlahnya.


"Kamu harus berhati-hati. Kelihatannya mereka sudah mulai curiga. Jaga keluargamu di sana."


"Kenapa anda tidak keluar. Ini terlalu berbahaya." ujar Bulan.


Sang atasan tertawa pelan. "Itulah sifat manusia. Saat ada banyak nol, dia akan lupa segalanya. Apalagi dia tidak sendirian."


Beliau menjeda kalimatnya. "Dan sekarang, semua sudah terlambat. Bahkan, menyesalpun terlambat." sesalnya.


Kini, semua yang dimiliki tidak bisa membuatnya hidup dengan tenang. Apalagi hidupnya di setir oleh seseorang. Keselamatan keluarganya menjadi taruhan.


"Andai aku bisa membelokkan keputusan mereka untuk tidak memanggil kamu. Tentu, kamu tidak akan terlibat ke dalam lingkaran setan terkutuk ini." sesalnya.


"Apa alasan mereka memanggilku?" tanya Bulan, yang sampai sekarang masih belum mengerti.


"Mereka menginginkan rekaman itu."


"Rekaman apa?" tanya Bulan. Bukannya berbohong. Bulan memang belum tahu apa isi dari rekaman tersebut.


Sang atasan menggeleng. "Aku juga belum tahu. Dan aku sedang mencari tahu."


"Apa Diki terlibat?"


Sang atasan mengangguk. "Di lingkaran ini kuasa Diki melebihi aku. Kamu seharusnya tahu, aku hanya dijadikan pion terkecil dalam permainan ini."


Bulan manggut-manggut. Sang atasan pergi mengambil sesuatu dari dalam laci. "Ini. Simpan dengan baik." ucapnya, memberikannya pada Bulan.


"Aku hanya mengetahui sedikit tentang mereka. Ingat, jangan pernah percaya pada siapapun. Termasuk kepadaku setelah ini. Jika aku memanggil kamu untuk menghadap, kamu harus waspada. Paham!!" tegasnya.


Bulan mengangguk. "Jangan segan untuk menghabisiku, apapun yang terjadi."


Bulan menaikkan sebelah alisnya. Bulan merasa, ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang atasan pada dirinya. "Baik."


Sang atasan tersenyum. "Pergilah. Dan ingat. Jangan percaya kepadaku. Setelah kamu melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Kita, adalah musuh."


Sang atasan memegang kedua pundak Bulan dengan kuat. "Baik."


Tanpa menoleh ke belakang. Bulan melangkah pergi meninggalkan kediaman sang atasan. "Antarkan mobilku ke rumahku." pinta Bulan pada salah satu penjaga di rumah sang atasan.


"Baik."


"Oh iya,,, saya tidak melihat ibu. Beliau kemana?" tanya Bulan seraya mengenakan helm di kepalanya. Ibu yang dimaksud Bulan adalah istri dari atasan mereka.


"Saya sendiri juga kurang tahu. Dua hari yang lalu ibu pergi keluar meninggalkan rumah. Sampai saat ini saya belum melihatnya lagi."


"Mungkin menyusul putrinya ke laur negeri." cicit Bulan.


"Putri bapak juga pulang beberapa hari yang lalu. Tapi, saya juga hanya melihatnya sekali. Kemungkinan mereka berdua sedang piknik." cicit petugas keamanan.


Bulan hanya mengangguk. "Gue duluan." tukas Bulan.


Bulan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. "Ibu dan anak terlihat beberapa hari yang lalu. Dan sekarang mereka tidak terlihat." gumam Bulan. Merasa ada yang janggal.


Sang atasan langsung bernafas lega. Telah berbicara semuanya pada Bulan. Setidaknya dia tidak lagi mengorbankan seseorang yang tidak bersalah hanya untuk mendapatkan pundi-pundi uang.


"Pasti Bulan bisa melakukan yang terbaik." gumamnya, dengan ekspresi wajah pasrah dan sedih.

__ADS_1


__ADS_2