PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 92


__ADS_3

Jevo dan Jeno duduk di kursi ruang tamu dengan wajah ditekuk. Ini malam kedua mereka tidak bisa pergi ke markas, untuk membantu rekannya yang lain.


Ditambah lagi, keduanya mendengar dari Mikel, jika semalam semua berjalan dengan lancar. Mikel juga mengatakan jika ternyata kakek Timolah yang membuat topeng yang selama ini digunakan oleh Timo untuk beraksi, mencari dan membunuh para korbannya.


Selain itu, Mikel juga mengatakan pada mereka. Jika malam ini adalah malam pembebasan Rio asli. Yang tentu saja akan sangat membuat semuanya merasa cemas.


Mengingat di mana letak Rio asli di sembunyikan. Dan tempat tersebut, bukanlah tempat yang bisa didatangi dengan mudah. Jika mengeluarkan Rio.


Sebab, semua tahu bagaimana kondisi Rio. Pasti akan membutuhkan rencana matang untuk melakukan penyelematan Rio, supaya terbebas dari cengkeraman Timo.


Berbeda dengan Arya, dia sudah bersama Mikel. Berada di markas. Bergabung dengan Gara dan juga pastinya Bulan. Sebab, Arya meminta tolong pada Mikel.


Mikel menjemputnya Arya di rumah Arya. Keduanya beralasan ingin mengerjakan tugas bersama. Dan akan bermalam di apartemen Mikel.


"Lihat pa, mereka kenapa sih?" tanya Nyonya Rindi merasa heran dengan kedua putra kembarnya.


Nyonya Rindi berdiri di depan Jevo dan Jeno. Menggunakan dress elegan dan simple, tapi tetap terlihat menawan untuk dipandang mata.


Juga dengan Tuan David yang sudah siap dengan penampilannya. Beliau sama seperti kedua putranya. Memakai setelan jas dengan dasi melingkar di leher. Terlihat begitu berwibawa dan sangat tampan.


Hanya saja, untuk gaya rambutnya, Jeno dan Jevo menggunakan model yang berbeda. Jevo dengan gaya cool dan terlihat lebih modis.


Sementara Jeno, tetap mempertahankan gaya klimisnya. Sehingga tetap terkesan culun, dengan sebuah kacamata besar berbentuk bulat bertengger di pangkal hidung.


"Ma, Jeno tidak usah ikut ya." rengek Jeno.


Keduanya diajak oleh sang papa dan mamanya untuk datang ke sebuah acara keluarga. Yang mang selalu diadakan setiap setahun sekali. Ditempat yang berbeda. Dengan tuan rumah yang tentunya berbeda pula.


"Benar ma, Jevo juga." timpal Jevo, yang juga enggan hadir di acara tersebut.


Tuan David serta Nyonya Rindi menatap keduanya dengan aneh. Tahun sebelumnya, mereka terlihat biasa. Meski Jeno menampilkan ekspresi datar, tapi dia tidak menolak dan tetap ikut ke acara tahunan tersebut.


Dan Jevo, dulu dia selalu antusias untuk datang ke acara ini. Dirinya yang selalu dandan paling lama, serta mempersiapkan penampilan terbaiknya.


Tapi sekarang, keduanya seperti sama-sama malas dan enggan untuk datang. "Katakan alasan kalian. Kenapa menolak menghadiri acara tahunan ini?" tanya sang papa.


"Malas saja pa." ujar Jeno memberi alasan yang ambigu.


"Jevo." panggil sang papa, untuk memberikan alasannya.


"Sama. Jevo juga malas." sahut Jevo.


Mana mungkin mereka berdua mengatakan yang sejujurnya. Jika dalam benak mereka penuh dengan apa yang akan terjadi malam ini.


Pastinya keduanya juga menginginkan ikut serta dalam misi kali ini. Setelah malam sebelumnya, mereka absen.


"Malas." ucap Tuan David mempertegasnya.


Jevo dan Jeno segera mengangguk. Keduanya berharap sang papa tidak jadi mengajak mereka berdua.


Tuan David merapikan dasinya yang masih terlihat rapi. "Alasan klise. Kalian wajib ikut. Kita berangkat sekarang. Menggunakan satu mobil." tegas Tuan David.


Tuan David menyodorkan tangannya ke sang istri. "Ayo ma." ajak Tuan David.


"Ma..." panggil Jevo mengiba.


"Jangan banyak drama seperti anak kecil. Cepat berdiri. Jangan sampai kita yang terakhir datang." tukas Nyonya Rindi, melingkarkan tangannya di lengan sang suami.

__ADS_1


Tuan David dan Nyonya Rindi berjalan menuju ke mobil terlebih dulu. Jevo langsung menyenderkan punggungnya seraya mendongakkan kepalanya ke atas.


Sedangkan Jeno, langsung menundukkan kepalanya. Menatap ujung sepatu yang dia pakai di kakinya. "Ayo, jangan sampai mama berteriak." ajak Jeno dengan malas.


Keduanya berdiri dan berjalan dengan enggan. Seolah ada beban berat yang mereka bawa. "Ckk,,, pasti sekarang mereka sedang membicarakan rencana penyelematan Rio." gumam Jevo.


Jeno hanya mendesah pelan. Seharian, moodnya sangat baik. Bahkan terlalu baik. Semua karena dirinya mendapat asupan vitamin C dari sang pujaan hati.


Tapi malam ini semua berbanding terbalik. "Rasanya ingin menghilang saja." sahut Jeno.


Di dalam mobil, Tuan David dan Nyonya Rindi duduk dengan tenang menunggu kedua putranya. "Tumben sekali mereka menolak ajakan kita. Apalagi Jevo." tutur Nyonya Rindi merasa aneh.


"Entahlah. Papa sendiri juga tidak tahu penyebabnya."


"Mana kompak lagi."


"Mungkin karena mereka kembar. Jadi harus sama." celetuk Tuan David.


"Hussttt,, pa, jangan bicara seperti itu. Jangan sampai semua harus sama. Bisa berabe, jika mereka berdua menyukai perempuan yang sama." papar Nyonya Rindi berpikir sejauh itu.


Tuan David diam. Dirinya tahu, jika Nyonya Utama selalu benar. Sehingga diam adalah jalan yang terbaik. "Padahal aku cuma bercanda." bain Tuan David.


"Lama sekali. Memang kalian siput." ketus Nyonya Rindi.


Tuan David menatap keduanya melalui kaca pantau yang berada di depan pak sopir. "Jalan pak." pinta Tuan David.


Tampak dengan jelas, wajah Jevo dan Jeno bagai pakaian kusut yang belum disetrika. Kucel dan kumel. "Atasi wajah kalian. Jangan seperti tidak pernah dia ajak jalan-jalan." sindir Nyonya Rindi kesal.


Dengan kompak, keduanya malah mengeluarkan ponsel. Memainkan game di ponsel. Tanpa menyahuti apa yang dikatakan sang mama.


Nyonya Rindi memutar kedua matanya dengan kesal. "Biarkan saja. Yang terpenting mereka ikut." tukas Tuan David mengelus punggung telapak tangan sang istri.


Bukan karena Tuan David merasa minder atau memikirkan semua ucapan mereka, tapi lebih kepada pengenalan kedua putranya.


Tuan David ingin mengenalkan kedua putranya kepada seluruh keluarga besarnya. Sehingga dengan begitu, keduanya akan mengenali setiap karakter mereka.


Apalagi semua keluarga besar Tuan David terjun ke dunia bisnis. Sama dengan dirinya. Dimana nanti, Jevo dan Jeno juga akan mengambil alih perusahaan Tuan David.


"Pa, apa kita di sana sampai acara selesai?" tanya Jeno, setelah terdiam selama lebih dari sepuluh menit.


"Terserah kalian. Tapi papa minta, kalian tidak hanya sekedar datang. Kalian calon penerus papa di dunia bisnis. Seharusnya kalian paham kenapa papa mengajak kalian." tegas Tuan David.


"Jevo tahu. Hanya saja, Jevo terlalu malas bersama dengan mereka yang suka menjilat." ungkap Jevo blak-blakan.


"Tidak semuanya seperti itu sayang." timpal Nyonya Rindi, merasa tidak enak dengan sang suami.


"Hanya dua puluh lima persen yang tidak." sahut Jeno dengan ketus.


"Kalian bisa meninggalkan acara. Tapi tahu waktu." ujar Tuan David.


"Baik pa." seru Jevo dan Jeno bersamaan.


"Sebenarnya kalian mau kemana sih?" tanya Nyonya Rindi penasaran.


"Ada deh ma...." ucap Jevo tersenyum sembari memainkan kedua alisnya naik turun.


"Tadi merengut terus. Sekarang tersenyum. Dasar." tukas Nyonya Rindi, yang mendapat kekehan kecil dari Jevo dan Jeno.

__ADS_1


Sedangkan di markas, sesuai perkiraan Jevo dan Jeno. Bulan bersama yang lainnya sedang merencanakan jalannya untuk mengeluarkan Rio dari rumahnya sendiri.


"Jeno,,,, sayangnya malam ini dia tidak bisa bergabung." ucap Bulan, yang tentu saja membutuhkan bantuan Jeno. Dimana Jeno berperan sebagai asisten dokter Vinz.


Terpantau di layar, jika Timo sedang bersantai di ruang tengah. Terlihat jika Timo sedang membaca sesuatu, seperti sebuah berkas di tangannya.


"Kita hanya perlu mengalihkan perhatian Timo. Biar saya saja yang melakukannya." pinta Mikel.


"Jangan. Dia memiliki insting kuat. Aku khawatir, rencana kita malah berantakan." sahut Bulan.


"Atau jangan-jangan, Timo sudah tahu jika ada tamu yang tak diundang akan datang ke rumahnya." tebak Mikel, mengingat Bulan mengatakan rencananya malam ini pada kakek Timo.


"Tidak. Kakek Timo tidak mengadu dan menceritakan semuanya pada Timo." ujar Bulan dengan yakin.


Gara mengangguk setuju. "Kenapa bu Bulan bisa yakin?" tanya Mikel.


"Semua tampak normal." Bulan menunjuk ke bagian CCTV yang memperlihatkan bagian depan rumah.


"Jika dia tahu, dia pasti akan meletakkan seseorang, atau beberapa orang di sini. Untuk berjaga-jaga." jelas Bulan.


"Benar." tukas Gara.


"Apa tidak ada jalan lain menuju ke ruangan rahasia itu?" tanya Arya.


"Sayangnya tidak ada. Hanya ada satu pintu. Dan kita harus melewatinya." jelas Bulan.


"Benar. Apalagi, keadaan Rio yang tidak mudah kita bawa keluar dari dalam rumah itu." ujar Mikel.


Semua terdiam. Memikirkan cara supaya Timo bisa meninggalkan rumah tanpa terlihat mencolok. "Jika saja keadaan Rio baik-baik saja. Cukup aku yang masuk ke dalam." tutur Bulan.


"Tunggu, elo sudah mempersiapkan tempat untuk Rio?" tanya Gara, seandainya Rio berhasil mereka keluarkan dari rumah tersebut.


Karena tidak mungkin, Rio mereka bawa untuk tinggal di markas ini. Sebab, mereka tidak bisa membiarkan lebih banyak orang yang tahu tempat rahasia mereka. Cukup mereka berenam saja.


"Tenang saja. Gue punya tempat. Tidak terlalu jauh dari kota. Tapi lumayan memakan waktu. Sebuah vila." jelas Mikel.


"Vila mana?" tanya Arya penasaran. Mikel hanya tersenyum aneh.


"Bagaimana jika nyokap dan bokap elo tahu?" tanya Gara.


"Tenang saja. Tidak akan." ujar Mikel yakin.


Bulan melirik ke arah Mikel. Bulan bisa menebak, kenapa kedua orang tua Mikel tidak akan tahu jika Rio ada di tempat itu.


"Ternyata mereka bisa diandalkan." batin Bulan.


"Bukan hanya Rio yang akan tinggal di sana. Kakek Timo juga." jelas Bulan.


Ketiga lelaki di sekitar Bulan langsung menatap intens ke arah Bulan. "Kenapa?" tanya Arya.


"Dia juga sama seperti Rio. Saksi utama. Dan malah bisa akana menjadi tersangka." tukas Bulan.


Keempatnya kembali menatap ke layar. Keempatnya tersenyum sempurna, melihat apa yang tersaji di layar. Keempatnya saling memandang sekilas.


"Dewi keberuntungan ada di pihak kita." ujar Arya.


"Semuanya sesuai dengan apa yang aku rencanakan." Bulan menyeringai.

__ADS_1


Kini, mereka akan memulai menjalankan aksinya.


__ADS_2